Hasan Husen Assagaf

Silaturahim ke Alam Barzakh

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 16, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan ruh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. “Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “ Al-Mu’minun 100

 

Karena ruh itu tetap hidup maka silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk orang yang masih hidup di dunia, tapi hubungan kita dengan mereka yang sudah pindah ke alam barzakh pula sangat diperlukan. Sekalipun berbedanya alam antara kita dengan mereka tapi semuanya bisa dijangkau dengan silaturahim.

 

Sebelum menjelang bulan Ramadan dan di Hari Raya. Komplek pemakaman ramai tidak sedikit dikunjungi orang orang yang ingin bersilaturahim dengan keluarganya yang sudah meninggal dunia. Ada yang berziarah ke makam orang tuanya. Ada yang berziarah ke makam sanak famili atau karabatnya, ada pula yang berziarah ke makam para sesepuh dan ulama. Hal ini demi untuk mendoakan mereka yang telah mendahului kita agar Allah memberikan kepada mereka rahmah dan maghfirah dan mengharamkan jasad-jasad mereka dari sentuhan api neraka.

 

Rasulallah, sebagimana diriwayatkan Abu Daud, pada awal sejarah Islam pernah melarang umat Islam untuk berziarah kubur. Beliau khawatir umat Islam mengkultuskan kuburan, berlaku syirik, atau bahkan menyembah kuburan. Tapi selelah keimanan umat Islam meningkat dan kuat. Maka Rasulallah saw tidak khawatir lagi. Rasulallah saw pun kemudian bersabda : “Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukanya. Sebab bisa mengingatkan kita kepada akhirat”.

 

Silaturahim kepada penghuni alam barzakh adalah perbuatan dan tradisi baik. Selain merupakan ibadah juga untuk mengenang jasa dan berbalas budi orang. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Jelasnya, silaturahim kepada mereka sudah menjadi tradisi yang mendarah-daging. Tahun demi tahun berjalan, dan ziarah demi ziarah pasti menyertainya. Dan andai kata kita lupa, atau lalai melakukannya, kita akan segera merasa, ada sesuatu yang ganjil atau kurang mantap dalam diri kita. Ziarah kubur sudah menjadi kebutuhan hidup kita, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.

 

Di samping itu, tradisi berziarah ini sangat baik dan terpuji demi mengingatkan kita semua, termasuk orang kaya, pamong praja, dan berpangkat, bahwa satu hari hidup kita pasti akan berakhir di pekuburan. Semua kemegahan hudup, rela tak rela, harus ditinggalkan dan kita harus terima babak baru perjalanan menghuni liang kubur yang luasnya sekitar 1 x 2 meter saja.

 

Telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulallah saw telah menganjurkan kita, disaat memasuki kompleks pemakaman, agar mengucapkan salam kepada ahlil kubur seperti memberi salam kepada orang hidup: “Salam sejahtera bagimu penghuni kubur dari kaum Muminin dan Muminat. Dan kami Insya Allah akan betemu dengan kalian. Kamu adalah orang orang yang mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Kami bermohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian”.  Ucapan salam biasanya diberikan kepada orang yang mendengar dan berakal. Jika tidak, maka ucapan ini tidak mempunyai fungsi atau seolah-olah bersalam kepada benda jamad yang tidak mendengar dan berakal.

 

Para salaf  soleh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana ahli kubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mayyit setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan.

 

Diriwatkan oleh Imam Bukhari Muslim, pernah Rasulallah saw menyuruh mengubur orang orang kafir yang meninggal dalam peperangan Bader di kuburan Qulaib. Kemudian beliau berdiri di muka kuburan dan memanggil nama nama mereka satu persatu : “Wahai Fulan bin Fulan!! .. Wahai Fulan bin Fulan!!.. Apakan kamu mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kamu? Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku”.  Umar bin Khattab ra yang berada disamping Nabi bertanya : “Ya Rasulallah sesungguhnya kamu telah berbicara dengan orang-orang yang sudah usang (mati)”. Rasulallah saw pun berkata, “Demi Yang telah mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya kamu tidak lebih mendengar dari mereka dengan apa yang aku katakan”.

 

 

Imam besar Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulallah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda,  “Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur. Mereka tidak diazab karna dosa-dosa mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karna dosa-dosa mereka yang kecil. Yang pertama diazab karna suka berbuat namimah (mengupat / ceritain orang) dan yang kedua diazab karna tidak beristinja’ (tidak cebok setelah hadats kecil)”.  Kemudian Rasulallah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan trb. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulallah saw itu. Beliau bersabda : “Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur trb semasih tangkai pohon itu basah, belum kering. Karna ia beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab”.

 

Sekarang, jika Allah memberi keringanan azab kepada ahli kubur karna istighfar sebatang pohon, istighfar seekor binatang, istighfar sebuah batu, pasir dan krikil atau benda-benda jamad lainnya yang tidak berakal. Apalagi istighfar kita sebagai manusia yang berakal dan beriman kepadaNya.

 

Wallahua’lam 

14 Tanggapan to “Silaturahim ke Alam Barzakh”

  1. wahhh… Mas Hasan, membaca tulisan sampeyan koq saya jadi homesick ya.. jadi pengen banget ziarah ke Makkah al-Mukarromah. MasyaAllah banget..

  2. abdullah said

    sesungguhnya orang mukmin itu tidaklah mati, mereka hidup bahagia di sisi Allah SWT

  3. ANGGIA AGITHA said

    JANGAN PERNAH RAGU UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL..SETANGKAI TANAMAN SAJA, DI DENGAR OLEH ALLAH..APALAGI KITA….

  4. Azif Rayani said

    Kami mendapatkan nasehat, untuk selalu mendoakan yang wafat jika menyaksikan ada yang wafat atau jika melewati kuburan. doa kan mereka yang asudah wafat dan juga bagi yang masih hidup.
    subhanallah..

  5. cukuplah mati sebagai peringatan bagi kamu sekalian. Dengan ziarah ke kubur atau ikut mengantarkan jenazah ke kubur akan selalu mengingatkan kepada kita bahwa pada akhirnya kita juga akan masuk ke kubur.

  6. Norzaihan said

    Tersentuh melihat video peninggalan Nabi saw

  7. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    ada 2 pendapat di kalangan para ulama, ada yang berpendapat ruh itu sama dengan jiwa/nyawa, tapi banyak pula yang beranggapan ruh itu beda dengan jiwa, bagaimana pendapat Habib HH Assegaf ? semoga ini menambah informasi, trims! Wassalamu’alaikum wr.wb.

  8. z03r4 said

    Semoga Allah SWT menganugrahkan sekalian rahmatNya bagi pemilik blog ini dan mengampunkan dosanya, karena begitu banyak hikmah, pelajaran, dan pengetahuan yang didapat dari blog ini. Amin

  9. M FADLOLI HS said

    ASSALAMUAKAIKUM WR WB.
    SELAMAT BERJUANG

  10. makmunudin elqib said

    mohon keikhlasannya untuk aku coppy bib,semoga Alloh SWT selalu menjagamu dan menambah keberkahan umurmu, amin

  11. […] Berikut tulisan dari Habib Hasan Husen Assagaf  yang berjudul “Silaturahim ke alam barzakh” yang bersumber dari https://hasanalsaggaf.wordpress.com/2008/08/16/silaturahim-ke-alam-barzakh/ […]

  12. […] Berikut tulisan dari Habib Hasan Husen Assagaf yang berjudul “Silaturahim ke alam barzakh” yang bersumber dari https://hasanalsaggaf.wordpress.com/2008/08/16/silaturahim-ke-alam-barzakh/ […]

  13. […] Lalu faqih tersebut dibukakan hijabnya dan beliau pun dapat melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (al-Fatawa al-Haditsiyyah li Ibn Hajar al-Haitami) Habib Hasan Husen Assagaf menyampaikan bahwa ziarah kubur adalah silaturahim ke alam barzakh, silaturahim dengan para ahli kubur sebagaimana yang disampaikan pada https://hasanalsaggaf.wordpress.com/2008/08/16/silaturahim-ke-alam-barzakh/ […]

  14. […] Lalu faqih tersebut dibukakan hijabnya dan beliau pun dapat melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (al-Fatawa al-Haditsiyyah li Ibn Hajar al-Haitami) Habib Hasan Husen Assagaf menyampaikan bahwa ziarah kubur adalah silaturahim ke alam barzakh, silaturahim dengan para ahli kubur sebagaimana yang disampaikan pada https://hasanalsaggaf.wordpress.com/2008/08/16/silaturahim-ke-alam-barzakh/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: