Kado Dari Kota Nabi

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Bulan Sabit Di Atas Ka’bah

makkah di waktu malamOleh: Hasan Husen Assagaf

PERJALANAN dari Riyadh ke Makkah cukup memakan waktu dan tenaga, kurang lebih 1000 kilometer atau 10 jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Selama perjalanan saya dan keluarga beristirahat dua kali, pertama di wadi Hilban dan yang kedua ditengah-tengah antara kota Thaif dan Makkah yaitu (Qarnul Manazil) Sair Kabir, atau yang lebih tenar lagi disebut Miqot orang-orang yang ingin berbuat umrah atau haji dari Riyadh atau dari negara lainnya yang melewati tempat itu sesuai dengan hadist Nabi kita: “Tempat itu merupakan miqat bagi ahlinya dan bagi yang melewati tempat itu”

pemandangan riyadh-makkah foto antara riyadh - makkah jalan antara riyadh makah 

Foto pemandangan antara Riyadh dan Makkah

Selama perjalanan, tentu yang saya dapatkan hanyalah lembah-lembah, wadi-wadi, yang dikitari oleh gunung-gunung batu, pasir dan kerikil yang sangat silau dipandang mata. Dan yang lebih aneh dari itu, lalat, nyamuk dan semut sulit ditemukan, mungkin karena suhu negeri penuh batu itu  2° hingga 59°. Tapi, Masya Allah, justru memberi kemakmuran tiada tara kepada penduduk yang hidup di dalamnya.

Untuk kita yang belum pernah ke negeri ini, jangan sekali kali membayangkan, bahwa gunung gunung itu ditumbuhi pepohonan yang menyejukan mata. Tapi, semua yang bernama gunung di negri ini hanyalah gundukan batu yang menyilaukan mata apalagi kalau dilihat di siang bolong atau di terik matahari.

Dulu saya pernah dengar cerita dari ulama Makkah, ada sebuah gunung berapi yang boleh jadi bisa menumbuhkan rumput dan pepohonan. Gunung itu bernama gunung Al-Harrah Al-Syarqiyyah, letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah yang meletus pada tahun 654 H (1258 M) dan asapnya bisa terlihat sampai kota Makkah.

Sekarang semua yang bernama gunung adalah batu, melulu batu. Apalagi kalau kita lewati kota Thaif melalui jalan Al-Hada atau Sair Kabir, semuanya dikelilingi gunung-gunung batu yang menjulang tinggi. Di samping gunung-gunung batu, pula kita dapatkan angin sahara yang garing dan kering yang menampar muka seperti tamparan serikaan panas di musim kemarau dan tamparan salju di waktu musim dingin.

Tapi, Allah yang Maha Adil dan Bijaksana, justru di balik batu dan tanah yang gersang itu, telah mengeluarkan air yang berlimpah-limpah. Tidak sedikit kita dapatkan mata-mata air dan bir-bir (sumur-sumur) air yang memuncrat tak henti hentinya, seperti Bir Ali, pedasan yang letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah, bir Wadi Fatimah di Makkah, bir tepian lembah Alaqiq dan tentu yang paling top adalah bir Zam Zam di Makkah, yang memiliki kantung-kantung air yang berlimpah-limpah yang tidak akan pernah surut sampai hari kiamat.

Ini semua, kalau kita teliti dengan seksama, berkat doa nabi Ibrahaim, datok Rasulallah saw yang pernah berdiri di kaki gunung disaat akan meninggalkan anaknya Ismail dan istrinya Hajar di lembah yang tandus tidak berumput dan berpohon sambil berdoa “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan solat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur“ Ibrahim 37

Mikat Tanim di Makkah (Masjid A\'isyah)   mikat-qarnul-manazil-sair-kabir   Perbatasan Toif

Miqat Tani’m Makkah       Miqat Sair Kabir Taif         Perbatasan Taif

Di miqat Sair Kabir, saya dan keluarga, berhenti beberapa saat untuk berihram. Waktu sudah mulai senja. Tak lama kemudian terdengar suara adhan Magrib dari menara Masjid Miqat. Disitu kami melalukan solat Maghrib dan Isya jam’a dan Qasr. Setelah itu kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan berangkat ke Makkah Al-Mukarramah yang jaraknya dari Sair Kabir kurang lebih 75 Km atau satu jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Tepatnya, adhan Isya kami sudah bisa melihat tanda-tanda memasuki kota Makkah yang diawali dengan pemandangan 9 menara Masjid teragung di dunia. Baru kali itulah kami merasai keindahan ruhaniah pada sebuah kota kelahiran Nabi saw. “Labaika Allahuma Labaik”. Dia yang telah berkehendak membawa kami ke kota suci yang penuh berkah, Makkah Al-Mukarramah.

Pemandangan Haram di waktu malam  Pemandangan Makkah waktu malam  Makkah di waktu malam

Pemandangan Haram Makkah di waktu malam

Beberapa saat kemudian Masjid yang bermandikan cahaya lampu dan dihiasi dengan 9 menara terasa semakin dekat dari pandangan kami. Bulan sabit (permulaan bulan Jumadil Akhir) nampak jelas di atas masjid. Sambil berulang-ulang menyebut nama Allah “Labaika Allahuma Labaik”, kami tak lepas memandangnya yang membuat kami hanyut ke dalam lautan keindahan dan keberkahan.

Pintu gerbang utama masjid al-Haram yang lebih popular disebut Bab As-Salam, pintu utama yang selalu dilewati Rasulallah saw, tampak anggun dan indah. Pintu itu memiliki keistimewaan dan keutamaan dari pintu pintu yang lain. Pintu itu diberi tanda yang berbeda dari pintu-pintu yang lain. Dari situlah saya dan keluarga memasuki masjid Al-Haram untuk memulai ibadah thawaf.

   

Pemandangan di saat Toaf

Thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dimulai dari memberi salam kepada Hajar Aswad dan diakhiri dengan salam pula kepadanya. Untuk mencium batu hitam Hajar Aswad  yang terletak di salah satu pojok dinding Ka’bah, tidak semudah yang kita duga, apa lagi di bulan Haji dan di hari-hari terakhir bulan puasa. Karena ribuan jamaah berdesak-desak yang sama-sama ingin memangfaatkan waktu untuk menciumnya.

 

Adapun kubus hitam (Ka’bah) tersusun dari batu-batu hitam yang diambil dari bukit bukit di dekat Makkah kemudian dilekatkan dengan semen putih. Kalau kiswah (kelambu) Ka’bah tidak diangkat, batu itu hanya terlihat di lubang kecil sudut Yamani. Ka’bah yang membentuk bangunan segi empat ini, panjangnya sekitar 12 meter, lebarnya kurang lebih 10 meter dan tingginya 16 meter. Sedangkan Ka’bah yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil renovasi Sultan Murad Al Utsmani pada tahun 1630. Sebelumnya terjadi pula pemugaran oleh Nabi Ibrahim 4000 tahun lalu, pula pernah dipugar oleh Abdullah bin Zubair ra.

Setelah Thawaf, kami solat dua raka’at di muka Maqam Ibrahim dan berdoa dengan penuh kekhusyuan di muka Multazam (pintu Ka’bah). Ditempat itulah semua Muslim nampak dengan khusyu’ bersyukur kepada Allah, memohon ampun kepada Nya, serta berdoa untuk segala bentuk kebaikan di hari hari mereka yang mendatang.

Air Zam Zam  Tempat minum air Zam Zam  tempat minum air zam zam

Tempat minum air Zam Zam

Lagi-lagi kebaikan yang muncul dalam hati ketika saya dan keluarga duduk bersila untuk memanjatkan doa dengan pandangan lurus ke arah Ka’bah. Sambil minum air Zam Zam yang berselerakan di mana-mana baik di dalam atau di luar Masjid, semua pikiran terkonsentrasi ke arah doa dan ibadah, lupa dengan hirup pikuk kota Jakarta.

Selesai thawaf, saya dan keluarga melaksanakan sa’i, yaitu berlari kecil dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Lokasi sa’i saat ini sudah berupa lorong yang panjangnya sekitar 375 meter. Sa’i dalam bahasa Arab artinya usaha atau jerih payah, dan yang dimaksud disini adalah usaha Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, untuk mencari air demi menyelamatkan anaknya Ismail yang baru saja lahir di pinggiran Ka’bah. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang yang bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti dilakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah. Kisah ini merupakan kudwah atau teladan bagi kita untuk melakukan apa yang telah dilakukan Siti Hajar sesuai dengan perintah Allah “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya“ – al-Bakarah, 158.

Sa\'i antara Shofa dan Marwa  sa\'i shofa marwa  tahalul

Pemandangan Sa’i antara Shofa dan Marwah dan mencukur

Selesai sa’i di bukit Marwah, kamii mengarah ke Ka’bah untuk berdoa tanda berakhirnya ibadah Umrah. Setelah itu kami bertahalul yaitu menggunting rambut atau mencukurnya. Maka selesailah ibadah Umrah, Ucapan syukur tak henti hentinya kami lakukan yang mana Allah telah berkehendak membawa saya dan keluarga ke kota yang penuh berkah, Makkah Al-Mukaramah.

Bersama-sama dengan lautan manusia kami keluar dari Masjid Agung itu seusai melakukan ibadah umrah dan tentulah pulang ke tempat pemondokan yang letaknya tidak berjauhan dari Haram atau sekitar empat kilometer dari Masjid. Selama tiga hari saya dan keluarga tinggal di kota Makkah, dua kali ibadah umrah saya lakukan dan berkali-kali thawaf dan i’tikaf di Masjid hingga larut malam yang membuat saya tenggelam kedalam lautan keindahan dan keberkahan kota Makkah. Alhamdulillah.

 

 gua hira\'      Jabal Nur dipuncaknya Gua Hira\'      jabal Nur - Gua Hira\' 

 Gua Hira   medaki gua hira   jabal Nur

Pemandangan Jabal Nur (Gua Hira’) tempat Nabi menerima Wahyu

makkah di malam hariPada malam terakhri sebelum pulang, saya dan keluarga sempat duduk i’tikaf berjam jam sambil mengarahkan pandangan kami ke arah Ka’bah dan setelah itu kami melakukan thawaf wada’ dan mengucapkan selamat tinggal kepada kota kelahiran Nabi yang tercinta. Disana saya sempat memandang Ka’bah berulang ulang kali. Masjid dan 9 menara berdiri tegak dihiasi dengan sinar lampu yang cemerlang. Sementara ribuan bintang berkedip-kedip bagaikan berlian dan nampak jelas bulan sabit di atas Ka’bah mulai membesar yang ikut serta membuat suasana menjadi indah.

Wallahu’alam
Hasan Husen Assagaf

About these ads

Juni 25, 2008 - Posted by | Bulan Sabit Di Atas Ka'bah | , , , , , , , , , , , , ,

40 Komentar »

  1. Subahanalloh foto-fotonya pak. boleh saya save? jazakallohu khoiron

    Komentar oleh Sadat ar Rayyan | Juni 27, 2008 | Balas

  2. Semoga suatu saat saya pun bisa melihat keluarbiasaan ini. Amien

    Komentar oleh eli | Juli 11, 2008 | Balas

  3. subbahanallah

    Komentar oleh junita syartika | Juli 14, 2008 | Balas

  4. Labaikallah humma labaik, labaik kalla syarikala kalabaik, innal hamda, wani’mata lakawal mulk, laa syarikalak

    Komentar oleh Ratu Intan Nurchairani | Juli 22, 2008 | Balas

  5. terimakasih doa saya semoga anda bahgia dalam berkiprah
    saya dari thailand sudi berteman dengan anda

    Komentar oleh moohamad sobri | Oktober 5, 2008 | Balas

  6. Ya ALLAH semoga saya bisa kerumah mu AMIN

    Komentar oleh vanya alicia | Desember 23, 2008 | Balas

  7. Alhamdulilah, saya baru pulang dari Baitullah dan merasakan kenikmatan beribadah di sana.

    Komentar oleh ana diana | Januari 15, 2009 | Balas

  8. Subkhanallah..smg allah memanggil hamba ke sana..amin

    Komentar oleh Wanto | Februari 27, 2009 | Balas

  9. salam
    sangat manfaat
    saya cadangkan pada ustaz kami agar bakal haji malaysia baca blog tuan

    Komentar oleh darulhurairah | Maret 5, 2009 | Balas

  10. Terima kasih, atas literatur yang kami butuhkan

    Komentar oleh Kamaluddin | April 17, 2009 | Balas

  11. Subhanallah, semoga kami dapat kembali lagi ke baitullah, mereguk indahnya bermunajat di rumah Nya, Amin … Nice story & pictures

    Komentar oleh Faza Achmad | Mei 8, 2009 | Balas

  12. SUBHANALLAAAAH….
    YA ALLAH, IZINKANLAH HAMBAMU INI MENGINJAKKAN KAKINYA DI BAITULLAH…PANGGILLAH AKU BESERTA IBUKU UNTUK MENGUNJUNGI RUMAH_MU…

    AMIIIN YA RABBAL ALAMIIN

    Komentar oleh tini | Mei 26, 2009 | Balas

  13. Subhanallah…allahuakbar..

    Komentar oleh Anshari | Juni 4, 2009 | Balas

  14. Subhanallah…Alhamdulillah…Allaahuakbar
    Assalamualaikum wr.wb
    Habib foto Kado Dari Kota Nabi boleh saya cetak, untuk saya pajang dirumah?

    Komentar oleh Irwan Noorachman | Juni 25, 2009 | Balas

  15. Kami hanya memberi salam dari kejauhan. Sungguh tak sempat kami mendaki ke Jabal Nur (Gua Hira’) tempat Nabi menerima wahyu pertama.
    Alhamdullilah, kami sekeluarga telah kembali ketanah air sejak 6 agustus 2009.
    Subhanallah, semoga kami sekeluarga dapat kembali lagi ke baitullah dan kota nabi, bersama mereguk indahnya bermunajat di rumah Nya, Amin ya robbalalamin..
    salam kepada saudara ku semua sesama MUSLIM.

    Komentar oleh Azif Rayani | Agustus 9, 2009 | Balas

  16. subahanallah baru kali ini saya melihat tempat yang begitu indah.semoga saya bisa memberangkatkan orang tua saya kesana.amien ya robbal alamin

    Komentar oleh syelha | Agustus 20, 2009 | Balas

  17. subhanallah, saya sampai ingin menangis mengingatnya. Ingin kembali bisa mendapat kesempatan ke sana. Semoga Allah memperkenankan hamba ke sana kembali.

    Komentar oleh zaenal abidin | September 2, 2009 | Balas

  18. subhanallah, setiap muslim pasti tergetar hatinya jika mendengar cerita tentang Masjidil Haram. Semoga Allah SWT memberkahi anda sekeluarga dan kita umat muslim seluruh dunia. Semoga kita diberi kesempatan untuk sujud di rumahNYA.amin.

    Komentar oleh ENDANG SURJASRI | November 12, 2009 | Balas

  19. ya Allah tlg izinkan saya untuk melihat langsung ka’bah sebagai kiblat ibadahku

    Komentar oleh fita | November 12, 2009 | Balas

  20. Maha besar Alloh dengan segala ciptaanya, jadikanlah hamba orang yg engkau ridhoi.

    Komentar oleh joko sutresno | Desember 19, 2009 | Balas

  21. Subhanallah, dgn membaca dan melihat foto2 rumah Alloh membuat aq rindu ingin kembali bersujud di rumahmu ya Alloh, ya Alloh izinkanlah hambamu ini utk kembali lagi bersujud di rumahmu bersama anak keturunan kami ya Alloh, amien.

    Komentar oleh Bu wachjoediono | Februari 24, 2010 | Balas

  22. Mata ini berkaca kaca saat membaca kata demi kata, sungguh indah kebesaran Allah. Sejuk rasanya hati ini walaupun hanya mendengarkan ceritanya, apalagi kalau sampai bisa kesana.. Yaa Allah berikanlah aku kekuatan untuk bisa berkunjung ke Baitullah. Amin ya Robb.

    Komentar oleh Imam fasyah | April 8, 2010 | Balas

  23. pertama terima kasih kepada HASAN husen ASSAGAF
    ,yg tlh membagi pengalamannya kpd kami,semoga anda slalu di berkahi dan dilindungi allah swt.
    DAN………
    YA ALLAH IZINKAN KAMI SEKELUARGA UNTUK BERZIARAH KE BAITULLAH
    DAN KE MAKAM ROSULULLAH SAW,AMIN………

    Komentar oleh bintang | April 11, 2010 | Balas

  24. ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA’ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD

    Komentar oleh Khairil anam | Mei 12, 2010 | Balas

  25. Subhanallah….
    HASAN HUSEN ASSAGAF…………. informasimu luar biasa.

    Komentar oleh ahmadnovriwan | Agustus 10, 2010 | Balas

  26. ya allah izinkan aku tuk berkunjung ke-rumahMU

    Komentar oleh cahyo | September 11, 2010 | Balas

  27. ya allah

    Komentar oleh samsul bahri | November 8, 2010 | Balas

  28. INDAH SEKALI PAK ! SUBHANALLAH !

    Komentar oleh SAHAR | Maret 10, 2011 | Balas

  29. YAA…ALLAH SEMOGA KAMI DIBERIKAN REZEKI YANG HALAL AGAR KAMI BERSAMA KELUARGA TERCINTA DAPAT MENUNAIKAN IBADAH MENGUNJUNGI KABBAITULLAH ! AMIN !!!

    Komentar oleh SAHAR | Maret 10, 2011 | Balas

  30. SUBHANALLAH, MAHA SUCI ALLAH DAN MAHA BESAR DAN …………………………….
    TAKJUB, SUNGGUH LUAR BIASA KA’BAH DAN MASJIDIL HARAM. BERBAHAGIALAH ORANG YANG DAPAT DATANG MELIHAT LANGSUNG BUKTI KEBESARAN ALLAH….
    DAN AGAMA ISLAM YANG AGUNG YANG DIBAWA OLEH NABI MUHAMMAD S.A.W.
    ALLAHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD …………………………………………..

    Komentar oleh Hafizd Jamal | Agustus 30, 2011 | Balas

  31. subhanalloh..

    Komentar oleh Chimik Haqqy | November 24, 2011 | Balas

  32. Ya Allah, Semoga Engkau dapat berikan saya Kesempatan tuk bersimpuh pertama & terakhir kali di rumah’mu yng penuh berkah itu… Amin Amin ya Allahumma Amin

    Komentar oleh faried | Januari 3, 2012 | Balas

  33. ya allah beri aku jalan, beri aku kesempatan untuk menunaikan ibadah haji, beserta seluruh krturunanku amiin

    Komentar oleh Syafruddin D | Februari 21, 2012 | Balas

  34. Bagus sekali dn sngt membantu

    GBU

    Komentar oleh Alika | Februari 27, 2012 | Balas

  35. Reblogged this on Pohon rindang dan cahaya bintang and commented:
    “Labaika aLlahuma labaik..”
    Sayup terdengar pernyataan memenuhi panggilanMu itu di sela rinduku mendatangi ka’bahMu..

    Semoga segera, pernyataan memenuhi panggilanMu itu bisa kuucapkan dengan langsung di Ka’bahMu serupa memenuhi panggilan “hayya ‘alas shalah” dengan pernyataan “La Haula wala Quwwata illa billah” langsung di “rumah”Mu..

    Komentar oleh alreschanajmihanifah | September 26, 2012 | Balas

  36. ya allah jika klak nanti aku sudah besar aku pingin menginjakan kaki ku di tanah suci makkah, ya allah panggilah aku ke sana bersama ibuku

    Komentar oleh novia c'rahmathea | Oktober 17, 2012 | Balas

  37. Reblogged this on Seberkas Cahaya Rembulan and commented:
    Bulan Sabit di atas Ka’bah

    Komentar oleh henisetiyowati | November 11, 2012 | Balas

  38. Subhanalloh, lengkap sekali

    Komentar oleh Umroh Bandung | Februari 19, 2013 | Balas

  39. Subhanallah………..smg Allah azza wajalla memudahkan kami sekeluarga bisa beribadah ke makkah al mukarramah dan ziarah ke makam Rasulullah SAW amin ya Allah………….

    Komentar oleh moh. thoriq | Oktober 27, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: