Hasan Husen Assagaf

Perilaku Ulama Dahulu

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

DARIPADA mikirin dunia melulu, sedikitnya pikiran kita alihkan ke tempo seabad yang lalu, ke satu masa, dimana masyarakat dan ulama masih baik-baik perilakunya dan bersih jalan pikiranya. Perilaku baik itu dalam bahasa arab disebut suluk atau sirah. Yaitu hal baik yang tidak hanya menyangkut tindakan atau perbuatan, tetapi juga baik dalam hal pikiran dan perasaan. Orang yang alam pikir dan rasanya baik akan melahirkan perilaku atau suluk yang baik. Sebaliknya orang yang perilakunya atau suluknya buruk, timbul dari alam pikir dan rasa yang rusak. Sudah pasti alam pikir dan rasa yang rusak inilah yang mendorong perilaku atau suluk menjadi jahat seperti merusak di muka bumi, menipu, mencuri, koropsi, mencuci-maki, memfitnah, dst.

 

Perilaku atau suluk dalam tindakan, perbuatan dan perasaan itu pernah menjadi motif cita-cita mufti besar pertama di Indonesia, Habib Utsman bin Yahya seabad yang lalu atau lebih, yang hidupnya penuh disegani oleh semua lapisan masyarakat. Bukan dari masyarakat Muslim saja, bahkan non Muslim juga sangat menyeganinya. Beliau dikatagorikan sebagai ulama dahulu yang berda’wah penuh dengan perasaan, penuh dengan ilmu dan perilaku baik dalam tindakan dan perbuatan, menghormati sesama, tidak berlebih-lebihan atau ikut-ikutan.

 

Cita-cita mufti besar Habib Utsman bin Yahya adalah ingin mengangkat derajat dan martabat manusia Muslim Indoneisa menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesamanya, terhormat dalam perbuatan, tindakan, serta pikiran dan perasaanya. Orang yang terhormat itu adalah orang yang tidak tercela perbuatannya. Ia adalah orang pintar dan terpelajar, berani dan jujur serta cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama mufti besar Habib Utsman bin Yahya yang ingin membebaskan Muslimin Indonesia dari belenggu kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Dan mengangkat mereka menjadi manusia terhormat, terpelajar, berakhlak dan bersuluk baik.

 

Adapun ulama yang terhimpun dalam wadah Habib Utsman bin Yahya, mereka pintar-pintar, terpelajar, dan digembleng di madrasah Rasulallah saw puluhan tahun. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama secara menyeluruh. Di antara tokoh-tokoh itu adalah Habib Ali Al Habsyi (Kwitang), penerus ajaran dan cita-cita Habib Utsman bin Yahya. Ribuan umat Islam datang ke majlis Habib Ali semasa hidupnya hanya sekedar mendengar nasihat, wejangan dan diakhiri dengan pembacaan kalimat tauhid. Tidak pernah kita mendengar di majlis itu caci-maki terhadap seseorang atau golongan, melaknat atau mengkufurkan seseorang atau golongan. Majlis penuh dengan ilmu dan nasihat, penuh dengan akhlak dan suluk yang baik, penuh dengan doa dan rahmat.

 

Da’wah semacam inilah yang telah diwasiatkan Rasulallah saw, lima belas abad silam, yang datang sebagi rahmat dan membawa perdamaian bagi alam semesta. Bukankah Rasulallah, setelah berhijrah ke Madinah pertama-tama yang dilakukannya, setelah mepersaudarakan antara kaum Ansor dan Muhajirin, adalah mengadakan perdamaian dengan tiga kelompok Yahudi yang berada disana, Bani Qainuqa’, Bani Nadzir dan Bani Quraidzoh. Beliau telah membuat hubungan baik dan menggelar perjanjian untuk hidup damai dan saling menghormati. Akan tetapi orang-orang Yahudi sendirilah yang mengkhianati dan merusak perjanjian trb.

 

Islam adalah agama yang membawa damai dan rahmat lil a’lamin (bagi semesta alam). Islam diambil dari kata “salam” yang berarti damai, damai di dunia dan damai di akhirat. Damai yang dimaksudkan disini adalah berperilaku baik dan berbuat hormat kepada sesame manusia.

 

Contohnya, suatu saat Rasulallah sedang duduk di beranda rumahnya. Tiba-tiba ada orang-orang lewat mengusung keranda janazah. Beliau pun berdiri karena rasa hormat terhadap jenazah tersebut. Namun salah seorang sahabat memberi tahu Nabi saw, serta berkata “Wahai Rasulallah, itu adalah jenazah orang Yahudi? “ Nabi menanggapi “Bukankah ia juga jiwa manusia“ ( HR Imam Bukhari )

 

Islam mengajarkan damai dan berbuat baik bukan hanya terhadap manusia, akan tetapi sampai terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan. Bukankah dalam hadist Nabi saw telah diriwayatkan bahwa seorang wanita masuk neraka karena telah menganiyaya seekor kucing? Begitu pula seorang pelacur masuk sorga karna telah memberi minum seekor anjing yang kehausan?.

 

Rahmat Islam rupanya benar-benar lil a’lamin (bagi semesta alam). Tidak hanya manusia, tetapi hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup, semua memperoleh rahmat Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan, ada seorang lelaki yang merebahkan kambingnya sementara dia masih menajamkan pisaunya. Lalu Rasulallah bersabda, “Apakah engkau ingin membunuh kambing itu dua kali? Jangan lakukan itu. Tajamkan pisaumu sebelum kamu merebahkan kambingmu”

 

Ibnu sirin juga meriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah melihat seseorang sedang menyeret kaki kambing untuk disembelih. Beliau marah dan menegur orang trb, “Jangan lakukan itu! Giringlah hewan itu menuju kematiannya dengan baik.” (HR Imam Nasai)

 

Itulah kebesaran agama Islam. Itulah kehebatan agama kita. Rahmat semacam inilah yang pernah dirintis rastusan tahun yang lalu oleh ulama pendatang dahulu. Mereka datang tidak membawa pendang atau keris, belati atau penangkis, akan tetapi berkat ilmu yang luas serta akhlak dan perilaku (suluk) yang luhur, Islam menjadi agama terbesar di seluruh lapisan masyarakat Indoneisa.

 

Rasulallah tidak mengajarkan kita berda’wah dengan kekerasan, paksaan dan berutal. Akan tetapi beliau mengajarkan umatnya berda’wah dengan hikmah dan mauidzah hasanah, dengan akhlak dan suluk yang ramah. Ini konci kesuksesan da’wah ulama kita masa lalu.

 

Wallahu’alam

 

4 Tanggapan to “Perilaku Ulama Dahulu”

  1. Idrus Haddar said

    Ass.wr.wb
    Ya Sayyid Husen moga Antum selalu Diberkahi Allah Swt…Alhamdulillah pembahasan Antum sangatlah menarik terutama Manaqib para Sadah….Sebagai masukan perlu juga pembahasan fiqih moderen yang banyak dipermasalahkan orang sekarang….Seperti Hukum Muamalah dengan bank atau apalah,karena Itu sangatlah penting..Syukron

  2. dul said

    Ass. Wr. Wb
    Semoga ustad dan keluarga diberkahi Allah SWT..

  3. erik said

    sungguh ku merindukan ulama yang semacam itu,kabulkanlah ya Allah…

  4. ahmad Fan said

    Dalam beberapa hal, juga harus diingat, bahwa ayat al Qur’an juga ada yang mengandung arti : “Sesungguhnya, telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-rang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya : “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (Al Mumtahanah : 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: