Hasan Husen Assagaf

Do’a Minta Jadi Miskin

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 6, 2008

orang miskinOleh: Hasan Husen Assagaf

 

TIDAK ada orang mau miskin. Semua mau kaya, mau rizkinya makmur, mau hidupnya mewah, mau urusan duniawinya dimudahkan. Tidak ada yang mau miskin, kekurangan, apalagi melarat. Semua mau hidup senang di dunia, mewah dan berlebihan tanpa memikirkan apa yang menimpa terhadap dirinya dari kekayaan yang diberikan kepadanya. Bahkan sebagian dari mereka berusaha agar bisa kaya dengan cara apapun. Dengan cara halal atau dengan cara haram. Semua cara dilakukan, yang penting bisa kaya dan berhasil.

 

Banyak sekali do’a-do’a yang diajarkan Nabi kita Muahammad saw agar bisa kaya, banyak rizki dan hidup senang. Ajaran Rasulallah saw untuk berdo’a dengan do’a-do’a tersebut tidak sedikit didapatkan dalam hadist. Ayat-ayat al Quran yang turun kepada beliau pun banyak mengajak agar hidup senang, makmur dan bahagia di dunia dahulu baru setelah itu di akhirat. Allah berfirman: “ Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa nereka“.

 

Abu Abdullah Muhammad al Qurtubi dalam tafsirnya menulis bahwa  kebaikan di dunia sangat luas mencakup diantaranya: kesehatan, istri yang soleh, anak dan keturunan, ilmu, ibadah dan pula harta benda dan kekayaan. Ini semua termasuk dalam katagori kenikmatan duniawiah. Di lain ayat Allah berfirman  “dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi”. Alqashash 77

 

Untuk mencari kebaikan dan kebajikan dalam hal yang berurusan dengan dunia dan akhirat, kita dianjurkan agar bersaing yang bisa mendorong untuk mencari keunggulan. “maka berlomba lombalah berbuat kebajikan” al Maaidah 48. Kalau itu yang diajarkan untuk mecari kebaikan agar bersaing, maka tidak bedanya dengan mencari harta benda dan kekayaan pula harus bersaing

 

Dalam bersaing untuk mencari kebaikan apapun termasuk mencari nafkah, agama menganjurkan untuk gigih, tekun dan dan ulet seolah olah kita hidup di dunia langgeng tidak bakal mati. Sesuai dengan sabda Rasulallah saw “Berjuanglah kamu di dunia seolah olah kamu bakal hidup selama lamanya dan beribadatlah kamu kepada Allah seolah olah kamu akan mati besok”.  

 

Di samping do’a-do’a yang diajarkan untuk rizki makmur, ada pula do’a-do’a yang tak poluler di zaman ini yang diajarkan Rasulallah saw agar meminta kepada Allah kemiskinan  “Ya Allah, hidupkan aku miskin. Matikan aku miskin. Dan kumpulkan aku kelak di Padang Mahsyar ke dalam kelompok kaum miskin”. Doa ini jarang sekali dibaca tapi memang itu kenyataan doa yang diajarkan Rasulallah saw agar meminta kepada Allah kemiskinan.

 

Suatu ketika Rasulallah pernah ditanya tentang surga dan ahlinya, beliau menjelaskan bahwa penghuni yang paling banyak di surga adalah orang miskin. Yang dimaksud disini bukan semua orang miskin masuk surga. Akan tetapi kebanyakan penghuni surga adalah orang miskin yang sabar, soleh, taat ke pada Allah dan banyak beribadah. 

 

Miskin. Siapa suka miskin? Semua lari dari kemiskinan dan takut miskin. Ini kenyataan hidup sekarang ini. Tidak ada orang ingin hidup miskin. Boro-boro ingin jadi miskin, bermimpi jadi orang miskin atau bertemu dengan kemiskinan atau kesusahan sama sekali tidak diharapkan.

 

Tapi kalau kita teliti dengan seksama memang itulah kenyataan sebagian falsafah hidup yang diajarkan Rasulallah saw kepada kita. Dan Beliau sendiri ternyata hidup dalam kondisi miskin. Ketika beliau wafat, tak ada harta yang diwariskan untuk keluarganya. Begitu pula para sahabat nabi mayoritasnya mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Hidup berlebihan atau kaya sangat jarang kita dapatkan dalam kisah kehidupan para sahabat Rasulallah. Ada diantara mereka yang kaya seperti misalnya Ustman bin Affan dan Abdurahman bin Auf, tapi mereka pun berusaha menginfakan dan rela mengeluarkan hartanya ke jalan Allah agar jadi miskin.

 

Imam besar Ali ra hidup miskin dan serba kekurangan. Bahkan setelah menikah dengan Fatimah binti Rasullah beliau tidak mampu mengambil seorang pembantu. Ketika istrinya, Fatimah, datang kepada Ayahnya minta kepada beliau seorang pembantu. Rasulallah pun berkata “Wahai anakku bersabarlah. Sesungguhnya sebaik baiknya wanita adalah yang bermangfaat bagi keluarganya”

 

Contoh lainnya, pernah satu ketika Rasulallah saw datang melancong ke rumah anaknya, Fatimah. Ketika beliau melihat anaknya mengenakan giwang dan rantai terbuat dari perak, begitu pula beliau melihat selot pintu rumahnya terbuat dari bahan sejenis perak, Rasulallah segera keluar dari rumahnya dan kelihatan tanda tanda kemarahan di wajah beliau. Beliau naik ke atas mimbar. Fatimah pun mengetahui maksud kemarahan ayahnya. Maka dicopotilah giwang, rantai dan selot pintu yang terbuat dari perak dan segera diserahkannya kepada Nabi di atas mimbar seraya berkata “Jadikanlah semua ini di jalan Allah, ya abati”. Rasulallah sangat terharu dan bergembira atas tindakan putrinya yang sangat diciantainya. Beliau pun berkata “Sungguh kamu telah melakukanya wahai anakku. Ketahuilah bahwa dunia itu bukan untuk Muhammad dan keluarganya. Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, maka tidak ada satu orang kafir diberi minum setetes pun”     

 

Demikianlah contoh yang kita dapatkan dari pemimpin besar umat, Rasulallah saw dan Imam besar, Ali bin Abi Thalib yang sepanjang hidupnya selalu dalam kekurangan dan kemiskinan. Akan tetapi di lain pihak Imam Ali pun pernah menegaskan “kemungkinan kemiskinan itu bisa membawa kekufuran”. Begitu pula beliau pernah berkata: “seandainya kemiskinan itu menjelma berbentuk manusia maka saya akan bunuh”.

 

Assayyid Sabiq dalam fiqih sunnah mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan miskin adalah mereka yang mendapatkan problem kehidupan akibat kesulitan ekonomi. Adapun arti miskin menurut pandanganya adalah mereka yang berpenghasilan kurang dan tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan hidup sehari hari.

 

Ketika salah seorang kepala suku badwi dari gunung diundang raja Saudi, Faisal bin Abdul Aziz, dia sadar bahwa masyarakatnya di gurun sahara miskin. Menyaksikan kota Riyadh yang serba indah, mobil berseliweran di atas jalan beraspal, gedung tinggi, hotel tempat dia menginap terang menderang dengan cahaya lampu yang beraneka warna, beralas tikar permadani empuk, full ac, dan mengasyikan. Dia lalu bertanya kepada dirinya, mengapa ini semua tak ada di desanya? Kalo begitu masyarakat badwi miskin!

 

Begitulah hidup di ibu kota yang masyarakatnya selalu berlomba merebut peluang. Siapa yang paling banyak memperoleh kesempatan dan dapat mengelola dengan baik, merekalah yang menguasai, jadi kaya. Dan yang kalah bersaing tak kebagian apa pun, jatuh miskin.

 

Lalu, mengapa Rasulallah saw mengajarkan doa jadi miskin? Yang dimasud disini beliau bukan mengajarkan umatnya jadi miskin akan tetapi beliau mengajarkan keserhanaan, kehidupan bersama, toleransi, ke-tidakegois-an dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, sehingga tidak menimbulkan kedengkian, kebencian antara sesama. Itulah yang diajarkan Rasulallah saw.

 

Orang kaya yang hanya memikirkan diri sediri, serakah, tamak, dan kikir, orang semacam ini dikatagorikan orang kaya tapi berjiwa miskin. Sebaliknya orang miskin yang menerima nasib, bersabar, tabah dengan segala musibah yang menimpah dirinya, dan ridho serta bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah, ia adalah orang miskin yang berjiwa kaya. 

 

Orang-orang badwi yang hidup di gurun sahara, terutama yang hidup di kemah kemah yang tak pernah menikmati listrik, tak ada tv atau radio, sanggup berjalan kaki memikul beban naik turun gunung dengan untanya , mereka miskin tapi tak terasa miskin. Karena kehidupan bersama yang mereka jalani, senasib dan sederajat, tak menimbulkan kedengkian antara mereka, ini yang membuat mereka senang, bahagia menikmati kehidupan yang serba kekurangan.

 

Berapa banyak orang miskin di seluruh pelosok negeri, baik di sahara, di lereng lereng gunung, maupun di desa desa mereka ini mungkin siang malam bersandar dan bertawakal kepada Allah, bahkan boleh jadi kedudukan mereka lebih tinggi disini Allah dibandingkan dengan orang kaya yang hidupnya digenangi serba kemegahan akan tetapi sehari harinya lebih banyak memuaskan diri sendiri ketimbang memikirkan orang lain dan melupakan perintah Allah, sampai sekarang mereka belum pernah merasakan nikmatnya jamuan harta yang diberikan Allah kepadanya.

 

Demi Allah, sekali lagi saya katakan demi Allah, harta dan kekayaan adalah milik Allah. Allah lah yang memberi orang menjadi miskin dan Allah pula yang membuat orang jadi kaya. Jika Allah menginginkan si kaya menjadi miskin, dengan sekejap mata saja orang itu mejadi miskin. Jika Allah berkehendak si miskin menjadi kaya, dengan sekejap mata orang miskin itu menjadi kaya. “Katakanlah: Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas “ al-Quran

 

Itulah istilah kehidupan kita sehari hari, dunia ini ibarat roda yang berputar. Sebentar berada diatas dan sebentar lagi berada di wabah. Di saat berada di atas, jangan sekali kali merasa bangga tapi harus menengok kepada yang di bawah agar bisa mengimbangi jarak dengan yang dibawah. Dan bagi yang di bawah jangan tinggal diam atau putus asa. Sebab, itulah satu-satunya modal agar yang di bawah dapat berputar kembali, sementara yang di atas tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan tidak serakah. Itulah yang di ajarkan agama kita agar kehidupan bersama atara si kaya dan si mikin bisa terjalin dengan baik sehingga jarak antara mereka tidak terpaut jauh.

 

Dalam hal ini, doa yang diajarkan Nabi patut dijadikan bahan renungan. Bahwa doa minta jadi miskin bukan berarti minta serba kekurangan. Akan tetapi yang dimaksud disini minta jadi miskin adalah minta kepada Allah agar memiliki sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang miskin, yang lemah dan yang dibawah. Biarpun kita jadi kaya dan memiliki harta berlimpah-limpah, semua itu tak berarti sedikit pun jika tak memiliki sifat perhatian untuk mengangkat yang di bawah dan menolong yang miskin.

 

Nah, kalau begitu, bacalah doa untuk jadi miskin seperti yang diajarkan Nabi agar tetap memiliki rasa kesederhanaan dan tak rakus yang bisa menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin. 

 

Wallahua’lam

8 Tanggapan to “Do’a Minta Jadi Miskin”

  1. Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh

    Sekadar mahu memanjatkan kesyukuran kerana adanya situs web yang sungguh baik untuk dimanfaatkan oleh semua umat Islam di nusantara semoga usaha anda mendapat berkat dan dirahmati Ilahi dan kami semua dapat menumpang dari ilmu yang disampaikan.

    Jazakallahukhaira

    Nik

    Malaysia

  2. ilyas said

    Jazaakumullaah khairan,
    semoga kita semua menjadi orang yang selalu qanaah, amiin

  3. jenny saksono said

    Subhanallah hu Allahu Akbar, Pak Hasan yang dimuliakan Allah..alhamdulillah tulisan Bapak telah memberikan pencerahan kepada saya pribadi hari ini. Saya sedang prihatin memikirkan keadaan saudara2 saya yang sedang kesulitan secara ekonomi tapi saat ini saya baru bisa membantu mereka dengan doa, semoga Allah memberikan kekayaan jiwa kepada mereka yang sedang kesulitan.

    Akhir2 ini banyak sekali saudara2 kita yang sedang diuji oleh Allah SWT dengan kelimpahan harta, tapi mereka enggan berbagi atau bersedekah bagi saudaranya, tidak cukup sampai disitu kadang ucapan atau pandangan mereka melecehkan orang2 yg miskin, saya kasihan melihat mereka yang sudah tertutup mata hatinya…tapi menurut pengamatan saya harta yang mereka dapatkanpun memang bukan dari jalan yang halal, seperti korupsi, menipu,,nauzubillahi min zalik. Alhamdulillah yg miskin tidak mendapatkan bagian dari mereka, lebih baik jangan. Sedangkan orang miskin lebih senang bisa berbagi dengan saudara2nya yg miskin juga, tragis memang..tapi menurut saya hakekatnya kondisi negara kita sekarang ini sesungguhnya orang kaya tapi miskin dan orang miskin tapi kaya..ya jiwanya..seperti yg Bapak sampaikan. Terimakasih Pak.

    Robbi auzubika minal fakri wal kufri, Robbana attina fiddunya hasanah wafil akhirati khasanah. Doakan kami ya Pak, wa salamualaykum warakhmatullahi wabarrakatuh.

  4. zaid said

    bib ane izin share ye..ane ga ambil keuntungan..pan ilmu harus disebarin ye…Afwan bib..tengkyu…

  5. aku terharu

  6. Sasi said

    Asslm.Wr.Wb.
    Bagus postingnya sehingga membuka pemahamam baru yang insya Allah bermanfaat.
    Hanya saja, menurut pendapat saya sebagai orang yang masih perlu banyak belajar, adalah :

    1. Doa adalah hal yang sangat dianjurkan bahkan diwajibkan. Sholat juga adalah doa. Tidak dilarang bagi umat muslim untuk berdoa apa pun selama bertujuan positif. Kembali kepada niat, bukankah demikian ? Minta kaya, boleh, karena meminta kaya kepada Empunya kekayaan (Allah SWT), apa itu selama positif. Dan bukan minta kepada yang lain.

    2. Contoh bahwa kekayaan menjerumuskan adalah satu bagian yang tidak lepas dari makna hidup dan cobaan atau ujian. Hidup itu sesungguhnya adalah hanya di akhirat. Dunia adalah ujian menuju kehidupan tersebut. Ujian pasti dijalani manusi. Ujian dengan kekayaan atau juga kemiskinan. Tidak semua si kaya menjadi ahli surga, dan tidak semua si miskin menjadi ahli neraka. Tidak semua kekayaan harus “diberikan” orang lain. Ada porsi/bagian-bagian yang pantas. Itulah mengapa ada pembagian harta waris dalam Al-Quran. Kekayaan wajib dijemput (kata ustad Aa Gym), dengan berusaha dan berdoa. Artinya, saya yakin, seyakin-yakinnya atas nama Allah Yang Maha Suci, bahwa Rosul mengajarkan kita untuk meraih kekayaan lahir dan bathin secara islami dengan berusaha meniti di jalan Allah. Adapun hasil akhir yang diperoleh bergantung atas ketentuan Gusti Allah Yang Maha Adil. Namun, Allah Sang Maha Hebat tidak akan mengecewakan apalagi menyusahkan hamba-Nya yang selalu berusaha positif, karena Beliaulah Dzat Yang Maha Adil.

    3. Dunia dan akhirat adalah kehidupan yang niscaya. Akan lebih sempurna manusia bila memiliki kehidupan seimbang lahir dan bathin. Kekayaan berlimpah anugrah Allah, wajib diimbangi dengan ibadah wajib dan sunah yang harus berlimpah jua. Keseimbangan adalah kuncinya. Pas rasanya seperti yang bapak tuliskan di bagian akhir.

    4. Berdoa apap pun yang positif, wajib dilakukan dengan etika, tata cara dan niat yang baik. Melalui Al-fatehah, Gusti Allah SWT telah mengajarkan caranya. Niat, atas nama Allah Yang Esa, bersyukur, puja-puji terhadap-Nya, shalawat atas Nabi SAW, maksud dan tujuan berdoa dalam kerangka minta petunjuk jalan yang lurus dan bukan dalam kerangka jalan yang sesat, lalu amien. Bener gak ?

    Demikian komentar saya, mohon maaf apabila dirasakan menggurui atau sok tahu. Sekadar urun rembug, barangkali bermanfaat.
    Jika ada kesalahan penulisan, ampuni aku ya Allah, karena datangnya dari diriku semata, jika mengandung kebenaran, sesungguhnya itu semua dari-Mu, ya Allah.

    No hard feeling, no defense. Let’s do best in the name of Allah.

  7. Abdullah Rico said

    Kekayaan bisa berupa cobaan yg menjerumuskan…Kemiskinan pun juga persis seperti itu.

    Tinggal sikap hati, bagaimana menghadapinya. Tidak salah utk menjadi kaya, sbgmn tidak buruk pula utk menjadi miskin…asal hati tetap bersyukur…insyaAllah, iman terjaga.

  8. Diantara sekian banyak do’a-do’a nan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya adalah do’a dibawah ini:

    “Allahumma ahyinii miskiinan, wa amitnii miskiinan, wahsyurnii fii jumratil masaakiin”.

    Artinya ” Ya Allah Hidupkanlah aku dlm keadaan miskin, & matikanlah aku dlm keadaan miskin, & kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dlm rombongan orang-orang miskin”.

    />Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no. 4126) & lain-lain. Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini derajatnya: hasan. [Lihat pembahasannya di kitab beliau: Irwaul Ghalil (no. 861) & Silsilah Shahihah (no. 308)]

    Setelah kita ini mengetahui bahwa hadits ini sah datangnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sekarang perlu kita ini mengetahui apa maksud sebutan miskin dlm lafadz do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. nan sangat saya sesalkan diantara saudara-saudara kita ini (tanpa memeriksa lagi keterangan Ulama-ulama kita ini tentang syarah hadits ini khususnya tentang gharibul hadits) telah memahami bahwa miskin di sini dlm arti nan biasa kita ini kenal yaitu: Orang-orang nan tak berkecukupan di dlm hidupnya atau orang-orang nan kekurangan harta. Dengan arti nan demikian maka timbulah kesalah pahaman di kalangan umat terhadap do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: