Hasan Husen Assagaf

♣ Tarawih bersama Hb Zen Alaidrus

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

 

Pada awal puasa, masjid al-Mubarak- Krukut, Jakarta, penuh sesak dikunjungi Jama’ah yang ingin sholat tarawih bersama Habib Zen bin Abdullah Alaidrus. Tua muda, besar kecil, laki perempuan datang berbondong-bondong memenuhi masjid.

Sholat isya’ dimulai. Shof-shof jama’ah memenuhi masjid sampai ke ruangan belakang. Yang menjadi imam Habib Muhammad, anak Habib Zen, dan kita ma’mum dibelakangnya. Dengan pakaian serba putih, jubah putih, serban putih, dan syal berwarna hijau, wajahnya putih penuh dengan wibawa, haibah, dan cahaya… cahaya Ilahi, Habib Zen sholat dengan penuh semangat dan khusyu’.

Selepas sholat isya’, doa dan wirid, kemudian dilanjutkan dengan sholat tarawih sebanyak 20 rakaat dan pula diimami Habib Muhammad bin Zen. Selesai sholat tarawih, kita bersama-sama duduk meng-amin-i doa tarawih yang dibacakan Habib Muhammad. Kemudian dilanjutkan dengan sholat witir 3 rakaat yang diimami Habib Zen. Setelah itu, doa witir dibacakan pajang sekali oleh Habib Muhammad bin Zen dan kita meng-amin-i dengan penuh khusyu’an. Selesai doa dan fatihah, kita bersama-sama duduk mencicipi kopi jahe yang dibikin oleh Pok Muna. Kopi ini mempunyai rasa khas, tidak dibuat kecuali khusus pada bulan Ramadhan, dan rasa kopi itu tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Krukut.

Selesai istirahat kurang lebih seperapat jam, kemudian dilanjutkan dengan babak kedua dari ibadah bulan Ramadhan, yaitu sholat tasbih (*). Kebanyakan yang mengikuti Habib Zen dalam sholat tasbih adalah orang orang tua, pemuka masyarakat kerukut dan anak muridnya, kurang lebih bilangannya satu shof, sekitar duapuluhan. Sholat tasbih dilakukan sebanyak 8 rakaat dan memakan waktu kurang lebih dua jam. Karena setiap raka’at setelah imam membaca surat Fatihah, yang dibaca bukan surat-surat pendek akan tetapi yang dibaca adalah al-Quran. Dimulai dari surat al-Baqarah pada awal puasa dan diakhiri khatam pembacaan al Qur’an pada shalat tasbih malam tanggal 29 Ramadhan.

Makanya sholat tasbih jarang diikuti masyarakat biasa, karna sholat ini sangat berat dilakukanya kecuali oleh orang-orang yang mepunyai kesabaran,  keikhlasan dan kekhusyu’an dalam ibadah, Selesai sholat tasbih kita masih mendengarkan doa-doa yang panjang sekali dibacakan bergantian antara Habib Zen dan Habib Muhammad bin Zen. Kurang lebih jam 11 malam jama’ah masjid baru bubar dan pulang kerumah masing-masing. Demikianlah setiap malam Ramadhan Habib Zen hidupi ibadah di masjid itu dengan al-Qur’an, zikir, doa-doa dan sholawat.

Pada akhir tahun 1970-an, Habib Zen Alaydrus, yang dicintai masyarakat, berpulang ke rahmat Allah. Kemudian setelah itu disusul oleh keluarganya, murid muridnya, dan kebanyakan pengikutnya yang tua tua. Adapun generasi muda yang tinggal di Kerukut depan, mayoritasnya menjual rumah-rumah warisan mereka dan memilih jalan hengkang dari Kerukut dan mengungsi ke daerah-daerah lain di Jakarta, sehingga Kerukut yang dulu dikenal sebagai kampung Arab, sekarang berobah total menjadi kampung Cina. Pula dinasti Habib Zen yang dulu pernah menjadi umdah dan sesepuh yang disegani di kampung Krukut, sekarang hanya kenangan manis dan cerita indah.

Maka untuk sekedar mengingatkan masyarakat yang mengenal Habib Zen atau yang

tidak mengenal dari generasi muda, telah tersusun buku do’a doa tarawih, witir dan tasbih yang ditulis tangan oleh beliau semasa hidupnya. Hal ini demi untuk mengenang jasa-jasa beliau yang begitu besar terhadap Islam dan umat Islam, dan untuk menghidupkan kembali nama Habib Zen di tengah2 masyarakat Indonesia pada khususnya.

Buku aslinya saya dapatkan dari anak murid Habib Zen dengan susah payah. Karna buku ini konon katanya hilang atau terbengkalai, karna banyak dari generasi muda yang tidak tahu nilai buku trb mengabaikanya dan dibiarkan terbengkalai. Sekarang alhamdulillah buku trb saya telah tulis ulang dengan komputer, tersusun dengan baik dan terpugar menjadi buku yang layak, indah, bisa dibaca oleh masyarakat Muslim yang dilengkapi dengan harakah. Buku ini saya beri judul “Majmu’atul Atsaar Fi Ad’iyah Syahir Ramadhan Wal Awrad wal Adhkar“. Buku trb merupakan kumpulan dari doa-doa para habaib, masyayeikh dan ulama-ulama ternama zaman dulu. Saya tinggal menunggu sponsor yang bisa mencetak buku trb sehingga bisa disebarluaskan keseluruh lapisan masyarakat Islam terutama di Indonesia. Beberpa copy dari buku tsb telah disalurkan dan dibagi-bagikan kepada habaib di Jakarta, wilayah Saudi bahkan sampai ke Hadhramut

Rasulallah bersabda dalam hadithnya:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ  وفي رواية طليق. (رواه مسلم، الترمذي)

Dari Abu Dzar ra, Rasulallah saw bersabda: ” janganlah kamu menyepelekan perbuatan baik sedikitpun walaupun hanya sekedar menatap saudaramu (sesama muslim) dengan wajah cerah. ( HR Muslim, Tirmidzi)

Maka saya menghimbau dan mengajak masyarakat Islam terutama keluarga Habib Zen Alaydrus untuk bisa memikirkan bagaimana cara mencetak buku doa-doa yang dikutip Habib Zen yang telah tersusun baik, agar bisa bermangfaat bagi umat Islam dan kita bisa mendepositkan amal baik trb ke rekening kebaikan Habib Zen Alaydrus di akhirat.

—————

(*) Shalat tashbih adalah sunah. Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama penganut mazhab Syafi’e. Dinamakan tasbih karena pelaku shalat akan membaca kalimat tasbih “Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar” sebanyak 300 kali yang dilakukan sebanyak 4 raka’at, setiap raka’at 75 kali tasbih. Shalat ini diajarkan Rasulullah saw kepada pamannya yakni Abbas bin Abdul Muthallib ra. Hikmah shalat ini adalah dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu saja jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Shalat tasbih boleh dilakukan kapan saja baik siang hari atau malam hari dan dan lebih baik jika dilakukanya malam hari, dan akan lebih baik lagi jika dilakukan pada bulan Ramadhan setelah shalat tarawih. Shalat ini dilakukan 4 raka’at dengan dua salam sebagaimana shalat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat saat:

  • Setelah pembacaan surat fatihah dan surat al-Qur’an saat berdiri 15 kali
  • Di waktu ruku’ 10 Kali
  • Di waktu I’tidal (bangung dari ruku’) 10 Kali
  • Di waktu sujud pertama 10 Kali
  • Di waktu duduk di antara dua sujud 10 Kali
  • Di waktu sujud kedua 10 Kali
  • Di waktu duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka’at keberapa) 10 Kali.

Jumlah tasbih dalam satu raka’at 75

Maka jumlah tasbih dalam empat raka’at 4 X 75 = 300 kali

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: