Hasan Husen Assagaf

♣ Mata

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 27, 2011

♣  MATA

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Pagar rumah Habib Zen bin Abdullah Alaidrus di sebelah masjid Krukut-Jakarta, zaman dulu dikelilingi dengan tembok tinggi sehingga orang dari luar tidak bisa melihat kedalam. Di sebelah ujung pagar ada pintu kayu kecil cukup untuk ukuran dua orang bisa masuk. Pas masuk, kelihatan ada halaman di sebelah kanan yang ditanami pohon jambu, pepaya dan lainnya. Di sebelah kiri ada kamar mandi kecil untuk tamu, baru setelah itu beranda, ruang tamu dan majlis lebar yang mana Habib Zen gunakan untuk menerima tamu-tamunya. Orang orang zaman dulu kelihatanya hidupnya sangat mudah, gampang dan selalu happy.

Pernah salah satu dari tamu Habib Zen yang datang kerumahnya, menurut cerita yang saya dengar dari beliau, agak antik dan model pelotokan. Ia datang bertamu untuk ngobrol-ngobrol di waktu sore selepas asar. Sebelum magrib tamu itu permisi pulang dan diantar Habib kita sampai ke halaman depan. Di halaman rumah, matanya jelatatan kekiri kekanan, keatas kebawah dan terakhir pandanganya mentok ke pohon pepaya yang ditanam di pojok halaman rumah. Bibitinya dari cibinong, buahnya sarat luar biasa, besar besar bergelendotan di ujung batang pohon pepaya dan masih hijau hijau belum matang. Tamu itu berhenti sejenak memandang pohon pepaya itu dengan pandangan yang tajam dan ta’ajub, kemudian berlalu.

Percisnya dua hari setelah kejadian itu, pohon pepaya itu layu, daunya mulai menguning, dari selah buah pepaya keluar getah putih, dan terlihat tanda tanda yang mana pohon pepaya itu akan mati. Selepas seminggu, memang betul pohon pepaya itu mati total, buahnya berjatuhan, daunya mengering dan batangnya mengeropok. Habib Zen menjelaskan bahwa mata tamu yang datang seminggu yang lalu panas sehingga pohon pepaya itu mati kena matanya.

*****

Mata itu ada dua macam. Ada mata yang sifatnya sejuk, adem, dingin, dan tidak mempunyai reaksi apa apa jika memandang. Mata semacam ini memancarkan kebeningan, kesejukan dan keindahan hati. Orang yang hatinya baik, wajahnya akan jauh lebih bersih dan matanya akan nampak lebih jeli dan jernih. Tidak tersimpan didalamnya rasa dengki, hasut dan ingin menjatuhkan. Mata semacam ini bagaikan embun di pagi hari yang cerah, lalu terpancari sinar mata hari pagi, jernih , dan menyegarkan. Pancaran mata pun akan nampak dari setiap gerak gerik yang dilakukan.

Ada lagi mata yang sifatnya panas, tajam, dan menembus tujuan. Mata semacam ini memancarkan kekeruhan, keresahan dan keburukan hati yang tersimpan didalamnya rasa benci, hasut, licik, dengki, tidak puas, ingin menjatuhkan sesama dan tidak menginginkan kebahagiaan dan kesenangan orang lain.

Rasulallah saw telah mengajarkan kita jika melihat sesuatu yang menyenangkan atau mena’jubkan, hendaknya berkata “Bismillah Masya Allah La Quwwata Illah billah”, karena mata itu mempunyai HAK, sebagaimana sabda beliau dari Anas bin Malik “Barang siapa yang melihat sesuatu yang mena’jubkanya dan berkata Masya Allah La Quwwata Illa Billah maka tidak akan kena mata”.

“Dan mengapa kau tidak mengucapkan tetkala kamu memasuki kebunmu (Masya Allah La Quwwata Illaa Billah) sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka mudah mudahan Tuhanku akan memberikan kepadaku kebun yang lebih baik dari pada kebunmu, dan mudah mudahnan Dia mengirimkan petir dari langit kepada kebunmu sehingga kebun itu menjadi tanah yang licin” al Kahfi, 39-40

Bukankan Rasulallah pernah merangkul kedua cucunya yang sangat dicintai, Hasan dan Husen, sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah, meminta perlindungan dari Yang Maha Pelindung bagi kedua cucu beliau agar dihindari dari mata mata yang tajam dan jahat (kena mata), sesuai dengan haditsnya:

رواه البخاري وفي رواية عند الترمذي عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ وَيَقُولُ هَكَذَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يُعَوِّذُ إِسْحَقَ وَإِسْمَعِيلَ عَلَيْهِمْ السَّلام .

Rasulallah saw memohon perlindungan bagi Hasan dan Husen sebagaimana Ibrahim memohon perlindungan bagi Ismail dan Ishaq. Beliau berkata “Aku berlindung kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat Nya yang sempurna dari syaitan yang sesat, binatang berbisa yang menyengat, dan dari setiap mata yang jahat”.- Bukhari dari Ibu Abbas ra.

Jelasnya, dari hadits diatas kita bisa mengambil suatu difinisi bahwa ada penyakit yang dikenai diri seseorang disebabkan oleh karena pengaruh a’in (mata) yang jahat, tajam, dan menembus tujuan, yang tersimpan didalamnya rasa dengki, hasut, benci, ingin menjatuhkan, dan tidak menginginkan kebahagian orang lain.

Kadang kadang kita dapatkan lafadh lafadh atau ayat ayat al-Quran digantungkan di dinding rumah yang bersifat sebagai penawar atau penjaga dari mata-mata panas yang tidak menginginkan kebahagian atau keharmonisan rumah tangga orang, seperti ayat Kursi misalnya, surat al Falaq, surat an Nas, atau surat al Ikhlas dll yang banyak sekali kita dapatkan dalam kitab suci al Quran.

Ada lagi orang yang menggunakan pembacaan ayat ayat tertentu dalam kitab suci al-Quran sebagai penyembuhan dari suatu penyakit atau untuk penangkal dan menolak a’in (kena mata), ini dalam ilmu syariat disebut Ruqyah dan dalam agama diperbolehkan menggunakan ruqyah bila penggunaanya bersih dari hal hal yang bertentangan dengan syariat Allah, karena Rasulallah telah memberi keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati a’in atau yang disebut kena mata, kemasukan setan dan jin, binatang berbisa dan sebagainya.

Ada lagi yang dinamakan Tamimah yaitu sesuatu yang digantungkan di leher anak anak yang baru lahir untuk penangkal dan menolak penyakit a’in (kena mata). Jika yang dikalungkan itu dari ayat ayat al-Quran maka agama meberikan keringanan dalam hal ini.

Berapa banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter atau thabib

kecuali dengan rumusan kitab suci dan hadits Nabi. Imam Ghozali dalam bukunya ” Mukasyafatul Qulub ” yang kalau diterjemahkan menjadi Mesteri Ketajaman Mata Hati, imam besar ini menyebutkan bahwa membaca kitab suci dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus dan menyembuhkan segala macam penyakit. Di dalam kitab suci, ada mantera-mantera gaib dan kekuatan sabda yang mampu menyembuhkan penyakit yang tidak mampu disembuhkan thabib. Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi bercahaya dan tubuh yang sakit menjadi a’fiyah.

Satu contoh yang ringan, pernah hal ini dilakukan oleh Abul Qasim Al Qusyairi di saat anaknya sakit keras yang tidak bisa disembuhkan oleh puluhan thabib. Lalu ia berziarah kemaqam Rasulallah saw dan duduk di Raudhotun Nabi (antara mimbar dan maqam Rasulallah saw). Di sana Abul Qasim berdoa dengan khusyunya. Kemudian ia tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Abul Qasim Rasulallah saw. Ia mengadukan halnya dan kesusahannya kepada beliau. Rasulallah saw berkata “Bacalah bagi anakmu enam ayat-ayat syifa (penyembuhan)”.

Abul Qasim Al Qusyairi terperanjat bangun dari tidurnya dan berlari tergopoh gopoh menuju kerumahnya dan dilakukan apa yang telah diwasitkan Nabi saw dalam mimpinya. Maka berkat ayat-ayat itu, Allah menyembuhkan anaknya dari penyakitnya..

Adapun enam ayat ayat itu adalah:

1 – Ayat 14 dari surat At Taubah

“dan menyembuhkan hati orang-orang yang beriman”

2 – Ayat 57 dari surat Yunus

“dan menyembuhkan bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”

3 – Ayat 69 dari surat An Nahl

“di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”

4 – Ayat 82 dari surat Al Isra’

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman”

5 – Ayat 80 dari surat Al Syua’ra

6 – Ayat 44 dari surat Fussilat

“Katakanlah: Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang beriman”

Agar jangan sampai kena mata, kita sebagi manusia yang diberi ni’mat dari Allah, jangan lupa harus bisa menjaga ni’mat itu, dan harus bisa mensyukurinya dengan baik agar ni’mat ni’mat itu ditambah dan tidak hilang atau dicabut. Imam kita Syafi’i berkata : “Jika anda dalam suatu keni’matan, maka jagalah. Sesungguhnya perbuatan ma’siat itu bisa menghilangkan ni’mat”.

Pernah Rasulallah saw berjalan dari rumahnya menuju ke masjid al Haram di waktu subuh. Selamanya beliau melewati pintu Assalam (Bab Assalam) jika ingin memasuki masjid alharam. Setibanya beliau di muka ka’bah, beliau melihat malaikat Jibril bergelendotan di pintu ka’bah (Multazam) sambil menangis dan merenge- renge. Tentu semua orang yang berada disekitarnya tidak ada yang bisa melihatnya kecuali Rasullalah saw. Beliau mendekati Jibril dan ingin tahu apa gerangan yang diminta dan direngei. Jibril, malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan Rasullah disaat turun wahyu. Jibril yang mempunyai maqam dan derajat yang tinggi luar biasa di sisi Allah, tapi masih merenge-renge, berdoa dan memohon kepada Allah.

Secara diam-diam Rasullallah saw mendekatinya dan ingin mendengar apa yang diminta Jibril as. Anda tahu apa kiranya yang diminta Jibril as, beliau berdoa : ” Ya Wajed, Ya Majid La Tuzil  A’nni  Ni’matan  Ana’mta Biha A’laiyya”. Artinya kurang lebih: “Ya Allah Yang Maha Berada dan Maha Luhur janganlah engkau cabut ni’mat yang Engkau telah berikan padaku”

Doa kecil dari Habib Zen tapi penuh dengan hikmah.

Wallahua’lam,

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: