Kado Dari Kota Nabi

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Arsip Penulis

Fatimah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Kelima

Fatimah (Al-Zahra’)

Nama

Fatimah (Al-Zahra’)

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuilid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 18 sebelum Hijrah

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Madinah, tahun 2 Hijrah

Nama Suami

Ali bin Abi Thalib ra

Nama Anak

Hasan, Husen, Muhsin (wafat semasih kecil), Ummu Kalstum, Zainab

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, 3 Ramadhan tahun 11 Hijrah

Wafat Pada Usia

29 Tahun

Tanda Tanda Istimewa

1- Sangat dicintai Nabi saw. Beliau bersabda atas diri Fatimah “ “Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira maka ia telah membahagiakanku” .

2- Disaat perkawinannya dengan Imam Ali ra beliau berdoa “Ya Allah berilah keberkahan bagi keduanya, berilah keberkahan atas keduanya dan berilah keduanya keberkahan dalam keturunannya”

3- Rasulallah saw tidak mendapatkan keturunan kecuali dari keturunan Fatimah dan Ali ra

4- Sangat sederhana dalam berumah tangga dengan imam Ali ra, bahkan sering kekurangan. Beberapa kali ia harus menggadaikan barang-barang keperluan rumah tangga untuk membeli makanan, sampai-sampai kerudungnya pernah digadaikan kepada seorang Yahudi Madinah. Namun demikian, mereka tetap bahagia sebagai suami istri sampai akhir hayat

Posted in 5- Fatimah | 10 Comments »

Ummu Kalstum

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Keempat

Ummu Kalstum

Nama

Ummu Kalstum

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuilid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, Tahun 19 Sebelum Hijrah Nabi saw

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Menikah dua kali di Makkah dan Madinah

 

Nama Suami

1- Di Makkah dengan U’taibah bin Abu Lahab (mati musyrik)

2- Di Madinah tahun 3 Hijrah dengan Ustman bin Affan ra yang dijuluki Dhun-Nurain karena menikah dengan dua putri Nabi saw

Nama Anak

Tidak mendapakan keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, tahun 9 Hijrah

Wafat Pada Usia

28 tahun

Tanda Tanda Istimewa

1- Menikah dengan sahabat Nabi saw yang mulia Ustman bin Affan ra setelah mati suami pertama U’taibah bin Abi Lahab (kafir)

2- Dinikahkan Nabi saw atas perintah Allah. Rasulallah saw bersabda atas dirinya “Aku telah mendapat perintah dari Allah untuk menikahkan putriku Ummu Kalstum dengan Ustman” 

Posted in 4- Ummu Kalstum | Leave a Comment »

Ruqayyah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Ketiga

Ruqayyah

Nama

Ruqayyah

Nama Bapak

Muhammad bin Abdullah saw

Nama Ibu

Khadijah binti khuailid

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 22 Sebelum Hijrah

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Makkah. Dua kali menikah dengan:

1- U’tbah bin Abu Lahab (Masuk islam tahun pembebasan Makkah)

2- Ustman bin Affan, ikut berhijrah bersamanya ke Habasyah (Ethoipia) .

Nama Anak

Abdullah bin Ustman bin Affan (wafat semasih kecil)

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, tahun 2 Hijrah (wafat dalam usia 24 tahun)

Tanda Tanda Istimewa

Mendapatkan pengakuan Nabi saw atas penjagaan Allah terhadap diri dan suaminya Ustman bin Affan saat berhijrah ke Habasyah. Beliau bersabda “Allah telah menjaga Ustman dan keluarganya setelah penjagganNya terhadap Lut as saat berhijrah”

Posted in 3- Ruqayyah | Leave a Comment »

Qasim

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Kedua

Qasim

Nama

Qasim

Nama Bapak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuailid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah

Jenis Kelamin

Laki Laki

Tempat dan Tanggal Wafat

Makkah, wafat dalam usia kurang dari setahun

Posted in 2- Qasim | Leave a Comment »

Zainab

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Pertama

Zainab

Nama

Zainab

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuilid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 23 sebelum Hijrah Nabi saw

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Makkah

Nama Suami

Abul A’sh bin Rabie’ (Anak Halah binti Khuailid, Saudara Khadijah ra)

Nama Anak

1- Ali (Wafat semasih kecil)

2- Umamah (Dikawini Imam Ali ra setelah wafat Fatimah ra kemudian dikawini Mughirah bin Naufal setelah Imam Ali ra), dari kedua duannya tidak mendapatkan keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 8 Hijrah. Rasulallah saw sendiri turun ke dalam kuburan disaat pemakaman.

Wafat Pada Usia

31 tahun

Tanda Tanda Istimewa

1- Sabar dalam segala musibah menimpahnya. Rasulallah saw bersabda atas diri Zainab “Sesungguhnya ia adalah sebaik baiknya anakku dalam menerima musibah”.

2- Ikut berhijrah bersama sama Nabi saw.

3- Menolak duduk di Makkah dengan suaminya yang belum masuk Islam. Setelah masuk islam tahun 8 Hijrah, Nabi saw mengembalikannya kepada suaminya.

Posted in 1- Zainab | Leave a Comment »

Mariya Al-Qibthiyyah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Keduabelas

Mariya Al-Qibthiyyah

 

Nama

Mariya

Nama Babak

Syamu’n

Nama Ibu

xxx

Tempat dan Tanggal Lahir

Asiyut, Mesir

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, Tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

didatangi dari Mesir sebagai hadiah dari Raja Muqauqis untuk Nabi saw

Lama Perkawinan

4 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Satu satunya budak belian, setelah dimerdekanan, menjadi istri Nabi saw dan mendapat keturunan darinya.

2- Menghapus perbudakan

3- Ia sebagai hadiah dari raja Mesir Muqauqis untuk Nabi saw

Nama Suami Pertama

xxx

Nama Anak dari Nabi saw

Ibrahim

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 16 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Dicintai Nabi saw, kecintaan ini tercermin dari sabda beliau “Sesungguhnya kamu akan membuka negeri Mesir, negeri yang dinamai Al-Qirath (Al-Qibth), jika kamu memasukinya berbuat baiklah kepada penduduknya sesungguhnya bagi mereka keselamatan dan kekeluargaan (sher)

2- Dikaruniai putra yang diberi nama Ibrahim (wafat semasih kecil)

Posted in 12- Maria Al-Qibthiyyah | 2 Comments »

Maimunah binti Harist

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kesebelas

Maimunah binti Harist

 

 

Nama

Maimunah (Nama Asalnya Burrah, diganti Nabi saw menjadi Maimunah)

Nama Babak

Harist bin Huzn Al-Hilali

Nama Ibu

Hind bint A’uf

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, Tahun 18 sebelum Hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Kampung Saraf dekat Makkah, tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

5 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Membuat hubungan kekeluargaan dengan kabilah Al-Hilali (kabilah menengah).

2- Diriwayatkan perkawinanya dirayakan di kampung Saraf dekat kota Makkah dan diundang semua pamong peraja Quraisy untuk menghadirinya. Mereka merasa bangga sehingga selalu disebut-sebut  “Mantu kami Muhammad”

Nama Suami Pertama

1- Masu’d bin A’mr bin Umair As-Staqafi (Ditalak)

2- Abu Rihim bin Abdul U’zza Al-A’miri (Bercerai Mati)

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Makkah, Tahun 51 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Senang bersilaturahim dengan keluarga dan banyak bertakwa kepada Allah.

2- Rasulallah saw bersabda “Wanita yang beriman ialah Maimunah istri Nabi, saudara saudaranya adalah Ummu Fadhl binti Harist, Salma binti Harist istri Hamzah dan Asma’ binti U’mais saudaranya dari ibu” 

Posted in 11- Maimunah Binti Harist | Leave a Comment »

Ramlah binti Abu Sufyan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kesepuluh

Ramlah binti Abu sufyan

 

Nama

Ramlah (Ummu Habibah)

Nama Babak

Abu Sufyan bin Harb

Nama Ibu

Shafiyyah binti abil A’sh

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 30 sebelum Hijrah Nabi saw

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, Tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dinar dibayar oleh raja An-Najasyi (Ethiopia)

Lama Perkawinan

4 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Membuat hubungan baik dengan Abu Sufyan pemimpin Qurasy Makkah yang memusuhi Nabi saw. Mendengar berita perkawinan Nabi saw dengan putrinya, Abu Sufyan merasa bangga. Ia berkata “Ia (Muhammad) adalah kuda pacu yang tidak pernah menundukan hidungnya ke tanah (sangat mulia)”.

2- Membalas jasa Ramlah yang telah berhijrah ke Habasyah hingga wafat suaminya.

Nama Suami Pertama

Ubaidillah bin Jahsy

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 44 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Sabar dan banyak membawa keberkahan

2- Ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama sama suaminya Ubaidillah yang masuk agama Kristen dan mati di sana.

3- Dilamar Nabi saw dengan mahar 400 dinar yang dibayar oleh Raja Habasyah (Ethiopia) sebagai hadiah darinya.

Posted in 10- Ramlah binti Abu Sufyan | Leave a Comment »

Shafiyyah binti Hay

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kesembilan

Shafiyyah binti Hay

 

Nama

Shafiyyah (Yahudi)

Nama Babak

Hayy bin Akhthab

Nama Ibu

Burrah binti Samual

Tempat dan Tanggal Lahir

Khaibar, Tahun 10 sebelum Hijrah Nabi saw

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Saat kembalinya dari Khaibar, Tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

Pembebasan dari tawanan Khaibar

Lama Perkawinan

4 Tahun

Sebab Perkawinan

Ia anak perempuan pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir yang ditawan. Rasulallah memberikan dua pilihan, dibebaskanya dari tawanan atau dinikahi Nabi saw. Ia memilih dinikahinya. Setelah dinikahi seluruh tawanan Bani Nadhir diberikan otoriti untuk tetap tinggal di Khaibar . 

Nama Suami 

1- Salam bin Musykam

2- Kinanah bin Rabie’

Kedua duanya sastrawan besar Yahudi

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 50 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Benar, bijaksana dan dipercaya

2- Membela Khalifah Ustman di saat pengepungan orang orang pemberontak yang ingin membunuhnya, Ia membawa makanan dan minuman baginya

3- Setelah perselisihan faham dengan A’isyah ra dan Hafshah ra ia mengadukan halnya kepada Nabi saw. Beliau pun bersabda ”Ya Shafiyyah! Katakanlah kepada A’isyah dan Hafshah bagaimana mereka lebih mulia darimu sedang suamimu Muhammad, bapakmu nabi Harun dan pamanmu nabi Musa”

Posted in 09- Shafiyyah binti Hay | Leave a Comment »

Juairiyah binti Harist

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kedelapan

Juairiyah binti Harist

 

Nama

Juairiyah (Yahudi)

Nama Babak

Harist bin Abi Dhirar

Nama Ibu

xxx

Tempat dan Tanggal Lahir

Tahun 16 sebelum Hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Tahun 5 Hijrah (Setelah Peperangan Bani Al-Mushtaliq)

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

6 Tahun

Sebab Perkawinan

Ia anak perempuan pemimpin Yahudi dari Bani Al-Mushtaliq yang ditawan. Rasulallah saw memberikan dua pilihan untuk pembebasannya, membayar upeti atau dikawini Nabi saw. Ia memilih dikawininya. Kemudian seluruh tawanan Bani Al-Mushtaliq dibebaskan karena hubungan beliau dengan pimpinanya menjadi kekeluargaan (mertua Nabi)

Nama Suami Pertama

Musafih bin Shafwan

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 56 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Senang berpuasa dan beribadah

2- Membawa keberkahan bagi kaumnya karena hubunganya dengan Nabi saw sebagai istri. A’isyah ra berkata “Aku tidak mendapatkan wanita yang membawa keberkahan bagi kaumya selain Juairiyah”

Posted in 08- Juairiyah binti Harist | Leave a Comment »

Zainab binti Jahsy

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Ketujuh

Zainab binti Jahsy 

 

Nama

Zainab atau Ummul Masakin kedua (Ibu orang orang Miskin kedua), dijuluki juga Ummul Hakam

Nama Babak

Jahsy bin Riab

Nama Ibu

Umaimah binti Abdul Muthalib (Bibi Nabi saw)

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 30 sebelum Hijrah Nabi saw

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Madinah, Tahun 5 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

6 Tahun

Sebab Perkawinan

Dikawini atas perintah dari Allah demi untuk membatalkan hukum “Attabanni” atau pengangkatan anak setelah ditalak oleh anak

angkat Nabi saw Zed  bin Haristah. Lihat surat Al-Ahzab 37 dan terjemahannya

Nama Suami Pertama

Zed bin Haristah

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 20 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Pengiba, suka bersedekah, dijuluki Ibu orang orang miskin kedua. 

2- Istri yang bangga karna dinikahi Nabi saw atas pernitah Allah

Posted in 07- Zainab binti Jahsy | Leave a Comment »

Hind binti Hudhaifah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Keenam

Hind binti Hudhaifah

 

Nama

Hind atau Ummu Salamah Al-Makhzumiyah

Nama Bapak

Abi Umayyah (Hudhaifah bin Al-Mughirah)

Nama Ibu

A’tikah binti A’mir

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 30 sebelum Hijrah Nabi

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, tahun 4 Hijrah

Status

Janda

Mahar

Perabotan rumah tangga

Lama Perkawinan

7 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Menghormati suaminya Abi Umayyah saudara susu Nabi saw yang telah wafat

2- Mengikat hubungan tali persaudaraan dengan bapaknya ketua suku Quraisy terbesar dari Bani Makhzum

Nama Suami Pertama

Abu Salamah Abdullah bin Abul Asad, saudara susu dan anak bibi Nabi saw yang berhijrah ke Habasyah dan Madinah.

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Syawal 61 Hijrah.

Tanda Tanda Istimewa

1- Wanita pertama yang berhijrah ke Habasyah

2- Wanita pertama yang masuk ke Madinah dengan unta berkamar (Houdaj)

3- Cantik, Cerdik dan berakal. Nabi saw selalu menghargai ide-idenya diantaranya saat perjanjian Al- Hudaibiyah. Sahamnya terhadap da’wah Nabi saw sangat besar.

4- Ia adalah anak paman Khalid bin Walid dan saudara susu A’mmar bin yasir

5- Ketika turun ayat “Innama Yuridullah Liyudhiba A’nkumurijsa Ahlalbait” di rumahnya, iapun berkata “Wahai Rasulallah apakah aku termasuk Ahlul Bait?” Rasulallah saw menjawab “Betul insyallah”

Posted in 06- Hind binti Hudhaifa | 2 Comments »

Zainab binti Khuzaimah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri kelima

Zainab binti Khuzaimah

 

Nama

Zainab  Ummul Masakin (Ibu orang orang miskin)

Nama Bapak

Khuzaimah bin Al-Harist bin Abdullah

Nama Ibu

Hind binti A’uf

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 26 sebelum hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, Ramadhan 3 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

8 Bulan

Sebab Perkawinan

Menghormati suaminya pertama, Abdullah bin Jahsy, saudara susu Nabi saw yang mati syahid dalam peperangan Uhud

Nama Suami Pertama

Abdullah bin Jahsy, saudara susu Nabi saw. dikarunia 4 anak darinya

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Rabiul Akhir tahun 4 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Senang bersadakah dan memberi makan orang miskin, makanya dijuluki Ummul Masakin (Ibu orang orang miskin)

2- Ia saudaranya istri Nabi Maimunah binti Harist dari ibu

3- Istri pertama yang wafat setelah wafatnya Nabi saw.

Posted in 05- Zainab binti Khuzaimah | Leave a Comment »

Hafshah binti Umar

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Keempat

Hafshah binti Umar bin Khattab

 

Nama

Hafshah

Nama Bapak

Umar bin Khattab

Nama Ibu

Zainab binti Madhu’n

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 18 sebelum Hijrah Nabi

Tempat dan Tanggal Pernikahan 

Madinah, Tahun 3 Hijrah

Mahar

xxx

Status

Janda

Lama Perkawinan

8 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Memperkuat hubungan Nabi saw dengan sahabat kedua Umar bin Khattab ra

2- Menghormati suami pertama Khunais bin Hudhafah yang mati syahid dalam peperangan Uhud

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 41 Hijrah

Nama Anak dari Nabi 

Tidak dikaruniai keturunan

Nama Suami Pertama

Khunais bin Hudhafah mati syahid dalam peperangan Uhud

Tanda Tanda Istimewa

1- Sastrawan unggul

2- Selalu puasa dan sholat malam.

3- Pernah diputus Nabi saw kemudian Jibril datang kepada beliau lalu berkata “Kembalilah kamu wahai Muhammad kepada Hafshah sesungguhnya ia wanita yang selalu puasa dan bangun malam, sesungguhnya ia istrimu di surga”

3- Penjaga Mushhaf pertama (Al-Quran) yang dikumpulkan Abu Bakar Siddik ra di rumahnya

Posted in 04- Hafshah binti Umar | 1 Comment »

A’isyah binti Abu Bakar

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Ketiga

A’isyah binti Abu Bakar

 

Nama

A’isyah

Nama Bapak

Abu Bakar Assiddiq

Nama Ibu

Zainab binti Abdu Dahman (Ummu Ruman)

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 9 sebelum Hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, tahun pertama Hijrah

Mahar

400 Dirham

Setatus

Perawan

Lama Perkawinan

11 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Memperkuat hubungan Nabi saw dengan sahabat pertama Abu Bakkar Assiddiq ra .

 2- Diangkat sebagai wakil Nabi bagi wanita dalam memberi penerangan ilmu agama. Para sahabat Nabi saw menyakinkan bahwa tidak ada satu masalah apapun yang ditanya A’isyah kecuali mereka mendapatkan jawaban darinya.

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Ramadhan 58 Hijrah

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tanda Tanda Istimewa

1- Satu satunya perawan yang dikawini Nabi saw.

2- Pintar dan banyak membawakan hadist Nabi saw.

3- Dijuluki Ummu Abdullah oleh Nabi saw karena kecintaannya kepada Abdullah bin Zubair, anak saudara perempuan A’isyah ra.

4- Turun baginya ayat ifik (tersebarnya berita bohong tentang dirinya) – lihat surat An-Nur 11,12 dan terjemahannya.

Posted in 03- A'isyah binti Abu Bakar | 6 Comments »

Khadijah binti Khuailid

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Makam Siti Khadijah di Makkah

Makam Siti Khadijah di Makkah

 

Istri Pertama

Khadijah binti Khuailid

 

Nama

Khadijah

Nama Bapak

Khuailid bin Asad bin Abdul U’zza’ bin Qushay bin Kilab bin Murrah

Nama Ibu

Fatimah binti Zaidah

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah 68 sebelum Hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Makkah, tahun 28 sebelum Hijjrah

Mahar

20 unta betina

Status

Janda

Tempat dan Tanggal Wafat

Makkah, tahun 10 setelah kenabian dinamakan “Tahun Kesedihan”

Lama Perkawinan

25 tahun

Nama Anak dari Nabi saw

1- Zainab

2- Al-Qasim

3- Ruqayyah

4- Ummu Kalstum

5- Fatimah

6- Abdullah (Al-Thayyib atau Al-Thahir)

Nama Suami Pertama

Abu Halah (Nabbasy bin Zararah Al-Tamimi)

Nama Anak dari Suami Pertama

1- Hind  (Masuk Islam)

2- Halah (Masuk Islam)

Nama Suami Kedua

A’tik bin Abid Al-Makhzumi

Nama Anak  dari Suami Kedua

1- Hind (Masuk Islam)

Tanda Tanda Istimewa

1- Istri pertama dan tercinta yang tidak pernah dimadu.

2- Wanita pertama yang menyambut seruan iman tanpa membantah dan berdebat.

3- Mengorbankan seluruh hidupnya, jiwanya, dan hartanya untuk kepentingan dakwah Nabi saw

4- Rasulallah saw pernah bersabda

“Laki laki sempurna banyak sekali, dan tidak ada yang sempurna dari wanita kecuali empat, Mariyam binti I’mran, Asiya istri Firaun, Khadijah binti Khuailid dan Fatimah binti Muhammad”

5- Akhlaknya sangat membekas di hati suaminya, Rasulallah saw, sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikanya walupun ia telah wafat.

6- Allah telah menyampikan salam khususNya untuk Khadijah ra melalui perantaraan Jibril as kepada Rasulallah saw disertai kabar gembira “Aku telah sediakan baginya rumah di surga yang dibuat dari emas yang tiada kesusahan baginya dan kepayahaan”

 

Posted in 01- Khadijah Binti Khuailid | 7 Comments »

Saudah Al-A’miriyah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kedua

Saudah Al-A’miriyah

 

Nama

Saudah (Al-A’miriyah)

Nama Babak

Zima’h bin Qais bin Abdu Syamsy

Nama Ibu

Syumusy binti Qais bin Zaid

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah 68 Sebelum Hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Makkah, 3 sebelum Hijrah

Status

Janda tua, tidak cantik, dan memiliki 5 anak

Mahar 

Tidak ada

Lama Perkawinan

14 Tahun

Sebab Perkawinan Kedua

Dilamar setelah wafat Khadijah ra untuk mengurus putra putri Nabi saw. Ia tua seusia Khadijah, istri Nabi, dan pula tidak cantik

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Nama Suami Pertama 

Sakran bin A’mr, ikut berhijrah ke Habasyah

Tanda Tanda Istimewa

1- Istri kedua setelah wafat Khadijah ra.

2- Tidak menolak permintaan Nabi mengawininya. Ia berkata “Wahai Rasulallah aku tidak berkehendak untuk kawin lagi, tapi aku ingin dibangkitkan di Hari Kiamat bersama istrimu dan mendapat pahala yang sama dengannya”

3- Senang bercanda. Pernah Ia berkata “Wahai Rasulallah aku sholat malam di belakangmu, sewaktu ruku’ aku pegang hidungku takut keluar darah karna ruku’mu terlalu lama”.  Rasulallah swa tertawa.

 

 

 

 

 

Posted in 02- Saudah Al-A'miriyah | Leave a Comment »

Contact Us

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Hubungi Kami:

 

Hasan Husen Assagaf

 

 
Indonesia

Indonesia

Jl. Condet Raya

Jakarta Timur

Indonesia

Hp: 0062- 8161182101

Email:  hasan_saggaf@yahoo.com

            hasanhusen@gmail.com

 

 

Posted in contact Us | 16 Comments »

Cucu Cucu Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 2, 2008

 Klik:

1- Hasan

2- Husein

 

Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami 

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 4- Cucu Cucu Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »

Putra Putri Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 2, 2008

 

Silahkan klik:

 

1- Zainab

2- Qasim

3- Ruqayyah

4- Ummu Kalsthum

5- Fatimah

6- Abdullah

7- Ibrahim

 

 Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 3- Putra Putri Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , | 5 Comments »

Bulan Sabit Di Atas Ka’bah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 25, 2008

makkah di waktu malamOleh: Hasan Husen Assagaf

PERJALANAN dari Riyadh ke Makkah cukup memakan waktu dan tenaga, kurang lebih 1000 kilometer atau 10 jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Selama perjalanan saya dan keluarga beristirahat dua kali, pertama di wadi Hilban dan yang kedua ditengah-tengah antara kota Thaif dan Makkah yaitu (Qarnul Manazil) Sair Kabir, atau yang lebih tenar lagi disebut Miqot orang-orang yang ingin berbuat umrah atau haji dari Riyadh atau dari negara lainnya yang melewati tempat itu sesuai dengan hadist Nabi kita: “Tempat itu merupakan miqat bagi ahlinya dan bagi yang melewati tempat itu”

pemandangan riyadh-makkah foto antara riyadh - makkah jalan antara riyadh makah 

Foto pemandangan antara Riyadh dan Makkah

Selama perjalanan, tentu yang saya dapatkan hanyalah lembah-lembah, wadi-wadi, yang dikitari oleh gunung-gunung batu, pasir dan kerikil yang sangat silau dipandang mata. Dan yang lebih aneh dari itu, lalat, nyamuk dan semut sulit ditemukan, mungkin karena suhu negeri penuh batu itu  2° hingga 59°. Tapi, Masya Allah, justru memberi kemakmuran tiada tara kepada penduduk yang hidup di dalamnya.

Untuk kita yang belum pernah ke negeri ini, jangan sekali kali membayangkan, bahwa gunung gunung itu ditumbuhi pepohonan yang menyejukan mata. Tapi, semua yang bernama gunung di negri ini hanyalah gundukan batu yang menyilaukan mata apalagi kalau dilihat di siang bolong atau di terik matahari.

Dulu saya pernah dengar cerita dari ulama Makkah, ada sebuah gunung berapi yang boleh jadi bisa menumbuhkan rumput dan pepohonan. Gunung itu bernama gunung Al-Harrah Al-Syarqiyyah, letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah yang meletus pada tahun 654 H (1258 M) dan asapnya bisa terlihat sampai kota Makkah.

Sekarang semua yang bernama gunung adalah batu, melulu batu. Apalagi kalau kita lewati kota Thaif melalui jalan Al-Hada atau Sair Kabir, semuanya dikelilingi gunung-gunung batu yang menjulang tinggi. Di samping gunung-gunung batu, pula kita dapatkan angin sahara yang garing dan kering yang menampar muka seperti tamparan serikaan panas di musim kemarau dan tamparan salju di waktu musim dingin.

Tapi, Allah yang Maha Adil dan Bijaksana, justru di balik batu dan tanah yang gersang itu, telah mengeluarkan air yang berlimpah-limpah. Tidak sedikit kita dapatkan mata-mata air dan bir-bir (sumur-sumur) air yang memuncrat tak henti hentinya, seperti Bir Ali, pedasan yang letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah, bir Wadi Fatimah di Makkah, bir tepian lembah Alaqiq dan tentu yang paling top adalah bir Zam Zam di Makkah, yang memiliki kantung-kantung air yang berlimpah-limpah yang tidak akan pernah surut sampai hari kiamat.

Ini semua, kalau kita teliti dengan seksama, berkat doa nabi Ibrahaim, datok Rasulallah saw yang pernah berdiri di kaki gunung disaat akan meninggalkan anaknya Ismail dan istrinya Hajar di lembah yang tandus tidak berumput dan berpohon sambil berdoa “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan solat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur“ Ibrahim 37

Mikat Tanim di Makkah (Masjid A\'isyah)   mikat-qarnul-manazil-sair-kabir   Perbatasan Toif

Miqat Tani’m Makkah       Miqat Sair Kabir Taif         Perbatasan Taif

Di miqat Sair Kabir, saya dan keluarga, berhenti beberapa saat untuk berihram. Waktu sudah mulai senja. Tak lama kemudian terdengar suara adhan Magrib dari menara Masjid Miqat. Disitu kami melalukan solat Maghrib dan Isya jam’a dan Qasr. Setelah itu kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan berangkat ke Makkah Al-Mukarramah yang jaraknya dari Sair Kabir kurang lebih 75 Km atau satu jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Tepatnya, adhan Isya kami sudah bisa melihat tanda-tanda memasuki kota Makkah yang diawali dengan pemandangan 9 menara Masjid teragung di dunia. Baru kali itulah kami merasai keindahan ruhaniah pada sebuah kota kelahiran Nabi saw. “Labaika Allahuma Labaik”. Dia yang telah berkehendak membawa kami ke kota suci yang penuh berkah, Makkah Al-Mukarramah.

Pemandangan Haram di waktu malam  Pemandangan Makkah waktu malam  Makkah di waktu malam

Pemandangan Haram Makkah di waktu malam

Beberapa saat kemudian Masjid yang bermandikan cahaya lampu dan dihiasi dengan 9 menara terasa semakin dekat dari pandangan kami. Bulan sabit (permulaan bulan Jumadil Akhir) nampak jelas di atas masjid. Sambil berulang-ulang menyebut nama Allah “Labaika Allahuma Labaik”, kami tak lepas memandangnya yang membuat kami hanyut ke dalam lautan keindahan dan keberkahan.

Pintu gerbang utama masjid al-Haram yang lebih popular disebut Bab As-Salam, pintu utama yang selalu dilewati Rasulallah saw, tampak anggun dan indah. Pintu itu memiliki keistimewaan dan keutamaan dari pintu pintu yang lain. Pintu itu diberi tanda yang berbeda dari pintu-pintu yang lain. Dari situlah saya dan keluarga memasuki masjid Al-Haram untuk memulai ibadah thawaf.

   

Pemandangan di saat Toaf

Thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dimulai dari memberi salam kepada Hajar Aswad dan diakhiri dengan salam pula kepadanya. Untuk mencium batu hitam Hajar Aswad  yang terletak di salah satu pojok dinding Ka’bah, tidak semudah yang kita duga, apa lagi di bulan Haji dan di hari-hari terakhir bulan puasa. Karena ribuan jamaah berdesak-desak yang sama-sama ingin memangfaatkan waktu untuk menciumnya.

 

Adapun kubus hitam (Ka’bah) tersusun dari batu-batu hitam yang diambil dari bukit bukit di dekat Makkah kemudian dilekatkan dengan semen putih. Kalau kiswah (kelambu) Ka’bah tidak diangkat, batu itu hanya terlihat di lubang kecil sudut Yamani. Ka’bah yang membentuk bangunan segi empat ini, panjangnya sekitar 12 meter, lebarnya kurang lebih 10 meter dan tingginya 16 meter. Sedangkan Ka’bah yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil renovasi Sultan Murad Al Utsmani pada tahun 1630. Sebelumnya terjadi pula pemugaran oleh Nabi Ibrahim 4000 tahun lalu, pula pernah dipugar oleh Abdullah bin Zubair ra.

Setelah Thawaf, kami solat dua raka’at di muka Maqam Ibrahim dan berdoa dengan penuh kekhusyuan di muka Multazam (pintu Ka’bah). Ditempat itulah semua Muslim nampak dengan khusyu’ bersyukur kepada Allah, memohon ampun kepada Nya, serta berdoa untuk segala bentuk kebaikan di hari hari mereka yang mendatang.

Air Zam Zam  Tempat minum air Zam Zam  tempat minum air zam zam

Tempat minum air Zam Zam

Lagi-lagi kebaikan yang muncul dalam hati ketika saya dan keluarga duduk bersila untuk memanjatkan doa dengan pandangan lurus ke arah Ka’bah. Sambil minum air Zam Zam yang berselerakan di mana-mana baik di dalam atau di luar Masjid, semua pikiran terkonsentrasi ke arah doa dan ibadah, lupa dengan hirup pikuk kota Jakarta.

Selesai thawaf, saya dan keluarga melaksanakan sa’i, yaitu berlari kecil dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Lokasi sa’i saat ini sudah berupa lorong yang panjangnya sekitar 375 meter. Sa’i dalam bahasa Arab artinya usaha atau jerih payah, dan yang dimaksud disini adalah usaha Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, untuk mencari air demi menyelamatkan anaknya Ismail yang baru saja lahir di pinggiran Ka’bah. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang yang bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti dilakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah. Kisah ini merupakan kudwah atau teladan bagi kita untuk melakukan apa yang telah dilakukan Siti Hajar sesuai dengan perintah Allah “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya“ – al-Bakarah, 158.

Sa\'i antara Shofa dan Marwa  sa\'i shofa marwa  tahalul

Pemandangan Sa’i antara Shofa dan Marwah dan mencukur

Selesai sa’i di bukit Marwah, kamii mengarah ke Ka’bah untuk berdoa tanda berakhirnya ibadah Umrah. Setelah itu kami bertahalul yaitu menggunting rambut atau mencukurnya. Maka selesailah ibadah Umrah, Ucapan syukur tak henti hentinya kami lakukan yang mana Allah telah berkehendak membawa saya dan keluarga ke kota yang penuh berkah, Makkah Al-Mukaramah.

Bersama-sama dengan lautan manusia kami keluar dari Masjid Agung itu seusai melakukan ibadah umrah dan tentulah pulang ke tempat pemondokan yang letaknya tidak berjauhan dari Haram atau sekitar empat kilometer dari Masjid. Selama tiga hari saya dan keluarga tinggal di kota Makkah, dua kali ibadah umrah saya lakukan dan berkali-kali thawaf dan i’tikaf di Masjid hingga larut malam yang membuat saya tenggelam kedalam lautan keindahan dan keberkahan kota Makkah. Alhamdulillah.

 

 gua hira\'      Jabal Nur dipuncaknya Gua Hira\'      jabal Nur - Gua Hira\' 

 Gua Hira   medaki gua hira   jabal Nur

Pemandangan Jabal Nur (Gua Hira’) tempat Nabi menerima Wahyu

makkah di malam hariPada malam terakhri sebelum pulang, saya dan keluarga sempat duduk i’tikaf berjam jam sambil mengarahkan pandangan kami ke arah Ka’bah dan setelah itu kami melakukan thawaf wada’ dan mengucapkan selamat tinggal kepada kota kelahiran Nabi yang tercinta. Disana saya sempat memandang Ka’bah berulang ulang kali. Masjid dan 9 menara berdiri tegak dihiasi dengan sinar lampu yang cemerlang. Sementara ribuan bintang berkedip-kedip bagaikan berlian dan nampak jelas bulan sabit di atas Ka’bah mulai membesar yang ikut serta membuat suasana menjadi indah.

Wallahu’alam
Hasan Husen Assagaf

Posted in Bulan Sabit Di Atas Ka'bah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 40 Comments »

Tawasul

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 21, 2008

 

     pintu masuk masjid        

  kamar nabi  

   Makam Nabi dari luar                               Makam Nabi dr dalam      

Tawasul 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

SEBAGAI seorang muslim, saya terpanggil untuk mengantarkan janazah tetangga yang meninggal dunia. Setelah disolatkan di masjid Umu Ibrahim – Riyadh, janazah dikubur di pemakaman al- U’ud selepas solat Asar.

Di Riyadh kalau mengubur mayat ada sedikit berbeda dengan di negara kita. Bedanya, di sini tanahnya pera dan berpasir, jadi lobang yang digali cetek, mungkin dalamnya kurang lebih satu setengah meter. Tapi walaupun cetek, mayat cepat kering dan tidak terhendus baunya. Saya rasa hanya dua minggu mayat bisa habis dimakan tanah. Ini mungkin karna pengaruh udara kering ditambah suhunya yang bisa mencapai antara 4°C di musim dingin dan 50°C di musim panas.

Berbeda dengan di negara kita, udaranya lembab dan tanahnya basah. Jadi lobang kuburan harus digali lebih dalam, karena mayat susah keringnya. Katanya setelah 40 hari mayat baru bisa kering dan habis dimakan tanah. Inilah akhir dari perjalanan anak cucu Adam as, dan kita pasti mau atau tidak mau akan melaluinya.

Para salaf sholeh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana mayat setelah dikubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam besar Bukhari bahwa mayat setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan. Di lain hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Utsman bin Affan ra bahwa Rasulallah saw setelah selesai mengubur mayat, beliau berdiri dan bersabda: “Mintalah ampun bagi saudaramu ini, dan mintalah semoga diberikan ketetapan, karena ia sekarang akan ditanya”.

Dari hadist di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mayat itu hidup tidak mati. Hanya saja ia berpindah dari alam dunia ke alam yang baru dinamakan alam Barzakh. Di sana, ia hidup, ia ditanya, ia mendengar, ia melihat, ia membalas salam orang yang memberi salam kepadanya sama seperti orang hidup.

Kalau itu dilakukan untuk sesama manusia biasa, sekarang bagaimana halnya bagi manusia termulia di Dunia yang jutaan penziarah datang ke Madinah untuk memberi salam kepada beliau dan para sahabatnya.

Manusia termulia putra Abdullah dan Aminah bernama Muhammad saw itu benar-benar telah menjadi magnet bagi milyaran manusia. Kerna itu, Madinah tak pernah tidur menyambut para penziarah yang datang dari seluruh pelosok dunia hanya untuk memberi salam kepada baginda Nabi saw dan solat di masjidnya.

Tentu yang sudah pernah berziarah ke makam Rasulallah saw dan para sahabatnya tidak bisa membayangkan bagaimana menyimpan kenangan indah dari cahaya beliau dan pasti di luar dari kesadaran kita air mata mengucur keluar membasahi pipi kita. Kehebatan kota Madinah bukan saja karena kemegahan masjidnya akan tetapi juga karena bersemayam di dalamnya jasad beliau yang mulia. Di sanalah baru kita merasai keindahan ruhaniah kota Madinah yang membawa negeri itu, berkat Rasulallah saw, menjadi negeri yang penuh barokah.

Bagi yang pernah berziarah ke makam Rasulallah saw, pasti bisa melihat di muka tembok jendela rumah Rasullah saw (tempat dimana jasad beliau yang mulia disemayamkan), tertulis dua bait syair yg dibuat oleh seorang A’rabi (Arab Badui) sejak ratusan tahun yang lalu. Sampai sekarang tulisan itu masih bisa terbaca dan masih akan terus dibaca inysallah oleh umat Muhammad saw yang datang berziarah ke makamnya.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Hafidh al-Syeikh I’mad al-Din Ibnu Katsir dari al-U’tbi, ia berkata : Ketika aku sedang duduk di hadapan makam Rasullah saw, tiba tiba seorang A’rabi datang berziarah kepada beliau dan berkata : “Salam sejahtera atasmu wahai Rasulallah. Sesungguhnya aku mendengar Allah berberfirman  “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Al-Nisa’, 64.  “Wahai Rasulallah”, kata A’rabi dengan penuh kekhusyu’an, “aku datang kepadamu untuk memohonkan ampun bagiku dan memberikan kepadaku syafaatmu“. Kemudian A’rabi itu membaca dua bait syair:

ياخير من دفنت بالقاع أعظمه
فطاب من طيبهن القاع وا لأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه
فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Wahai jasad termulia di lahad kau bersemayam
Lahad dan tanah ber-semerbak dari semerbakmu
Ku korbankan diriku demi makam kau berdiam
Yang penuh kebijakan, keindahan dan kemurahanmu

Setelah membaca dua bait syair A’rabi itu keluar. Kemudian aku  (al-U’tbi) tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rasulallah saw. Beliau pun berkata kepadaku:  “Kejarlah A’rabi itu dan sampaikanlah kepadanya kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya “

Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki  telah mengupas riwayat ini dalam kitabnya “Mafahim Yajibu An Tushahah“ bahwa banyak para masyayikh (ulama) meriwayatkan kisah ini, diantaranya:  Al-Imam al Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Abul Faraj bin Qudamah dalam kitabnya al Syarhul Kabir, Al Imam al Qurtubi (umdah atau pakar ilmu tafsir) dalam kitabnya tafsir Al Jami’,  dan masih banyak lagi para ulama besar dan pakar ilmu tafsir  yang meriwayatkan kisah ini.

Sekarang, apakah kisah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu dhaif jika dilihat dari sanadnya?…
Apakah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu merupakan suatu kekufuran atau kesesatan?…
Apakah yang dibawakan para ulama dan pakar ilmu tafsir itu mengajak kita kepada penyembahan berhala atau kuburan?…
Jika hal itu demikian menurut penapsiran ulama mereka, maka ulama mana lagi yang bisa dipercaya.

Wallahua’lam,

Posted in Tawasul | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 14 Comments »

Perilaku Ulama Dahulu

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

DARIPADA mikirin dunia melulu, sedikitnya pikiran kita alihkan ke tempo seabad yang lalu, ke satu masa, dimana masyarakat dan ulama masih baik-baik perilakunya dan bersih jalan pikiranya. Perilaku baik itu dalam bahasa arab disebut suluk atau sirah. Yaitu hal baik yang tidak hanya menyangkut tindakan atau perbuatan, tetapi juga baik dalam hal pikiran dan perasaan. Orang yang alam pikir dan rasanya baik akan melahirkan perilaku atau suluk yang baik. Sebaliknya orang yang perilakunya atau suluknya buruk, timbul dari alam pikir dan rasa yang rusak. Sudah pasti alam pikir dan rasa yang rusak inilah yang mendorong perilaku atau suluk menjadi jahat seperti merusak di muka bumi, menipu, mencuri, koropsi, mencuci-maki, memfitnah, dst.

 

Perilaku atau suluk dalam tindakan, perbuatan dan perasaan itu pernah menjadi motif cita-cita mufti besar pertama di Indonesia, Habib Utsman bin Yahya seabad yang lalu atau lebih, yang hidupnya penuh disegani oleh semua lapisan masyarakat. Bukan dari masyarakat Muslim saja, bahkan non Muslim juga sangat menyeganinya. Beliau dikatagorikan sebagai ulama dahulu yang berda’wah penuh dengan perasaan, penuh dengan ilmu dan perilaku baik dalam tindakan dan perbuatan, menghormati sesama, tidak berlebih-lebihan atau ikut-ikutan.

 

Cita-cita mufti besar Habib Utsman bin Yahya adalah ingin mengangkat derajat dan martabat manusia Muslim Indoneisa menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesamanya, terhormat dalam perbuatan, tindakan, serta pikiran dan perasaanya. Orang yang terhormat itu adalah orang yang tidak tercela perbuatannya. Ia adalah orang pintar dan terpelajar, berani dan jujur serta cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama mufti besar Habib Utsman bin Yahya yang ingin membebaskan Muslimin Indonesia dari belenggu kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Dan mengangkat mereka menjadi manusia terhormat, terpelajar, berakhlak dan bersuluk baik.

 

Adapun ulama yang terhimpun dalam wadah Habib Utsman bin Yahya, mereka pintar-pintar, terpelajar, dan digembleng di madrasah Rasulallah saw puluhan tahun. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama secara menyeluruh. Di antara tokoh-tokoh itu adalah Habib Ali Al Habsyi (Kwitang), penerus ajaran dan cita-cita Habib Utsman bin Yahya. Ribuan umat Islam datang ke majlis Habib Ali semasa hidupnya hanya sekedar mendengar nasihat, wejangan dan diakhiri dengan pembacaan kalimat tauhid. Tidak pernah kita mendengar di majlis itu caci-maki terhadap seseorang atau golongan, melaknat atau mengkufurkan seseorang atau golongan. Majlis penuh dengan ilmu dan nasihat, penuh dengan akhlak dan suluk yang baik, penuh dengan doa dan rahmat.

 

Da’wah semacam inilah yang telah diwasiatkan Rasulallah saw, lima belas abad silam, yang datang sebagi rahmat dan membawa perdamaian bagi alam semesta. Bukankah Rasulallah, setelah berhijrah ke Madinah pertama-tama yang dilakukannya, setelah mepersaudarakan antara kaum Ansor dan Muhajirin, adalah mengadakan perdamaian dengan tiga kelompok Yahudi yang berada disana, Bani Qainuqa’, Bani Nadzir dan Bani Quraidzoh. Beliau telah membuat hubungan baik dan menggelar perjanjian untuk hidup damai dan saling menghormati. Akan tetapi orang-orang Yahudi sendirilah yang mengkhianati dan merusak perjanjian trb.

 

Islam adalah agama yang membawa damai dan rahmat lil a’lamin (bagi semesta alam). Islam diambil dari kata “salam” yang berarti damai, damai di dunia dan damai di akhirat. Damai yang dimaksudkan disini adalah berperilaku baik dan berbuat hormat kepada sesame manusia.

 

Contohnya, suatu saat Rasulallah sedang duduk di beranda rumahnya. Tiba-tiba ada orang-orang lewat mengusung keranda janazah. Beliau pun berdiri karena rasa hormat terhadap jenazah tersebut. Namun salah seorang sahabat memberi tahu Nabi saw, serta berkata “Wahai Rasulallah, itu adalah jenazah orang Yahudi? “ Nabi menanggapi “Bukankah ia juga jiwa manusia“ ( HR Imam Bukhari )

 

Islam mengajarkan damai dan berbuat baik bukan hanya terhadap manusia, akan tetapi sampai terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan. Bukankah dalam hadist Nabi saw telah diriwayatkan bahwa seorang wanita masuk neraka karena telah menganiyaya seekor kucing? Begitu pula seorang pelacur masuk sorga karna telah memberi minum seekor anjing yang kehausan?.

 

Rahmat Islam rupanya benar-benar lil a’lamin (bagi semesta alam). Tidak hanya manusia, tetapi hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup, semua memperoleh rahmat Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan, ada seorang lelaki yang merebahkan kambingnya sementara dia masih menajamkan pisaunya. Lalu Rasulallah bersabda, “Apakah engkau ingin membunuh kambing itu dua kali? Jangan lakukan itu. Tajamkan pisaumu sebelum kamu merebahkan kambingmu”

 

Ibnu sirin juga meriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah melihat seseorang sedang menyeret kaki kambing untuk disembelih. Beliau marah dan menegur orang trb, “Jangan lakukan itu! Giringlah hewan itu menuju kematiannya dengan baik.” (HR Imam Nasai)

 

Itulah kebesaran agama Islam. Itulah kehebatan agama kita. Rahmat semacam inilah yang pernah dirintis rastusan tahun yang lalu oleh ulama pendatang dahulu. Mereka datang tidak membawa pendang atau keris, belati atau penangkis, akan tetapi berkat ilmu yang luas serta akhlak dan perilaku (suluk) yang luhur, Islam menjadi agama terbesar di seluruh lapisan masyarakat Indoneisa.

 

Rasulallah tidak mengajarkan kita berda’wah dengan kekerasan, paksaan dan berutal. Akan tetapi beliau mengajarkan umatnya berda’wah dengan hikmah dan mauidzah hasanah, dengan akhlak dan suluk yang ramah. Ini konci kesuksesan da’wah ulama kita masa lalu.

 

Wallahu’alam

 

Posted in Perilaku Ulama Dahulu | 4 Comments »

Ka’bah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 7, 2008

Ka\'bah    
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadat manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang di-berkahi” al- Imran, ayat 96.

 

Ka’bah adalah bangunan suci Muslimin yang terletak di kota Mekkah di dalam Masjidil Haram. ia merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah sholat bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.

  

 

Ka’bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter (Lihat foto berangka Ka’bah). Ka’bah disebut juga dengan nama Baitallah atau Baitul Atiq (rumah tua) yang dibangun dan dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah. Kalau kita membaca Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37 yang berbunyi “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”, kalau kita membaca ayat di atas, kita bisa mengetahui bawah Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim as menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka’bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim menginjakan kakinya di Makkah.

 

foto kabah dari dalam  kelambu kabah  

 Ka’bah dari Dalam                      Kelambu Ka’bah                                 

 

Pada masa Nabi saw berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat bajir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali Hajar Aswad namun berkat hikmah Rasulallah perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

 

banjir di kabah th 1941   banjir di kabah th 1941

 Banjir di Ka’bah tahun 1941                           Banjir di Ka’bah tahun 1941

 

Pada zaman Jahiliyyah sebelum diangkatnya Rasulallah saw menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, ka’bah penuh dikelilingi dengan patung patung yang merupakan Tuhan bangsa Arab padahal Nabi Ibrahim as yang merupakan nenek moyang bangsa Arab mengajarkan tidak boleh mempersekutukan Allah, tidak boleh menyembah Tuhan selain Allah yang Tunggal, tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan diperanakkan. Setelah pembebasan kota Makkah, Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah.

 

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah (lihat foto kunci ka’bah) dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah. 

 

konci kabah

Konci Ka’bah berada di museum Istambul

 

Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as pondasi bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Rasulallah saw berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail (lihat foto) yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.

 

Pintu Kabah   pintu kabah 

Pintu Ka’bah tahun 1941                                     Pmtu Ka’bah (Sekarang)

 rukun yamani   batu fondasi masjid haram

Rukun Yamani                                Batu fondasi Haram 852H                             

 

Karena agama islam masih baru dan baru saja dikenal, maka Nabi saw mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim”. Jadi kalau begitu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah. Makanya dalam bertoaf kita diharuskan mengelilingi Ka’bah dan Hijir Ismail. Hijir Ismail adalah tempat dimana Nabi Ismail as lahir dan diletakan di pangkuan ibunya Hajar.

 

Ketika masa Abdurahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan Ka’bah dibuat sebagaimana perkataan Nabi saw atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan pelontar (Manjaniq) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Rasulallah saw pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim as. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.

 

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi saw. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan masalah khilafiyah oleh penguasa sesudah beliau dan bisa mengakibatkan bongkar pasang Ka’bah. Maka sampai sekarang ini bangunan Ka’bah tetap sesuai dengan renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang

 

Hajar Aswad

 

Hajar Aswad merupakan batu yang dalam agama Islam dipercaya berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim as. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semangkin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Ka’bah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi saw. Karena beliau selalu menciumnya setiap saat bertoaf. Dan sunah ini diikuti para sahabat beliau dan Muslimin.

 

    hajar aswad    hajar aswad

          Hajar Aswad                     Hajar Aswad berikut kerangka

 

Pada awal tahun gajah, Abrahan Alasyram penguasa Yaman yang berasal dari Habsyah atau Ethiopia, membangun gereja besar di Sana’a dan bertujuan untuk menghancurkan Ka’bah, memindahkan Hajar Asswad ke Sana’a agar mengikat bangsa Arab untuk melakukan Haji ke Sana’a. Abrahah kemudian mengeluarkan perintah ekspedisi penyerangan terhadap Mekkah, dipimpin olehnya dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Beberapa suku Arab menghadang pasukan Abrahah, tetapi pasukan gajah tidak dapat dikalahkan.

 

Begitu mereka berada di dekat Mekkah, Abrahah mengirim utusan yang mengatakan kepada penduduk kota Mekkah bahwa mereka tidak akan bertempur dengan mereka jika mereka tidak menghalangi penghancuran Ka’bah. Abdul Muthalib, kepala suku Quraisyi, mengatakan bahwa ia akan mempertahankan hak-hak miliknya, tetapi Allah akan mempertahankan rumah-Nya, Ka’bah, dan ia mundur ke luar kota dengan penduduk Mekkah lainnya. Hari berikutnya, ketika Abrahah bersiap untuk masuk ke dalam kota, terlihat burung-burung yang membawa batu-batu kecil dan melemparkannya ke pasukan Ethiopia; setiap orang yang terkena langsung terbunuh, mereka lari dengan panik dan Abrahah terbunuh dengan mengenaskan. Kejadian ini diabadikan Allah dalam surah Al-Fil

 

Makam Ibrahim

 

makam Ibrahim      makam ibrahim & hajar aswad

 Makam Ibrahim                             Makam Ibrahim            Hajar Aswad

 

Makam Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana banyak orang berpendapat. Makam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di saat beliau membangun Ka’bah bersama sama puteranya Nabi Ismail. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara, dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubbah kecil. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim yang panjangnya 27 cm, lebarnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.

 

Multazam

 

multazam

 Multazam

 

Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah berjarak kurang lebih 2 meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah atau dikabulkan. Maka disunahkan berdoa sambil menempelkan tangan, dada dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi saw yang diriwayatkan sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

 

Terakhir, saya sangat berharap semoga artikel “Ka’bah” ini bisa membawa mangfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah.

 

Walallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

Posted in Ka'bah | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 27 Comments »

Surat Dan Stempel Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 3, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Al-Qura’n turun melalui Jibril as kepada Nabi saw bukan dengan tulisan tapi dengan lisan. Bahkan ayat pertama yang turun kepada beliau bukan “Uktub” atau “Tulislah” tapi ayat pertama turun berbunyi “Iqra’” artinya “Bacalah”. Dari salah satu mu’jizat Nabi saw yang terbesar adalah bahwa beliau itu buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis. Tapi kok wahyu yang turun kepada beliau dari Allah baik melalui Jibril atau langsung bisa diterimanya? Karena ingatan dan hapalan Nabi saw super hebat, luar biasa tidak bisa disamakan dengan ingatan dan hapalan orang orang biasa. Maka semua wahyu yang dibacakan Jibril as yang turun dari Allah kepada beliau bisa langsung melekat di ingitan Nabi saw tidak bisa terlepas lagi.

 

Jelasnya, kalau ada orang mengatakan bahwa Nabi saw itu pintar menulis berarti dia bodoh tidak mengetahui sejarah Nabi saw atau berarti dia telah melecehkan Islam. Orang pintar pada masa Nabi saw bukan orang yang pandai menulis tapi yang hebat pada zaman itu adalah orang yang hapalanya kuat. Kalau begitu menulis bukalah budaya orang Arab. Orang Arab di masa itu merasa malu jika diketahui ia pandai menulis. Karena mereka mengandalkan diri mereka kepada hapalan. Orang yang pandai menulis berarti hapalannya tidak kuat.

 

Tapi Islam adalah agama terbuka dan bisa menerima budaya. Contohnya setalah wafatnya Nabi saw, para sahabat mulai mengumpulkan Al-Qur’an dari penghapal penghapal agar mu’jizat Nabi itu tidak putus dan habis sepeninggalan mereka atau sehabis para penghapal itu wafat. Maka terbentuklah “lajnah” untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan ini tentu memerlukan waktu dan tenaga luar biasa. Setelah terkumpul mulailah mereka menulis demi untuk menjaga keselamatan Al-Qur’an dari tangan tangan kotor dan memeliharanya agar tetap bersih, murni dan terjaga Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” al-Hijr 9.

 

Begitu pula hadist hadist Nabi saw yang diriwayatkan atau disampaikan dengan lisan memiliki kedudukan yang lebih kuat daripada riwayat yang disampaikan dengan tulisan. Walaupun demikian, Islam adalah agama terbuka dan menerima budaya yang datang dari luar, atau menerima cara orang lain selama budaya dan cara mereka itu baik tidak keluar dari rel rel syariat Allah. Contohnya adalah pengumpulan Al-Quran dan hadist-hadist Nabi saw, pembuatan surat surat Nabi saw yang dikirim kepada raja raja dan penguasa penguasa dunia setelah Islam mulai kuat di Madinah dan mulai berkembang luas ke seluruh penjuru.

 

Banyak budaya dan cara orang lain masuk ke dunia Islam dan diterima semasih budaya dan cara itu bisa diterima kebenaranya. Contohnya setelah Rasulallah saw membuat surat surat kepada raja raja dan penguasa penguasa dunia mengajak mereka masuk ke agama Islam, salah seorang sahabat mengatakan bahwa orang-orang kafir tersebut tidak mau menerima surat surat tanpa distempel lebih dahulu, maka Nabi saw memerintahkan para sahabat untuk membuatkan baginya stempel. Kemudian dibuatlah stempel berupa cincin yang berukiran kalimat “Muhammad Rasulullah“.  Stempel ini dikenakan Nabi saw di tangan kanan beliau sampai beliau wafat. (Lihat foto stempel Nabi).

 

Stempel Nabi saw

 

Semua surat surat Nabi saw yang dikirim kepada raja dan penguasa dunia disambut dengan baik dan sangat dihargai sekali oleh mereka kecuali surat beliau yang dikirim kepada Kisra atau Khosrau II (Penguasa Persia). setibanya surat beliau dan sehabis dibaca surat beliau dirobek robek oleh Khosrau. Rasulallah berdoa: “Ya Allah robek robeklah kerajaannya”.

 

Kalau kita membaca isi surat surat Nabi saw yang dikirim untuk penguasa penguasa dunia kita bisa lihat dengan jelas bahwa Rasulallah saw adalah seseorang yang ahli berdeplomasi dan sangat pintar bersiasat. Kita bisa lihat bahwa beliau sangat menghargai dan memuliakan kedudukan mereka sebagai penguasa dunia.

 

Di bawah ini terlampir 4 surat Nabi saw:

 

1- Surat Nabi saw untuk Raja Negus (Penguasa Ethiopia)

 

Surat Nabi Untuk Najasyi

Isi surat:

Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara. Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk.

 

2- Surat Nabi saw untuk Raja Heraclius (Kaisar Romawi)

 

Isi surat:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Heraclius Kaisar Romawi yang agung. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Salain dari pada itu, sesungguhnya aku mengajak kamu untuk memeluk Islam. Masuklah kamu ke agama Islam maka kamu akan selamat dan peluklah agama Islam maka Allah memberikan pahalah bagimu dua kali dan jika kamu berpaling maka kamu akan menanggung dosa orang orang Romawi.  “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Al-Imron 64

 

3- Surat Nabi saw untuk Raja Khosrau II (Penguasa Persia)

 

Isi surat:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Khosrau, penguasa Persia yang agung. Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bagi orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bagi yang bersaksi bawha Muhammad itu hamba Nya dan utusan Nya. Aku mengajakmu kepada panggilan Allah sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi seluruh manusia supaya aku memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. Peluklah agama Islam maka kamu akan selamat. Jika kamu menolak maka kamu akan menanggung dosa orang orang Majusi.

 

 

4- Surat Nabi saw untuk Al-Muqawqis (Penguasa Mesir)

 

Surat Nabi Untuk Muqauqis

Isi surat:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad bin Abdullah utusan Allah, untuk al-Muqawqis penguasa Mesir yang agung. Salam bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Selain dari pada itu, aku mengajakmu kepada panggilan Allah. Peluklah agama Islam maka kamu akan selamat dan Allah akan memberikan bagimu pahala dua kali. Jika kamu berpaling maka kamu akan menanggung dosa penduduk Mesir.“.

 

Setelah al-Muqawqis membaca surat Nabi saw, ia membalas surat beliau dan memberikam kepada beliau dua hadiah. Hadiah pertama berupa dua budak belian bernama Maria binti Syamu’n al-Qibthiyyah yang dimerdekakan Nabi saw dan menjadi istri beliau, darinya Rasulallah saw mendapatkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim (wafat semasih kecil), nama ini diambil dari nama kakek beliau Nabi Ibrahim as. Dan budak kedua adiknya sendiri Sirin binti Syamu’n Al-Qibthiyyah yang dikawini Hassan bin stabit ra, sastrawan unggul pada zaman Nabi saw. Hadiah kedua berupa kuda untuk tunggangan beliau.

 

(Artikel ini telah dimuat di Republika: http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=335688&kat_id=16 )

 

Walau’alam

Posted in Surat Dan Stempel Nabi | Dengan kaitkata: , , , , | 43 Comments »

Buku Tamu

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 1, 2008

Buku Tamu

 

Kepada,

Yth, Pengunjung blog “Kado dari Kota Nabi”

 

Semoga blog ini bisa membawa mangfaat, menyejukkan hati, menambah semangat ibadah kita dan yang terpenting bisa saling kenal satu sama lain (bersilaturahim).

 

Kami sangat mengharapkan saran, masukan, dan info infonya dari Pengunjung.

 

Salam dari “Kado dari Kota Nabi”

Hasan Husen Assagaf

 

silahkan mengisi buku tamunya :

 

Posted in Buku Tamu | 132 Comments »

Aurat

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 1, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

AURAT adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dan haram melihatnya. Dalam hukum fiqih aurat laki laki antara pusar dan lutut, sedang aurat perempuan, karena sangat sensitive, seluruh tubuhnya kecuali muka dan tapak tangan. Menutup aurat adalah cabang dari iman. Yang tidak menutupnya berarti tidak ada iman, yang tidak punya iman berarti tidak punya malu. Jelasnya, malu termasuk cabang dari iman. Iman amat berkaitan dengan malu. “Bila malu hilang hilanglah iman, jika iman hilang malupun ikut terbang”. Itu yang kita dapatkan dari hadith Rasulallah saw.

 

Saat Nabi Adam as dan istrinya Hawa turun ke bumi, keduanya dalam kondisi tak sehelai benangpun di tubuh mereka. Menyadari hal itu Adam as dan Hawa segra mencari dedaunan dan kulit pohon untuk dijadikan pakaian yang menutupi aurat mereka. Padahal pada saat itu tidak ada seorang pun yang melihat, kecuali mereka berdua, suami istri. Tapi mereka berusaha menutupi aruat mereka masing masing karena rasa malu mereka yang sangat tinggi.

 

Ada cerita tentang Balqis, ratu negri Saba-Yaman ketika berkunjung ke istana nabi Sulaiman. Ia tercengang melihat kemewahan dan keindahan istana. Saking kagumnya Ratu Balqis menarik abayanya (rok panjangnya) karena ia mengira lantai istana digenangi air. Padahal itu semua karena kecanggihan istana Sulaiman as. Roknya sempat terangkat dan betisnya pun sempat terlihat. Walaupun kejadian itu hanya sekejap tapi cukup membuat ratu Balqis malu besar, mukanya merah padam dan segra menutup betisnya.

 

Diriwayatan pernah siti Aisyah ra bertanya kepada Rasulallah saw,

 

“Wahai Rasulallah, betulkan nanti di hari kiamat para perempuan dikumpulkan bersama lelaki kesemuanya dalam keadaan tanpa busana?”

 

Rasulallah pun menjawab,

 

“Betul”

 

Mendengar yang demikian Aisyah ra menangis sejadi-jadinya dan berkata,

 

“Alangkah malunya, alangkah malunya, ya Rasulallah”

 

Namun beliau kemudian menjelaskan,

 

“Wahai Aisyah, di akhirat nanti manusia sibuk dengan dirinya masing-masing sehingga tidak ada waktu dan kesempatan untuk memperhatikan aurat orang lain.”

 

Hadisth ini dimuat sebagai gambaran seorang wanita yang kuat imannya dan memiliki rasa malu yang dalam.

 

Cerita tentang aurat tentu kita bertanya kenapa Rasulallah saw lahir dalam keadaan sudah berkhitan? Kalau kita sering membaca kitab maulid tentu kita akan mendapatkan jawabannya. Rasulallah lahir dalam keadaan berkhitan agar tidak ada yang melihat auratnya dari pandangan orang lain. Dan itu merupakan sebagian dari kemuliaan Allah yang diberikan kepada beliau. Jelasnya beliau terpelihara dan terjaga dari keburukan, kejelekan, dosa dan kemaksiatan.

 

Satu kali, ketika Rasulallah saw masih kecil ikut memperbaiki Ka’bah bersama sama orang Quraisy Makkah. Beliau pun ikut gotong royong membatu mengangkat sebuah batu yang cukup besar dan berat sehingga qamis beliau tersingkap. Tiba tiba batu itu jatuh dan mengenai kakinya sampai beliau pingsan. Dengan jatuhnya batu maka qamis beliau kembali menutup aurat beliau yang tersingkat.

 

Dulu derajat malu khususnya dikalangan wanita sangat tinggi. Sangat jarang kita dapatkan wanita keluar rumah. Kalau keluar, auratnya selalu ditutup rapat-rapat dan selalu disertai mahram untuk menjaganya. Orang tua atau suami sangat cemburu bila aurat anaknya atau istrinya dilihat orang lain.

 

Dulu orang selalu menjaga kadar iman dan menempatkan kaum wanita pada posisinya sesuai dengan syariat yang diajarkan agama. Makanya mereka selalu menjaga keturunan mereka dan memelihara auratnya serapi mungkin sejak kecil. Mereka berikan pakaian yang sesuai dengan standar syariat, tidak diobral semaunya, apalagi dipamerkan di halayak ramai. Karena aurat wanita secara otomatis berbeda dengan pria amat berharga dan sensitive bisa mengundang orang berbuat dosa.

 

Berbeda dengan zaman sekarang aurat, maksiat, kerusakan sudah menjadi lumrah dan sulit dibendung. Benar apa yang dikatakan Ahmad Syauqi, “kukuhnya satu bangsa terletak pada moralnya. Apabila moralnya rusak, maka bangsa tersebut ikut bejat”. Adapun salah satu penyebab kehancuran moral dan akhlak karena pengaruh pornografi. jadi sangat wajar sekali jika dilakukan pelarangan terhadap majalah Play Boy dan majalah majalah lainnya di Indonesia yang masih menyajikan hal-hal yang berbau porno.

 

Sudah barang tentu ada beberapa cara yang digunakan untuk menyelamatkan moral dan akhlak bangsa sesuai dengan yang dianjurkan Rasulallah saw. Pertama mereka yang mampu berda’wah dengan kekuatan. Yaitu orang yang bisa merubah dengan tangannya jika melihat kemungkaran dan kemaksiatan. Kedua mereka yang mampu berdakwah dengan lisannya. Sedang yang paling lemah ialah yang hanya mampu menjahui dan membenci di dalam hati tanpa berbuat apa-apa.

 

Memang ada hadits yang mengatakan “katakanlah yang hak (benar) walaupun yang benar itu pahit”. Hadist ini jelas menyuruh meluruskan, memperbaiki atau tegasnya merobah apa-apa yang dilihat salah, tapi bukan dengan kekerasan, bukan dengan emosi, bukan dengan caci maki. Hati seorang muslim itu bukan batu, ia tidak sekeras batu. Batu saja masih lunak jika terus menerus ditetesi air.

 

Jadi, cara menyampaikan yang haq (benar) pun harus bijaksana dan dengan menggunakan bahasa yang sopan, lembut dan menyentuh. Satu kali Khalifah Makmun putra Harun Al-Rasyid dikritik, dikecam dengan pedas dan disertai caci-maki oleh sekelompok orang. Beliau sangat marah dan menyuruh orang yang mengeritiknya membuka Al-Quran surat Thaha ayat 43-44, dimana Allah menyuruh kepada nabi Musa dan Harun as untuk mendatangi Firaun dan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut (qaulan layyinan). Makmun putra Harun Al-Rasyid menegaskan bahwa dirinya adalah seorang muslim masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Firaun yang musyrik, bahkan mengaku Tuhan.

 

Wallahualam

 

 

 

 

 

 

Posted in Aurat | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 1 Comment »

Kado Dari Imam Ali

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 30, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Mari kita buka lagi bingkisan kado yang datang dari sahabat dan misanan Nabi saw, Imam Ali bin Abi Thalib ra. Sebelum kita buka bingkisanya, saya teringat dengan sebuah hadist Rasulallah saw yang berbunyi “Barangsiapa melepaskan seorang mu’min dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesulitan dari dirinya di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seorang mu’min yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya”.

 

Sekarang kita buka bersama sama bingkisan kado Imam Ali bin Abi Thalib ra yang penuh dengan mutiara hikmah yang bisa dijadikan sebagai teladan bagi kehidupan kita sehari hari. Silahkan menyimak:

 

Di pagi yang cerah, seroang pengemis datang ke rumah Imam Ali bin Abi Thalib. Badannya kurus kering, pakaiannya cumpang camping, dan rambutnya tidak terurus. Ia datang kepada beliau meminta makanan. Imam Ali pada saat itu sedang berdiri di muka pintu. Lalu beliau menyuruh anaknya Hasan, “Ya Hasan, masuklah ke dalam, minta dari ibumu, Fatimah, uang satu dinar yang masih tersisa 6 dinar dari uangku” kata beliau. Sayyidina Hasan langsung masuk kedalam meminta uang dari ibunya sesuai dengan perintah ayahnya.

 

Tak lama kemudian ia keluar tanpa membawa apa apa. Ia menjelaskan bahwa ibunya tidak memberikanya karena uang yang 6 dinar, katanya, akan digunakan untuk membeli tepung gandum. Dengan sedikit jengkel beliau berkata kepadanya “Tidak akan benar iman seseorang sehingga ia berkeyakinan bahwa apa yang berada di tangan Allah lebih baik dan lebih afdhol dari pada apa yang berada di tangannya”. Kemudian ia menyuruh lagi anaknya Hasan untuk mengambil uang satu dinar dari ibunya, Fatimah. Adapun kali ini Hasan keluar dengan membawa uang satu dinar. Imam Ali mengambil uang itu lalu diserahkan kepada pengemis tadi.

 

Belum sempat Imam Ali ra masuk ke dalam rumahnya, tiba tiba seseorang datang dengan menuntun seekor unta. Ia menawarkan beliau untanya seharga 140 dirham. Tanpa tawar menawar, Imam Ali ra setuju membelinya. Beliau menjajikannya akan membayar harga untanya di sore hari. Orang itu pun setuju. Lalu imam Ali mengikat unta tadi di depan rumahnya.

 

Di siang harinya ada seseorang melewati rumah beliau. ia melihat seekor unta diikat di depan rumah. Ia bertanya kepada beliau “Apakah unta ini mau dijual?”. Beliau menjawab “Ya, betul unta itu akan kujual dengan harga 200 dirham. Apakah kau berminat membelinya?”. Orang itu melihat lagi unta tersebut untuk kesekian kalinya. Akhirnya, Ia tertarik untuk membelinya. “Ya, aku berminat membeli unta ini dengan harga 200 dirham”, ujarnya. Orang itu langsung merogoh kantongnya dan membayar kontan harga unta sebesar 200 dirham kepada Imam Ali ra.

 

Di sore harinya orang yang menjual untanya kepada Imam Ali datang untuk menagih uang penjualanya. Beliau langsung memberikan kepadanya 140 dirham sesuai dengan perjanjian. Untung Imam Ali dari penjualan unta 60 dirham diberikan kepada istrinya, Fatimah ra. Dengan keheranan siti Fatimah menerima uang itu seraya berkata “Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini?”. Imam Ali pun tersenyum, lalu berkata “Ini adalah apa yang telah dijanjikan Allah melalui lisan nabi kita Muhammad saw (Barangsiapa membawa amal baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat).” Al an’am 160 

 

Kisah di atas patut dijadikan bahan renungan. Agar kita memiliki sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang miskin, yang lemah dan yang di bawah. Biarpun kita kaya dan memiliki harta berlimpah-limpah, semua itu tak berarti sedikit pun jika tidak memiliki sifat perhatian untuk mengangkat yang di bawah dan menolong yang miskin. Nah, kalau begitu, jadilah kita seseorang yang memiliki jiwa seperti Imam Ali ra dan seperti yang diajarkan Nabi agar tetap memiliki rasa kesederhanaan dan tidak menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin.

 

Alkisah, ada seorang kaya dari bani Israil yang sedang duduk makan siang bersama-sama istrinya. Di atas meja tersedia segala macam hidangan diantaranya ada ayam panggang. Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu. Istrinya pun berkata kepada suaminya ”Pak! Ada pengemis di depan rumah, kasiahan pak. Apakah kita bersedekah kepadanya dengan sepotong ayam panggang? Sang suami tiba-tiba membentaknya “Jangan! usirlah pengemis itu dari depan rumah.

 

Dunia pun berputar, hari berganti hari, bulan berubah menajdi tahun. Si kaya yang digenangi dengan segala macam kenikmatan berobah menjadi miskin. Istri kesayanganya ditalaknya. Setelah ditalak sang istri kawin lagi dengan seorang laki laki kaya. Kemudian terulang lagi peristiwa sang istri makan siang bersama-sama suaminya yang baru. Tentu di atas meja terhidang segala macam makanan, dan tidak ketinggalan pula terdapat seporsi ayam panggang.

 

Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu meminta makanan. Sang suami berkata kepada istrinya dengan penuh rahmah: “Ambilah sepiring nasi dan sepotong ayam panggang sebagai lauknya, berikanlah kepada pengemis itu”. Setelah nasi dan ayam panggang diberikan kepada si pengemis, sang istri pun menangis. Suaminya sangat heran dan bertanya: “kenapa dik kamu menangis? Apakah kamu marah karena aku memberi pengemis itu nasi dan ayam panggang?”. Istrinya menjawab: “ tidak pak, tidak sama sekali,  akan tetapi aku menangis karena ada sesuatu yang sangat ganjil dan ajaib”. Sang suami jadi penasaran ingin tahu apa yang ganjil dan ajaib itu. Ia pun bertanya: “Bu, apa gerangan yang ganjil dan ajaib itu? ”. Istrinya menjawab: “Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah suamiku yang pertama”. Mendengar ulasan sang istri, sang Suami segra berkata kepada istrinya “Apakan kamu tahu siapa aku sebenarnya? Sesungguhnya aku adalah pengemis pertama yang datang dulu ke rumahmu”.

 

Subhanallah, Itulah dunia. Kalau kita tidur, Allah tidak tidur. Kalau kita lupa Allah tidak akan lupa Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau kita sedang  berada di atas jangalah angkuh, bangga dan lupa kepada yang di bawah, sebaliknya kalau kita berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintu gerbangya:  “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17Maka,

 

Cintailah yang di bumi agar yang di langit mencitaimu.

 

Wallahua’lam

Posted in Kado Dari Imam Ali | Dengan kaitkata: , , , , | 6 Comments »

Hujan Lebat Di Kota Suci

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 26, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

HUJAN lebat turun di kota Makkah usai sholat Maghrib. Air pun turun mengerojok dari talang Ka’bah (Mizrab). Sebagian orang yang berdekatan dengan Ka’bah lari menuju air yang turun dari pancuran. Mereka saling bergantian mandi hujan dengan maksud mengambil barakahnya.

talang-kabah

Talang Ka’bah 

 

Tiba-tiba, seorang petugas masjidil Haram melarang keras dan mengusir mereka yang sedang asyik mandi hujan. Alasannya, yang mereka lakukan katanya, perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan Rasulallah saw. Tapi mereka yang sedang mandi hujan tetap ngotot tidak mau begerak. Petungas itu berteriak-teriak mengusir mereka hingga suaranya terdengar di Masjid.

 

Sayyid Alwi Al-Maliki (ayahnya Dr. Muhammad Al- Maliki), seorang ulama terkenal pada zamannya dan disegani oleh seluruh lapisan masyarakat Makkah, sedang duduk di tengah murid-muridnya di halaqah yang diadakan setiap lepas solat Maghrid di muka ka’bah. Mendengar teriakan petugas, beliau berdiri dan memangilnya, lalu bertanya “Apa alasan kamu melarang mereka mandi hujan dari pancoran Ka’bah?”. Petugas itu menjawab “Itu adalah perbuatan bid’ah tidak pernah dilakukan Nabi saw”. Mendengar jawaban petugas itu, sayyid Alwi Al Maliki segra berkata dengan ramah dan senyum “Perbuatan itu tidak haram dan bukan bid’ah, akan tetapi mereka mencari “barakah”. Bukankah Allah berfirman dalam ayat Nya “Dan kami turunkan dari langit air yang banyak barakahnya” al Qaaf, ayat 9. Kemudian Sayyid Alwi meneruskan lagi, “Bukankah pula Allah berfirman dalam ayat yang lain  “Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadat manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang di-berkahi” al- Imran, ayat 96. “Maka”, kata sayyid dengan senyum lebar, “Barakah turun di tempat yang barakah, menjadi Barkatain (dua barakah)”.

 

Jelasnya, mengambil barakah dari benda-benda yang dianggap suci seperti ka’bah, air Zam Zam, atau benda-benda bersejarah lainya dari peninggalan para nabi, para sahabat nabi, orang- orang soleh, merupakan hal yang terpuji, asal saja tidak keluar dari rel- rel syariat yang telah ditetapkan Allah dan Rasul Nya. Adapun yang dimaksud disini bukan berarti kita memuja-muja benda-benda tsb atau memuja-muja benda-benda peninggalan para nabi atau leluhur. Dan pula bukan pula berarti bahwa mereka telah menjelma pada benda-benda trb, namum yang dimaksudkan ialah untuk mengingat jasa perjuangan mereka dan juga untuk mengingatkan ketinggian dan keluhuran martabat mereka di sisi Allah.

 

Sebagai contoh:, selain air suci Zamzam dan air ruqyah yaitu air yang telah dibacakan di dalamnya ayat ayat suci al-Qu’ran yang membawa rahasia penyembuhan dan keberkahan, juga benda-benda yang dianggap barakah dari peninggalan para nabi, sahabat, tabi’in dan sholihin. Benda-benda tersebut bisa pula membawa rahasia penyembuhan dan keberkahan. 

 

rambut nabi    rambut nabi

Hal ini pernah dilakukan oleh seorang shohabiyah Ummu Salamah ra yang telah menyimpan beberapa helai rambut Nabi saw untuk dijadikan sebagai keberkahan dan penyembuhan. Rambut Rasulallah saw itu disimpan di dalam sebuah Juljal yang dibuat dari perak (wadah kecil yang dibuat dari perak berbentuk seperti lonceng). Ia selalu mengeluarkan rambut Rasulullah saw tetkala ada orang sakit datang kepadanya. Ummu Salamah memasukkan rambut Nabi saw ke dalam wadah berisi air. Setelah diaduk, air yang berisi rambut Rasulallah saw itu diberikan kepada yang sakit untuk diminum. Ini yang kita dapatkan dalam Hadist Nabi.

 

Dalam al-Qur’an tercantum kisah tabut (peti) bani Israil yang dijadikan sebagai alamat atau tanda kebenaran kerajan Thaulut. Allah berfirman “Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut (peti) kepadamu di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan mu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman”. al-Baqarah, 248.

 

Jelasnya, tabut (peti) yang dimaksudkan dalam ayat di atas bukan sembarangan tabut, tapi ia memiliki status yang mulia luar biasa, yaitu sebagai tanda kebenaran kekuasaan Thalut. Kemuliaan tabut (peti) itu, karena ia telah dibawa oleh Malaikat dan terdapat didalamnya ketenangan dan keberkahan bagi Thalut dan tentaranya. Maka mereka pun telah membawanya dalam peperangan mereka melawan musuh mereka Jalut. Allah telah menjanjikan kemenangan dalam peperangan mereka melawan musuh berkat tabut (peti) yang dibawanya.

 

Allah menerangkan dalam ayat Nya, bahwa tabut (peti) itu telah membawa ketenangan dan ketentraman dari Nya. Adapun isi tabut (peti) itu terdiri dari  bekas-bekas peninggalan para Nabi. Yaitu apa yang telah ditinggalkan nabi Musa dan nabi Harun seperti kitab Taurat, tongkat-tongkat, baju baju, dan sandal-sandal nabi Musa dan nabi Harun. Allah telah memuliakan tabut (peti) itu karena terdapat didalamnya peninggalan nabi Musa dan nabi Harun yang disimpan dan dirawat dengan baik dan pernah dibawah oleh Malikat. Dengan seizing Allah dan berkat peti itu Allah telah memberikan kemenangan dalam peperangan Thalut melawan musuh mereka Jalut.

 

Kisah tabut (peti) yang disebut dalam al-Quran tadi bukan berarti kita membesar-besarkan atau mengingatkan bahwa para Nabi itu menjelma pada benda-benda pusaka trb, akan tetapi Allah memuliakan tabut (peti) itu karena kemuliaan dan ketinggian derajat mereka di sisi Nya. Atau dalam arti yang lain Allah telah mengingatkan pula perjuangan baik mereka bagi masyarakat dan ini merupakan syi’ar agama yang perlu dijaga.

 

Pendek kata, sebagai balasan tidakan baik nabi Musa dan nabi Harun, peninggalan mereka (peti) dijadikan benda-benda yang sangat mulia untuk mereka bawa sebagai ketenangan dan keberkahan agar mendapat kemenangan dalam peperangan mereka melawan musuh mereka Jalut.

 

stempel / cincin nabi 

Contoh lainnya:, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam besar Bukhari dari ibu Umar ra bahwa Rasulallah saw pernah memiliki sebuah cicin perak yang dikenakan di tangan kanan beliau. Pada cicin itu tertulis kalimat “Muhammad Rasulallah”.  Setelah beliau wafat, Sayyidina Abubakar Siddik ra mengambil cicin itu dan dikenakan di tangan kanan beliau sebagaimana Rasulallah mengenakannya. Kemudian  setelah Abubakar ra wafat, cincin itu berpindah ke tangan Sayyidina Umar bin Khatab. Beliau memakai pula cicin itu sebagaimana Rasulallah saw dan Abubakar memakainya hingga beliau mati syahid dibunuh oleh Abu Lulu Almajusi. Setelah itu cicin yang pernah dikenakan Rasulallah saw berpindah ke tangan Ustman bin Afaan ra. Telah diriwayatkan bahwa cicin itu berada ditangan Ustman ra cukup lama sehingga jatuh ke dalam sumur Aris.

 

Shahih Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Libas bab Khatim Fidhah (cicin perak), al-Hafidh ibnu Hajar berkata sebagaimana diriwayatkan al-Nasai “sesungguhnya cicin Rasulallah itu berada ditangan Ustman bin Affan selama enam tahun”. Adapun “sumur Aris” terletak di sebuah kebun yang berdekatan dengan masjid Quba’. Kemudian sumur itu dikenal di kalaman penduduk Madinah dan dijuluki “Bi’rul Khatim” (Sumur Cincin), yang dimaksud di sini cicinnya Rasulallah saw yang jatuh ke dalam sumur trb. Sayyidina ustman telah berusaha sekuat tenaga untuk mencari cicin Nabi saw yang jatuh  ke dalam sumur akan tetapi usaha beliau sia sia belaka.

 

Sekarang, kenapa perhatian para sahabat Rasulallah begitu besar terhadap cicin trb. Apakah tidak ada lagi cicin yang lebih bagus dari cicin Nabi saw. Atau cicin itu mempunyai nilai harga yang mahal jika dijual. Tentu pada saat itu tidak sedikit terdapat cicin yang lebih bagus, lebih indah dan lebih mahal nilainya dari cicin Rasulallah saw. Akan tetapi apa yang membuat perhatian sahabat begitu besar terhadap cicin Rasulallah saw. Karena cicin itu pernah dikenakan di tangan kanan Rasulallah saw. Itu merupakan peninggalan sangat berharga dan benda bersejarah yang tidak bisa dilupakan oleh para sahabat Nabi saw. Cicin itu tidak mempunyai arti atau kelebihan sedikit pun jika tidak dikenakan atau diletakan di tangan kanan Rasulallah saw.

 pedang dan busur panah nabi  erban-burdah-dan-tongkat-rasulallah-saw  pedang nabi

Belum habis, tunggu dulu. Ada lagi kisah tentang Harbah atau yang disebut dalam bahasa kita “tombak” yang diriwayatkan oleh Imam besar Bukhari. Sahabat Nabi, Zubair ra, telah membunuh U’baidah bin said bin Al-a’sh pada peperangan Badr dengan Harbah (tombak) yang disodoknan ke matanya. Mendengar berita itu, Rasulallah saw meminta kepada sahabat beliau, Zubair, tombak trb. Permintaan Nabi saw tidak bisa ditolak olehnya. Dengan senang hati ia menyerahkannya kepada baginda Rasulallah saw. Setelah Rasulallah saw wafat, Zubair datang kepada keluarga beliau minta untuk mengembalikan tombaknya. Kemudian Sayidina Abubakar Siddik ra datang kepada Zubair memohon kepadanya agar tombak yang pernah dipegang Rasulallah saw diberikan kepadanya. Dengan senang hati pula, ia serahkan kepada Abubakar. Setelah wafatnya Abubakar, Zubair mengambil kembali tombak itu.

 

Selanjutnya, Sayidina Umar bin Khattab datang meminta kepada Zubair tombak yang pernah dipegang Rasulallah dan Abubakar ra. Permintaan beliau tidak bisa ditolak dan diserahkannya kepada beliau. Tombak itu berada di tangan Umar ra sampai beliau mati syahid dibunuh. Kemudian Ustman bin Affan ra datang meminta kepadanya tombak yang pernah dipegan Nabi dan para sahabat yang mulia. Tanpa ragu-ragu, ia menyerahkannya pula kepada Ustman. Tombak itu berada di tangan beliau hingga beliau dibunuh. Kemudian berpindah setelah itu ke tangan Sayyidina Ali bin abi Thlaib ra. Mendengar berita itu, Zubair datang kepada beliau minta dikembalikan tombaknya. Sayyidina Ali langsung menyerahkan kepadanya. Tombak yang sudah berkali-kali pindah tangan kembali kepada pemilik asalnya, Zubair, hangga ia mati terbunuh dalam salah satu peperangan.

 

Sekarang, kenapa perhatian para sahabat begitu besar teradap tombak trb? Apakah tidak ada lagi tombak pada saat itu selain tombaknya Zubair? Kenapa perhatian mereka sedemikan besar terhadap benda itu, sedangkan banyak benda yang lebih bagus, lebih antik dan lebih kuat dari pada tombaknya Zubair. Perhatian para sahabat Nabi begitu besar terhadap tombak trb, karena benda itu pernah dipegang oleh jungjungan Nabi Muhammad saw dan dibawanya dalam peperangan beliau melawan musuh. Kemuliaan dan keberkahan tombaknya Zubair bukan karena tombaknya akan tetapi karena kemulian dan keberkahan pemegang tombak itu, yaitu baginda Rasulallah saw.

 Sandal Nabi   tapak kaki Rasul

Ada lagi kisah tentang sandal Nabi saw yang telah menjadi perhatian para ilmiawan untuk dipelajari secara seksama dan teliti. Sandal itu telah menjadi bahan perhatian besar untuk dipelajari, baik dari segi sifat-sifatnya, atau dari segi bentuk, model dan warnanya. Mereka menulis hasil penelitian mereka secara rinci di dalam buku-buku mereka. Perhatian mereka begitu besar terhadap sandal Nabi saw disini dimaksudkan bukan sandalnya, akan tetapi pemiliki sandal itu yaitu Rasulallah saw.

 

Singkatnya, disini kita bukan memuja-muja benda-benda bersejarah atau barang peninggalan para nabi atau leluhur. Kita bukan pula untuk mengingatkan bahwa mereka telah menjelma pada benda benda trb, namum yang dimaksud disini ialah untuk mengingat jasa perjuangan mereka, dan juga untuk mengingatkan ketinggian dan keluhuran martabat mereka di sisi Allah.

 

Terakhir, bukankah yang kita lakukan untuk menghargai benda-benda bersejarah dan benda-benda peninggalan para Nabi, sahabatnya, dan orang orang soleh merupakan kelanjutan dalam meninggikan dan memuliakan syi’ar Islam?.

 

Wallahu’alam

Posted in Hujan Lebat Di Kota Suci | Dengan kaitkata: , , , | 12 Comments »

Umar dan Nenek Buta

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 21, 2008

 

Di sebuah rumah kecil, hidup seorang nenek buta yang memiliki seekor kambing, sebuah ember dan tikar yang sudah usang. Melihat keadaanya yang sangat menyedihkan, Umar bin Khattab berjanji kepadanya untuk datang setiap saat membantu membersihkan rumahnya, memeras susu kambing dan membawa makanan baginya.

 

Satu hari sebagaimana biasa ia datang ke rumah nenek buta itu, tapi hari itu sangat berbeda dengan hari hari yang lain, ia mendapatkan rumahnya sudah rapi, bersih, susu kambing sudah diperas dan makanan sudah tersedia. Beliau sangat heran siapa gerangan yang datang kerumah nenek itu?.

 

Hari berikutnya ia datang lagi ke rumahnya. Begitu pula ia dapatkan rumahnya sudah rapi, bersih, susu kambing sudah diperas dan makanan sudah tersedia. Timbul penasaran di hati Umar ra ingin cari tahu siapa gerangan yang datang membantu nenek tua tadi.

 

Hari berikutnya ia datang ke rumah nenek buta pagi pagi sekali. Hari itu berbeda dengan hari biasanya, ia tidak masuk ke rumahnya, tetapi ia duduk di luar rumah menunggu siapa gerangan yang datang ke rumahnya setiap hari.  Tiba tiba seorang datang mengetuk pintu rumah nenek buta itu dan masuk ke dalam rumah. Ia adalah Abu Bakar Shiddik ra. Pada saat itu ia menjabat sebagi khalifah.

 

Setelah Umar ra mengetahui kejadian itu, Ia kembali pulang dan di hati beliau tersimpan kesan indah dan pujian terhadap perbuatan dan kemurahan hati khalifah Abu Bakar ra yang selalu mendahuluinya dalam segala kebaikan.

 

Wallahua’lam

Hasan Husen Assagaf

 

Posted in Umar Dan Nenek Buta | Dengan kaitkata: , , , | 7 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 81 pengikut lainnya.