Hasan Husen Assagaf

Khusyu’

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 18, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

SEORANG shufi ahli ibadah bernama Isham bin Yusuf dikenal khusyu’ dalam shalatnya. Tetapi, dia masih ragu dengan kekhusu’an ibadah yang telah dilakukannya. Ia selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih khusu’ ibadahnya, agar ia bisa memperbaiki supaya sholatnya lebih khusu’ lagi.

 

Suatu ketika, Isham pergi menghadiri majelis Hatim Al-Isham dan ia bertanya,

 

“Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan khusu’ dalam shalat?”

 

Hatim menjawab,

 

“Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu lahir dan batin”

 

Isham bertanya lagi,

 

“Bagaimana yang tuan maksud dengan wudhu lahir dan batin itu?”

 

“Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sedangkan wudhu batin membasuh anggota dengan tujuh perkara, yaitu dengan bertobat, menyesali dosa yang dilakukan, tidak tergoda oleh dunia, tidak mengharap pujian orang (riya’), meninggalkan sifat sombong dan berbangga diri, membuang sifat khianat dan menipu, serta menjauhkan diri dari sifat dengki..”

 

Selanjutnya Hatim berkata,

 

“kemudian aku pergi ke masjid, aku fokuskan semua anggotaku kepada Allah dan menghadap ke kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula seolah-olah aku sedang berdiri di atas Shirathal Mustaqim dan aku menganggap shalatku kali ini adalah shalat yang terakhir, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.Setiap bacaan dan doa dalam shalat aku fahami maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhuk, aku ber-tasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. begitulah shalatku selama 30 tahun.”

 

Mendengar uraian Hatim, Isham pun menangis tersedu sedu karena ia merasa shalatnya belum sempurna.Sekarang ya ikhwani, apabila Isham bisa menangis hanya karena mengingat shalatnya yang belum khusyu’, apakah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Isam? Kita, boro-boro menangisi shalat yang belum khusyu’, meninggalkan shalatlimawaktu saja mungkin merasa bukan suatu dosa besar.

 

Kakek saya Habib Zen Alaydrus pernah bercerita dimasa mudanya ia berjalan kaki dari Krukut ke Petamburan hanya sekedar mengikuti sholat subuh berjama’ah bersama-sama gurunya HabibUstman bin Yahya. Saya bertanya,

 

“Kenapa sholat begitu jauh beb sampai ke Petamburan, tidak di Krukut saja?”

 

Ia menjawab,

 

“Karena saya ingin mencari kekhusu’an shalat bersama guru saya.”

 

Itulah bedanya antara kita sebagai generasi muda dengan mereka yang sudah berlalu.Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba yang taat mendirikan shalat dan selalu khusu’ dalam shalatnya. Bukan sekadar ritual takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, sementara hati kita melanglangbuana entah ke mana.

 

Wallahu’alam

2 Tanggapan to “Khusyu’”

  1. husna said

    semoga kita bisa sholat dgn khusyu’dlm semua ibadah
    Amiennnnnnnnnnnn……

  2. Artikel ini memberikan cahaya di mana kita dapat mengamati realitas. Hal ini sangat bagus dan memberikan informasi yang mendalam. terima kasih atas artikel ini, bagus….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: