Kado Dari Kota Nabi

Hasan Husen Assagaf

Umar Kekasih Allah

 

 

Setelah wafatnya Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra, Imam Ali bin Abi Thalib lebih senang hidup menyendiri, jauh dari lingkungan kehidupan masyarakat kota.

 

Suatu malam, pernah Imam Ali bin Abi Thalib duduk menyendiri di rumah. Di malam itu udara dingin mulai menyengat tubuh sedangkan ia hanya mengenakan pakaian biasa dan burdah* usang yang melilit di lehernya. Mata beliau tertunduk kebawah sambil bertasbih tak henti hentinya. Tiba tiba seorang laki laki datang ke rumahnya. Ia disebut Abu Maryam. Setelah dipersilahkan masuk, ia bersila dihadapan Imam Ali ra. Kedua tangannya memegang lutut beliau. Dengan penuh tawadhu’, ia berbisik kepada imam Ali ra “Ya Amirul Muminin, saya ada perlu sedikit”. Imam Ali pun berkata “Silahkan sebut keperluanmu”. Kemudian Abu Maryam berkata “buanglah burdah yang kau lilitkan di lehermu. Sesungguhnya burdah itu sudah usang tak pantas seorang Amirul Muminin seperti kamu mengenakanya”.

 

Mendengar ulasan Abu Maryam Imam Ali ra menagis tersedu sedu. Hal ini membuat Abu Maryam menjadi malu telah melontarkan kata kata yang menyinggung perasaan beliau. Setelah Imam Ali ra mulai redah dari tangisanya beliau pun berkata “Ya Aba Maryam, sesungguhnya setiap kali aku mengenakan burdah ini, timbul kecintaanku yang meluap luap kepadanya. Burdah ini hadiah dari temanku yang paling aku cintai”. Abu Maryam penasaran ingin tahu siapa gerangan teman beliau yang paling dicintainya. Ia langsung bertanya “Siapa gerangan temanmu yang paling kau cintai itu?”. Imam Ali pun menjawab “Umar bin Khattab. Umar bin Khattab kekasih Allah dan Allah kekasih Umar”. Kemudian beliau menangis lagi sambil mengusap air mata beliau dengan ujung burdahnya*.

 

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

  

* Burdah artinya syal atau selendang yang digunakan untuk menutup sebagian tubuh

Sumber: Kitab “Tarikh al Madinah al Munawarah

Mei 11, 2008 - Ditulis oleh HASAN HUSEN ASSAGAF | Umar Kekasih Allah | , | & Komentar

& Komentar »

  1. Afwan, kisah diatas ada dasarnya ? maksud ana dasar kisah diatas

    syukran katsir

    Komentar oleh Iqbal | Mei 15, 2008 | Balas

  2. akhi hasan,

    tulisan antum sudah sangat baik. hanya sedikit koreksi dari ana, alangkah baiknya bila tulisan bersandar dari hadist yang benar-benar bisa di pertanggung jawabkan.

    di takutkan bila hadist dhoif di ceritakan terus menerus bisa di anggap hadist yang benar terutama oleh orang awam.
    akhirnya hanya menyesatkan.

    selain itu di khawatirkan hadist dhoif akan berlawanan dengan hadist yang benar/hasan/mutawir dan akhirnya yang benar di salahkan dan yang salah di benarkan.

    dari cerita di atas,kita menyamakan sayidina umar dengan Rasulullah SAW dengan mengatakan sebagai kekasih ALLAH SWT.
    Rasulullah SAW jelas berbeda dengan sayidina umar. secara kualitas sangat jauh berbeda. Nabi dan Rasul di bandingkan dengan umat.

    mencampur adukkan yang benar dan yang salah akhirnya mengaburkan kebenaran itu sendiri.

    atau singkatnya…melemahkan Islam itu sendiri.

    mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

    Komentar oleh Naufal Alatas | Juli 13, 2009 | Balas

    • *** Sdrku Iqbal
      *** Sdrku Naufal Alatas

      Tak lupa saya ucapkan terima kasih atas perhatian anda terhadap tulisan2 saya yang begitu tidak tersusun rapi dan kadang kadang kasar dan tidak enak didengar.

      Adapun mengenai kisah yang saya bawakan tentang “Umar kekasih Allah”, bersumber dari kitab “Tarikh Al-Madinah Al Munawarah” ( 3/938 ) oleh AlBashsri yang termuat dalam 4 jilid, harganya kurang lebih 85 Real Saudi. Dan dalam blog Kado Dari Kota Nabi terdapat pula kisah2 yang bersumber dari hadisth Nabi saw, terus terang kadang kadang saya bawakan hadist2 yg tidak mempunyai suber kuat atau tidak “mutawatir”, juga bukan hadist hasan atau bisa diterima kebenarannya. Hadist2 tersebut boleh dibilang hadist dhoif (lemah) yang tidak kuat sanad atau perawinya. Makanya dalam pembukaan kisah2 yang bersumber dari hadist2 trs terlebih dahulu ana tulis “Diriwayatkan” berarti yang meriwayatkan hadist itu majhul, atau tidak diketahui siapa perawinya.

      Sudah pasti untuk mengambil suatu hukum agama kita harus bersender kepada hadist yang kuat yang bisa diterima (mutawatir) baik yang meriwayatkan hadist itu atau sanadnya juga harus kuat pula. Dan yang paling bisa diterima adalah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (hadist muttafaq).

      Adapun hadist dhoif (lemah) atau dalam istilah kasarnya hadist yang tidak ketahuan perawi dan sanadnya, hadist itu tidak bisa diterima sebagai pemutus suatu hukum agama. Tapi kok hadist2 dhoif itu banyak kita dapatkan dalam kitab2 hadist atau dalam riwayat2? Hadisth doif bisa diterima hanya sebagai pelengkap ibadah bukan pemutus suatau hukum. Cotohnya kita banyak dapatkan dalam doa doa, shalawat2 atas Rasul saw, hal2 yang berkenaan dengan akhlak, suluk, perilaku rasul saw dan para sahabat, tarbiyah (pendidikan) dan masih banyak yang lainya yang tidak ada hubunganya dengan hukum2 atau syariat. Wah maaf, ulasan ini memerlukan waktu panjang dan saya rasa anda bisa lihat dalam kitab2 yang berhubungan dengan hadist2 dhoif.

      Saya betul2 salut yang mana anda begitu teliti. Bagi saya kisah2 trb bisa diterima semasih pendengar atau pembaca tersentuh hatinya dan semasih hadist2 itu digunakan hanya untuk “Fadhoilul Aa’mal” (untuk pelengkap perbuatan baik) bukan untuk mengambil suatu hukum.

      Mudah2an makalah2 yang saya posting di zawiyah, dimuat di republika, sabili, alkisah dan di blog “Kado Dari Kota Nabi” bisa diterima pembaca dengan baik dan kalau ada kata2 yang kasar atau tidak enak didengar tolong kasih komentar. Ya maklum saya bukan penulis unggul.

      Terima kasih
      Hasan Husen Assagaf

      Komentar oleh HASAN HUSEN ASSAGAF | September 11, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar