Hasan Husen Assagaf

Kado Dari Imam Ali

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 30, 2008

KADO DARI IMAM ALI RA

download

 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kalau bawa cerita Imam Ali bin Abi Thalib ra orang menyangka ana syi’i (syi’ah).. Ana bukan Syi’i.. Ana bukan Mu’tazilah.. Ana sunni.. Ana Syafi’i.. Ana Asy’ari.. Ana pencinta sahabat Nabi saw tanpa terkecuali.. termasuk imam Ali ra.

Mari kita buka lagi bingkisan kado yang datang dari sahabat dan misanan Nabi saw, Imam Ali bin Abi Thalib ra. Sebelum kita buka bingkisanya, saya teringat dengan sebuah hadist Rasulallah saw yang berbunyi:

 

من حديث أبي هريرة  من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة. ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة. ومن ستر مسلماً ستره الله في الدنيا والآخرة،  والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه

“Barangsiapa melepaskan seorang mu’min dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesulitan dari dirinya di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seorang mu’min yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

 

Sekarang kita buka bersama sama bingkisan kado Imam Ali bin Abi Thalib ra yang penuh dengan mutiara hikmah yang bisa dijadikan sebagai teladan bagi kehidupan kita sehari hari. Silahkan menyimak:

 

Di pagi yang cerah, seroang pengemis datang ke rumah Imam Ali bin Abi Thalib ra meminta makanan. Imam Ali menyuruh anaknya Hasan mengambil uang dari ibunya Fatimah satu dinar yang masih tersisa 6 dinar dari uangnya. Sayyidina Hasan masuk kedalam, kemudian ia keluar tanpa membawa apa apa. Ia menjelaskan bahwa ibunya akan digunakan uang tsb untuk membeli tepung gandum.

 

Dengan sedikit jengkel beliau  ia menyuruh lagi anaknya Hasan untuk mengambil uang satu dinar dari ibunya, Fatimah. Adapun kali ini Hasan keluar dengan membawa uang satu dinar. Imam Ali mengambil uang itu lalu diserahkan kepada pengemis tadi.

 

Belum sempat Imam Ali ra masuk ke dalam rumahnya, tiba tiba seseorang datang dengan menuntun seekor unta. Ia menawarkan beliau untanya seharga 140 dirham. Tanpa tawar menawar, Imam Ali ra setuju membelinya. Beliau menjajikannya akan membayar harga untanya di sore hari. Orang itu pun setuju. Lalu beliau mengikat unta tadi di depan rumahnya.

 

Di siang harinya ada seseorang melewati rumah beliau. ia melihat seekor unta diikat di depan rumah. Ia bertanya kepada beliau “Apakah unta ini mau dijual?”. Beliau menjawab “Ya, betul unta itu akan kujual dengan harga 200 dirham. Apakah kau berminat membelinya?”. Orang itu melihat lagi unta tersebut untuk kesekian kalinya. Akhirnya, Ia tertarik untuk membelinya dan membayar kontan harga unta sebesar 200 dirham kepada Imam Ali ra.

 

Di sore harinya orang yang menjual unta datang untuk menagih uang penjualanya. Imam Ali ra langsung memberikan kepadanya 140 dirham sesuai dengan perjanjian. Untung Imam Ali dari penjualan unta 60 dirham diberikan kepada istrinya, Fatimah ra. Dengan keheranan siti Fatimah menerima uang itu seraya berkata “Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini?”. Imam Ali pun tersenyum, lalu berkata “Ini adalah apa yang telah dijanjikan Allah melalui lisan nabi kita Muhammad saw: 

 

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa membawa amal baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat” Al an’am 160 

 

Kisah di atas patut dijadikan bahan renungan. Agar kita memiliki sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang miskin, yang lemah dan yang di bawah. Biarpun kita kaya dan memiliki harta berlimpah-limpah, semua itu tak berarti sedikit pun jika tidak memiliki sifat perhatian untuk mengangkat yang di bawah dan menolong yang miskin. Nah, kalau begitu, jadilah kita seseorang yang memiliki jiwa seperti Imam Ali ra dan seperti yang diajarkan Nabi agar tetap memiliki rasa kesederhanaan dan tidak menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin.

 

Alkisah, ada seorang kaya dari Bani Israil yang sedang duduk makan siang bersama-sama istrinya. Di atas meja tersedia segala macam hidangan diantaranya ada ayam panggang. Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu. Istrinya pun berkata kepada suaminya ”Pak! Ada pengemis di depan rumah, kasiahan pak. Apakah kita bersedekah kepadanya dengan sepotong ayam panggang? Sang suami tiba-tiba membentaknya “Jangan! usirlah pengemis itu dari depan rumah”.

 

Dunia pun berputar, hari berganti hari, bulan berubah menajdi tahun. Si kaya yang digenangi dengan segala macam kenikmatan berobah menjadi miskin. Istri kesayanganya ditalaknya. Setelah ditalak sang istri kawin lagi dengan seorang laki laki kaya. Kemudian terulang lagi peristiwa sang istri makan siang bersama-sama suaminya yang baru. Tentu di atas meja terhidang segala macam makanan, dan tidak ketinggalan pula terdapat seporsi ayam panggang.

 

Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu meminta makanan. Sang suami berkata kepada istrinya dengan penuh rahmah: “Ambilah sepiring nasi dan sepotong ayam panggang sebagai lauknya, berikanlah kepada pengemis itu”. Setelah nasi dan ayam panggang diberikan kepada si pengemis, sang istri pun menangis. Suaminya sangat heran dan bertanya: “kenapa dik kamu menangis? Apakah kamu marah karena aku memberi pengemis itu nasi dan ayam panggang?”. Istrinya menjawab: “tidak pak, tidak sama sekali,  akan tetapi aku menangis karena ada sesuatu yang sangat ganjil dan ajaib”. Sang suami jadi penasaran ingin tahu apa yang ganjil dan ajaib itu. Ia pun bertanya: “Bu, apa gerangan yang ganjil dan ajaib itu? ”. Istrinya menjawab: “Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah suamiku yang pertama”. Mendengar ulasan sang istri, sang suami segra berkata kepada istrinya “Apakan kamu tahu siapa aku sebenarnya? Sesungguhnya aku adalah pengemis pertama yang datang dulu ke rumahmu”.

 

Subhanallah, Itulah dunia. Kalau kita tidur, Allah tidak tidur. Kalau kita lupa Allah tidak akan lupa. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau kita sedang  berada di atas jangalah angkuh, bangga dan lupa kepada yang di bawah, sebaliknya kalau kita berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintu gerbangya:  “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17Maka,

 

Cintailah yang di bumi agar Yang di langit mencitaimu.

 

Wallahua’lam

Iklan

6 Tanggapan to “Kado Dari Imam Ali”

  1. Agus Kamal said

    Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, Lailaahaillallah Muhammadarosulullah, Allahu sami’aul Alim. Semoga media ini ikut bagian dalam dakwah Islam serta ikut membangun Islam.

  2. areutheywe said

    subhanaALLAH ….
    di jaman sekarang ini, apakah mungkin masih ada seseorang seperti BELIAU …….

  3. Aburahat said

    @Hasan b.Husein Assagaf.
    Assalamu ‘Alaikum W.W
    Saya seorang musafir lalu yang kehuasan mampir ke Blog anda dan melihat sangat banyak dan menyejukkan air anda.
    Membaca tulisan anda diatas, saya sangat terharu betapa tauladan Ahlulbait Rasul yang sangat mulia.
    Allah memerintahkan kepada kita untuk menginfaq nikmat yang Allah berikan dengan tidak menentukan jumlah/banyaknya. Dan itu diberi contoh oleh Rasul dan Ahlulbaitnya. Mereka tidak memiliki persediaan untuk hari esok.
    Saya ingin bertanya pada anda. Benarkah atau ketentuan Rasulkah zakat yang sekarang kita sering keluarkan sebesar 2 1/2 % setahun? Wasalam

  4. Azif Rayani said

    Indahnya persahabatan Rasulullah SAW, semoga menjadikan inspirasi bagi umatnya untuk selalu BERSAHABAT kepada bangsa lain dan juga negara lain. Mari kita hindarkan perpecahan antar umat diseluruh persada NUSANTARA dan DUNIA ini, amin yarobbalalamin

  5. iyan said

    alhamdulillah, dari dulu masalah sedekah sangat terasa dan saya percaya berjuta kali percaya, meskipun sekarang hidup secara ekonomi bukan orang kaya tetapi setiap ada kebutuhan yang besar selalu ada rezeki tak terduga…saya yakin itu dari niat sedekah,,,,masalah nilainya hanya kondisi yang menilai….

  6. moh. thoriq said

    Allahu Akbar……………Subhanallah……….semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik kapada kami semuanya……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: