Hasan Husen Assagaf

♣ Bacalah! (Iqra’)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 21, 2014

IQRA’

Oleh: Hasan Husen Assagaf

2Ada peristiwa besar dalam kehidupan Rasulallah saw yang patut direnungkan dan  dipikirkan kembali oleh kita sebagai pengikutnya. Yaitu peristiwa ketika beliau menyendiri di Gua Hira di Jabal Nur, jauh dari kesibukan kehidupan kota Mekkah.

Tiba-tiab sebuah suara terdengar: “ Iqra’ “ artinya bacalah.

Tubuh Rasulallah saw pun menggigil berkeringat.

Lalu beliau menjawab: “saya tidak bisa membaca”.

Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.

Mendengar perintah itu tubuh beliau makin menggigil.

Beliau menjawab lagi: “saya tidak bisa membaca”.

Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.

Seiring itu pula Rasulallah saw menjawab dengan ucapan yang sama:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan”

941277294_2481909890_m“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan” adalah wahyu pertama, surat al-Alaq, dari Allah turun kepada Rasulallah saw melalui perantara malaikat Jibril as di puncak jabal Nur, di gua Hira’-Makkah. Mulai saat itu beliau menerima wahyu dari Allah berturut turut 23 tahun hingga usia beliau 63 tahun. Wahyu itu lalu dikumpulkan oleh para shahabat sehingga menjadi sebuah Mushaf, dan dikenal sebagai al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan bagi manusia yang memiliki akal dan pikiran. Ini merupakan suatu amanat yang besar dari Allah agar manusia “membaca“.  Dahulu, amanat (akal dan fikiran) ini telah ditawarkan pada langit dan bumi, bulan, bintang dan matahari, gunung, lautan, api, batu, angin, tsunami dan semua benda jamad yang tidak berakal. Semua enggan untuk memikul amanat tersebut karena mereka khawatir akan menghianatinya. Maka dipikulah amanat itu oleh manusia. “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh“ al Ahzab, 73.

Masa lalu, saat pertama kali saya belajar al-Qur’an bermula di kampung, di Cianjur. Umur saya mungkin kurang lebih tujuh tahun. Saya dibawa ke seorang kiai yang mengajarkan kami membaca al-Qur’an. Saya masih ingat dan tidak bisa melupakan kiai itu. Ia orang tua soleh, ahli dalam bacaan kitab suci, mampu berdoa dan oleh orang kampung ditaruh di garis depan di bidang rohani. Sekarang kenangan ini menimbulkan apa yang barang kali patut disebut dalam bahasa Arab “ihsas muzdawij“ atau perasaan bercampur syukur dan sedih sekaligus pada saat yang sama.

Rasa syukur muncul karena sejak saat itu saya diajari adab sopan santun yang berurusan dengan al-Qur’an, bahwa buat sekadar menyentuh kitab suci saja, diri kita harus pula suci. “tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan “ al-Waqiah,79 . Maka sebelumnya saya pun berwudu’ dan untuk membacanya, mula mula saya membaca doa ta’awudh atau doa mohon perlindungan Allah supaya kita dijauhkan dari gangguan syetan yang jahat.

Adapun yang membuat saya merasa sedih karena kitab suci dihormati cuma dari segi rohaniah saja. Padahal kitab suci, yang dalam firman Allah disebut “ berisi petunjuk yang tak diragukan” bukan hanya untuk dijadikan benda pusaka akan tetapi kitab suci itu untuk dibaca, dipelajari, ditelaah makna-maknanya dan arti-artinya secara mendalam, kemudian diamalkan sebagai kitab yang di dalamnya tak diragukan, mengajak kita supaya bertakwa pada Allah.

Imam besar Ghazali dalam kitabnya Ihya menyebutkan bahwa membaca kitab suci dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus segala duka. Di dalam kitab suci, ada amalan-amalan gaib dan kekuatan wahyu yang mampu menghapus gumpalan gelap yang menutup hati. Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi terang.

Maka dengan membaca al-Qur’an dan menelaah makna-maknanya, seharusnya kita bisa membuat suatu yang bisa merobah diri kita dari alam kegelapan ke alam terang menderang, membawa kita ke alam yang lepas dari kejahilan yang selalu memojokan umat Islam sekarang ini  ke sudut yang gelap, ke sudut yang bisa membuat mereka dilecehkan dan dipecahbelahkan. Kitab suci harus disikapi seperti anjuran Amirul Mu’minin Umar bin Khattab ra, yang mana kita harus bisa sebesar mungkin mengambil manfaat duniawi dari al-Qur’an tadi, bukan hanya sebagai usaha masuk surga.

Jadi apa faedahnya membaca al-Quran sejak berabad-abad bila kita tetap dikalahkan, dilecehkan, dipojokan dan dipecahbelahkan. Memang ada yang salah pada diri-diri kita bahwa kita membaca kitab suci hanya untuk persiapan mati, bukan untuk persiapan hidup. Sedang sejarah Islam telah membuktikan bahwa, dengan al Qur’an, mereka bisa merobah dunia.

Wallahu’alam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: