Hasan Husen Assagaf

♣ Shiam & Shaum

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 1, 2014

SHIAM DAN SHAUM

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Mari kita lihat perbedaan kata antara shiyam (الصيام) dan shaum ( الصوم )

Ada empat kata shiyam (الصيام) dalam dalam surat Al-Baqarah. Dua kata terdapat dalam ayat 187, satu dalam ayat 196  dan satunuya lagi terdapat dalam ayat 183. Semua kata shiam disini bermakna perintah untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan puasa dari mulai fajar menyingsing sampai tenggelamnya matahari. Puasa ini lebih poluler lagi disebut puasa menahan perut dari lapar dan haus. Sorang muslim berpuasa dari terbit matahari sampai tenggelamnya niatnya hanya cukup untuk menjahui hal hal yang membatalkan puasa. Barang siapa berpegang teguh kepada yang telah ditetapkan syariat, maka puasanya shah dan tidak ada qadha atau kafarah baginya, dan tentu mereka akan memperoleh faidah dunia dan pahala akhirat. Akan tetapi puasa sejenis ini tidak akan mewujudkan faedah-faedah lain yang diharapkan. Inilah yang dinamakan shiam atau puasa syariat atau yang disebut puasa kebanyakan manusia.

Adapun kata shoum ( الصوم ) hanya satu kata terdapat dalam dalam surat Maryam, Allah berfirman di ayat 26:

فَكُلِي وَٱشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلبَشَرِ أَحَداً فَقُولِيۤ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيّاً

Artinya: ”Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (diam) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.

Kata shaum (الصوم) dalam ayat diatas artinya diam atau tidak berbicara. Itu yang dianjurkan Allah kepada siti Maryam, tetkala ia mengandung anak (Nabi Isa) tanpa bapak, lalu ia menjauhkan diri dari manusia. Ia disuruh makan dan minum tapi berpuasa, maksudnya berdiam atau berzikir.

Jadi yang dimaksud dengan kata shaum yaitu disamping perut berpuasa juga seluruh anggota tubuh yang lain ikut berpuasa. Seperti mata berpuasa, telinga berpuasa, mulut berpuasa, tangan dan kaki ikut pula berpuasa. Puasa jenis ini dinamakan juga dengan puasa untuk mensucikan akhlak dari berbagai hal yang diharamkan dan dari berbagai hal yang dibenci.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang tidak menjaga mulutnya di bulan Ramadhan dari dusta atau mengupat seseorang, atau menuduh sesorang atau menyakiti sesorang dengan lidahnya maka puasanya menjadi batal. Seseorang yang benar benar berpuasa dengan seluruh anggota tubuhnya akan memiliki doa yang mustajab ketika berbuka. Jika anggota tubuh sesorang berpuasa sebagaimana perutnya berpuasa, maka dia akan bisa mencapai derajat yang tinggi pada hari hari terakhir dari bulan Ramadhan.

Pernah satu kali Rasulallah saw mendengar seorang wanita tengah mencaci maki tetangganya sementara dia sedang dalam keadaan berpuasa. Maka Rasulallah saw pun menyuruh wanita itu berbuka.

Rasulallah saw berkata kepada wanitu itu: “Makanlah”.

Wanita itu menjawab: “saya sedang berpuasa”

Rasuallah saw berkata: “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sementara engkau mencaci maki tetanggamu. Sesungguhnya puasa bukanlah hanya dari makan dan minum”.

Ini perbedaan antara shiam dan shaum menurut Nabi saw. Wanita itu shiam tapi tidak shaum.

Ada lagi yang lebih tinggi dari jenis shaum, jenis ini merupakan jenis puasa yang amat sulit untuk diikuti yaitu puasa (shaum) hati. Ini biasanya dilakukan oleh orang orang shufi. Jenis ini disamping seseorang harus berpuasa perutnya, dan seluruh anggota tubuhnya, maka hatinya pun harus berpuasa.

Sekarang, bagaiman hati itu harus berpuasa? Hati berpuasa dari lintasan pikiran yang buruk dan dari sifat yang tercela, itu menurut Hb Abdullah Alhaddad dalam kitabnya yang populer Nashaih Diniyah. Maksud beliau meskipun pikiran buruk dan sifat jahat terdetik di dalam hati namun puasa (shaum) mencegahnya untuk tidak dilakukanya. Pikiran buruk itu seperti penyakit dengki, hasut, penyakit pelit dan kikir, penyakit buruk sangka, dan juga penyakit sombong.

Nah, kalau kita sudah bisa menyapai kepada kebersihan hati, dan tidak ada yang terdetik dihati kecuali Allah, tidak ada yang dicintai kecuali Allah, tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, berarti hatinya telah menjadi milik Allah. Maka Allah akan menerangi hatinya, menerangi jalannya, menerangi pikiranya sehingga ia akan sampai derajat shufi, mencapai derajat sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam kitab Nya,

رِجَالٌ لاَّ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ

“Laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah” an Nur 37

Wallahu’alam/ Hasan Husen Assagaf

NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: