Hasan Husen Assagaf

A’rabi Bertoaf Dengan Ibunya

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 18, 2008

 

 

picture21

Dengungan suara takbir dan tahmid jamaah haji di muka Ka’bah membuat kota Makkah bergetar dan pintu gerbang langit terbuka lebar menyambut amal baik para hujjaj. Kucuran air mata menambah kekhusyu’an mereka dalam ibadah. Diantara gelombang lautan makhluk yang toaf terdapat seorang A’rabi yang sedang menyusung seorang nenek tua diatas pundaknya. Perawakanya kasar, tinggi besar, dan kelihatan masih muda belia. Ia bertakbir dan bertahmid dengan penuh semangat. Dan ibunya di atas pundak mengikutinya dengan penuh khusyu’. Kadang kadang A’rabi itu berhenti takbir dan diganti dengan bacaan syair yang diulangulangi dengan suara keras. Bunyinya :

 

Aku jadi tungganganya dan tidak menolak

Di saat semua menolak tapi aku bertindak

Jasa bunda melahirkanku, menyusuiku sangat banyak

Labaikallah Humma Labaik….

 

Begitulah tak henti hentinya A’rabi tadi bertakbir dan bersyair.

 

Pada saat itu Ali bin Abi Thalib ra sedang berdiri di samping khalifah Umar bin Khattab ra. Mereka bersama sama sedang mengontrol jamaah haji yang sedang thoaf di muka Ka’bah. Mendengar A’rabi bertakbir dan membaca syair sambil thoaf, Imam Ali berkata kepada khalifah Umar ra “Ya Aba Hafshah (Umar), alangkah baiknya kalau kita berthoaf bersama sama mereka, kemungkinan rahmat Allah turun kepada kita semua secara menyeluruh”. Umar bin Khattab ra tidak bisa menolaknya. Mereka pun masuk bersama sama ke dalam lautan makhluk yang sedang berthoaf. Dalam thoaf Imam Ali mengejar A’rabi yang menyusung ibunya. Percis berada di belakang A’rabi, beliau melontarkan satu bait syair sebagai balasan dari syair yang telah dibacakannya. Beliau berkata:

 

Jika kamu berbuat baik kepadanya

Maka kepada Nya aku bersyukur

Amalmu yang kecil akan dibalasNya

Dibanding jasanya yang luhur

 

Labaikalla Humma Labaik.

 

 

5 Tanggapan to “A’rabi Bertoaf Dengan Ibunya”

  1. habib rais said

    a’arabi tersebut adalah seorang anak yang mengetahui jasa ibunya, secara nyata dia tau hanya ibunya yang menyebabkan dia ada dimuka dunia ini, sekaligus dengan air susunya sebagai rejeki awal yang dia terima, sehingga akan mendatangkan cinta yang dalam kepada orang tuanya (ibunya), dan ini merupakan refleksi nyata dari mencintai keridloan Allah yang berada didalam diri ibunya, dengan mencintai ibunya, maka tercintailah Allah SWT. hanya sedikit orang saja yang bisa memahami hal seperti ini, dan mereka itulah orang2 mukmin.

  2. abizakii said

    Alhamdulillah,Sungguh Kisah yg indah.
    @ hb rais:trimakasih atas Nasehatnya.

  3. Ahmad Fan said

    Aku pernah dengar guruku mengatakan : Hajji dengan menggendong ibu pulang pergi, itu masih belum bisa menebus budi sang ibu, saking besarnya jasa ibu kepada kita. Kalau kita berbuat baik kepadanya, biasanya hanya karena ingin balas budi dan berharap itu akan selesai bila ibu meninggal. Namun sang ibu merawat kita dasarnya dimulai dari kasih sayang, bukan balas budi, bahkan sang anak bila sakit, diobatkan dengan harapan agar tidak mati, atau kalau perlu nyawa ibulah sebagai penyambung nyawa sang anak. Subhaanallooh. Betapa budi ibu terhadapku. Lantas apa balasanku ?………..

  4. […] [**] hasanalsaggaf.wordpress.com […]

  5. peta said

    boleh repost?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: