Hasan Husen Assagaf

♣ Berkaca Kepada Kisah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 18, 2004

 

فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“ Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir “- al-A’raaf, 176

Dari zaman nabi Adam sampai sekarang ini kita tidak bisa terlepas dari kisah. Kisah banyak terdapat di sekeliling kita. Kisah para nabi-nabi yang membawa pada jalan kebaikan dan rahmat bagi umat. Kisah Habil dan Kabil yang membawa permusuhan dan pertumpahan darah. Kisah Firaun, Haman dan Karun yang melahirkan kezaliman dan kesombongan. Kisah kaum ‘Aad dan Tsamud yang menjadi ‘ibrah dan contoh. Kisah para sahabat Rasulallah yang patut diambil sebagai hikmah. Kisah tabi’in, ulama dan para wali-wali yang tidak bisa terpisah dari kenyataan hidup.

Singkatnya, Manusia ini begitu kaya dengan kisah-kisah dan hikmah. Hidup para wali yang disebut dalam manakib adalah kisah. Sejarah para sahabat dan tabi’in adalah kisah. Pejuangan Rasulallah dalam da’wahnya adalah kisah. Hijrah beliau ke Madinah penuh dihiasi dengan kisah. Peperangan beliau melawan kafir Quraisy adalah kisah. Ashhabul Kahfi yang tertidur di dalam goa selama 309 tahun adalah kisah. Sebagian besar isi al-Qur’an adalah kisah. Bahkan ada surat tersendiri dalam al-Qur’an tentang kisah-kisah yang diberi nama surat al-Qashash.

Sayangnya, semakin dekat kita kepada akhir zaman, semakin tak berarti kisah-kisah. Kisah hanya dijadikan dongeng dan cerita kosong. Kisah hanya diutarakan dan dibawakan tanpa menghasilkan apa-apa. Kisah seolah-olah terpisah dari kenyataan hidup. Kisah seolah-olah terlepas dari realitas peradaban manusia. Bahkan yang lebih parah lagi, kisah hanya berfungsi sebagai cerita pengantar bobo atau tidur belaka.

Kisah tantang nabi Adam di sorga yang mendapat kedudukan tinggi melebihi para malaikat, sehingga Allah memerintahkan mereka sujud kepada Adam. Tapi tipu daya syaitan lebih kuat dari perintah yang telah diberikan kepadanya. Karena melanggar perintah Allah, mereka tergelicir dan mengakibatkan keduanya keluar dari surga. Allah menyuruh mereka turun ke dunia. Anehnya, kisah ini seolah-olah hanya cukup didengar sepintas-lalu, kemudian dilupakan.

Kisah kesombongan Firaun yang telah mengaku sebagai Tuhan di bumi dan mengingkari ajaran nabi Musa yang telah diturunkan kepadanya alkitab atau Taurat. Tapi, Firaun telah berlaku angkuh . Allah telah menghukum Firaun dan bala tentaranya dengan ditenggelamkan kedalam laut. Allah telah membinasakan generasi- generasi yang terdahulu untuk mejadi pelita bagi manusia, petunjuk dan rahmat . Sayangnya, kisah ini hanya diutarakan dan dibawakan tanpa menghasilkan i’tibar atau contoh.

Kisah kaum ‘Aad yang telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mereka mendurhakai nabi Huud yang telah diutus kepada mereka dan menentang kebenarannya. Dan diakhiri kisah ini dengan Allah telah memberikan baginya kutukan di dunia dengan meniupkan angin yang amat gemuruh dan diturunkan baginya azab dengan petir yang menimpa mereka. Anehnya lagi, kisah ini seolah-olah terpisah dari kenyataan hidup, kisah ini hanya ditanggapi sebagai dongeng atau cerita.

Ada lagi kisah kaum Tsamud yang telah menentang perintah nabi Sholeh dengan membunuh unta betina yang diturunkan sebagai mu’jizat, Allah telah beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kesesatan dari pada pentunjuk itu. Kemudian turun azab dari Allah atas perbuatan mereka dengan diberikan kepada mereka satu suara keras (petir) yang menyambar sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah- rumah mereka. Pula sayangnya, kisah ini seolah-olah terlepas atau terpisah dari kenyataan hidup suatu bangsa.

Kisah Habil dan Kabil merupakan kisah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia terjadi terhadap kedua putera nabi Adam as. Kisah pertikaian Habil dan Kabil terjadi disebabkan karena hal yang sepele yaitu Allah hanya menerima kurban salah seorang dari mereka berdua (kurban Habil) dan tidak diterima dari yang lain (kurban Kabil), sehingga terjadi iri dengki dan hasut. Maka timbullah hawa nafsu Kabil untuk membunuh saudarannya Habil dan terjadilah pertumpah darah dan malapetaka besar akibat pembunuhan itu. Tapi sayangnya, kisah ini hanya ditanggapi sebagai cerita, seolah-olah terlepas dari realitas peradaban manusia

Kisah para sahabat Nabi saw, lima belas abad silam, lahir tidak hanya sekedar untuk didengar. Tapi kisah mereka tercipta agar bisa dijadikan teladan dan contoh untuk menambah kekuatan iman. Kisah yang menceritakan tentang teguhnya pendirian mereka tentang suatu kehidupan abadi dan cinta yang murni. Kisah mereka seharusnya selalu berada di hati-hati kita agar bermanfaat dan bernilai bagi masa depan. Karena sebagus-bagusnya generasi, menurut hadist Nabi saw, adalah generasi sahabat Rasulallah, kemudian generasi berikutnya.

Contohnya, kisah Umar bin Khattab, seorang khalifah yang menjelma menjadi kisah-kisah kebaikan yang pernah lahir dan ada. Kisah tentang keadilan beliau yang tak hanya didengarkan lalu selesai. Kisah tentang kejujuran beliau yang tak hanya didengungkan lalu hilang. Kisah tentang kesederhanaan beliau yang tak hanya jadi cerita kosong. Beliau menjadi kisah indah tentang kejujuran yang tak berkesudahan. Beliau menjadi kisah indah tentang kesederhanaan yang tak ternilai. Beliau menjadi kisah indah tentang keadilan yang tak terbatas. Kisah tentang seorang Amirul Mukminin yang berkeliling di malam hari, memeriksa rakyat dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki. Sayangnya, kisah beliau seolah olah hanya cukup dikagumi sebagai pemimpin umat.

Di lain contoh, kita mendengar kisah kebesaran cinta murni yang tertanam kokoh di diri seorang pembawa suara hak (adzan), Bilal bin Rabah. Kisah cinta beliau ini tampak ketika Rasulallah berpulang ke rahmatullah. Ketika masuk waktu shalat Bilal berdiri dan mengumandangkan adzan. Jasad Nabi saw masih terbungkus dangan kain kafan dan belum dimakamkan. Pada saat itu, Bilal hanya mampu mengucapkan adzan sampai “ Asyhadu anna Muhammadan Rasulallah “. Ia tidak mampu menyempurnakan adzan seperti biasanya. Ia menangis dan menangis, setelah tiga hari berlalu, Bilal baru mampu mengumandangkan kembali panggilan shalat seperti semula. Walau setiap sampai pada kalimat yang mengingatkanya pada orang yang paling dicintainya, Bilal selalu menangis hingga tak kuasa menyempurnakan adzannya. Herannya, Kisah ini hanya bisa dijadikan sebagai dongeng dan cerita kosong. Sekali lagi sayangnya, kisah ini hanya bisa membuat geleng kepala orang-orang yang mendengar.

Dulu, Al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa yang terbang dari wadi ke wadi yang lain membawa kisah dan memberi peringatan tak kenal lelah. Ia berhijrah dari Irak meninggalkan harta dan keluarganya menuju ke Makkah, Madinah, dan kemudian ke Yaman. Ia berkisah tentang hidup zuhud, hidup sederhana dan pentingnya menegakkan perintah Allah dan Rasul Nya. Kisah beliau seperti suara alarm jam, membuat siapa saja bangun dan tersadar dari tidurnya. Kisah beliau tidak sekedar cerita atau dongeng, tapi punya kekuatan untuk merobah.

Begitu pula anak cucunya yang berterbaran di seluruh pelosok dunia. Mereka membawa risalah, panji dan bendera Rasulallah untuk menyebarkan agama Allah. Perjalanan mereka telah menjelma menjadi kisah-kisah kebaikan yang pernah lahir dan ada. Kisah mereka tentang zuhud, tentang kesederhanaan, dan tentang takwa tak hanya didengar dan dibaca, tapi kisah mereka telah menjadi kisah indah yang selalu dikenang sepanjang masa.

Kisah-kisah tak seharusnya menjadi cerita dan dongeng belaka. Kisah-kisah tak sewajarnya hanya tertulis di buku buku sejarah, tanpa memberi teladan dan hikmah. Kisah harus kita jadikan sebagai pelita yang menerangi jalan untuk menuju penghidupan mulia dan menciptakan satu kebaikan dan perilaku yang mulia. Kisah tak boleh dibiarkan menjadi dongeng dan cerita yang hilang berlalu seiring dengan masa.

Kejayaan dan kehebatan di masa lalu akan terulang kembali, jika kebaikan dan hikmah dalam kisah masa lalu bisa dipetik. Keunggulan dan keberhasilan umat ini akan lahir kembali ketika kisah tak hanya menjadi cerita. Kehancuran yang pernah terjadi di masa silam akan terulang sekali lagi , jika kita tak lagi menengok ke belakang dan belajar dari kisah-kisah kehancuran suatu bangsa.

Maka, seharusnya kisah menjadi kisah yang mampu merobah hidup dan menjadi hikmah yang bisa dipetik. Sudah seharusnya kita tidak menjadikan kisah sebagai dongeng atau cerita saja, tapi kita sebagai manusia yang berakal dan berfikir harus bisa meraih sebanyak mungkin hikmah dari kisah kisah.

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

Riyadh, 18 Juni 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: