Hasan Husen Assagaf

♣ Sifat Keturunan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 1, 2015

Sifat Keturunan

Subahanallah, kalau kita teliti sesungguhnya kita ini dibentuk oleh Allah dalam cara yang sangat mengerikan dan menakjubkan. Ilmu pengetahunan genetika mengajarkan pada kita bahwa setelah ibu dan ayah kita bercampur maka terjadi peluang akan lahirnya seorang bayi yang dibentuk sebagian besar hasil dari 24 kromosom bapak dan 24 kremosom ibu. Ke 48 kromosom ini nengandung segala sesuatu yang menentukan bawaan sang bayi. Ini merupakan warisan dari bawaan ayah dan ibu. Begitu pula ayah dan ibu merupakan warisan dari bawaan kakek dan nenek dan seterusnya dan seterusnya.

Apakah itu omongan belaka? Tidak. Ini fakta ilmiah. Kalau anda ingin membaca lebih banyak mengenai hal ini, bacalah kitab ”Anda dan Warisan Bawaan Kelahiran Anda” karangan Amram Sheienfeld.

Sekarang bangaimana menurut Islam? Hal semacam ini telah diungkapkan oleh Rasulallah saw 14 abad yang lalu dalam hadistnya yang berbunyi:

عن  أبي هريرة قال جاء رجل من بني فزارة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال إن امرأتي ولدت غلاما أسود فقال النبي صلى الله عليه وسلم هل لك من إبل قال نعم قال فما ألوانها قال حمر قال هل فيها من أورق قال إن فيها لورقا قال فأنى أتاها ذلك قال عسى أن يكون نزعه عرق قال وهذا عسى أن يكون نزعه عرق : رواه مسلم 

Seorang dari Bani Fazarah datang kepada Nabi saw dan berkata : “Ya Rasullah, istriku telah melahirkan anak berkulit hitam”. (Ia seakan-akan tidak mengakuinya karena ia tidak berkulit hitam).

Rasulullah Saw bersabda: “apakah engkau memiliki unta? “

Lelaki itu menjawab: “ya”

Rasulullah bertanya: ”apa warnanya?”

Lelaki itu menjawab: ”merah”,

Rasulullah bertanya lagi: ”apakah ada warna hitam pada unta itu?”

Lelaki itu menjawab: “sebenarnya kehitam-hitaman, entah dari mana datangnya warna hitam itu?”

Rasulullah saw bersabda: “mungkin karena faktor keturunan” (HR. Bukhari, Muslim dll)

Dari hadits di atas tergambar bahwa faktor keturunan mempengaruhi warna kulit seseorang, paras dan ciri-ciri fisik, hal ini tidak harus diwarisi dari orangtuanya saja tapi bisa juga dari nenek moyangnya, sifat fisik inilah yang disebut sifat keturunan.

Rumusan hadits di atas mengarahkan bahwa Islam sendiri menyukai, untuk keberlangsungan generasi mendatang, agar memilih pasangan dari keturunan yang baik, sehingga di dalam pernikahan tersebut akan melahirkan keturunan yang baik pula

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فإن الْعِرْقَ دَسَّاس – رواه ابن ماجه

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah(benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”. (HR. Ibn Majah).

Dari keturunan yang baik akan keluar pohon dan buah yang baik.. simak berikutnya

Pohon Yang Baik

Kalau kita teliti, Rasulallah saw sendiri tidak memilih pasangan hidup putrinya Fatimah kecuali dengan orang yang dicintainya, yaitu Sayyidina Ali ra. Tidak sedikit dari orang-orang Quraisy pada waktu itu yang ingin menikahinya. Bahkan beritanya ia pernah dilamar oleh Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar ra, sahabat terdeket Rasulallah saw, namun lamaran mereka ditolak secara halus.

Dari pernikahan antara Sayyidina Ali dan siti Fatimah, berkembanglah keturunan Rasulallah saw yang tersebar di seluruh pelosok negeri, Pekembangan ini tidak bisa dibendung walaupun sepanjang sejarah kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mengalami penindasan luar biasa, tapi mereka tetap berkambang dan didapatkan di mana saja di seluruh dunia.

Ini kemungkinan karena do’a Rasulallah saw kepada siti Fatimah putri beliau dan sayyidina Ali ra di saat pernikahan mereka yang sangat sederhana. Doa Nabi saw adalah,”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik”.

Mereka adalah Ahlul-Bait. Dalam bahasa ahlu artinya ahli, penghuni, keluarga, famili atau penduduk. Sedang bait artinya rumah. Jadi ahlul bait adalah penghuni atau keluarga rumah. Dalam tradisi Islam ahlul bait artinya keluarga atau sanak famili Rasulallah saw yang memiliki tali kekeluargaan dengan beliau.

Banyak terjadi perbedaan penafsiran, ada yang menafsirkan ahlul bait itu adalah lima keluarga Nabi saw yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan beliau yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husen dan beliau sendiri. Ada lagi yang menafsirkan ahlul bait adalah keluarga Nabi saw dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya, hingga terkadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya. Mereka, Ahlul-Bait, adalah anggota keluarga Nabi saw yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat.

Mereka diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelangit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Allah. Sayangnya, banyak pula diantara mereka yang tidak bisa mempertahankan keteguhan akarnya sehingga banyak yang berobah menjadi pohon yang merana, tidak tegak, dan tidak menumbuhkan buah yang layak.

Riyadh 19 Ramadhan 1436 / 06 Juli 2015 Hasan Husen Assagaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: