Hasan Husen Assagaf

Arsip Penulis

♣ Apakah air Zam Zam bisa dijadikan obat?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 4, 2018

Oleh: Hasan Husen Assagaf

zam-zam1

 

Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 30:
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”

SETELAH diciptakan Adam dari tanah dan Hawa dari tulang rusuknya, Allah menciptakan anak cucunya dari setetes air yang terpancar keluar dari tulang sulbi yang jika ditimbang beratnya hanya beberapa gram. Di dalam air itu terkandung jutaan mahluk hidup (sperma), jika seandainya semuanya dengan seizin Allah menjadi manusia maka cukup dari setetes air bisa menjadi penduduk satu negara. Tapi dari kekusaaan Allah, yang jadi dari jutaan makhuk itu hanya satu yang paling unggul.

Zaman dulu, air merupakan sumber penghidupan yang sangat berharga dan mempunyai peran yang penting sekali. Di mana ada air disitu ada penghidupan. Tidak ada air berarti tidak ada penghidupan. Orang-orang Baduwi suka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena mencari air. Tak heran, kadang kadang terjadi peperangan besar antara dua kabilah hanya karena air.

Menurut Fatul Bari (Bab: kitab Al-Anbiya’), bahwa Kabilah Jurhun yang hidup di Jaziraul Arab senang sekali berhijrah. Tapi setelah melihat ada tanda wujudnya air Zam Zam di kota Makkah, mereka segera membuat perkampungan dan mendirikan kemah-kemah di sekitarnya. Tentu yang pertama kali menemukan Zam Zam adalah  seorang wanita yang tak punya tempat bernaung, tak berdaya, namun penuh iman, ikhlas, dan ta’at, dangan harapan agar kelak menjadi symbol keimanan dimasa mendatang. Dialah siti Hajar, istri Ibrahim as, Disaat akan ditinggalkan suaminya, ia menyeret jubbahnya seraya berkata: “Kemanakah engkau hendak pergi?, dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada penghuni? Apakah Allah yang menyuruhmu?” Nabi Ibrahim as menjawab: “Ya”. Hajar berkata: “Jika demikian pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.

Setelah perbekalan Hajar habis ia tinggalkan anaknya di sebuah pohon yang rindang dan berusaha (sa’i) mencari air. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang dan bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti ia melakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah.Ternyata ia tidak memperoleh air. Air kehidupan yang penuh dengan kenikmatan dan keberkahan itu justru muncrat deras dari pasir gersang yang dikorek-korek tumit si bayi. Maka keluarlah air Zam Zam.

Subhanallah, dari pasir gersang itu keluarlah air. Mulai saat itu Makkah yang dulu merupakan kota tandus, gersang, tak ada pepohonan yang tumbuh, dan tidak ada penghuni yang hidup, berkat nabi Ismail as, datok nabi kita Muhammad saw, menjadi kota yang subur, makmur dan terlimpah didalamnya aneka ragam dari keberkahan Allah. Semua ini karena air Zam zam yang keluar deras dari tumit nabi Ismail.

11  2  3

Mulut Sumur Zam Zam di tahun 1320H (1903M)

Maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah, kabilah Jurhum mulai berdatangan ke sana untuk menetap dan mendudukinya. Campur baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismalil tak bisa dielakan. Dari sana, terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari, bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Itulah sebahagian dari keunggulan dan keistimewaan air Zam Zam.

Hari berganti hari dan zaman berganti zaman, sehingga datanglah hujan lebat dan banjir dahsyat yang membuat telaga Zam Zam lenyap dan tidak ada tanda-tanda untuk mengetahuinya lagi. Ini menurut riwayat Yaqut Al-Hamawi. Adapun menurut pendapat yang benar bahwa sumur Zam Zam ditimbun dan dihilangkan tanda-tandanya oleh kabilah Jurhum disaat mereka akan meninggalkan kota Makkah.

Telaga Zam Zam terus lenyap dari permukaan bumi Makkah dan tidak diketahui tempatnya, hingga Abdul Muttalib, kakek Nabi Muhammad saw, memangku jabatan sebagai pemberi makan dan minum jama’ah haji. Dengan ru’ya shadiqah (impian yang benar) ia akhirnya ditunjukan Allah tempat sumur Zam Zam yang tidak pernah kering airnya dan tidak pernah surut. Sumur ini dinamakan Zam Zam karena airnya yang sangat banyak dan Zam Zam dalam bahasa Arab berarti banyak dan berkumpul. Seandainya siti Hajar disaat menemukannya tidak mengumpulkan pasir di sekitar tempat air memamcar dan tidak menciduknya maka air Zam Zam akan mengalir terus sehingga bisa menenggelamkan semuanya.

Hikmah dan astar:

1- Dari salah satu bukti yang menunjukan keutamaan Zam Zam adalah saat malaikat Jibril as membelah dada Rasulallah saw, ia membasuhnya hati beliau dengan Zam Zam. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Dhar Al-Ghifari bahwa Rasulallah saw bersabda: “ Atap rumahku dibuka saat aku berada di Makkah dan Jibril as turun dan membelah dadaku kemudian ia membasuhnya dengan Zam Zam. Lalu ia membawa bejana besar terbuat dari emas berisi hikmah dan keimanan dan menuangkannya ke dalam dadaku. Kemudian ia menutupnya. Lalu ia memegang tanganku dan membawaku ke langit”

2- Mujahid berkata: “Aku tidak pernah melihat Ibnu Abbas ra memberi makan seseorang kecuali ia juga memberikan air Zam Zam untuk diminum. Ia juga mengatakan setiap kali tamu datang berkunjung Ibnu Abbas akan menjamunya dengan air Zam Zam.

3- Diantara keistimewaan air Zam Zam adalah bahwa Rasulallah saw menjadikan siapa yang meminumnya sampai kenyang akan dibersihkan hatinya dari sifat munafik

4- Diriwayatkan dari Jabir ra bahwa Rasulallah saw meminta seember air Zam Zam, lalu beliau meminumnya dan memakainya untuk berwudhu’.

5- Dalam kitab Shahih diriwatkan; saat Abu Dzar telah memeluk Islam, ia berkata: “Ya Rasulallah saya berada di sini selama 30 hari”, beliau bersabda: “Siapa yang memberimu makan?”, ia berkata: “Aku tidak mempunyai makanan apapun jua hanya air Zam Zam, tapi berat badanku bertambah sehingga aku dapat merasakan lipatan lemak pada perutku, dan aku tidak merasa lapar sama sekali”. Lantas beliau bersabda: “Zam Zam diberkahi dan mengandung makanan bergizi”.

Ada puluhan kisah yang saya tidak bisa bawakan disini tentang hasiatnya air Zam Zam dan bagaimana orang yang menderita penyakit dimana dokter menyerah dan putus harapan terhadap kesembuhanya, tapi dengan seizin Allah mereka dapat diobati dengan air Zam Zam dan khasiyatnya yang tersembunyi. Sungguh Rasulallah saw telah bersabda “Didalamnya terdapat makanan bergizi dan dapat menyembuhkan penyakit”

Wallahua’alm

Iklan

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Apakah Air Hujan Bisa Dijadikan Obat ?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 4, 2018

 

Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,” (QS. 25:48)

Itulah ayat suci Al-Qur’an yang menerangkan tentang “Air Hujan”. Dan masih banyak lagi yang tertera di dalamnya.

Air hujan adalah air murni. Air yang jatuh dari langit tidak mengandung mineral karena tidak bersentuhan dengan tanah atau batu atau percampuran lainnya yang memberikan efek buruk. Kita tahu dan mengalami sendiri bahwa udara saat hujan lebih sehat untuk bernafas dan segar. Karena hujan menggerakkan racun di udara bersama debu dan menghilangkan polusi lainnya.

Sebuah studi pernah bilang bahwa air hujan bisa dibuat untuk minum. Itu memang bisa saja dilakukan jika dikumpulkan dalam wadah bersih. Apalagi air hujan yang langsung berasal dari langit tanpa menyentuh permukaan kotor. Disamping itu hujan mempunyai aroma menenangkan sekaligus menyenangkan. Suara gemercik hujan bisa membuat manusia tenang dan senang.

Hujan bisa dilihat dari segala sudut pandang. Dari sudut agama hujan itu merupakan rahmat dan bisa pula sebagai bencana. Kali ini ana mau berbagi pengalaman dan resep bagaimana air hujan bisa dijadikan sebagai rahmat dan obat.

Perkembangan akhir zaman, banyak penyakit menyebar pada manusia yang sulit untuk diobatinya. Biasanya penyakit tersebut terkena pada orang yang berusia lanjut bahkan kadang kadang terkena juga bagi yang berusia muda. Hal ini tidak lain karna factor cara yang salah dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah berbaur dengan bahan pengawet dan zat kimia, sehingga dengan inilah menjadi efek mudahnya terkena penyakit fatal yang telah beredar pada saat ini.

Maka disini sedikit ana berikan referinsi dari terjemahan kitab An-Nawadir halaman 194 karya Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi (*) yang menyatakan obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan segala penyakit adalah “air hujan”. Air hujan bisa juga bermanfaat bagi perempuan yang lama belum mendapat keturunan, insya Allah dan dengan kehendak Allah bisa hamil setelah meminum obat ini disertai tidur bersama suaminya tentu didahulukan dengan do’a kepada Allah, karena Dia-lah sebaik baiknya Dzat yang bisa memnyembuhkan.

Lihat terjemahan kitab Syeikh Al-Qalyubi dibawah ini:

فائدة :  روي انه صلى الله عليه وسلم قال : علمني جبريل دواء لا احتاج معه الى دواء ولا طبيب ، قال ابو بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم : وما هو يا رسول الله ؟ إن بنا حاجة الى هذا الدواء ، قال: يؤخذ شيئ من ماء المطر وتتلى عليه فاتحة الكتاب ، وسورة الاخلاص ، والفلق ، والناس وآية الكرسي ، كل واحدة سبعين مرة ويشرب غدوة وعشية سبعة أيام  ، فو الذي بعثني بالحق نبيا لقد قال لي جبريل أنه من شرب من هذا الماء رفع الله من جسده كل داء وعافاه من جميع الامراض والأوجاع ، ومن شقي منه امرأة ونام معها حملت بإذن الله تعالى و يشفي العينين ويزيل السحر ويقطع البلقم ويزيل وجع  الصدر والاسنان والتخم العطش وحصر البول ولا يحتاج الى حجامة ولا يحصى ما فيه من المنافع الا الله تعالى وله ترجمة كبير اختصرناها و الله اعلم – من كتاب النوادر ص 194 تأليف الشيخ شهاب الدين بن سلامة القليوبي

Artinya

“FAIDAH”: Diriwatkan bahwasanya Nabi saw bersabda dihadapan para sahabatnya: “Sesungguhnya Malaikat Jibril as telah mengajarkan kepadaku tentang satu obat yang tidak memerlukan kepada obat lain dan tidak pula membutuhkan kepada dokter”. Kemudian Abubakar, Umar , Utsman dan Ali ra bertanya: “Apa gerangan obat itu wahai Rasulallah? Sesungguhnya kami sangat membutuhkannya?”.

Rasulallah saw berkata: “Ambil-lah secukupnya dari air hujan, lalu bacakanlah surat Fatihah, surat Al-Ikhlash , surat Al-Falaq, surat An-Nas dan Ayat Kursi, masing-masing dibaca 70 kali dan diminum pada setiap pagi dan sore selama tujuh hari berturut-turut. Demi Dzat Yang Mengutusku dengan kebenaran sebagai seorang nabi”, kata Rasulallah saw: sesungguhnya malaikat Jibril telah menyatakan kepadaku: barang siapa yang meminum air tsb (air hujan yang telah dibacakan trb) niscaya Allah akan menghilangkan semua penyakit yang ada dalam tubuhnya dan menyembuhkan dari segala penyakit yang ada. Dan barang siapa yang memberi air itu untuk seorang perempuan kemudian kumpul bersama suaminya, niscaya perempuan itu akan hamil dengan seizin Allah. Dan air tersebut juga bisa menyembuhkan penyakit mata , dan kena mata, bisa pula menghilangkan penyakit sihir, menghilangkan dahak, menghilangkan sakit dada, sakit gigi, sakit pencernaan, kesembelit, dan kecing tidak lancer (prostate). Semua penyakit ini disembuhkan tanpa perlu untuk dibekam. Dan masih banyak lagi faidah-faidah lainnya yang tidak terhitung kecula oleh Allah.

Sumber: kitab An-Nawadir halaman 194 karya Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi.

Nah.. sekarang kita tahu apa manfaat dan keberkahan air hujan. Pernahkah anda hujan-hujanan? Sudahkah selama ini memanfaatkan air hujan sebagai air minum yang sangat berkhasiat? Bacalah ini, praktekkanlah dan yakinilah!! Insya Allah bermanfaat.

Cobalah tampung air hujan yang turun langsung dari langit, lalu diamkan sebentar kemudian masukan ke dalam wadah gelas bening. Setelah itu masukan ke dalam freezer kulkas. Beberapa jam setelah beku, lihatlah. Ada banyak kristal-kristal indah di dalamnya. Mengapa? Ini menandakan air hujan adalah air yang sehat kaya dengan oksigen.

Ternyata mandi hujan sangat bermanfaat untuk kesehatan dan meminum air hujan menyempurnakannya. Air hujan juga ternyata bisa dijadikan sebagai bahan terapi untuk menghilangkan stress, penyakit dalam dan meningkatkan kesuburan kandungan, dan ini sudah banyak dipraktekkan.

Menurut Water Rhapsody (www.waterrhapsody.co.za/) air hujan sangat bermanfaat, diantaranya:

  1. Air hujan bisa menyehatkan rambut. Dikutip dari Water Rhapsody www.waterrhapsody.co.za/, orang-orang Barat zaman dahulu percaya bahwa mencuci rambut dengan air hujan dapat membuat rambut jauh lebih sehat dan bersinar. Dikutip dari Rainwater Connection, air yang turun dari langit ini memiliki kadar kenetralan PH yang hampir sempurna, bebas garam, dan bebas mineral yang buruk bagi rambut. Jadi air hujan merupakan materi paling netral yang dapat kita gunakan untuk mencuci rambut.
  2. Air hujan mengandung H2O2 ( Hidrogen Peroksida ). Air hujan juga mengandung H2O2 (Hidrogen Peroksida). H2O2 dapat dijadikan holistic healing atau “terapi pengobatan”. Ternyata sampai sekarang produk H2O2 yang ada di Indonesia masih impor. Padahal di dalam air hujan ada kandungan H2O2 ini (bersifat anorganik)
  3. Air Hujan mengandung unsur Nitrogen. Nitrogen merupakan faktor utama dalam penciptaan protein penting untuk penciptaan materi genetik dalam tubuh manusia. Nitrogen diperlukan untuk semua bentuk kehidupan. Jadi meminum air hujan memungkinkan tubuh untuk memanfaatkan nitrogen, mendorong sintesis protein dan penciptaan senyawa dan asam amino yang mempengaruhi pertumbuhan, hormon, fungsi otak dan sistem kekebalan tubuh.
  4. Air Hujan bisa menghilangkan bau amis. Kalau kita habis makan ikan atau daging, terkadang bau amis pada telapak tangan sulit untuk hilang walaupun kita cuci tangan pakai sabun. Nah salah satu manfaat air hujan adalah dapat menghilangkan bau amis. Coba dan buktikan cuci tangan pakai air hujan, pasti bau amis pada jari tangan kita akan hilang meskipun tanpa menggunakan sabun.
  5. Air Hujan bisa menghilangkan toksin (racun) dalam tubuh. Larutkan garam pada air hujan segar, lalu rendamlah telapak kaki kita selama ± 15 menit. Lakukan secara rutin setiap kali turun hujan. Usahakan air hujan murni yang digunakan.

Ternyata mandi hujan bisa juga untuk terapi stress baik bagi wanita maupun pria. Pola dasarnya adalah pengejutan system syaraf yang terletak dibawah jaringan kulit. Kalau kita hujan-hujanan selama 10 menit saja, maka ribuan butir air hujan akan memukul kita. Pukulan air hujan tersebut dapat mengejutkan ribuan system syaraf yang tersebar di seluruh tubuh. Berdiri atau duduklah di alam terbuka sambil terus merasakan butiran-butiran air hujan menyentuh kulit, berdoalah untuk ketenangan batin. Rasakan kesegaran jiwa maupun raga setelah hujan-hujanan, lebih fress dan menenangkan.

Ternyata setelah dibuktikan bahwa Air Hujan bisa membuat kesuburan kandungan. Subhanallah. Tunggulah hujan berlangsung minimal 10 menit lamanya (Jangan lakukan di hujan pertama setelah kemarau), Lalu berdiri hujan-hujanan di alam terbuka menghadap kiblat dan air hujan yang turun langsung mengenai tubuh hingga benar-benar membasahi seluruh tubuh. Dalam hal ini sangat dianjurkan untuk tetap menutup aurat.

Sementara anda hujan-hujanan, taruhlah wadah untuk menampung air hujan murni, air hujan murni adalah air hujan yang turun langsung dari langit tanpa perantara genting maupun talang. Minumlah air hujan yang berhasil ditampung dengan terlebih dahulu berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakitnya diangkat atau diberikan keturunan bagi yang tidak punya anak. Minumlah air hujan secukupnya, tidak terlalu sedikit dan jangan berlebihan. Yakinilah, karna keyakinan akan membantu keberhasilan dalam pengobatan.

Jadi kesimpulannhya, apa yang dikatakan Rasulallah saw dalam kitab An-Nawadir halaman 194 karya Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi itu benar dan yakin bahwa Air Hujan yang diturunkan dari langit bisa menyembuhkan penyakit kemandulan, bisa menyembuhkan penyakit mata , dan kena mata, penyakit dalam, bisa pula menghilangkan penyakit sihir, menghilangkan dahak, menghilangkan sakit dada, sakit gigi, sakit pencernaan, kesembelit, dan kecing tidak lancer (prostate), dan masih banyak lagi penyakit yang sulit diobati thabib. Semua itu bisa terjadi dengan kehendak Allah dan dengan sebab Air Hujan.

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

(*) Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi. Beliau berasal dari Qalyub, Mesir. Tahun kelahiran beliau ttidak diketahui secara pasti. Beliau terkenal sebagai pakar fiqih dari kalangan Mazhab Syafi’i dan menguasai berbagai ilmu. Diantara kitab karya karangan adalah Hasyiyah al Qaliyubi ‘ala Mahalli dan Manasik Haji. Syekh Syihabuddin al-Qalyubi wafat pada akhir bulan Syawal tahun 1069 H, ada juga yang berpendapat dan mengatakan beliau wafat pada tahun 1070 H.

Kitab-kitab beliau:

  • Hasyiyah Syarah al Jurumiyah, (Nahwu)
  • Hasyiyah Syarah Isaguji, (Manthiq)
  • Hasyiyah Syarah Thahir, (Fiqih)
  • Majma’ul Muhibbin, (Fiqih)
  • Manasik Haji
  • Al Jami, (ilmu Thib)
  • Tadzkirah al Qaliyubi, (kesehatan)
  • An-Nawadir
  • Hasyiyah al Qaliyubi, Hasyiyah kitab Mahalli

Salah satu kitab karangan dia sangat terkenal di Indonesia, yakni kitab Hasyiyah al Qaliyubi karena diletakkan dalam satu kitab yang terkenal dengan nama “Al Mahalli”.

Daftar Pustaka:

Abbas, Sirajuddin (2011). Ulama Syafi’i dan kitab-kitabnya dari abad ke abad. Jakarta, Indonesia: Pustaka Tarbiyah Baru. ISBN 978-979-26-4317-6.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Hubungan Sahabat Dengan Ahlul Bait Nabi saw

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Oktober 6, 2015

Sebelumnya mari kita telaah hubungan Nabi saw dan sahabatnya

 

keturunan-page-001

Rasulallah saw menikah dengan Siti Khadijah binti Khuailid ra mendapat keturunan anak yaitu Qasim, Zainab, Abdullah, Ruqayah, Ummu Kalstum dan Fatimah. Dan yang dari istrinya Mariyah Al-Qibthiyah, Rasulallah saw mendapat keturunan anak yaitu Ibrahim. Anak2 laki Nabi saw Qasim, Abdullah dan Ibrahim semuanya meninggal semasi kecil. Anak2 perempuannya semuanya hidup sampai berumah-tangga.

  1. Zainab puteri Nabi saw dinikahi Abul-Ash bin Ar-Rabi’ ( dari keturunan Bani Umayah). Dari perkawinan ini mendapat anak dua yaitu Ali dan Umamah. Yang Umamah dinikahi Ali bin Abi Thalib ra setelah wafatnya Fatimah ra.
  2. Ruqayah puteri Nabi saw dinikahi Ustman bin Affan ra
  3. Ummu Kalstum puteri Nabi saw dinikahi Ustman bin Affan ra setelah wafatnya Ruqayah.
  4. Fatimah puteri Nabi saw dinikahi Ali bin Abi Thalib ra. Dari perkawinan Ali dan Fatimah mendapat keturunan anak lima, yaitu Hasan, Husen, Ummu Kaltsum, Zainab dan Muhsin. Yang bernama Ummu Kalstum puteri Ali ra dinikahi Umar bin Khattab ra. 

 

Keturunan Abu Bakar Siddik ra

keturunan-page-002

Abu Bakar Siddik ra mendapat keturunan anak lima yaitu Ummu Kaltsum, Asma’, Aisyah, Abdurahman dan Muhammad.

  • Aisyah binti Abubakar ra dinikahi Nabi saw
  • Asma’ binti Abubakar ra dinikahi Zubair bin Awam ra. Dari perkawinan ini asma’ mendapat keturunan anak tiga yaitu Mus’ab, Abdullah dan Hindun. Yang Mus’ab menikah dengan Sakinah binti Husen bin Ali ra. Yang Abdullah menikah dengan Umul Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dan yang Hindun menikah dengan Abbas bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib.
  • Abdurahman bin Abubakar mendapat keturunan anak tiga yaitu Muhammad, Hafshah dan Asma’. Yang Hafshah dinikahi Hasan Bin Ali bin Abi Thalib. Yang Asma dinikahi Qasim bin Muhammad bin Abubakar. Dari pernikahan Asma’ dan Qasim mendapat keturunan anak bernama Fatimah yang kemudian dinikahi Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali ra. Dari perkawinan ini mendapat keturunan anak Ja’far As-Shadiq.
  • Muhammad bin Abubakar mendapat keturunan anak satu bernama Qasim yang sudah disebut diatas menikah dengan Asma’ bin Abdurahman bin Abubakar dst.  

 

Keturunan Umar bin Khattab ra.

keturunan-page-003

Umar bin Khattab ra  mendapat keturunan anak empat yaitu Hafshah, Ashim, Ruqayah dan Zeid

  • Hafshah binti Umar ra dinikahi Nabi saw
  • Ibunya Ruqayah dan Zeid bin Umar bin Khattab adalah Ummu Kalstum bin Ali bin Abi Thalib ra.
  • Ashim bin Umar bin khattab menikah dengan anaknya Ramlah binti Ali bin Abi Thalib.   

 

Keturunan Ustman bin Affan ra

 

keturunan-page-004

Ustman bin Affan ra mendapat keturunan anak tiga yaitu Amr, Aban dan Umar

  • Amr bin Ustman bin Affan mendapat anak laki laki bernama Abdullah Al-Muthrif yang kemudian menikah dengan Fatimah binti Husen bin Ali ra setelah wafat suaminya yang pertama Hasan Al-Mustanna. Dari perkawinan ini  mendapat keturunan anak bernama Muhammad Ad-Dibaj.
  • Aban bin Ustman bin Affan menikah dengan Ummu Kalstum bin Abdullah bin Jafar At-Thayyar. Dari perkawinan ini mendapat anak bernama Marwan. Ia (Marwan) kemudian menikah dengan Umu Al-Qasim binti Hasan Al-Mustana setelah dinikahi Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
  • Umar bin Ustman bin Affan mendapat keturunan anak laki laki bernama Zaid yang kemudian menikah dengan Sakinah binti Husen bin Ali ra  

 

Keturunan Ali bin Abi Thalib

keturunan-page-005

Sebelumnya telah disebut bahwa Ali bin Abi Thalib ra menikah dengan Fatimah puteri Nabi saw mendapat keturunan anak lima yaitu Hasan, Husen, Ummu Kaltsum, Zainab dan Muhsin.

  • Umu Kalstum binti Ali bin Abi Thalib dinikahi Umar bin Khattab ra.

Kemudian Ali bin Abi Thalib ra menikah lagi setelah wafatnya Siti Fatimah ra. Beliau mendapat keturunan anak banyak diantaranya: Abbas, Umar Al-Akbar, Fatimah, Abu Bakar, Umar Al-Ashghar, Ustman Al-Akbar, Ramlah, Umu Kalstum, Umul Hasan dan Muhammad.

  • Abbas dan Umar Al-Akbar bin Ali bin Abi Thalib ra mati syahid bersama saudaranya Husen bin Ali ra di Karbala.
  • Fatimah binti Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Mundzir bin Obaid bin Zubair bin Awam.
  • Ramlah bin Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Muawiyah bin Marwan bin Al-Hakam. Dari perkawinan ini mendapat keturunan anak satu perempuan yang kemudian dinikahi oleh Ashim bin Umar bin Khattab.
  • Umu Kalstum binti Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Umar bin Khattab ra
  • Umul Hasan binti Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Abdullah bin Zubair bin Awam.  

 

Keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra

keturunan-page-006

Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra mempunyai keturunan anak yaitu Umul Hasan, Abu Bakar, Umar dan Hasan Al-Mustanah

  • Umul Hasan binti Hasan bin Ali ra dinikahi Abdullah bin Zubair bin Awam.
  • Abubakar dan Umar bin Hasan bin Ali mati syahid bersama Husein bin Ali ra di Karbala.
  • Hasan Al-Mustana bin Hasan bin Ali ra mendapat keturunan anak tiga yaitu Umul Qasim, Muhammad dan Zainab. Umul Qasim binti Hasan Al-Mustana menikah dengan Marwan bin Aban bin Ustman bin Affan. Muhammad bin Hasan Al-Mustana ibunya bernama Ramlah bin Said bin Zaid (10 sahabat yang dijamin masuk surga). Dan Zainab binti Hasan Al-Mustana menikah dengan Walid bin Abdul Malik bin Marwan (dari bani Umayyah).  

 

Keturunan Husen bin Ali ra

keturunan-page-007

 

Husen bin Ali bin Abi Thalib mempunya keturunan yaitu: Ali Zainal Abidin As-Sujjad, Abu Bakar, Umar, Fatimah, Sakinah)

  • Ali Zainal Abidin As-Sujjad yaitu satu-satunya keturunan Husen bin Ali ra yang berkembang biak tidak terputus-putus sampai akhir zaman. Beliau mendapat keturunan anak tiga yaitu: Aisyah, Muhammad Al-Baqir, Umar Al-Asyraf
  • Fatimah binti Husen bin Ali ra menikah dengan Abdullah bin Amr bin Ustman bin Affan ra
  • Sakinah binti Husen bin Ali ra menikah dengan Zaid bin Umar bin Ustman bin Affan. Kemudian menikah lagi dengan Mus’ab bin Zubair bin Awam.
  • Muhammad Al-Baqir mendapat keturunan Jafar As-Shadik.. dst dst..

 

Sekarang, setelah kita mengetahui silsilah hubungan sahabat Nabi saw dengan Nabi dan Ahlul Bait, mari kita telaah siapa itu Ahlul Bait Nabi saw dan siapa itu sahabat Nabi saw?

Cinta kepada Ahlul Bait adalah hal yang wajib dan disarankan oleh agama, tidak sempurna agama seseorang jika tidak dikaitkan kecintaanya kepada Nabi saw, keluarga dan sahabatnya. Ahlul Bait Nabi saw adalah orang yang paling dekat dengan beliau, yang secara khusus dicintai, dihormati, dan dipeliharanya. Allah memuliakan mereka dan secara khusus dijaga agar tetap suci dan dijauhkan dari kekejian.

”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab, 33)

Telah sama kita maklumi, Rasulullah adalah nabi dan rasul Allah kepada seluruh manusia. Keberadaan beliau merupakan rahmat bagi alam semesta. Ayat Al-Quran secara tegas menyatakan hal tersebut, “Dan kami tidak mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’,: 108).

Beliau juga rasul yang paling dicintai oleh Allah dan diberi gelar Al-Habib Al-A`zham (Kekasih yang Teragung). Kecintaan Allah kepada beliau telah dibuktikan dari akhlaq beliau yang begitu luhur. Dalam ayat lain dikatakan, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam: 4).

Tak ada yang mengingkari betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Rasulullah saw kepada umat manusia bahkan kepada alam semesta. Dengan risalah yang Allah perintahkan untuk disampaikannya, beliau telah menunjukkan jalan yang lurus, telah mengalihkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Beliau telah berjasa membawa umat manusia untuk mengenal Allah, Pencipta mereka.

Melalui beliaulah kita mengenal Allah dan mengenal apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarang Allah. Melalui beliau pula kita mengetahui bagaimana cara-cara mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan, bagaimana menjalani kehidupan sehari hari dalam segala segi. Makanya kita tidak akan sanggup menghitung jasa-jasa Nabi saw yang sangat besar bagi umat manusia. Sekarang, apa balasan setimpal yang patut diberikan kepada beliau atas jasa jasa yang telah diperbuatnya dalam menyampaikan risalah?

Allah berfirman:

قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

“Katakanlah Wahai Muhammad, aku tidak minta balasan apapun atas risalah yang aku sampaikan pada kalian kecuali kecintaan kalian terhadap keluargaku” (as-Syuro, 23)

Ayat ini menjelaskan bahwa satu-satunya balasan setimpal yang harus dipersembahkan kepada Rasulallah saw atas jasa-jasa beliau yang begitu besar dalam penyampaian risalah Allah adalah kecintaan terhadap keluarga beliau. Atau dapat pula disimpulkan bahwa kecintaan kepada mereka adalah kewajiban Ilahi sebagai balasan umat atas risalah yang telah disampaikan oleh beliau. Allah menjadikan kecintaan pada Ahlul Bait adalah jalan menuju kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ahlul-Bait dalam bahasa ahlu artinya ahli, penghuni, keluarga, famili atau penduduk. Sedang bait artinya rumah. Jadi ahlul bait adalah penghuni atau keluarga rumah. Dalam tradisi Islam alhul bait artinya keluarga atau sanak famili Rasulallah saw yang memiliki tali kekeluargaan dengan beliau. Banyak terjadi perbedaan penafsiran, ada yang menafsirkan ahlul bait itu adalah lima keluarga Nabi saw yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan beliau yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husen dan beliau sendiri. Ada lagi yang menafsirkan ahlul bait adalah keluarga Nabi saw dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya, hingga terkadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya.

Mereka yang menyatakan bahwa Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Nabi saw yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat, seperti keluarga Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Hasan dan Husain) serta keturunan mereka. Juga keluarga Abbas bin Abdul-Muththalib, serta keluarga-keluarga Ja’far dan Aqil yang bersama Ali merupakan putra-putra Abu Thalib.

Adapun hadits yang terkuat dalam hal yang bersangkutan denga alhul Bait adalah hadits atsaqalain yang disebut dibawah ini

”Kutinggalkan di tengah kalian dua peninggalanku: Kitabullah dan keturunanku, ahlul baitku. ” (HR Muslim)

Pekembangan Ahlul Bait tidak bisa dibendung walaupun sepanjang sejarah kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mengalami penindasan luar biasa, tapi mereka tetap berkambang dan didapatkan di mana saja di seluruh dunia. Ini kemungkinan karena do’a Rasulallah saw kepada siti Fatimah putri beliau dan sayyidina Ali ra di saat pernikahan mereka yang sangat sederhana.

Doa Nabi saw adalah,”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik”

Disamping kewajiban kita sebagi muslim mencinta Ahlul Bait, kita diharuskan pula mencintai para sahabat Nabi saw. Karena mereka adalah manusia manusia mulia yang hidup di zaman Nabi saw, mengenal dan melihat Nabi saw, membela Nabi saw di saat kesusahan dan kesenangan, dan mereka wafat dalam keadaan muslim.

Bahkan diantara mereka ada mempunyai hubungan karabat dengan Nabi saw misalnya empat khulafur Rasyidin, terutama Ali bin Abi Thalib ra disamping ia adalah menantu Nabi saw (menikah dengan siti Fatimah puteri Nabi saw) juga ia adalah sepupu Nabi saw. Begitu pula Utsman bin Affan yang merupakan putra dari sepupu Nabi saw yakni Arwa (putri dari bibi Nabi saw, al-Baidha’ binti Abdul Muththalib), ia juga menikah dengan dua putri Nabi saw secara bergantian yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum ra. Sedangkan Umar bin Khattab merupakan mertua Nabi saw. Beliau menikah dengan Hafshah binti Umar bin Khattab ra. Begitu pula Abu Bakar Siddiq merupakan mertua Nabi saw, karena ’Aisyah putri Abu Bakkar ra dinikahi Nabi saw.

Jelasnya, kita tidak bisa meragukan hubungan baik antara para sahabat Nabi saw dan keluarga Nabi (Ahlul bait) sebagaimana diterangkan dalam silsilah hubungan mereka diatas. Mereka semua sahabat Nabi saw yang sangat dekat hubungannya dengan Nabi saw dan Ahlul Bait. Mereka semua mencintai Nabi saw dan Ahlul Bait. Inilah salah satu alasan mengapa Nabi saw sangat mencintai para sahabatnya. Beliau tidak segan-segan memuji para sahabatnya dan menyebutnya sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam.

“Dari sahabat ‘Imron bin Hushain ra ia berkata. Nabi saw bersabda, ”Sebaik-sebaik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya lalu generasi sesudahnya”. (Shahih al-Bukhari).

Sebagai manusia tentu para sahabat Nabi saw tidak luput dari kesalahan dan terjadi antara mereka perselisihan faham bahkan sampai terjadi kekhilafan. Tapi semua ini tidak bisa dijadikan tanda kalau di antara para sahabat tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat, tidak terjalin persahabat yang akrab, atau tidak terjalin rasa cinta antara mereka. Justru sebaliknya, jalinan persahabatan dan kecintaan atara mereka tidak putus. Berapa banyak hadits Nabi saw yang meriwayatkan indahnya pergaulan antara sahabat Nabi yang harus diteladani oleh umat Islam.

Jadi apa yang sebenarnya diajarkan oleh Ahlul Bait? Mereka mengajarkan kecintaan, persahabatan dan penghormatan yang dalam kepada para sahabat Nabi saw terutama kepada khulafa Ar-Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra, bukan menanamkan kebencian dan penghinaan apalagi melaknat atau mengkafirkan (al’iyadu billah).

Rasulallah saw bersabda ”Jangan kamu mencaci sababat sahabat-ku. Demi yang diriku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang menginfakan hartanya berupa emas sebesar gunung Uhud (untuk membalas jasa jasa mereka), maka apa yang diinfakan tidak sampai bebesar mud atau setengah mud dibanding dengan jasa mereka.

Maka mari kita hindari berbantah-bantahan dan perdebatan yang tidak mengajak kepada iman. Apalagi di depan kita sudah tersedia sabda Nabi saw yang tidak mungkin diingkari lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali kita mengimaninya dengan sepenuh hati. Janganlah kita bermental seperti ahli kitab yang mengingkari nabinya serta membangkang terhadap petunjuknya.

Wallahu’alam// Hasan Husen Assagaf

Dari beberapa sumber

 

 

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Makkah Dalam Renungan…

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 9, 2015

Makkah Dalam Renungan…

Foto Makkah Dahulu

Baru saja saya tiba dari kota kelahiran Nabi, Makkah. Banyak perobahan terjadi di kota itu sejak saya tinggalkan bulan Rajab yang lalu . Renovasi besar-besaran di Haram telah digarap atas perintah raja Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain) sebelum ia meninggal. Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor yang terletak di sebelah barat dan utara Masjidil Haram, kini habis diratakan. Beberapa gedung masih tegak berdiri, tapi nyaris akan dibumiratakan. Ratusan truk, buldozer milik kontraktor Saudi Bakar bin Laden terlihat hilir mudik. Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 350.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di luar haram. Dan diperkirakan setelah renovasi bisa menampung lebih dari 2 juta jamaah.

 

Proyek renovasi ini bisa dibilang yang terbesar. Pemerintah Arab Saudi telah memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat. Renovasi ini bukan hanya dipusatkan di haram tapi terjadi juga di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah. Tentu proyek itu bakal menyerap dana milyaran dolar. Ini belum termasuk dana pembangunan gedung pencakar langit. Yang baru saja diresmikan yaitu sebuah super-gedung, yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara jam yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, di depannya diterangi lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.” dan juga dibangun gedung gedung lainya sebagai pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di sekitar haram.

 

Menurut saya, ya sudah sewajarnya terjadi renovasi besar besaran di Makkah, karena setiap tahun, jumlah jamaah haji mencapai 4 juta orang, ditambah belasan juta jamaah umrah. Selain dari itu jumlah haji dan umrah setiap 5 tahun sekali meningkat hingga 10 %. Kehadiran 15-an juta jamaah itu tentu saja membutuhkan akomodasi tempat tinggal begitu juga kesempatan beribadah yang nyaman, aman dan mengesankan. Inilah salah satu sebab utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya.

 

Tapi salain dari perluasan dan perombakan besar-besaran di dalam dan sekitar Haram, kita mengharap agar jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin jamaah dan berapa banyak uang yang diperoleh tapi kita harus memikirkan pula keaslian kota Makkah dan tempat bersejarah di sekitarnya bisa dipertahankan. Karena beberapa fihak banyak yang menyangkan pembangunan gedung pecakar lagit di sekitar haram. Sebab gedung pecakar langit itu akan menutupi pemandangan ka’bah dan keaslian kota kelahiran Nabi.

     

Foto Makkah Sekarang

15  17  1611

14  2  3122

1  4  jamarat-project-in-mina-makkah-al-mukkarrma-after-completion1abaraj-elbait-buldings

kereta-listrik-yang-akan-beroprasi-tahun-depan-dari-haram-ke-mina-mina-ke-muzdalifa-muzdalifa-ke-arafat1  madina-haram-masque-after-four-years1  projek-perumahan-raksasa-akan-dibangun-di-dekat-haramimages

 

 

Salam Dari Kota Nabi, 9 September 2015, Hasan Husen Assagaf

 

Baca berikutnya:

Makkah Dalam Renungan…”Catatan Pinggir Gunawan Mohamad”

— Kala kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.”

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. “It is the end of Mekkah“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin naik; kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan “lapisan-lapisan sejarah” Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.

Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun seperti Big Ben yang digembrotkan (“meniru seperti monyet”, kata Angawy) ia merasa kalah total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah—dan sebab itu harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.

Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.

Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas. Apa yang terjadi?

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?

Mungkin piknik instan ke kemewahan.

     

Posted in Makkah Setelah 2010 | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 43 Comments »

♣ Madinah Dalam Renungan..

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 8, 2015

Madinah Dalam Renungan…

4

Aku terpaku menyaksikan manusia datang ke Madinah dari seluruh penjuru berziarah kepada putra Abdullah dan Aminah bernama Muhammad saw.

Beliau benar-benar telah menjadi magnet bagi milyaran manusia. Kerna itu, Madinah tak pernah tidur menyambut para penziarah yang datang dari seluruh pelosok dunia hanya untuk memberi salam kepada baginda Nabi saw dan sholat di masjidnya.

Tentu yang sudah pernah berziarah ke makam Rasulallah saw dan para sahabatnya tidak bisa membayangkan bagaimana menyimpan kenangan indah dari cahaya beliau dan pasti di luar dari kesadaran kita air mata mengucur keluar membasahi pipi kita.

Kehebatan kota Madinah bukan saja karena kemegahan masjidnya akan tetapi juga karena bersemayam di dalamnya jasad beliau yang mulia. Di sanalah baru kita merasai keindahan ruhaniah kota Madinah yang membawa negeri itu, berkat Rasulallah saw, menjadi negeri yang penuh barakah.

Bagi yang pernah berziarah ke makam Rasulallah saw, pasti bisa melihat di muka tembok jendela makam beliau, tertulis dua bait syair yg dibuat oleh seorang A’rabi (Arab Badui) sejak ratusan tahun yang lalu.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Hafidh al-Syeikh I’mad al-Din Ibnu Katsir dari al-U’tbi, ia berkata: Ketika aku sedang duduk di hadapan makam Rasullah saw, tiba tiba seorang A’rabi datang berziarah kepada beliau dan berkata : “Salam sejahtera atasmu wahai Rasulallah. Sesungguhnya aku mendengar Allah berberfirman

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Al-Nisa’, 64.

“Wahai Rasulallah”, kata A’rabi dengan penuh kekhusyu’an, “aku datang kepadamu untuk memohonkan ampun bagiku dan memberikan kepadaku syafaatmu“. Kemudian A’rabi itu membaca dua bait syair:

ياخير من دفنت بالقاع أعظمه

فطاب من طيبهن القاع والأكم

نفسـي الفداء لقبـر أنت سـاكنه

فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Demikian seterusnya sampai bait yang terakhir dibacakan:

لــو كنت أبصرته حيــا لقلت له

لا تمشي إلا على خدي لك القدم

Artinya:

Wahai jasad termulia di lahad kau bersemayam

Lahad dan tanah ber-semerbak dari semerbakmu

Ku korbankan diriku demi makam kau berdiam

Yang penuh kebijakan, keindahan dan kemurahanmu

Seandainya aku melihatmu sewaktu hidupmu

Maka tak kan ku-biarkan kau berjalan kecuali diatas pipiku

Setelah membaca dua bait syair A’rabi itu keluar. Kemudian aku (al-U’tbi) tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rasulallah saw. Beliau pun berkata kepadaku: “Kejarlah A’rabi itu dan sampaikanlah kepadanya kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya “

Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki telah mengupas riwayat ini dalam kitabnya “Mafahim Yajibu An Tushahah“ bahwa banyak para masyayikh (ulama) meriwayatkan kisah ini, diantaranya: Al-Imam al Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Abul Faraj bin Qudamah dalam kitabnya al Syarhul Kabir, Al Imam al Qurtubi (pakar ilmu tafsir) dalam kitabnya tafsir Al Jami’, dan masih banyak lagi para ulama besar dan pakar ilmu tafsir yang meriwayatkan kisah ini.

Sekarang, apakah kisah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu dhaif jika dilihat dari sanadnya?…

Apakah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu merupakan suatu kekufuran atau kesesatan?…

Apakah yang dibawakan para ulama dan pakar ilmu tafsir itu mengajak kita kepada penyembahan berhala atau kuburan?…

Jika hal itu demikian menurut penapsiran ulama mereka, maka ulama mana lagi yang bisa dipercaya?

Salam Dari Kota Nabi, Hasan Husen Assagaf

 

Sekilas Tentang Madinah

Makam Nabi saw dan dua sahabatnya Abubakar dan Umar ra terdapat di dalam masjid. Makam itu dahulunya rumah Nabi saw dan Siti Aisyah ra. Ketika beliau meninggal, beliau dikuburkan di dalam kamarnya sendiri –kamar yang merupakan ‘tempat tinggal’ Nabi saw dengan istrinya Siti Aisyah. Meski telah menjadi kuburan, Siti Aisyah tetap tinggal di kamar tersebut. Kemudian, ketika Abu Bakar mendekati ajal, beliau minta izin kepada Siti Aisyah agar dapat dikuburkan di samping sahabat yang paling dicintainya dan Aisyah mengizinkannya. Seperti diketahui Abu Bakar adalah ayah Siti Aisyah. Jadi ia tidak keluar dan tetap tinggal di rumahnya.

Kemudian ketika Umar bin Khattab mendekati ajal, beliau juga minta izin Siti Aisyah untuk dikuburkan di samping kedua sahabatnya, padahal Siti Aisyah sudah berencana untuk dikuburkan di samping suami dan ayah yang sangat dicintainya itu. Tetapi karena rasa hormatnya kepada Umar bin Khattab  ra maka Siti Aisyah juga mengizinkannya. Setelah itu ia keluar dari rumahnya karena Umar bin Khattab bukan mahramnya.

Sekarang mari kita perhatikan posisi kuburan ketiga orang yang sangat dimuliakan oleh umat Islam. posisinya itu seperti posisi shalat antara imam dan ma’mum, artinya Abu Bakar ra posisi kuburanya di belakang kuburan Nabi saw, kemudian Umar bin Khattab posisi kuburanya  di belakang kuburan Abu Bakar.. luar biasa.. mereka saling menghormati sampai samai ke hal yang kecil yaitu penguburan.

Pada awalnya makam Nabi saw berlokasi di luar Masjid Nabawi, tetapi setelah adanya perluasan dan perbaikan masjid, maka makam Nabi saw dan kedua sahabat itu dimasukkan ke dalam masjid..

Tidak berjauhan dengan makam Nabi saw terdapat mimbar Nabi. Dalam hadist disebut

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ ) رواه البخاري ومسلم

“Antara rumahku (makam) dan mimbarku kebun dari kebun2 surga”(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra).

Siapa gerangan yang tidak tergiur untuk shalat di tempat tsb?

Di bekakang makam Nabi saw terdapat rumah siti Fatimah dan Sayyidina Ali ra.

Di dalam madjid Nabawi ada tempat-tempat bersejarah yang tidak begitu dikenal oleh masyarakat muslim seperti Mahbathul Wahyi (tempat turun wahyu), letaknya di muka makam Rasulallah saw, begitu pula Mihrab Rasul saw, Mihrab Utsman bin Affan, Mihrab Sultan Sulaiman al-Rumi, semuanya itu terletak di dalam Masjid Nabawi.

Ada lagi menara-menara yang sangat poluler dan dikenal penduduk kota Madinah yaitu menara Babussalam, menara Bab Utsman bin Affan dan menara Umar bin Khatthab.

Pemakaman Baqi’

2

Pemakaman Baqi’

pemakaman Baqi’ letaknya tidak berjauhan dengan Masjid Nabawi. Baqi’ merupakan pemakaman bersejarah bagi umat Islam. Pemakaman tsb terbuka untuk umum, tapi tempat yang mengarah ke kuburan Siti Fatimah dan karabat Nabi saw tertutup tidak diperbolehkan masuk untuk umum.

Pada tahun 1981 saya dan Almarhum Ustadz Abdurahman AlJufri (Pekojan-Jakarta) pernah memasuki makam Siti Fatimah dan karabat Nabi satu-persatu. Sekarang dilarang memasukinya. Jadi yang berziarah cukup berdiri dan melihat dari kejahuan untuk berdoa dan membacakan surat Fatihah bagi arwah mereka.

Pemakaman Baqi’ yang Rasulallah saw selalu menyebut Baqi’ al-Gharqad, terdapat kurang lebih 10 ribu kuburan sahabat, diantaranya:

Terdapat kuburan Umahatul Mu’minin (istri-istri Rasulallah saw), anak-anak dan ahli bait Rasulullah saw, Fatimah binti Rasulallah saw, Ruqayah binti Rasulallah saw, Ummu Kaltsum binti Rasulallah saw, Zainab binti Rasulallah saw, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Ali Zainal Abidin bin Husein, Muhammad al-Baqir, Ja’far As-Shodik, Ali al-U’raidhi yang baru saja dipindahkan ke Baqi’ setelah kuburan dan masjidnya digusur oleh pemerintah Saudi.. (kelihatanya mereka dari dulu kerjaanya tukang gusurin tempat tempat bersejarah).

Terdapat pula di Baqi’ kuburan Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), Sufyan bin al Harits, Aqil bin Abi Thalib, Abdulah bin Ja’far al-Thayyar dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebut satu persatu.

Begitu pula terdapat kuburan Sayyidina Utsman bin Affan ra yang terletak disebelah ujung pemakaman, kuburan Abi Said al-Khudhri, kuburan Sa’ad bin Mua’dh, Halimah As-Sa’diyah, dan kuburan syuhada’ al-harrah, pula terdapat kuburan Utsman bin Madh’un, Abdurahman bin A’uf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Masu’ud, Khunais bin Hudhafah, As’ad bin Zararah, Imam Malik.

Jabal Uhud

Jabal Uhud letaknya kurang lebih 15 kilomenter dari kota Madinah. Gunung yang dicintai Nabi saw ini, sesuai dengan hadithnya “Uhud gunung yang kita cintai dan mencintai kita“, nampak anggun dan megah. Hampir setiap muslim yang berziarah ke kota Madinah pasti berkunjung ke bukit Uhud mengenang peristiwa terbunuhnya Hamzah, paman Nabi dalam peperangan.

Nampak jelas dibawah kaki bukit Uhud kuburan Sayyidina Hamzah yang berdampingan dengan kuburan Abdullah bin Jahsy (puanakan Hamzah) dan Musha’b bin U’mair. Salawat dan salam serta doa dan fatihah tak lupa kita panjatkan untuk arwah syuhada’ Uhud.

Tempat2 Bersejarah

Di Madinah terdapat beberapa peninggalan sejarah Islam seperti masjid Quba’, masjid pertama yang dibangun Rasulallah, terletak di sebelah selatan kota Madinah berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Masjid Nabawai. di masjid Quba’ disunnahkan sholat dua raka’at mengambil barakahnya Nabi saw. Rasulallah selalu shalat sunah dua raka’at di masjid Quba’ jika tiba dari pepergian baik berkendaraan onta atau berjalan kaki “ – Muttafaqun alaih.

Di Madinah terdapat pula masjid Qiblatain (dua kiblat). Masjid ini dinamakan masjid Qiblatain (masjid Dua Kiblat), karena ketika Rasulallah mengimami shalat di masjid ini, tiba-tiba turun firman Allah yang memerintahkan Nabi mengubah kiblat ke Masjidil Haram di Makkah : “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke aranya.”- al-Bakarah,144. Suatu putaran sekitar 180 derajat semula kiblat kaum Muslim adalah Masjid al-Aqsa di Jerusalem, dan sejak Nabi menerima perintah Allah itu, kiblat muslimin berubah di Makkah hingga akhir zaman. Di sana disunahkan shalat sunnah dua raka’at mengambil barakah Nabi saw.

Masih banyak lagi masjid-masjid di Madinah yang merupakan sebagai peninggalan sejarah Islam yang patut diziarahi dan dihargai seperti Masjid al-Juma’t yang terletak di wadi Ranuna sebelah kiri dari Masjid al Quba’. Di Masjid ini Rasulallah dan sahabatnya pertama kali medirikan sholat Juma’at.

Begitu pula masjid al Ghumamah, masjid al-Fath, masjid Abubakar Siddik ra, masjid Fatimah al-Zahra’, masjid Umar bin Khathab, masjid Ali bin Abi Thalib, masjid Bilal, juga tedapat bekas peninggalan perang khandak (perang Parit), dimana kaum muslimin menggali parit yang membentengi kota Madinah, dan tidak sedikit peningalan sejarah Islam di Madinah yang tidak bisa disebut satu persatu.

Semoga Allah takdirkan kita bisa datang ke kota yang penuh dengan cahaya Nabi saw.

Salam Dari Kota Nabi, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Julaibib… Siapa Dia???

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 7, 2015

1Banyak orang baik bekerja dan berderma tanpa mengharap santunan dan pujian. Mereka lebih senang tidak dikenal dan disanjug. Walaupun mereka memiliki amalan yang agung.

Berbeda dengan masyarakat kini. Bekerja secara diam-diam dianggap tidak bernilai. Pamer merupakan sebuah harga. Penghormatan dari publik adalah kebanggaan. Pujian adalah harapan.

Julaibib..siapa dia gerangan? Dia adalah salah satu sahabat Nabi saw yang tidak dikenal di kalangan masyarakat. Tapi dicintai Alah dan RasulNya.

Ia lahir sendiri, hidup sendiri dan mati sendiri di medan perang melawan musuh bersama Rasulallah saw. Tidak ada satu pun dari sahabat yang mengenal siapa Julaibib? dan tidak ada mencari mayatnya kecuali Rasulallah saw.

Rasulallah saw mencari Julaibib diantara mayat mayat yang gugur dan menemukannya sudah tertutup pasir, lalu Rasulullah berkata: “Ini adalah Julaibib Sahabatku, yang sangat mulia dimata Allah dan Aku”

Beliau mengangkat mayat julaibib dengan kedua tangan beliau. Dan menyuruh sahabat menggali kubur sedang mayat ditangan Nabi saw sampai kuburan selesai digali. Kemudian beliau letakan mayat Julaibib kedalam kubur dengan kedua tanganya yang mulia.

Itulah salah satu sahabat yang terlupakan dan tidak terkenal tapi sangat mulia dimata Allah dan Rasulullah.

Hikmahnya, bahwa kedudukan, harta dan semua yang bersifat keduniaan tidak bisa menjadi jaminan bahwa kita akan menjadi orang yang disayangi oleh Allah dan Rasulullah saw.

Semua kita mempunyai bagian masing-masing disisi Allah. Yang menentukan kita dicintai Allah atau tidak bukanlah ukuran besar kecilnya amal kita. Allah tidak melihat siapa kita, tapi apa yang telah kita lakukan. Maka apa pun adanya jadilah yang terbaik.

Seandainya bentuk dan tubuh lebih penting dari ruh..maka tidak mungkin ruh pergi ke langit , sedangkan jasad terkubur dibawah tanah.

Berapa banyak orang terkenal dibumi namun dilangit ia tidak terkenal. Dan berapa banyak orang tidak terkenal di bumi namun terkenal dilangit.

Ukuran kemulian itu yang paling taqwa bukan yang paling kuat. “Sesungguhnya yang paling mulia diantaramu adalah yang paling bertaqwa” Al-Qur’an

Janganlah bersedih jika ia orang tidak tahu tentang betapa berharga dirimu. Berpalinglah pada penilaian Allah dan tinggalkanlah penilaian manusia. Hiduplah karena ketaqwaan karena itu lebih baik dan lebih kekal.

Salam dari Riyadh 7 September 2015 .. Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Imam Ghazali Dan Seekor Laler

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 7, 2015

Ass wr wb..

Pagi cerah.. penuh berkah.. kita sambut dengan meriah.. rasa syukur dan pasrah.. karena masih diberi umur panjang yg barkah.. bisa nafas free dan cuma cuma..

Saudara seiman..

Siapa sih yang ga kenal sama imam Ghazali.. Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali..

Beliau orang hebat luar biasa.. guru sufi.. guru filosof … guru teolog muslim.. Asal tahu aja beliau dari Persia (Iran).. dari daerah namanya ath-Thusi.. dan yang keren lagi madzhabnya Syafi’i 👍👍.. beliau hidup pada 450 H –505 H.. orang bule bilang Algazel..

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama.. ahli fikir.. ahli falsafah Islam.. cerdasnya minta ampun.. daya ingetnya luar biasa.. pintar dalam berhujjah mangkanya dinamain Hujjatul Islam.. ga sedikit sumbangannya bagi kemajuan islam dan manusia.. karyanya hebat2.. seabrek abrek.. banyak sekali.. karyanya yang paling top adalah: Ihya Ulumuddin..

Yang penting ana ga bisa ceritain kehebatannya yang segudang.. tapi ada kisah menarik tentang beliau.. ceritanya begini:

Pada suatu hari Imam al-Ghazali lagi nulis kitab.. Pada waktu itu orang kalo nulis harus menggunakan tinta yang ditaro di mangkok dan sebatang pena.. kalo mau nulis penanya harus dicelupin dulu kedalam tinta.. abis dicelup baru dipakai untuk menulis.. kalo abis tinta yang di pena.. dicelup lagi dan menulis lagi… Begitu seterusnya..

Waktu dia sibuk menulis.. tiba2 seekor laler nemplok di mangkuk tinta.. keliatannya itu laler lagi kehausan.. laler minum tinta di mangkuk itu… Melihat itu.. Imam al-Ghazali diamin itu laler ga diusir.. ga digeprak..

Waktu imam Al-Ghazali meninggal.. seorang ulama teman dekat beliau ngimpiin beliau… Dalam mimpinya terjadi dialog.. begini dialognya:

Teman: Wahai imam.. apa yang Allah perbuat kepada ente?..

Al-Ghazali: Allah telah menempatkan ana di tempat yang paling baik..

Teman: Amal apa yang sampai ente ditempatkan Allah ditempat yang paling baik itu? Apakah itu karena ilmu ente.. atau banyaknya kitab-kitab bermanfaat yang ente tulis?..

Al-Ghazali: Tidak sobat.. Allah memberi ana tempat yg terbaik karena pada saat ana menulis.. ana kasih kesempatan kepada seekor laler yang kehausan minum dari mangkok tinta.. ana lakukan itu kerana ana tahu dia makhluk Allah butuh minum…

Dialog selesai..

Dari kisah sufi tersebut memberi kita hikmah luar biada bahwa ga ada salahnya kalo kita menolong mahluk Allah…Bayangin coba.. hanya sekedar membiarkan laler minum bisa menjadikan orang masuk surga.. apalagi kasih makan manusia..

Ada satu hadits diriwayatkan Bukhatri Muslim.. bahwa seorang pelacur bisa masuk surga kerena kasih minum anjing kehausan… bayangin coba.. cuman kasih minum anjing kehausan bisa masuk surga..

Ada juga hadits yang diriwayatkan sama.. bahwa ada seorang wanita masuk neraka jahannam kerana menyiksa seekor kucing.. kucing dikurung ga dikasih makan sampe mati..

Mangkanya jangan remehin perbuatan yang kita anggap kecil.. karna semua ada hisabnya di akhirat nanti..

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau hanya kasih senyum manis kepada saudaramu” (HR. Muslim)

Salam pagi..Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Sifat Keturunan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 1, 2015

Sifat Keturunandownload

Subahanallah, kalau kita teliti sesungguhnya kita ini dibentuk oleh Allah dalam cara yang sangat mengerikan dan menakjubkan. Ilmu pengetahunan genetika mengajarkan pada kita bahwa setelah ibu dan ayah kita bercampur maka terjadi peluang akan lahirnya seorang bayi yang dibentuk sebagian besar hasil dari 24 kromosom bapak dan 24 kremosom ibu. Ke 48 kromosom ini nengandung segala sesuatu yang menentukan bawaan sang bayi. Ini merupakan warisan dari bawaan ayah dan ibu. Begitu pula ayah dan ibu merupakan warisan dari bawaan kakek dan nenek dan seterusnya dan seterusnya.

Apakah itu omongan belaka? Tidak. Ini fakta ilmiah. Kalau anda ingin membaca lebih banyak mengenai hal ini, bacalah kitab ”Anda dan Warisan Bawaan Kelahiran Anda” karangan Amram Sheienfeld.

Sekarang bangaimana menurut Islam? Hal semacam ini telah diungkapkan oleh Rasulallah saw 14 abad yang lalu dalam hadistnya yang berbunyi:

عن  أبي هريرة قال جاء رجل من بني فزارة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال إن امرأتي ولدت غلاما أسود فقال النبي صلى الله عليه وسلم هل لك من إبل قال نعم قال فما ألوانها قال حمر قال هل فيها من أورق قال إن فيها لورقا قال فأنى أتاها ذلك قال عسى أن يكون نزعه عرق قال وهذا عسى أن يكون نزعه عرق : رواه مسلم 

Seorang dari Bani Fazarah datang kepada Nabi saw dan berkata : “Ya Rasullah, istriku telah melahirkan anak berkulit hitam”. (Ia seakan-akan tidak mengakuinya karena ia tidak berkulit hitam).

Rasulullah Saw bersabda: “apakah engkau memiliki unta? “

Lelaki itu menjawab: “ya”

Rasulullah bertanya: ”apa warnanya?”

Lelaki itu menjawab: ”merah”,

Rasulullah bertanya lagi: ”apakah ada warna hitam pada unta itu?”

Lelaki itu menjawab: “sebenarnya kehitam-hitaman, entah dari mana datangnya warna hitam itu?”

Rasulullah saw bersabda: “mungkin karena faktor keturunan” (HR. Bukhari, Muslim dll)

Dari hadits di atas tergambar bahwa faktor keturunan mempengaruhi warna kulit seseorang, paras dan ciri-ciri fisik, hal ini tidak harus diwarisi dari orangtuanya saja tapi bisa juga dari nenek moyangnya, sifat fisik inilah yang disebut sifat keturunan.

Rumusan hadits di atas mengarahkan bahwa Islam sendiri menyukai, untuk keberlangsungan generasi mendatang, agar memilih pasangan dari keturunan yang baik, sehingga di dalam pernikahan tersebut akan melahirkan keturunan yang baik pula

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فإن الْعِرْقَ دَسَّاس – رواه ابن ماجه

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah(benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”. (HR. Ibn Majah).

Dari keturunan yang baik akan keluar pohon dan buah yang baik.. simak berikutnya

Pohon Yang Baik

Kalau kita teliti, Rasulallah saw sendiri tidak memilih pasangan hidup putrinya Fatimah kecuali dengan orang yang dicintainya, yaitu Sayyidina Ali ra. Tidak sedikit dari orang-orang Quraisy pada waktu itu yang ingin menikahinya. Bahkan beritanya ia pernah dilamar oleh Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar ra, sahabat terdeket Rasulallah saw, namun lamaran mereka ditolak secara halus.

Dari pernikahan antara Sayyidina Ali dan siti Fatimah, berkembanglah keturunan Rasulallah saw yang tersebar di seluruh pelosok negeri, Pekembangan ini tidak bisa dibendung walaupun sepanjang sejarah kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mengalami penindasan luar biasa, tapi mereka tetap berkambang dan didapatkan di mana saja di seluruh dunia.

Ini kemungkinan karena do’a Rasulallah saw kepada siti Fatimah putri beliau dan sayyidina Ali ra di saat pernikahan mereka yang sangat sederhana. Doa Nabi saw adalah,”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik”.

Mereka adalah Ahlul-Bait. Dalam bahasa ahlu artinya ahli, penghuni, keluarga, famili atau penduduk. Sedang bait artinya rumah. Jadi ahlul bait adalah penghuni atau keluarga rumah. Dalam tradisi Islam ahlul bait artinya keluarga atau sanak famili Rasulallah saw yang memiliki tali kekeluargaan dengan beliau.

Banyak terjadi perbedaan penafsiran, ada yang menafsirkan ahlul bait itu adalah lima keluarga Nabi saw yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan beliau yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husen dan beliau sendiri. Ada lagi yang menafsirkan ahlul bait adalah keluarga Nabi saw dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya, hingga terkadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya. Mereka, Ahlul-Bait, adalah anggota keluarga Nabi saw yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat.

Mereka diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelangit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Allah. Sayangnya, banyak pula diantara mereka yang tidak bisa mempertahankan keteguhan akarnya sehingga banyak yang berobah menjadi pohon yang merana, tidak tegak, dan tidak menumbuhkan buah yang layak.

Riyadh 19 Ramadhan 1436 / 06 Juli 2015 Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Usia

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 1, 2015

USIA

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Apakah anda sudah mencapai usia 40 tahun ?

Kalau sudah, marilah kita bernostalgia kesuasana yang membuat kita selalu merasa muda. Karena perasaan semacam ini akan membuat sel-sel tubuh menjadi aktif dan peredaran darah berjalan baik. Dan yang paling penting dari itu semua kita harus selalu merasakan bahwa diri kita masih muda dan tidak pernah merasa tua “ You look What You Feel “ ini menurut pendapat si Bule.

Umur menurut kenyataannya di bagi dua, absolut dan reatif, atau dalam arti lainnya umur penanggalan dan umur biologis, atau dalam istilah kasarnya umur diberanakin dan umur dirasain. Dalam hal ini kita harus tahu bahwa umur absolut atau penanggalan (umur diberanakin) merupakan  patokan usia manusia. Betul faktor lingkungan, faktor berfikir, faktor budaya, faktor ekonomi, faktor diri kita dll, mempunyai sifat menentukan, tapi itu bukan merupakan patokan. Patokan manusia adalah usia, dan usia umat Muhammad saw rata rata menurut hadist Nabi saw diantara 60 sampai dengan 70 tahun. “Usia umatku antara 60 dan 70“ (al-hadist). Ini patokan usia anak-anak Adam dan Hawa. Ada yang hidup lebih dari usia 70 tahun tapi sangat rare atau langka kita dapatkan. Kalau seseorang sudah mencapai usia lebih dari 60 tahun berarti ia sudah mencapai standar usia manusia. Dan bila sudah mencapai usia lebih dari 60 tahun, ia harus mengangkat tangan setinggi tingginya dan betul betul bersyukur kepada Pencipta mahluk. Karena dalam istilah kasarnya, kalau seseorang sudah mencapai usia 60 tahun keatas badannya sudah berbau tanah.

Zuhair bin Abi Salma, penyair terkenal di zaman Jahiliah (520-609), setelah mencapai usia 80 tahun, ia merasakan ada sesuatu kelainan didalam dirinya. Fisiknya menjadi lemah, matanya rabun, rambutnya berobah warna menjadi putih, kulitnya keriput, pendengaranya tidak tajam,  Dengan penuh perasaan, ia melontarkan syairnya yang sangat indah yang berbunyi :

سئمت تكاليف الحياة ومن يعش ثمانين حولا لا ابا لك يسأم

“Liku-liku kehidupan dunia membuatku bosan,  barang siapa mencapai delapanpuluh tahun, mau tidak mau akan bosan “

Disaat kita berusia 40 tahun, kita masih tampak segar, muda, gagah dan masih kelihatan sama dengan 10 tahun yang lalu. Tidak terlihat kerut diwajah kita. Tubuh kita masih tetap langsing. Satu-satunya yang bisa menandai kalau kita sudah diatas 40 tahun adalah kacamata baca. Tapi setelah usia kita bertambah, segalanya akan lebih sulit dan cara kita mempertahankan semua itu agak lebih rumit dan komplek dibanding sebelumnya.

Contoh yang ringan saja, ketika kita masih muda kita minum apa saja, kita minum kopi, teh, sirup, es cendol, es teler dll. Dan pula kita makan apa saja, kita makan nasi rames, nasi kebuli, nasi rawon, daging kambing, daging sapi, telor setengah mateng, sop kaki kabing, sop buntut, sate dll. Semua itu kita minum dan makan enak saja tampak memikirkan penyakit yang diakibatkan dari minuman dan makanan trb. Namun, tambah tua kita bisa merasakan sesuatu, badan harus dikontrol, makan minum tidak bisa sembarangan, tidur harus teratur, kadang kadang timbul gelisa, susah tidur, badan terasa tidak enak. Semuanya muncul sehingga kita harus lebih waspada. Jadi kita harus berhati hati dan harus lebih memperhatikan diri sendiri jika sudah berusia diatas 40 agar tubuh tetap sehat.

Kalau begitu, awalnya dari awet muda adalah sehat, baru kemudian membuat kita muda terus. Maka dari itu orang Arab bilang : “kesehatan itu nomor satu (1) ,dan yang lainnya nomor nol (0)”. Kalau kita memiliki kesehatan ditambah banyak harta berarti kita sudah mencapai angka 1 dan 0 yaitu 10. Jika kita sehat, banyak harta dan ditambah pula memiliki istri yang sholeh berarti kita sudah mencapai angka 1, 0 dan 0 yaitu angka 100. dan seterusnya. Akan tetapi kalau kita memiliki semua yang berada di dunia, tanpa kesehatan berarti kita hanya mencapai angka nol besar (0). Maka dari itu Rasulallah saw. mengajarkan kita pertama-tama yang diminta di saat berdoa, jangan meminta banyak rizki, atau meminta banyak harta, jangan pula minta masuk surga akan tetapi pertama-tama mintalah kepada Allah kesehatan dan keafiatan yang sempurna. Baru setelah itu minta yang lainya.

Imam besar wadi al-Ahqof, Habib Umar bin Saggaf, mengajarkan kita doa yang pendek tapi berbobot yang ditulis dalam kitabnya “Tafrihul Qulub Wa Tafrijul Kurub“ :

Ya Allah berikanlah kepadaku kesehataan yang sempurna dalam taat pada Mu. Ya Allah berikanlah kepadaku panjang usia disertai amal baik bagi Mu. Ya Allah berikanlah kepadaku rizqi yang luas dan halal yang tidak mengazab diriku

Disamping, kalau mau awet muda, menjaga kesehataan jika usia sudah bertambah, pula yang paling penting dari yang penting harus menjaga hati kita agar selalu bersih, jauh dari menyombong diri, terpelihara dari kata-kata riya’, tidak mempunyai rasa dendam, iri hati, dan dengki. Hal ini akan memelihara detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang dan kondisi diri senantiasa diliputi kedamaian. Dan setelah itu kita akan rasakan tubuh menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti inilah akan jauh lebih banyak untuk berbuat kepada umat.

Maka dari itu, Hati merupakan satu kekuatan dan potensi yang bisa membuat kita tetap awet muda, yang bisa melengkapi otak menjadi cerdas dan badan menjadi sehat. Saya pernah membaca syair yang menggambarkan betapa hati itu bisa berpengaruh pada kehidupan seseorang, bunyinya begini :

Bila Hati kita bersih

Pikiran pun selalu jernih

Semangat hidup akan gigih

Prestasi mudah diraih

 

Tapi…bila hati busuk

Pikiran jahat merasuk

Akhlakpun kian terpuruk

Dia jadi makhluk terkutuk

 

Bila hati kian lapang

Hidup susah tetap senang

Walau kesulitan menghadang

Dihadapi dengan tenang

 

Tapi bila hati sempit

Segalanya jadi rumit

Seakan hidup terimpit

Lahir batin terasa sakit

Masya Allah,… andaikata hati selalu bersih, maka wajah pun akan memancarkan rahmah, ni’mah, serta ikhlas yang tak terkira. Bukankah Nabi kita Muhammad saw juga demikian?  Beliau tidak pernah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan tersenyum cerah dan ramah tamah. Senyum yang penuh keikhlasan bernilai besar, karna selain menjadi shodakah, juga akan menyehatkan tubuh. Bahkan, menurut pendapat para ahli, senyum itu hanya memerlukankan 17 otot, sedangkan cemberut 32 otot .

Sebelum Allah melantik nabi kita Muhammad saw menjadi nabi dan rasul, pertama-tama yang dilakukan Nya adalah membersihkan hati beliau agar selalu jauh dari sifat menyombong diri, terpelihara dari riya’, dendam, iri hati, dan dengki kemudian mencucinya dari sifat sifat buruk yang terkutuk. Begitu pula akal dan fikiran beliau telah dibersihkah sehingga tidak bisa tersesat dan keliru. Lidah dan lisan beliau terpelihara dari kata kata yang bisa menyakiitkan. Mata dan pandangan beliau selalu dijaga dari hal hal yang kotor dan keji. Guru dan majlis beliau senantiasa terpilih, bukan sembarang guru yang diturunkan untuk mengajar beliau, akan tetapi Jibril lah yang selalu menjadi teman dan guru yang selalu mendapingi beliau. Perilaku dan budi pekerti beliau sangat luhur, agung dan terpuji “Dan sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) benar benar berbudi perkerti yang agung”. Baru setelah itu beliau dilantik mejadi nabi dan rasul umat.

Ada satu ayat suci dan sabda Nabi  yang berkaitan dengan hati:

“Di hari harta dan anak-anak laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan HATI yang bersih “ ( Assyua’ra 88 dan 89 ).

“Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, jika baik maka seluruh tubuh akan menjadi baik dan jika buruk maka seluruh tubuh akan mejadi buruk. Bukankan itu adalah HATI ? “. ( Hadits ).

Maka, hati sangat menentukan dan berpengaruh sekali kepada kesehatan tubuh, pikiran dan jiwa kita. Pikiran dan jiwa yang sehat akan berpengaruh positif pada kesehatan tubuh kita. Terakhir, saya yakin banget bahwa petuntunjuk diatas insya Allah akan membuat kita menjadi sehat dan afiat di dunia dan di akhirat dan selalu tetap membuat kita awat muda walaupun usia sudah lanjut.

Wallahua’lam, Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Apa Dan Siapa Kita

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

images

Kota madinah pernah dihebohkan dengan seorang pemuda yang solih, baik dan penampilannya dalam agama sangat mena’jubkan. Berita ini tersebar sampai ke telinga Sayyidina Umar ra. Lalu beliau menghampiri masyarakat yang sedang asyik menceritakan kebaikan pemuda tadi, lalu berkata: ”Dari mana kalian tahu bahwa orang itu baik?”. Mereka menjelaskan bahwa setiap hari pemuda tsb selalu giat dalam urusan agama dan tampil di muka dalam merefleksikan segala yang berurusan dengan ibadah. Sayyidina Umar bertanya lagi: ”Lantas nafkahnya dari mana?”. Mereka menjawab: ”Ia hidup dari saudara lakinya yang bekerja di pasar”. Lalu Umar ra berkata: ”Ketahuilah bahwa saudara lakinya yang bekerja di pasar itu lebih baik dan afdhal darinya”

Kisahnya, waktu saya dalam perjalanan dari Jakarta ke Riyadh naik pesawat yang harus transit di Abu Dhabi satu jam menurunkan dan mengambil penumpang. Karena keberangkatan dari jakarta ditunda 1 jam saya menunggu di lobi ruang tunggu bandara Cengkareng. Di depan saya duduk seorang ibu sudah agak tua, wajahnya tampak tenang dan keibuan.

Kemudian saya menyapa: mau pergi kemana bu?

Ibu: ”Iya dik, hanya mau ke Abu Dhabi”.

Saya: ”Kalau boleh, mau nanya, ada keperluan apa ibu ke Abu dhabi?”

Ibu: ”Menengok anak saya yang nomor dua dik, istrinya melahirkan di sana terus saya dikasih ongkos untuk datang ke sana.”

Saya: ”Puteranya kerja dimana, bu?”

Ibu: ”Anak saya ini insinyur perminyakan, kerja di perusahaan minyak asing di Abu Dhabi.

Saya: ”Berapa anak ibu semuanya?”

Ibu: ”Anak saya ada 4 dik, 3 laki2, 1 perempuan. Yang di Abu Dhabi anak nomer 2. Yang nomer 3 juga laki2, dosen fakultas ekonomi UGM, sekarang lagi ambil program doktor di Amerika. Yang bungsu perempuan jadi dokter spesialis anak. Suaminya juga dokter, ahli bedah dan dosen di Universitas Airlangga Surabaya.

Saya: ”Kalau anak yang paling tua?”

Ibu: ” Oh..dia supir taxi, dik. subuh2 keluar cari nafkah sore pulang. Kasian dia cape sekali kerjanya.”

Saya tertegun sejenak lalu dengan hati-hati saya menanya: ”Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ibu ya. Kok tidak sarjana seperti adik-adiknya?”

Ibu itu menjawab dengan senyum: ”Sama sekali tidak, dik. Malahan kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia. Dari hasil taxinya, dia yang membiayai hidup kami setelah suami saya meninggal dan dia menyekolahkan semua adik-adiknya sampai selesai jadi sarjana”.

Saya merenung, ternyata yang penting bagi manusia bukan apa atau siapa kita, tetapi apa yang telah ia perbuat. Allah tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa amal-perbuatan kita.

Salam dari Riyadh 23/08/2015, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | 1 Comment »

♣ Renungan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

download Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu. Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaanya untuk ikut menguburkanmu. Barang-barangmu akan dikemas, begitu pula koncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermnfaat untukmu.

Ketahuilah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu. Ekonomi akan tetap berlangsung. Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu itu!

Kesedihan atasmu ada 3;

1- Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan… inna lillah wa inna ilaihi rajiun.

2- Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!

3- Di rumahmu akan ada kesedihan yg mendalam! Keluargalamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun?? Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Ketahuilah “Kisahmu telah berakhir di tengah tengah manusia”. Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai adalah Akhirat!!

Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak. Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta. Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

Pertanyaannya adalah:apa yang kamu siapkan untuk kuburmu dan Akhiratmu? Ini memerlukan renungan yg mendalam. Usahakan dengan sungguh sungguh melakukankan kewajiban kewajiban, hal-hal yg disunnahkan, sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam. Semoga saja engkau selamat.

Jika kau mengingatkan manusia dengan tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dalam timbangan kebaikanmu pada hari Kiamat.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ – الذاريات 55

“Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang orang mukmin.”

Sahabatku renungkan lalu amalkan.

Salam dari Riyadh HHS

Ditulis oleh: Syeikh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Cerdas Tangkas

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

imagesKalau bawa cerita Imam Ali bin Abi Thalib ra kadang kadang orang menysangka ana syi’i (syi’ah).. Ana bukan Syi’i.. Ana bukan Mu’tazilah.. Ana sunni.. Ana Syafi’i.. Ana Asy’ari.. Ana pencinta sahabat Nabi saw tanpa terkecuali.. termasuk imam Ali ra.

ceritanya begini:

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib ra diundang seorang Yahudi untuk mengahadiri acara jamuan di rumahnya.

Kepada Imam Ali, Yahudi itu menyuguhkan anggur. Imam memakannya. Lalu Yahudi itu memberi segelas khamr (arak) kepadanya. Beliau menolak seraya berkata: “Maaf, khamr diharamkan bagi kami kaum muslimin”.

Yahudi berkata: “Aneh sekali kalian ini, kalian menghalalkan anggur tapi mengharamkan khamr padahal khamr berasal dari anggur”.

Sayyidina Ali ra menjawab dengan senyum: “Apakah kamu memiliki istri..???”. Yahudi menjawab “Punya..!!” Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu punya anak perempuan.??”. Yahudi menjawab: “Punya..!!”. Lalu beliau berkata: “Datangkan mereka ke sini..!”

Yahudi itu pun memanggil istri dan putrinya. Imam Ali ra kemudian berkata: “Bukankah Allah menghalalkan kepadamu istrimu dan mengharamkan putrimu untukmu, Padahal putrimu berasal dari istrimu??”. Lalu, Yahudi berkata lantang. “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah..!!”.

Dari kisah di atas jelas sekali kita bisa mengambi suatu bukti bahwa Imam Ali ra memiliki gudang ilmu yang tidak dimiliki para sahabat lainya. “Aku kota ilmu dan Ali pintunya”.. Itulah sabda Rasulallah saw yang dicetuskan beliau kepada para sahabat. Beliau adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu setelah Khadijah ra. Pada waktu itu Ali ra masih berusia sekitar 10 tahun.

Setelah wahyu turun, Imam Ali ra banyak belajar langsung dari Rasulallah saw karena sebagai misanan dan sekali gus merangkat sebagai anak asuh, beliau selalu mendapat kesempatan dekat dengan Rasulallah saw. Hal ini berlanjut sampai belau menjadi menantunya.

Jadi banyak pelajaran pelajaran tertentu yang diajarkan Rasulallah saw kepada beliau yang tidak diajari kepada sahabat-sahabat yang lain.

Didikan langsung dari Rasulallah saw kepada imam Ali ra baik secara zhahir (syariah) atau secara bathin (tasawuf), banyak menggembleng beliau menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, tangkas dan bijak. Salah satunya kita bisa lihat dari kisah kisah di atas tadi.

kisah lain dari kecerdasan Imam Ali ra

Zaman Berbeda Orangnya Berbeda

Ada satu orang datang kepada Sayyidina Ali ra. Ia berkata: “Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan Umar keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

Sayyidina Ali ra menjawab sambil senyum: “Sebab, pada zaman Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Kesimpulannya, manusia pada hakekatnya sama. Semuanya dari Adam. Dan Adam dari tanah. Tapi setiap orang memiliki latar belakang yang berlainan. Makanya tidak selayaknya kita mengukur orang dengan baju kita sendiri, dan tidak ada yang berhak memaksanya untuk menjadi siapa pun yang ada dalam angannya.

Masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Jadi sangat tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang yang tidak sezaman dengannya. Apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh atau pemimpin yang berbeda zaman dengannya.

Maka pahamilah dalam-dalam pribadi kita dan jadilah diri kita sendiri. Sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti cara kita.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan sesuatu yang indah. “Pendapatku ini benar. Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

Wallahu’alam Riyadh 16/08/2015.. Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Kampung Pekojan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

 

Pekojan, terletak di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Yang merupakan salah satu tempat bersejarah di Jakarta. Daerah Pekojan pada era kolonial Belanda dikenal sebagai perkampungan Arab. Meskipun saat ini mayoritas penduduk yang tinggal di sana adalah etnis tionghoa.

Pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-18 menetapkan wilayah Pekojan sebagai perkampungan Arab. Kala itu, para imigran yang datang dari Hadhramaut (Yaman) diwajibkan untuk tinggal di Pekojan terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka dapat pergi ke berbagai kota dan daerah.

Di Pekojan, Pemerintah Belanda menerapkan aturan passen stelsel dan wijken stelsel. Bukan saja menempatkan mereka dalam ghetto-ghetto (kampung khusus), tetapi juga mengharuskan mereka memiliki pas atau surat jalan bila akan bepergian keluar daerah. Sistem semacam ini diterapkan juga di kampung Ampel Surabaya dan kampung-kampung Arab lainnya di nusantara.

Kampung Pekojan merupakan cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar, Jati Petamburan, Tanah Abang dan Kwitang, Jatinegara dan Cawang.

Jamiatul Khair

Di Pekojan, pada awal abad ke-20 (1901) berdiri organisasi pendidikan islam, Jamiatul Khair, yang dibentuk oleh dua bersaudara Shahab, yaitu Ali dan Idrus, disamping Muhammad Al Masyhur dan syaikh Basandid. Beberapa orang murid Jamiatul Khair yang kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan tanah air diantaranya adalah, KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam yang sekaligus mertua dari Bung Karno).

Jamiatul Khair banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah. Organisasi ini juga melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan tokoh-tokoh pergerakan dan surat kabar luar negeri. Dengan demikian kabar-kabar mengenai kekejaman penjajah Belanda di Indonesia dapat sampai ke dunia luar, antara lain karena melalui Jamiatul Khair. Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang berperan besar dalam penaklukan Aceh, dengan terang-terangan bahkan menuding Jamiatul Khair membahayakan pemerintah Belanda. Melalui siswa-siswanya, Jamiatul Khair ikut berkontribusi dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah serta melakukan syiar islam ke seluruh nusantara.

Bangunan bersejarah

Sebelum ditetapkan sebagai kampung arab, daerah Pekojan dahulu dihuni oleh muslim Koja (Muslim India). Sampai kini masih terdapat Gang Koja, yang telah berganti nama menjadi Jalan Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah Masjid kuno Al Anshor yang dibangun pada 1648 oleh para muslim India. Tak jauh dari tempat ini, kira-kira satu kilometer perjalanan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pada pertengahan abad ke-18.

Di Pekojan masih banyak terdapat bangunan-bangunan peninggalan tempo dulu. Misalnya Masjid Langgar Tinggi, yang dibangun pada abad ke-18. Masjid ini telah diperluas oleh Syaikh Said Naum, seorang Kapiten Arab. Ia memiliki beberapa kapal dagang dan tanah yang luas di Tanah Abang, yang sebagian telah diwakafkannya untuk tempat pemakaman.

Langgar Tinggi di Pekojan.

Di dekat Langgar Tinggi terdapat sebuah jembatan kecil yang dinamai Jembatan Kambing. Dinamakan demikian, karena sebelum dibawa untuk disembelih di pejagalan (sekarang bernama Jalan Pejagalan), kambing harus melewati jembatan yang melintasi Kali Angke ini terlebih dahulu. Para pedagang di sini telah berdagang secara turun-temurun selama hampir 200 tahun.

Terdapat juga Masjid An Nawier, yang merupakan tempat ibadah yang terbesar di Pekojan. Masjid ini pada tahun 1920 diperluas oleh Habib Abdullah bin Husein Alaydrus, seorang kaya raya yang namanya diabadikan menjadi Jalan Alaydrus, di sebelah kanan Jalan Gajahmada. Pendiri Masjid ini adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya.

Di dekat Masjid An Nawier, terdapat Az Zawiyah, sebuah bangunan untuk ibadah dan pendidikan islam yang didirikan oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, seorang ulama asal Hadhramaut. Beliau juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor.

Banyak tokoh-tokoh besar yang berasal dan memiliki kaitan sejarah dengan kampung Pekojan. Di antaranya adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya yang pernah menjabat sebagai mufti di Betawi. Juga Habib Ali bin Abdul Rahman Al Habsyi, pendiri majlis taklim Kwitang yang sempat belajar pada Habib Utsman di Pekojan. Ada juga seorang ulama besar asli kelahiran Pekojan yang merupakan guru dari syaikh Nawawi Al Bantani. Beliau adalah syaikh Junaid Al Batawi yang sampai akhir hayatnya menjadi guru dan imam di Masjidil Haram. Syaikh Junaid Al Batawi juga diakui sebagai Syaikhul Masyayikh (Mahaguru) dari ulama-ulama madzhab Syafi’i mancanegara pada abad ke-18. beliau pulalah yang pertama kali memperkenalkan nama Betawi di luar Indonesia.

Disarikan dari berbagai sumber.

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Kisah Tragedy Zakat

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

Kisah Tragedy Zakat

download (4)

Rasulallah saw bersabda: Setiap pagi hari turun dua malaikat kepada hamba2-Nya, kemudian salah satunya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).” Sedangkan yang satu lagi berdoa: “Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak ” (HR Bukhari Muslim)

Setiap tahun saya tidak bosan-bosan bawakan cerita di bawah ini sebagai ibrah (contoh).

Saya selalu teringat berapa tahun yang lalu dengan berita seorang dermawan besar Hb Ismet Alhabsyi membagikan zakat dan sedakah di rumahnya.

Ribuan fakir miskin datang menyerbu rumah kediamannya. Karena terlalu banyak yang datang, akibatnya terjadi eksident yang tidak diinginkan. Mereka berdesakan, ratusan orang berebut ingin mendapatkan uang tunai puluhan ribu rupiah plus sebuah sarung sedekah dari dermawan terkenal itu. Akibatnya empat wanita meninggal dunia karena jatuh dan terinjak-injak.

Peristiwa yang sangat menyedihkan ini sebetulnya mereka berencana jika uang dan sarung dari hasil sedekah didapatkan, mereka bisa membeli sesuatu yang bisa menggembirakan keluarganya di hari raya, tapi Allah berkehendak lain, mereka tewas sebelum kehandak mereka terwujud.

Tragedy itu, terus terang melukiskan betapa besar kemiskinan yang melanda di negara kita terutama di kota-kota besar. Kejadian seperti itu sudah tidak asing bagi kita untuk didengar, bahkan banyak yang lebih kejam dari itu sering kita dengar. Memang dalam kondisi miskin semua serba sulit dikendalikan, termasuk emosi. Karena lapar bisa mengubah sifat sabar menjadi berangsangan.

Makanya Sayyiduna Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Jika seandainya kemiskinan itu menjelma menjadi manusia, maka saya akan bunuh”

Orang kaya dan dermawan seperti Hb Ismet Alhabsyi tidak sedikit bilangannya, begitu pula fakir miskin yang membutuhkan satunan dari mereka tidak terhitung banyaknya. Yang sulit kita dapatkan adalah perantara atau yang disebut Amil Zakat yang berfungsi sebagai penyambung hubungan antara si kaya dan si miskin. Sehingga zakat dan sedakah mereka bisa terorganisir atau bisa disalurkan secara baik.

Amil zakat yaitu panitia zakat atau orang yang dipilih oleh imam untuk mengumpulkan dan membagikan zakat kepada golongan yang berhak menerimanya. Amil zakat harus memiliki syarat tertentu yaitu muslim, akil dan baligh, merdeka, adil (bijaksana), medengar, melihat, laki-laki dan mengerti tentang hukum agama. Pekerjaan ini merupakan amanah dan tugas baginya dan harus diberi imbalan yang sesuai dengan pekerjaaanya yaitu diberikan kepadanya zakat.

Sayangnya, zakat fakir miskin kebanyakanya tersalur ke kantong-kantong si perantara Amil zakah atau mungkin sampai kepada mereka tapi setelah nilainya dikentit dan dicatut. Sehingga, maaf, bulan puasa merupakan panen bagi Amil zakat.

Begitulah nasib fakir miskin di negara kita yang kebanyakanya hanya menerima sisa-sisa uang zakat dan sedakah atau mungkin tidak menerima sama sekali.

Kalau Sayyiduna Abu Bakar Shiddik ra memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, bagaimana dengan orang orang yang diberi amanah untuk membagikan zakat tapi enggan untuk menyampaikannya kepada yang berhak? Tentu ini lebih parah bukan?

Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).

Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak (menahan harta).

Riyadh 16 Ramadhan 1436 / 3 Juli 2015 Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Shalat Tarawih Kilat, Apa Hukumnya?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

Shalat Tarawih Kilat, Apa Hukumnya?

download (5)

Baru-baru ini tersebar di tengah-tangah masyarakat video tarawih kilat yang menimbulkan banyak komentar tentang shah dan tidaknya. Terawih ini dilakukan 20 rakaat selama 7menit. Bayangkan luar biasa. Sayangnya, hal semacam ini juga dimuculkan di Metro te-ve supaya rame.

Banyak yang memberi komentar bahwa shalat ini tidak shah. Ada lagi yang bilang shalat model begini tidak khusyuk, ada lagi yang bilang sholat ini tidak ada thuma’ninah. Lalu timbul pertanyaaan kok cepat sekali, apa yang dibaca, apakah imam sempat baca fatihan dan surat Al-Qur’an?

Sebenarnya tidak ada larangan dalam syari’at tentang shalat dari segi cepat dan tidaknya. Tetapi dalam ilmu fiqih ada yang disebut aturan dan anjuran dalam shalat, seperti khusyu’ dalam shalat, thuma’ninah dalam shalat, tidak terburu-buru dll. Karena dalam shalat berarti kita sedang berhadapan muka dengan Allah, kita sedang mengadakan hubungan dengan Allah, Semakin khusyu’ shalat kita semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah.

Coba kita simak hadits dari Abu Hurairah ra:

Rasulullah saw. pernah masuk masjid. Lalu ada seorang lelaki masuk dan melakukan shalat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat. Lelaki itu kembali shalat. Setelah shalatnya yang kedua ia mendatangi Nabi saw. dan memberi salam. Kemudian beliau bersabda lagi: Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat. Sehingga orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: Demi Dzat yang mengutus Kamu dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda: Bila kamu melakukan shalat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Al Qur’an yang mudah bagimu. Setelah itu ruku’ hingga kamu tenang dalam ruku’mu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga kamu tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga kamu tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh shalatmu (HR Bukhari Muslim). Lihat kitab Ad-Durusul Al-Fiqhiyah karya Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf, mengenal ajaran Fiqih lebih dekat. Buku ini telah diterjamahkan oleh Hasan Husen Assagaf, diberi judud “Fiqih Nabi”.

Jadi dalam shalat juga ada tata-cara dan adab, bukan asal shalat saja. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berbicara dengan Allah. Kalau berbicara dengan manusia saja kita harus ada aturan dan sopan apalagi dengan Allah Pencipta alam semesta.

Riyadh 14 Ramadhan 1436H / 31 Juli 2015 Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim | 1 Comment »

♣ Puasa Bulan Al-Qur’an

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2015

Puasa Bulan Al-Qur’an (1)

images (3)

Al-Qur’an turun di bulan puasa, khususnya turun di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Turunnya sekali gus 30 jus dari Lauhul Mahfudh ke Baitu ‘Izzah. Kemudian turun berangsur-angsur kepada Rasulallah saw melalui perantaraan Jibril as selama 23 tahun sesuai dengan petistiwa2 tertentu.

Maka dianjurkan pada bulan ini meperbanyak membaca Al-Qur-an dan merenungkan arti-artinya dengan seksama agar mendapat pendekatan kepada Allah dan kecintaanNya.

Pernah salah seorang guru salaf sedang membaca Al-Qur’an di bulan puasa. Tiba tiba seorang muridnya lewat dan mendengar ayat yang dibaca berbunyi:

{ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّ ﺁﻣَﻨُﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕ ﺳَﻴَﺠْﻌَ ﻟَﻬُ ﺍﻟﺣْﻤَﻭُﺩًّا }

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa cinta (kepada Allah)” (Surat Mariyam, 96).

Guru itu mengulang-ulangi ayat tsb dari malam sampai terbit fajar. Lalu muridnya datang kepada gurunya setelah shalat subuh dan bertanya kenapa ia mengulang-ulangi ayat itu. Sang guru berkata: “setiap aku ulangi ayat tsb bertambahlah kecintaanku kepada Allah dan aku terus ulangi agar terus bertambah kecintaanku kepadaNya.

Itulah sebabnya kenapa sang guru mengulang-ulangi kata cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah akan menimbulkan gairah kepada kita untuk melakukan pengabdian sepenuh hati, ikhlas tanpa pamrih. Jika mendapat kecintaan Allah, kita akan medapatkan semuanya. Tanpa kecintaan-Nya, kita akan kehilangan semuanya. Jika mendapatkan kecintaan Allah kita akan mendapatkan hikmah. Dan barang siapa yang diberi hikmah, ia telah diberi kebaikan yang banyak.

Riyadh 3 Ramadhan 1436 atau 20 Juni 2015. Hasan Husen Assagaf

Puasa Bulan Al-Qur’an (2)

Al-Qur’an adalah mukjizah nabi Muhammad saw. Semua mukjizat para nabi habis setelah wafatnya mereka, kecuali mukjizat Rasulallah saw yang tidak putus dan habis walaupun beliau telah wafat.

Al-Qur-an turun kepada Nabi saw selama 23 tahun. 13 tahun turun di Makkah. Dan surat2 yang turun di Makkah sebanyak 86 surat. Surat2 ini dinamakan surat Makkiyah. Dan yang turun di Madinah sebanyak 28 surat. Surat2 yang turun di Madinah dinamakan surat Madaniyah. Jadi jumlah total surat2 Al-Qur’an seluruhnya ada 114 surat dari mulai surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas.

Al-Quran turun di bulan Ramadhan. Makanya bulan Ramadhan dinamakan bulan Al-Quran. Dan para salaf shalih selalu memperbanyak taddarus dan memfocuskan bacaan Al-Quran di bulan Ramadhan secara khusus.

Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali di bulan Ramadhan. Berarti setiap hari dua kali khatam. Imam Ahmad bin Hanbal menutup buku bacaan agamanya di bulan Ramadhan. Ia mengatakan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Imam Malik bin Anas tidak berfatwa dan tidak ngajar selama bulan Ramadhan. Ia mengatakan ini adalah bulan Al-qur’an.

Salah seorang salaf shalih sedang sakit keras di bulan puasa. Ia memanggil semua anak2nya. Melihat keadaan sang ayah, mereka menangis. Sang ayah berkata: “Kalian jangan menangis, sesungguhnya kami mengkhatamkan al-Qur’an di setiap halaqah 10 kali khatam, dan di masjid ada 4 halaqah Al-Qur’an. Itu berarti 40 kali khatam setiap Ramadhan. Sekarang, aku tidak bisa melaksanakan semua itu. Maka inilah yang pantas kalian tangisi.”

Wallahu’alam

Riyadh 4 Ramadhan 1436H atau 21 Juni 2015M. Hasan Husen Assagaf

Lalu Dilanjutkan Dengan Puasa Hati

Puasa yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan puasa. Sorang muslim berpuasa dari terbit matahari sampai tenggelamnya niatnya hanya cukup untuk menjahui hal-hal yang membatalkan puasa. Barang siapa berpegang teguh kepada yang telah ditetapkan syariat, maka puasanya shah dan tidak ada qadha’ atau kafarah baginya, dan tentu mereka akan memperoleh faidah dunia dan pahala akhirat.

Ada lagi yang lebih tinggi dari jenis puasa yaitu puasa hati. Puasa jenis ini amat sulit untuk diikuti. Ini biasanya dilakukan oleh orang-orang shufi. Jenis ini disamping seseorang harus berpuasa perutnya dan seluruh anggota tubuhnya, maka hatinya pun harus berpuasa.

Sekarang, bagaiman hati itu harus berpuasa? Hati berpuasa dari lintasan pikiran yang buruk dan dari sifat yang tercela, itu menurut Hb Abdullah Al-Haddad dalam kitabnya yang populer Nashaih Diniyah. Maksud beliau meskipun pikiran buruk dan sifat jahat terdetik di dalam hati namun puasa mencegahnya untuk tidak dilakukanya.

Nah, kalau kita sudah bisa menyapai kepada kebersihan hati, dan tidak ada yang terdetik dihati kecuali Allah, tidak ada yang dicintai kecuali Allah, tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, berarti hatinya telah menjadi milik Allah. Maka Allah akan menerangi hatinya, menerangi jalannya, menerangi pikiranya sehingga ia akan sampai ke derajat shufi, mencapai derajat sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam kitab Nya,

ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻻَّ ﺗُﻠْﻬِﻴﻬِﻢْ ﺗِﺠَﺎﺭَﺓ ﻭَ لاَ ﺑَﻴْﻊٌ ﻋَﻦ ﺫِﻛْﺮِ ٱﻟﻠَّﻪِ

“Laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah” an Nur 37

Riyadh 5 Ramadhan 1436 bertepatan 22 Juni 2015

Hasan Husen Assagaf

Posted in 04- Ramadhan | Leave a Comment »

♣ Jadam

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2015

 

download (6)

Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau ia sedang berada di atas jangalah sombong, angkuh dan bangga, sebaliknya kalau ia berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungguhnya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintu gerbangnya: “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17

“Katakanlah: Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu” al-Quran

Pada suatu pagi, seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah datang ke tempat Habib Zen bin Abdullah Alaidrus – Kerukut. Raut mukanya ruwet, ga enak dilihat. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang memiliki segudang kesulitan dan tidak bahagia. Setelah cium tangan dan duduk sebentar, orang itu menceritakan semua masalahnya.

Habib zen, hanya mendengarkannya dengan seksama. Kemudian memberikan kepadanya sebuah amalam yang diambil dari alquran. Ia menyuruh orang itu membaca surat Alam Nasyrah.. dst .

Dengan bijak, habib zen menepuk-nepuk pundak si anak muda sambil berkata:

“Dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah seperti seiris jadam, tak lebih dan tak kurang. Jika jadam itu dimasukan kedalam segelas air maka rasa air itu akan pahit. Tapi kalo jadam itu dimasukan kedalam telaga maka jadam itu itu tidak mempunyai fungsi sama sekali. jadi, kepahitan yang kita rasakan, sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Semakin besar wadah yang kita miliki semakin kepahitan itu tidak dirasakan. Begitu pula kesulitan, kesusahan, kesedihan semua itu akan tergantung pada hati kita.”

“Jadi”, kata Habib Zen, “saat kamu merasakan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu dalam menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, tapi buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

“Maka”, kata habib zen “bacalah ayat ayat ini sambil kamu memegang dadamu:

الم نشرح لك صدرك .. ووضعنا عنك وزرك .. الذي انقض ظهر .. ورفعنا لك ذكرك .. فان مع العسر يسرا .. ان مع العسر يسرا .. فاذا فرغت فانصب .. والى ربك فارغب .. سورة الشرح 1-8

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Surat As-Syarh 1-8)

Riyadh 11 Ramadhan 1436H / 28 Juni 2015 Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Mau Tahu Yahudi?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 25, 2015

Bangsa Yahudi adalah keturunan Yahuza (asal kata Yahudi), salah seorang anak Nabi Ya’kub yang dikenal nama Israil. Nabi Ya’kub adalah putra Nabi Ishak. Nabi Ishak adalah putra Nabi Ibrahim dari istri pertama, Sarah. Dari istri kedua, Hajar, Nabi Ibrahim dikarunai anak bernama Nabi Ismail yang menurunkan bangsa Arab di Makkah.

Jadi, bangsa Arab dan Yahudi sebenarnya masih satu keturunan dari Nabi Ibrahim. Namun, Alquran menyebutkan bahwa bangsa Yahudi adalah yang paling keras memusuhi umat Islam. Allah berfirman:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُو

”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Maidah : 82).

Mereka berusaha menyengsarakan umat Islam. Allah berfirman:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

”Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran : 118).

”Tidaklah sekali-kali orang Yahudi bertemu dengan orang Islam di tempat yang sunyi, kecuali pasti ingin membunuhnya.” (HR Ibnu Mardawaih).

Hal ini bisa disaksikan, bagaimana mereka membombardir Palestina, Lebanon, Iraq, Libia, Suria, Yaman dll dengan bantuan Amerikan dan biyaya dari negara2 Arab yang Muslim dan munafiqin tanpa memerhatikan hati nurani dan kecaman masyarakat dunia.

Bangsa Yahudi sebenarnya bukan hanya memusuhi umat Islam, tapi memusuhi seluruh umat manusia. Bahkan, malaikat dan Tuhan pun mereka musuhi. Tidak percaya!!! Ini buktinya.. Allah berfirman:

”Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 98).

Kekejaman bangsa Yahudi terkadang mereka lakukan terhadap bangsanya sendiri demi tujuan tertentu. Emanuel Robinovich, pendeta tertinggi Yahudi dalam sidang darurat pendeta Yahudi Eropa tanggal 12 Juni 1952 berkata, ”Untuk mencapai tujuan akhir kita bisa saja memerlukan cara yang menyedihkan seperti kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri mengatur terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa sendiri pada suatu peristiwa yang akan kita atur dari belakang layar.”

Untuk menghadapi bangsa Yahudi, umat Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang belum terkalahkan, harus bersatu. Tapi saya tidak tahu kapan umat islam akan bersatu yang sampai sekarang masih kelihatan seperti buih.. Tapi..jika Dia berkehendak maka cukup dengan kata “KUN”, maka selesailah masalahnya..

Salam.. Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Dahulukan Yang Wajib

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 3, 2015

images (3)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم : دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan di dalam memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan atas keluargamu lebih besar pahalanya yang engkau telah nafkahkan atas keluargamu.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa infak yang wajib lebih utama dari infak yang sunnah. Menafkahi istri dan anak adalah wajib sehingga pahalanya lebih besar. Kemudian berinfak kepada para kerabat yang membutuhkan, baru orang lain.

Yang sering terjadi sekarang ini justru banyak orang yang mendahulukan orang lain dalam berinfak dan melupakan hak-hak orang yang terdekatnya (istri, anak, kerabat). Padahal pahalanya lebih besar jika dia termasuk orang yang tidak mampu dan membutuhkan.

Bukan berinfak saja tapi semua perkerjaan ibadah yang harus didahulukan adalah yang wajib dahulu.. kalau sudah benar yang wajibnya baru masuk ke yang sunah.. jangan mendahulukan yang sunah baru yang wajib.. itu yang sunah.. apalagi kalau bukan yang wajib atau sunah.. Mari simak cerita dibawah ini:

Seorang guru memulai materi kuliah dengan menaruh toples diatas meja. Lalu guru itu mengisinya dg bola pingpong hingga gak muat lagi.

Guru bertanya: sudah penuh?

Dijawab oleh murid2: sudah penuh pak.

Lalu guru mengeluarkan kelereng dan dimasukkan ke dalam toples tadi. Kelereng mengisi sela2 bola hingga tidak muat lagi.

Guru bertanya lagi: sudah penuh?

Murid2 menjawab: sudah pak.

Lalu guru mengambil pasir dan dimasukkan ke dalam toples tadi. Pasir mengisi sela2 bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat toples sudah penuh dan tidak ada benda yang bisa dimasukkan lagi.

Tapi terakhir dosen itu menuangkan secangkir kopi. Air kopi masuk mengisi toples yg sdh penuh dengan bola, kelereng dan pasir itu.

Kemudian ia bertanya: Apakah pesan yang dapat diambil dari apa yang saya kerjakan ini?

Lantas ia menjelaskan. Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti toples ini. Tiap kita berbeda ukuran toplesnya. Bola pingpong adalah hal2 besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Allah, anak isteri, keluarga, makan minum, tempat tinggal dan kesehatan. Kelereng adalah hal2 yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar, dll. Pasir adalah yang lain2 dalam hidup kita, seperti olah raga, rekreasi, ngobrol, nonton tv, whatsaap, bb, model baju, model kendaraan dll.

Jika kita isi hidup kita lebih dahulu dengan pasir hingga penuh, maka bola & kelereng tdk bisa masuk. Berarti hidup kita hanya berisi hal2 kecil. Hidup kita habis dangan dengan yang kecil. Kewajiban terhadap Allah & keluarga terabaikan.

Jika kita isi dg mendahulukan bola, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita berisi lengkap, mulai dr hal2 besar & penting hingga hal2 yg menjadi pelengkap.

Jadi, kita mesti mengelola hidup secara cerdas & bijak. Tahu menempatkan mana yg perioritas (wajib) & mana yg menjadi pelengkap (sunah). Jika tdk, hidup bukan saja tdk lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.

Sekarang saya mau tanya Al-Quran itu prioritas (wajib) atau pelengkap (sunah)? Jawab di hati masing2.. Kalo kitabullah saja hanya dijadikan pelengkap (sunah) bukan prioritas (wajib), maka wajar saja Allah tidak memprioritaskan kita untuk sukses dalam hidup.

Lalu sang guru bertanya: ada yang mau bertanya? Semua terdiam, karna sangat mengerti apa inti pesan dlm pelajaran tadi. Namun, tiba2 seseorang nyeletuk bertanya. Apa arti secangkir air kopi yg dituang tadi..? Sang guru mjemjawab sebagai penutup. Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, bisa disempurnakan dengan silaturrahim..

Salam dari riyadh HHS

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Apa Itu Syafa’at?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2014

 

images (2)

Setelah semua mahkluk bernyawa di dunia mati dan hancur binasa, Allah menghidupkan mereka kembali. Maka dengan tiba-tiba mereka pun tegak bangun berdiri. Mereka melihat langit, didapati langit berjalan. Mereka melihat bumi, didapatinya telah bertukar wajah, tidak seperti bumi yang dahulu. Semua makhluk berhimpun, bercampur baur menjadi satu di satu kawasan yang disebut padang Mahsyar, luasnya tak terbatas, berjejal jejal, saling berdesakan, dibanjiri keringat, tanpa pakaian, tanpa busana yang menutupi badan. Dari dahsyatnya hari itu mereka berharap kepada Allah agar dimasukan saja ke neraka ketimbang menghadapinya.

Dalam masa bangkit itu, manusia dalam keadaan bermacam-macam rupa. Lantas mereka berkata:

”Aduh celakanya kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (dari kubur kami)? Lalu dikatakan kepada mereka: “Inilah dia yang telah dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pemurah dan benarlah berita yang disampaikan oleh Rasul-rasul!” (Yassin, Ayat: 52).

Di sana semua makhluk hidup nafsi nafsi. Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, lari dari ibu dan bapaknya, lari dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang bisa melupakan segala galanya. Pada hari itu tak ada yang bisa diharapkan di hadapan pengadilan Allah kecuali sekelumit harapan yang disebut “Syafaat Nabi saw”.

Syafa’at ini adalah do’a yang Rasulallah saw simpan untuk umatnya di hari kiamat nanti. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi umatku di akhirat nanti.”.

Maka sepatutnya kita sebagai umat Muhammad meyakini wujud syafa’at Nabi saw di hari kebangkitan, disaat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar dengan iman dan keyakinan yang kuat, mengetahui apa yang diimani, bukan hanya sekedar angan-angan dan kepercayaan.

Sekarang apa itu Syafa’at?

Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi saw baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Ibnul Atsir mengatakan, ”Yang dimaksud dengan Syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.”

Contohnya, manusia banyak berbuat dosa selama hidupnya di dunia. Di hari kiamat mereka tidak bisa terhidar dari hisab atau perhitungan yang harus dipertanggung jawabkan. Mereka berharap agar ada orang yang bisa menolongnya, tapi sia sia belaka. Karena hari itu adalah hari yang sangat dahsyat. Mereka akan menemui musibah dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihindarkan oleh seorang pun, hanya ada secerah harapan berupa syafa’at yaitu perantara atau penghubung yang bisa menyelesaikan hajatnya. Di sana mereka meminta pertolongan kepada Allah melalui syafa’at. Akhirnya, orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi agar bisa menghilangkan musibah dan kesulitan yang menimpah diri mereka saat itu.

Sekarang mari kita ikuti kisah syafa’at Nabi saw yang dikenal dengan Syafa’at al-‘Uzhma  dalam hadits yang cukup panjang. Kisah ini terjadi ketika semua makhluk  berkumpul di padang masyhar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik ra, sesungguhnya Rasulallah saw bersabda, bahwa pada hari kiamat Allah mengumpulkan seluruh makhluk di satu tempat yang luas. Manusia pada saat itu berada dalam kesusahan dan kesedihan. Mereka tidak kuasa menahan dan memikul beban pada saat itu.

Kemudian mereka mendatangi Nabi Adam as, lalu berkata, “Wahai Adam, berilah syafa’at untuk anak cucumu” Adam as berkata, ”Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Ibrahim as, sesungguhnya ia adalah kekasih Allah (Khalilullah)”. Kemudian mereka mendatangi Ibrahim as. Lalu ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Musa, sesungguhnya Allah telah berbicara langsung kepadanya (Kalimullah)”. Kemudian mereka mendatangi Musa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at pada kalian hari ini. Pergilah kalian kepada Isa, sesungguhnya ia adalah ruh Allah dan kalimat-Nya”. Kemudian mereka mendatangi Isa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Muhammad!”

kemudian mereka mendatangiku. Lalu aku berkata, ”Aku memberi syafaat untuk kalian pada hari ini”. kemudian aku pergi meminta izin kepada Allah. Setelah diizinkan aku berdiri dihadapan-Nya. Kemudian Allah memberi ilham padaku dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya yang belum pernah Allah beritahukan kepada seorang pun sebelumku. Kemudian aku tersungkur bersujud dihadapan-Nya.  Lalu Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku mengangkat kepalaku. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, Ummati, Ummati (umatku, umatku).”.  Maka Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebesar biji gabah atau gandum dari keimanan”.

Kemudian aku pergi dan aku lakukan apa yang diperintahkan, lalu aku kembali lagi kepada Allah dan memuji-Nya dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku seperti dikatakan semula. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, ummati ummati (ummatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku, ”Pergilah, dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebiji sawi dari keimanan”. Kemudian aku lakukan sebagaimana aku lakukan pertama.

Lalu aku kembali lagi kepada Allah dan aku lakukan sebagai mana yang telah aku lakukan semula. Kemudian dikatakan kepadaku ”Angkatlah kepalamu” sebagaimana dikatakan kepadaku pertama kali. Lalu aku katakan ”Ya Allah, ummati ummati (umatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku ”pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang dihatinya terdapat lebih kecil dari biji sawi dari keimanan”. Kemudian aku pergi dan melakukan apa yang diperintahkan.

Lalu aku kembali kepada Allah untuk yang keempat kalinya. Lalu aku memuji-Nya dengan berbagai pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku katakan ”Ya Allah, izinkanlah aku agar bisa mengeluarkan umatku dari neraka bagi yang telah mengucapkan La Ilaha Ilallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Kemudian Allah berfirman, ”Ya Muhammad, sesungguhnya hal itu bukan bagimu atau hal itu bukan atasmu. Akan tetapi demi Kemulian-Ku, Keluhuran-Ku, Kesombongan-Ku, dan Kebesaran-Ku, Aku pasti akan keluarkan umatmu dari neraka siapa yang telah mengucapkan “La Ilaha Illallah”.

Hikmah Dan Atsar

Dari hadits diatas kita bisa menarik beberapa kesimpulan dan hikmah penting diantaranya:

-Pertama tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at  kecuali dengan izin Allah. Contohnya makhluk yang paling mulia dan penutup para Nabi yaitu Rasulallah saw, disaat ingin memberi syafaat kepada umatnya yang sedang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Beliau tidak lepas dari sujudnya sampai dikatakan pada beliau, “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.

-Kedua betapa mulianya kedudukan Rasulallah saw di sisi Allah, sehingga tidak ada satu nabi pun yang mampu memberi syafa’at kepada manusia di padang Mahsyar kecuali Nabi saw. Itulah bukti nyata kecintaan Allah kepada Nabi saw, cinta yang tidak berkesudahan. Dari kecintaan-Nya kepada beliau, apa yang dipintanya dikabulkan.

-Ketiga, hadits di atas bisa pula dijadikan bukti nyata akan kecintaan sejati Nabi saw terhadap umatnya. Cinta sejati beliau terhadap umatnya dibawa sampai ke padang Mahsyar, ketika manusia dalam keadaan sangat gawat. Ketika manusia dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatannya, ketika para nabi menolak dimintai syafa’at (pertolongan) oleh umatnya. di saat itulah Rasulullah saw justru tidak meninggalkan ummatnya. Beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Allah berkata, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan tidak ada yang dikatakan Nabi saw kecuali, ”Ya Allah , umati, umati”.

-Keempat dan terakhir, Rasulallah saw adalah bukan milik orang Arab, bukan milik orang Saudi, bukan milik orang Riyadh, bukan milik orang Jeddah, bukan milik orang Makkah, bukan milik orang Madinah, bukan milik orang Kuwait, atau Qatar, bukan milik orang Mesir, bukan milik orang Hadramut, bukan milik para ulama atau orang-orang tertentu.. Rasullallah datang sebagai rahmat lill’alamin, rahmat bagi semua, rahmat bagi manusia, rahmat bagi hewan dan tumbuh2an, rahmat bagi langit dan bumi, rahmat bagi air, batu dan kerikil. Rahmat beliau tidak terputus hanya diwaktu hidupnya, tapi rahmat beliau dibawa sampai keakhirat, sampai hari kiamat.

Allah humma shalli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohabatihi wasallim tasliman katsirah ..

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Apa itu Shalawat?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Oktober 29, 2014

 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

images (1)

Saudaraku yang dicintai Allah! Setiap mukadimah khuthbah atau kitab pasti diawali dengan ucapan puji dan dan syukur kepada Allah, kemudian setelah itu ucapan shalawat dan salam kepada Rasulallah saw, keluaraga dan para sahabat beliau.

Sekarang timbul pertanyaan kenapa kita perlu mengucapkan shalawat kepada Nabi saw sedangkan beliau adalah orang termulia, tersuci, dan terpilih di muka bumi dan dijamain masuk surga? Tentu jawaban yang tepat karena shalawat merupakan ajuran yang dianjurkan Allah kepada hamba-Nya setelah Allah menganjurkan terlebih dahulu kepada diri-Nya sendiri dan para malaikat untuk berselawat kepada Nabi saw.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab, 56).

Kalau Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi saw, maka sudah selayaknya kita sebagai umatnya untuk bershalawat pula kepada beliau.

Sholat dalam bahasa artinya do’a. Jadi shalawat kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau berarti medoakan mereka agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan salam Nya kepada mereka yang tidak terputus putus. Bahkan bershalawat kepada Nabi saw dan keluarga beliau merupakan hal yang wajib dilakukukan dalam setiap sholat. Tidak sah sholat seseorang tanpa bershalawat kepada Nabi saw dan keluarganya.

Di lain fihak ada lagi yang mengatakan bahwa shalawat kepada Nabi saw berarti kita sedang menyambung hubungan atau ikatan cinta dengan beliau. Semakin banyak kita bershalawat kepada Nabi saw semakin kuat hubungan dan ikatan cinta kita kepada beliau, dan semakin banyak pula rahmat dan barokah dari Allah akan turun kepada kita. Maka dari itu kita diajurkan disaat bershalawat jangan hanya sekedar mengucapkan, tapi kita harus tanamkan di diri kita hubungan pendekatan kecintaan kita kepada Nabi saw agar berkat shalawat semua keinginan kita bisa dikabulkan.

Itu tadi berselawat, sekarang memuji Nabi saw bukanlah menganggap dia sebagai Tuhan.. Menyanjung Rasulullah saw adalah mengakui bahwa beliau saw sebagai manusia pilihan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) kecuali (sebagai) rahmat bagi alam semesta (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin).”

Itu firman Allah. Sumber ajaran memuji dan mencintai Nabi tak lain adalah Islam itu sendiri. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga tahap. Mencintai Nabi, keluarganya, dan membaca Al-Quran.”

Untuk mencintai kekasih saja kita harus menyanjungnya, apalagi beliau itu adalah kekasih Allah, Al-Quran mengajarkan dan menganjurkan kepada umat Islam, sebagaimana tertera dalam Kitabullah sebagaimana tertera di atas,

“Sungguh Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah atasnya dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormatnya salam.” (al-Ahzab, 56).

Shalawat, jika datangnya dari Allah kepada nabi-Nya, bermakna rahmat dan keridhaan. Jika dari para malaikat, berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya, bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan keridhaan Allah dikekalkan.

Dalam surah yang lain Allah memuji hamba-Nya yang satu ini dengan,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh engkau (hai Nabi) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi.” (al-Qalam,4)

Dalam Al-Qur’an Allah memanggil nama nama para nabi langsung dengan nama-nama mereka, tidak ada basa basi. seperti,

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,Al-Baqarah,35

قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ
Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (Hud,46)

وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(As-shaffat, 104)

وَمَا تِلۡكَ بِيَمِيۡنِكَ يٰمُوۡسٰى

“Dan apakah yang ada di tangan kananmu, hai Musa?” (Toha,17)

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku (Al-‘Imran, 55)

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya (Maryam,7)

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.(Maryam, 12)

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,(shad, 26)

Tapi Allah tidak pernah memanggil nama Banginda Muhammad saw langsung dengan namanya “hai Muhammad”, tidak sama sekali, melainkan Dia memanggilnya dengan kata-kata yang hormat dan terpilih seperti, “hai Nabi ( يَا أَيُّهَا النَّبِيّ )” , “hai Rasul (يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ)”, “hai pria yang berselimut (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ )”, “hai Hai orang yang berselimut ( يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ) ” .

Di samping itu bukankah Baginda sendiri yang menganjurkan kita untuk menghaturkan sanjungan (madah) terhadap di dia? Seorang nabi yang telah digambarkan oleh Al-Quran sebagai “pencurah rahmat bagi seluruh alam semesta”. Seperti diharapka dia dalam banyak hadits agar kaumnya banyak menyebut namanya.

“Sebutlah selalu namaku, sungguh shalawatmu itu sampai kepadaku,” sabdanya. Bahkan dianjurkan agar umat Islam banyak-banyak menyebut namanya di malam Jum’at. Seperti dalam riwayat lain, sungguh menyebut nama Rasulallah saw akan dijawab (dengan pahala) berlipat-lipat…..subhanallah….

Begitu pula jika kita ingin mengadakan hubungan dengan Allah, harus dengan shalawat. Yang dimaksudkan disini bukan membaca shalawat kepada Allah tapi melakukan shalawat atau mendirikan shalat shalat yang diwajibkan dan yang disunahkan. Semakin banyak kita shalat, semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah dan semakin banyak rahmat dan berkat turun dari Allah. Sholat atau doa kita akan didengar. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berhadapan muka secara langsung dan berbicara dengan Allah.

Sudah barang tentu dalam mengucapkan shalawat kepada Nabi saw harus disertai pula dengan bershalawat kepada keluarga dan para sahabatnya. Yang dimaksud keluarganya adalah mereka yang mempunyai tali hubungan karabat dengan beliau. Dan sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi saw, beriman dengan ajaran yang dibawa Nabi saw dan wafat tetap dalam keadaan keimanan.

Sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang mencintai dan dicintai Nabi saw, orang orang mulia, patuh mengikuti jejak Nabi saw dan ta’at dengan segala perintahnya. Mereka tidak ma’shum. Mereka adalah manusia manusia yang tidak terlepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Namun mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta dan nyawa demi agama, taat beribadah kepada Allah dengan setulus hati. Bahkan diantara mereka ada yang dijamain masuk surga yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair bin ’Awwam, Thalhah, Abdurahman bin ’Auf, Saad bin Abi Waqqash, Abu ’Ubaidah bin Jarrah, dan Said bin Zed ra. Karena jasa jasa mereka yang begitu besar, Allah telah memberikan ridha-Nya kepada mereka dan menjanjikan balasan surga di akhirat.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (al-Taubah : 100).

 Kalau Allah telah memberi Ridho-Nya kepada para sahabat, maka sudah seharusnya kita sebagai muslim menghormati mereka dan mendoakan mereka, bukan menyalahkan mereka apalagi melaknat dan mengkafirkan mereka (al-’iyadhu billah).

Kisah Mi’raj Tentang Shalawat Atas Nabi

Diriwayatkan bahwa Rasulallah saw bersabda, “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’

Jibril berkata, “Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.”

Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi, “Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.”

Malaikat itupun berkata, “Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.”

Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, “Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.”

Rasulallah saw pun bertanya, “Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.”

Malaikat itupun menjawab, “Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’ “

Allahuma shalli a’la sayyidina Muhammadin wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | 1 Comment »

♣ Cintailah Yang Di Langit

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 16, 2014

images (1)
CINTAILAH YANG DI LANGIT
Oleh: Hasan Husen Assagaf
 
 
عَنْ أِبِي الدَّرْدَاء رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ‏ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ ‏كَانَ مِنْ دُعَاءِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ‏:‏ ‏” ‏اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يًبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اَللَّهُمَّ اجْعَل حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِي، وَأَهْلِي، وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِد‏ِ “‏‏. (رواه الترمذي وقال حديث حسن)‏
 
 
Diantara doa Nabi Daud as adalah: ”Ya Allah, anugrahkan kepadaku cinta-Mu, dan cinta orang orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang menyampaikan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah jadikanlah cinta-Mu melebihi dari kecintaanku kepada diriku, keluargaku, dan melebihi dari kecintaanku kepada air yang sejuk. (HR at-Tirmidzi, hadits hasan)
 
Saudaraku,
 
Jika Allah ingin membuat sebuah kata yang indah, maka kata yang paling tepat bagi-Nya adalah kata cinta. Cinta kepada Allah akan menimbulkan gairah kepada kita untuk melakukan pengabdian sepenuh hati, ikhlas tanpa pamrih. Jika mendapat kecintaan Allah, kita akan medapatkan semuanya. Tanpa kecintaan-Nya, kita akan kehilangan semuanya. Jika mendapatkan kecintaan Allah kita akan mendapatkan hikmah. Dan barang siapa yang diberi hikmah, ia telah diberi kebaikan yang banyak
 
7Jika ia diberi hikmah maka ia akan bahagia dengan sedikit harta. Jika tidak ada hikmah, ia akan sengsara dengan harta berlimpah. Jika ia diberi hikmah, musuh bisa menjadi teman. Sebaliknya jika tidak diberi hikmah, teman bisa menjadi musuh. Allah menganugrahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang ber-akal-lah yang dapat mengambil hikmah
 
Anugrah yang luar biasa besarnya jika mendapat hikmah. Hikmah adalah anugrah dari Allah sebagai hadiah atas keimanan dan istiqamahnya. Jika diberi hikmah maka ia akan ridho dengan pemberian-Nya. Jika diberi hikmah ia akan percaya terhadap dirinya sendiri. Jika diberi hikmah ia akan mendapatkan sakinah (ketentraman hati)
 
Dengan sakinah, Ashabul Kahfi bisa tidur nyenyak di dalam gua. Dengan sakinah, Nabi Ibrahim bisa selamat dari panasnya api, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Dengan sakinah, nabi Yunus bisa hidup tentram dalam perut ikan. Dengan sakinah, nabi Yakub bisa bertemu lagi dengan anaknya Yusuf. Dengan sakinah, Allah mengabulkan doanya Nabi Zakaria. Dengan sakinah, Rasulallah saw dan Sayyiduna Abubakar Shiddik ra selamat di dalam gua Tsaur dari kejaran kafir Quraisy.
 
Dengan sakinah mereka ridho dengan pemberian-Nya, baik atau buruk. Dengan sakinah mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Mereka tidak pernah mengeluh apa apa, tidak pernah menggerutu, selalu melihat hal hal yang baik adanya, dan selalu mengabaikan yang buruk.
 
Salah satu contoh dari sakinah (ketentraman hati), Allah telah memberi kepada nabi Ayyub ujian dan cobaan yang sangat berat, bukan kepada harta benda dan anaknya saja, akan tetapi ujian dan cobaan berat telah menimpah pula terhadap dirinya. Ia menderita penyakit kulit selama 18 tahun yang tidak bisa diobati oleh thabib. Ia bersabar dan menerima, kemudian memohon pertolongan kepada Allah, iapun berseru “Ya Rab.., sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Do’a dan seruan nabi Ayyub as didengar di atas langit dan segera dikabulkan-Nya.
 
Apakah pada saat itu Allah mendatangkan kepadanya spisialis kulit yang bisa mengobati penyakitnya? Tidak. Apakah Allah menurunkan dari langit malaikat yang bisa membantu mengobati penyakitnya? Tidak pula. Akan tetapi Allah meyembuhkan penyakit Ayyub dengan kekuasaan dan petunjuk-Nya, Dia menyembuhkannya dengan sebab yang sangat kecil sekali yaitu air. Pada saat itu Allah memerintahkannya agar menghantamkan kakinya ke bumi. Ayyub pun mentaati perintah-Nya.
 
Subhanallah, dengan kehendak-Nya  keluarlah air sejuk yang memuncrat dari bekas hantaman kakinya. Ayyub pun mandi dan minum dari air itu sehingga sembuhlah dia dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan thabib dan ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.
 
Itulah sakinah. Sakinah adalah menyukuri semua nikmat yang diberikan Allah. Sakinah adalah melihat kepada hal hal yang baik adanya, dan selalu mengabaikan yang buruk.
Sakinah adalah mengarahkan perhatian pada semua yang kita miliki. Dan yang kita miliki adalah kekayaan yang melebihi dari kisah kekayaan Karun. Apakah kita bersedia menjual sepasang mata kita kalau dihargai semilyar rupiah? Kita hargai berapa kaki dan tangan kita? Kita hargai berapa pendengaran dan penglihatan kita? Terus, berapa harga anak anak dan keluarga kita?
 
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
 
Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”  Ibrahim 34
 
Apakah kita mensyukuri kesemuanya itu? Kita jarang melihat pada apa yang kita miliki
Yang selalu kita ingat hanya apa yang tidak kita punyai. Kalau kita memiliki sakinah, kita akan mensyukurinya. Kalau kita memiliki sakinah, kita akan mensyukuri nikmat
Kalau kita mensyukuri nikmat berarti kita telah dianugrahi hikmah.
 
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” Lukman 12
 
Wallahu’alam 
 
NB/ teruskan artikel ini sebayak mungkin kepada yang anda kenal, siapa tahu Allah akan membukakan jalan yang baik bagi kita dibulan yang penuh dengan kebaikan. amin  

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Kedahsyatan Do’a

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 11, 2014

 

7Jika suatu kisah disebut dalam Al-Qur’an berarti kisah itu mempunyai arti dan nilai yang sangat besar. Ada suatu peristiwa besar yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, yaitu peristiwa penyerangan tentara gajah ke Makkah. Peristiwa yang telah diabadikan Allah dalam surat Al-Fill ini terjadi pada abad keenam atau tahun 570M. Pada saat itu negara Yaman dikuasai oleh seorang raja Kristen dari Habasyah bernama Negus yang berhasil mengusir bangsa Yahudi dari negeri itu. Lalu mengangkat Abrahah Ashram sebagai seorang gubernur di negeri Yaman.

Tidak berjauhan dari negeri Yaman, ada sebuah kota tua bersejarah, yaitu Makkah. Di sana terdapat sebuah Baitullah, Ka’bah namanya, rumah yang didirikan oleh nabi Ibrahim as dan dan putranya Ismail as beberapa abad silam. Seluruh manusia dari berbagai bangsa dan negeri datang setiap tahun berkumpul menunaikan haji ke tempat itu. Tidak sedikit pula dari penduduk Yaman sendiri datang ke sana berkumpul dan berhaji menurut cara mereka pada masa itu.

Dengan kumpulnya manusia di Makkah yang begitu banyak setiap tahun, maka kota Makkah menjadi ramai dan bangsa Quraisy sebagai penguasa Baitullah semakin terhormat dan mendapat kedudukan yang layak pula. Lalu timbul hasut dan niat busuk di hati Abrahah ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman sebagai pengganti Ka’bah di Makkah dan membelokkan ummat manusia agar jangan datang ke Makkah, ia berniat ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman sebagai pengganti Ka’bah di Makkah.

Niat itu segera dilaksanakannya. Lalu dia membangun sebuah gereja besar di kota San’a, ibukota negeri Yaman yang diberi nama gereja Al-Qulais. Gereja besar itu dibuatnya dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan dihiasi dengan berbagai macam ukiran antik, dan dipenuhi dengan benda benda berharga. Setelah selesai pembangunan gereja ia mengundang semua manusia menunaikan haji ke sana.

Kehadiran gereja itu cukup mengundang kemarahan bangsa Arab. Mulailah terjadi pembekotan, tidak seorangpun di antara bangsa Arab yang mau menunaikan haji ke Yaman, sekalipun sudah dianjurkan dan diperintahkan oleh Abrahah. Hati hati mereka sudah tertancap di Ka’bah, sekalipun bentuk Ka’bah tidak begitu menarik, bahkan tidak diukir oleh ukiran-ukiran antik dan tidak pula dihiasi dengan perhiasan-perhiasan yang mewah. Ini karena janji Allah kepada nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as ketika meletakkan batu pertama di Ka’bah. Pada saat itu nabi Ibrahim berdoa:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya, Allah, Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” Ibrahim 37

Dari kemarahan bangsa Arab timbul isu isu bahwa seorang laki-laki dari suku Kinanah membuang hajat di dalam gereja. Tatkala Abrahah mengetahui hal itu, ia marah besar dan bersumpah akan memimpin seluruh tentaranya berangkat menuju Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia berharap pula jika Ka’bah sudah diruntuhkan, terpaksa semua bangsa Arab akan datang ke Yaman, ke gereja besar yang sudah disediakannya sebagai pengganti Ka’bah. Abrahah lalu mempersiapkan tentera yang besar jumlahnya dengan berkenderaan gajah. Pasukan ini lalu berangkat menuju ke kota Makkah untuk meruntuhkan Ka’bah.

Mendengar berita Abrahan akan datang dengan tenteranya yang berkenderaan gajah untuk meruntuhkan Ka’bah, rumah suci yang mereka hormati, mereka bersiap untuk mempertahankannya dengan segala kekuatan yang ada pada mereka. Tetapi mustahil mereka bisa melawanya karena tentara Abrahah sangat besar jumlahnya. Mereka sadar bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawannya, kemudian mereka semuanya terpaksa pasrah dan menyerah.

Tetkala Abrahah tiba di Al-Mughamas, daerah dekat Thaif, ia mengutus seorang laki-laki dari Habasyah yang bernama Al-Aswad bin Maqshud untuk segera berangkat ke Makkah. setibanya di kota Makkah ia menggiring harta penduduk bangsa Quraisy dan lainnya. Diantara harta yang dirampasnya ada 200 ekor unta milik kakek Nabi saw, Abdul Muthalib bin Hasyim yang pada saat itu ia sebagai pemimpin dan pembesar kaum Quraisy. Mereka semua tidak bisa melawanya dan tidak bisa berbuat apa apa.

Sebelum memasuki kota Makkah, Abrahah memerintahkan pasukannya untuk berhenti duhulu. Lalu ia mengutus Hunathah Al-Himyari ke Makkah untuk membawa surat seruan terhadap penduduk Makkah. Dalam surat itu penduduk Makkah diperintahkan tunduk dan mengalah dan membiarkan pasukannya masuk meruntuhkan Ka’bah, dan pula keinginannya ingin bertemu dengan ketua dan sesepuh kota Makkah.

Abdul Muthalib Bin Hasyim kakek Nabi saw datang menemui utusan sebagai pemimpin rakyat Quraisy dan orang yang bertanggungjawab terhadap Ka’bah. Utusan itu segera berkata kepadanya: “Abrahah berpesan kepada tuan bahawa ia bukan datang untuk memerangi bangsa Quraisy, tetapi hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Kalau tuan dan bangsa Quraisy tidak menghalangi maksudnya, maka tidak akan terjadi pertumpahan darah dan Abrahah berpesan supaya tuan datang menemuinya”.  Abdul Muthalib menjawab: “Demi Allah, kami tidak akan memerangi kamu, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk berperang”.  “Kalau begitu mari kita menghadap Abrahah”,  kata utusan itu mengajak Abdul Muthalib.

Utusan itu berangkat bersama sama Abdul Muthalib dan beberapa pemuka Quraisy menuju perkemahan tentera Abrahah untuk bertemu dengan Abrahah. Setibanya di kemah, Abrahah terharu melihat ketampanan rupa Abdul Muthalib dan kewibawaanya. Ia lalu bangun dari singgasananya dan tidak dipersilahkannya untuk duduk di bawah dan ia memutuskan untuk turun ke bawah dan duduk di sampingnya di tikar permadani. Ia memperlakukan Abdul Muthalib sebagai tamu terhormat.

Lalu Abrahah berkata: “Katakanlah kepadaku, apa keperluan tuan?”. Abdul Muthalib mejawab: “Keperluanku hanya agar kamu mengembalikan kepadaku 200 unta yang kau rampas dariku”.  Mendengar permintaan itu, Abrahah menjadi heran dan berkata: “Kami datang untuk mehancurkan Ka’bah, sekarang kenapa tuan hanya membicarakan tentang 200 ekor unta yang kami rampas, dan tuan lupakan agama dan Ka’bah yang tuan puja?”. Dengan tangkas Abdul Muthalib menjawab: “Saya ini hanya pemilik unta, sedangkan Ka’bah itu ada Pemiliknya dan Dia sendiri yang akan menjaga dan memeliharanya.”.  Lalu Abrahah berkata: “Kalau begitu tuan tidak akan menghalangi niat kami?”. Abdul Muthalib menjawab: “Itu adalah urusan kamu dengan Pemilik Ka’bah”. Maka untuk menyenangkan hati Abdul Muthalib, semua unta yang dirampasnya dikembalikan kepadanya.

Hari mulai malam dan gelap-gulita. Di malam itulah tentera Abrahah akan memasuki kota Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Keadaan penduduk kota Makkah mulai panik, Abdul Muthalib kembali ke Makkah dan dilihatnya semua penduduk Makkah besar-kecil, laki-laki perempuan sibuk bersiap siap semuanya untuk mengungsi, Mereka membawa semua barang dan ternak mereka, ingin menghindarkan diri dari bahaya yang mungkin akan menimpah mereka.  Lalu Abdul Muthalib dan beberapa masyarakat Quraisy pergi menuju Ka’bah. Mereka semua berdoa kepada Allah sambil memegang pintu Ka’bah agar Dia menurunkan pertolongnan-Nya dan menghalangi Abrahah dan pasukanya. Abdul Muthalib menangis sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi dirinya dan hewannya, maka lindungilah rumah-Mu. Janganlah Engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatan-Mu esok hari”.

Setelah mereka masing-masing mencium Hajar Aswad serta berdoa agar Allah memelihara Ka’bah dari bencana tentera Abrahah, mereka meninggalkan Ka’bah menuju ke atas sebuah bukit, untuk menyaksikan kejadian selanjutnya. Di pagi harinya kota Makkah sunyi senyap dari penduduk dan tentera Abrahah mulai bergerak untuk memasuki kota Makkah. Tetkala Abrahah mengarahkan gajahnya ke Makkah, gajahnya tidak mau berdiri walaupun dipukuli tapi tetap tidak mau berdiri. Lalu Abrahah mencoba mengarahkan gajahnya ke arah Yaman, gajahnya berdiri dan berlari. Lalu diarahkan gajahnya ke Syam, gajahnya melakukan hal yang sama dan demikian seterusnya.

6Tiba-tiba Allah mengutus burung burung laut yang bernama Ababil. Setiap seekor burung membawa 3 buah batu kecil sebesar kacang Arab atau kacang adas, satu di paruhnya dan dua di kakinya. Batu-batu itu dijatuhkan kepada pasukan bergajah.

Subhanallah, hasilnya sangat ajaib, bukan hanya luka parah tetapi pasukan Abrahah dan gajah-gajahnya menjadi hancur lebur, daging dan tulang mereka coplok berceceran di atas tanah, tidak seorang pun yang terluput dari bahaya maut, semuanya habis binasa. Melihat kejadian yang luar biasa itu, Abrahah mulai takut, lalu kembali melarikan diri, pulang menuju San’a. Ia terkena sebuah batu dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar anak burung. Ia mati di Sana’ karena luka yang dideritanya dalam perang ajaib itu.

Sunguh peristiwa pasukan gajah ini telah membawa bukti besar atas kekuasaan Allah dan membawa kesan besar terhadap Quraisy dan kedudukanya. Peristiwa ini mengangkat kedudukan Abdul Muthalib martabatnya di kalangan masyarakat Arab. Karena ia telah melakukan sesuatu hal dengan penuh kecerdasan dan strategi yang indah dan menyelamatkan kaumya dari bencana yang besar. Begitulah caranya membela agama Allah bukan membelanya dengan kekerasan atau emosi yang tidak terkendalikan.

25Kejadian hebat itu, menjadi tahun sejarah pertama bagi seluruh bangsa Arab dan di tahun itu pula lahir seorang manusia suci Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim di kota Makkah. Dengan lahirnya Rasulallah saw, Ka’bah akan tetap menjadi rumah suci dengan arti yang sebenarnya sampai sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Ke sanalah ummat Islam dari berbagai negeri, dari berbagai bangsa dan warna kulit berkumpul setiap tahun, untuk menunaikan ibadat haji seperti yang diperintahkan Allah. Dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, kota kesayangan Nabi, Makkah, tidak pernah tidur dikunjungi ummat manusia dari segala penjuru yang jumlahnya lebih banyak dari pengunjung kota Patikan, Washington, London, ataupun Paris.

Wassalamu’alaikum wr wb // Hasan Husen Assagaf

Riyadh, 10/07/2014

NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.

 

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 3 Comments »

♣ Kekuatan Munajat

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 10, 2014

KEKUATAN MUNAJAT
Oleh: Hasan Husen Assagaf
 
4
Alhamdulillah puasa kita jalankan dengan baik. Dan sekarang sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka insyallah. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar.
 
Pada malam yang indah ini saya akan sampaikan dua hadist.
 
لما روي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : خَرَجَ نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي فَإِذَا هُوَ بِنَمْلَةٍ رَافِعَةٍ بَعْضَ قَوَائِمِهَا إِلَى السَّمَاءِ , فَقَالَ : ارْجِعُوا فَقَدِ اسْتُجِيبَ لَكُمْ مِنْ أَجْلِ شَأْنِ هَذِهِ النَّمْلَةِ. (الحاكم في المستدرك و قال هذا حديث صحيح الإسناد)
 
Salah seorang Nabi keluar mencari air (maksudnya: shalat istisqa’, meminta hujan kepada Allah), lalu ia melihat seekor semut dengan bersandar ke punggungnya dan mengangkat kedua kakinya ke langit. Kemudian Nabi itu berkata kepada kaumnya, “Kembalilah pulang, Allah telah menerima do’a kalian karena do’a seekor semut ini.” (HR al-Hakim dalam Mustadrak dengan isnad shahih, dari Abu Hurairah ra)
 
فَعَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)
 
Rasulallah saw bersabda: “Kalian tidaklah mendapat pertolongan dan rizki melainkan disebabkan oleh orang-orang lemah diantara kalian“ (HR: Bukhari, dari Mus’ab bin Sa’ad)
 
Al-kisah, bumi Basrah sudah lama tandus tidak turun hujan. Matahari sangat terik, angin padang pasir berhembus panas dan kering. Kemarau kali ini membuat penduduk gelisah. Air susah dicari, tanaman banyak yang mati, dan ternak mulai kelihatan kurus.
 
Penduduk tidak tinggal diam. Mereka bersepakat untuk medirikan sholat Istisqa’ (shalat minta hujan). Sholat itu dihadiri oleh para alim ulama dan tokoh masyarakat Basrah yang dipimpin oleh salah seorang ulama top di antara mereka.
 
Dengan kehadiran para alim ulama terkemuka, sholat Istisqa’ ini dianggap sesuatu yang istimewa. Mereka berfikir Allah pasti mengkabulkan permintaan mereka. Mereka yakin harapan mereka dikabulkan dan hujan akan segera turun.
 
Setelah selesai sholat istisqa’ dua rakaat dan khotbahnya , ternyata tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tidak ada mendung, tidak ada awan bahkan matahari semakin terik. Kemudian timbul pertanyaan mengapa hujan tidak turun? Sedangkan mereka sholat sama-sama para alim ulama Basrah.
 
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan sholat Istisqa’ yang kedua kalinya dengan harapan agar Allah mengabulkan do’a mereka. Selesai sholat yang kedua, keadaanya masih sama. Tidak ada tanda tanda turun hujan, tidak ada mendung dan tidak ada tanda-tanda do’a mereka dikabulkan. Langit masih tetap cerah dan matahari masih tetap terik. Para alim ulama dan masyarakat semakin bertanya tanya apa sebabnya tidak turun hujan?
 
Kemudian disusul dengan shalat istisqa’ yang ketiga. Harapan besar mereka agar Allah mengabulkan do’a mereka kali ini. Tapi, masih tetap tidak ada tanda tanda turun hujan, Matahari masih tetap terik, awan tetap cerah. Para ulama mulai gelisah. Timbul tanda tanya kenapa do’a mereka tidak dikabulkan? Akhirnya seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dengan tangan hampa.
 
Hanya satu orang sufi yang tidak pulang. Ia bernama Malik bin Dinar (*1). Ia duduk di lapangan, beberapa saat memudian pergi ke masjid yang tidak berjahuan dari lapangan. Ia duduk di masjid sampai larut malam. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang ke dalam masjid. Orang itu berkulit hitam, penampilannya sangat sederhana sekali, dan memakai sarung dan baju tidak terurus.
 
Malik mengamati gerak-geriknya dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan di larut malam seperti ini. Orang itu pergi ke tempat wudu lalu menuju ke mihrab. Ia kemudian mengerjakan sholat dua raka’at. Sholatnya pun tidak terlalu lama, surat yang dibaca tidak panjang, begitu pula kiam, ruku dan sujudnya sekedar tuma’ninah.
 
Selesai sholat, orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdo’a. Malik bin Dinar mendengar isi do’a yang ia sampaikan dengan nada yang tidak terlalu keras tapi bisa didengar orang. Ia berkata:
 
5Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu telah datang berkali-kali kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaan-Mu. Apakah rahmat dan belas kasihan-Mu terhadap mereka telah habis? Atau jika Kamu kabulkan harapan mereka akan mengurangi kekuasaan-Mu? Ya Allah, aku bersumpah demi nama-Mu dan kecintaan-Mu kepadaku turunkanlah hujan kepada kami dengan secepatnya
 
Setelah do’a dibaca oleh orang tersebut, angin dingin datang dengan sekerasnya, awanpun mendung, bumi mejadi gelap gulita dan suara halilintar terdengar dengan sekerasnya. Tidak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Dengan seketika bumi Bashrah menjadi basah.
 
Malik bin Dinar tercengang menyaksikan keadaan tsb. Ia menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya lalu menghampirinya dan berkata: “Wahai pemuda, kamu tidak malu kepada Allah dengan dengan isi do’a yang kamu bacakan tadi.”. Pemuda itu bertanya: “isi do’a yang mana yang kamu maksudkan?”. Malik bin Dinar berkata, “Do’a yang kamu baca bahwa yang mana Allah mencitaimu. Apakah kamu memang yakin bahwa Allah mencintaimu?” Lalu orang itu menjawab dengan singkat, “Karena Aku sangat mencintai Allah, maka aku yakin Allah akan mencitaiku. Bagaimana aku beribadah tanpa menanamkan rasa cintaku kepada-Nya? Maka sesuai dengan kadar cintaku kepada-Nya aku dapatkan cinta-Nya kepadaku”. Setelah itu, ia segera pergi. Malik bin Dinar mencoba menahannya. “Tunggu sebentar, aku ingin tahu siapa kamu itu sebenarnya? “Aku adalah seorang pembantu yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah majikanku” jawabnya.
 
Akhirnya Malik mengikutinya dari jauh. Pemuda itu memasuki rumah orang kaya di Basrah. Pagi harinya ia segera menuju rumahnya dan menanyakan jika orang kaya itu ingin menjual pembantunya. Orang kaya itu berkata, “Ambillah budak ini. Terserah berapa saja kamu ingin bayar harganya. Ia tidak berguna bagiku, karena malam ia habiskan waktunya untuk menangis dan siang untuk shalat dan puasa
 
6Kemudian Malik bin Dinar menuntun tangan pemuda tadi dan dibawa ke rumahnya. Di tengah jalan ia meminta untuk mampir ke masjid. Setibanya di masjid, ia berwudu dan terus mengerjakan sholat sunat dua rakaat. Malik bin Dinar mengamatinya, ia ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh pemuda itu. Selesai sholat, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa seperti yang dilakukannya malam itu. Tetapi kali ini dengan do’a yang berbeda:
 
Ya Allah, rahasia antara aku dan Engkau telah telah diketahui oleh semua makhluk. Bagaimana aku bisa hidup dengan tenang di dunia ini karena telah ada orang ketiga menjadi penghalang antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah demi kecintaan-Mu kepadaku, cabutlah nyawaku sekarang juga,”
 
Setelah diturunkan kedua tangannya pemuda itu sujud. Malik bin Dinar mendekatinya, menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi ia sujud agak lama dan tidak bangun-bangun. Malik menggerakkan badannya, tapi… ia sudah tidak bernyawa lagi. Subhanallah.
 
Itulah dunia. Makanya janganlah sekali-kali meremehkan seseorang, berperasangka baiklah kepada setiap manusia. Setiap manusia Allah berikan kelebihan yang berlainan. Janganlah memandang rendah kepada kepada yang lemah, kepada yang miskin, kepada yang bodoh, siapa tahu Allah mengangkat derajat mereka. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau ia sedang  berada di atas jangalah sombong, angkuh dan bangga, sebaliknya kalau ia berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintun gerbangya:  “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17
 
Katakanlah : Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas” Al-Imran, 26-27
——————–
 
(1)Malik bin Dinar seorang tabi’in yang hidup di zaman Hasan al Bashri, bahkan ia adalah salah seorang muridnya. Ia terhitung sebagai seorang Shufi, ilmuwan yang zuhud dan rendah hati. Dia adalah seorang yang suka merendah dan tidak mau makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri. Dan kerjanya adalah menulis mushaf  dengan upah. Ia juga ahli hadits yang diriwatkan dari tokoh-tokoh hadist di masa lampau seperti Anas bin Malik, Ibnu Sirin dll. Malik bin Dinar meninggal sekitar tahun 130 H yang bertepatan tahun 748 M. Dalam do’a nya yang populer Malik bin Dinar berkata : “Ya Allah, janganlah Kamu masukkan apapun ke dalam rumah Malik bin Dinar”.
 
Wallahu’alam/ Hasan Husen Assagaf
NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Shiam & Shaum

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 1, 2014

SHIAM DAN SHAUM

Oleh: Hasan Husen Assagaf

images

Mari kita lihat perbedaan kata antara shiyam (الصيام) dan shaum ( الصوم )

Ada empat kata shiyam (الصيام) dalam dalam surat Al-Baqarah. Dua kata terdapat dalam ayat 187, satu dalam ayat 196  dan satunuya lagi terdapat dalam ayat 183. Semua kata shiam disini bermakna perintah untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan puasa dari mulai fajar menyingsing sampai tenggelamnya matahari. Puasa ini lebih poluler lagi disebut puasa menahan perut dari lapar dan haus. Sorang muslim berpuasa dari terbit matahari sampai tenggelamnya niatnya hanya cukup untuk menjahui hal hal yang membatalkan puasa. Barang siapa berpegang teguh kepada yang telah ditetapkan syariat, maka puasanya shah dan tidak ada qadha atau kafarah baginya, dan tentu mereka akan memperoleh faidah dunia dan pahala akhirat. Akan tetapi puasa sejenis ini tidak akan mewujudkan faedah-faedah lain yang diharapkan. Inilah yang dinamakan shiam atau puasa syariat atau yang disebut puasa kebanyakan manusia.

Adapun kata shoum ( الصوم ) hanya satu kata terdapat dalam dalam surat Maryam, Allah berfirman di ayat 26:

فَكُلِي وَٱشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلبَشَرِ أَحَداً فَقُولِيۤ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيّاً

Artinya: ”Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (diam) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.

Kata shaum (الصوم) dalam ayat diatas artinya diam atau tidak berbicara. Itu yang dianjurkan Allah kepada siti Maryam, tetkala ia mengandung anak (Nabi Isa) tanpa bapak, lalu ia menjauhkan diri dari manusia. Ia disuruh makan dan minum tapi berpuasa, maksudnya berdiam atau berzikir.

Jadi yang dimaksud dengan kata shaum yaitu disamping perut berpuasa juga seluruh anggota tubuh yang lain ikut berpuasa. Seperti mata berpuasa, telinga berpuasa, mulut berpuasa, tangan dan kaki ikut pula berpuasa. Puasa jenis ini dinamakan juga dengan puasa untuk mensucikan akhlak dari berbagai hal yang diharamkan dan dari berbagai hal yang dibenci.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang tidak menjaga mulutnya di bulan Ramadhan dari dusta atau mengupat seseorang, atau menuduh sesorang atau menyakiti sesorang dengan lidahnya maka puasanya menjadi batal. Seseorang yang benar benar berpuasa dengan seluruh anggota tubuhnya akan memiliki doa yang mustajab ketika berbuka. Jika anggota tubuh sesorang berpuasa sebagaimana perutnya berpuasa, maka dia akan bisa mencapai derajat yang tinggi pada hari hari terakhir dari bulan Ramadhan.

Pernah satu kali Rasulallah saw mendengar seorang wanita tengah mencaci maki tetangganya sementara dia sedang dalam keadaan berpuasa. Maka Rasulallah saw pun menyuruh wanita itu berbuka.

Rasulallah saw berkata kepada wanitu itu: “Makanlah”.

Wanita itu menjawab: “saya sedang berpuasa”

Rasuallah saw berkata: “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sementara engkau mencaci maki tetanggamu. Sesungguhnya puasa bukanlah hanya dari makan dan minum”.

Ini perbedaan antara shiam dan shaum menurut Nabi saw. Wanita itu shiam tapi tidak shaum.

Ada lagi yang lebih tinggi dari jenis shaum, jenis ini merupakan jenis puasa yang amat sulit untuk diikuti yaitu puasa (shaum) hati. Ini biasanya dilakukan oleh orang orang shufi. Jenis ini disamping seseorang harus berpuasa perutnya, dan seluruh anggota tubuhnya, maka hatinya pun harus berpuasa.

Sekarang, bagaiman hati itu harus berpuasa? Hati berpuasa dari lintasan pikiran yang buruk dan dari sifat yang tercela, itu menurut Hb Abdullah Alhaddad dalam kitabnya yang populer Nashaih Diniyah. Maksud beliau meskipun pikiran buruk dan sifat jahat terdetik di dalam hati namun puasa (shaum) mencegahnya untuk tidak dilakukanya. Pikiran buruk itu seperti penyakit dengki, hasut, penyakit pelit dan kikir, penyakit buruk sangka, dan juga penyakit sombong.

Nah, kalau kita sudah bisa menyapai kepada kebersihan hati, dan tidak ada yang terdetik dihati kecuali Allah, tidak ada yang dicintai kecuali Allah, tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, berarti hatinya telah menjadi milik Allah. Maka Allah akan menerangi hatinya, menerangi jalannya, menerangi pikiranya sehingga ia akan sampai derajat shufi, mencapai derajat sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam kitab Nya,

رِجَالٌ لاَّ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ

“Laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah” an Nur 37

Wallahu’alam/ Hasan Husen Assagaf

NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Bacalah! (Iqra’)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 21, 2014

 

2Oleh: Hasan Husen Assagaf

Ada peristiwa besar dalam kehidupan Rasulallah saw yang patut direnungkan dan  dipikirkan kembali oleh kita sebagai pengikutnya. Yaitu peristiwa ketika beliau menyendiri di Gua Hira di Jabal Nur, jauh dari kesibukan kehidupan kota Mekkah.

Tiba-tiab sebuah suara terdengar: “ Iqra’ “ artinya bacalah.

Tubuh Rasulallah saw pun menggigil berkeringat.

Lalu beliau menjawab: “saya tidak bisa membaca”.

Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.

Mendengar perintah itu tubuh beliau makin menggigil.

Beliau menjawab lagi: “saya tidak bisa membaca”.

Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.

Seiring itu pula Rasulallah saw menjawab dengan ucapan yang sama:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan”

941277294_2481909890_m“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan” adalah wahyu pertama, surat al-Alaq, dari Allah turun kepada Rasulallah saw melalui perantara malaikat Jibril as di puncak jabal Nur, di gua Hira’-Makkah. Mulai saat itu beliau menerima wahyu dari Allah berturut turut 23 tahun hingga usia beliau 63 tahun. Wahyu itu lalu dikumpulkan oleh para shahabat sehingga menjadi sebuah Mushaf, dan dikenal sebagai al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan bagi manusia yang memiliki akal dan pikiran. Ini merupakan suatu amanat yang besar dari Allah agar manusia “membaca“.  Dahulu, amanat (akal dan fikiran) ini telah ditawarkan pada langit dan bumi, bulan, bintang dan matahari, gunung, lautan, api, batu, angin, tsunami dan semua benda jamad yang tidak berakal. Semua enggan untuk memikul amanat tersebut karena mereka khawatir akan menghianatinya. Maka dipikulah amanat itu oleh manusia.

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh“ al Ahzab, 73.

Masa lalu, saat pertama kali saya belajar al-Qur’an bermula di kampung, di Cianjur. Umur saya mungkin kurang lebih tujuh tahun. Saya dibawa ke seorang kiai yang mengajarkan kami membaca al-Qur’an. Saya masih ingat dan tidak bisa melupakan kiai itu. Ia orang tua soleh, ahli dalam bacaan kitab suci, mampu berdoa dan oleh orang kampung ditaruh di garis depan di bidang rohani. Sekarang kenangan ini menimbulkan apa yang barang kali patut disebut dalam bahasa Arab “ihsas muzdawij“ atau perasaan bercampur syukur dan sedih sekaligus pada saat yang sama.

Rasa syukur muncul karena sejak saat itu saya diajari adab sopan santun yang berurusan dengan al-Qur’an, bahwa buat sekadar menyentuh kitab suci saja, diri kita harus pula suci. “tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan “ al-Waqiah,79 . Maka sebelumnya saya pun berwudu’ dan untuk membacanya, mula mula saya membaca doa ta’awudh atau doa mohon perlindungan Allah supaya kita dijauhkan dari gangguan syetan yang jahat.

Adapun yang membuat saya merasa sedih karena kitab suci dihormati cuma dari segi rohaniah saja. Padahal kitab suci, yang dalam firman Allah disebut “ berisi petunjuk yang tak diragukan” bukan hanya untuk dijadikan benda pusaka akan tetapi kitab suci itu untuk dibaca, dipelajari, ditelaah makna-maknanya dan arti-artinya secara mendalam, kemudian diamalkan sebagai kitab yang di dalamnya tak diragukan, mengajak kita supaya bertakwa pada Allah.

Imam besar Ghazali dalam kitabnya Ihya menyebutkan bahwa membaca kitab suci dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus segala duka. Di dalam kitab suci, ada amalan-amalan gaib dan kekuatan wahyu yang mampu menghapus gumpalan gelap yang menutup hati. Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi terang.

Maka dengan membaca al-Qur’an dan menelaah makna-maknanya, seharusnya kita bisa membuat suatu yang bisa merobah diri kita dari alam kegelapan ke alam terang menderang, membawa kita ke alam yang lepas dari kejahilan yang selalu memojokan umat Islam sekarang ini  ke sudut yang gelap, ke sudut yang bisa membuat mereka dilecehkan dan dipecahbelahkan. Kitab suci harus disikapi seperti anjuran Amirul Mu’minin Umar bin Khattab ra, yang mana kita harus bisa sebesar mungkin mengambil manfaat duniawi dari al-Qur’an tadi, bukan hanya sebagai usaha masuk surga.

Jadi apa faedahnya membaca al-Quran sejak berabad-abad bila kita tetap dikalahkan, dilecehkan, dipojokan dan dipecahbelahkan. Memang ada yang salah pada diri-diri kita bahwa kita membaca kitab suci hanya untuk persiapan mati, bukan untuk persiapan hidup. Sedang sejarah Islam telah membuktikan bahwa, dengan al Qur’an, mereka bisa merobah dunia.

Wallahu’alam,

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Benih (Nuthfah)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 6, 2014

BENIH (NUTFAH)

Oleh: Hasan Husen Assagaf

تخيروا لنطفكم فإن العرق دساس

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah (benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”, (HR Ibnu Majah).

Saya pernah membaca makalah Fahd Al-Ahmadi, penulis Saudi, yang dimuat di surat kabar “al-Riyadh”. Makalahnya cukup bagus dan menarik. Ia mengisahkan bahwa hampir semua bayi orang Kristen yang baru lahir selalu dibaptis atau dimandikan di gereja dengan air suci. Katanya, baru baru ini ada gereja Katolik membaptis anak yang baru lahir dengan air es. Maksudnya agar dijauhkan dari ganguan Syetan dan bisa mendatangkan Ruh Kudus. Kasihannya, begitu bayi yang masih merah itu dicelup di air es ia langsung sakitan dan lama kelamaan meninggal dunia. Sudah barang tentu, cuma bayi bayi yang sehat dan kuat yang bisa bertahan hidup.

Terlepas dari kepercayaan tadi, katanya, inti tujuannya adalah untuk memilih di kemudian hari keturunan yang kuat dan sehat. karena tidak ada yang bisa berlangsung hidup kecuali bagi yang kuat dan sehat. Perinsip semacam ini telah digarap dari zaman Firaun dan Yunani. Dan sampai saat ini, masih berlaku dan diyakini orang banyak bahwa kehidupan tidak dimiliki kecuali bagi yang kuat dan sehat.

Plato (347-427 SM) telah menulis dalam kitabnya “Jumhuriah” (Republic) bahwa memilih keturunan sangat penting dalam alam kehidupan di dunia, baik bagi tumbuh tumbuhan, binatang atau manusia. Pada pasal 459 ia menjelaskan bahwa suatu keharusan untuk memilih suami atau istri dari keturunan orang baik agar mendapatkan kelak keturunan yang baik pula.

Di Swedia telah berlaku hukum tidak tertulis melarang mengawini orang orang berfisik lemah atau tunanetra/cacat, walaupun mereka telah diasuh oleh pemerintah di panti asuhan akan tetapi dilarang untuk dikawini dan berketurunan. Tujuanya agar tidak didapatkan di kemuadian hari keturunan dan bangsa yang lemah dan berpenyakitan. Bahkan sampai-sampai mereka melarang mengawini orang orang yang berketurunan rendah atau bukan dari penduduk asli seperti Negro, Cocas dan orang orang Asia.

Lee Kwan Yew di Singapura telah mengeluarkan pelaturan bagi mahasiswa2 yang memiliki otak genius untuk tidak dikawini kecuali dengan mahasiswi2 yang memilili otak dan kecerdikan yang sama. Hal ini demi untuk mendapatkan kelak keturunan yang berlevel tinggi dalam kecerdikannya.

Begitupula di Venezuela, satu satunya negara yang mempunyai Departemen Kecerdikan. Departemen ini bertujuan untuk mengumpulkan mahasisa2 yang cerdik dan genius agar dikawini dengan mahasiwi2 yang selevel dengannya. Maksudnya untuk memperbanyak atau mengembangbiaknan keturunan cerdik dan genius di kemudian hari.

Menurut saya, hal ini memang kelihatanya agak aneh untuk diterapkan pada zaman sekarang yang serba komplek, karena setiap orang mempunyai hak untuk berketurunan, baik dia itu orang lemah, bodoh, tunanetra, hamba sahaya atau orang yang berketurunan rendah. Dari sejarah penghidupan manusia yang kita ketahui, semakin banyak ditemukan penemuan penemuan baru semakin banyak manusia melanggar peraturan yang telah ditepakan agama dan syariat seperti pembunuhan keturunan sebelum terjadi perkawinan, aborsi, pembantaian orang orang cacat dan penguburan bayi perempuan seperti terjadi di zaman Jahiliah.

Dulu sebelum datangnya Islam, telah menjadi adat orang orang Arab jahiliyah yang memiliki keturunan rendah atau hamba sahaya mempersilahkan istri istrinya untuk ditiduri/digauli oleh orang orang yang berjiwa pahlawan, pemberani atau Sheikh Kabilah (kepala suku). Tujuannya adalah”Istibdhaa“ ( استبضاع  ) atau agar bisa mendapatkan benih orang hebat dan keturunan orang besar. Setelah itu Islam mengharamkan dan melarang sistim dan adat buruk yang sudah menjadi kebiasan masyarakat Arab jahiliyah.

Kalau kita teliti, sesungguhnya kita ini dibentuk oleh Allah dalam cara yang sangat mengerikan dan menakjubkan. Ilmu pengetahunan genetika mengajarkan pada kita bahwa setelah ibu dan ayah kita bercampur maka terjadi peluang akan lahirnya seorang bayi yang dibentuk sebagian besar hasil dari 24 kromosom bapak dan 24 kremosom ibu. Ke 48 kromosom ini nengandung segala sesuatu yang menentukan bawaan sang bayi. Ini merupakan warisan dari bawaan ayah dan ibu. Begitu pula ayah dan ibu merupakan warisan dari bawaan kakek dan nenek dan seterusnya. Apakah itu perkiraan belaka? Tidak. Ini fakta ilmiah. Kalau anda ingin membaca lebih banyak mengenai hal ini, bacalah ”Anda dan Warisan Bawaan Kelahiran Anda” karangan Amram Sheienfeld.

Hal semacam ini telah diungkapkan oleh Rasulallah saw 14 abad yang lalu dalam hadistnya yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ الي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجل من بني فَزَارِةّ فَقَالَ وَلَدَتْ امْرَأَتِي غُلَامًا أَسْوَدَ وَهُوَ حِينَئِذٍ يُعَرِّضُ بِأَنْ يَنْفِيَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل أَلَكَ إِبِلٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ مَا أَلْوَانُهَا قَالَ حُمْرٌ قَالَ أَفِيهَا أَوْرَقُ قَالَ نَعَمْ فِيهَا لَوُرْقٌ قَالَ مِمَّ ذَاكَ تَرَى قَالَ مَا أَدْرِي لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ نَزَعَهَا عِرْقٌ قَالَ وَهَذَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ نَزَعَهُ عِرْقٌ وَلَمْ يُرَخِّصْ لَهُ فِي الِانْتِفَاءِ مِنْهُ – رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن الاربعة

Seorang dari Bani Fazarah datang kepada Nabi saw dan berkata : “Istriku telah melahirkan anak berkulit hitam” ia seakan-akan tidak mengakuinya.

Rasulullah Saw bersabda: “apakah engkau memiliki unta? “

Lelaki itu menjawab: “ya”

Rasulullah bertanya: ”apa warnanya?”

Lelaki itu menjawab: ”merah”,

Rasulullah bertanya lagi: ”apakah ada warna hitam pada unta itu?”

Lelaki itu menjawab: “sebenarnya kehitam-hitaman, entah dari mana datangnya warna hitam itu?”

Rasulullah saw bersabda: “mungkin karena faktor keturunan” (HR. Bukhari, Muslim dll dari Abu Hurairah ra)

Dari hadits di atas tergambar bahwa faktor keturunan mempengaruhi warna kulit seseorang, paras dan ciri-ciri fisik, hal ini tidak harus diwarisi dari orangtuanya saja tapi bisa juga dari nenek moyangnya, sifat fisik inilah yang disebut sifat keturunan.

Rumusan hadits di atas mengarahkan bahwa Islam sendiri menyukai, untuk keberlangsungan generasi mendatang, agar memilih pasangan dari keturunan yang baik, sehingga di dalam  pernikahan tersebut akan melahirkan keturunan yang baik pula

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فإنَّ الْعِرْقَ دَسَّاس – رواه ابن ماجه والديملي

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah(benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”. (HR. Ibn Majah).

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

Posted in Nuthfah (Benih) | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

♣ Buta Huruf (Ummiy)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 24, 2014

download

Apa betul Nabi saw itu buta huruf (Ummiy)?

Sebelumnya saya akan bawakan ayat al-Qur’an yang berbunyi:

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Artinya : ”Dan kamu (wahai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Al-Qur’an sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), maka benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” – Al-Ankabut: 48

Kata  mukjizat berasal dari bahasa Arab a’jaza – yu’jizu yang artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu. kemudian diartikan sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang diberikan kepada seorang Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang tidak mampu ditantang atau dilawan oleh manusia biasa. Mukjizat merupakan khariqul’adat atau sesuatu yang melanggar kebiasaaan.

Jelasnya, mukjizat merupakan sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan dan tidak bisa diterima oleh akal manusia biasa hanya bisa dirasakan oleh keimanan. Berapa banyak mukjizat turun kepada para Nabi tapi tidak diimani oleh orang kafir. Mereka bukan tidak mempercayainya tapi karena sifat adat kejahiliyan, kesombongan dan kedengkian justru mereka menolaknya. Berapa banyak hal yang mereka tuntut supaya Nabi yang mereka tantang itu mampu menunjukkan kejadian-kejadian aneh diluar kebiasaan manusia, tapi setelah terbukti tetap mereka tolaknya.

Masing masing Nabi diberikan mukjizat yang berbeda-beda satu sama lain. Mukjizat ini hanya diberikan untuk menguatkan kenabiannya dan menunjukan bahwa agama yang dibawanya bukanlah bikinannya sendiri tetapi benar-benar dari Allah. Contohnya mukjizat nabi Musa as, tongkat yang diberikan kepadanya dapat menelan semua ular yang didatangkan tukang-tukang sihir dan dapat membelah laut. Dan mukjizat nabi Isa as dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya. Rasulallah saw berisra’ Mi’raj merupakan mukjizat. Rasulallah saw membelah bulan juga mukjizat, Rasullah saw berbicara dengan Allah secara langsung merupakan mukjizat. Al-Qur’an merupakan mukjizat. Dan masih banyak lagi mukjizat Nabi saw, salah satunya ialah bahwa beliau itu ummi (buta huruf), tidak bisa membaca dan menulis.

Beliau itu ummiy, tidak bisa membaca dan menulis, karena beliau tidak belajar kepada siapapun. Sejak kecil hati beliau telah dibedah oleh Jibril as atas perintah Allah dan dikeluarkan segumpal darah yang berisi was was syetan, lalu dicuci dan diisi dengan hikmah, makrifah dan ilmu yang tidak diberikan kepada siapapun. Setelah menjadi Nabi beliau diajarkan kepadanya oleh Allah melalui perantaraan Jibril. Makanya apa yang diucapkan beliau tidak menurut kemauan hawa nafsunya.

Yang menjadi perhatian kita bahwa Nabi itu ummiy tidak dapat membaca dan menulis, tapi kita harus berhati-hati buta huruf Nabi saw disini bukan berarti nabi itu bodoh atau jangan dikaitkan dengan kebodohan dan ketidakfahaman. Jangan sekali-kali berperasangka buruk karena yang mengajarkan Nabi saw bukan manusia tapi Allah.

Misalnya kalau kita datang kepada Albert Einstein, fisikawan terkenal di seluruh jagat yang menemukan teori relativitas dengan rumusnya yang paling terkenal adalah E=mc², kalau kita datang kepadanya dan sodorkan buku berbahasa Arab, ia pasti tidak faham karena ia buta huruf Arab. tapi kita harus berhati hati buta hurufnya Einstein dalam Bahasa Arab disini bukan berarti ia itu bodoh.

Jadi jika dikatakan buta huruf bagi Nabi saw bukan berarti beliau itu bodoh. Allah Maha Kuasa, dan Sangat Bijaksana, dia telah membuat Nabi buta huruf agar semua sumber yang datang dari beliau hanya berupa wahyu Allah. Semua tindak-tanduk Nabi saw adalah wahyu, perbuatanya wahyu, pembicaraannya bersumber dari wahyu, keputusannya adalah wahyu. Jika beliau bisa membaca dan menulis maka ia akan belajar semua kebudayan ummat yang sudah maju pada saat itu, beliau pasti belajar kebudayaan yunani, kebudayaan Mesir, kebudaan Persia, kebudian Greek, lalu datang wahyu dari Allah maka terjadi tumpang-tindih antara kebudayan yang pernah dibaca Nabi dengan dengan wahyu yang turun dari Allah.  Jika beliau berbicara tentang satu ayat maka orang kafir akan bertanya;  “apakah ini wahyu dari Allah atau dari Anda”.

Jadi suatu hikmat yang luar biasa Allah menjadi Nabi kita saw buta huruf, agar semua wahyu yang turun tidak bercampur-baur dengan kebudayan apapun, melulu wahyu dari Allah. Dan semua informasi dan fakta yang yang diucapkan Nabi saw hanya wahyu dari Allah Yang Maha Esa.

Jelasnya, buta huruf bagi Nabi saw merpakan kehormatan, sebaliknya bagi kita sebagai manusia biasa merupakan cela dan aib, karena wahyu tidak turun kepada kita, kalau kita tidak belajar membaca dan menulis kita akan bodoh, sebalikna jika kita mengatakan Nabi ini buta huruf tidak bisa baca dan nulis berarti suatu kehormatan dan keistimewaan, maksudnya membuat semua perbuatan, perkataan, ilmu, dan tidak-tanduk Nabi saw adalah wahyu dari Allah.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى

Allah berfirman, yang artinya:

“kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.” An-Najm 2-6

Al-Qur’an turun melalui Jibril as kepada Nabi saw bukan dengan tulisan (teks) tapi dengan lisan. Bahkan ayat pertama yang turun kepada beliau berbunyi “Iqra” (bacalah) bukan “Uktub” (Tulislah). Dari salah satu mukjizat Nabi saw adalah bahwa beliau itu buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis, karena beliau tidak belajar kepada siapapun, beliau diajarkan kepadanya oleh Allah melalui perantaraan Jibril. Makanya apa yang diucapkan beliau tidak menurut kemauan hawa nafsunya.

Adapun hikmah Nabi itu buta huruf itu telah dijelaskan oleh ayat diatas yaitu untuk menghilangkan tuduhan atau sangkaan orang-orang kafir terhadap Rasulullah saw bahwa Al-Qur’an diambil dari orang lain, atau dikutip dari kitab-kitab sebelumnya. Dengan demikina mereka tidak mendapatkan alasan sedikitpun untuk menyerang apa yang telah dibawa oleh Nabi didalam risalahnya maupun Al Qur’an yang telah diterimanya sebagai sebuah wahyu dari Allah selama diturunkannya secara berangsur-angsur hingga akhir hayat beliau.

Sekarang kenapa wahyu yang turun kepada beliau dari Allah baik melalui Jibril atau langsung bisa diterimanya? Karena ingatan dan hapalan Nabi saw super hebat, luar biasa tidak bisa disamakan dengan ingatan dan hapalan orang orang biasa. Maka semua wahyu yang dibacakan Jibril as yang turun dari Allah kepada beliau bisa langsung melekat di ingitan Nabi saw tidak bisa terlepas lagi.

Jelasnya, kalau ada orang mengatakan bahwa Nabi saw itu pintar menulis berarti dia bodoh tidak mengetahui sejarah Nabi saw atau berarti dia telah melecehkan Islam. Orang pintar pada masa Nabi saw bukan orang yang pandai menulis tapi yang hebat pada zaman itu adalah orang yang hapalanya kuat. Kalau begitu menulis bukalah budaya orang Arab. Orang Arab di masa itu merasa malu jika diketahui ia pandai menulis. Karena mereka mengandalkan diri mereka kepada hapalan. Orang yang pandai menulis berarti hapalannya tidak kuat. Makanya hadist-hadist Nabi saw yang diriwayatkan atau disampaikan dengan lisan memiliki kedudukan yang lebih kuat daripada riwayat yang disampaikan dengan tulisan

Tapi Islam adalah agama terbuka dan bisa menerima budaya yang datang dari luar semasih budaya dan cara mereka itu baik tidak keluar dari rel-rel syariat. Contohnya setalah wafatnya Nabi saw para sahabat mulai mengumpulkan Al-Qur’an dari penghapal-penghapal agar mukjizat Nabi itu tidak putus dan habis sepeninggalan mereka. Maka terbentuklah “lajnah” untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan ini tentu memerlukan waktu dan tenaga luar biasa. Setelah terkumpul mulailah mereka menulis demi untuk menjaga keselamatan Al-Qur’an dari tangan tangan kotor dan memeliharanya agar tetap bersih, murni dan terjaga.

Wallahu’alam //Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Huruf Arab

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 10, 2014

 

usman

Al-Qur’an turun bukan dalam bentuk teks atau tulisan. Ia turun dalam bentuk wahyu baik langsung atau melalui perantaraan Jibril as. Adapun penulisan Al-Qur’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyakannya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.

Semua orang mengetahui bahwa Al-Qur’an pada zaman Utsman bin Affan ra ditulis tanpa titik dan harakat seperti yang kita lihat sekarang ini. Namun, hal ini tidak mempengaruhi bacaan Al-Qur’an karena kaum muslimin pada saat itu adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab. Keadaan ini terus berlangsung hingga Islam mulai berkembang terus meluas ke wilayah di sekitar jazirah Arab, Asia, Afrika sampai ke Eropa.

Bersamaan dengan itu, orang-orang Islam non-arab (disebut ‘ajami) merasa kesulitan untuk membaca Al-Qur’an yang pada waktu itu ditulis tanpa titik dan harakah.

Kejadian ini diawali dari cerita Abu al-Aswad Ad-duwali (1) yang hidup di zaman Muawiyah bin Abi Sufyan mendengar seseorang membaca satu ayat Al-Qur’an dalam surat At-Taubah ayat 3, yang berbunyi:

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

(Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuuluhu)

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin”.

Pada lafadz “Rasuluhu” (di baca dengan rafa’ atau dommah). Tapi, karena tidak ada harakah orang ‘ajam tersebut membacanya dengan:

“Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuulihi”. Pada lafadz “Rasuluhu” dibaca rasuulihi (dibaca dengan kasrah)

Mendengar bacaan tersebut Abu Al-Aswad terkejut, lalu mengucap: ”Allahu Akbar, ini musibah besar, bagaimana mungkin Allah berlepas diri dari RasulNya!..

Setelah itu ia langsung berfikir dan berfikir untuk mencari solusi guna menjaga keutuhan Al-Qur’an,

Oleh karena itu, Abul Al-Aswad Ad-duwali mejadi sosok sangat penting bagi muslimin yang pertama berkiprah guna menjaga keutuhan al-Qur’an. Dialah yang menemukan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat. Harkat yang diciptakan oleh Abu al-Aswad ini lalu disempurnakan lagi oleh muridnya Kholil bin Ahmad al-Bashri (2) pada masa dinasti Abbasiyah, hingga menjadi bentuk harakat seperti yang ada sekarang.

Adapun titik yang terdapat pada huruf ba’, ta’, tsa’, ya, dan lain-lainnya, itu terjadi pada masa Abdul Malik bin Marwan. Dahulu huruf huruf tersebut tulisan dan bentuknya sama sehingga sulit bagi orang ’ajam (non-Arab) untuk membedakan mana yang ”ba”, mana yang ”ta”, mana yang ”tsh”, mana yang ”ya” mana yang ”nun” karena tidak bertitik. Lalu Abdul Malik bin Marwan memerintahkan Nashr bin Ashim (3) dan Yahya bin Ya’mur (4)  menyelesaikan tugas tersebut. Untuk mencari jalan keluamya, mereka berdua lalu menyusun huruf huruf yang sama karakter dan bentuknya untuk membedakan bacaanya dengan memberikan titik titik dibawah atau diatas dengan mendahulukan urutannya

Diantaranya ada beberapa huruf yang karakter dan bentuknya sama sebelum diberi titik titik yaitu:

ba (ب) , ta (ت  ) , tsa( ث ) , nun (نـ) , ya( يـ  )

jim (ج ) , ha ( ح ) ,kha( خ )

dal( د ) , dzal ( ذ )

ra ( ر ) , za ( ز )

sin ( س ) , syin ( ش )

shat ( ص ) , dhat ( ض )

‘ain ( ع ) , ghain ( غ )

fa ( ف ) , qaf ( ق )

tha ( ط ) , dza ( ظ )

Ada juga huruf huruf yang bentuk dan karakternya berbeda yaitu selain huruf huruf tersebut diatas. Karena berbeda bentuk dan karekternya maka tidak diberi titik kecuali ”ha” marbuthah, yaitu:

alif, lam, mim, kaf, ha, dan waw   أ  ل  م  ك  هـ  و

Dalam penulisan titik huruf tersebut, Nashr dan Yahya menggunakan tinta yang warnanya sama dengan tinta yang digunakan untuk menulis mushaf, agar tidak serupa dengan tanda harakat yang digunakan oleh Abu al-Aswad Ad-duwali

Maka, sejak saat itulah mushaf Alqur’an mulai ada titik dan harakat pada huruf-hurufnya.

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

—————-

(1) Abul Aswad Ad-Duwali. Namanya: Dzalim bin Amr bin Sufyan Ad-duwali al-kinani (dari bani Kinanah) al-adnani (dari Adnan datuk Rasulallah saw), lebih dikenal dengan julukannya Abu Al-Aswad Ad-Duwali (atau Ad-Dili). Dia dilahirkan pada masa Rasulallah saw dinobatkan menjadi Nabi, tapi beliau tidak pernah melihat Nabi saw, beliau beriman dengan iman yang penuh. Makanya dujuluki salah seorang tabi’in. Beliau selalu berdampingan dengan Sayyidina Ali bin Abi thalib ra saat menjadi khalifah di Basrah, ikut bersama beliau dalam peperangan Shiffin dan Al-jamal, juga dalam memberantas golongan Khawarij. Beliau dijuluki raja ilmu nahu dan bahasa arab, ia merupakan penggagas ilmu nahwu, pakar tata bahasa Arab,  sastawan arab unggul, syair tekenal, ahli hadist dan fiqih. Disamping itu beliau orang yang memiliki keutamaan dan Hakim (Qadhi) di Basyrah. Ia dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab. Dan yang pertama kali meletakkan harakat pada huruf hijaiyah. wafat tahun 69H (670-an M) dalam usia 85 tahun.

(2) Kholil bin Ahmad al-Bashri adalah Abu abdurahman Al-khalil bin Ahmad Al-farahidi (718 – 791). Dia peletak asas bahasa dalam bukunya ‘Al-Ain’,  pakar bahasa Arab, orang yang menemukan aturan tata bahasa dan harakat bahasa arab yang pernah digali oleh Abu Al-Aswad Ad-Duwali. Beliau sastrawan arab, pintar dalam ilmu nahwu. Guru guru beliau diantaranya Sibawai, al-ashma’i, al-kisai, Harun bin musa al-nahwi, dll. Beliau hidupnya miskin, terlantar, sabar, berambut kusut, berwajah pucat, berbaju compang camping.

(3) Nashr bin Ashim adalah Nasr bin Ashim Al-laisti (89H) dari Bani Kinanah, sastawan arab, nahu dan ilmu fiqih, fasih dan alim dalam bahasa arab, beliau salah satu anak murid Abu Al-Aswad Ad-Duwali. Dikatakan beliau adalah orang yang pertama menciptakan titik dalam huruf huruf bahasa arab atas perintah Hajjaj bin Yusuf.

(4) Yahya bin Ya’mur, beliau adalah Abu Sulaiman Yahya bin Yamur Al-Bashri dari kabilah Kinanah termasuk ulama besar, ahli bahasa, dan nahu, fasih dalam bahasa arab, berguru kepada Abu Al-Aswad Ad-Duwali.  Diriwayatkan beliau adalah orang yang pertama menciptakan titik titik dalam huruf Al-Qur’an. Wafat tahun 129H

Referece :  Al-Bidayah Wa An-Nihayah, oleh: Al-Imam Ismail ibnu Kastir Ad-Dimasyqi

 

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Bahasa Arab

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 7, 2014

Oleh: Hasan Husen Assagaf

1Penghuni surga yang pertama adalah nabi Adam as. Di dalam sebuah riwayat bahwa penduduk surga itu berbahasa Arab, maka bisa dikatakan jika bahasa nabi Adam as adalah bahasa Arab. Tetapi tidak ada riwayat secara pasti mengenai bahasa yang digunakan di syurga, apakah bahasa Arab atau bahasa lainnya

Bahasa Arab adalah bahasa yang cukup tua usianya dan tetap digunakan umat manusia sampai hari ini. Bangsa Arab yang pertama kali dikenal berasal dari Yaman, dari kabilah Jurhum yang mewariskan kabilah Al-Qahthan. Mereka berhijrah ke Jaziratul Arab, ke Makkah setelah diketemukan zamam oleh nabi Ismail dan ibunya Hajar as.

Nabi Ismail as bukan Arab tapi musta’rabah (artinya membias mejadi Arab). Karena kedatangan kabilah Jurhun yang hidup di Jaziratul Arab, maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah. Campur-baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismail tak bisa dielakan. Dari sana , terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari, bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Arab.

Bahasa Arab memiliki perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para ahli bahasa Arab mengatakan bahwa bahasa Arab memiliki persamaan kata (sinonim) yang paling menakjubkan. Misalnya saja kalau kita buka kamus bahasa Arab yang top seperti kamus “Lisanul Arab”, kata Asad yang artinya singa, mempunyai sinonim yang banyak sekali lebih dari 50 kata semuanya artinya satu hewan Asad (singa). Diantaranya yang saya tahu adalah Laits, Ghadanfar, Dhargham, Qaswar, Haidar, Sari, Basil, Hamzah, Fadi, Usamah, Syibl, Abbas dan lain sebagainya. Hal semacam ini tidak pernah ada di dalam bahasa lain di dunia ini, hanya ada di dalam bahasa Arab, karena faktor usia bahasa Arab yang sangat tua, tetapi tetap masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari hingga hari ini

Itu keistimewaan bahasa Arab, lain dengan bahasa Inggris. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Inggris bertemu dengan kakeknya yang ketujuh, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa ngobrol walaupun mereka sama-sama orang Inggris. Kenapa? Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammarnya. Setelah ratusan tahun, bahasa itu mengalami perobahan total.

Berlainan dengan Bahasa bahasa Arab, dari zaman Rasulallah saw dan sebelumnya, tidak berobah. Kalau seumpamanya Rasulallah saw, orang Arab yang hidup di abad ke 7 bertemu dengan Hb Umar bin Hafidh cucunya yang ke-45, orang Arab yang hidup di abad 21 ini, mereka bisa ngobrol santai dengan menggunakan bahasa Arab.

Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung arti yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Cukup hanya terdiri dari dua atau tiga huruf dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain, subhanallah. Makanya bahasa Arab ini tidak bisa disingkat, dibolak-balik atau diacak-acak hurufnya. Karena bisa merobah makna dan arti. Kurang satu titik saja bisa merobah arti.. Luar biasa..

Terus, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang sempurna yang bisa menerjemahkan Al-Qur’an percis seperti bahasa Arab aslinya. Semua terjemahan akan bertele-tele dan panjang-lebar, kadang kadang sulit difahami ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh ringan, lafadz “kitab” dalam bahasa arab artinya buku, ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka lagi kamus kita dapatkan kata “kitab” artinya kitab, buku, surat, hukum, takdir, catatan amal perbuatan, Al-Qur’an, Injil, Taurat dan masih banyak lagi arti2 lainya yang sulit dibawakan disini.

Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Saya bukan membanggakan diri, ayah saya ahli sasta Arab, seorang syair yang cukup dikenal dikalangan Alawiyyin pada zamannya, tapi ia tidak bisa menerjemahkan sastanya kedalam bahasa Indoneisa. Bukan tidak mampu, tapi bendahara  bahasa Indonesia yang tidak mampu menerjemahkan syair2nya kedalam bahasa Indoneisa.

images (1)Lain dari itu, bahasa Arab memiliki keindahan saat dilantunkan dan didengar, tidak membosankan walaupun diulang berkali kali. Lihat saja surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika dibacakan. Bahkan bacaan Al-Qur’an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru orang yang tidak paham bahasa Arab. Sedangkan orang yang mengerti bahasa Arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya. Bahkan orang yg benar-benar paham bahasa Arab kita lihat bila sholat atau berdoa sampai menangis. Kita semua tahu kisah-kisah tentang Rasulullah saw dan sahabat sahabat beliau menangis saat membaca Al-Quran, bahkan kita tahu Sayyiduna Umar Ibn Khattab ra yang pribadinya keras sebelum masuk islam, hatinya luluh saat mendengar surat Toha dibacakan.

Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung arti yang kaya, kecuali bahasa Arab. Dengan alasan ini maka wajarlah bila Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa yang dipakai di dalam Al-Qur’an.

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ قُرْآناً عَرَبِيّاً لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada umulqura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya” – Asy-syura,7

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | 1 Comment »