Oleh: Hasan Husen Assagaf
(Pernah dimuat di majalah alkisah edisi 8 November 2004)
MENGENANG jasa merupakan ibadah. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Karena ia tidak bisa berbalas budi orang. Bagaikan kisah diputar ulang, 4 tahun yang lalu, tepatnya Jumat 15 Ramadhan 1425 H, Makkah dan dunia Islam menangis karena tersiar berita bahwa seorang ulama besar Sayyid Mohammad Al-Maliki, wafat. Beliau meninggal di salah satu rumah sakit di Makkah, setelah beberapa jam berjuang melawan penyakit yang datang secara mendadak.
Jelasnya, jasa beliau yang besar terhadap Islam tidak bisa dilupakan. Tahun demi tahun berlalu, dan ingatan kita pasti menyertainya terutama di bulan yang penuh rahmah ini. Kita tidak bisa lupa kepada beliau. Ingatan kita kepada beliau sudah menjadi kebutuhan, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.
Dr. Muhammad Al-Maliki dikenal sebagi guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat muslim menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama.
Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengan thariqahnya. Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar, menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu.
Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya. Dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai sampai beliau rela mengenudurkan diri sebagai dosen di Universitas “Umul Qura’ “, Makkah dan di halaqah ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran, keikhlasan dan menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan bersealiran denganya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah.
Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Dr. Muhammad Al-Maliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.
Disamping tugas beliau sebagi da’i, pengajar, pembimbing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermangfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya telah beredar di seluruh dunia. Dan tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.
Da’wah semacam inilah yang telah diwasiatkan Rasulallah saw, lima belas abad silam, yang datang sebagi rahmat dan membawa perdamaian bagi alam dan seluruh umat manusia. Rasulallah tidak mengajarkan kita berda’wah dengan kekerasan, paksaan dan berutal. Akan tetapi beliau mengajarkan umatnya berda’wah dengan hikmah dan mauidzah hasanah, dengan akhlak dan suluk yang ramah. Ini konci kesuksesan da’wah ulama semacam Dr. Muhammad Al-Maliki.
Selamat tinggal ayah yang berhati baik. Selamat tinggal sosok tubuh yang pernah menanamkan hikmah, ilmu, teladan di hati hati kami. Selamat tinggal pemimpin umat yang tak bisa kami lupakan dalam pendirian dan keikhlasannya. Selamat tinggal pahlawan yang jujur, ikhlas dalam amal dan perbuatanya. Kemulyaan kamu telah meliputimu semasa hidupmu dan di saat wafatmu. Kamu telah hidupi hari hari mu dengan mulia, dan sekarang kamu telah terima imbalannya disaat wafatmu pula dengan mulia.
Wallahu’alam
Filed under: Mengenang Al-Maliki Ditandai: | Agama, agama islam, Artikel, Artikel Islam, Da'wah, Islam, opini, Pendidikan, Tokoh














Subhanallah, saya sedikit banyak tahu siapa yang tidak menyukainya. Semoga Allah meridhai Syaikh. Amin.
Beliau orang besar. Dunia Islam kehilangan mutiara yang tiada ternilai. Seorang da’i yang yang sangat kuat hujjahnya, dalam ilmunya, bak lautan tidak berujung
namun lembut perangainya, ditengah-tengah kerasnya faham “wahabi” yang berseberangan dengannya.Semoga Allah SWT menempatkan beliau bersama para nabi. amiiin
semoga ALLAH merahmati beliau.
assalamu’aliakum ww
Almarhum guru saya Syaikh Abdullah bin Nuh, banyak bercerita dengan almarhum Abuya Maliki. Diantara pujian dan tantangan beliau tegar menyampaikan dakwah ahl sunnah wal jama’ah. namun hingga hari keinginan saya untuk memiliki kitab belia yg berjudul ” mINHAJ SALAF LIFAhm..” belum terwujudkan. dimana kiranya saya bisa mendapatkan kitab tsb ?
syukran
Kita telah kehilangan beliau, tapi Allah, SWT juga mengaruniai kita ulama besar yang memiliki pola fikir seperti beliau, yaitu Prof.Dr.Khurais Syihab, paling tidak itulah pendapat saya, tentu saja orang lain boleh berbeda pendapat
smoga ulama semacam beliau akan lebih banyak lagi di dunia dan khusunya di indonesia… selamat tinggal Guru Besar ulama2 di Indonesia.. semoga allah menempatkan engkau di dekat orang yg paling mulia Nabi Besar Muhammad SAW… amin