Hasan Husen Assagaf

Umar Kekasih Allah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 11, 2008

 

Setelah wafatnya Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra, Imam Ali bin Abi Thalib lebih senang hidup menyendiri, jauh dari lingkungan kehidupan masyarakat kota.

Suatu malam, pernah Imam Ali bin Abi Thalib duduk menyendiri di rumah. Di malam itu udara dingin mulai menyengat tubuh sedangkan ia hanya mengenakan pakaian biasa dan burdah* usang yang melilit di lehernya. Mata beliau tertunduk kebawah sambil bertasbih tak henti hentinya. Tiba tiba seorang laki laki datang ke rumahnya. Ia disebut Abu Maryam. Setelah dipersilahkan masuk, ia bersila dihadapan Imam Ali ra. Kedua tangannya memegang lutut beliau. Dengan penuh tawadhu’, ia berbisik kepada imam Ali ra “Ya Amirul Muminin, saya ada perlu sedikit”. Imam Ali pun berkata “Silahkan sebut keperluanmu”. Kemudian Abu Maryam berkata “buanglah burdah yang kau lilitkan di lehermu. Sesungguhnya burdah itu sudah usang tak pantas seorang Amirul Muminin seperti kamu mengenakanya”.

Mendengar ulasan Abu Maryam Imam Ali ra menagis tersedu sedu. Hal ini membuat Abu Maryam menjadi malu telah melontarkan kata kata yang menyinggung perasaan beliau. Setelah Imam Ali ra mulai redah dari tangisanya beliau pun berkata “Ya Aba Maryam, sesungguhnya setiap kali aku mengenakan burdah ini, timbul kecintaanku yang meluap luap kepadanya. Burdah ini hadiah dari temanku yang paling aku cintai”. Abu Maryam penasaran ingin tahu siapa gerangan teman beliau yang paling dicintainya. Ia langsung bertanya “Siapa gerangan temanmu yang paling kau cintai itu?”. Imam Ali pun menjawab “Umar bin Khattab. Umar bin Khattab kekasih Allah dan Allah kekasih Umar”. Kemudian beliau menangis lagi sambil mengusap air mata beliau dengan ujung burdahnya*.

Wallahua’lam

* Burdah artinya syal atau selendang yang digunakan untuk menutup sebagian tubuh

* Sumber: Kitab “Tarikh al Madinah al Munawarah

Hikmah Dan Atsar:

Dari kisah di atas kita bisa mengambil bukti kuat akan kecintaan Imam Ali ra kepada sahabat Umar bin Khattab ra, sampai sampai beliau tidak memilih baginya burdah yang dicintainya kecuali burdah hadiah yang dating darinya, walau burdah itu sudah usang.

Makanya, Disamping kewajiban kita sebagi muslim mencinta Ahlul Bait, kita diharuskan pula mencintai para sahabat Nabi saw. Karena mereka adalah manusia manusia mulia yang hidup di zaman Nabi saw, mengenal dan melihat Nabi saw, membela Nabi saw di saat kesusahan dan kesenangan,  dan mereka wafat dalam keadaan muslim.

Bahkan diantara mereka ada mempunyai hubungan karabat dengan Nabi saw misalnya empat khulafur Rasyidin, terutama Ali bin Abi Thalib ra disamping ia adalah menantu Nabi saw (menikah dengan siti Fatimah puteri Nabi saw) juga ia adalah sepupu Nabi saw. Begitu pula Utsman bin Affan yang merupakan putra dari sepupu Nabi saw yakni Arwa (putri dari bibi Nabi saw, al-Baidha’ binti Abdul Muththalib), ia juga menikah dengan dua putri Nabi saw secara bergantian yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum ra . Sedangkan Umar bin Khattab merupakan mertua Nabi saw. Beliau menikah dengan Hafshah binti Umar bin Khattab ra. Begitu pula Abu Bakar Siddiq merupakan mertua Nabi saw, karena ’Aisyah putri Abu Bakkar ra dinikahi Nabi saw.

Mereka semua sahabat Nabi saw yang sangat dekat hubungannya dengan Nabi saw. Mereka semua mencintai Nabi saw. Inilah salah satu alasan mengapa Nabi saw sangat mencintai para sahabatnya. Beliau tidak segan-segan memuji para sahabatnya dan menyebutnya sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam.

“Dari sahabat ‘Imron bin Hushain ra ia berkata. Nabi SAW bersabda, ”Sebaik-sebaik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya lalu generasi sesudahnya”. (Shahih al-Bukhari).

Sebagai manusia tentu para sahabat Nabi saw tidak luput dari kesalahan dan terjadi antara mereka  perselisihan faham bahkan sampai terjadi kekhilafan. Tapi semua ini tidak bisa dijadikan tanda kalau di antara para sahabat tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat, tidak terjalin persahabat yang akrab, atau tidak terjalin rasa cinta antara mereka. Justru sebaliknya, jalinan persahabatan dan kecintaan atara mereka tidak putus. Berapa banyak hadits Nabi saw yang meriwayatkan indahnya pergaulan antara sahabat Nabi yang harus diteladani oleh umat Islam.

Antara khulafa ar-Rasyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra tidak sedikit terjalin hubungan kecintaan antara mereka, bahkan sampai terjadi tali kekeluargaan yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun. Contohnya Ali bin Abi Thalib ra memberi nama dari putra putranya dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dari putra putra Hasan bin Ali ra ada yang diberi nama Abu Bakar dan Umar. Dari 9 putra Husen Bin Ali bin Abi Thalib ra ada yang bernama Abu Bakar dan Utsman. Sekarang kita pikir saja dengan pikiran yang waras tidak mungkin mereka memberi nama nama putra putra mereka dengan nama nama orang yang mereka benci atau tidak mungkin mereka memberi nama nama anak anak mereka dengan nama nama musuh mereka. Mustahil kan? Pasti mereka memberi nama nama putra putra mereka dengan nama nama orang yang mereka cintai dan sukai. Ini sudah pasti. Yang saya heran ada yang mengatakan cinta mereka kepada sahabat sahabat Nabi saw adalah cinta berpura pura atau taqiyah. Sikap yang tidak mungkin terjadi bagi sosok manusia seperti Ali bin Abi Thalib ra, seorang pemberani, pahlawan perang dan berhati bersih ,memiliki sifat berpura pura. Dan tidak mungkin beliau memiliki sifat balas dendam atau mengajarkan orang untuk berbalas dendam. Sejara logika, ini adalah hal yang mustahil dilakukan seorang seperti Imam Ali bin Abi Thalib ra.

Jadi apa yang sebenarnya diajarkan oleh Ahlul Bait? Mereka mengajarkan kecintaan, persahabatan dan penghormatan yang dalam kepada para sahabat Nabi saw terutama kepada khulafa Ar-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra, bukan menanamkan kebencian dan penghinaan apalagi melaknat atau mengkafirkan (al’iyadu billah).  Rasulallah saw bersabda ”Jangan kamu mencaci sababat sahabat-ku. Demi yang diriku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang menginfakan hartanya berupa emas sebesar gunung Uhud (untuk membalas jasa jasa mereka), maka apa yang diinfakan tidak sampai bebesar mud atau setengah mud dibanding dengan jasa mereka. 

Maka mari kita hindari berbantah-bantahan dan perdebatan yang tidak mengajak kepada iman. Apalagi di depan kita sudah tersedia sabda Nabi saw yang tidak mungkin diingkari lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali kita mengimaninya dengan sepenuh hati. Janganlah kita bermental seperti ahli kitab yang mengingkari nabinya serta membangkang terhadap petunjuknya.

9 Tanggapan to “Umar Kekasih Allah”

  1. Iqbal said

    Afwan, kisah diatas ada dasarnya ? maksud ana dasar kisah diatas

    syukran katsir

  2. Naufal Alatas said

    akhi hasan,

    tulisan antum sudah sangat baik. hanya sedikit koreksi dari ana, alangkah baiknya bila tulisan bersandar dari hadist yang benar-benar bisa di pertanggung jawabkan.

    di takutkan bila hadist dhoif di ceritakan terus menerus bisa di anggap hadist yang benar terutama oleh orang awam.
    akhirnya hanya menyesatkan.

    selain itu di khawatirkan hadist dhoif akan berlawanan dengan hadist yang benar/hasan/mutawir dan akhirnya yang benar di salahkan dan yang salah di benarkan.

    dari cerita di atas,kita menyamakan sayidina umar dengan Rasulullah SAW dengan mengatakan sebagai kekasih ALLAH SWT.
    Rasulullah SAW jelas berbeda dengan sayidina umar. secara kualitas sangat jauh berbeda. Nabi dan Rasul di bandingkan dengan umat.

    mencampur adukkan yang benar dan yang salah akhirnya mengaburkan kebenaran itu sendiri.

    atau singkatnya…melemahkan Islam itu sendiri.

    mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

    • HASAN HUSEN ASSAGAF said

      *** Sdrku Iqbal
      *** Sdrku Naufal Alatas

      Tak lupa saya ucapkan terima kasih atas perhatian anda terhadap tulisan2 saya yang begitu tidak tersusun rapi dan kadang kadang kasar dan tidak enak didengar.

      Adapun mengenai kisah yang saya bawakan tentang “Umar kekasih Allah”, bersumber dari kitab “Tarikh Al-Madinah Al Munawarah” ( 3/938 ) oleh AlBashsri yang termuat dalam 4 jilid, harganya kurang lebih 85 Real Saudi. Dan dalam blog Kado Dari Kota Nabi terdapat pula kisah2 yang bersumber dari hadisth Nabi saw, terus terang kadang kadang saya bawakan hadist2 yg tidak mempunyai suber kuat atau tidak “mutawatir”, juga bukan hadist hasan atau bisa diterima kebenarannya. Hadist2 tersebut boleh dibilang hadist dhoif (lemah) yang tidak kuat sanad atau perawinya. Makanya dalam pembukaan kisah2 yang bersumber dari hadist2 trs terlebih dahulu ana tulis “Diriwayatkan” berarti yang meriwayatkan hadist itu majhul, atau tidak diketahui siapa perawinya.

      Sudah pasti untuk mengambil suatu hukum agama kita harus bersender kepada hadist yang kuat yang bisa diterima (mutawatir) baik yang meriwayatkan hadist itu atau sanadnya juga harus kuat pula. Dan yang paling bisa diterima adalah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (hadist muttafaq).

      Adapun hadist dhoif (lemah) atau dalam istilah kasarnya hadist yang tidak ketahuan perawi dan sanadnya, hadist itu tidak bisa diterima sebagai pemutus suatu hukum agama. Tapi kok hadist2 dhoif itu banyak kita dapatkan dalam kitab2 hadist atau dalam riwayat2? Hadisth doif bisa diterima hanya sebagai pelengkap ibadah bukan pemutus suatau hukum. Cotohnya kita banyak dapatkan dalam doa doa, shalawat2 atas Rasul saw, hal2 yang berkenaan dengan akhlak, suluk, perilaku rasul saw dan para sahabat, tarbiyah (pendidikan) dan masih banyak yang lainya yang tidak ada hubunganya dengan hukum2 atau syariat. Wah maaf, ulasan ini memerlukan waktu panjang dan saya rasa anda bisa lihat dalam kitab2 yang berhubungan dengan hadist2 dhoif.

      Saya betul2 salut yang mana anda begitu teliti. Bagi saya kisah2 trb bisa diterima semasih pendengar atau pembaca tersentuh hatinya dan semasih hadist2 itu digunakan hanya untuk “Fadhoilul Aa’mal” (untuk pelengkap perbuatan baik) bukan untuk mengambil suatu hukum.

      Mudah2an makalah2 yang saya posting di zawiyah, dimuat di republika, sabili, alkisah dan di blog “Kado Dari Kota Nabi” bisa diterima pembaca dengan baik dan kalau ada kata2 yang kasar atau tidak enak didengar tolong kasih komentar. Ya maklum saya bukan penulis unggul.

      Terima kasih
      Hasan Husen Assagaf

  3. M fadloli hs said

    salut sekali saya dengan kerendahan hati ente ya akhi hasan husen assagaf.teruskan dakwahnya dengan qolam ini ya akhi.
    saya heran kepada orang orang yang selalu membahas hadist dhoif,apa gak pernah membaca koleksi hadist dloif yang untuk fadloilul a’mal yang di susun para ulama’ tempo dulu yang kealiman dan amalanya lebih baik jauh dari kita kita ini,semisal Imam Jalaluddin As syuyuti dan lainnya,beliau mau memakai hanya untuk fadloilul a’mal saja bukan untuk menuntukan hukum halal haram.
    beliau beliau belajar hadist untuk di amalkan sesuai dengan tuntunan Nabi saw bukan untuk pandai pandai an apa lagi untuk berdebat.tinggal kita ini membaca Hadist dan mengamalkan ikhlas karena Alloh atau untuk dunia,kedudukan atau lainnya yang tidak ada manfaat nya kelak di akhirat.
    salam kenal dari saya akhinal kirom hasan.
    M Fadloli Hs.
    d/a : kedung agung santren Brangkal Mojokerto.
    Tlp : 03216236671.
    kalau ente ?

  4. gusti prabu said

    …AS WR WB..

    klo menurust saya jgn membahas hadist mana & dari mana…yang penting inti dari kebajikan itu sendiri, maksud dari cerita itu…..

    Mhn maaf bila kata2 saya salah….

    Ya Sayidi Ya Rosulallah…..

  5. Secara pemahaman tasawwuf, baik dalam kitab Hikam, Iqodzul Himam maupun lainnya, seyogyannya Hadist maupun Al-Qur’an, bukanlah muthlak dijadikan pegangan, melainkan keduanya adalah tingkah laku kita sendiri yang wajib kita jalani, sebab tak lain tingkatan manusia paling tinggi adalah Qurbah, yang sebawahnya lagi sidik, syahadatul kubro, ihsan, soleh, ihsan dan islam. semua tak lain karena sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi Musyahadah maupun Muroqobahnya suatu keagungan Allah. Jadi bagi ahli syareat seperti kita, hendaknya tidak mempersoalkan Hadist soheh maupun dhoif. Intinya dimana kita ditempatkan dalam satu sakinah, maka disitu pula tajalli harus kita siapkan sebagai “Fima akomahumulloh” Allah, yang sudah menempatkan kita secara sempurna. salam Addo’if Moh. Idris Nawawi bin Yahya.

  6. […] Sumber: KADO DARI KOTA NABI […]

  7. […] Sumber: Hasan Husain Assegaff […]

  8. […] Sumber: Sayyid Hasan Husain Assegaff […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: