Hasan Husen Assagaf

♣ Mata

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 12, 2010

MATA
Oleh: Hasan Husen Assagaf

Pagar rumah Habib Zen bin Abdullah Alaidrus di sebelah masjid
Krukut-Jakarta, zaman dulu dikelilingi dengan tembok tinggi sehingga orang
dari luar tidak bisa melihat kedalam. Di sebelah ujung pagar ada pintu kayu
kecil cukup untuk ukuran dua orang bisa masuk. Pas masuk, kelihatan ada
halaman di sebelah kanan yang ditanami pohon jambu, pepaya dan lainnya. Di
sebelah kiri ada kamar mandi kecil untuk tamu, baru setelah itu beranda,
ruang tamu dan majlis lebar yang mana Habib Zen gunakan untuk menerima
tamu-tamunya. Orang orang zaman dulu kelihatanya hidupnya
sangat mudah, gampang dan selalu happy.

Pernah salah satu dari tamu Habib Zen yang datang kerumahnya, menurut cerita
yang saya dengar dari beliau, agak antik dan model pelotokan. Ia datang
bertamu untuk ngobrol-ngobrol di waktu sore selepas asar. Sebelum magrib
tamu itu permisi pulang dan diantar Habib kita sampai ke halaman depan. Di
halaman rumah, matanya jelatatan kekiri kekanan, keatas kebawah dan terakhir
pandanganya mentok ke pohon pepaya yang ditanam di pojok halaman rumah.
Bibitinya dari cibinong, buahnya sarat luar biasa, besar besar bergelendotan
di ujung batang pohon pepaya dan masih hijau hijau belum matang. Tamu itu
berhenti sejenak memandang pohon pepaya itu dengan pandangan yang tajam dan
ta’ajub, kemudian berlalu.

Percisnya dua hari setelah kejadian itu, pohon pepaya itu layu, daunya
mulai menguning, dari selah buah pepaya keluar getah putih, dan terlihat
tanda tanda yang mana pohon pepaya itu akan mati. Selepas seminggu, memang
betul pohon pepaya itu mati total, buahnya berjatuhan, daunya mengering dan
batangnya mengeropok. Habib Zen menjelaskan bahwa mata tamu yang datang
seminggu yang lalu panas sehingga pohon pepaya itu mati kena matanya.

*****

Mata itu ada dua macam. Ada mata yang sifatnya sejuk, adem, dingin, dan tidak
mempunyai reaksi apa apa jika memandang. Mata semacam ini memancarkan
kebeningan, kesejukan dan keindahan hati. Orang yang hatinya baik, wajahnya
akan jauh lebih bersih dan matanya akan nampak lebih jeli dan jernih. Tidak
tersimpan didalamnya rasa dengki, hasut dan ingin menjatuhkan. Mata semacam
ini bagaikan embun di pagi hari yang cerah, lalu terpancari sinar mata hari
pagi, jernih , dan menyegarkan. Pancaran mata pun akan nampak dari setiap
gerak gerik yang dilakukan.

Ada lagi mata yang sifatnya panas, tajam, dan menembus tujuan. Mata semacam
ini memancarkan kekeruhan, keresahan dan keburukan hati yang tersimpan
didalamnya rasa benci, hasut, licik, dengki, tidak puas, ingin menjatuhkan
sesama dan tidak menginginkan kebahagiaan dan kesenangan orang lain.

Rasulallah saw telah mengajarkan kita jika melihat sesuatu yang menyenangkan
atau mena’jubkan, hendaknya berkata “Bismillah Masya Allah La Quwwata Illah
billah”, karena mata itu mempunyai HAK, sebagaimana sabda beliau dari Anas
bin Malik “Barang siapa yang melihat sesuatu yang mena’jubkanya dan berkata
Masya Allah La Quwwata Illa Billah maka tidak akan kena mata”.

“Dan mengapa kau tidak mengucapkan tetkala kamu memasuki kebunmu (Masya
Allah La Quwwata Illaa Billah) sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit
darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka mudah mudahan Tuhanku akan
memberikan kepadaku kebun yang lebih baik dari pada kebunmu, dan mudah
mudahnan Dia mengirimkan petir dari langit kepada kebunmu sehingga kebun itu
menjadi tanah yang licin” al Kahfi, 39-40

Bukankan Rasulallah pernah merangkul kedua cucunya yang sangat dicintai,
Hasan dan Husen, sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah,
meminta perlindungan dari Yang Maha Pelindung bagi kedua cucu beliau agar
dihindari dari mata-mata yang tajam dan jahat (kena mata), sesuai dengan
haditsnya:

رواه البخاري وفي رواية عند الترمذي عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ وَيَقُولُ هَكَذَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يُعَوِّذُ إِسْحَقَ وَإِسْمَعِيلَ عَلَيْهِمْ السَّلام .
Rasulallah saw memohon perlindungan bagi Hasan dan Husen sebagaimana Ibrahim
memohon perlindungan bagi Ismail dan Ishaq. Beliau berkata “Aku berlindung
kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat Nya yang sempurna dari syaitan
yang sesat, binatang berbisa yang menyengat, dan dari setiap mata yang
jahat”.- Bukhari dari Ibu Abbas ra.

Jelasnya, dari hadits diatas kita bisa mengambil suatu difinisi bahwa ada
penyakit yang dikenai diri seseorang disebabkan oleh karena pengaruh a’in
(mata) yang jahat, tajam, dan menembus tujuan, yang tersimpan didalamnya
rasa dengki, hasut, benci, ingin menjatuhkan, dan tidak menginginkan
kebahagian orang lain.

Kadang kadang kita dapatkan lafadh lafadh atau ayat ayat al-Quran
digantungkan di dinding rumah yang bersifat sebagai penawar atau penjaga
dari mata-mata panas yang tidak menginginkan kebahagian atau keharmonisan
rumah tangga orang, seperti ayat Kursi misalnya, surat al Falaq, surat an
Nas, atau surat al Ikhlas dll yang banyak sekali kita dapatkan dalam kitab
suci al Quran.

Ada lagi orang yang menggunakan pembacaan ayat ayat tertentu dalam kitab suci
al-Quran sebagai penyembuhan dari suatu penyakit atau untuk penangkal dan
menolak a’in (kena mata), ini dalam ilmu syariat disebut Ruqyah dan dalam
agama diperbolehkan menggunakan ruqyah bila penggunaanya bersih dari hal hal
yang bertentangan dengan syariat Allah, karena Rasulallah telah memberi
keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati a’in atau yang disebut kena
mata, kemasukan setan dan jin, binatang berbisa dan sebagainya.

Ada lagi yang dinamakan Tamimah yaitu sesuatu yang digantungkan di leher
anak anak yang baru lahir untuk penangkal dan menolak penyakit a’in (kena
mata). Jika yang dikalungkan itu dari ayat ayat al-Quran maka agama
meberikan keringanan dalam hal ini.

Berapa banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter atau thabib
kecuali dengan rumusan kitab suci dan hadits Nabi. Imam Ghozali dalam
bukunya ” Mukasyafatul Qulub ” yang kalau diterjemahkan menjadi Mesteri
Ketajaman Mata Hati, imam besar ini menyebutkan bahwa membaca kitab suci
dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus dan menyembuhkan segala
macam penyakit. Di dalam kitab suci, ada mantera-mantera gaib dan kekuatan
sabda yang mampu menyembuhkan penyakit yang tidak mampu disembuhkan thabib.
Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi bercahaya dan tubuh yang
sakit menjadi a’fiyah.

Satu contoh yang ringan, pernah hal ini dilakukan oleh Abul Qasim Al
Qusyairi di saat anaknya sakit keras yang tidak bisa disembuhkan oleh
puluhan thabib. Lalu ia berziarah kemaqam Rasulallah saw dan duduk di Raudhotun
Nabi (antara mimbar dan maqam Rasulallah saw). Di sana Abul Qasim berdoa dengan
khusyunya. Kemudian ia tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Abul Qasim
Rasulallah saw. Ia mengadukan halnya dan kesusahannya kepada beliau.
Rasulallah saw berkata “Bacalah bagi anakmu enam ayat-ayat syifa
(penyembuhan)”.

Abul Qasim Al Qusyairi terperanjat bangun dari tidurnya dan berlari tergopoh
gopoh menuju kerumahnya dan dilakukan apa yang telah diwasitkan Nabi saw
dalam mimpinya. Maka berkat ayat-ayat itu, Allah menyembuhkan anaknya dari
penyakitnya..

Adapun enam ayat ayat itu adalah:

1 – Ayat 14 dari surat At Taubah
“dan menyembuhkan hati orang-orang yang beriman”

2 – Ayat 57 dari surat Yunus
“dan menyembuhkan bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”

3 – Ayat 69 dari surat An Nahl
“di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”

4 – Ayat 82 dari surat Al Isra’
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang orang yang beriman”

5 – Ayat 80 dari surat Al Syua’ra
” dan apa bila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku”

6 – Ayat 44 dari surat Fussilat
“Katakanlah: Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang
beriman”

Agar jangan sampai kena mata, kita sebagi manusia yang diberi ni’mat dari
Allah, jangan lupa harus bisa menjaga ni’mat itu, dan harus bisa
mensyukurinya dengan baik agar ni’mat ni’mat itu ditambah dan tidak hilang
atau dicabut. Imam kita Syafi’i berkata : “Jika anda dalam suatu keni’matan,
maka jagalah. Sesungguhnya perbuatan ma’siat itu bisa menghilangkan ni’mat”.

Pernah Rasulallah saw berjalan dari rumahnya menuju ke masjid al Haram di
waktu subuh. Selamanya beliau melewati pintu Assalam (Bab Assalam) jika
ingin memasuki masjid alharam. Setibanya beliau di muka ka’bah, beliau
melihat malaikat Jibril bergelendotan di pintu ka’bah (Multazam) sambil
menangis dan merenge- renge. Tentu semua orang yang berada disekitarnya
tidak ada yang bisa melihatnya kecuali Rasullalah saw. Beliau mendekati
Jibril dan ingin tahu apa gerangan yang diminta dan direngei. Jibril,
malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan Rasullah disaat turun
wahyu. Jibril yang mempunyai maqam dan derajat yang tinggi luar biasa di
sisi Allah, tapi masih merenge-renge, berdoa dan memohon kepada Allah.

Secara diam-diam Rasullallah saw mendekatinya dan ingin mendengar apa yang
diminta Jibril as. Anda tahu apa kiranya yang diminta Jibril as, beliau
berdoa : ” Ya Wajed, Ya Majid La Tuzil A’nni Ni’matan Ana’mta Biha
A’laiyya”. Artinya kurang lebih: “Ya Allah Yang Maha Berada dan Maha Luhur
janganlah engkau cabut ni’mat yang Engkau telah berikan padaku”

Doa kecil dari Habib Zen tapi penuh dengan hikmah.

Wallahua’lam,
Hasan Husen Assagaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: