Hasan Husen Assagaf

♣ Apa itu Shalawat?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Oktober 29, 2014

 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

صلاة

Saudaraku yang dicintai Allah! Setiap mukadimah khuthbah atau kitab pasti diawali dengan ucapan puji dan dan syukur kepada Allah, kemudian setelah itu ucapan shalawat dan salam kepada Rasulallah saw, keluaraga dan para sahabat beliau.

Sekarang timbul pertanyaan kenapa kita perlu mengucapkan shalawat kepada Nabi saw sedangkan beliau adalah orang termulia, tersuci, dan terpilih di muka bumi dan dijamain masuk surga? Tentu jawaban yang tepat karena shalawat merupakan ajuran yang dianjurkan Allah kepada hamba-Nya setelah Allah menganjurkan terlebih dahulu kepada diri-Nya sendiri dan para malaikat untuk berselawat kepada Nabi saw.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab, 56).

Kalau Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi saw, maka sudah selayaknya kita sebagai umatnya untuk bershalawat pula kepada beliau.

Sholat dalam bahasa artinya do’a. Jadi shalawat kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau berarti medoakan mereka agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan salam Nya kepada mereka yang tidak terputus putus. Bahkan bershalawat kepada Nabi saw dan keluarga beliau merupakan hal yang wajib dilakukukan dalam setiap sholat. Tidak sah sholat seseorang tanpa bershalawat kepada Nabi saw dan keluarganya.

Di lain fihak ada lagi yang mengatakan bahwa shalawat kepada Nabi saw berarti kita sedang menyambung hubungan atau ikatan cinta dengan beliau. Semakin banyak kita bershalawat kepada Nabi saw semakin kuat hubungan dan ikatan cinta kita kepada beliau, dan semakin banyak pula rahmat dan barokah dari Allah akan turun kepada kita. Maka dari itu kita diajurkan disaat bershalawat jangan hanya sekedar mengucapkan, tapi kita harus tanamkan di diri kita hubungan pendekatan kecintaan kita kepada Nabi saw agar berkat shalawat semua keinginan kita bisa dikabulkan.

Itu tadi berselawat, sekarang memuji Nabi saw bukanlah menganggap dia sebagai Tuhan.. Menyanjung Rasulullah saw adalah mengakui bahwa beliau saw sebagai manusia pilihan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) kecuali (sebagai) rahmat bagi alam semesta (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin).”

Itu firman Allah. Sumber ajaran memuji dan mencintai Nabi tak lain adalah Islam itu sendiri. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga tahap. Mencintai Nabi, keluarganya, dan membaca Al-Quran.”

Untuk mencintai kekasih saja kita harus menyanjungnya, apalagi dia itu adalah kekasih Allah, Al-Quran mengajarkan dan menganjurkan kepada umat Islam, sebagaimana tertera dalam Kitabullah sebagaimana tertera di atas, “Sungguh Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah atasnya dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormatnya salam.” (al-Ahzab, 56).

Shalawat, jika datangnya dari Allah kepada nabi-Nya, bermakna rahmat dan keridhaan. Jika dari para malaikat, berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya, bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan keridhaan Allah dikekalkan.

Dalam surah yang lain Allah memuji hamba-Nya yang satu ini dengan,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh engkau (hai Nabi) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi.” (al-Qalam,4)

Dalam Al-Qur’an Allah memanggil nama nama para nabi langsung dengan nama-nama mereka, tidak ada basa basi. seperti,

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,Al-Baqarah,35

قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ
Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (Hud,46)

وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(As-shaffat, 104)

وَمَا تِلۡكَ بِيَمِيۡنِكَ يٰمُوۡسٰى

“Dan apakah yang ada di tangan kananmu, hai Musa?” (Toha,17)

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku (Al-‘Imran, 55)

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya (Maryam,7)

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.(Maryam, 12)

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,(shad, 26)

Tapi Allah tidak pernah memanggil nama Banginda Muhammad saw langsung dengan namanya “hai Muhammad”, tidak sama sekali, melainkan Dia memanggilnya dengan kata-kata yang hormat dan terpilih seperti, “hai Nabi ( يَا أَيُّهَا النَّبِيّ )” , “hai Rasul (يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ)”, “hai pria yang berselimut (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ )”, “hai Hai orang yang berselimut ( يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ) ” .

Di samping itu bukankah Baginda sendiri yang menganjurkan kita untuk menghaturkan sanjungan (madah) terhadap di dia? Seorang nabi yang telah digambarkan oleh Al-Quran sebagai “pencurah rahmat bagi seluruh alam semesta”. Seperti diharapka dia dalam banyak hadits agar kaumnya banyak menyebut namanya.

“Sebutlah selalu namaku, sungguh shalawatmu itu sampai kepadaku,” sabdanya. Bahkan dianjurkan agar umat Islam banyak-banyak menyebut namanya di malam Jum’at. Seperti dalam riwayat lain, sungguh menyebut nama Rasulallah saw akan dijawab (dengan pahala) berlipat-lipat…..subhanallah….

Begitu pula jika kita ingin mengadakan hubungan dengan Allah, harus dengan shalawat. Yang dimaksudkan disini bukan membaca shalawat kepada Allah tapi melakukan shalawat atau mendirikan shalat shalat yang diwajibkan dan yang disunahkan. Semakin banyak kita shalat, semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah dan semakin banyak rahmat dan berkat turun dari Allah. Sholat atau doa kita akan didengar. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berhadapan muka secara langsung dan berbicara dengan Allah.

ص 2Sudah barang tentu dalam mengucapkan shalawat kepada Nabi saw harus disertai pula dengan bershalawat kepada keluarga dan para sahabatnya. Yang dimaksud keluarganya adalah mereka yang mempunyai tali hubungan karabat dengan beliau. Dan sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi saw, beriman dengan ajaran yang dibawa Nabi saw dan wafat tetap dalam keadaan keimanan.

Sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang mencintai dan dicintai Nabi saw, orang orang mulia, patuh mengikuti jejak Nabi saw dan ta’at dengan segala perintahnya. Mereka tidak ma’shum. Mereka adalah manusia manusia yang tidak terlepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Namun mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta dan nyawa demi agama, taat beribadah kepada Allah dengan setulus hati. Bahkan diantara mereka ada yang dijamain masuk surga yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair bin ’Awwam, Thalhah, Abdurahman bin ’Auf, Saad bin Abi Waqqash, Abu ’Ubaidah bin Jarrah, dan Said bin Zed ra. Karena jasa jasa mereka yang begitu besar, Allah telah memberikan ridha-Nya kepada mereka dan menjanjikan balasan surga di akhirat.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (al-Taubah : 100).

 Kalau Allah telah memberi Ridho-Nya kepada para sahabat, maka sudah seharusnya kita sebagai muslim menghormati mereka dan mendoakan mereka, bukan menyalahkan mereka apalagi melaknat dan mengkafirkan mereka (al-’iyadhu billah).

Kisah Mi’raj Tentang Shalawat Atas Nabi

Diriwayatkan bahwa Rasulallah saw bersabda, “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’

Jibril berkata, “Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.”

Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi, “Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.”

Malaikat itupun berkata, “Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.”

Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, “Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.”

Rasulallah saw pun bertanya, “Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.”

Malaikat itupun menjawab, “Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’ “

Allahuma shalli a’la sayyidina Muhammadin wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim

Wallahu’alam

Iklan

Satu Tanggapan to “♣ Apa itu Shalawat?”

  1. Hasan Alkatiri said

    Sungguh mengesankan tulisannya. Sampai Malaikat tidak bisa menghitung pahala Shalawat untuk Nabi Saw. yang sangat dicintai AllahSWT. Jadi pahala Shalawat lebih besar dari tetesan air hujan. Allahhumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: