Hasan Husen Assagaf

♣ Madinah Dalam Renungan..

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 8, 2015

Madinah Dalam Renungan…

4

Aku terpaku menyaksikan manusia datang ke Madinah dari seluruh penjuru berziarah kepada putra Abdullah dan Aminah bernama Muhammad saw.

Beliau benar-benar telah menjadi magnet bagi milyaran manusia. Kerna itu, Madinah tak pernah tidur menyambut para penziarah yang datang dari seluruh pelosok dunia hanya untuk memberi salam kepada baginda Nabi saw dan sholat di masjidnya.

Tentu yang sudah pernah berziarah ke makam Rasulallah saw dan para sahabatnya tidak bisa membayangkan bagaimana menyimpan kenangan indah dari cahaya beliau dan pasti di luar dari kesadaran kita air mata mengucur keluar membasahi pipi kita.

Kehebatan kota Madinah bukan saja karena kemegahan masjidnya akan tetapi juga karena bersemayam di dalamnya jasad beliau yang mulia. Di sanalah baru kita merasai keindahan ruhaniah kota Madinah yang membawa negeri itu, berkat Rasulallah saw, menjadi negeri yang penuh barakah.

Bagi yang pernah berziarah ke makam Rasulallah saw, pasti bisa melihat di muka tembok jendela makam beliau, tertulis dua bait syair yg dibuat oleh seorang A’rabi (Arab Badui) sejak ratusan tahun yang lalu. Sayangnya sekarang tulisan itu sudah tidak bisa terbaca lagi karena dihapus dengan cat hijau.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Hafidh al-Syeikh I’mad al-Din Ibnu Katsir dari al-U’tbi, ia berkata: Ketika aku sedang duduk di hadapan makam Rasullah saw, tiba tiba seorang A’rabi datang berziarah kepada beliau dan berkata : “Salam sejahtera atasmu wahai Rasulallah. Sesungguhnya aku mendengar Allah berberfirman “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Al-Nisa’, 64.

“Wahai Rasulallah”, kata A’rabi dengan penuh kekhusyu’an, “aku datang kepadamu untuk memohonkan ampun bagiku dan memberikan kepadaku syafaatmu“. Kemudian A’rabi itu membaca dua bait syair:

ياخير من دفنت بالقاع أعظمه

فطاب من طيبهن القاع والأكم

نفسـي الفداء لقبـر أنت سـاكنه

فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Demikian seterusnya sampai bait yang terakhir dibacakan:

لــو كنت أبصرته حيــا لقلت له

لا تمشي إلا على خدي لك القدم

Artinya:

Wahai jasad termulia di lahad kau bersemayam

Lahad dan tanah ber-semerbak dari semerbakmu

Ku korbankan diriku demi makam kau berdiam

Yang penuh kebijakan, keindahan dan kemurahanmu

Seandainya aku melihatmu sewaktu hidupmu

Maka tak kan biarkan kau berjalan kecuali diatas pipiku

Setelah membaca dua bait syair A’rabi itu keluar. Kemudian aku (al-U’tbi) tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rasulallah saw. Beliau pun berkata kepadaku: “Kejarlah A’rabi itu dan sampaikanlah kepadanya kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya “

Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki telah mengupas riwayat ini dalam kitabnya “Mafahim Yajibu An Tushahah“ bahwa banyak para masyayikh (ulama) meriwayatkan kisah ini, diantaranya: Al-Imam al Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Abul Faraj bin Qudamah dalam kitabnya al Syarhul Kabir, Al Imam al Qurtubi (pakar ilmu tafsir) dalam kitabnya tafsir Al Jami’, dan masih banyak lagi para ulama besar dan pakar ilmu tafsir yang meriwayatkan kisah ini.

Sekarang, apakah kisah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu dhaif jika dilihat dari sanadnya?…

Apakah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu merupakan suatu kekufuran atau kesesatan?…

Apakah yang dibawakan para ulama dan pakar ilmu tafsir itu mengajak kita kepada penyembahan berhala atau kuburan?…

Jika hal itu demikian menurut penapsiran ulama mereka, maka ulama mana lagi yang bisa dipercaya?

Salam Dari Kota Nabi, Hasan Husen Assagaf

 

Sekilas Tentang Madinah

Makam Nabi saw dan dua sahabatnya Abubakar dan Umar ra terdapat di dalam masjid. Makam itu dahulunya rumah Nabi saw.

Tidak berjauhan dengan makam Nabi saw terdapat mimbar Nabi. Dalam hadist disebut

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ ) رواه البخاري ومسلم

“Antara rumahku (makam) dan mimbarku kebun dari kebun2 surga”(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra).

Siapa gerangan yang tidak tergiur untuk shalat di tempat tsb?

Di bekakang makam Nabi saw terdapat rumah siti Fatimah dan Sayyidina Ali ra.

Di dalam madjid Nabawi ada tempat-tempat bersejarah yang tidak begitu dikenal oleh masyarakat muslim seperti Mahbathul Wahyi (tempat turun wahyu), letaknya di muka makam Rasulallah saw, begitu pula Mihrab Rasul saw, Mihrab Utsman bin Affan, Mihrab Sultan Sulaiman al-Rumi, semuanya itu terletak di dalam Masjid Nabawi.

Ada lagi menara-menara yang sangat poluler dan dikenal penduduk kota Madinah yaitu menara Babussalam, menara Bab Utsman bin Affan dan menara Umar bin Khatthab.

Pemakaman Baqi’

2

Pemakaman Baqi’

pemakaman Baqi’ letaknya tidak berjauhan dengan Masjid Nabawi. Baqi’ merupakan pemakaman bersejarah bagi umat Islam. Pemakaman tsb terbuka untuk umum, tapi tempat yang mengarah ke kuburan Siti Fatimah dan karabat Nabi saw tertutup tidak diperbolehkan masuk untuk umum.

Pada tahun 1981 saya dan Almarhum Ustadz Abdurahman AlJufri (Pekojan-Jakarta) pernah memasuki makam Siti Fatimah dan karabat Nabi satu-persatu. Sekarang dilarang memasukinya. Jadi yang berziarah cukup berdiri dan melihat dari kejahuan untuk berdoa dan membacakan surat Fatihah bagi arwah mereka.

Pemakaman Baqi’ yang Rasulallah saw selalu menyebut Baqi’ al-Gharqad, terdapat kurang lebih 10 ribu kuburan sahabat, diantaranya:

Terdapat kuburan Umahatul Mu’minin (istri-istri Rasulallah saw), anak-anak dan ahli bait Rasulullah saw, Fatimah binti Rasulallah saw, Ruqayah binti Rasulallah saw, Ummu Kaltsum binti Rasulallah saw, Zainab binti Rasulallah saw, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Ali Zainal Abidin bin Husein, Muhammad al-Baqir, Ja’far As-Shodik, Ali al-U’raidhi yang baru saja dipindahkan ke Baqi’ setelah kuburan dan masjidnya digusur.

Terdapat pula di Baqi’ kuburan Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), Sufyan bin al Harits, Aqil bin Abi Thalib, Abdulah bin Ja’far al-Thayyar dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebut satu persatu.

Begitu pula terdapat kuburan Sayyidina Utsman bin Affan ra yang terletak disebelah ujung pemakaman, kuburan Abi Said al-Khudhri, kuburan Sa’ad bin Mua’dh, Halimah As-Sa’diyah, dan kuburan syuhada’ al-harrah, pula terdapat kuburan Utsman bin Madh’un, Abdurahman bin A’uf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Masu’ud, Khunais bin Hudhafah, As’ad bin Zararah, Imam Malik.

 

Jabal Uhud

Jabal Uhud letaknya kurang lebih 15 kilomenter dari kota Madinah. Gunung yang dicintai Nabi saw ini, sesuai dengan hadithnya “Uhud gunung yang kita cintai dan mencintai kita“, nampak anggun dan megah. Hampir setiap muslim yang berziarah ke kota Madinah pasti berkunjung ke bukit Uhud mengenang peristiwa terbunuhnya Hamzah, paman Nabi dalam peperangan.

Nampak jelas dibawah kaki bukit Uhud kuburan Sayyidina Hamzah yang berdampingan dengan kuburan Abdullah bin Jahsy (puanakan Hamzah) dan Musha’b bin U’mair. Salawat dan salam serta doa dan fatihah tak lupa kita panjatkan untuk arwah syuhada’ Uhud.

Tempat2 Bersejarah

Di Madinah terdapat beberapa peninggalan sejarah Islam seperti masjid Quba’, masjid pertama yang dibangun Rasulallah, terletak di sebelah selatan kota Madinah berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Masjid Nabawai. di masjid Quba’ disunnahkan sholat dua raka’at mengambil barakahnya Nabi saw. Rasulallah selalu shalat sunah dua raka’at di masjid Quba’ jika tiba dari pepergian baik berkendaraan onta atau berjalan kaki “ – Muttafaqun alaih.

Di Madinah terdapat pula masjid Qiblatain (dua kiblat). Masjid ini dinamakan masjid Qiblatain (masjid Dua Kiblat), karena ketika Rasulallah mengimami shalat di masjid ini, tiba-tiba turun firman Allah yang memerintahkan Nabi mengubah kiblat ke Masjidil Haram di Makkah : “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke aranya.”- al-Bakarah,144. Suatu putaran sekitar 180 derajat semula kiblat kaum Muslim adalah Masjid al-Aqsa di Jerusalem, dan sejak Nabi menerima perintah Allah itu, kiblat muslimin berubah di Makkah hingga akhir zaman. Di sana disunahkan shalat sunnah dua raka’at mengambil barakah Nabi saw.

Masih banyak lagi masjid-masjid di Madinah yang merupakan sebagai peninggalan sejarah Islam yang patut diziarahi dan dihargai seperti Masjid al-Juma’t yang terletak di wadi Ranuna sebelah kiri dari Masjid al Quba’. Di Masjid ini Rasulallah dan sahabatnya pertama kali medirikan sholat Juma’at.

Begitu pula masjid al Ghumamah, masjid al-Fath, masjid Abubakar Siddik ra, masjid Fatimah al-Zahra’, masjid Umar bin Khathab, masjid Ali bin Abi Thalib, masjid Bilal, juga tedapat bekas peninggalan perang khandak (perang Parit), dimana kaum muslimin menggali parit yang membentengi kota Madinah, dan tidak sedikit peningalan sejarah Islam di Madinah yang tidak bisa disebut satu persatu.

Semoga Allah takdirkan kita bisa datang ke kota yang penuh dengan cahaya Nabi saw.

Salam Dari Kota Nabi, Hasan Husen Assagaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: