Hasan Husen Assagaf

♣ Puasa Bulan Al-Qur’an

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2015

Puasa Bulan Al-Qur’an (1)

Al-Qur’an turun di bulan puasa, khususnya turun di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Turunnya sekali gus 30 jus dari Lauhul Mahfudh ke Baitu ‘Izzah. Kemudian turun berangsur-angsur kepada Rasulallah saw melalui perantaraan Jibril as selama 23 tahun sesuai dengan petistiwa2 tertentu.

Maka dianjurkan pada bulan ini meperbanyak membaca Al-Qur-an dan merenungkan arti-artinya dengan seksama agar mendapat pendekatan kepada Allah dan kecintaanNya.

Pernah salah seorang guru salaf sedang membaca Al-Qur’an di bulan puasa. Tiba tiba seorang muridnya lewat dan mendengar ayat yang dibaca berbunyi:

{ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّ ﺁﻣَﻨُﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕ ﺳَﻴَﺠْﻌَ ﻟَﻬُ ﺍﻟﺣْﻤَﻭُﺩًّا }

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa cinta (kepada Allah)” (Surat Mariyam, 96).

Guru itu mengulang-ulangi ayat tsb dari malam sampai terbit fajar. Lalu muridnya datang kepada gurunya setelah shalat subuh dan bertanya kenapa ia mengulang-ulangi ayat itu. Sang guru berkata: “setiap aku ulangi ayat tsb bertambahlah kecintaanku kepada Allah dan aku terus ulangi agar terus bertambah kecintaanku kepadaNya.

Itulah sebabnya kenapa sang guru mengulang-ulangi kata cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah akan menimbulkan gairah kepada kita untuk melakukan pengabdian sepenuh hati, ikhlas tanpa pamrih. Jika mendapat kecintaan Allah, kita akan medapatkan semuanya. Tanpa kecintaan-Nya, kita akan kehilangan semuanya. Jika mendapatkan kecintaan Allah kita akan mendapatkan hikmah. Dan barang siapa yang diberi hikmah, ia telah diberi kebaikan yang banyak.

Riyadh 3 Ramadhan 1436 atau 20 Juni 2015. Hasan Husen Assagaf

Puasa Bulan Al-Qur’an (2)

Al-Qur’an adalah mukjizah nabi Muhammad saw. Semua mukjizat para nabi habis setelah wafatnya mereka, kecuali mukjizat Rasulallah saw yang tidak putus dan habis walaupun beliau telah wafat.

Al-Qur-an turun kepada Nabi saw selama 23 tahun. 13 tahun turun di Makkah. Dan surat2 yang turun di Makkah sebanyak 86 surat. Surat2 ini dinamakan surat Makkiyah. Dan yang turun di Madinah sebanyak 28 surat. Surat2 yang turun di Madinah dinamakan surat Madaniyah. Jadi jumlah total surat2 Al-Qur’an seluruhnya ada 114 surat dari mulai surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas.

Al-Quran turun di bulan Ramadhan. Makanya bulan Ramadhan dinamakan bulan Al-Quran. Dan para salaf shalih selalu memperbanyak taddarus dan memfocuskan bacaan Al-Quran di bulan Ramadhan secara khusus.

Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali di bulan Ramadhan. Berarti setiap hari dua kali khatam. Imam Ahmad bin Hanbal menutup buku bacaan agamanya di bulan Ramadhan. Ia mengatakan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Imam Malik bin Anas tidak berfatwa dan tidak ngajar selama bulan Ramadhan. Ia mengatakan ini adalah bulan Al-qur’an.

Salah seorang salaf shalih sedang sakit keras di bulan puasa. Ia memanggil semua anak2nya. Melihat keadaan sang ayah, mereka menangis. Sang ayah berkata: “Kalian jangan menangis, sesungguhnya kami mengkhatamkan al-Qur’an di setiap halaqah 10 kali khatam, dan di masjid ada 4 halaqah Al-Qur’an. Itu berarti 40 kali khatam setiap Ramadhan. Sekarang, aku tidak bisa melaksanakan semua itu. Maka inilah yang pantas kalian tangisi.”

Wallahu’alam

Riyadh 4 Ramadhan 1436H atau 21 Juni 2015M. Hasan Husen Assagaf

Lalu Dilanjutkan Dengan Puasa Hati

Puasa yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan puasa. Sorang muslim berpuasa dari terbit matahari sampai tenggelamnya niatnya hanya cukup untuk menjahui hal-hal yang membatalkan puasa. Barang siapa berpegang teguh kepada yang telah ditetapkan syariat, maka puasanya shah dan tidak ada qadha’ atau kafarah baginya, dan tentu mereka akan memperoleh faidah dunia dan pahala akhirat.

Ada lagi yang lebih tinggi dari jenis puasa yaitu puasa hati. Puasa jenis ini amat sulit untuk diikuti. Ini biasanya dilakukan oleh orang-orang shufi. Jenis ini disamping seseorang harus berpuasa perutnya dan seluruh anggota tubuhnya, maka hatinya pun harus berpuasa.

Sekarang, bagaiman hati itu harus berpuasa? Hati berpuasa dari lintasan pikiran yang buruk dan dari sifat yang tercela, itu menurut Hb Abdullah Al-Haddad dalam kitabnya yang populer Nashaih Diniyah. Maksud beliau meskipun pikiran buruk dan sifat jahat terdetik di dalam hati namun puasa mencegahnya untuk tidak dilakukanya.

Nah, kalau kita sudah bisa menyapai kepada kebersihan hati, dan tidak ada yang terdetik dihati kecuali Allah, tidak ada yang dicintai kecuali Allah, tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, berarti hatinya telah menjadi milik Allah. Maka Allah akan menerangi hatinya, menerangi jalannya, menerangi pikiranya sehingga ia akan sampai ke derajat shufi, mencapai derajat sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam kitab Nya,

ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻻَّ ﺗُﻠْﻬِﻴﻬِﻢْ ﺗِﺠَﺎﺭَﺓ ﻭَ لاَ ﺑَﻴْﻊٌ ﻋَﻦ ﺫِﻛْﺮِ ٱﻟﻠَّﻪِ

“Laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah” an Nur 37

Riyadh 5 Ramadhan 1436 bertepatan 22 Juni 2015

Hasan Husen Assagaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: