Hasan Husen Assagaf

Arsip Penulis

♣ Marhaban Ya Ramadhan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2008

 Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

 

TIDAK terasa bulan yang penuh rahmat hadir lagi bersama-sama kita. Aneka ragam dalam menyambutnya. Semuanya bisa diterima dan dibenarkan, tapi yang paling pas dijadikan teladan dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhon adalah Rasulallah saw, para sahabatnya dan salafus sholih. Dalam menyabut bulan yang penuh pengampunan ini, Rasulallah saw suatu hari di akhir bulan Sya’ban bersabda:

 

“Wahai semua manusia, telah datang kepadamu bulan yang agug, penuh keberkahan, didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Diwajibkan padanya puasa dan dianjurkan untuk menghidupkan malam-malamya. Siapa yang mengerjakan satu kebaikan (sunah) pada bulan ini, seolah-olah ia mengerjakan satu kewajiban dibulan-bulan lain. Siapa yang mengerjakan ibadah wajib seakan-akan mengerjakan tujuh puluh kali kewajiban di bulan-bulan lain “ (Sahih Muslim dari Salman).

 

Terdengar lagi sambutan “Marhaban ya Ramadhan”. Dalam bahasa Arab, marhaban berasal dari kata rahb yang artinya luas,lebar dan lapang. Kaya ada tamu penting mau datang, tentu saja kita siapkan tempat yang luas, lebar, bagus dan lapang agar tamu itu betah dan senang tinggal di rumah kita, karena kita juga senang dengan kedatangannya. Itu artinya kita harus meluaskan hati dan melapangkan dada dalam menyambut bulan Ramadhan sehingga ibadah dan kegiatan Ramadhan yang kelihatannya berat bagi kita akan terasa enteng.

 

Coba bayangkan, mendekati bulan Ramadhan saja kita sudah diminta untuk menyabutnya dengan suka cita, dengan gembira dan semangat, karena ada sesuatu atau oleh-oleh yang diharapkan dari tamu yang datang itu. oleh-olehnya yaitu surga. Kalau menyambut bulan puasa dengan gembira merupakan satu tanda masuk surga, apalagi mengerjakan ibadah di bulan ini dengan baik.

 

Tapi tunggu dulu. Sebab banyak orang yang kalau sudah habis bulan ramadhan habis pula tugasnya dan habis semua ibadah dan kegiatan lainya yang telah dilakukan selama sebulan. Kalau ingin mengetahui ibadah dan amal kita makbul atau diterima Allah di bulan Ramadhan dan kita telah mendapatkan sertifikat masuk surga kita harus buktikan lebih dahulu keberhasilan dan kesuksesan ibadah tersebut dengan meningkatkan amal soleh di bulan bulan yang lain.

 

Mestinya, setelah lewat Ramadhan, kita tidak lagi melakukan ma’siat dan dosa-dosa, apalagi secara harfiah Ramadh artinya dalam bahasa Arab membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu diibaratkan kaya pohon singkong, maka kalau sudah dibakar, pohon singkong itu mati dan tidak mungkin bisa tumbuh lagi. Begitu pula ma’siat dan dosa-dosa di bulan Ramadhan dibakar hangus, seharusnya tidak boleh ma’siat dan dosa-dosa dilakukan lagi dibulan bulan yang lain. Nah, kalau ma’siat dan dosa-dosa itu masih juga dikerjakan dan diperbuat di bulan-bulan yang lain setelah Ramadhan berlalu, ini sama saja dengan pohon singkong bukan dibakar tapi ditebang. Pohon singkong kalo ditebang dia akan tumbuh lagi, bahkan bukan satu cabang yang tumbuh tapi bercabang cabang. Begitu kan?

 

Waktu puasa, kita diajarin jujur tidak boleh curang, sehingga kita tidak berani makan atau minum meskipun tidak ada orang yang lihat. Itu kita lakukan melulu untuk Allah dan karena Allah. Kita betul belul yakin Allah mengetahui perbuatan kita, makanya kita dalam puasa selalu mengawasi diri kita dan selalu bersifat jujur kepada Allah dan diri kita sendiri. Inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karna itu, setelah habis bulan puasa harus mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, dalam tindakan, dan kelakuan bahkan dalam mu’amalat sesama manusia pula harus jujur. Ini namanya hikmah yang bisa diambil dari puasa.

 

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi kita harus bisa pula mengambil hikmah dari lapar dan haus itu, yaitu kita harus memiliki jiwa solider kepada mereka yang menderita dan kesusahan dan harus mempunyai rasa iba kepada fakir miskin dan anak anak yatim. Yaitu dengan memberi sebagian kecil dari harta kita (zakat mal atau zakat fitr) kepada mereka. Dan rasa solider ini bukan hanya nongol di bulan puasa, tapi kita harus selalu menjadi manusia yang solider dan mencintai sesama muslim kapan waktu saja.

 

Yang lebih pening dari itu, Ramadhan merupakan waktu paling tepat untuk melatih diri atau merobah akhlak buruk (penyakit) yang sudah berkarat dan mendarah daging di diri kita. Merobah akhlak buruk susahnya bukan main, apalagi kalo akhlak jelek itu sudah mengakar dan sudah tidak terkontrol. Pada saat itu akhlak jelek itu bukan lagi merupakan cacat, tapi ini sungguh sungguh telah menjadi mala petaka dan mushibah.

 

Setiap orang pasti memiliki segudang akhlak jelek dari mulai maki-maki, bohong, certain orang, sombong, nipu, maling, apalagi koropsi yang sudah jadi budaya kita dll sampai ke usil, nyindir, mau tahu urusan orang, fudhul, suu’ dhon (buruk sangka), ghurur (berbangga diri), dll.

 

Di bulan suci ini merupakan kesempatan yang paling tepat dan bagus untuk merobah akhlak jelek itu. Dan Ramadhan merupakan sekolah atau privat les yang bisa membuat manusia secara berangsur angsur merobah watak dan akhlak jeleknya atau sekurang-kurangnya sadar dan eling akan akhlak buruknya.

 

Saya rasa masih banyak hikmah-hikmah puasa yang kita bisa dapatkan dan temukan dan yang sangat penitng adalah kita harus banyak belajar dari Ramadhan dan mengambil hikmahnya supaya bisa diterapkan di bulan bulan yang lain bukan hanya di bulan puasa tok.

 

 

Salam Ramadhan.

 

Wallahu’alam

Posted in Marhaban Ya Ramadhan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

♣ Amiin, sabda Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2008

 

 

Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwatkan bahwa Abi Hurairah ra berkata: Pernah Rasulallah saw naik ke mimbar dan berkata, “Amiin“ sebanyak tiga kali. Setelah khutbah seorang sahabat bertanya “Wahai Rasulallah, kenapa engkau berkata amin tiga kali di saat naik ke mimbar?” Rasulallah saw menjelaskan bahwa Jibril datang kepadanya dan berkata:
 
“Sungguh sial bagi siapa yang datang kepadanya bulan Ramadhan, tapi tidak
diampuni dosanya” Lalu beliau menjawab “AMIIN“
 
“Sungguh sial bagi siapa yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satu dari mereka semasa hidupnya tapi tidak berbuat baik kepada mereka” Lalu beliau menjawab lagi “AMIIN“
 
“Sungguh sial bagi siapa yang mendengar namamu disebut dihadapanya, tapi
tidak berselawat atasmu” Beliaupun menjawab lagi “AMIIN “
 
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tak lupa saya sekeluarga
mengucapkan:

 
”Selamat berpuasa semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan mengembalikan hari hariNya yang indah kepada

kita dan ummat Islam dengan keberkahan,

kebaikan dan kemenangan.”

Amiin
 
Mohon maaf jika terdapat kelepatan. 

 

Salam dari kota Nabi

Hasan Husen Assagaf

 

 

 

 

Posted in Amiin, sabda Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

Al-Qur’an dari Zaman ke Zaman

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Mushaf Ustmani

Mushaf Ustmani

 

Diyakini oleh umat Islam bahwa penurunan Al-Qur’an terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

 

Penulisan Al-Qu’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyaknya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.

 

Pada masa ketika Rasulallah saw masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Ka’ab. Sahabat yang lain juga secara diam diam menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

 

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra, terjadi beberapa pertempuran diantaranya perang yang dikenal dengan nama perang Ridda yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang tidak terhitung. Umar bin Khattab ra pada saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Khalifah Abu Bakar ra untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat, penghapal Al-Qur’an. Lalu Abu Bakar ra memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk membuat lajnah pengumpulan Al-Qur’an yang mengorganisai pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar ra. Abu Bakar ra menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf pertama itu berpindah kepada Umar bin Khattab ra sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya diserahkan dan dipegang oleh anaknya Hafsah yang juga istri Nabi saw.

 

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, Islam semakin tersebar luas ke suluruh penjuru, dan terjadilah perbedaan dialek (lahjah) antara suku yang berasal dari daerah dan negara berbeda beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk membuat keseragaman dalam cara membaca Al-Qur’an (qira’at). Lalu ia mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar ra untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Ia memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurahman bin Al-Harists bin Hisyam. Ia memerintahkan agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika terjadi perbedaan antara dan Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al-Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka.

 

Maka terbentuklah sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah). Standar tersebut kemudian dikenal dengan istilah Mushaf Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Besamaan dengan keluarnya penyamaan dengan standar yang dihasilkan, maka khalifah Ustman ra memerintahkan seluruh mushaf yang berbeda untuk dimusnahkan. Hal ini demi untuk mencegah perselisihan di antara umat islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah.

 

Dari keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati dan disetujui oleh para sahabat. Hal ini agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Al-Hijr 9

 

Artikel di atas telah dimuat di koran Republika dan Republika online.

 

Wallahua’lam

 

Foto Al-Qur’an dari zaman ke zaman:

 

 Ditulis tahun 448 H      

 Ditulis tahun 546 H

 

 Ditulis tahun 678   

 Ditulis tahun 953 H

 

 Ditulis tahun 842 H

  Ditulis tahun 952 H

 Ditulis tahun 960 H

 Ditulis tahun 985 H

 Ditulis tahun 1001 H 

 

 Ditulis tahun1034 H

 Ditulis tahun 1044 H

 

 Ditulis tahun 1066 H

 Ditulis tahun 1090 H   

 Ditulis tahun 1105 H 

 

 Ditulis tahun 1116 H

 Ditulis tahun 1119H 

 Ditulis tahun 1132H

 

 Ditulis tahun 1139 H 

 Ditulis tahun 1140H

 

 Ditulis tahun 1140 H 

 Ditulis tahun 1161 H

 Ditulis tahun 1170 H 

 Ditulis tahun 1172

 

 Ditulis tahun 1181 H

 Ditulis tahun 1206 H

 Ditulis tahun 1206 H 

 Ditulis tahun 1214 H

 

 Ditulis tahun 1215

 Ditulis tahun 1242 H 

 

 Ditulis tahun 1228H

 Ditulis tahun 1234 H 

 Ditulis tahun 1257 H 

 Ditulis tahun 1245 H

 

 Ditulis tahun 1251 H  

 

 Ditulis tahun 1254 H 

  Ditulis tahun 1258 H

 Ditulis tahun 1262 H

 Ditulis tahun 1263 H

 

 Ditulis tahun 1268 H  

 Ditulis tahun 1271 H 

 

  Ditulis tahun 1271 H

  Ditulis tahun 1273 H 

 Ditulis tahun 1276H 

  Ditulis tahun 1277 H

 

 Ditulis tahun 1222 H 

 Ditulis tahun 1278 H 

 

 Ditulis tahun 1286H 

 Ditulis tahun 1309H

 Ditulis tahun 1309H 

 Ditulis abad ke 8 H 

 Ditulis tahun 1294 H 

 

Posted in Al-Qur'an dari Zaman ke Zaman | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 16 Comments »

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1430/2009

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 17, 2008

jadwal_imsakiyah_ramadhan_1430_pakarfisika_jakarta

Posted in Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2008 | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Silaturahim ke Alam Barzakh

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 16, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan ruh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. “Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “ Al-Mu’minun 100

 

Karena ruh itu tetap hidup maka silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk orang yang masih hidup di dunia, tapi hubungan kita dengan mereka yang sudah pindah ke alam barzakh pula sangat diperlukan. Sekalipun berbedanya alam antara kita dengan mereka tapi semuanya bisa dijangkau dengan silaturahim.

 

Sebelum menjelang bulan Ramadan dan di Hari Raya. Komplek pemakaman ramai tidak sedikit dikunjungi orang orang yang ingin bersilaturahim dengan keluarganya yang sudah meninggal dunia. Ada yang berziarah ke makam orang tuanya. Ada yang berziarah ke makam sanak famili atau karabatnya, ada pula yang berziarah ke makam para sesepuh dan ulama. Hal ini demi untuk mendoakan mereka yang telah mendahului kita agar Allah memberikan kepada mereka rahmah dan maghfirah dan mengharamkan jasad-jasad mereka dari sentuhan api neraka.

 

Rasulallah, sebagimana diriwayatkan Abu Daud, pada awal sejarah Islam pernah melarang umat Islam untuk berziarah kubur. Beliau khawatir umat Islam mengkultuskan kuburan, berlaku syirik, atau bahkan menyembah kuburan. Tapi selelah keimanan umat Islam meningkat dan kuat. Maka Rasulallah saw tidak khawatir lagi. Rasulallah saw pun kemudian bersabda : “Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukanya. Sebab bisa mengingatkan kita kepada akhirat”.

 

Silaturahim kepada penghuni alam barzakh adalah perbuatan dan tradisi baik. Selain merupakan ibadah juga untuk mengenang jasa dan berbalas budi orang. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Jelasnya, silaturahim kepada mereka sudah menjadi tradisi yang mendarah-daging. Tahun demi tahun berjalan, dan ziarah demi ziarah pasti menyertainya. Dan andai kata kita lupa, atau lalai melakukannya, kita akan segera merasa, ada sesuatu yang ganjil atau kurang mantap dalam diri kita. Ziarah kubur sudah menjadi kebutuhan hidup kita, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.

 

Di samping itu, tradisi berziarah ini sangat baik dan terpuji demi mengingatkan kita semua, termasuk orang kaya, pamong praja, dan berpangkat, bahwa satu hari hidup kita pasti akan berakhir di pekuburan. Semua kemegahan hudup, rela tak rela, harus ditinggalkan dan kita harus terima babak baru perjalanan menghuni liang kubur yang luasnya sekitar 1 x 2 meter saja.

 

Telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulallah saw telah menganjurkan kita, disaat memasuki kompleks pemakaman, agar mengucapkan salam kepada ahlil kubur seperti memberi salam kepada orang hidup: “Salam sejahtera bagimu penghuni kubur dari kaum Muminin dan Muminat. Dan kami Insya Allah akan betemu dengan kalian. Kamu adalah orang orang yang mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Kami bermohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian”.  Ucapan salam biasanya diberikan kepada orang yang mendengar dan berakal. Jika tidak, maka ucapan ini tidak mempunyai fungsi atau seolah-olah bersalam kepada benda jamad yang tidak mendengar dan berakal.

 

Para salaf  soleh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana ahli kubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mayyit setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan.

 

Diriwatkan oleh Imam Bukhari Muslim, pernah Rasulallah saw menyuruh mengubur orang orang kafir yang meninggal dalam peperangan Bader di kuburan Qulaib. Kemudian beliau berdiri di muka kuburan dan memanggil nama nama mereka satu persatu : “Wahai Fulan bin Fulan!! .. Wahai Fulan bin Fulan!!.. Apakan kamu mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kamu? Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku”.  Umar bin Khattab ra yang berada disamping Nabi bertanya : “Ya Rasulallah sesungguhnya kamu telah berbicara dengan orang-orang yang sudah usang (mati)”. Rasulallah saw pun berkata, “Demi Yang telah mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya kamu tidak lebih mendengar dari mereka dengan apa yang aku katakan”.

 

 

Imam besar Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulallah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda,  “Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur. Mereka tidak diazab karna dosa-dosa mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karna dosa-dosa mereka yang kecil. Yang pertama diazab karna suka berbuat namimah (mengupat / ceritain orang) dan yang kedua diazab karna tidak beristinja’ (tidak cebok setelah hadats kecil)”.  Kemudian Rasulallah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan trb. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulallah saw itu. Beliau bersabda : “Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur trb semasih tangkai pohon itu basah, belum kering. Karna ia beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab”.

 

Sekarang, jika Allah memberi keringanan azab kepada ahli kubur karna istighfar sebatang pohon, istighfar seekor binatang, istighfar sebuah batu, pasir dan krikil atau benda-benda jamad lainnya yang tidak berakal. Apalagi istighfar kita sebagai manusia yang berakal dan beriman kepadaNya.

 

Wallahua’lam 

Posted in Silaturahim ke Alam Barzakh | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 14 Comments »

Hukum Mati (Exsekusi)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 5, 2008

(Di dalam artikel ini, terlampir beberapa foto hukum qishash. Saya tidak bisa melampirkan seluruhnya, karena di zaman serba permisif seperti saat ini, foto foto itu bisa dijadikan sebuah dokumen yang meyakinkan atau bisa pula dimangfaatkan musuh musuh islam untuk mempropagandakan bahwa islam agama yang kejam. Yang berminat melihat foto foto hukum kishash di Saudi, silahkan hubungi saya, terima kasih.)

 

    

 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

DI LUAR dari faham yang ada, kita mengakui bahwa Saudi Arabia satu satunya negara Islam yang masih memegang hukum qishash (exsekusi) dan melaksanakan suatu keputusan yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Kubro (Pengadilan Agung) sesuai dengan ajaran Islam. Memang betul, hukum qishash di Saudi tidak dilaksanakan secara merata, terutama untuk golongan atasan, tapi secara global hukum qishash (exsekusi) telah menjadi ciri khas untuk diterapkan di negara itu secara hukum mengenai suatu perkara atau dalam istilah lainya lazimnya, apa bila semua persyaratan hukum telah dipenuhi, harus dilaksanakan hukum qishash (eksekusi).

 

Maka, pembunuh, perampok, pemerkosa, penjahat dan terpidana mati lainya yang dianggap telah merusak di muka bumi hukumnya lazim harus di bunuh artinya keputusan hukum itu secara hukum harus dieksekusi. pencuri hukumya lazim harus potong tangannya dan penzina hukumya dirajam. Kata “lazimnya” termasuk katagori yang lazim dipakai dalam keputusan hukum qishash (exsekusi).

 

Allah berfiman “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negri tempat kediamannya. Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar “ Al Maaidah 33.

 

Allah berfirman “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya At Taurat bahwasanya jiwa dibalas dengan jiwa , mata dengan mata , hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka pun ada qishashnya. Barang siapa yang melepaskan hak qishashnya, maka kelepaskan hak itu menjadi penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang yang zalim” Al Maaidah 45.

 

 

Dibawah ini saya akan bawakan cerita nyata sebagai contoh atau ‘itibar agar dapat menjadi renungan bagaimana keputusan hukum qishash (hukum penggal) di Saudi dilaksanakan tanpa kompromi.

 

Masjid jami’ Imam Turki, yang letaknya tidak berjauhan dengan Mahkamah Kubro, sangat luas dan  berkapasitas 10 ribu orang bisa bersolat jama’ah. Lokasinya di tengah tangah kota Riyadh, sangat indah dan menarik. Didalamnya dihiasi dengan lampu lampu beraneka warna model antik dan digelar dengan tikar permadani / sujadah mewah, empuk dan enak diinjak. Dimuka masjid terdapat halaman terbuka yang berukuran super lebar dan lantainya dihiasi dengan marble putih berukir. Di pojok halaman dihiasi dengan air mancur dan spot light yang beraneka warna sehingga sedap dipandang mata. Tempat ini biasanya digunakan untuk rekreasi atau hiburan. Setiap hari atau malam libur. Tidak sedikit kelompok orang asing berkumpul di tempat itu, mereka banyak duduk-duduk dan ngobrol, menghilangkan sumpek dan kekesalan dari pekerjaan

 

Halaman masjid itu di namakan “ Saahatul Adl “ atau tempat menghukum orang yang terpidana mati, rajam, potong tangan, atau cambuk (dera).  Semua korban hukum mati dipenggal kepalanya dengan pedang tajam oleh Algojo di tempat itu. Hukum rajam bagi penzina muhshon (penzina yang sudah bersuami atau beristri) yang normalnya sangat langka atau hampir tidak pernah tejadi karna sulitanya mencari 4 saksi – dilempari dengan batu sampai mati. Dan semua korban potong tangan dipotong pergelangan tangan kanannya sampai putus. Begitupula yang dihukum cambuk/dera dan lain lainya. Ini semua dilakukan biasanya pada hari Jumat setelah solat Jumat secara terang-terangan di muka publik.

 

Semenjak saya hidup di Saudi, tiga kali saya menyaksikan kejadian eksekusi. Ketiga korban hukum mati itu telah melakukan diantaranya; pembunuhan, pemerkosaan dan penyelundupan heroin. Ketiga tiganya dikenai sangsi hukum mati dan semua para korban hukum mati itu kepalanya dipenggal dengan pedang.

 

Kejadian pertama (karena baru pertama kali menyaksikan) saya menyaksikanya dengan serius dan penuh konsentrasi. Setelah solat Jum’at, saya segra mengambil posisi paling depan, hal ini agar saya bisa melihat dengan jelas cara pemenggalan orang yang dihukum mati. Dimuka lingkaran manusia, tidak sedikit tersebar tentara yang menjaganya dengan ketat. Pada saat itu orang yang akan dipenggal masih berada didalam mobil polisi. Kemudian seorang tentara membacakan keputusan Menteri Dalam Negri yang berisi pengakuan terpidana atas perbuatannya yang keji dan kejam sehingga ia telah diputuskan hukuman mati oleh Mahkamah kubro.

 

Kemudian terpidana dikeluarkan dari dalam mobil, matanya ditutup, kedua tangannya diborgol dan kedua kakinya diikat dengan rantai yang berukuran hanya cukup untuk melangkah setapak. Dari sebelah kiri dan kanannya dua tentara menuntunnya perlahan-lahan sehingga tiba di tengah lingkaran manusia. Kemudian kedua tentara menyuruhnya agar ia berlutut dan menekan kepalanya agar tunduk ke tanah. Tiba-tiba, seorang Algojo, pencabut nyawa, keluar dari dalam mobil polisi, dan segra mencabut pedangnya yang tajam. Kemudian algojo mengarahkanya kearah leher terpidana yang lagi berlutut dan dengan segera dipenggalnya.  Seketika itu juga terpidana jatuh tersungkur tidak berkutik lagi.

 

Setelah pemenggalan, sebagian penonton ada yang bertepuk tangan, bahkan ada yang berteriak “yahyal ald “ yang artinya hidup keadilan. Lima menit setelah terpidana terdampar di tanah, seorang doctor datang memeriksa mayat itu untuk menyakinkan bahwa ia sudah tidak bernafas lagi. Kemudian dimasukan kedalam mobil ambulan yang sudah tersedia disana dan langsung dibawa kerumah sakit. Tiga kejadian yang bersamaan itu saya saksikan dengan mata kepala saya untuk saya jadikan ‘itibar begitulah  hukum Allah semestinya dilaksanakan.

 

Hukum potong tangan saya tidak pernah menyaksikannya, hanya saya mendengar ceritanya dari orang yang pernah menyaksikan. Pencuri yang berturut turut mencuri tiga kali pencurian, digiring di Sahatul Adl untuk dipotong tangan kananya. Sesuai dengan firman Allah “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “ Al Maaidah 38. Pemotongan tangan dilakukan pula oleh seorang algojo dengan mempergunakan pisau tanjam yang bisa memutuskan pergelangan tangan kanannya. Setelah putus, tangannya digantung untuk beberapa saat agar semua yang menyaksikan bisa melihatnya. Adapun orang yang dipotong tangannya, menurut ceritanya, ujung tangannya yang putus direndam dengan minyak panas untuk menghidari bleeding (pendarahan).

 

Adapun hukum rajam bagi penzina muhshon (yg sudah bersuami istri), ini normalnya sangat langka dilakukan di Saudi atau hampir tidak pernah tejadi karna sulitanya mencari 4 orang saksi. Sedang Rasulallah saw sendiri pun selalu menunda-nunda hukum rajam kecuali pelakunya mengaku berulang-ulang kali dihadapanya yang ia telah melakukan perbuatan itu.

 

Diriwatkan, seorang perempuan dari Bani Ghamid datang kepada Rasulallah saw dan berkata “Wahai Rasulallah sesungguhnya aku telah berzina, maka sucikanlah aku”. Beliau pun berkata “pulanglah kamu”. Pada hari berikutnya perempuan itu datang lagi kepada Nabi dan berkata “Wahai Rasulallah sucikanlah aku, sesungguhnya aku telah berzina dan aku hamil”. Maka beliau berkata “Pulanglah dan tunggu sampai kamu melahirkan”. Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada Rasulallah saw membawa bayinya yang baru lahir dan masih merah seraya berkata “Wahai Rasulallah aku telah melahirkan dan ini anakku , maka sucikanlah aku”. Nabi pun berkata “Pulanglah dan susui anakmu dua tahun”. Setelah anaknya berusia dua tahun dan disapi, wanita itu datang lagi kepada beliau bersama anaknya yang memegang sepotong roti. Perempuan itu berkata “Wahai Rasulallah ini anakku sudah makan roti, maka sucikanlah aku”.

 

Kemudian Rasulallah saw menyuruh sahabatnya mengambil anaknya dan memerintahkan orang-orang yang berada disekitarnya untuk merajamnya dengan batu. Khalid bin Walid yang menyaksikan kejadian itu mengambil batu besar dan menyambit kepala perempuan itu sampai darahnya muncrat kebajunya. Khalid mengutuk perempuan itu dan kutukannya didengar oleh Rasulallah saw. Lalu beliau berkata kepadanya “ Hati-hati kamu wahai Khalid. Demi diriku yang berada di tanganNya, sesungguhnya perempuan itu telah bertaubat dan jika taubatnya dibagikan kepada tujuh puluh orang dari ahli Madinah maka mereka akan kebagian menerima taubatnnya”.

 

Itulah hukum rajam pada zaman Rasulallah yang mana beliau selalu menunda-nunda pelaksanaan hukumannya. Begitu pula di sini, boleh dikatakan hampir tidak didapatkan pelaksanaan hukum zina muhshon karna sulitnya mendapatkan para saksi atau sulitnya orang yang mau mengaku atas perbuatan zina yang dilakukanya.

 

Surat kabar “Al Riaydh “ pernah membawa wawancara seorang algojo paling senior, Ahmad Rizkullah yang menyatakan dirinya sebagai professional Algojo paling senior di Saudi Arabia. Ia mengisahkan sebelum pelaksanaan pemenggalan biasanya mahkamah memberi kesempatan keluarga korban untuk memaafkan orang yang akan dieksekusi. Mereka diminta jika mereka mau memberi maaf atau jika uang denda (blood money) telah diterima sebagai diah. Kadang kadang ini benar-benar terjadi disaat-saat terakhir. Jika gagal, maka Algojo itu siap untuk memenggalnya.

 

Ketajaman dan kekuatan tubuh pedang merupakan hal yang sangat penting, tentu saja si Algojo harus punya keberanian dan percaya diri. Ahmad Rizkullah, Algojo senior, telah mengeksekusi lebih dari 300 orang. 70 dari mereka perempuan. “Orang-orang beranggapan”, kata Ahmad “perempuan lunak dan lemah. Padahal pada banyak kasus lelaki justru roboh. Ketika mereka dengar bahwa mereka dimaafkan, lelaki banyak yang pingsan, sebagian malah ada yang gila. Bagaimanapun perempuan pada umumnya berhati kuat”. Kita bisa lihat contoh perempuan yang datang kepada Nabi saw untuk minta dieksekusi. Betapa hebat dan kuat hatinya.

 

Koran Al Riyadh menjelaskan bahwa orang-orang memandang Ahmad, Algojo senior, seolah ia datang dari pelanet lain. Mereka selalu berusaha untuk menghindar berhubungan dengannya”. “Pernah”, kata Ahmad “waktu itu aku berada dalam suatu majlis, seseorang datang duduk dekatku, ketika dia tahu pekerjaanku, dia jadi tidak nyaman dan berbasa-basi untuk menghindar”.  Itulah kisah seorang Alqojo Saudi yang pekerjaannya memenggal kepala orang yang terpidana.

 

Terakhir, saya mengajak berfikir, seandainya di negara kita dilakasanakan hukum qishash dengan secara jujur dan tidak pandang bulu, maka apa yang akan terjadi?

 

Walalhu’alam,

Posted in Hukum Mati (Exsekusi) | 22 Comments »

Kenapa dia Rela Bunuh Diri?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 28, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

SURAT KABAR al-Jazirah – Saudi Arabia , pernah memuat berita kejadian seorang pembantu rumah tangga melakukan bunuh diri di atas rumah bertingkat dua di Jeddah. Saat ditemukan, leher korban terjerat kain kerudung yang dililitkan pada sebatang kayu tangga. Kejadian misterius itu betul-betul sangat mengejutkan masyarakat setempat. Setelah diproses ternyata pembantu rumah tangga, yang sudah berkeluarga, tak ditemukan tanda-tanda bekas penganiayaan, sehingga dipastikan ia tewas akibat bunuh diri. Perbuatan nekat ini, diduga karena ia selalu mengirimkan gajinya kepada suaminya rutin setiap bulan untuk biaya kedua anaknya yang masih kecil. Akan tetapi digunakan sang suami untuk kawin lagi dan berpesta pora dengan istri muda. Frustasi ini yang membuat pembantu kehilangan akal dan iman, lalu nekat membunuh diri di tangga.

 

Kejadian kedua yang saya alami sendiri, terjadi dahulu di waktu musim haji. Rombongan jama’ah haji Indonesia, setelah melakukan tahallul pertama, berangkat ke Makkah untuk melakukan solat Idul Adha, toaf ifadhah dan berlebaran.  Setiba di Makkah, salah satu dari rombongan Jama’ah haji yang dipimpin Ustadh HAA, ada yang bunuh diri di kamar mandi dengan menggunakan sarung yang dijerat di lehernya. Kejadian itu cukup menghebohkan para jama’ah haji. Hasil pengusutan polisi menunjukkan, tak ditemukan alasan yang cukup sehingga Pak Haji harus membunuh diri di kamar mandi. Yang jeles pasti ada problem besar yang membuat Pak Haji kehilangan akal dan iman lalu nekat membunuh diri di kamar mandi.

 

Bunuh diri merupakan hal yang ganjil dan para pelakunya merupakan korban kekejahatan dirinya. Di Australia, telah didirikan lembaga aneh yang diberi nama Lembaga Penyelidik Bunuh Diri. Sesuai dengan namanya, lembaga ini bertugas untuk menyelidiki secara rinci sebab-sebab terjadi bunuh diri dan bangaimana pencegahannya. Yang lebih aneh, menurut hasil research, bahwa kebanyakan bunuh diri terjadi di musim panas. Ini tidak terjadi hanya di Australia, akan tetapi hampir di seluruh belahan dunia (www.theaustraliannews.com).

 

Sudah pasti hal ini sangat bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Bunuh diri tidak terjadi di musim panas atau di negara negara yang beriklim panas, akan tetapi mayoritasnya terjadi di negara negara barat yang bersuhu dingin sepanjang tahun. Contohnya negara Lithuania meraih juara pertama, diperkirakan 46 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Setelah itu Rusia meraih martabat yang kedua yang diperkirakan 42 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Dan ketiga dan seterusnya semuanya diraih oleh negara negara Eropa dan Amerika yang maju. Akan tetapi bunuh diri masih terdapat di negara negara tersebut disebabkan karna masalah yang sangat sepele.

 

Bunuh diri merupakan perbuatan yang terkutuk dan dibenci. Perbuatan ini dikatagorikan dosa besar (minal kabair), sebagaimana firman Allah didalam al-Quran yang berbunyi  “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu“. An-Nisa,29.

 

Islam mengharamkan dan melarang perbuatan yang sifatnya menjerumuskan pelakunya kedalam kerusakan dan kebinasaan seperti perbuatan membunuh diri, sebagaimana firmanNya dalam surat al-Baqarah ayat 195, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karna sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik“.

 

AKAN tetapi berlainan dengan aksi bunuh diri yang dilakukan rakyat Palestina demi untuk membela kehormatan, negara dan agama mereka. Hingga saat ini masih terus dilacak dasar aksi serangan bunuh diri yang dilakukan para aktivis Islam militan di Palestina. Menurut pandangan ulama, serangan bunuh diri demi untuk mengakhiri kolonialisme adalah suatu hak yang terpuji dan pelakunya mendapat gelar syahid.

 

Di akhir tahuh 1995, Syeikh al-Azhar Prof Dr Mohammad Sayed Tantawi  menyebut pejuang Palestina yang menggelar bom bunuh diri sebagai syahid. Ketika ia dikritik banyak pihak, ia pun meralat pandanganya dan mengatakan, orang meledakan dirinya di pangkalan meliter Israel adalah syahid. Adapun orang yang meledakan dirinya di tengah sipil Israil bukanlah syahid. Ungkapan ini tetap dibantah para ulama, karena semua warga Israil bersenjata.

 

Adapun serangan bunuh diri pertama kali bagi warga muslim dalam sejarah modern ini dilakukan oleh seorang murid Jamaluddin al Afghani bulan maret tahun 1896, ketika dia melancarkan serangan bunuh diri terhadap Shah Iran Nazaruddin Shah. Aksi ini demi untuk membangkitkan pemerintah dan rakyat muslim untuk memerangi negara-negara kolonialisme demi kehormatan umat dalam upaya megusir penjajahan.

 

Nah! sekarang, apa yang membuat seseorang menyerahkan hidupnya untuk membunuh orang lain? Sepintas, hal semacam ini tidak mungkin terjadi atau tidak masuk akal. Akan tetapi, apa yang terjadi di Palestina bukan sesuatu yang baru, yang terjadi di sana sudah menjadi sesuatu yang biasa. Bahkan banyak di negeri itu orang yang rela mati demi orang lain, atau demi apa yang disebut sebagai  perjuangan mengusir penjajahan.

 

Mengapa mereka rela mati dengan cara seperti itu? Bukankah hidup itu sangat berharga? Menurut mereka, memang betul hidup itu sangat berharga, tetapi pada akhirnya semua orang bakal mati. Peristiwa kematian pasti akan menimpa setiap orang. Ada orang yang mati karena kecelakaan, ada yang mati di ujung pedang, ada yang mati di atas kasur dan ada lagi yang mati karena membela hak. Singkatnya, semua orang pasti mati “bermacam macam sebab kematian, tetapi hakekatnya manusia pasti harus mati”. (al-Hadits). Allah berfirma “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. An-Nisaa’,78.

 

Menurut Islam, kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan roh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. Oleh karena itu orang yang semasa hidupnya banyak menabur dan menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah pintu yang membawanya masuk kedalam kehidupan baru yang jauh lebih baik dan lebih indah dari kehidupan di dunia.

 

Itulah yang diyakini para pembom bunuh diri di negara Palestine. Mereka berkeyakinan bahwa setelah kematian yang mereka lakukan secara mestiri itu demi membela agama dan negara dalam upaya mengusir penjajahan, akan mengantarkan mereka ke taman surga Firdaus yang mengalir di bawahnya sungai sungai, sehingga kematian yang mereka lakukan akan tidak terasa atau tidak lebih dari sekedar bentokan atau pukulan. Menurut mereka kematian semacam ini adalah mistiri yang tidak mungkin dipahami oleh manusia secara rasional. Hanya iman yang kokoh, keikhlasan yang luas dan cinta kasih terhadap agama, sesama dan negara.

 

Itulah sebabnya, ketika dikabarkan bahwa pembom bunuh diri tewas saat menjalankan tugasnya, keluarga mereka akan mendapat pujian, penghargaan, bukan ucapan belasungkawa. Bahkan kematian mereka disambut dengan sorak gembira disertai dengan zaghrathah (jeritan suara perempuan Arap disaat pesta perkawinan) dan mereka dianggap sebagai pahlawan yang akan dikenang sepanjang masa.

 

Adapun aksi bunuh diri yang dilakukan terhadap rakyat sipil yang tak berdosa di Negara yang berdaulat seperti yang telah terjadi di Legian-Bali dan Hotel Marriot-Jakarta, tidak tergolong mati syahid. Karena tindakan menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran merupakan tindakan yang keji dan dikutuk oleh seluruh lapisan masyarakat dunia dan ulama.

 

Wallahua’lam,

Posted in Kenapa Ia Rela Bunuh Diri | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 12 Comments »

Silaturahim

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Perlu diketahui, ada kesalahan yang sudah lumrah dan menjadi umum terhadap kata “silaturahim”. Selama ini yang biasa dipakai adalah kata “silaturahmi”, sebenarnya kata ini terdapat kesalahan. Seharusnya adalah “silaturahim”bukan silarahmi.

 

Dalam bahasa Arab rahim artinya lembut, kasih sayang , atau karabat. Secara jelas kata ini kita bisa lihat dalam ayat al Qur’an yang berbunyi : “ Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim “- an Nisa. Begitu pula kita bisa lihat dalam hadits Nabi yang diriwawatkan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasulallah bersabda “Siapa yang ingin senang, diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia bersilaturahim “ ( Bukhari Muslim ).

 

Ayat dan hadist tersebut diatas tidak hanya menerangkan asal kata silaturahim, tapi juga mengandung urusan besar dan perintah penting. Begitu peningnya perintah itu, sehingga silaturahim dijajarkan dengan perintah bertakwa kepada Allah dan menjadi syarat luasnya rezeki dan panjangnya umur. Bukankah dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa orang yang suka memutuskan silaturahim diancam dengan “bisa masuk neraka”?.

 

Silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk berhubungan dengan keluarga, famili dan handai tolan saja, tapi lancarnya jalan da’wah pula memerlukah silaturahim. Silaturahim adalah ruh bagi berkembangnya da’wah. Tampak silaturahim yang baik, geraknya da’wah bisa terhenti bahkan putus sama sekali. Jauhnya tempat tinggal, lamanya masa berpisah, merantau (seperti saya sekarang ini) dan sibuknya tugas pekerjaan adalah factor-fakor penyebab putusnya silaturahim yang berarti putusnya pula da’wah. Jadi dengan silaturahim yang baik, semua factor-faktor trb bisa diatasi.

 

Ada banyak cara menyabung silaturahim. Misalnya, kemajuan teknologi merupakan nikmat utama dari Allah yang patut kita disyukuri. Kalau dulu, untuk saling menyapa dan menanyakan kabar, dibutuhkan waktu yang lama yaitu dengan surat menyurat. Tapi kini dalam beberapa detik saja silaturahim bisa diwujudkan. Coba lihat misalnya SMS, telepon, email, milis, blog dan media lainya adalah sarana mudah untuk silalturahim yang bisa menembus batas lintas negara sekalipun. Dengan teknologi yang serba canggih, Jauh tempat tinggal, lama berpisah, merantau dan sibuknya pekerjaan sudah tidak menjadi masalah.

 

Namun, bukan semua jalinan silaturahim hanya cukup dengan sarana kemajuan teknologi saja. Bertatap muka, pertemuan-pertemuan dan berjabatan tangan tetap menjadi hal yang sangat penting. Hal ini biasanya dilakukan pada waktu munasabat (occation) seperti perayaan, peringatan, hari hari raya, dan masih banyak lagi munasabat yang bisa membuat kita bertemu muka dan bertatap wajah.

 

Maka dari itu, majlis ta’lim, pengajian-pengajian rutin, dan pula, merurut saya, situs situs kita, yang kelihatanya kecil fungsinya, menjadi hal yang patut harus digalakan. Jangan sampai kesibukan, jabatan, kedudukan dan urusan duniawi lainya menyebabkan hal trb terbengkalai.

 

Jadi, agar hubungan kita tidak terputus koncinya adalah silaturahim apalagi di bulan Rajab dan menjelang datangnya Syaban dan Ramadhan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan anugrah Ilahi.

 

 “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan” (hadist Nabi).

 

Wallahua’lam    

Posted in Silaturahim | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 4 Comments »

Ringkasan Biografi Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 5, 2008

Kartu Keluarga Nabi SAW

 

No. Kartu Keluarga

1-5-25-313-124000

1

Pertama makhluk diciptakan Allah adalah nur Nabi Muhammad saw

5

Nabi kelima yang mendapatkan julukan U’lil A’zmi dari 5 nabi ( Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad)

313

Rasul ke 313 yang diutus Allah ke Bumi bagi manusia

124000

Jumlah nabi yang di utus ke Bumi dan Rasulallah saw adalah akhir nabi

 

Ringkasan Biografi Nabi SAW

 

Nama

Muhammad Rasulallah SAW

Nama Bapak

Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah

Nama Ibu

Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah

Nama Nenek dari Bapak

Fatimah binti Umar Al-Makhzumiyah

Nama Nenek dari Ibu

Burrah binti Abdul U’za’ bin Utsman bin Abduddar bin Qushay bin Kilab bin Murrah

Warga Negara

Muslim Quraisyi Hasyimi

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, dekat Al-Shofa di Rumah Abi Thalib (sekarang dijadikan Perpustakaan Makkah), hari Senen 12 Rabiul Awal tahun 53 sebelum Hijrah bertepatan tanggal 20 April 570 M

Nama Bidan

Syaffa binti A’uf (Ummu Abdurahman)

Nama Pengasuh

Ummu Aiman

Nama Penyusu

1-  Stuaibah Al-Aslamiyah (Budak Abu Lahab)

2 – Halimah binti Abi Dhuaib Al-Sa’diyyah (Istri Harist bin Abdul U’zza)

Tempat dan Tanggal Diutus

Goa Hira, Makkah 27 Ramadhan 13 Sebelum Hijrah (17 Agustus 609M)

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah 12 Rabiul Awal 11 H bertepatan tanggal 6 Juni 632M

Jenis Kelamin

Pemimpin Laki Laki

Agama

Pemimpim Muslimin

Alamat

Makkah dan Madinah, Masjid Nabawi

Pekerjaan

1-Pengembala domba di masa kecil

2- Pedagang sampai usia 40 tahun

3- Rasul dan Nabi sebagai rahmat bagi alam semesta

Tanda Tanda Istimewa

1 – Stempel kenabian atara kedua bahunya

2 – Dipayungi awan dalam setiap pepergian

Tanda Tanda Jasmani

Berperawakan sedang, Berkulit putih kemerah merahan, berdahi lebar, berambut hitam dan panjang, bermata jeli, bertubuh sempurna, sedap dipandang mata, lesung pipit, senyumnya menarik, tidak ada seorang pun di dunia yang menyamainya dalam keindahan tubuh dan kesempurnaan jasad.

Saudara Susu Nabi

Dari Stwaibah:

1- Abdullah bin Jahsy

2- Hamzah bin Abdul Muthalib

3- Abu Salamah bin Abdul Asad

4- Masruh ibnu Stuaibah

Dari Halimah Al-Sa’diyyah

1- Abdullah bin Harist

2- Anisah binti Harist

3- Hudhafah binti Harist

Istri-Istri Nabi

1- Khadijah binti Khuailid

2- Saudah binti Zama’h

3- A’isyah binti Abu bakar As-Shiddik

4- Hafshah binti Umar bin Khattab

5- Zeinab binti Khuzaimah

6- Hind binti Hudhaifah

7- Zainab binti Jahsy

8- Juwairiyah binti Harist

9- Shafiyyah binti hay

10- Ramlah binti Abi Sufyan

11- Maimunah binti Al-Harist

12- Mariya binti Syamu’n

Putra Putri Nabi

1- Qasim

2- Abdullah (Al-Thayyib atau Al-Thahir)

3- Ibrahim

4- Zainab

5- Ruqayyah

6- Ummu Kalstum

7- Fatimah

Cucu Cucu Nabi

1- Ali

2- Abdullah

3- Hasan

4- Husen

5- Muhsin

6- Umamah

7- Ummu Kalstum

8- Zainab

Paman Nabi

(Dari Bapak)

1- Zubair (Abu Thahir)

2- Abu Thalib (Abdu Manaf)

3- Abbas

4- Dhirar

5- Hamzah

6- Al-Muqawm

7- Hijl

8- Harist

9- Abu lahab (Abdul U’zza’)

10- Ghaidaq

11-Abdul Ka’bah

12- Qustm

Bibi Nabi

(Dari Bapak)

1- Ummu Hakim Al-Baidha’

2- A’tikah

3- Umaimah

4- Arwa’

5- Burrah

6- Shafiyyah

Paman Nabi

(Dari Ibu)

1- Al-Aswad bin Yaghust

2- Abdullah bin Al-Arqam bin Yaghust

Kartu Keluarga Nabi Saw

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 1- Ringkasan Biografi Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 19 Comments »

Kartu Keluarga Nabi (K K Nabi)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 5, 2008

 

يا غاديا  نحو  الحبيب عساك تقر السـلام  إذا  وصلت  هناك

و عساك  تجري  ذكر  مثلي  عنده  فهو الشفاء  لدائنا  و لداك

و قل السلام عليك يا خير الورى من عاشق طول المدى يهواك

 

Wahai musafir sampaikanlah salamku kepadanya setibamu di Madinah
Mudah2an menyebutku di maqamnya karena beliau obat bagi kita semua
Katakanlah “Salam atasmu wahai sebaik baiknya manusia” dari perindu
setiap masa yang tak henti henti mencintainya

 

Telah diterbitkan booklet yang berjudul “Kartu Keluarga Nabi SAW” dan dilucurkan di situs ini. Booklet ini berisi ringkasan biografi Nabi, istri istri Nabi, putra putri Nabi, cucu cucu Nabi dan diilustrasi dengan peninggalan bersejarah Nabi yang insyallah bisa membawa mangfaat dan keberkahan bagi kita dan dapat pula menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencitai Nabi saw dan keluarganya. Amin

 

” إِنَّمََا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهَّرَكُمْ تَطْهِيْرًا ” صدق الله العظيم

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” Al-Ahzab 33

 

” قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا اْلمَوَدَّةَ فِي اْلقُرْبَى ” صدق الله العظيم

“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. As-Syuara’ 23

 

Penyusun

Hasan Husen Assagaf

 

 

    Isi booklet

Klik dibawah:

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

 

Posted in 10- Kartu Keluarga Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 18 Comments »

Istri Istri Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

 

 Silahkan klik:

 

1–   Khadijah binti Khuailid

2-   Saudah Al-A’miriyah

3-   A’isyah binti Abu Bakar

4-   Hafshah binti Umar bin Khattab

5-   Zainab binti Khuzaimah

6-   Hind Binti Hudhaifah

7-   Zainab binti Jahsy

8-   Juairiyah binti Harist

9-   Shafiyyah binti Hay

10- Ramlah binti Abu Sufiyan

11- Maimunah binti Harist

12- Mariya Al-Qibthiyyah

 

Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 2- Istri Istri Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 5 Comments »

Peninggalan Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Foto peninggalan Nabi terdapat dalam booklet “Kartu Keluarga Nabi”. Untuk membaca K K Nabi silahkan klik Kartu Keluarga Nabi SAW. Semoga bermangfaat.

Salam dari “Kado Dari Kota Nabi”.

Hasan Husen Assagaf

tempat lahir nabi   Jabal Nur dipuncaknya Gua Hira\'   gua hira 

gunung stour/nabi dan abu bakar bersembunyi   gua, nabi dan abu bakar bersembunyi    pemakaman al-mua\'la 

tapak kaki Rasul   stempel / cincin nabi   pedang dan busur panah nabi   pedang nabi  

 rambut nabi    erban-burdah-dan-tongkat-rasulallah-saw    mushaf ustmani

 rambut nabi makam nabi zaman dulu makam ibu nabi / aminah gubbah Nabi

mimbar nabi      Makam Nabi      Masjid Nabi  

Sandal Nabi    Mihrab Nabi    Makam Siti Khadijah   peta Makkah

 

Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 4- Peninggalan Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 19 Comments »

Husein

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Kedua

Husein

Nama

Husein (Abu Abdullah)

Nama Bapak

Ali bin Abi Thalib ra

Nama Ibu

Fatimah binti Muhammad saw

Tempat dan Tanggal Lahir

Madinah, 5 Sya’ban 4 Hijrah

Jenis Kelamin

Laki laki

Nama Istri

Rabab binti Imrul Qais

Nama Anak

Ali Al-Akbar, Ali Zainal Abidin, Ali Al-Ashghar, Abu Bakar, Umar, Abdullah, Muhammad, Ja’far

Tempat dan Tanggal Wafat

Karbala’ dekat Kufah, 10 Muharam 61 Hijrah

Tanda Tanda Jasmani

Berperawakan kuat dan perkasa, bertubuh sedang, berkening luas, berjenggot tebal, berdada lebar, bertulang besar, berambut tebal, hitam, suaranya berwibawa dan enak didengar.

Tanda Tanda Istimewa

1- Tegas dan berani mengambil keputusan, tidak takut melawan musuh, mati syahid di Karbala’ dalam membela kebenaran

2- Berparas mirip dengan Nabi saw. Rasulallah saw bersabda “Husein dariku dan aku dari Husen”

3- Sangat dicintai Nabi saw, beliau bersabda “Telah dicintai Allah siapa yang mencintai Husen”.

4- Pemuda ahli surga sesuai dengan sabda Nabi saw “Siapa yang ingin melihat pemuda dari surga maka lihatlah Husein”.

Dan masih banyak tanda tanda istimewa yang tidak bisa disebut di buku kecil ini.

Posted in Husein | 9 Comments »

Hasan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Pertama

Hasan

Nama

Hasan (Abu Muhammad)

Nama Bapak

Ali bin Abi Thalib

Nama Ibu

Fatimah binti Muhammad saw

Tempat dan Tanggal Lahir

Madinah, 15 Ramadhan 3 H

Jenis Kelamin

Laki laki

Nama Istri

Banyak beristri

Nama Anak  

Zeid, Hasan, Qasim, Abu Bakar, Abdullah, A’mr, Abdurahman, Umar dll

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, tahun 49 H

Tanda Tanda Jasmani

Putih kemerah merahan, bermata jeli, berparas bundar, berambut hitam, berjenggot tebal, paras beliau mirip dengan paras Nabi saw

Tanda Tanda Istimewa

1- Teliti dan berhikmah dalam mengambil keputusan. Rasulallah saw pernah bersabda “Sesungguhnya anakku ini (Hasan) penghulu semoga Allah menjadikanya pengishlah antara dua golongan besar”

2- Dibaiat pada bulan Ramadhan 40H sebagai Khalifah kelima setelah wafat ayahnya Ali ra selama 6 bulan kemudian beliau menyerahkan kekhilafaanya kepada Muawiyah bin Abi Sufian. Dinamakan tahun itu tahun Jama’ah, tahun persatuan suara muslimin. 

Posted in Hasan | 9 Comments »

Ibrahim

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Ketujuh

Ibrahim    

Nama

Ibrahim

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah saw

Nama Ibu

Mariya binti Syamu’n

Nama Penyusu

Ummu Saif

Tempat dan Tanggal Lahir

Madinah, Dhul Hijjah tahun 8 Hijrah

Jenis Kelamin     

Laki laki

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, tahun 10 Hijrah (wafat dalam usia kurang dari 3 tahun)

Tanda Tanda Istimewa

1- Sangat dicintai Nabi saw

2- Diberi nama Ibrahim mengambil barakah dari nama datuk beliau Ibrahim as

Posted in 7- Ibrahim | Leave a Comment »

Abdullah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Keenam

Abdullah

Nama

Abdullah (At-Thayyib atau At-Thahir)

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuilid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, lahir sebelum Nabi diutus sebagai Rasul

Jenis Kelamin

Laki laki

Tempat dan Tanggal Wafat

Makkah, sebelum Nabi saw diutus sebagai Rasul (usianya kurang dari setahun)

Posted in 6- Abdullah | 1 Comment »

Fatimah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Kelima

Fatimah (Al-Zahra’)

Nama

Fatimah (Al-Zahra’)

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuilid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 18 sebelum Hijrah

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Madinah, tahun 2 Hijrah

Nama Suami

Ali bin Abi Thalib ra

Nama Anak

Hasan, Husen, Muhsin (wafat semasih kecil), Ummu Kalstum, Zainab

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, 3 Ramadhan tahun 11 Hijrah

Wafat Pada Usia

29 Tahun

Tanda Tanda Istimewa

1- Sangat dicintai Nabi saw. Beliau bersabda atas diri Fatimah “ “Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira maka ia telah membahagiakanku” .

2- Disaat perkawinannya dengan Imam Ali ra beliau berdoa “Ya Allah berilah keberkahan bagi keduanya, berilah keberkahan atas keduanya dan berilah keduanya keberkahan dalam keturunannya”

3- Rasulallah saw tidak mendapatkan keturunan kecuali dari keturunan Fatimah dan Ali ra

4- Sangat sederhana dalam berumah tangga dengan imam Ali ra, bahkan sering kekurangan. Beberapa kali ia harus menggadaikan barang-barang keperluan rumah tangga untuk membeli makanan, sampai-sampai kerudungnya pernah digadaikan kepada seorang Yahudi Madinah. Namun demikian, mereka tetap bahagia sebagai suami istri sampai akhir hayat

Posted in 5- Fatimah | 10 Comments »

Ummu Kalstum

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Keempat

Ummu Kalstum

Nama

Ummu Kalstum

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuilid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, Tahun 19 Sebelum Hijrah Nabi saw

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Menikah dua kali di Makkah dan Madinah

 

Nama Suami

1- Di Makkah dengan U’taibah bin Abu Lahab (mati musyrik)

2- Di Madinah tahun 3 Hijrah dengan Ustman bin Affan ra yang dijuluki Dhun-Nurain karena menikah dengan dua putri Nabi saw

Nama Anak

Tidak mendapakan keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, tahun 9 Hijrah

Wafat Pada Usia

28 tahun

Tanda Tanda Istimewa

1- Menikah dengan sahabat Nabi saw yang mulia Ustman bin Affan ra setelah mati suami pertama U’taibah bin Abi Lahab (kafir)

2- Dinikahkan Nabi saw atas perintah Allah. Rasulallah saw bersabda atas dirinya “Aku telah mendapat perintah dari Allah untuk menikahkan putriku Ummu Kalstum dengan Ustman” 

Posted in 4- Ummu Kalstum | Leave a Comment »

Ruqayyah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Ketiga

Ruqayyah

Nama

Ruqayyah

Nama Bapak

Muhammad bin Abdullah saw

Nama Ibu

Khadijah binti khuailid

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 22 Sebelum Hijrah

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Makkah. Dua kali menikah dengan:

1- U’tbah bin Abu Lahab (Masuk islam tahun pembebasan Makkah)

2- Ustman bin Affan, ikut berhijrah bersamanya ke Habasyah (Ethoipia) .

Nama Anak

Abdullah bin Ustman bin Affan (wafat semasih kecil)

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, tahun 2 Hijrah (wafat dalam usia 24 tahun)

Tanda Tanda Istimewa

Mendapatkan pengakuan Nabi saw atas penjagaan Allah terhadap diri dan suaminya Ustman bin Affan saat berhijrah ke Habasyah. Beliau bersabda “Allah telah menjaga Ustman dan keluarganya setelah penjagganNya terhadap Lut as saat berhijrah”

Posted in 3- Ruqayyah | Leave a Comment »

Qasim

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Kedua

Qasim

Nama

Qasim

Nama Bapak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuailid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah

Jenis Kelamin

Laki Laki

Tempat dan Tanggal Wafat

Makkah, wafat dalam usia kurang dari setahun

Posted in 2- Qasim | Leave a Comment »

Zainab

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Pertama

Zainab

Nama

Zainab

Nama Babak

Muhammad bin Abdullah SAW

Nama Ibu

Khadijah binti Khuilid ra

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 23 sebelum Hijrah Nabi saw

Jenis Kelamin

Perempuan

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Makkah

Nama Suami

Abul A’sh bin Rabie’ (Anak Halah binti Khuailid, Saudara Khadijah ra)

Nama Anak

1- Ali (Wafat semasih kecil)

2- Umamah (Dikawini Imam Ali ra setelah wafat Fatimah ra kemudian dikawini Mughirah bin Naufal setelah Imam Ali ra), dari kedua duannya tidak mendapatkan keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 8 Hijrah. Rasulallah saw sendiri turun ke dalam kuburan disaat pemakaman.

Wafat Pada Usia

31 tahun

Tanda Tanda Istimewa

1- Sabar dalam segala musibah menimpahnya. Rasulallah saw bersabda atas diri Zainab “Sesungguhnya ia adalah sebaik baiknya anakku dalam menerima musibah”.

2- Ikut berhijrah bersama sama Nabi saw.

3- Menolak duduk di Makkah dengan suaminya yang belum masuk Islam. Setelah masuk islam tahun 8 Hijrah, Nabi saw mengembalikannya kepada suaminya.

Posted in 1- Zainab | Leave a Comment »

Mariya Al-Qibthiyyah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Keduabelas

Mariya Al-Qibthiyyah

 

Nama

Mariya

Nama Babak

Syamu’n

Nama Ibu

xxx

Tempat dan Tanggal Lahir

Asiyut, Mesir

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, Tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

didatangi dari Mesir sebagai hadiah dari Raja Muqauqis untuk Nabi saw

Lama Perkawinan

4 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Satu satunya budak belian, setelah dimerdekanan, menjadi istri Nabi saw dan mendapat keturunan darinya.

2- Menghapus perbudakan

3- Ia sebagai hadiah dari raja Mesir Muqauqis untuk Nabi saw

Nama Suami Pertama

xxx

Nama Anak dari Nabi saw

Ibrahim

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 16 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Dicintai Nabi saw, kecintaan ini tercermin dari sabda beliau “Sesungguhnya kamu akan membuka negeri Mesir, negeri yang dinamai Al-Qirath (Al-Qibth), jika kamu memasukinya berbuat baiklah kepada penduduknya sesungguhnya bagi mereka keselamatan dan kekeluargaan (sher)

2- Dikaruniai putra yang diberi nama Ibrahim (wafat semasih kecil)

Posted in 12- Maria Al-Qibthiyyah | 2 Comments »

Maimunah binti Harist

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kesebelas

Maimunah binti Harist

 

 

Nama

Maimunah (Nama Asalnya Burrah, diganti Nabi saw menjadi Maimunah)

Nama Babak

Harist bin Huzn Al-Hilali

Nama Ibu

Hind bint A’uf

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, Tahun 18 sebelum Hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Kampung Saraf dekat Makkah, tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

5 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Membuat hubungan kekeluargaan dengan kabilah Al-Hilali (kabilah menengah).

2- Diriwayatkan perkawinanya dirayakan di kampung Saraf dekat kota Makkah dan diundang semua pamong peraja Quraisy untuk menghadirinya. Mereka merasa bangga sehingga selalu disebut-sebut  “Mantu kami Muhammad”

Nama Suami Pertama

1- Masu’d bin A’mr bin Umair As-Staqafi (Ditalak)

2- Abu Rihim bin Abdul U’zza Al-A’miri (Bercerai Mati)

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Makkah, Tahun 51 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Senang bersilaturahim dengan keluarga dan banyak bertakwa kepada Allah.

2- Rasulallah saw bersabda “Wanita yang beriman ialah Maimunah istri Nabi, saudara saudaranya adalah Ummu Fadhl binti Harist, Salma binti Harist istri Hamzah dan Asma’ binti U’mais saudaranya dari ibu” 

Posted in 11- Maimunah Binti Harist | Leave a Comment »

Ramlah binti Abu Sufyan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kesepuluh

Ramlah binti Abu sufyan

 

Nama

Ramlah (Ummu Habibah)

Nama Babak

Abu Sufyan bin Harb

Nama Ibu

Shafiyyah binti abil A’sh

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 30 sebelum Hijrah Nabi saw

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, Tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dinar dibayar oleh raja An-Najasyi (Ethiopia)

Lama Perkawinan

4 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Membuat hubungan baik dengan Abu Sufyan pemimpin Qurasy Makkah yang memusuhi Nabi saw. Mendengar berita perkawinan Nabi saw dengan putrinya, Abu Sufyan merasa bangga. Ia berkata “Ia (Muhammad) adalah kuda pacu yang tidak pernah menundukan hidungnya ke tanah (sangat mulia)”.

2- Membalas jasa Ramlah yang telah berhijrah ke Habasyah hingga wafat suaminya.

Nama Suami Pertama

Ubaidillah bin Jahsy

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 44 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Sabar dan banyak membawa keberkahan

2- Ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama sama suaminya Ubaidillah yang masuk agama Kristen dan mati di sana.

3- Dilamar Nabi saw dengan mahar 400 dinar yang dibayar oleh Raja Habasyah (Ethiopia) sebagai hadiah darinya.

Posted in 10- Ramlah binti Abu Sufyan | Leave a Comment »

Shafiyyah binti Hay

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kesembilan

Shafiyyah binti Hay

 

Nama

Shafiyyah (Yahudi)

Nama Babak

Hayy bin Akhthab

Nama Ibu

Burrah binti Samual

Tempat dan Tanggal Lahir

Khaibar, Tahun 10 sebelum Hijrah Nabi saw

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Saat kembalinya dari Khaibar, Tahun 7 Hijrah

Status

Janda

Mahar

Pembebasan dari tawanan Khaibar

Lama Perkawinan

4 Tahun

Sebab Perkawinan

Ia anak perempuan pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir yang ditawan. Rasulallah memberikan dua pilihan, dibebaskanya dari tawanan atau dinikahi Nabi saw. Ia memilih dinikahinya. Setelah dinikahi seluruh tawanan Bani Nadhir diberikan otoriti untuk tetap tinggal di Khaibar . 

Nama Suami 

1- Salam bin Musykam

2- Kinanah bin Rabie’

Kedua duanya sastrawan besar Yahudi

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 50 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Benar, bijaksana dan dipercaya

2- Membela Khalifah Ustman di saat pengepungan orang orang pemberontak yang ingin membunuhnya, Ia membawa makanan dan minuman baginya

3- Setelah perselisihan faham dengan A’isyah ra dan Hafshah ra ia mengadukan halnya kepada Nabi saw. Beliau pun bersabda ”Ya Shafiyyah! Katakanlah kepada A’isyah dan Hafshah bagaimana mereka lebih mulia darimu sedang suamimu Muhammad, bapakmu nabi Harun dan pamanmu nabi Musa”

Posted in 09- Shafiyyah binti Hay | Leave a Comment »

Juairiyah binti Harist

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Kedelapan

Juairiyah binti Harist

 

Nama

Juairiyah (Yahudi)

Nama Babak

Harist bin Abi Dhirar

Nama Ibu

xxx

Tempat dan Tanggal Lahir

Tahun 16 sebelum Hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Tahun 5 Hijrah (Setelah Peperangan Bani Al-Mushtaliq)

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

6 Tahun

Sebab Perkawinan

Ia anak perempuan pemimpin Yahudi dari Bani Al-Mushtaliq yang ditawan. Rasulallah saw memberikan dua pilihan untuk pembebasannya, membayar upeti atau dikawini Nabi saw. Ia memilih dikawininya. Kemudian seluruh tawanan Bani Al-Mushtaliq dibebaskan karena hubungan beliau dengan pimpinanya menjadi kekeluargaan (mertua Nabi)

Nama Suami Pertama

Musafih bin Shafwan

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 56 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Senang berpuasa dan beribadah

2- Membawa keberkahan bagi kaumnya karena hubunganya dengan Nabi saw sebagai istri. A’isyah ra berkata “Aku tidak mendapatkan wanita yang membawa keberkahan bagi kaumya selain Juairiyah”

Posted in 08- Juairiyah binti Harist | Leave a Comment »

Zainab binti Jahsy

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Ketujuh

Zainab binti Jahsy 

 

Nama

Zainab atau Ummul Masakin kedua (Ibu orang orang Miskin kedua), dijuluki juga Ummul Hakam

Nama Babak

Jahsy bin Riab

Nama Ibu

Umaimah binti Abdul Muthalib (Bibi Nabi saw)

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 30 sebelum Hijrah Nabi saw

Tempat dan Tanggal Perkawinan

Madinah, Tahun 5 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

6 Tahun

Sebab Perkawinan

Dikawini atas perintah dari Allah demi untuk membatalkan hukum “Attabanni” atau pengangkatan anak setelah ditalak oleh anak

angkat Nabi saw Zed  bin Haristah. Lihat surat Al-Ahzab 37 dan terjemahannya

Nama Suami Pertama

Zed bin Haristah

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 20 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Pengiba, suka bersedekah, dijuluki Ibu orang orang miskin kedua. 

2- Istri yang bangga karna dinikahi Nabi saw atas pernitah Allah

Posted in 07- Zainab binti Jahsy | Leave a Comment »

Hind binti Hudhaifah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Keenam

Hind binti Hudhaifah

 

Nama

Hind atau Ummu Salamah Al-Makhzumiyah

Nama Bapak

Abi Umayyah (Hudhaifah bin Al-Mughirah)

Nama Ibu

A’tikah binti A’mir

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 30 sebelum Hijrah Nabi

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, tahun 4 Hijrah

Status

Janda

Mahar

Perabotan rumah tangga

Lama Perkawinan

7 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Menghormati suaminya Abi Umayyah saudara susu Nabi saw yang telah wafat

2- Mengikat hubungan tali persaudaraan dengan bapaknya ketua suku Quraisy terbesar dari Bani Makhzum

Nama Suami Pertama

Abu Salamah Abdullah bin Abul Asad, saudara susu dan anak bibi Nabi saw yang berhijrah ke Habasyah dan Madinah.

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Syawal 61 Hijrah.

Tanda Tanda Istimewa

1- Wanita pertama yang berhijrah ke Habasyah

2- Wanita pertama yang masuk ke Madinah dengan unta berkamar (Houdaj)

3- Cantik, Cerdik dan berakal. Nabi saw selalu menghargai ide-idenya diantaranya saat perjanjian Al- Hudaibiyah. Sahamnya terhadap da’wah Nabi saw sangat besar.

4- Ia adalah anak paman Khalid bin Walid dan saudara susu A’mmar bin yasir

5- Ketika turun ayat “Innama Yuridullah Liyudhiba A’nkumurijsa Ahlalbait” di rumahnya, iapun berkata “Wahai Rasulallah apakah aku termasuk Ahlul Bait?” Rasulallah saw menjawab “Betul insyallah”

Posted in 06- Hind binti Hudhaifa | 2 Comments »

Zainab binti Khuzaimah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri kelima

Zainab binti Khuzaimah

 

Nama

Zainab  Ummul Masakin (Ibu orang orang miskin)

Nama Bapak

Khuzaimah bin Al-Harist bin Abdullah

Nama Ibu

Hind binti A’uf

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 26 sebelum hijrah

Tempat dan Tanggal Pernikahan

Madinah, Ramadhan 3 Hijrah

Status

Janda

Mahar

400 Dirham

Lama Perkawinan

8 Bulan

Sebab Perkawinan

Menghormati suaminya pertama, Abdullah bin Jahsy, saudara susu Nabi saw yang mati syahid dalam peperangan Uhud

Nama Suami Pertama

Abdullah bin Jahsy, saudara susu Nabi saw. dikarunia 4 anak darinya

Nama Anak dari Nabi

Tidak dikaruniai keturunan

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Rabiul Akhir tahun 4 Hijrah

Tanda Tanda Istimewa

1- Senang bersadakah dan memberi makan orang miskin, makanya dijuluki Ummul Masakin (Ibu orang orang miskin)

2- Ia saudaranya istri Nabi Maimunah binti Harist dari ibu

3- Istri pertama yang wafat setelah wafatnya Nabi saw.

Posted in 05- Zainab binti Khuzaimah | Leave a Comment »

Hafshah binti Umar

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Istri Keempat

Hafshah binti Umar bin Khattab

 

Nama

Hafshah

Nama Bapak

Umar bin Khattab

Nama Ibu

Zainab binti Madhu’n

Tempat dan Tanggal Lahir

Makkah, tahun 18 sebelum Hijrah Nabi

Tempat dan Tanggal Pernikahan 

Madinah, Tahun 3 Hijrah

Mahar

xxx

Status

Janda

Lama Perkawinan

8 Tahun

Sebab Perkawinan

1- Memperkuat hubungan Nabi saw dengan sahabat kedua Umar bin Khattab ra

2- Menghormati suami pertama Khunais bin Hudhafah yang mati syahid dalam peperangan Uhud

Tempat dan Tanggal Wafat

Madinah, Tahun 41 Hijrah

Nama Anak dari Nabi 

Tidak dikaruniai keturunan

Nama Suami Pertama

Khunais bin Hudhafah mati syahid dalam peperangan Uhud

Tanda Tanda Istimewa

1- Sastrawan unggul

2- Selalu puasa dan sholat malam.

3- Pernah diputus Nabi saw kemudian Jibril datang kepada beliau lalu berkata “Kembalilah kamu wahai Muhammad kepada Hafshah sesungguhnya ia wanita yang selalu puasa dan bangun malam, sesungguhnya ia istrimu di surga”

3- Penjaga Mushhaf pertama (Al-Quran) yang dikumpulkan Abu Bakar Siddik ra di rumahnya

Posted in 04- Hafshah binti Umar | 1 Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya