Kado Dari Kota Nabi

Hasan Husen Assagaf

Umar ra Dan Nenek Tua

 

Di pagi yang cerah, seorang perempuan tua berjalan terbungkuk bungkuk dengan tongkat di tangannya. Ia melewati tempat di mana Umar bin khatab ra dan rombongan Quraish sedang berdiri. Melihat wanita tua itu, Umar ra lari tergesa gesa mengejarnya dan ditinggalkan semua sahabat beliau. Belaiu menghampirinya dan menyapanya dengan penuh hormat. Beliau menundukan kepalanya dengan khidmah sehingga bisa mendengar apa yang diperintahkan kepadanya. Beliau tidak meninggalkannya sehingga semua urusan perempuan tua tadi beres.

 

Selesai membantunya, khalifah Umar bin Khattab ra kembali kepada rombongan kaum Quraish. Salah satu shahabat bertanya: “kenapa anda meninggalkan kami dan berlari kepada perempuan tua tadi?. Umar ra segera menjawab “kamu tahu siapa perempua tua tadi?” Sahabat berkata “Saya tidak tahu wahai Amirul Muminin?”. Khalifa Umar ra lalu menjelaskan perempuan tadi adalah Khaulah binti sta’labah. Allah telah mendengar pengaduannya dari atas tujuh lapis langit.

 

Cerita Khaulah binti Sta’labah sangat poluler, dan tertera dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Mujadalah. Ia penyebab turunya surat tsb. Kisahnya, wanita itu telah dizhahirkan oleh suaminya Aus bin Shamit yaitu dengan mengatakan “kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku”, dengan maksud dia tidak boleh menggauli istrinya sebagaimana ia tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliah kalimat zhihar seperti kalimat thalak, seolah olah ia telah mentalak istrinya. Maka, Khaulah mengadukan halnya kepada Rasulallah saw. Beliau pun menjawab bahwa dalam hal ini belum ada wahyu turun dari Allah. Kemudian Khaulah berulangulang mendesak kepada Rasulallah saw supaya menetapkan sesuatu keputusan dalam hal ini. Sehingga kemudian turunlah ayat berikut ini:

 

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan halnya kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” Al Mujadalah ayat 1.

 

Khalifah Umar ra berkata kepada para sahabatnya “Demi Allah seandainya dia tidak berpaling sampai malam, maka saya tidak akan berpaling pula sampai aku bisa membantunya”.

 

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf  

Mei 12, 2008 Ditulis oleh HASAN HUSEN ASSAGAF | Umar ra Dan Nenek Tua | , | 1 Komentar

Wakaf Imam Ali

 

Umar bin Khattab ra pernah memberikan kepada Ali bin Abi Thalib ra hadiah sepetak tanah yang memiliki sumber mata air. Untuk menambah luas tanahnya, beliau membeli sepetak lagi di sebelahnya. Kemudian beliau mengajurkan untuk membuat sumur di tanah itu. disaat penggalian, keluar mata air jernih yang terpancar dari dalam tanah. Berita gembira itu didengarnya. Dengan segera beliau datang ke sana untuk menyaksikan kebenarannya. Setibanya disana beliau menudukan kepalanya bersyukur atas nikmat Allah yang besar seraya berkata :

 

“Wahai manusia, aku bersaksi kepada Allah, kemudian aku bersaksi kepada kamu semua bahwa aku telah menjadikan tanah ini sebagai sodakah (wakaf) bagi orang orang fakir miskin, bagi orang orang berjalan di jalan Allah, baik jauh atau dekat, baik dalam keadaan damai atau perang. Tanah ini kujadikan wakaf demi suatu hari di mana ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam gersang, di hari itu aku memohon kepada Allah agar memalingkan wajahku dari neraka, dan memalingkan neraka dari wajahku”

 

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

 

Sumber: Tarikh Al Madinah Al Munawarah

Mei 12, 2008 Ditulis oleh HASAN HUSEN ASSAGAF | Wakaf Imam Ali | , | 1 Komentar

Imam Ali Dan Mayat Berhutang

 

Janazah diusung penduduk kota Madinah menujuh Masjid. Keluarganya memohon kepada Rasulallah saw agar mengimami solat janazah. Sebelum solat didirikan, beliau bertanya kepada keluarganya apakah mayat mempunyai utang? Keluarganya menjawab “betul wahai Rasulallah, ia masih menunggak utang dua dinar”. Mendengar mayat masih bersangkutan utang dua dinar kepada seseorang, beliau menolak bersholat atas janazah.

 

Secara kebetulan, Imam Ali ra berada bersama sama Rasulallah saw di masjid. Beliau sangat berharap agar mayat disolatkan terlebih dahulu oleh Rasulallah saw sebelum dikubur. Lalu beliau mendekati Rasulallah saw seraya berkata “Ya Rasulallah, utang mayit dua dinar menjadi tanggunganku. Aku siap menjaminnya”. Mendengar ulasan Imam Ali, baru Rasulallah saw berdiri bersolat janazah berjamaah bersama sama para sahabat lainya.

 

Usai sholat janazah beliau berkata “Wahai Ali, semoga Allah membalas kebaikan kamu. Barangsiapa yang menjamin saudaranya di dunia, maka Allah akan menjaminnya di akhirat. Sesungguhnya tidaklah bagi mayat kecuali ia dituntut atas utangnya. Barangsiapa yang menjamin utang seorang mayat, maka Allah akan menjaminnya kelak di hari Kiamat”.

 

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

 

Sumber: Kitab Al Imam Ali bin Abi Thalib – Mohd Rasyid Ridho

Mei 12, 2008 Ditulis oleh HASAN HUSEN ASSAGAF | Imam Ali dan Mayat Berhutang | , | & Komentar

Peringatan bagi Karabat Nabi

 Jabal Nur dipuncaknya Gua Hira\' Gua Hira  

 

Setelah turun wahyu di gua Hira’, Rasulallah saw tak henti hentinya berdawah secara diam diam selama tiga tahun. Beliau tidak segan segan mengajak Quraisy Makkah kepada agama baru siang dan malam. Kemudian turun perintah Allah untuk menjaharkan dawah trb kepada karabat beliau yang terdekat “Dan berilah peringatan kepada karabat karabatmu yang terdekat” al syuara’ 214. Begitu turun wahyu tadi, beliau mengundang semua karabat karabat beliau dari kaum Quraisy untuk berkumpul di tempat tertentu.

 

Setelah mereka berkumpul, Rasulallah memulai membuka pembicaraanya “seandainya aku katakan bahwa di balik bukit sana ada pasukan berkuda yang akan menyerang kalian, apa kalian percaya?” Mereka serentak menjawab: “Ya, kami percaya, karena kamu tidak pernah sama sekali berbuat bohong”. Lalu Rasulallah berkata lagi: “Ketahuilah, aku ini diutus oleh Allah untuk memperingatkan keluarga dan kerabat terdekatku, aku tidak punya kepentingan dunia dan tidak punya kepentingan akhirat. Apakah ada diantara kalian yang membaiatku dan menjadikanku sebagai saudara dan teman?”

 

Begitu mendengar seruan Rasulallah saw mereka kaum Quraisy, ribut di majlis itu. Tak ada satu diantara karabat beliau yang hadir di majlis tadi berdiri membaiatnya. Kemudian suasana menjadi hening, tak ada suara, tak ada bisikan, majlis menjadi sunyi seketika. Hal ini berlangsung beberapa saat. Tiba tiba terdengar suara anak kecil dari tempat duduknya yang agak berjauhan. Dengan lantang anak itu berkata “Aku, Ya Rasulallah”. Anak itu adalah Ali bin Abi Thalib ra. Ia bangun dari tempat duduknya berjalan mendekati Rasulallah saw.

 

Rupanya reaksi Imam Ali ra kurang mendapat sambutan dari Rasulallah saw. Karena yang diinginkan membaiat beliau bukan anak kecil, akan tetapi para pemuka Quraisy. Rasulallah saw menyuruhnya duduk dan mengulangi pembicaraanya “Apakah ada diantara kalian yang membaiatku dan menjadikanku sebagai saudara dan teman?”. Untuk kedua kalinya pula tidak terdengar suara, tidak ada diantara karabat beliau yang bangun untuk membaiatnya. Kemudian Ali ra yang duduk di samping beliau berdiri lagi seraya berkata “Aku, Ya Rasulallah”. Kali ini Rasulallah saw hanya menganggukan kepalanya tanda salut atas perbuatnya. Dengan senyum beliau memerintahkanya untuk kembali duduk.

 

Kemudian beliau mengulangi pembicaraanya untuk yang ketiga kalinya “Wahai bani Abdul Muttalib, sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian khusunya dan kepada semua manusia umumnya. Apakah ada diantara kalian yang mau membaiatku dan menjadikanku sebagai saudara dan teman?”. Begitu pula beliau tidak mendapatkan reaksi atau jawaban yang enak dari para karabat beliau hanya Imam Ali bin Abi Thalib ra yang menyambutnya “Aku, Ya Rasulallah yang menjadi saudara dan temanmu”. Rasulallah tersenyum lebar dan menepuk dada imam Ali ra tanda salut dan ridho dengan apa yang telah dilakukanya.

 

Di akhir jalsah, berdirilah paman nabi sendiri yang bernama Abu Lahab la’natallah a’laih seraya berkata dengan nada ketus, “Wahai Muhammad, apa hanya untuk ini kami dikumpulkan? Celaka kau !”. Iapun pergi sambil menggerutu.

 

 

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

 

Sumber: Kitab Fadhail Asshahabah

 

Mei 12, 2008 Ditulis oleh HASAN HUSEN ASSAGAF | Peringatan Bagi Karabat Nabi | , | 1 Komentar