Hasan Husen Assagaf

Archive for the ‘Ya Karim, Sabda Nabi’ Category

♣ Apakah air Zam Zam bisa dijadikan obat?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 4, 2018

Oleh: Hasan Husen Assagaf

zam-zam1

 

Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 30:
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”

SETELAH diciptakan Adam dari tanah dan Hawa dari tulang rusuknya, Allah menciptakan anak cucunya dari setetes air yang terpancar keluar dari tulang sulbi yang jika ditimbang beratnya hanya beberapa gram. Di dalam air itu terkandung jutaan mahluk hidup (sperma), jika seandainya semuanya dengan seizin Allah menjadi manusia maka cukup dari setetes air bisa menjadi penduduk satu negara. Tapi dari kekusaaan Allah, yang jadi dari jutaan makhuk itu hanya satu yang paling unggul.

Zaman dulu, air merupakan sumber penghidupan yang sangat berharga dan mempunyai peran yang penting sekali. Di mana ada air disitu ada penghidupan. Tidak ada air berarti tidak ada penghidupan. Orang-orang Baduwi suka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena mencari air. Tak heran, kadang kadang terjadi peperangan besar antara dua kabilah hanya karena air.

Menurut Fatul Bari (Bab: kitab Al-Anbiya’), bahwa Kabilah Jurhun yang hidup di Jaziraul Arab senang sekali berhijrah. Tapi setelah melihat ada tanda wujudnya air Zam Zam di kota Makkah, mereka segera membuat perkampungan dan mendirikan kemah-kemah di sekitarnya. Tentu yang pertama kali menemukan Zam Zam adalah  seorang wanita yang tak punya tempat bernaung, tak berdaya, namun penuh iman, ikhlas, dan ta’at, dangan harapan agar kelak menjadi symbol keimanan dimasa mendatang. Dialah siti Hajar, istri Ibrahim as, Disaat akan ditinggalkan suaminya, ia menyeret jubbahnya seraya berkata: “Kemanakah engkau hendak pergi?, dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada penghuni? Apakah Allah yang menyuruhmu?” Nabi Ibrahim as menjawab: “Ya”. Hajar berkata: “Jika demikian pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.

Setelah perbekalan Hajar habis ia tinggalkan anaknya di sebuah pohon yang rindang dan berusaha (sa’i) mencari air. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang dan bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti ia melakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah.Ternyata ia tidak memperoleh air. Air kehidupan yang penuh dengan kenikmatan dan keberkahan itu justru muncrat deras dari pasir gersang yang dikorek-korek tumit si bayi. Maka keluarlah air Zam Zam.

Subhanallah, dari pasir gersang itu keluarlah air. Mulai saat itu Makkah yang dulu merupakan kota tandus, gersang, tak ada pepohonan yang tumbuh, dan tidak ada penghuni yang hidup, berkat nabi Ismail as, datok nabi kita Muhammad saw, menjadi kota yang subur, makmur dan terlimpah didalamnya aneka ragam dari keberkahan Allah. Semua ini karena air Zam zam yang keluar deras dari tumit nabi Ismail.

11  2  3

Mulut Sumur Zam Zam di tahun 1320H (1903M)

Maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah, kabilah Jurhum mulai berdatangan ke sana untuk menetap dan mendudukinya. Campur baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismalil tak bisa dielakan. Dari sana, terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari, bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Itulah sebahagian dari keunggulan dan keistimewaan air Zam Zam.

Hari berganti hari dan zaman berganti zaman, sehingga datanglah hujan lebat dan banjir dahsyat yang membuat telaga Zam Zam lenyap dan tidak ada tanda-tanda untuk mengetahuinya lagi. Ini menurut riwayat Yaqut Al-Hamawi. Adapun menurut pendapat yang benar bahwa sumur Zam Zam ditimbun dan dihilangkan tanda-tandanya oleh kabilah Jurhum disaat mereka akan meninggalkan kota Makkah.

Telaga Zam Zam terus lenyap dari permukaan bumi Makkah dan tidak diketahui tempatnya, hingga Abdul Muttalib, kakek Nabi Muhammad saw, memangku jabatan sebagai pemberi makan dan minum jama’ah haji. Dengan ru’ya shadiqah (impian yang benar) ia akhirnya ditunjukan Allah tempat sumur Zam Zam yang tidak pernah kering airnya dan tidak pernah surut. Sumur ini dinamakan Zam Zam karena airnya yang sangat banyak dan Zam Zam dalam bahasa Arab berarti banyak dan berkumpul. Seandainya siti Hajar disaat menemukannya tidak mengumpulkan pasir di sekitar tempat air memamcar dan tidak menciduknya maka air Zam Zam akan mengalir terus sehingga bisa menenggelamkan semuanya.

Hikmah dan astar:

1- Dari salah satu bukti yang menunjukan keutamaan Zam Zam adalah saat malaikat Jibril as membelah dada Rasulallah saw, ia membasuhnya hati beliau dengan Zam Zam. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Dhar Al-Ghifari bahwa Rasulallah saw bersabda: “ Atap rumahku dibuka saat aku berada di Makkah dan Jibril as turun dan membelah dadaku kemudian ia membasuhnya dengan Zam Zam. Lalu ia membawa bejana besar terbuat dari emas berisi hikmah dan keimanan dan menuangkannya ke dalam dadaku. Kemudian ia menutupnya. Lalu ia memegang tanganku dan membawaku ke langit”

2- Mujahid berkata: “Aku tidak pernah melihat Ibnu Abbas ra memberi makan seseorang kecuali ia juga memberikan air Zam Zam untuk diminum. Ia juga mengatakan setiap kali tamu datang berkunjung Ibnu Abbas akan menjamunya dengan air Zam Zam.

3- Diantara keistimewaan air Zam Zam adalah bahwa Rasulallah saw menjadikan siapa yang meminumnya sampai kenyang akan dibersihkan hatinya dari sifat munafik

4- Diriwayatkan dari Jabir ra bahwa Rasulallah saw meminta seember air Zam Zam, lalu beliau meminumnya dan memakainya untuk berwudhu’.

5- Dalam kitab Shahih diriwatkan; saat Abu Dzar telah memeluk Islam, ia berkata: “Ya Rasulallah saya berada di sini selama 30 hari”, beliau bersabda: “Siapa yang memberimu makan?”, ia berkata: “Aku tidak mempunyai makanan apapun jua hanya air Zam Zam, tapi berat badanku bertambah sehingga aku dapat merasakan lipatan lemak pada perutku, dan aku tidak merasa lapar sama sekali”. Lantas beliau bersabda: “Zam Zam diberkahi dan mengandung makanan bergizi”.

Ada puluhan kisah yang saya tidak bisa bawakan disini tentang hasiatnya air Zam Zam dan bagaimana orang yang menderita penyakit dimana dokter menyerah dan putus harapan terhadap kesembuhanya, tapi dengan seizin Allah mereka dapat diobati dengan air Zam Zam dan khasiyatnya yang tersembunyi. Sungguh Rasulallah saw telah bersabda “Didalamnya terdapat makanan bergizi dan dapat menyembuhkan penyakit”

Wallahua’alm

Iklan

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Apakah Air Hujan Bisa Dijadikan Obat ?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 4, 2018

APAKAH AIR HUJAN BISA BISA DIJADIKAN OBAT?

 

Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,” (QS. 25:48)

Itulah ayat2 suci Al-Qur’an yang menerangkan tentang “Air Hujan”. Dan masih banyak lagi yang tertera di dalamnya.

Air hujan adalah air murni. Air yang jatuh dari langit tidak mengandung mineral karena tidak bersentuhan dengan tanah atau batu atau percampuran lainnya yang memberikan efek buruk. Kita tahu dan mengalami sendiri bahwa udara saat hujan lebih sehat untuk bernafas dan segar. Karena hujan menggerakkan racun di udara bersama debu dan menghilangkan polusi lainnya.

Sebuah studi pernah bilang bahwa air hujan bisa dibuat untuk minum. Itu memang bisa saja dilakukan jika dikumpulkan dalam wadah bersih. Apalagi air hujan yang langsung berasal dari langit tanpa menyentuh permukaan kotor. Disamping itu hujan mempunyai aroma menenangkan sekaligus menyenangkan. Suara gemercik hujan bisa membuat manusia tenang dan senang.

Hujan bisa dilihat dari segala sudut pandang. Dari sudut agama hujan itu merupakan rahmat dan bisa pula sebagai bencana. Kali ini ana mau berbagi pengalaman dan resep bagaimana air hujan bisa dijadikan sebagai rahmat dan obat.

Perkembangan akhir zaman, banyak penyakit menyebar pada manusia yang sulit untuk diobatinya. Biasanya penyakit tersebut terkena pada orang yang berusia lanjut bahkan kadang kadang terkena juga bagi yang berusia muda. Hal ini tidak lain karna factor cara yang salah dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah berbaur dengan bahan pengawet dan zat kimia, sehingga dengan inilah menjadi efek mudahnya terkena penyakit fatal yang telah beredar pada saat ini.

Maka disini sedikit ana berikan referinsi dari terjemahan kitab An-Nawadir halaman 194 karya Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi (*) yang menyatakan obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan segala penyakit adalah “air hujan”. Air hujan bisa juga bermanfaat bagi perempuan yang lama belum mendapat keturunan, insya Allah dan dengan kehendak Allah bisa hamil setelah meminum obat ini disertai tidur bersama suaminya tentu didahulukan dengan do’a kepada Allah, karena Dia-lah sebaik baiknya Dzat yang bisa memnyembuhkan.

Lihat terjemahan kitab Syeikh Al-Qalyubi dibawah ini:

فائدة :  روي انه صلى الله عليه وسلم قال : علمني جبريل دواء لا احتاج معه الى دواء ولا طبيب ، قال ابو بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم : وما هو يا رسول الله ؟ إن بنا حاجة الى هذا الدواء ، قال: يؤخذ شيئ من ماء المطر وتتلى عليه فاتحة الكتاب ، وسورة الاخلاص ، والفلق ، والناس وآية الكرسي ، كل واحدة سبعين مرة ويشرب غدوة وعشية سبعة أيام  ، فو الذي بعثني بالحق نبيا لقد قال لي جبريل أنه من شرب من هذا الماء رفع الله من جسده كل داء وعافاه من جميع الامراض والأوجاع ، ومن شقي منه امرأة ونام معها حملت بإذن الله تعالى و يشفي العينين ويزيل السحر ويقطع البلقم ويزيل وجع  الصدر والاسنان والتخم العطش وحصر البول ولا يحتاج الى حجامة ولا يحصى ما فيه من المنافع الا الله تعالى وله ترجمة كبير اختصرناها و الله اعلم – من كتاب النوادر ص 194 تأليف الشيخ شهاب الدين بن سلامة القليوبي

Artinya

“FAIDAH”: Diriwatkan bahwasanya Nabi saw bersabda dihadapan para sahabatnya: “Sesungguhnya Malaikat Jibril as telah mengajarkan kepadaku tentang satu obat yang tidak memerlukan kepada obat lain dan tidak pula membutuhkan kepada dokter”. Kemudian Abubakar, Umar , Utsman dan Ali ra bertanya: “Apa gerangan obat itu wahai Rasulallah? Sesungguhnya kami sangat membutuhkannya?”.

Rasulallah saw berkata: “Ambil-lah secukupnya dari air hujan, lalu bacakanlah surat Fatihah, surat Al-Ikhlash , surat Al-Falaq, surat An-Nas dan Ayat Kursi, masing-masing dibaca 70 kali dan diminum pada setiap pagi dan sore selama tujuh hari berturut-turut. Demi Dzat Yang Mengutusku dengan kebenaran sebagai seorang nabi”, kata Rasulallah saw: sesungguhnya malaikat Jibril telah menyatakan kepadaku: barang siapa yang meminum air tsb (air hujan yang telah dibacakan trs) niscaya Allah akan menghilangkan semua penyakit yang ada dalam tubuhnya dan menyembuhkan dari segala penyakit yang ada. Dan barang siapa yang memberi air itu untuk seorang perempuan kemudian kumpul bersama suaminya, niscaya perempuan itu akan hamil dengan seizin Allah. Dan air tersebut juga bisa menyembuhkan penyakit mata , dan kena mata, bisa pula menghilangkan penyakit sihir, menghilangkan dahak, menghilangkan sakit dada, sakit gigi, sakit pencernaan, kesembelit, dan kecing tidak lancer (prostate). Semua penyakit ini disembuhkan tanpa perlu untuk dibekam. Dan masih banyak lagi faidah-faidah lainnya yang tidak terhitung kecula oleh Allah.

Sumber: kitab An-Nawadir halaman 194 karya Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi.

Nah.. sekarang kita tahu apa manfaat dan keberkahan air hujan. Pernahkah anda hujan-hujanan? Sudahkah selama ini memanfaatkan air hujan sebagai air minum yang sangat berkhasiat? Bacalah ini, praktekkanlah dan yakinilah!! Insya Allah bermanfaat.

Cobalah tampung air hujan yang turun langsung dari langit, lalu diamkan sebentar kemudian masukan ke dalam wadah gelas bening. Setelah itu masukan ke dalam freezer kulkas. Beberapa jam setelah beku, lihatlah. Ada banyak kristal-kristal indah di dalamnya. Mengapa? Ini menandakan air hujan adalah air yang sehat kaya dengan oksigen.

Ternyata mandi hujan sangat bermanfaat untuk kesehatan dan meminum air hujan menyempurnakannya. Air hujan juga ternyata bisa dijadikan sebagai bahan terapi untuk menghilangkan stress, penyakit dalam dan meningkatkan kesuburan kandungan, dan ini sudah banyak dipraktekkan.

Menurut Water Rhapsody (www.waterrhapsody.co.za/) air hujan sangat bermanfaat, diantaranya:

  1. Air hujan bisa menyehatkan rambut. Dikutip dari Water Rhapsody www.waterrhapsody.co.za/, orang-orang Barat zaman dahulu percaya bahwa mencuci rambut dengan air hujan dapat membuat rambut jauh lebih sehat dan bersinar. Dikutip dari Rainwater Connection, air yang turun dari langit ini memiliki kadar kenetralan PH yang hampir sempurna, bebas garam, dan bebas mineral yang buruk bagi rambut. Jadi air hujan merupakan materi paling netral yang dapat kita gunakan untuk mencuci rambut.
  2. Air hujan mengandung H2O2 ( Hidrogen Peroksida ). Air hujan juga mengandung H2O2 (Hidrogen Peroksida). H2O2 dapat dijadikan holistic healing atau “terapi pengobatan”. Ternyata sampai sekarang produk H2O2 yang ada di Indonesia masih impor. Padahal di dalam air hujan ada kandungan H2O2 ini (bersifat anorganik)
  3. Air Hujan mengandung unsur Nitrogen. Nitrogen merupakan faktor utama dalam penciptaan protein penting untuk penciptaan materi genetik dalam tubuh manusia. Nitrogen diperlukan untuk semua bentuk kehidupan. Jadi meminum air hujan memungkinkan tubuh untuk memanfaatkan nitrogen, mendorong sintesis protein dan penciptaan senyawa dan asam amino yang mempengaruhi pertumbuhan, hormon, fungsi otak dan sistem kekebalan tubuh.
  4. Air Hujan bisa menghilangkan bau amis. Kalau kita habis makan ikan atau daging, terkadang bau amis pada telapak tangan sulit untuk hilang walaupun kita cuci tangan pakai sabun. Nah salah satu manfaat air hujan adalah dapat menghilangkan bau amis. Coba dan buktikan cuci tangan pakai air hujan, pasti bau amis pada jari tangan kita akan hilang meskipun tanpa menggunakan sabun.
  5. Air Hujan bisa menghilangkan toksin (racun) dalam tubuh. Larutkan garam pada air hujan segar, lalu rendamlah telapak kaki kita selama ± 15 menit. Lakukan secara rutin setiap kali turun hujan. Usahakan air hujan murni yang digunakan.

Ternyata mandi hujan bisa juga untuk terapi stress baik bagi wanita maupun pria. Pola dasarnya adalah pengejutan system syaraf yang terletak dibawah jaringan kulit. Kalau kita hujan-hujanan selama 10 menit saja, maka ribuan butir air hujan akan memukul kita. Pukulan air hujan tersebut dapat mengejutkan ribuan system syaraf yang tersebar di seluruh tubuh. Berdiri atau duduklah di alam terbuka sambil terus merasakan butiran-butiran air hujan menyentuh kulit, berdoalah untuk ketenangan batin. Rasakan kesegaran jiwa maupun raga setelah hujan-hujanan, lebih fress dan menenangkan.

Ternyata setelah dibuktikan bahwa Air Hujan bisa membuat kesuburan kandungan. Subhanallah. Tunggulah hujan berlangsung minimal 10 menit lamanya (Jangan lakukan di hujan pertama setelah kemarau), Lalu berdiri hujan-hujanan di alam terbuka menghadap kiblat dan air hujan yang turun langsung mengenai tubuh hingga benar-benar membasahi seluruh tubuh. Dalam hal ini sangat dianjurkan untuk tetap menutup aurat.

Sementara anda hujan-hujanan, taruhlah wadah untuk menampung air hujan murni, air hujan murni adalah air hujan yang turun langsung dari langit tanpa perantara genting maupun talang. Minumlah air hujan yang berhasil ditampung dengan terlebih dahulu berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakitnya diangkat atau diberikan keturunan bagi yang tidak punya anak. Minumlah air hujan secukupnya, tidak terlalu sedikit dan jangan berlebihan. Yakinilah, karna keyakinan akan membantu keberhasilan dalam pengobatan.

Jadi kesimpulannhya, apa yang dikatakan Rasulallah saw dalam kitab An-Nawadir halaman 194 karya Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi itu benar dan yakin bahwa Air Hujan yang diturunkan dari langit bisa menyembuhkan penyakit kemandulan, bisa menyembuhkan penyakit mata , dan kena mata, penyakit dalam, bisa pula menghilangkan penyakit sihir, menghilangkan dahak, menghilangkan sakit dada, sakit gigi, sakit pencernaan, kesembelit, dan kecing tidak lancer (prostate), dan masih banyak lagi penyakit yang sulit diobati thabib. Semua itu bisa terjadi dengan kehendak Allah dan dengan sebab Air Hujan.

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

(*) Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ahmad bin Salamah Abu al-‘Abbas Syihabuddin al-Qalyubi. Beliau berasal dari Qalyub, Mesir. Tahun kelahiran beliau ttidak diketahui secara pasti. Beliau terkenal sebagai pakar fiqih dari kalangan Mazhab Syafi’i dan menguasai berbagai ilmu. Diantara kitab karya karangan adalah Hasyiyah al Qaliyubi ‘ala Mahalli dan Manasik Haji. Syekh Syihabuddin al-Qalyubi wafat pada akhir bulan Syawal tahun 1069 H, ada juga yang berpendapat dan mengatakan beliau wafat pada tahun 1070 H.

Kitab-kitab beliau:

  • Hasyiyah Syarah al Jurumiyah, (Nahwu)
  • Hasyiyah Syarah Isaguji, (Manthiq)
  • Hasyiyah Syarah Thahir, (Fiqih)
  • Majma’ul Muhibbin, (Fiqih)
  • Manasik Haji
  • Al Jami, (ilmu Thib)
  • Tadzkirah al Qaliyubi, (kesehatan)
  • An-Nawadir
  • Hasyiyah al Qaliyubi, Hasyiyah kitab Mahalli

Salah satu kitab karangan dia sangat terkenal di Indonesia, yakni kitab Hasyiyah al Qaliyubi karena diletakkan dalam satu kitab yang terkenal dengan nama “Al Mahalli”.

Daftar Pustaka:

Abbas, Sirajuddin (2011). Ulama Syafi’i dan kitab-kitabnya dari abad ke abad. Jakarta, Indonesia: Pustaka Tarbiyah Baru. ISBN 978-979-26-4317-6.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Hubungan Sahabat Dengan Ahlul Bait Nabi saw

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Oktober 6, 2015

Hubungan Sahabat Dengan Ahlul Bait Nabi saw

 

Sebelumnya mari kita telaah hubungan Nabi saw dan sahabatnya

 

keturunan-page-001

Rasulallah saw menikah dengan Siti Khadijah binti Khuailid ra mendapat keturunan anak yaitu Qasim, Zainab, Abdullah, Ruqayah, Fatimah. Dan yang dari istrinya Mariyah Al-Qibthiyah, Rasulallah saw mendapat keturunan anak yaitu Ibrahim. Anak2 laki Nabi saw Qasim, Abdullah dan Ibrahim semuanya meninggal semasi kecil. Anak2 perempuannya semuanya hidup sampai berumah-tangga.

  1. Zainab puteri Nabi saw dinikahi Abul-Ash bin Ar-Rabi’ ( dari keturunan Bani Umayah). Dari perkawinan ini mendapat anak dua yaitu Ali dan Umamah. Yang Umamah dinikahi Ali bin Abi Thalib ra setelah wafatnya Fatimah ra.
  2. Ruqayah puteri Nabi saw dinikahi Ustman bin Affan ra
  3. Ummu Kalstum puteri Nabi saw dinikahi Ustman bin Affan ra setelah wafatnya Ruqayah.
  4. Fatimah puteri Nabi saw dinikahi Ali bin Abi Thalib ra. Dari perkawinan Ali dan Fatimah mendapat keturunan anak lima, yaitu Hasan, Husen, Ummu Kaltsum, Zainab dan Muhsin. Yang bernama Ummu Kalstum puteri Ali ra dinikahi Umar bin Khattab ra. 

 

Keturunan Abu Bakar Siddik ra

keturunan-page-002

Abu Bakar Siddik ra mendapat keturunan anak lima yaitu Ummu Kaltsum, Asma’, Aisyah, Abdurahman dan Muhammad.

  • Aisyah binti Abubakar ra dinikahi Nabi saw
  • Asma’ binti Abubakar ra dinikahi Zubair bin Awam ra. Dari perkawinan ini asma’ mendapat keturunan anak tiga yaitu Mus’ab, Abdullah dan Hindun. Yang Mus’ab menikah dengan Sakinah binti Husen bin Ali ra. Yang Abdullah menikah dengan Umul Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dan yang Hindun menikah dengan Abbas bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib.
  • Abdurahman bin Abubakar mendapat keturunan anak tiga yaitu Muhammad, Hafshah dan Asma’. Yang Hafshah dinikahi Hasan Bin Ali bin Abi Thalib. Yang Asma dinikahi Qasim bin Muhammad bin Abubakar. Dari pernikahan Asma’ dan Qasim mendapat keturunan anak bernama Fatimah yang kemudian dinikahi Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali ra. Dari perkawinan ini mendapat keturunan anak Ja’far As-Shadiq.
  • Muhammad bin Abubakar mendapat keturunan anak satu bernama Qasim yang sudah disebut diatas menikah dengan Asma’ bin Abdurahman bin Abubakar dst.  

 

Keturunan Umar bin Khattab ra.

keturunan-page-003

Umar bin Khattab ra  mendapat keturunan anak empat yaitu Hafshah, Ashim, Ruqayah dan Zeid

  • Hafshah binti Umar ra dinikahi Nabi saw
  • Ibunya Ruqayah dan Zeid bin Umar bin Khattab adalah Ummu Kalstum bin Ali bin Abi Thalib ra.
  • Ashim bin Umar bin khattab menikah dengan anaknya Ramlah binti Ali bin Abi Thalib.   

 

Keturunan Ustman bin Affan ra

 

keturunan-page-004

Ustman bin Affan ra mendapat keturunan anak tiga yaitu Amr, Aban dan Umar

  • Amr bin Ustman bin Affan mendapat anak laki laki bernama Abdullah Al-Muthrif yang kemudian menikah dengan Fatimah binti Husen bin Ali ra setelah wafat suaminya yang pertama Hasan Al-Mustanna. Dari perkawinan ini  mendapat keturunan anak bernama Muhammad Ad-Dibaj.
  • Aban bin Ustman bin Affan menikah dengan Ummu Kalstum bin Abdullah bin Jafar At-Thayyar. Dari perkawinan ini mendapat anak bernama Marwan. Ia (Marwan) kemudian menikah dengan Umu Al-Qasim binti Hasan Al-Mustana setelah dinikahi Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
  • Umar bin Ustman bin Affan mendapat keturunan anak laki laki bernama Zaid yang kemudian menikah dengan Sakinah binti Husen bin Ali ra  

 

Keturunan Ali bin Abi Thalib

keturunan-page-005

Sebelumnya telah disebut bahwa Ali bin Abi Thalib ra menikah dengan Fatimah puteri Nabi saw mendapat keturunan anak lima yaitu Hasan, Husen, Ummu Kaltsum, Zainab dan Muhsin.

  • Umu Kalstum binti Ali bin Abi Thalib dinikahi Umar bin Khattab ra.

Kemudian Ali bin Abi Thalib ra menikah lagi setelah wafatnya Siti Fatimah ra. Beliau mendapat keturunan anak banyak diantaranya: Abbas, Umar Al-Akbar, Fatimah, Abu Bakar, Umar Al-Ashghar, Ustman Al-Akbar, Ramlah, Umu Kalstum, Umul Hasan dan Muhammad.

  • Abbas dan Umar Al-Akbar bin Ali bin Abi Thalib ra mati syahid bersama saudaranya Husen bin Ali ra di Karbala.
  • Fatimah binti Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Mundzir bin Obaid bin Zubair bin Awam.
  • Ramlah bin Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Muawiyah bin Marwan bin Al-Hakam. Dari perkawinan ini mendapat keturunan anak satu perempuan yang kemudian dinikahi oleh Ashim bin Umar bin Khattab.
  • Umu Kalstum binti Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Umar bin Khattab ra
  • Umul Hasan binti Ali bin Abi Thalib ra dinikahi Abdullah bin Zubair bin Awam.  

 

Keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra

keturunan-page-006

Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra mempunyai keturunan anak yaitu Umul Hasan, Abu Bakar, Umar dan Hasan Al-Mustanah

  • Umul Hasan binti Hasan bin Ali ra dinikahi Abdullah bin Zubair bin Awam.
  • Abubakar dan Umar bin Hasan bin Ali mati syahid bersama Husein bin Ali ra di Karbala.
  • Hasan Al-Mustana bin Hasan bin Ali ra mendapat keturunan anak tiga yaitu Umul Qasim, Muhammad dan Zainab. Umul Qasim binti Hasan Al-Mustana menikah dengan Marwan bin Aban bin Ustman bin Affan. Muhammad bin Hasan Al-Mustana ibunya bernama Ramlah bin Said bin Zaid (10 sahabat yang dijamin masuk surga). Dan Zainab binti Hasan Al-Mustana menikah dengan Walid bin Abdul Malik bin Marwan (dari bani Umayyah).  

 

Keturunan Husen bin Ali ra

keturunan-page-007

 

Husen bin Ali bin Abi Thalib mempunya keturunan yaitu: Ali Zainal Abidin As-Sujjad, Abu Bakar, Umar, Fatimah, Sakinah)

  • Ali Zainal Abidin As-Sujjad yaitu satu-satunya keturunan Husen bin Ali ra yang berkembang biak tidak terputus-putus sampai akhir zaman. Beliau mendapat keturunan anak tiga yaitu: Aisyah, Muhammad Al-Baqir, Umar Al-Asyraf
  • Fatimah binti Husen bin Ali ra menikah dengan Abdullah bin Amr bin Ustman bin Affan ra
  • Sakinah binti Husen bin Ali ra menikah dengan Zaid bin Umar bin Ustman bin Affan. Kemudian menikah lagi dengan Mus’ab bin Zubair bin Awam.
  • Muhammad Al-Baqir mendapat keturunan Jafar As-Shadik.. dst dst..

 

Sekarang, setelah kita mengetahui silsilah hubungan sahabat Nabi saw dengan Nabi dan Ahlul Bait, mari kita telaah siapa itu Ahlul Bait Nabi saw dan siapa itu sahabat Nabi saw?

Cinta kepada Ahlul Bait adalah hal yang wajib dan disarankan oleh agama, tidak sempurna agama seseorang jika tidak dikaitkan kecintaanya kepada Nabi saw, keluarga dan sahabatnya. Ahlul Bait Nabi saw adalah orang yang paling dekat dengan beliau, yang secara khusus dicintai, dihormati, dan dipeliharanya. Allah memuliakan mereka dan secara khusus dijaga agar tetap suci dan dijauhkan dari kekejian.

”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab, 33)

Telah sama kita maklumi, Rasulullah adalah nabi dan rasul Allah kepada seluruh manusia. Keberadaan beliau merupakan rahmat bagi alam semesta. Ayat Al-Quran secara tegas menyatakan hal tersebut, “Dan kami tidak mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’,: 108).

Beliau juga rasul yang paling dicintai oleh Allah dan diberi gelar Al-Habib Al-A`zham (Kekasih yang Teragung). Kecintaan Allah kepada beliau telah dibuktikan dari akhlaq beliau yang begitu luhur. Dalam ayat lain dikatakan, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam: 4).

Tak ada yang mengingkari betapa besar jasa yang telah diberikan oleh Rasulullah saw kepada umat manusia bahkan kepada alam semesta. Dengan risalah yang Allah perintahkan untuk disampaikannya, beliau telah menunjukkan jalan yang lurus, telah mengalihkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Beliau telah berjasa membawa umat manusia untuk mengenal Allah, Pencipta mereka.

Melalui beliaulah kita mengenal Allah dan mengenal apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarang Allah. Melalui beliau pula kita mengetahui bagaimana cara-cara mendekatkan diri kepada-Nya. Bahkan, bagaimana menjalani kehidupan sehari hari dalam segala segi. Makanya kita tidak akan sanggup menghitung jasa-jasa Nabi saw yang sangat besar bagi umat manusia. Sekarang, apa balasan setimpal yang patut diberikan kepada beliau atas jasa jasa yang telah diperbuatnya dalam menyampaikan risalah?

Allah berfirman:

قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

“Katakanlah Wahai Muhammad, aku tidak minta balasan apapun atas risalah yang aku sampaikan pada kalian kecuali kecintaan kalian terhadap keluargaku” (as-Syuro, 23)

Ayat ini menjelaskan bahwa satu-satunya balasan setimpal yang harus dipersembahkan kepada Rasulallah saw atas jasa-jasa beliau yang begitu besar dalam penyampaian risalah Allah adalah kecintaan terhadap keluarga beliau. Atau dapat pula disimpulkan bahwa kecintaan kepada mereka adalah kewajiban Ilahi sebagai balasan umat atas risalah yang telah disampaikan oleh beliau. Allah menjadikan kecintaan pada Ahlul Bait adalah jalan menuju kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ahlul-Bait dalam bahasa ahlu artinya ahli, penghuni, keluarga, famili atau penduduk. Sedang bait artinya rumah. Jadi ahlul bait adalah penghuni atau keluarga rumah. Dalam tradisi Islam alhul bait artinya keluarga atau sanak famili Rasulallah saw yang memiliki tali kekeluargaan dengan beliau. Banyak terjadi perbedaan penafsiran, ada yang menafsirkan ahlul bait itu adalah lima keluarga Nabi saw yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan beliau yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husen dan beliau sendiri. Ada lagi yang menafsirkan ahlul bait adalah keluarga Nabi saw dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya, hingga terkadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya.

Mereka yang menyatakan bahwa Ahlul-Bait adalah anggota keluarga Nabi saw yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat, seperti keluarga Ali dan Fatimah beserta putra-putra mereka (Hasan dan Husain) serta keturunan mereka. Juga keluarga Abbas bin Abdul-Muththalib, serta keluarga-keluarga Ja’far dan Aqil yang bersama Ali merupakan putra-putra Abu Thalib.

Adapun hadits yang terkuat dalam hal yang bersangkutan denga alhul Bait adalah hadits atsaqalain yang disebut dibawah ini

”Kutinggalkan di tengah kalian dua peninggalanku: Kitabullah dan keturunanku, ahlul baitku. ” (HR Muslim)

Pekembangan Ahlul Bait tidak bisa dibendung walaupun sepanjang sejarah kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mengalami penindasan luar biasa, tapi mereka tetap berkambang dan didapatkan di mana saja di seluruh dunia. Ini kemungkinan karena do’a Rasulallah saw kepada siti Fatimah putri beliau dan sayyidina Ali ra di saat pernikahan mereka yang sangat sederhana.

Doa Nabi saw adalah,”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik”

Disamping kewajiban kita sebagi muslim mencinta Ahlul Bait, kita diharuskan pula mencintai para sahabat Nabi saw. Karena mereka adalah manusia manusia mulia yang hidup di zaman Nabi saw, mengenal dan melihat Nabi saw, membela Nabi saw di saat kesusahan dan kesenangan, dan mereka wafat dalam keadaan muslim.

Bahkan diantara mereka ada mempunyai hubungan karabat dengan Nabi saw misalnya empat khulafur Rasyidin, terutama Ali bin Abi Thalib ra disamping ia adalah menantu Nabi saw (menikah dengan siti Fatimah puteri Nabi saw) juga ia adalah sepupu Nabi saw. Begitu pula Utsman bin Affan yang merupakan putra dari sepupu Nabi saw yakni Arwa (putri dari bibi Nabi saw, al-Baidha’ binti Abdul Muththalib), ia juga menikah dengan dua putri Nabi saw secara bergantian yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum ra. Sedangkan Umar bin Khattab merupakan mertua Nabi saw. Beliau menikah dengan Hafshah binti Umar bin Khattab ra. Begitu pula Abu Bakar Siddiq merupakan mertua Nabi saw, karena ’Aisyah putri Abu Bakkar ra dinikahi Nabi saw.

Jelasnya, kita tidak bisa meragukan hubungan baik antara para sahabat Nabi saw dan keluarga Nabi (Ahlul bait) sebagaimana diterangkan dalam silsilah hubungan mereka diatas. Mereka semua sahabat Nabi saw yang sangat dekat hubungannya dengan Nabi saw dan Ahlul Bait. Mereka semua mencintai Nabi saw dan Ahlul Bait. Inilah salah satu alasan mengapa Nabi saw sangat mencintai para sahabatnya. Beliau tidak segan-segan memuji para sahabatnya dan menyebutnya sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam.

“Dari sahabat ‘Imron bin Hushain ra ia berkata. Nabi saw bersabda, ”Sebaik-sebaik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya lalu generasi sesudahnya”. (Shahih al-Bukhari).

Sebagai manusia tentu para sahabat Nabi saw tidak luput dari kesalahan dan terjadi antara mereka perselisihan faham bahkan sampai terjadi kekhilafan. Tapi semua ini tidak bisa dijadikan tanda kalau di antara para sahabat tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat, tidak terjalin persahabat yang akrab, atau tidak terjalin rasa cinta antara mereka. Justru sebaliknya, jalinan persahabatan dan kecintaan atara mereka tidak putus. Berapa banyak hadits Nabi saw yang meriwayatkan indahnya pergaulan antara sahabat Nabi yang harus diteladani oleh umat Islam.

Jadi apa yang sebenarnya diajarkan oleh Ahlul Bait? Mereka mengajarkan kecintaan, persahabatan dan penghormatan yang dalam kepada para sahabat Nabi saw terutama kepada khulafa Ar-Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra, bukan menanamkan kebencian dan penghinaan apalagi melaknat atau mengkafirkan (al’iyadu billah).

Rasulallah saw bersabda ”Jangan kamu mencaci sababat sahabat-ku. Demi yang diriku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang menginfakan hartanya berupa emas sebesar gunung Uhud (untuk membalas jasa jasa mereka), maka apa yang diinfakan tidak sampai bebesar mud atau setengah mud dibanding dengan jasa mereka.

Maka mari kita hindari berbantah-bantahan dan perdebatan yang tidak mengajak kepada iman. Apalagi di depan kita sudah tersedia sabda Nabi saw yang tidak mungkin diingkari lagi. Tidak ada pilihan lain kecuali kita mengimaninya dengan sepenuh hati. Janganlah kita bermental seperti ahli kitab yang mengingkari nabinya serta membangkang terhadap petunjuknya.

Wallahu’alam// Hasan Husen Assagaf

Dari beberapa sumber

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Imam Ghazali Dan Seekor Laler

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 7, 2015

Imam Ghazali Dan Seekor Laler

Ass wr wb..

Pagi cerah.. penuh berkah.. kita sambut dengan meriah.. rasa syukur dan pasrah.. karena masih diberi umur panjang yg barkah.. bisa nafas free dan cuma cuma..

Saudara seiman..

Siapa sih yang ga kenal sama imam Ghazali.. Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali..

Beliau orang hebat luar biasa.. guru sufi.. guru filosof … guru teolog muslim.. Asal tahu aja beliau dari Persia (Iran).. dari daerah namanya ath-Thusi.. dan yang keren lagi madzhabnya Syafi’i 👍👍.. beliau hidup pada 450 H –505 H.. orang bule bilang Algazel..

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama.. ahli fikir.. ahli falsafah Islam.. cerdasnya minta ampun.. daya ingetnya luar biasa.. pintar dalam berhujjah mangkanya dinamain Hujjatul Islam.. ga sedikit sumbangannya bagi kemajuan islam dan manusia.. karyanya hebat2.. seabrek abrek.. banyak sekali.. karyanya yang paling top adalah: Ihya Ulumuddin..

Yang penting ana ga bisa ceritain kehebatannya yang segudang.. tapi ada kisah menarik tentang beliau.. ceritanya begini:

Pada suatu hari Imam al-Ghazali lagi nulis kitab.. Pada waktu itu orang kalo nulis harus menggunakan tinta yang ditaro di mangkok dan sebatang pena.. kalo mau nulis penanya harus dicelupin dulu kedalam tinta.. abis dicelup baru dipakai untuk menulis.. kalo abis tinta yang di pena.. dicelup lagi dan menulis lagi… Begitu seterusnya..

Waktu dia sibuk menulis.. tiba2 seekor laler nemplok di mangkuk tinta.. keliatannya itu laler lagi kehausan.. laler minum tinta di mangkuk itu… Melihat itu.. Imam al-Ghazali diamin itu laler ga diusir.. ga digeprak..

Waktu imam Al-Ghazali meninggal.. seorang ulama teman dekat beliau ngimpiin beliau… Dalam mimpinya terjadi dialog.. begini dialognya:

Teman: Wahai imam.. apa yang Allah perbuat kepada ente?..

Al-Ghazali: Allah telah menempatkan ana di tempat yang paling baik..

Teman: Amal apa yang sampai ente ditempatkan Allah ditempat yang paling baik itu? Apakah itu karena ilmu ente.. atau banyaknya kitab-kitab bermanfaat yang ente tulis?..

Al-Ghazali: Tidak sobat.. Allah memberi ana tempat yg terbaik karena pada saat ana menulis.. ana kasih kesempatan kepada seekor laler yang kehausan minum dari mangkok tinta.. ana lakukan itu kerana ana tahu dia makhluk Allah butuh minum…

Dialog selesai..

Dari kisah sufi tersebut memberi kita hikmah luar biada bahwa ga ada salahnya kalo kita menolong mahluk Allah…Bayangin coba.. hanya sekedar membiarkan laler minum bisa menjadikan orang masuk surga.. apalagi kasih makan manusia..

Ada satu hadits diriwayatkan Bukhatri Muslim.. bahwa seorang pelacur bisa masuk surga kerena kasih minum anjing kehausan… bayangin coba.. cuman kasih minum anjing kehausan bisa masuk surga..

Ada juga hadits yang diriwayatkan sama.. bahwa ada seorang wanita masuk neraka jahannam kerana menyiksa seekor kucing.. kucing dikurung ga dikasih makan sampe mati..

Mangkanya jangan remehin perbuatan yang kita anggap kecil.. karna semua ada hisabnya di akhirat nanti..

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau hanya kasih senyum manis kepada saudaramu” (HR. Muslim)

Salam pagi..Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Usia

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 1, 2015

USIA

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Apakah anda sudah mencapai usia 40 tahun ?

Kalau sudah, marilah kita bernostalgia kesuasana yang membuat kita selalu merasa muda. Karena perasaan semacam ini akan membuat sel-sel tubuh menjadi aktif dan peredaran darah berjalan baik. Dan yang paling penting dari itu semua kita harus selalu merasakan bahwa diri kita masih muda dan tidak pernah merasa tua “ You look What You Feel “ ini menurut pendapat si Bule.

Umur menurut kenyataannya di bagi dua, absolut dan reatif, atau dalam arti lainnya umur penanggalan dan umur biologis, atau dalam istilah kasarnya umur diberanakin dan umur dirasain. Dalam hal ini kita harus tahu bahwa umur absolut atau penanggalan (umur diberanakin) merupakan  patokan usia manusia. Betul faktor lingkungan, faktor berfikir, faktor budaya, faktor ekonomi, faktor diri kita dll, mempunyai sifat menentukan, tapi itu bukan merupakan patokan. Patokan manusia adalah usia, dan usia umat Muhammad saw rata rata menurut hadist Nabi saw diantara 60 sampai dengan 70 tahun. “Usia umatku antara 60 dan 70“ (al-hadist). Ini patokan usia anak-anak Adam dan Hawa. Ada yang hidup lebih dari usia 70 tahun tapi sangat rare atau langka kita dapatkan. Kalau seseorang sudah mencapai usia lebih dari 60 tahun berarti ia sudah mencapai standar usia manusia. Dan bila sudah mencapai usia lebih dari 60 tahun, ia harus mengangkat tangan setinggi tingginya dan betul betul bersyukur kepada Pencipta mahluk. Karena dalam istilah kasarnya, kalau seseorang sudah mencapai usia 60 tahun keatas badannya sudah berbau tanah.

Zuhair bin Abi Salma, penyair terkenal di zaman Jahiliah (520-609), setelah mencapai usia 80 tahun, ia merasakan ada sesuatu kelainan didalam dirinya. Fisiknya menjadi lemah, matanya rabun, rambutnya berobah warna menjadi putih, kulitnya keriput, pendengaranya tidak tajam,  Dengan penuh perasaan, ia melontarkan syairnya yang sangat indah yang berbunyi :

سئمت تكاليف الحياة ومن يعش ثمانين حولا لا ابا لك يسأم

“Liku-liku kehidupan dunia membuatku bosan,  barang siapa mencapai delapanpuluh tahun, mau tidak mau akan bosan “

Disaat kita berusia 40 tahun, kita masih tampak segar, muda, gagah dan masih kelihatan sama dengan 10 tahun yang lalu. Tidak terlihat kerut diwajah kita. Tubuh kita masih tetap langsing. Satu-satunya yang bisa menandai kalau kita sudah diatas 40 tahun adalah kacamata baca. Tapi setelah usia kita bertambah, segalanya akan lebih sulit dan cara kita mempertahankan semua itu agak lebih rumit dan komplek dibanding sebelumnya.

Contoh yang ringan saja, ketika kita masih muda kita minum apa saja, kita minum kopi, teh, sirup, es cendol, es teler dll. Dan pula kita makan apa saja, kita makan nasi rames, nasi kebuli, nasi rawon, daging kambing, daging sapi, telor setengah mateng, sop kaki kabing, sop buntut, sate dll. Semua itu kita minum dan makan enak saja tampak memikirkan penyakit yang diakibatkan dari minuman dan makanan trb. Namun, tambah tua kita bisa merasakan sesuatu, badan harus dikontrol, makan minum tidak bisa sembarangan, tidur harus teratur, kadang kadang timbul gelisa, susah tidur, badan terasa tidak enak. Semuanya muncul sehingga kita harus lebih waspada. Jadi kita harus berhati hati dan harus lebih memperhatikan diri sendiri jika sudah berusia diatas 40 agar tubuh tetap sehat.

Kalau begitu, awalnya dari awet muda adalah sehat, baru kemudian membuat kita muda terus. Maka dari itu orang Arab bilang : “kesehatan itu nomor satu (1) ,dan yang lainnya nomor nol (0)”. Kalau kita memiliki kesehatan ditambah banyak harta berarti kita sudah mencapai angka 1 dan 0 yaitu 10. Jika kita sehat, banyak harta dan ditambah pula memiliki istri yang sholeh berarti kita sudah mencapai angka 1, 0 dan 0 yaitu angka 100. dan seterusnya. Akan tetapi kalau kita memiliki semua yang berada di dunia, tanpa kesehatan berarti kita hanya mencapai angka nol besar (0). Maka dari itu Rasulallah saw. mengajarkan kita pertama-tama yang diminta di saat berdoa, jangan meminta banyak rizki, atau meminta banyak harta, jangan pula minta masuk surga akan tetapi pertama-tama mintalah kepada Allah kesehatan dan keafiatan yang sempurna. Baru setelah itu minta yang lainya.

Imam besar wadi al-Ahqof, Habib Umar bin Saggaf, mengajarkan kita doa yang pendek tapi berbobot yang ditulis dalam kitabnya “Tafrihul Qulub Wa Tafrijul Kurub“ :

Ya Allah berikanlah kepadaku kesehataan yang sempurna dalam taat pada Mu. Ya Allah berikanlah kepadaku panjang usia disertai amal baik bagi Mu. Ya Allah berikanlah kepadaku rizqi yang luas dan halal yang tidak mengazab diriku

Disamping, kalau mau awet muda, menjaga kesehataan jika usia sudah bertambah, pula yang paling penting dari yang penting harus menjaga hati kita agar selalu bersih, jauh dari menyombong diri, terpelihara dari kata-kata riya’, tidak mempunyai rasa dendam, iri hati, dan dengki. Hal ini akan memelihara detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang dan kondisi diri senantiasa diliputi kedamaian. Dan setelah itu kita akan rasakan tubuh menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti inilah akan jauh lebih banyak untuk berbuat kepada umat.

Maka dari itu, Hati merupakan satu kekuatan dan potensi yang bisa membuat kita tetap awet muda, yang bisa melengkapi otak menjadi cerdas dan badan menjadi sehat. Saya pernah membaca syair yang menggambarkan betapa hati itu bisa berpengaruh pada kehidupan seseorang, bunyinya begini :

Bila Hati kita bersih

Pikiran pun selalu jernih

Semangat hidup akan gigih

Prestasi mudah diraih

 

Tapi…bila hati busuk

Pikiran jahat merasuk

Akhlakpun kian terpuruk

Dia jadi makhluk terkutuk

 

Bila hati kian lapang

Hidup susah tetap senang

Walau kesulitan menghadang

Dihadapi dengan tenang

 

Tapi bila hati sempit

Segalanya jadi rumit

Seakan hidup terimpit

Lahir batin terasa sakit

Masya Allah,… andaikata hati selalu bersih, maka wajah pun akan memancarkan rahmah, ni’mah, serta ikhlas yang tak terkira. Bukankah Nabi kita Muhammad saw juga demikian?  Beliau tidak pernah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan tersenyum cerah dan ramah tamah. Senyum yang penuh keikhlasan bernilai besar, karna selain menjadi shodakah, juga akan menyehatkan tubuh. Bahkan, menurut pendapat para ahli, senyum itu hanya memerlukankan 17 otot, sedangkan cemberut 32 otot .

Sebelum Allah melantik nabi kita Muhammad saw menjadi nabi dan rasul, pertama-tama yang dilakukan Nya adalah membersihkan hati beliau agar selalu jauh dari sifat menyombong diri, terpelihara dari riya’, dendam, iri hati, dan dengki kemudian mencucinya dari sifat sifat buruk yang terkutuk. Begitu pula akal dan fikiran beliau telah dibersihkah sehingga tidak bisa tersesat dan keliru. Lidah dan lisan beliau terpelihara dari kata kata yang bisa menyakiitkan. Mata dan pandangan beliau selalu dijaga dari hal hal yang kotor dan keji. Guru dan majlis beliau senantiasa terpilih, bukan sembarang guru yang diturunkan untuk mengajar beliau, akan tetapi Jibril lah yang selalu menjadi teman dan guru yang selalu mendapingi beliau. Perilaku dan budi pekerti beliau sangat luhur, agung dan terpuji “Dan sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) benar benar berbudi perkerti yang agung”. Baru setelah itu beliau dilantik mejadi nabi dan rasul umat.

Ada satu ayat suci dan sabda Nabi  yang berkaitan dengan hati:

“Di hari harta dan anak-anak laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan HATI yang bersih “ ( Assyua’ra 88 dan 89 ).

“Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, jika baik maka seluruh tubuh akan menjadi baik dan jika buruk maka seluruh tubuh akan mejadi buruk. Bukankan itu adalah HATI ? “. ( Hadits ).

Maka, hati sangat menentukan dan berpengaruh sekali kepada kesehatan tubuh, pikiran dan jiwa kita. Pikiran dan jiwa yang sehat akan berpengaruh positif pada kesehatan tubuh kita. Terakhir, saya yakin banget bahwa petuntunjuk diatas insya Allah akan membuat kita menjadi sehat dan afiat di dunia dan di akhirat dan selalu tetap membuat kita awat muda walaupun usia sudah lanjut.

Wallahua’lam, Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Mau Tahu Yahudi?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 25, 2015

Mau Tahu Yahudi??

Bangsa Yahudi adalah keturunan Yahuza (asal kata Yahudi), salah seorang anak Nabi Ya’kub yang dikenal sebagai Israil. Nabi Ya’kub adalah putra Nabi Ishak. Nabi Ishak adalah putra Nabi Ibrahim dari istri pertama, Sarah. Dari istri kedua, Hajar, Nabi Ibrahim dikarunai anak bernama Nabi Ismail yang menurunkan bangsa Arab.

Jadi, bangsa Arab dan Yahudi sebenarnya masih satu keturunan dari Nabi Ibrahim. Namun, Alquran menyebutkan bahwa bangsa Yahudi adalah yang paling keras memusuhi umat Islam. Allah berfirman:

”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah : 82).

Mereka berusaha menyengsarakan umat Islam. Allah berfirman:

”Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran : 118).

”Tidaklah sekali-kali orang Yahudi bertemu dengan orang Islam di tempat yang sunyi, kecuali pasti ingin membunuhnya.” (HR Ibnu Mardawaih).

Hal ini bisa disaksikan, bagaimana mereka membombardir Palestina, Lebanon, Iraq, Libia, Suria, Yaman dll dengan bantuan Amerikan dan biyaya dari negara2 Islam munafiqin tanpa memerhatikan hati nurani dan kecaman masyarakat dunia.

Bangsa Yahudi sebenarnya bukan hanya memusuhi umat Islam, tapi memusuhi seluruh umat manusia. Bahkan, malaikat dan Tuhan pun mereka musuhi. Tidak percaya!!! Ini buktinya.. Allah berfirman:

”Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah : 98).

Kekejaman bangsa Yahudi terkadang mereka lakukan terhadap bangsanya sendiri demi tujuan tertentu. Emanuel Robinovich, pendeta tertinggi Yahudi dalam sidang darurat pendeta Yahudi Eropa tanggal 12 Juni 1952 berkata, ”Untuk mencapai tujuan akhir kita bisa saja memerlukan cara yang menyedihkan seperti kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri mengatur terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa sendiri pada suatu peristiwa yang akan kita atur dari belakang layar.”

Untuk menghadapi bangsa Yahudi, umat Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang belum terkalahkan, harus bersatu. Tapi saya tidak tahu kapan umat islam akan bersatu yang sampai sekarang masih kelihatan seperti buih.. Jika Dia berkehendak maka cukup dengan kata “KUN”, maka selesailah masalahnya..

Salam.. Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Kedahsyatan Do’a

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 11, 2014

KEDAHSYATAN DO’A

7Jika suatu kisah disebut dalam Al-Qur’an berarti kisah itu mempunyai arti dan nilai yang sangat besar. Ada suatu peristiwa besar yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, yaitu peristiwa penyerangan tentara gajah ke Makkah. Peristiwa yang telah diabadikan Allah dalam surat Al-Fill ini terjadi pada abad keenam atau tahun 570M. Pada saat itu negara Yaman dikuasai oleh seorang raja Kristen dari Habasyah bernama Negus yang berhasil mengusir bangsa Yahudi dari negeri itu. Lalu mengangkat Abrahah Ashram sebagai seorang gubernur di negeri Yaman.

Tidak berjauhan dari negeri Yaman, ada sebuah kota tua bersejarah, yaitu Makkah. Di sana terdapat sebuah Baitullah, Ka’bah namanya, rumah yang didirikan oleh nabi Ibrahim as dan dan putranya Ismail as beberapa abad silam. Seluruh manusia dari berbagai bangsa dan negeri datang setiap tahun berkumpul menunaikan haji ke tempat itu. Tidak sedikit pula dari penduduk Yaman sendiri datang ke sana berkumpul dan berhaji menurut cara mereka pada masa itu.

Dengan kumpulnya manusia di Makkah yang begitu banyak setiap tahun, maka kota Makkah menjadi ramai dan bangsa Quraisy sebagai penguasa Baitullah semakin terhormat dan mendapat kedudukan yang layak pula. Lalu timbul hasut dan niat busuk di hati Abrahah ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman sebagai pengganti Ka’bah di Makkah dan membelokkan ummat manusia agar jangan datang ke Makkah, ia berniat ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman sebagai pengganti Ka’bah di Makkah.

Niat itu segera dilaksanakannya. Lalu dia membangun sebuah gereja besar di kota San’a, ibukota negeri Yaman yang diberi nama gereja Al-Qulais. Gereja besar itu dibuatnya dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan dihiasi dengan berbagai macam ukiran antik, dan dipenuhi dengan benda benda berharga. Setelah selesai pembangunan gereja ia mengundang semua manusia menunaikan haji ke sana.

Kehadiran gereja itu cukup mengundang kemarahan bangsa Arab. Mulailah terjadi pembekotan, tidak seorangpun di antara bangsa Arab yang mau menunaikan haji ke Yaman, sekalipun sudah dianjurkan dan diperintahkan oleh Abrahah. Hati hati mereka sudah tertancap di Ka’bah, sekalipun bentuk Ka’bah tidak begitu menarik, bahkan tidak diukir oleh ukiran-ukiran antik dan tidak pula dihiasi dengan perhiasan-perhiasan yang mewah. Ini karena janji Allah kepada nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as ketika meletakkan batu pertama di Ka’bah. Pada saat itu nabi Ibrahim berdoa:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya, Allah, Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” Ibrahim 37

Dari kemarahan bangsa Arab timbul isu isu bahwa seorang laki-laki dari suku Kinanah membuang hajat di dalam gereja. Tatkala Abrahah mengetahui hal itu, ia marah besar dan bersumpah akan memimpin seluruh tentaranya berangkat menuju Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia berharap pula jika Ka’bah sudah diruntuhkan, terpaksa semua bangsa Arab akan datang ke Yaman, ke gereja besar yang sudah disediakannya sebagai pengganti Ka’bah. Abrahah lalu mempersiapkan tentera yang besar jumlahnya dengan berkenderaan gajah. Pasukan ini lalu berangkat menuju ke kota Makkah untuk meruntuhkan Ka’bah.

Mendengar berita Abrahan akan datang dengan tenteranya yang berkenderaan gajah untuk meruntuhkan Ka’bah, rumah suci yang mereka hormati, mereka bersiap untuk mempertahankannya dengan segala kekuatan yang ada pada mereka. Tetapi mustahil mereka bisa melawanya karena tentara Abrahah sangat besar jumlahnya. Mereka sadar bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawannya, kemudian mereka semuanya terpaksa pasrah dan menyerah.

Tetkala Abrahah tiba di Al-Mughamas, daerah dekat Thaif, ia mengutus seorang laki-laki dari Habasyah yang bernama Al-Aswad bin Maqshud untuk segera berangkat ke Makkah. setibanya di kota Makkah ia menggiring harta penduduk bangsa Quraisy dan lainnya. Diantara harta yang dirampasnya ada 200 ekor unta milik kakek Nabi saw, Abdul Muthalib bin Hasyim yang pada saat itu ia sebagai pemimpin dan pembesar kaum Quraisy. Mereka semua tidak bisa melawanya dan tidak bisa berbuat apa apa.

Sebelum memasuki kota Makkah, Abrahah memerintahkan pasukannya untuk berhenti duhulu. Lalu ia mengutus Hunathah Al-Himyari ke Makkah untuk membawa surat seruan terhadap penduduk Makkah. Dalam surat itu penduduk Makkah diperintahkan tunduk dan mengalah dan membiarkan pasukannya masuk meruntuhkan Ka’bah, dan pula keinginannya ingin bertemu dengan ketua dan sesepuh kota Makkah.

Abdul Muthalib Bin Hasyim kakek Nabi saw datang menemui utusan sebagai pemimpin rakyat Quraisy dan orang yang bertanggungjawab terhadap Ka’bah. Utusan itu segera berkata kepadanya: “Abrahah berpesan kepada tuan bahawa ia bukan datang untuk memerangi bangsa Quraisy, tetapi hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Kalau tuan dan bangsa Quraisy tidak menghalangi maksudnya, maka tidak akan terjadi pertumpahan darah dan Abrahah berpesan supaya tuan datang menemuinya”.  Abdul Muthalib menjawab: “Demi Allah, kami tidak akan memerangi kamu, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk berperang”.  “Kalau begitu mari kita menghadap Abrahah”,  kata utusan itu mengajak Abdul Muthalib.

Utusan itu berangkat bersama sama Abdul Muthalib dan beberapa pemuka Quraisy menuju perkemahan tentera Abrahah untuk bertemu dengan Abrahah. Setibanya di kemah, Abrahah terharu melihat ketampanan rupa Abdul Muthalib dan kewibawaanya. Ia lalu bangun dari singgasananya dan tidak dipersilahkannya untuk duduk di bawah dan ia memutuskan untuk turun ke bawah dan duduk di sampingnya di tikar permadani. Ia memperlakukan Abdul Muthalib sebagai tamu terhormat.

Lalu Abrahah berkata: “Katakanlah kepadaku, apa keperluan tuan?”. Abdul Muthalib mejawab: “Keperluanku hanya agar kamu mengembalikan kepadaku 200 unta yang kau rampas dariku”.  Mendengar permintaan itu, Abrahah menjadi heran dan berkata: “Kami datang untuk mehancurkan Ka’bah, sekarang kenapa tuan hanya membicarakan tentang 200 ekor unta yang kami rampas, dan tuan lupakan agama dan Ka’bah yang tuan puja?”. Dengan tangkas Abdul Muthalib menjawab: “Saya ini hanya pemilik unta, sedangkan Ka’bah itu ada Pemiliknya dan Dia sendiri yang akan menjaga dan memeliharanya.”.  Lalu Abrahah berkata: “Kalau begitu tuan tidak akan menghalangi niat kami?”. Abdul Muthalib menjawab: “Itu adalah urusan kamu dengan Pemilik Ka’bah”. Maka untuk menyenangkan hati Abdul Muthalib, semua unta yang dirampasnya dikembalikan kepadanya.

Hari mulai malam dan gelap-gulita. Di malam itulah tentera Abrahah akan memasuki kota Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Keadaan penduduk kota Makkah mulai panik, Abdul Muthalib kembali ke Makkah dan dilihatnya semua penduduk Makkah besar-kecil, laki-laki perempuan sibuk bersiap siap semuanya untuk mengungsi, Mereka membawa semua barang dan ternak mereka, ingin menghindarkan diri dari bahaya yang mungkin akan menimpah mereka.  Lalu Abdul Muthalib dan beberapa masyarakat Quraisy pergi menuju Ka’bah. Mereka semua berdoa kepada Allah sambil memegang pintu Ka’bah agar Dia menurunkan pertolongnan-Nya dan menghalangi Abrahah dan pasukanya. Abdul Muthalib menangis sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi dirinya dan hewannya, maka lindungilah rumah-Mu. Janganlah Engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatan-Mu esok hari”.

Setelah mereka masing-masing mencium Hajar Aswad serta berdoa agar Allah memelihara Ka’bah dari bencana tentera Abrahah, mereka meninggalkan Ka’bah menuju ke atas sebuah bukit, untuk menyaksikan kejadian selanjutnya. Di pagi harinya kota Makkah sunyi senyap dari penduduk dan tentera Abrahah mulai bergerak untuk memasuki kota Makkah. Tetkala Abrahah mengarahkan gajahnya ke Makkah, gajahnya tidak mau berdiri walaupun dipukuli tapi tetap tidak mau berdiri. Lalu Abrahah mencoba mengarahkan gajahnya ke arah Yaman, gajahnya berdiri dan berlari. Lalu diarahkan gajahnya ke Syam, gajahnya melakukan hal yang sama dan demikian seterusnya.

6Tiba-tiba Allah mengutus burung burung laut yang bernama Ababil. Setiap seekor burung membawa 3 buah batu kecil sebesar kacang Arab atau kacang adas, satu di paruhnya dan dua di kakinya. Batu-batu itu dijatuhkan kepada pasukan bergajah. Subhanallah, hasilnya sangat ajaib, bukan hanya luka parah tetapi pasukan Abrahah dan gajah-gajahnya menjadi hancur lebur, daging dan tulang mereka coplok berceceran di atas tanah, tidak seorang pun yang terluput dari bahaya maut, semuanya habis binasa. Melihat kejadian yang luar biasa itu, Abrahah mulai takut, lalu kembali melarikan diri, pulang menuju San’a. Ia terkena sebuah batu dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar anak burung. Ia mati di Sana’ karena luka yang dideritanya dalam perang ajaib itu.

Sunguh peristiwa pasukan gajah ini telah membawa bukti besar atas kekuasaan Allah dan membawa kesan besar terhadap Quraisy dan kedudukanya. Peristiwa ini mengangkat kedudukan Abdul Muthalib martabatnya di kalangan masyarakat Arab. Karena ia telah melakukan sesuatu hal dengan penuh kecerdasan dan strategi yang indah dan menyelamatkan kaumya dari bencana yang besar. Begitulah caranya membela agama Allah bukan membelanya dengan kekerasan atau emosi yang tidak terkendalikan.

25Kejadian hebat itu, menjadi tahun sejarah pertama bagi seluruh bangsa Arab dan di tahun itu pula lahir seorang manusia suci Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim di kota Makkah. Dengan lahirnya Rasulallah saw, Ka’bah akan tetap menjadi rumah suci dengan arti yang sebenarnya sampai sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Ke sanalah ummat Islam dari berbagai negeri, dari berbagai bangsa dan warna kulit berkumpul setiap tahun, untuk menunaikan ibadat haji seperti yang diperintahkan Allah. Dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, kota kesayangan Nabi, Makkah, tidak pernah tidur dikunjungi ummat manusia dari segala penjuru yang jumlahnya lebih banyak dari pengunjung kota Patikan, Washington, London, ataupun Paris.

Wassalamu’alaikum wr wb // Hasan Husen Assagaf

10/07/2014

NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 3 Comments »

♣ Huruf Arab

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 10, 2014

HURUF ARAB

usman

Al-Qur’an turun bukan dalam bentuk teks atau tulisan. Ia turun dalam bentuk wahyu baik langsung atau melalui perantaraan Jibril as. Adapun penulisan Al-Qur’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyakannya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.

Semua orang mengetahui bahwa Al-Qur’an pada zaman Utsman bin Affan ra ditulis tanpa titik dan harakat seperti yang kita lihat sekarang ini. Namun, hal ini tidak mempengaruhi bacaan Al-Qur’an karena kaum muslimin pada saat itu adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab. Keadaan ini terus berlangsung hingga Islam mulai berkembang terus meluas ke wilayah di sekitar jazirah Arab, Asia, Afrika sampai ke Eropa.

Bersamaan dengan itu, orang-orang Islam non-arab (disebut ‘ajami) merasa kesulitan untuk membaca Al-Qur’an yang pada waktu itu ditulis tanpa titik dan harakah.

Kejadian ini diawali dari cerita Abu al-Aswad Ad-duwali (1) yang hidup di zaman Muawiyah bin Abi Sufyan mendengar seseorang membaca satu ayat Al-Qur’an dalam surat At-Taubah ayat 3, yang berbunyi:

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

(Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuuluhu)

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin”.

Pada lafadz “Rasuluhu” (di baca dengan rafa’ atau dommah). Tapi, karena tidak ada harakah orang ‘ajam tersebut membacanya dengan:

“Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuulihi”. Pada lafadz “Rasuluhu” dibaca rasuulihi (dibaca dengan kasrah)

Mendengar bacaan tersebut Abu Al-Aswad terkejut, lalu mengucap: ”Allahu Akbar, ini musibah besar, bagaimana mungkin Allah berlepas diri dari RasulNya!..

Setelah itu ia langsung berfikir dan berfikir untuk mencari solusi guna menjaga keutuhan Al-Qur’an,

Oleh karena itu, Abul Al-Aswad Ad-duwali mejadi sosok sangat penting bagi muslimin yang pertama berkiprah guna menjaga keutuhan al-Qur’an. Dialah yang menemukan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat. Harkat yang diciptakan oleh Abu al-Aswad ini lalu disempurnakan lagi oleh muridnya Kholil bin Ahmad al-Bashri (2) pada masa dinasti Abbasiyah, hingga menjadi bentuk harakat seperti yang ada sekarang.

Adapun titik yang terdapat pada huruf ba’, ta’, tsa’, ya, dan lain-lainnya, itu terjadi pada masa Abdul Malik bin Marwan. Dahulu huruf huruf tersebut tulisan dan bentuknya sama sehingga sulit bagi orang ’ajam (non-Arab) untuk membedakan mana yang ”ba”, mana yang ”ta”, mana yang ”tsh”, mana yang ”ya” mana yang ”nun” karena tidak bertitik. Lalu Abdul Malik bin Marwan memerintahkan Nashr bin Ashim (3) dan Yahya bin Ya’mur (4)  menyelesaikan tugas tersebut. Untuk mencari jalan keluamya, mereka berdua lalu menyusun huruf huruf yang sama karakter dan bentuknya untuk membedakan bacaanya dengan memberikan titik titik dibawah atau diatas dengan mendahulukan urutannya

Diantaranya ada beberapa huruf yang karakter dan bentuknya sama sebelum diberi titik titik yaitu:

ba (ب) , ta (ت  ) , tsa( ث ) , nun (نـ) , ya( يـ  )

jim (ج ) , ha ( ح ) ,kha( خ )

dal( د ) , dzal ( ذ )

ra ( ر ) , za ( ز )

sin ( س ) , syin ( ش )

shat ( ص ) , dhat ( ض )

‘ain ( ع ) , ghain ( غ )

fa ( ف ) , qaf ( ق )

tha ( ط ) , dza ( ظ )

Ada juga huruf huruf yang bentuk dan karakternya berbeda yaitu selain huruf huruf tersebut diatas. Karena berbeda bentuk dan karekternya maka tidak diberi titik kecuali ”ha” marbuthah, yaitu:

alif, lam, mim, kaf, ha, dan waw   أ  ل  م  ك  هـ  و

Dalam penulisan titik huruf tersebut, Nashr dan Yahya menggunakan tinta yang warnanya sama dengan tinta yang digunakan untuk menulis mushaf, agar tidak serupa dengan tanda harakat yang digunakan oleh Abu al-Aswad Ad-duwali

Maka, sejak saat itulah mushaf Alqur’an mulai ada titik dan harakat pada huruf-hurufnya.

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

—————-

(1) Abul Aswad Ad-Duwali. Namanya: Dzalim bin Amr bin Sufyan Ad-duwali al-kinani (dari bani Kinanah) al-adnani (dari Adnan datuk Rasulallah saw), lebih dikenal dengan julukannya Abu Al-Aswad Ad-Duwali (atau Ad-Dili). Dia dilahirkan pada masa Rasulallah saw dinobatkan menjadi Nabi, tapi beliau tidak pernah melihat Nabi saw, beliau beriman dengan iman yang penuh. Makanya dujuluki salah seorang tabi’in. Beliau selalu berdampingan dengan Sayyidina Ali bin Abi thalib ra saat menjadi khalifah di Basrah, ikut bersama beliau dalam peperangan Shiffin dan Al-jamal, juga dalam memberantas golongan Khawarij. Beliau dijuluki raja ilmu nahu dan bahasa arab, ia merupakan penggagas ilmu nahwu, pakar tata bahasa Arab,  sastawan arab unggul, syair tekenal, ahli hadist dan fiqih. Disamping itu beliau orang yang memiliki keutamaan dan Hakim (Qadhi) di Basyrah. Ia dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab. Dan yang pertama kali meletakkan harakat pada huruf hijaiyah. wafat tahun 69H (670-an M) dalam usia 85 tahun.

(2) Kholil bin Ahmad al-Bashri adalah Abu abdurahman Al-khalil bin Ahmad Al-farahidi (718 – 791). Dia peletak asas bahasa dalam bukunya ‘Al-Ain’,  pakar bahasa Arab, orang yang menemukan aturan tata bahasa dan harakat bahasa arab yang pernah digali oleh Abu Al-Aswad Ad-Duwali. Beliau sastrawan arab, pintar dalam ilmu nahwu. Guru guru beliau diantaranya Sibawai, al-ashma’i, al-kisai, Harun bin musa al-nahwi, dll. Beliau hidupnya miskin, terlantar, sabar, berambut kusut, berwajah pucat, berbaju compang camping.

(3) Nashr bin Ashim adalah Nasr bin Ashim Al-laisti (89H) dari Bani Kinanah, sastawan arab, nahu dan ilmu fiqih, fasih dan alim dalam bahasa arab, beliau salah satu anak murid Abu Al-Aswad Ad-Duwali. Dikatakan beliau adalah orang yang pertama menciptakan titik dalam huruf huruf bahasa arab atas perintah Hajjaj bin Yusuf.

(4) Yahya bin Ya’mur, beliau adalah Abu Sulaiman Yahya bin Yamur Al-Bashri dari kabilah Kinanah termasuk ulama besar, ahli bahasa, dan nahu, fasih dalam bahasa arab, berguru kepada Abu Al-Aswad Ad-Duwali.  Diriwayatkan beliau adalah orang yang pertama menciptakan titik titik dalam huruf Al-Qur’an. Wafat tahun 129H

Referece :  Al-Bidayah Wa An-Nihayah, oleh: Al-Imam Ismail ibnu Kastir Ad-Dimasyqi

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Waa.. Mu’tashimah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Desember 10, 2013

WAA.. MU’TASHIMAH!!!

Oleh:hasan Husen Assagaf

1Majalah Nisfi al-Dunia (Mesir) pernah memuat artikel kecil yang berjudul “Keanehan Dunia”. Artikel ini menceritakan tetang seorang gadis Mesir memiliki pendengaran sangat tajam sehingga bisa mendengar suara dari jarak puluhan km. Kelebihan ini didapatkan mulai gadis cilik itu berusia dua tahun. Ibunya bercerita pernah satu kali ayahnya mendapat eksident jatuh dari traktor yang mengakibatkan kaki kirinya patah, pada saat itu tidak ada seorangpun yang melihatnya. Kemudian dia ingat anaknya, lalu memangilnya dengan suara lemah. Beberapa saat kemudian anak dan Ibunya datang dengan mobil ambulan yang segra membawanya ke rumah sakit.

Percaya atau tidak percaya, kelebihan yang diberikan si anak ini kelihatannya memang aneh dan ganjil. Tetapi ini bukan pertama kali terjadi pada diri seseorang.. Hal aneh dan ganjil serupa ini banyak terjadi dalam sejarah umat manusia, bahkan yang lebih aneh dari itu sering kita dengar dari sejarah Islam.

Contohnya, disaat Sayyidina Umar bin Khattab ra sedang berkhutbah diatas mimbar. Tiba tiba beliau memotong khutabnya.  Selesai khutbah, beliau ditanya oleh Sayyidina Ali ra kenapa beliau memotong khutbahnya dan memanggil nama Sariyah bin Husun. Khalifah Umar menjawab bahwa beliau melihat tentara Muslimin di bawah pimpinan Sariyah akan diserbu dari gunung oleh orang-orang kafir di salah satu tempat yang jaraknya ratusan km dari kota Madinah. Maka beliau memotong khutabnya dan berseru agar Sariyah dan pasukannya naik keatas gunung untuk menghadang tentara kafir.

Sebulan kemudian, tentara Sariyah bin Husun datang membawa kabar gembira atas kemenangan Islam yang gemilang. Mereka mengabarkan bahwa pada hari itu mereka mendengar teriakan Umar bin Khattab: “Ya Sariyah bin Husun!..Naik ke gunung!..Naik ke gunung!..“. Mendengar teriakan itu, Sariyah dan pasukan naik kegunung, menghadang tentara kafir yang berada disana sehingga Allah memberikan kemenangan.

Pula pernah terjadi atas diri Al-Mu’tashim khalifah Abbasiyah pada peperangan Romawi dan jatuhnya kota Ammuriah ke tangan Muslimin. Kemenangan gemilang ini disebabkan karena keluhan dan rintihan seorang perempuan dari keturunan Bani Hasyim yang ditawan oleh raja Romawi. Dalam penjara ia berteriak memanggil: “Waa Mu’tashimaah!..Waa Mu’tashimaah!..“, yang artinya: “Wahai Mu’tashim tolonglah aku”..”Wahai Mu’tashim tolonglah aku”.  Mendengar teriakan permpuan itu dari jarak ribuan km, khalifah Mu’tashim bangun dari tempat duduknya dan segera menyiapkan tentara untuk menyerbu kota Ammuriah.

2Ringkasnya, ribuan tentara muslim bergerak dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk ke tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 M. Kemenangan ini disebabkan teriakan seorang perempuan dari keturunan Bani Hasyim yang terdengar diatas kepala Khalifah Mu’tasim dari jarak ribuan km.

Adapun di abad  modern sekarang ini yang memiliki teknologi serba canggih, kita bisa mendengar dan melihat secara langsung semua yang terjadi di dunia melalui siaran tv, radio, internet, HP dll. Jutaan keluahan dan jeritan wanita wanita muslimah dan anak-anak yang dari alamnya tidak pernah mengetahui apa itu perang, didengar secara langsung melalui media trb. Semua kita mendengar teriakan : “Waa Mu’tasimaaaah.. Waa Mu’tasimaaaah” tapi tidak ada satu dari pemimpin-pemimpin Arab dan Muslimin yang bergerak membantu mereka.

Musibah yang menimpah kita sebagai Muslim sekarang ini, karena kita tidak mempunyai kekuatan iman dan kesatauan kalimat. Muslimin sekarang ini hanya memiliki “Kalimat Tauhid” tapi sayang mereka tidak memiliki “Tauhidul Kalimah”(kesatuan kata). Setiap kelompok menganggap mereka paling benar, setiap kelompok membawa cara mereka masing-masing. Makanya dengan mudah umat Islam bisa dipojokan ke sudut yang gelap, ke sudut yang membuat mereka dilecehkan dan dipecahbelahkan. Ini yang kita rasakan. Umat Islam jumlahnya lebih dari satu milyar tapi tidak bisa berbuat apa apa hanya menonton dan berteriak-teriak.

Rupanya ini tanda hari kiamat sudah dekat. Sesuai dengan hadist Nabi, disaat Rasulallah saw menyatakan kepada para sahabatnya bahwa kelak diakhir zaman akan terjadi fitnah besar, orang Islam akan tertekan dan lemah, dan Islam menjadi asing dikalangan pengikutnya. Rasulallah saw ditanya oleh para sahabat: apakah bilangan Muslimin pada saat itu sedikit ya Rasulallah? Dijawab oleh Rasulallah saw: “Tidak!, pada saat itu bilanganya sangat besar tapi mereka seperti buih yang tidak berfungi”.

“Allahuma Farrij Karbal Muslimin”

Wallahua’lam

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 2 Comments »

♣ Bertaklid Kepada Selain 4 Mazhab

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Desember 8, 2013

Apakah Boleh Bertaklid Kepada Selain 4 Mazhab?

113Taklid bukanlah tindakan atau sikap ikut-ikutan atau membebek, melainkan tindakan bijaksana dan hati-hati dalam beragama. Yakni demi keselamatan umat Islam dan diri sendiri, seperti yang dilakukan Imam Ghazali dan Imam Nawawi, mereka bertaklid kepada mazhab walaupun mereka adalah tergolong Mujtahid.

Taklid adalah mengikuti pendapat seorang mujtahid yang telah menggali hukum dari sumber-sumber aslinya, al-qur’an dan sunnah. Taklid merupakan kewajiban bagi orang yang tidak mampu mencapai tingkatan Mujtahid

Dalam masalah taklid, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muqallid (orang yang bertaklid). Pertama, harus mengikuti salah satu dari empat mazhab resmi dalam Islam, yakni Hanafi, Maliki, Syafie, atau Hanbali. Para Jumhur Ulama bersepakat bahwa dilarang bertaklid kepada selain mazhab yang empat, walau untuk dikerjakan pribadi, apalagi untuk difatwakan.

Sekarang kenapa kita tidak boleh bertaklid selain dari 4 mazhab trb diatas?

Kita tidak boleh bertaklid selain 4 mazhab. Dalam hal ini, bukan berarti kita mengesampingkan ilmu dan ijtihad ulama dari selain mazhab empat, namun disebabkan kurangnya sikap perhatian murid-murid selain mazhab empat untuk menjaga pemikiran gurunya, sehingga dikhawatirkan terjadinya penyimpangan dan perubahan.

Contohnya: Imam al-Laith bin Sa’ad adalah hidup sezaman dengan Imam Malik. Imam as-Syafie telah menyatakan bahwa Imam AI-Laits lebih fakih daripada Imam Malik, tetapi sayang pengikut dan muridnya (al-Laits) tidak menyebarkan pendapat-pendapatnya.

Di Iraq pula terdapat Sufyan al-Thauri yang tidak kurang martabat kefakihannya dari pada Imam Abu Hanifah. Imam al Ghazali telah menganggapnya sebagai salah seorang Imam yang pintar di dalam fiqih.

Begitulah juga dengan Imam at-Tabari adalah seorang mujtahid. Beliau adalah imam di dalam fiqih, tafsir, hadits dan tarikh. Mazhabnya mempunyai pengikut, tapi sayang kemudian habis dan putus.

Di kalangan keluarga Rasulullah saw pula terdapat Imam Ja’far as-Shadiq. Ia adalah mujtahid serta diakui ahli sunnah. Begitu pula Mazhab Zaidiyah yang dianut sebagian kecil masyarakat Yaman, berasal dari Imam Zaid bin Ali bin al-Husain. Dunia Islam bukan tidak mengakui kemampuan dan kehebatan kedua Imam ja’far dan Zaid sebagai mujtahidin, karena selain sebagai pemikir Islam yang memiliki martabat yang tinggi dalam tingkat keilmuan, beliau tergolong ulama yang saleh. Hanya saja, murid-muridnya mengabaikan usaha gurunya, sehingga tak mampu menjaga hasil karya mereka.

Kemudian, ada 4 mazhab. Mengapa timbul mazhab mazhab lain? Kita tidak sebut selain empat mazhab mereka adalah mazhab-mazhab yang sesat. Sebab dalam Islam lahir 73 mazhab (aliran). Dari 73 mazhab itu ada 72 mazhab sesat. Hanya satu saja yang tidak sesat yang dikatakan aliran ahli sunnah wal jamaah. Dari aliran itu timbul 4 mazhab. Inilah mazhab-mazhab yang sah, yang dianggap satu aliran yaitu ahlisunnah wal jamaah.

115Mazhab yang 4 ini dianggap satu, yang dikatakan mazhab yang berpegang pada ahli sunnah wal jamaah. Perbedaan antara 4 mazhab hanya pada bab-bab furu’, bukan pada bab-bab pokok (hukum). Perbedaan mereka bukan masalah-masalah aqidah, bukan masalah usuluddin, hanya bab furu’ ada kelainan sedikit.

Dan yang selain dari mazhab yang 4 ini, tidak terkenal. Kitab-kitab mereka tidak ada, dan banyak yang sudah hilang, makanya tidak bisa dijadikan bahan rujukan. Adapun 4 mazhab ini ada kitab-kitab dan ada rujukan mereka. Imam Malik ada kitabnya yang terkenal “Al-Muwattha’ “. Imam Syafie ada kitabnya Ar-Risaalah dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya yaitu Al-Umm.

114Kedatangan pakar-pakar hadits adalah setelah datangnya para Imam Mazhab. Para Imam mazhab datang di kurun yang pertama. Pakar-pakar hadits datang di kurun yang ke 3. Maka dari itu kebanyakan pakar-pakar ilmu hadits mereka bermazhab. Mereka itu kebanyakannya bermazhab Syafi’e. Padahal hadits di kepala mereka. Bahkan ada di kalangan mereka yang hafal Al Quran. Artinya tempat rujuk ada pada mereka. Seharusnya mereka bisa dan mampu buat mazhab tetapi mereka tidak buat. Mereka bermazhab kepada mazhab Syafi’i.

116Karena sekarang ini, orang sangat mudah menolak mazhab. Sedangkan pakar hadits pun bermazhab. Merujuk pada Mazhab Syafi’e. Jadi jangan mudah terpengaruh. Pakar hadits yang hapal ribuan hadist pun ikut mazhab. Masa kita tidak ikut mazhab sedangkan kita ini, satu ayat pun tidak faham, apalagi hafal beribu-ribu hadits.

Wallahu’alam / Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Mistiri Do’a

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

MISTIRI DO’A

download

Sebelumnya saya bawakan dua hadist Nabi saw yang berbunyi:

فَعَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)

Dari Mus’ab bin Sa’ad, Rasulallah saw bersabda “Kalian tidaklah mendapat pertolongan dan rizki melainkan disebabkan oleh orang-orang lemah diantara kalian“ (HR: Bukhari)

لما روي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : خَرَجَ نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي فَإِذَا هُوَ بِنَمْلَةٍ رَافِعَةٍ بَعْضَ قَوَائِمِهَا إِلَى السَّمَاءِ , فَقَالَ : ارْجِعُوا فَقَدِ اسْتُجِيبَ لَكُمْ مِنْ أَجْلِ شَأْنِ هَذِهِ النَّمْلَةِ. (الحاكم في المستدرك و قال هذا حديث صحيح الإسناد)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulallah saw bersabda: Salah seorang Nabi keluar mencari air (maksudnya: shalat istisqa’, meminta hujan kepada Allah), lalu ia melihat seekor semut dengan bersandar ke punggungnya dan mengangkat kedua kakinya ke langit. Kemudian ia (Nabi itu) berkata (kepada kaumnya), “Kembalilah pulang, Allah telah menerima do’a kalian karena do’a seekor semut ini.” (HR al-Hakim dalam Mustadrak dengan isnad shahih)

Al-kisah, bumi Basrah sudah lama tandus tidak turun hujan. Matahari sangat terik, angin padang pasir berhembus panas dan kering. Kemarau kali ini membuat penduduk gelisah. Air susah dicari, tanaman banyak yang mati, dan ternak mulai kelihatan kurus.

Penduduk tidak tinggal diam. Mereka bersepakat untuk medirikan sholat Istisqa’ (shalat minta hujan). Sholat itu dihadiri oleh para alim ulama dan tokoh masyarakat Basrah yang dipimpin oleh salah seorang ulama top di antara mereka.

Dengan kehadiran para alim ulama terkemuka, sholat Istisqo’ ini dianggap sesuatu yang istimewa. Mereka berfikir Allah pasti mengkabulkan permintaan mereka. Mereka yakin harapan mereka dikabulkan dan hujan akan segera turun

Setelah selesai sholat istisqa’ dua rakaat dan khotbahnya , ternyata tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tidak ada mendung, tidak ada awan bahkan matahari semakin terik. Kemudian timbul pertanyaan mengapa hujan tidak turun? Sedangkan mereka sholat sama-sama para alim ulama Basrah.

Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan sholat Istisqa’ yang kedua kalinya dengan harapan agar Allah mengabulkan do’a mereka. Selesai sholat yang kedua, keadaanya masih sama. Tidak ada tanda tanda turun hujan, tidak ada mendung dan tidak ada tanda-tanda do’a mereka dikabulkan. Langit masih tetap cerah dan matahari masih tetap terik. Para alim ulama dan masyarakat semakin bertanya tanya apa sebabnya tidak turun hujan?.

Kemudian disusul dengan shalat istisqa’ yang ketiga. Harapan besar mereka agar Allah mengabulkan do’a mereka kali ini. Tapi, masih tetap tidak ada tanda tanda turun hujan, Matahari masih tetap terik, awan tetap cerah. Para ulama mulai gelisah. Timbul tanda tanya kenapa do’a mereka tidak dikabulkan? Akhirnya seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dengan tangan hampa.

Hanya satu orang sufi yang tidak pulang. Ia bernama Malik bin Dinar (**). Ia duduk di lapangan beberapa saat memudian pergi ke masjid yang tidak berjahuan dari lapangan. Ia duduk di masjid sampai larut malam. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang ke dalam masjid. Orang itu berkulit hitam dan penampilannya sangat sederhana sekali. Ia memakai sarung dan baju dari kulit domba.

Malik mengamati gerak-geriknya dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan di larut malam seperti ini. Orang itu pergi ke tempat wudu lalu menuju ke mihrab. Ia kemudian mengerjakan sholat dua raka’at. Sholatnya pun tidak terlalu lama, surat yang dibaca tidak panjang, begitu pula Qiam, ruku dan sujudnya sekedar tuma’ninah.

Selesai sholat, orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdo’a. Malik bin Dinar mendengar isi do’a yang ia sampaikan dengan nada yang tidak terlalu keras tapi bisa didengar orang. Ia berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu telah datang berkali-kali kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaan-Mu. Apakah rahmat dan belas kasihanmu terhadap mereka telah habis? Atau jika kamu kabulkan harapan mereka akan mengurangi kekuasaan-Mu? Ya Allah, aku bersumpah demi nama-Mu dan kecintaan-Mu kepadaku turunkanlah hujan kepada kami dengan secepatnya”

Setelah do’a dibaca oleh orang tersebut, angin dingin datang dengan sekerasnya, awanpun mendung, bumi mejadi gelap gulita dan suara halilintar terdengar dengan sekerasnya. Tidak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Dengan seketika bumi Bashrah menjadi basah.

Malik bin Dinar tercengang menyaksikan keadaan tsb. Ia menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya lalu menghampirinya dan berkata: “Wahai pemuda, kamu tidak malu kepada Allah dengan dengan isi do’a yang kamu bacakan tadi.”. Pemuda itu bertanya: “isi do’a yang mana yang kamu maksudkan?”. Malik bin Dinar berkata, “Do’a yang kamu baca bahwa yang mana Allah mencitaimu. Apakah kamu memang yakin bahwa Allah mencintaimu?”.

Lalu orang itu menjawab dengan singkat, “Karena Aku sangat mencintai Allah, maka aku yakin Allah akan mencitaiku. Bagaimana aku beribadah tanpa menanamkan rasa cintaku kepada-Nya? Maka sesuai kadar cintaku kepada-Nya aku dapatkan cinta-Nya kepadaku”. Setelah itu, ia segera pergi. Malik bin Dinar mencoba menahannya. “Tunggu sebentar, aku ingin tahu siapa kamu itu sebenarnya? “Aku adalah seorang pembantu yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah majikanku” jawabnya.

Akhirnya Malik mengikutinya dari jauh. Pemuda itu memasuki rumah orang kaya di Basrah. Pagi harinya ia segera menuju rumahnya dan menanyakan jika orang kaya itu ingin menjual pembantunya. Orang kaya itu berkata, “Ambillah budak ini. Terserah berapa saja kamu ingin bayar harganya. Ia tidak berguna bagiku, karena malam ia habiskan waktunya untuk menangis dan siang untuk shalat dan puasa”

Kemudian Malik bin Dinar menuntun tangan pemuda tadi dan dibawa ke rumahnya. Di tengah jalan ia meminta untuk mampir ke masjid. Setibanya di masjid, ia berwudu dan terus mengerjakan sholat sunat dua rakaat. Malik bin Dinar mengamatinya, ia ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh pemuda itu. Selesai sholat, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa seperti yang dilakukannya malam itu. Tetapi kali ini dengan do’a yang berbeda:

“Ya Allah, rahasia antara aku dan Engkau telah telah diketahui oleh semua makhluk. Bagaimana aku bisa hidup dengan tenang di dunia ini karena telah ada orang ketiga menjadi penghalang antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah demi kecintaan-Mu kepadaku, cabutlah nyawaku sekarang juga,”

Setelah diturunkan kedua tangannya pemuda itu sujud. Malik bin Dinar mendekatinya, menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi ia sujud agak lama dan tidak bangun-bangun. Malik menggerakkan badannya, tapi… ia sudah tidak bernyawa lagi. Subhanallah.

(**) Malik bin Dinar seorang tabi’in yang hidup di zaman Hasan al Bashri, bahkan ia adalah salah seorang muridnya. Ia terhitung sebagai seorang Shufi, ilmuwan yang zuhud dan rendah hati. Dia adalah seorang yang suka merendah dan tidak mau makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri. Dan kerjanya adalah menulis mushaf  dengan upah. Ia juga ahli hadits yang diriwatkan dari tokoh-tokoh hadist di masa lampau seperti Anas bin Malik, Ibnu Sirin dll. Malik bin Dinar meninggal sekitar tahun 130 H yang bertepatan tahun 748 M. Dalam do’a nya yang populer Malik bin Dinar berkata : “Ya Allah, janganlah Kamu masukkan apapun ke dalam rumah Malik bin Dinar”.

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 1 Comment »

♣ Mistiri Doa ke 2

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

MISTIRI DO’A KE 2

images (2)

Banyak sekali do’a-do’a yang diajarkan Nabi saw agar banyak rizki dan hidup senang. Di samping do’a-do’a tsb ada satu do’a tidak populer yang diajarkan beliau agar meminta kepada Allah kemiskinan

هذا الحديث رواه الترمذي عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ) . وقَالَ الترمذي : هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ

Dari Anas ra, ia mendengar Rasulallah saw berdo’a: “Ya Allah, hidupkan aku miskin. Matikan aku miskin. Dan kumpulkan aku kelak di Padang Mahsyar ke dalam kelompok kaum miskin”. (H.R Tirmidzi

 Hadits ini merurut Imam Tirmidzi adalah gharib artinya dha’if  (lemah). Menurut Imam Syafi’i hadist lemah tidak bisa diambil sebagai keputusan untuk menghukum yang halal dan haram tapi bisa digunakan sebagai pelengkap ibadah. Contohnya hadist tentang talqin atas mayat yang diriwayatkan Imam Tabarni dengan isnad dhaif. Meskipun hadits tsb lemah, namun bukan berarti tidak dapat dijadikan sebagai landasan untuk tidak talqin. Ulama bersepakat bahwa hadits dha’if dapat dijadikan sebagai hal-hal yang masuk dalam kategori fadhail al-‘amaal (perbuatan baik).

Kita kembali ke do’a meminta kemiskinan. Doa ini jarang sekali dibaca tapi memang itu kenyataan do’a yang diajarkan Rasulallah saw menurut hadist Imam Tirmidzi.

Suatu ketika Rasulallah pernah ditanya tentang surga dan ahlinya, beliau menjelaskan bahwa penghuni yang paling banyak di surga adalah orang miskin. Yang dimaksud disini bukan semua orang miskin masuk surga. Akan tetapi kebanyakan penghuni surga adalah orang miskin yang sabar, soleh, taat ke pada Allah dan banyak beribadah.

Miskin. Siapa suka miskin? Semua lari dari kemiskinan dan takut miskin. Ini kenyataan hidup sekarang ini. Tidak ada orang ingin hidup miskin. Tapi kalau kita teliti dengan seksama memang itulah kenyataan sebagian falsafah hidup yang diajarkan Rasulallah saw kepada kita. Dan Beliau sendiri ternyata hidup dalam kondisi miskin. Ketika beliau wafat, tak ada harta yang diwariskan untuk keluarganya. Begitu pula para sahabat Nabi saw mayoritasnya mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Hidup berlebihan atau kaya sangat jarang kita dapatkan dalam kisah kehidupan para sahabat Rasulallah saw. Ada diantara mereka yang kaya seperti misalnya Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra, tapi mereka pun berusaha menginfakan dan rela mengeluarkan hartanya ke jalan Allah agar jadi miskin.

Imam besar Ali ra hidup miskin dan serba kekurangan. Bahkan setelah menikah dengan Fatimah binti Rasulallah saw beliau tidak mampu mengambil seorang pembantu. Ketika istrinya, Fatimah, datang kepada Ayahnya minta kepada beliau seorang pembantu. Rasulallah pun berkata “Wahai anakku bersabarlah. Sesungguhnya sebaik baiknya wanita adalah yang bermangfaat bagi keluarganya”

Contoh lainnya, pernah satu ketika Rasulallah saw datang melancong ke rumah anaknya, Fatimah. Ketika beliau melihat anaknya mengenakan giwang dan rantai terbuat dari perak, begitu pula beliau melihat selot pintu rumahnya terbuat dari bahan sejenis perak, Rasulallah segera keluar dari rumahnya dan kelihatan tanda tanda kemarahan di wajah beliau. Beliau naik ke atas mimbar. Fatimah pun mengetahui maksud kemarahan ayahnya. Maka dicopotilah giwang, rantai dan selot pintu yang terbuat dari perak dan segera diserahkannya kepada Nabi saw di atas mimbar seraya berkata “Jadikanlah semua ini di jalan Allah, ya abati”. Rasulallah sangat terharu dan bergembira atas tindakan putrinya yang sangat diciantainya. Beliau pun berkata “Sungguh kamu telah melakukanya wahai anakku. Ketahuilah bahwa dunia itu bukan untuk Muhammad dan keluarganya. Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, maka tidak ada satu orang kafir diberi minum setetes pun”

Demikianlah contoh yang kita dapatkan dari pemimpin besar umat, Rasulallah saw dan Imam besar Ali bin Abi Thalib ra yang sepanjang hidupnya selalu dalam kekurangan dan kemiskinan. Akan tetapi di lain pihak Imam Ali pun pernah menegaskan “kemungkinan kemiskinan itu bisa membawa kekufuran”. Begitu pula beliau pernah berkata: “seandainya kemiskinan itu menjelma berbentuk manusia maka aku akan bunuh”.

Assayyid Sabiq dalam fiqih sunnah mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan miskin adalah mereka yang mendapatkan problem kehidupan akibat kesulitan ekonomi. Adapun arti miskin menurut pandanganya adalah mereka yang berpenghasilan kurang dan tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan hidup sehari hari.

Ketika salah seorang kepala suku badwi dari gunung diundang raja Saudi, Faisal bin Abdul Aziz, dia sadar bahwa masyarakatnya di gurun sahara miskin. Menyaksikan kota Riyadh yang serba indah, mobil berseliweran di atas jalan beraspal, gedung tinggi, hotel tempat dia menginap terang menderang dengan cahaya lampu yang beraneka warna, beralas tikar permadani empuk, full ac, dan mengasyikan. Dia lalu bertanya kepada dirinya, mengapa ini semua tak ada di desanya? Kalo begitu masyarakat badwi miskin!

Lalu, mengapa Rasulallah saw mengajarkan doa jadi miskin? Yang dimasud disini beliau bukan mengajarkan umatnya jadi miskin akan tetapi beliau mengajarkan kesederhanaan, kehidupan bersama, toleransi, ke-tidakegois-an dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, sehingga tidak menimbulkan kedengkian, kebencian antara sesama. Itulah yang diajarkan Rasulallah saw.

Orang kaya yang hanya memikirkan diri sediri, serakah, tamak, dan kikir, orang semacam ini dikatagorikan orang kaya tapi berjiwa miskin. Sebaliknya orang miskin yang menerima nasib, bersabar, tabah dengan segala musibah yang menimpah dirinya, dan ridho serta bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah, ia adalah orang miskin yang berjiwa kaya.

Saya tinggal di Riyadh, saya lihat orang-orang badwi yang hidup di gurun sahara, terutama yang hidup di kemah kemah yang tak pernah menikmati listrik, tak ada tv atau radio, sanggup berjalan kaki memikul beban naik turun gunung dengan untanya , mereka miskin tapi tak terasa miskin. Karena kehidupan bersama yang mereka jalani, senasib dan sederajat, tak menimbulkan kedengkian antara mereka, ini yang membuat mereka senang, bahagia menikmati kehidupan yang serba kekurangan.

Demi Allah, sekali lagi saya katakan demi Allah, harta dan kekayaan adalah milik Allah. Allah lah yang memberi orang menjadi miskin dan Allah pula yang membuat orang jadi kaya. Jika Allah menginginkan si kaya menjadi miskin, dengan sekejap mata saja orang itu mejadi miskin. Jika Allah berkehendak si miskin menjadi kaya, dengan sekejap mata orang miskin itu menjadi kaya.

“Katakanlah: Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas “. (Al-‘Imran 26-27)

Nah, kalau begitu, bacalah do’a untuk jadi miskin seperti yang diajarkan Nabi saw dalam hadist tsb diatas, agar tetap memiliki rasa kesederhanaan, tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan serakah yang bisa menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin.

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Tanda2 Malam Lailatulqadri

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

TANDA2 MALAM LAILATUL QADRI

download (1)

Allah memberikan setiap waktu dan tempat ada keutamaan dan kemuliaan yang berdeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik (mustajab) untuk berdoa. Sayangnya banyak orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain:

* Doa saat berbuka puasa

* Doa selepas shalat fardhu

* Doa saat mendengar adzan

* Doa sesaat pada hari Jum’at.

* Doa sepertiga akhir malam.

* Doa pada waktu sujud dalam shalat.

* Doa diantara adzan dan iqamah

* Doa pada hari Arafah

* Doa ketika minum air Zamzam

* Doa setelah khatam al-Qur’an

* Doa ketika berada di majlis dzikir

* Dan doa yang paling mustajab yaitu doa pada malam Lailatul Qadr.

Alhamdulillah puasa bulan Ramadah ini kita jalankan dengan baik. Dan sekarang sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka insyallah. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar. Itulah Lailatul Qadr

Saat pasti malam Lailatul Qadr dirahsiakan Allah, tidak diketahui namun menurut beberapa hadist malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah satu malam ganjil 21, 23, 25, 27 atau ke-29. Adapun hikmah malam ini dirahsiakan agar umat Islam tetap rajin dan selalu siap beribadah sepanjang malam khususnya di sepuluh malam yang terakhir.

Lailatul Qadr adalah malam kebesaran Allah, malam keagungan Nya, malam pengampunan Nya, malam yang dimiliki-Nya untuk memberi maaf dan kasih sayang kepada hamba Nya, para pembuat dosa.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟”، قَالَ: “قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي”. (رواه الترمذي)

Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah seandainya aku mendapati malam Lailatul Qadr, doa apakah yang patut aku bacakan? Rasulullah bersabda: “Berdo’alah: Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemurah. Engkau menyukai pengampunan, apunilah dosaku”

Di langit ada kerajaan yang maha besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusai di bumi. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi di malam-malam Lailatul Qadr. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan para pembuat dosa. Allah berfirman dalam hadist, ”Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayang Kami.”

Banyak sekali tanda-tanda terjadinya malam Lailatul Qadr namun kebanyakannya tidak nampak kecuali setelah lewatnya malam tersebut. Para ulama telah menyebutkan beberapa tanda-tanda Lailatul Qadr berdasarkan hadits-hadits yang shahih diantaranya:

– Suhu udara pada malam itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin

قال صلى الله عليه و سلم : ليلة سهلة طلقة لا حارة ولا باردة (البيهقي و الحاكم و غيرهم بسند حسن)

Rasulallah saw bersabda: Salah satu tanda Lailatul Qadr, bahwa malamnya bersih suci seolah-olah ada bulan yang bersinar, tenang sunyi, tidak panas dan tidak dingin (HR Baihaqi dan Hakim dengan sanad baik)

– Cahaya matahari di pagi hari-nya tidak menyengat (redup)

قال صلى الله عليه و سلم: تطلع شمس صبيحة هذه الليلة لا شعاع لها (رواه مسلم)

Rasulallah saw bersabda: salah satu tanda dari malam Lailatul Qadr , di pagi hari malam itu matahari terbit cahayanya lembut atau tanpa cahaya (redup) – (HR Muslim)

Hadist ini memberi kesimpulan bahwa banyaknya para malikat yang turun bertasbih dan berzikir kepada Allah pada malamnya. Turunnya para malikat ke bumi menyebabkan sayap2 dan tubuh mereka yang halus menutupi dan menghalangi cahaya matahari.

– Terbitnya bulan bagaikan belahan piring (sabit)

لما روى أن أصحاب الرسول كانوا يتكلمون عن ليلة القدر فقال صلى الله عليه و سلم : من يذكر حين طلع القمر مثل شق جفنة ( رواه مسلم ) أي أنه بليلة القدر يكون القمر مثل نصف طبق مستدير ، كالذي يوضع فيها الطعام

Diriwayatkan oleh Muslim, sesungguhnya para sahabat membicarakan tentang malam Lailatul Qadr, Rasulallah saw bersabda: “Siapa saja diantara kalian yang mengingat ketika terbit bulan dan saat itu bulan bagaikan belahan piring (bulan sabit)” (HR. Muslim)

Dari tanda tanda malam Lailatul Qadr tsb diatas tidak ada halangan bagi yang tidak melihat atau mengetahuinya untuk mendapatkan keutamaan dan pahalanya selama dia menghidupkan pada sepuluh malam terakhir dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari-Nya

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Tarawih bersama Hb Zein Alaidrus

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

 TARAWIH BERSAMA HABIB ZEIN ALAIDRUS – KRUKUT

download (1)

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Pada awal puasa, masjid al-Mubarak- Krukut, Jakarta, penuh sesak dikunjungi Jama’ah yang ingin sholat tarawih bersama Habib Zen bin Abdullah Alaidrus. Tua muda, besar kecil, laki perempuan datang berbondong-bondong memenuhi masjid.

Sholat isya’ dimulai. Shof-shof jama’ah memenuhi masjid sampai ke ruangan belakang. Yang menjadi imam Habib Muhammad, anak Habib Zen, dan kita ma’mum dibelakangnya. Dengan pakaian serba putih, jubah putih, serban putih, dan syal berwarna hijau, wajahnya putih penuh dengan wibawa, haibah, dan cahaya… cahaya Ilahi, Habib Zen sholat dengan penuh semangat dan khusyu’.

Selepas sholat isya’, doa dan wirid, kemudian dilanjutkan dengan sholat tarawih sebanyak 20 rakaat dan pula diimami Habib Muhammad bin Zen. Selesai sholat tarawih, kita bersama-sama duduk meng-amin-i doa tarawih yang dibacakan Habib Muhammad. Kemudian dilanjutkan dengan sholat witir 3 rakaat yang diimami Habib Zen. Setelah itu, doa witir dibacakan pajang sekali oleh Habib Muhammad bin Zen dan kita meng-amin-i dengan penuh khusyu’an. Selesai doa dan fatihah, kita bersama-sama duduk mencicipi kopi jahe yang dibikin oleh Pok Muna. Kopi ini mempunyai rasa khas, tidak dibuat kecuali khusus pada bulan Ramadhan, dan rasa kopi itu tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Krukut pada zamannya.

Selesai istirahat kurang lebih seperapat jam, kemudian dilanjutkan dengan babak kedua dari ibadah bulan Ramadhan, yaitu sholat tasbih (*). Kebanyakan yang mengikuti Habib Zen dalam sholat tasbih adalah orang orang tua, pemuka masyarakat kerukut dan anak muridnya, kurang lebih bilangannya satu shof, sekitar duapuluhan. Sholat tasbih dilakukan sebanyak 4 rakaat (dua raka’at salam, dua raka’at salam) dan memakan waktu kurang lebih dua jam. Karena setiap raka’at setelah imam membaca surat Fatihah, yang dibaca bukan surat-surat pendek akan tetapi yang dibaca adalah al-Quran. Dimulai dari surat al-Baqarah pada awal puasa dan diakhiri khatam pembacaan al Qur’an pada shalat tasbih malam tanggal 29 Ramadhan.

img-20180121-wa0024-e1517319554791.jpg

Makanya sholat tasbih jarang diikuti masyarakat biasa, karna sholat ini sangat berat dilakukanya kecuali oleh orang-orang yang mepunyai kesabaran,  keikhlasan dan kekhusyu’an dalam ibadah, Selesai sholat tasbih kita masih mendengarkan doa-doa yang panjang sekali dibacakan bergantian antara Habib Zen dan Habib Muhammad bin Zen. Kurang lebih jam 11 malam jama’ah masjid baru bubar dan pulang kerumah masing-masing. Demikianlah setiap malam Ramadhan Habib Zen hidupi ibadah di masjid itu dengan al-Qur’an, zikir, doa-doa dan sholawat.

Pada akhir tahun 1970-an, Habib Zen Alaydrus, yang dicintai masyarakat, berpulang ke rahmat Allah. Kemudian setelah itu disusul oleh keluarganya, murid muridnya, dan kebanyakan pengikutnya yang tua tua. Adapun generasi muda yang tinggal di Kerukut depan, mayoritasnya menjual rumah-rumah warisan mereka dan memilih jalan hengkang dari Kerukut dan mengungsi ke daerah-daerah lain di Jakarta, sehingga Kerukut yang dulu dikenal sebagai kampung Arab, sekarang berobah total menjadi kampung Cina. Pula dinasti Habib Zen yang dulu pernah menjadi ‘umdah dan sesepuh yang disegani di kampung Krukut, sekarang hanya kenangan manis dan cerita indah.

Maka untuk sekedar mengingatkan masyarakat yang mengenal Habib Zen atau yang tidak mengenal dari generasi muda, telah tersusun buku do’a doa tarawih, witir dan tasbih yang ditulis tangan oleh beliau semasa hidupnya. Hal ini demi untuk mengenang jasa-jasa beliau yang begitu besar terhadap Islam dan umat Islam, dan untuk menghidupkan kembali nama Habib Zen di tengah2 masyarakat Indonesia pada khususnya.

63 Up Telen Kenyataan 20161015_170753 (1)

Buku aslinya saya dapatkan dari anak murid Habib Zen dengan susah payah. Karna buku ini konon katanya hilang atau terbengkalai, karna banyak dari generasi muda yang tidak tahu nilai buku trb mengabaikanya dan dibiarkan terbengkalai. Sekarang alhamdulillah buku trb saya telah tulis ulang dengan komputer, tersusun dengan baik dan terpugar menjadi buku yang layak, indah, bisa dibaca oleh masyarakat Muslim yang dilengkapi dengan harakah. Buku ini saya beri judul Majmu’atul Atsaar Fi Ad’iyah Syahir Ramadhan Wal Awrad wal Adhkar . Buku trb merupakan kumpulan dari doa-doa para habaib, masyayeikh dan ulama-ulama ternama zaman dulu. Saya tinggal menunggu sponsor yang bisa mencetak buku trb sehingga bisa disebarluaskan keseluruh lapisan masyarakat Islam terutama di Indonesia. Beberpa copy dari buku tsb telah disalurkan dan dibagi-bagikan kepada habaib di Jakarta, wilayah Saudi bahkan sampai ke Hadhramut

Rasulallah bersabda dalam hadithnya:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ  وفي رواية طليق. (رواه مسلم، الترمذي)

Dari Abu Dzar ra, Rasulallah saw bersabda: ” janganlah kamu menyepelekan perbuatan baik sedikitpun walaupun hanya sekedar menatap saudaramu (sesama muslim) dengan wajah cerah. ( HR Muslim, Tirmidzi)

Maka saya menghimbau dan mengajak masyarakat Islam terutama keluarga Habib Zen Alaydrus untuk bisa memikirkan bagaimana cara mencetak buku doa-doa yang dikutip Habib Zen yang telah tersusun baik, agar bisa bermangfaat bagi umat Islam dan kita bisa mendepositkan amal baik trb ke rekening kebaikan Habib Zen Alaydrus di akhirat.

—————

(*) Shalat tashbih adalah sunah. Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama penganut mazhab Syafi’e. Dinamakan tasbih karena pelaku shalat akan membaca kalimat tasbih “Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar” sebanyak 300 kali yang dilakukan sebanyak 4 raka’at (dua raka’at dua raka’at), setiap raka’at 75 kali tasbih.  Shalat ini diajarkan Rasulullah saw kepada pamannya yakni Abbas bin Abdul Muthallib ra. Hikmah shalat ini adalah dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu saja jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Shalat tasbih boleh dilakukan kapan saja baik siang hari atau malam hari dan dan lebih baik jika dilakukanya malam hari, dan akan lebih baik lagi jika dilakukan pada bulan Ramadhan setelah shalat tarawih. Shalat ini dilakukan 4 raka’at dengan dua salam sebagaimana shalat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat saat:

  • Setelah pembacaan surat fatihah dan surat al-Qur’an saat berdiri 15 kali
  • Di waktu ruku’ 10 Kali
  • Di waktu I’tidal (bangung dari ruku’) 10 Kali
  • Di waktu sujud pertama 10 Kali
  • Di waktu duduk di antara dua sujud 10 Kali
  • Di waktu sujud kedua 10 Kali
  • Di waktu duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka’at keberapa) 10 Kali.

Jumlah tasbih dalam satu raka’at 75. Maka jumlah tasbih dalam empat raka’at 4 X 75 = 300 kali

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Keramat Ibu

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

 KERAMAT IBU (Uwais ibn ʻAmir ibn Harb al-Qarni)

images

Allah berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (الاسراء 24 )

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Al-Isra’ 24

 Itulah salah satu inti do’a “Birrul Walidain” yang dibacakan setelah khatam Tarawih.

Dalam kehidupan, orang banyak mencari para wali baik mereka masih hidup atau sudah mendinggal dunia. Mereka memohon kepada Allah dengan kemurahan dan keberkahan para wali bisa membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih lancar dan sukses. Bahkan mereka rela datang dari tempat yang jauh dengan perjalanan berhari-hari agar Allah memberikan kepadanya ma’unah atau pertolongan dari Allah melalui perantaraan para wali.

Tapi sayang satu karamat yang banyak dilupakan orang adalah keramat seorang ibu. Dialah yang dimuliakan Allah tiga kali lipat dibanding kemuliaan ayah. Dialah karamat diatas segala karamat yang ada di muka bumi. Dialah figur yang digambarkan oleh Rasulallah saw sebagai sosok manusia yang memiliki doa yang sangat mustajab melebihi dari doa2 makhluk lainya. Beliau bersabda, “Doa orang tua kepada anaknya seperti do’a nabi kepada umatnya”

Dalam sebuah kisah, ada seorang sahabat yang ingin ikut berperang dengan Rasulullah ternyata ia memiliki seorang ibu yang telah tua. Rasulallah saw berkata: “Pulanglah berbaktilah kepadanya, sesungguhnya surga berada di telapak kakinya”. Hadis ini membuktikan bahwa berbakti kepada orang tua sebanding dengan para mujahidin yang berjihad di medan perang.

Dari kebesaran kewalian seorang ibu Rasulallah saw telah berpesan kepada Umar ra dan Ali ra untuk meminta doa dari seorang wali yang salih, ta’at dan berbakti kepada ibunya, ia bernama Uwais ibn ʻAmir ibn Harb al-Qarni. Ia sangat cinta kepada ibunya yang lumpuh. Ia rela berkorban untuk segala galanya demi mendapatkan keredhoan ibunya.

Rasulallah berpesan: “Nanti, pada zamanmu akan lahir seorang manusia yang doanya sangat mustajab. Pergi dan carilah dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Kalau kamu berdua berjumpa dengannya mintalah doa darinya untuk kamu berdua.”

Umar ra dan Ali ra bertanya, “Apa yang patut kami minta dari Uwais al-Qarni, Ya Rasulullah?“. Beliau menjawab, “Mintalah kepadanya agar Allah mengampuni dosa dosa kalian”

Itulah Uwais Al-qarni yang doanya mustajab dan didengar diatas langit. Ia rela memangku ibunya yang lumpuh dengan kedua tangannya berjalan kaki dari Yaman ke Mekah disaat melakukan ibadah haji, memangkunya disaat mengerjakan thawaf, sa’i dan wukuf di padang Arafah. Dan juga ia rela memangku ibunya dengan kedua tangannya berjalan kaki disaat kembali dari Makkah ke Yaman

Pada suatu ketika Hasan al-Bashri thawaf di Ka’bah. Beliau bertemu dengan seorang pemuda yang memanggul keranjang di punggungnya. Beliau bertanya: “Apa isi keranjang ini?. Orang itu menjawab: “Di dalamnya ada ibuku, aku menggendongnya. Aku orang tidak mampu. Selama bertahun-tahun, ibuku ingin beribadah haji, tetapi aku tidak punya ongkos. Aku tahu persis keinginan ibuku amat kuat. Ia sudah terlalu tua, setiap membicarakan Ka’bah kapan saja ia menangis. Aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya di dalam keranjang ini dari Suriah ke Baitullah”. Kemudian pemuda tadi bertanya, “Ya Imam, apakah aku dapat membayar jasa ibuku dengan berbuat seperti ini?” Hasan al-Bashri menjawab, “Sekalipun engkau berbuat seperti ini lebih dari tujuh puluh kali, engkau tak bisa membayar sebuah tendanganmu ketika engkau berada di dalam perut ibumu!”. Subanallah.

Maka bacalah:

رَبِّ اغْفِرْ لِيَّ وَلِوَالِدَيَّ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”.

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

NB: Silahkan klik power point ‘DOA BIRRUL WALIDAIN’

https://hasanalsaggaf.files.wordpress.com/2012/03/doa-anak-untuk-bapak.pps

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Apa Arti Zakat?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

APA ARTI ZAKAT?
 
images
 
عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ وَمَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخاري ومسلم)
 
Rasulallah saw bersabda: Setiap pagi hari turun dua malaikat kepada hamba2-Nya, kemudian salah satunya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).” Sedangkan yang lain berdoa: “Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak (pelit)”
 
Zakat dalam bahasa artinya pembersihan, penumbuhan atau pengembangan dan dalam ilmu fiqih adalah pengambilan tertentu dari harta tertentu untuk diberikan kepada golongan tertentu dengan niat.
 
Zakat adalah rukun islam ketiga diwajibkan pada tahun kedua Hijrah atas orang yang cukup syarat-syaratnya walau pun orang itu anak kecil atau gila. Dan bagi yang mengingkari zakat dikatagorikan kafir. Perintah zakat yang digandengkan dengan perintah sholat dalam Al Qur’an terdapat 82 kali. Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan sholat dengan zakat
 
Dari Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa ada seorang badui mendatangi Nabi saw, lalu bertanya: “Tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan, jika aku melakukannya aku masuk surga?”, beliau menjawab: “Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat dan berpuasa pada bulan Ramadhan”. Orang badwi ini berkata: “Demi yang mengutus kamu dengan kebenaran, aku tidak akan menambah dari ini (dari apa yang kamu katakan)”. Ketika orang tersebut berpaling, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat seseorang dari penghuni surga maka lihatlah orang ini”. (HR Ahmad, al-Baihaqi dan dikuatkan dengan perbuatan sahabat).
 
Pada zaman Nabi saw, pertamanya Islam hanya memerintahkan untuk memberi sedekah, sifatnya bebas tidak wajib. Namum pada kemudian hari menjadi suatu kewajiban. Dan pada zaman khalifah, zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil dan dibagikan kepada kelompok tertentu dari masyarakat. Kelompok itu adalah orang miskin, janda, budak yang ingin membeli kebebasan mereka, orang yang terlilit hutang dan tidak mampu membayar. Imam Syafi’i telah mengatur dengan lebih detail mengenai zakat dan bagaimana zakat itu harus dibayarkan. – Lihat Fiqih Nabi karya Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf diterjemahkan oleh Hasan Husen Assagaf.
 
Islam mengutamakan dan mengajarkan kepada umatnya untuk berzakat, untuk menginfakan sebagian kecil dari harta yang dimiliki si kaya, Hal ini demi untuk mengajarkan kepada yang kaya agar jangan sekali kali merasa bangga tapi harus menengok kepada yang dibawah agar bisa mengimbangi jarak. Begitu pula kepada yang di bawah jangan selalu mengandalkan kepada yang diatas, jangan tinggal diam tapi harus berusaha itulah satu2nya modal agar yang dibawah bisa berhasil. Sementara yang diatas, jangan rakus, jangan sombong dan serakah. Itulah yang yang diajarkan agama agar kehidupan bersama antara si kaya dan si miskin bisa terjalin dengan baik sehingga jarak antara mereka tidak terpaut jauh
 
Setiap tahun saya tidak bosan bawakan cerita di bawah ini sebagai ibrah (contoh), semoga antum tidak bosan pula membacanya. Saya selalu teringat berapa tahun yang lalu dengan berita seorang dermawan besar Hb Ismet Alhabsyi membagikan zakat dan sedakah di rumahnya. Ribuan fakir miskin datang menyerbu rumah kediamannya. Karena terlalu banyak yang datang, akibatnya terjadi eksident yang tidak diinginkan. Mereka berdesakan, ratusan orang berebut ingin mendapatkan uang tunai 20.000 rupiah plus sebuah sarung sedekah dari dermawan terkenal itu. Akibatnya empat wanita meninggal dunia karena jatuh dan terinjak injak. Peristiwa yang sangat menyedihkan ini sebetulnya mereka berencana jika uang dan sarung dari hasil sedekah didapat, mereka bisa membeli sesuatu yang bisa menggembirakan keluarganya di hari raya, tapi Allah berkehendak lain, mereka tewas sebelum kehandak mereka terwujud.
 
Tragedy itu, terus terang melukiskan betapa besar kemiskinan yang melanda di negara kita terutama di kota-kota besar. Kejadian seperti itu sudah tidak asing bagi kita untuk didengar, bahka banyak yang lebih kejam dari itu sering kita dengar. Memang dalam kondisi miskin semua serba sulit dikendalikan, termasuk emosi. Karena lapar telah mengubah sifat sabar menjadi berangasan. Sayyiduna Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Jika seandainya kemiskinan itu menjelma menjadi manusia, maka saya akan bunuh”
 
Orang kaya dan dermawan seperti Hb Ismet Alhabsyi tidak sedikit bilangannya, begitu pula fakir miskin yang membutuhkan satunan dari mereka tidak terhitung banyaknya. Yang sulit kita dapatkan adalah perantara atau yang disebut Amil Zakat  yang berfungsi sebagai penyambung hubungan antara si kaya dan si miskin. Sehingga zakat dan sedakah mereka bisa terorganisir atau bisa disalurkan secara baik.
 
Amil zakat yaitu panitia zakat atau orang yang dipilih oleh imam untuk mengumpulkan dan membagikan zakat kepada golongan yang berhak menerimanya. Amil zakat harus memiliki syarat tertentu yaitu muslim, akil dan baligh, merdeka, adil (bijaksana), medengar, melihat, laki-laki dan mengerti tentang hukum agama. Pekerjaan ini merupakan amanah dan tugas baginya dan harus diberi imbalan yang sesuai dengan pekerjaaanya yaitu diberikan kepadanya zakat. Sayangnya, zakat fakir miskin kebanyakanya tersalur ke kantong-kantong si perantara Amil zakah atau mungkin sampai kepada mereka tapi setelah nilainya dikentit dan dicatut. Sehingga, maaf, bulan puasa merupakan panen bagi Amil zakat. Begitulah nasib fakir miskin di negara kita yang kebanyakanya hanya menerima sisa-sisa uang zakat dan sedakah atau mungkin tidak menerima sama sekali. Kalau Sayyiduna Abu Bakar Shiddik ra memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, bagaimana dengan orang orang yang diberi amanah untuk membagikan zakat tapi enggan untuk menyampaikannya kepada yang berhak? Tentu ini lebih parah bukan?
 
“Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).”
“Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak (menahan harta)”,
 
Wallahu’alam
Hasan Husen Assagaf
 
NB:
1-     terlampir excel Zakat Mal, yaitu hisab zakat mal (kalkulasi zakat mal). Anda cukup mengisi nilai modal (uang kontan, emas, perak, invesment dll) yang anda miliki, maka akan secara otomatik anda akan mendapatkan nilai berapa zakat yang anda harus keluarkan? Semoga bermanfaat.. dan jangan lupa doakan ana. Bagi yang tidak bisa membuka attaechment silahkan klik: http://hasansaggaf.wordpress.com/?attachment_id=1337
2-     Bagi yang berminat mengeluarkan zakat mal, bisa hubungi Ibu Fatimah Barakbah – 08161838287 – daerah Jakarta, ia bukan amil zakat, tidak berhak menerima zakat, ia punya list nama janda2 dan orang orang yang berhak menerima zakat. Setiap bulan ia mendapat jatah 15 karung beras (per 10 kilo) dan uang kontan ala-kadarnya amanah untuk dibagikan kepada yang berhak menerima dari dermawan yang tidak mau disebut namanya melalui perantaraan seorang amil zakat. Kadang kadang beras dan uang sudah habis dibagikan tapi masih ada yang datang terpaksa dia keluarkan dari kantongnya. Kali ada yang berminat silahkan hubungi

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Keajaiban Al-Qur’an

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 6, 2013

* MEMBELAH BULAN

Apa mungkin terjadi?

bulan 1

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ  وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ

” Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (Al Qomar, 1-2)

Sebelum Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, tokoh tokoh kafir Quraisy berkumpul seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan lain lainnya. Mereka berkumpul meminta kepada Nabi saw hal yang mustahil bisa terjadi menurut keyakinan mereka bisa melemahkan kedudukan beliau sebagai Nabi. Mereka meminta kepada Nabi saw untuk membelah bulan. Hal yang tidak masuk akal bukan? Mereka berkata, “Ya Muhammad, seandainya kamu benar benar seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua”. Rasulullah saw berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya.”.

Lalu Rasulullah saw berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah saw memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Subahanallah. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah saw berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.” .

Demikian jarak belahan bulan itu cukup jauh sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Menurut sebagain riwayat bulan terbelah menjadi dua belahan, belahan pertama berada di jabal Abi Qubais *(1) dan sebelah lagi berjalan ke arah jabal Qauqu’an *(2). Kemudian kedua belan bulan itu kembali bersatu. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!” padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan mata telanjang..

 

bulan

Foto garis belahan bulan menurut NASA

Atas peristiwa ini Allah menurunkan ayat Al Qur’an: ” Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (Al Qomar, 1-2)

 

 

*(1) Jabal Abi Qubais.

Setiap muslim yang datang ke Makkah untuk berhaji atau berumrah pasti mendengar nama Jabal Abi Qubais, tapi dimana tempatnya banyak yang tidak mengetahuinya. Jabal Abi Qubaiis berada disebelah timur Baitullah, Jika kita berdiri membelakangi Hajar Aswad, maka pandangan kita akan melurus ke sebuah istana megah (Istana Shafa) berdiri diatas sebuah bukit yang telah dipapas. Sebetulnya memotong sebuah pohon saja di Makkah tidak diperbolehkan, apalagi mempapas sebuah bukit bersejarah.  Bukit yang telah dipapas sedemikian rupa, itulah Jabal Abi Qubais yang mempunyai sejarah yang berkaiatan dengan sejarah Baitullah dan Kota Makkah.

Menurut Sayyid Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitabnya “Fi Rihab al-Baitil Haram”,  Jabal abi qubais adalah bukit yang letaknya sangat dekat dengan Masjidil Haram dan berhadapan dengan bukit Shofa. Ia merupakan gunung yang pertama kali diciptakan Allah dimuka bumi setelah penciptaan baitullah Ka’bah.

Jabal Abi Qubais atau yang lebih dikenal oleh orang Indoneisa dengan nama Jabal kubais, mempunyai ketinggian 420 meter. Dulu di atas puncak bukit tersebut ada sebuah masjid kecil yang dinamakan Masjid Bilal.  Bukit ini menurut ulama Makkah merupakah bukit mulia karena berdekatan dengan Ka’bah dan menghadap ke bukit Shofa. Ada riwayat yang menyatakan bahawa Jabal Abi Qubais adalah gunung / bukit pertama yang diciptakan Allah dimuka bumi kemudian terpencar darinya jabal jabal lainya.

Banyak peristiwa bersejarah berkait dengan Jabal Abi Qubais. Jabal Abi Qubais dikenal juga dengan nama Jabal al-Amin (bukit kepercayaan / bukit penyimpan amanah), kerena Allah telah mengamankan Hajar Aswad di bukit ini pada waktu datangnya air bah di zaman nabi Nuh as. Tatkala nabi Ibrahim as membangun Baitullah, Hajar Aswad dikeluarkan kembali dari Jabal Abi Qubais lalu dibawa oleh Jibril as dan serahkannya kepada nabi Ibrahim as untuk disimpan disudut Ka’bah.

Selain dari pada itu, diriwayatkan juga bahwa batu-batu yang digunakan untuk membangun Baitullah oleh nabi Ibrahim as diambil dari Jabal Abi Qubais dan Jabal al-Ka’bah. Setelah nabi Ibrahim ra selesai membangun Ka’bah, ia naik ke atas jabal Abi Qubais. Dari atas bukit ini ia berseru:

وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَميِقٍ

” Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (al-Hajj: 27)

Banyak juga riwayat yang menyatakan bahwa mukjizat Rasulallah saw membelah bulan terjadi di Jabal Abi Qubais seperti kisah diatas.

*(2) Jabal Qua’iqu’an

Ia dinamakan juga Qaiqu’an adalah bukit yang berada di sebelah selatan Masjidil Haram, terletak di daerah pintu menuju arah Syamiah dan berhadapan dengan bukit Marwah. Menurut Sayyid Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitabnya “Fi Rihab al-Baitil Haram”,  jabal ini memilki banyak nama diantaranya jabal al-’Abadi atau jabal Al-Sulaimaniyah atau jabal Al-Sudan atau jabal al-Hindi, dan ketinggiannya kurang lebih 410 m dari permukaan laut.

jabal Qaiqu’an merupakan jabal yang memilki nilai sejarah yang peting diataranya mukjizat Rasulallah saw disaat membelah bulan, satu belahan berada di atas Jabal Qubais, dan belahan kedua bergerak kearah Jabal Qaiqu’an.

Jabal ini merupakan jabal Akhsyabi atau bukit berbatu yang sangat keras setelah jabal Abi Qubais. Telah diriwatkan bahwa Jibril as pernah datang kepada Rasulllah saw lalu berkata ” Wahai Muhammad, seandainya kamu berkehendak agar aku hempaskan ke dua gunung batu keras ini kepada mereka (kafir Quraisy), maka akan kulakukan”. yang dimaksud dengan dua gunung batu keras disini adalah jabal Abi Qubais dan jabal Qaiqu’an.

Wallaua’lam/ Hasan Husen Assagaf

* TIGA KEGELAPAN
tiga kegelapan

Dulu, kata Professor Dr. Zaghlul an-Najjar, para doktor tim peneliti bayi tabung telah membuat percobaan dalam pembuatan bayi tabung. Pada percobaan pertama mereka gagal, percobaan terus dilakukan dan seteturnya kegagalan berlangsung dalam waktu cukup lama. Sampai mereka melakukan percobaan dalam dalam ruang yang gelap, ternyata berhasil tapi sayang menghasilkan bayi bayi yang abnormal. Kemudian terus mereka melakukan percobaan di ruang yang sangat gelap gulita, ternyata mereka berhasil dan sukses..

Al-qur’an telah mendahului fakta Ilmiah: menurut al-qur’an proses penciptaan janin (manusia) dalam perut ibunya melalui tiga kegelapan:

– Kegelapan pertama: kegelapan dinding perut.

– Kegelapan Kedua: kegelapan dinding rahim.

– Kegelapan ketiga: kegelapan dinding ari ari

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan”  (al-zumar 6)

Kalo kita buka tafsir, Adz-dzulmah dalam bahasa artinya : perginya cahaya atau kegelapan.

itu menurut Ibnu Mandhur dalam kitabnya lisanul Arab. Jama’ (plural) dari dzulmah adalah dzulumat, artinya kegelapan kegelapan

Adapun penapsiran Ibnu Jarir At-Tabari dzulumat ats-tsalatsa adalah tiga kegelapan: berarti: kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim dan kegelapan dalam kegelapan ari-ari

Subahanallah… “Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (al-zumar 6)

Wallahu’alam, Husen Assagaf

* LAUT & SUGAI

البحرين

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” –  Ar-Rahman 19-21

Barzakh adalah pemisah (batas) antara satu alam dengan alam yang lain.
Yang dimaksud dengan barzakh (pemisah) disini adalah terpisahnya air laut (air asin)
dengan air sungai (air tawar. Meskipun adanya dua jenis air bersama-sama
bersinggungan tetapi mereka tidak berbaur dan ikan-ikan di setiap jenis air tidak
berpindah ke jenis air lainnya.. Subahnallah Maha Tinggi, Maha Bijaksana, dan Maha Berkuasa..

Surat Ar-Rahman.. silahkan menyimak http://www.tvquran.com/hafez-ishak-danish_3.htm

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 5 Comments »

♣ Sekedar Renungan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada April 14, 2013

Barangkali secara kebenaran setiap saya pulang libur ke jakarta musti ada yang meninggal. Paman saya meninggal saya berada di jakarta. Bibi saya meninggal saya berada di jakarta. Masih misan bapak saya meninggal saya berada di jakarta. Misan saya Alwi meninggal saya berada di jakarta. Terakhir mertua saya meninggal di rumah saya dan saya berada di jakarta. Semua mereka usianya diatas saya kecuali misan saya Alwi meninggal secara mendadak.. serangan jantung. Masuk ke rumahnya dalam keadaan sehat, hanya beberpa saat denyut jantungnya terhenti lalu.. meninggal.

Cukup bikin saya kederawasan, terutama waktu misan saya dikubur tanahnya longsor, diangakat lagi mayatnya, sempat tersingkap wajahnya penuh tanah merah. Semoga Allah mengampuni dosa dosanya. amiiin

Banyak orang meninggal mendadak. Masih besan ana.. diundang kawinan, makan kebuli. Sebelum pulang mampir ke rumah temannya. Kepalanya terasa sakit rasanya mau pecah. Dibawa ke RS Pasar Rebo. Baru masuk.. pembuluh darahnya di otak pecah.. keluar darah dari hidung dan mulut lalu.. meninggal.

Dan masih banyak lagi cerita cerita karabat kita yang meninggal secara mendadak. Macam macam sebab musabab tapi yang namanya meninggal tetap meninggal. 

Kalau sudah mati habis riwayatnya di dunia.. tutup buku.. dikubur. Buka buku baru namanya buku akhirat. Sesuatu yang ghaib tidak bisa diraba, tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa dirasakan oleh panca indar. Hanya keyakinan kita yang teguh berdasarkan al-Quran dan hadist yang harus diimani. Gitu kan??

Maka masuklah periode baru di dalam kubur yaitu nikmat kubur atau adzab kubur. Nabi bersabda: ”kuburan itu taman dari taman tamannya surga atau lobang dari lobang lobangnya api neraka”

Adapun siksa kubur dibagi menjadi dua. pertama yang bersifat rutin, berlangsung terus menerus sampai datangnya hari kiamat yaitu diterima bagi orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-nya. Ada lagi yang kedua bersifat sementara, yaitu siksaan yang diterima oleh orang mukmin yang melakukan keburukan di saat hidupnya di dunia. Ia akan disiksa sesuai dengan dosa yang dilakukannya. Siksaan ini bisa terhenti jika apa yang telah diterima dianggap cukup untuk menebus dosa yang telah dilakukanya.

Pernah Ustman bin Affan ra berdiri di muka kuburan. Ia menangis tersedu sedu sampai jenggotnya basah. Disaat disebut dihadapnya surga dan neraka beliau tidak menangis. Kenapa begitu? Karena beliau teringat sabda Nabi saw: sesungguhnya kuburan itu persimpangan pertama dari persimpangan akhirat,  jika ia berhasil maka yang berikutnya akan mudah. Tapi sebaliknya jika tidak berhasil maka yang berikutnya akan lebih susah.

Salah satu yang bisa meringankan seseorang dari azab kubur adalah doa dan dan istighfar yang selalu dikiriman dan dipanjatkan oleh sanak keluarga, famili, dan teman-teman yang masih hidup. Maka dianjurkan kepada orang yang masih hidup dunia agar senantiasa mendoakan keluarga, terutama kedua orang tua, sahabat atau seluruh kaum muslimin yang telah meninggal dunia. Hal itu merupakan salah satu bentuk hadiah untuk meringankan azab kubur kepada mereka.

Maka Rasulullah saw menganjurkan ummatnya untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur di setiap akhir tasyahud sebelum salam ketika shalat. ”ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah al masih ad-dajjal”

Banyak kita dengar orang mati dan tidak dikubur seperti mati di laut, mati di pesawat tidak diketemukan mayatnya, mati terbakar.. dll. Tapi tetap ada azab kubur walaupun jasadnya tidak dikubur. Ada cerita sohib ana pergi ke Hongkong mau beli barang. Kebetulan yang punya perusahaan ibunya meninggal. Katanya; ibunya tidak dikubur, dimasukan kedalam oven yang panasnya ribuan derajat. Setelah beberapa jam oven dibuka, mayat menjadi abu. Lalu abunya dimasukan kedalam toples, dibawa kerumahnya dibikin sesembahan setiap hari. Biarpun jasadnya dimasukan kedalam toples tetap ada azab kubur..

Seharusnya seorang muslim jangan memperdebatkan apakah siksa kubur itu akan diterima oleh ruh dan jasad seseorang, atau siksa kubur hanya diterima oleh ruh tanpa jasad. Sebaiknya seorang muslim mempercayai adanya nikmat dan adzab kubur dan menyakininya dengan keyakinan yang kuat bahwa nikmat dan adzab kubur adalah hal ghaib yang wajib diimani.

Pernah siti Aisyah ra mengisahkan bahwa ia dahulunya tidak mengetahui adanya siksa kubur sehingga datang kepadanya seorang wanita Yahudi, minta-minta dan setelah ia beri, ia berdoa: “semoga Allah melindungi kamu dari siksa kubur”. Ia menyangka bahwa keterangannya itu termasuk tipuan kaum Yahudi. Lalu ia ceritakan kepada Nabi saw. Beliaupun memberitahu kepadanya bahwa siksa kubur itu hak benar.

Jadi, nikmat dan adzab kubur ini adalah hal yang haq atau benar tidak bisa ditawar lagi akan keberadaanya. Dalil-dalil dari Nabi saw, dan dari para sahabat telah menunjukkan kebenarannya secara pasti dan kita wajib mengimaninya karena merupakan tuntutan keimanan kita kepada hari kiamat yang merupakan rukun iman keenam dimana tidak sah iman seseorang kecuali harus beriman kepada semua rukun iman yang enam.

Diantara dalilnya hadits Nabi saw, Rasulullah pernah berjalan melewati salah satu kuburan di kota Madianah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kubur. Beliau bersabda, keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena perbuatan dosa besar. Yang pertama karena tidak beristinja’ atau tidak menjaga kebersihan dari air kencing (tidak cebok) dan yang lainnya ia senantiasa bernamimah (mengupat / ceritain orang)..

Wallahualam

Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Kekuasaan Allah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Desember 13, 2012

Oleh: Hasan Husen Assagaf

download (1)

Allah memiliki sifat Qudrat (Kuasa) yaitu sifat yang mungkin dengan kekuasaan-Nya, Dia berkehendak mewujudkan atau meniadakan segala sesuatu. Kekuasaan-Nya tidak terbatas. Kekuasaan-Nya meliputi terhadap segala sesuatu. Dia kuasa untuk memberikan hal hal yang baik, kesuksesan, kesehatan dan sebaliknya dia juga berkuasa untuk mendiadakannya, berkuasa merobah kenikmatan menjadi malapetaka, kesehatan menjadi penyakit, kemudahan mejadi kesulitan, dan kesuksesan menjadi kegagalan. Dia berkuasa atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.

Kekuasaan Allah berbeda dengan kekuasaan manusia yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Kekuasan Allah tidak ada yang bisa menghalangi-Nya. Jika Allah telah berkehendak melakukan atau tidak melakukan sesuatu, maka tidak ada suatu pun makhluk yang bisa mencegah-Nya atau memberi saran kepada-Nya.

Makanya tidak patut bagi manusia bersifat sombong, angkuh dan bangga dengan kekuasaan yang dimilikinya, karena sebesar apa pun kehebatan kekuasaan manusia, tetap kekuasaan Allah pasti lebih besar dan lebih hebat. Bahkan jika Allah berkehendak menghilangkan kekuasaan manusia, maka dalam sekejap mata saja kekuasaanya bisa hilang dan ia tidak berdaya untuk mempertahankannya.

Seorang ayah yang bijaksana, sukses dan shalih hidup bersama keluarganya dengan bahagia. Setelah usianya 65 tahun ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi, Setelah 2 kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus mengalami kenyataan pahit, ia kena virus jahat melalui tranfusi darah yg ia terima. Ia harus menerima kenyataan yang ada. Ia akan segera meninggal.

Melihat keadaan sang ayah yang sudah tidak berdaya, wajah yang pucat dan rambutnya yang habis rontok, Anaknya yang duduk disamingnya di rumah sakit berkata: “Mengapa Allah memilih ayah untuk menderita penyakit itu?”

Ayahnya menjawab dengan lembut: “ketika aku berhasil aku tidak pernah bertanya kepada Allah “mengapa aku berhasil”. Begitu pula ketika aku sehat aku tidak pernah bertanya kepada Allah “mengapa aku sehat”. Jadi ketika aku dalam kesakitan, tidak seharusnya juga aku bertanya kepada Allah “Mengapa aku menderita penyakit?”.

Dalam hidup ini kadang kadang kita merasa hanya pantas menerima hal hal yang baik, kesuksesan yg mulus, kesehatan dll. Ketika kita menghadapi hal yang sebaliknya, penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Allah tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Nya.

Maka, bersyukurlah dengan apa yang telah diberikan Allah kepada kita, baik atau buruk, kesehatan atau penyakit, keberhasilan atau kegagalan. Manusia itu lemah dan memiliki keterbatasan, sedang Allah Maha Kuasa memiliki segala kehendak yang tidak terbatas.

Wallahu’alam// Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 1 Comment »

♣ Keramat Seorang Ibu

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Desember 13, 2012

Oleh: Hasan Husen Assagaf

download

Karamat berasal dari bahasa Arab ”karuma – yakrumu – karamatan” artinya mulia, murah hati atau dermawan. Menurut ajaran Islam karamat ialah kejadian luar biasa atau sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan dan tidak bisa diterima oleh akal manusia hanya bisa dirasakan oleh keimanan. Semua ini diberikan kepada diri seorang wali.

Wali berasal dari bahasa Arab “waliya – yali”, artinya orang amat dekat atau mengikutinya tanpa batas.  Makna wali adalah seorang mukmin, saleh, bertakwa, ta’at kepada perintah Allah yang ketaatannya terus menerus, tanpa diselang-selingi oleh perbuatan maksiat.

Adapun wali menurut Yusuf bin Ismail An- Nabhani dalam kitabnya “Jaami’u Karaamatil Aulia”, dari segi bahasa artinya dekat, maksudnya apabila seseorang dekat kepada Allah, disebabkan keta’atan, istiqamah dan keikhlasannya maka Allah pun akan dekat kepadanya dengan melimpahkan rahmat, kebajikan dan kurnia-Nya, dan diberikan kepadanya segala kemudahan. Pada saat itu terjadilah perwalian, yakni orang itu dinamakan “Wali” atau Allah senantiasa melindunginya, sehingga terhadap dirinya tidak perlu ada kekhawatiran. Dan Allah memberikan kepadanya berbagai kelebihan yang tidak diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang lain, berupa kejadian atau peristiwa luar biasa yang tidak masuk akal atau menyimpang dari kebiasan dan adat manusia atau diberikan kepada do’a yang mustajab.

Dalam kehidupan, orang banyak mencari para wali baik mereka masih hidup atau sudah mendinggal dunia, mereka memohon kepada Allah dengan kemurahan dan keberkahan para wali bisa membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih lancar dan sukses. Bahkan mereka rela datang dari tempat yang jauh dengan perjalanan berhari-hari agar Allah memberikan kepadanya ma’unah atau pertolongan dari Allah melalui perantaraan pala wali.

Tapi sayang satu karamat yang banyak dilupakan orang adalah keramat seorang ibu. Dialah yang dimuliakan Allah tiga kali lipat dibanding kemuliaan ayah. Dialah karamat diatas segala karamat yang ada di muka bumi. Dialah figur yang digambarkan oleh Rasulallah saw sebagai sosok manusia yang memiliki do’a yang sangat mustajab melebihi dari do’a do’a makhluk lainya. Beliau bersabda, “Doa orang tua kepada anaknya seperti doa nabi kepada umatnya”

Dalam sebuah kisah, ada seorang sahabat yang ingin ikut berperang dengan Rasulullah ternyata ia memiliki seorang ibu yang telah tua maka dikatakan kepadanya, pulanglah berbaktilah kepadanya, sesungguhnya surga berada di telapak kakinya. Hadis ini membuktikan bahwa berbakti kepada orang tua sebanding dengan para pejuang yang berjihad di medan perang.

Dari kebesaran kewalian seorang ibu Rasulallah saw telah berpesan kepada Umar dan Ali ra(**) untuk meminta do’a dari seorang wali yang shaleh, ta’at dan berbakti kepada ibunya ia bernama Uais Al-Qarni. Ia sangat cinta kepada ibunya yang lumpuh. Ia rela berkorban untuk segala galanya demi mendapatkan keredhoan ibunya.

Rasulallah berpesan: “Nanti, pada zamanmu akan lahir seorang manusia yang do’anya sangat mustajab. Pergi dan carilah dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Kalau kamu berdua berjumpa dengannya mintalah do’a darinya untuk kamu berdua.”

Umar dan Ali ra bertanya, “Apa yang patut kami minta dari Uais al-Qarni, Ya Rasulullah?“. Beliau menjawab, “Mintalah kepadanya agar Allah mengampuni dosa dosa kalian”

Itulah Uais Al-qarni yang rela memangku ibunya yang lumpuh dengan kedua tangannya berjalan kaki dari Yaman ke Mekah disaat melakukan ibadah haji, memangkunya disaat mengerjakan thawaf, sai dan wukuf di padang Arafah. Dan juga ia rela memangku ibunya dengan kedua tangannya berjalan kaki disaat kembali dari Makkah ke Yaman.

(**) Sayyidan Ali dan Umar ra termasuk 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga. Mereka diperintahkan untuk meminta do’a kepada Uais Al-Qarni yang ta’at dan patuh kepada ibunya. Sahabat Nabi saw adalah manusia manusia mulia dan dimuliakan Allah. Sahabat Nabi saw adalah mereka yang hidup di zaman Nabi saw, mengenal dan melihat langsung beliau, membantu perjuangan beliau dan meninggal dalam keadaan beriman. Jumlah sahabat Nabi saw sangat banyak dan tak terhitung. Dalam kitab ”Rijal Haula Ar-Rasul” oleh Khalid Muhammad Khalid disebutkan bahwa para sahabat Nabi saw yang paling utama jumlahnya lebih dari 60, yakni mereka yang sangat dekat dengan Nabi saw. Mereka disebut pengikut atau murid yang dekat dengan Nabi saw. Mereka mempunyai status atau kedudukan yang penting dalam dunia Islam, karena mereka adalah pengikut Nabi yang banyak memberi andil dalam da’wah Nabi saw.

Tingkatan atau derajat sahabat Nabi saw menurut para ulama terbagi dalam beberapa tingkatan, yaitu:  pertama, para sahabat yang masuk Islam di Mekkah sebelum melakukan hijrah seperti Khulafa’ur Rasyidin yaitu 4 khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali ra. Kedua, sahabat yang dijamin masuk surga. Ketiga, para sahabat yang ikut serta pada perang Badar. Keempat, para sahabat yang ikut serta pada perang Uhud. Kelima, para sahabat yang ikut serta pada bai’at Ridhwan. Dan keenam adalah sahabat sahabat lainnya yang jumlah mereka tidak sedikit.

Kepastian para 10 sahabat nabi saw masuk surga banyak sekali disebut dalam hadits shahih. Semua hadits itu wajib diimani. Diantaranya hadits dari Abduurahman bin ‘Auf ra berkata bahwa Nabi saw bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqqash di surga, Said bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail di surga, dan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah di surga.” (HR At-Tirmizy dan Al-Baghawi dalam Al-Mashabih fil Hisan)

Wallahu’alam// Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 3 Comments »

♣ Kisah Cinta Seorang Ibu

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 28, 2012

imagesAl-Qomah adalah sahabat Nabi saw yang baik dan pemuda yang sangat rajin beribadah. Pada suatu hari secara tiba tiba ia jatuh sakit. Isterinya menyuruh seseorang memberi kabar kepada Rasulallah saw tentang keadaan suaminya yang sakit keras dan dalam keadaan sakaratul maut.

Lalu Rasulallah saw menyuruh Ali, Bilal ra dan dan beberapa sahabat lainya melihat keadaan Alqomah. Begitu mereka sampai di rumah Alqomah, mereka melihat keadaanya sudah krisis tidak ada harapan hidup. Kemudian mereka segera membantunya membacakan kalimah syahadat (la ilaha illaah) dihadapanya, tetapi lidah Alqomah tidak mampu menyebutnya.

Setelah melihat keadaan Alqomah yang semakin menghampiri akhir ajalnya dan semakin parah ditambah lagi ia tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat, mereka menyuruh Bilal memberitahukan Rasulallah saw. Maka Bilal menceritakan kepada beliau segala hal yang terjadi atas diri Al-Qomah.

Lalu Rasulallah saw bertanya kepada Bilal, “Apakah ayah Al-Qomah masih hidup?” Bilal pun menjawab, “Tidak ya Rasulallah, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya.”

Kemudian Rasulallah saw berkata lagi, “Pergilah kamu ya Bilal menemui ibunya, sampaikan salamku dan katakan kepadanya kalau ia bisa datang menjumpaiku. Kalau dia tidak bisa berjalan, katakan aku akan datang ke rumahnya menjumpainya.”

Bilal tiba di rumah ibu Alaqomah, ibunya mengatakan bahawa dia ingin menemui Rasulallah saw. Lalu ia mengambil tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah beliau.

Setibanya disana ibu Al-Qamah memberi salam dan duduk di hadapan Rasulallah saw. Kemudian Rasulallah saw membuka pembicaranya, “Ceritakan kepadaku yang sebenarnya tentang anakmu Al-Qomah. Jika kamu berdusta, niscaya akan turun wahyu kepadaku,”

Dengan rasa sedih ibunya bercerita, “Ya Rasulallah, sepanjang masa, aku melihat Al-Qomah adalah laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas, sholeh dan selalu melakukan perintah Allah dengan sempurna, sangat rajin beribadat. Shalat dan puasa tidak pernah ditinggalkannya dan sangat suka bersedekah

“Ya Rasullah, semenjak aku mendapat kabar gembira tentang kehamilanku aku membawa Al-Qamah 9 bulan di perutku. Tidur, berdiri, makan dan bernafas bersamanya. Akan tetapi semua itu tidak mengurangi cinta dan kasihku kepadanya.”

“Ya Rasulallah, aku mengandungnya dalam kondisi lemah di atas lemah, tapi aku begitu gembira dan puas setiap aku rasakan perutku semakin hari semakin bertambah besar dan ia dalam keadaan sehat wal afiat dalam rahimku.”

“Kemudian tiba waktu melahirkanya ya Rasulallah. Pada saat itu aku melihat kematian di mataku.. hingga tibalah waktunya ia keluar ke dunia. Iapun lahir. Aku mendengar ia menangis maka hilang semua sakit dan penderitaanku bersama tangisannya.”

Ibu Al-qamah mulai menangis, lalu ia melanjutkan ceritanya, “Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu aku setia menjadi pelayannya yang tidak pernah lalai menjadi pendampingnya yang tidak pernah berhenti. Aku tidak pernah lelah mendo’akannya agar ia mendapat kebaikan dan taufiq dari Allah.”

” Ya Rasulallah, aku selalu memperhatikannya hari demi hari hingga ia menjadi dewasa. Badannya tegap, ototnya kekar, kumis dan jambang telah menghiasi wajahnya. Pada saat itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari pasangan hidupnya.”

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Tapi sayang ya Rasulallah, setelah ia beristri aku tidak lagi mengenal dirinya, senyumnya yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah hilang, dan tawanya telah tenggelam. Aku benar-benar tidak mengenalnya lagi karena ia telah melupakanku dan melupakan hakku.”

“Aku tidak mengharap sesuatu darinya ya Rasulallah, yang aku harapkan hanya aku ingin melihat rupanya, rindu dengan wajahnya. Ia tidak pernah menghapiriku lagi. Ia tidak pernah menanyakan halku, tidak memperhatikanku lagi. Seolah olah aku dibuang di tempat yang jauh.”

“Ya Rasulallah, aku ini tidak meminta banyak darinya, dan tidak menagih kepadanya yang bukan-bukan. Yang aku pinta darinya, jadikan aku sebagai sahabat dalam kehidupannya. Jadikanlah aku sebagai pembantu di rumahnya, agar bisa juga aku bisa menatap wajahnya setiap saat. Sayangnya dia lebih mengutamakan isterinya daripada diriku dan menuruti kata-kata isterinya sehingga dia menentangku.”

Rasulallah saw sangat terharu mendengar cerita ibu Al-Qamah. Kemudia beliau menyuruh Bilal mencari kayu bakar utuk membakar Al-Qomah hidup hidup. Begitu Ibu Al-Qamah mendengar perintah tersebut, iapun berkata dengan tangisan dan suara yang terputus putus, “Wahai Rasullullah, kamu hendak membakar anakku di depan mataku? Bagaimana hatiku dapat menerimanya? Ya Rasulallah, walaupun usiaku sudah lanjut, punggungku bungkuk, tangganku bergetar. Walaupun ia tidak pernah menghapiriku lagi tapi cintaku kepadanya masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Janganlah kamu bakar anakku hidup hidup”

Rasulallah saw bersabda “Siksa Allah itu lebih berat dan kekal. Karena itu jika kamu ingin Allah mengampuni dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan berguna sholatnya, puasanya dan sedekahnya, semasih kamu murka kepadanya.”

Kemudian ibu Al-Qomah mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Rasullullah, aku bersaksi kepada Allah yang di langit dan bersaksi kepadamu ya Rasullullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahwa aku aku telah ridho pada anakku Al-Qomah.”

Lalu Rasulallah saw mengarah kepada Bilal ra dan berkata, “Pergilah kamu wahai Bilal, dan lihat kesana keadaan Al-Qomah apakah ia bisa mengucapkan syahadat atau tidak? Aku khawatir, kalau-kalau ibu Al-Qomah mengucapkan itu semata-mata karena aku dan bukan dari hatinya,”

Bilal pun sampai di rumah Alqomah, tiba-tiba terdengar suara Al-Qomah menyebut, “La ilaha illallah”. Lalu Bilal masuk sambil berkata, “Wahai semua orang yang berada di sini. Ketahuilah sesungguhnya kemarahan seorang ibu kepada anaknya bisa membuat kemarahan Allah, dan ridho seorang ibu bisa membuat keridhoan-Nya .” Maka Al-Qomah telah wafat pada waktu dan saat yang sangat baik baginya”

Lalu Rasulallah saw segera pergi ke rumah Al-Qomah. Para sahabat memandikan, kafankan dan menyolatinya diimami oleh Rasulallah saw. Sesudah dikuburkan beliau bersabda sambil berdiri didekat kubur, “Wahai sahabat Muhajirin dan Ansar. Siapa yang mengutamakan isterinya dari ibunya, maka dia akan dilaknat oleh Allah dan semua ibadahnya tidak diterima Allah.”

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 3 Comments »

♣ Nabi Berda’wah Setelah Usia 40 Tahun

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Maret 18, 2012

Nabi Berda’wah Setelah Usia 40 Tahun, kenapa?

download (1)

Islam membagi usia manusia menjadi 4 periode (masa). Pertama masa kanak-kanak orang Arab bilang (masa thufuliyah) yaitu masa dimulai dari lahirnya seseorang sampai usia baligh 15 tahun. Kedua masa syabab yaitu masa muda dimulai dari usia setelah baligh 15 tahun sampai usia 40 tahun. Ketiga masa kuhulah yaitu masa dewasa dimulai dari usia 40 tahun sampai usia 60 tahun dan yang terakhir masa syaikhukhah yaitu masa tua disaat maunusia sudah menyapai usia lebih dari 60 tahun keatas.

Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih ke masa dewasa yang disebut masa kuhulah atau disebut juga masa setengah baya. Dan dalam usia inilah manusia telah memiliki kematangan dalam cara berpikir dan bertindak. Dalam arti lain bahwa jika seseorang sudah menyapai usia 40 tahun keatas cara pikir dan tindaknya dihitung dengan matang.

Oleh karena itu, dari keistimewaan usia 40 tahun Allah telah menyebutnya tersendiri dalam alqur’an di surat al-ahqaf ayat15 yang berbunyi ”Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Menurut para pakar ilmu tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupan yang baik dari segi fisik, pikiran, perasaan, karya, maupun dari segi agamanya. Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih ke usia dewasa. Apa yang dialami pada usia 40 tahun sifatnya stabil, mantap dan kokoh dalam pendirian dan perilakunya. Pendirian dan perilaku ini akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.

Makanya tidaklah heran jika para Nabi diutus untuk berda’wah pada usia 40 tahun. Rasulallah saw diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as., mereka diutus menjadi nabi ketika usia mereka genap 40 tahun.

Dari teladan agama ini telah diterapkan sebagai dustur (undang2) diberbagai negara, bahwa untuk menduduki jabatan-jabatan pemimpin negara, menteri dan tokoh masyarakat, disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri lebih cenderung dan mengakui prestasi seseorang secara mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Makanya rata rata semua pemimpin di dunia menjadi presiden pada usia di atas usia 40 tahun

Itulah salah satu sebab kenapa Nabi saw dan para nabi lainya diutus untuk berda’wah pada usia 40 tahun.

Salah satu keistimewaan usia 40 tahun kita bisa lahat dalam hadist Nabi saw yang diriwayatkan dari Imam Ahmad: “Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai “tawanan Allah” di bumi”.

Hadits ini menyebut usia 40 tahun paling awal, yang dimasudkan disini bahwa orang yang mencapai usia 40 tahun ia memiliki sifat istiqamah dalam pengabdiannya kepada Allah swt. Dalam arti lain jika seseorang belum menyapai usia 40 tahun kemungkinan masih bisa diombang ambingkan oleh suasana dan keadaan dan masih belum mantap dalam pendirian dan perilakunya.

Dan umur 40 tahun merupakan saat saat harus waspada juga. Seumpama orang yang berumur 40 tahun itu seperti waktu sudah masuk ashar, teriknya matahari sudah mulai lengser, kalau menjemur pakaian tidak bakal kering, sudah senja, sebentar lagi maghrib. Sahabat Nabi saw yang bernama Qotadah ra, berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia berhati hati”

Bahkan, Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Nasihat yang diungkap oleh dua sahabat besar tersebut memberikan pengertian bahwa manusia harus mulai bersikap waspada dan hati-hati dalam bertidak jika usianya telah mencapai 40 tahun. Ia harus meningkatkan amal kebajikan dan membiasakannya agar amal itu terus meningkat.

Atas dasar ini, para sahabat Nabi saw. Ketika mereka sudah menyapai usia 40 tahun, mereka konsentrasi beribadah. Mereka mulai menghabiskan hari-harinya untuk ibadah. Kesibukan mencari dunia mereka kurangi dan beralih pada kegiatan yang bersifat agama dan ibadah,

Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan dengan memakai tongkat. Jika ditanya kenapa? Jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya yang masih melekat dalam sangkar. Keadaanku sekarang seperti itu juga. “.

Sahabat Abdullah bin Umar r.a. pernah menceritakan hadits dari Rasulullah Saw. yang perlu dicamkan berkaitan dengan hal ini. Rasulullah saw. memegang kedua pundakku dan bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan kamu orang asing (perantau) atau pengembara (musafir).” Abdullah bin Umar ra. berkata, “Jika berada di waktu sore, jangan menanti waktu pagi. Jika berada di waktu pagi, jangan menanti waktu sore. Pergunakanlah masa sehatmu untuk bekal di masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal  di masa matimu.” (H.R. Bukhari).

Semoga kita digolongkan hamba-Nya yang mampu mengisi umur kita dengan sebaik-baiknya, dijauhkan kita dari bala’ dan malapetaka dunia, dijauhkan kita dari fitnah baik yang dzahir dan bathin.. amin

Wallah’alam

Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 3 Comments »

♣ Air

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 25, 2011

A I R

Oleh:Hasan Husen Assagaf

1AIR adalah makhluk yang tidak memupanyai rasa, warna dan bau. Lebih dari dua pertiga tubuh manusia mengandung air. Dan tiga perempat dari permukaan bumi diliputi dengan air.Ada sebagian mahluk yang bisa hidup tanpa hawa tapi tidak ada satu makhlukpun yang bisa hidup tanpa air. Semua benda akan jatuh kebawah karena daya tarik gravitasi bumi kecuali air, setelah menguap ia akan naik keatas dan berlawanan dengan gravitasi bumi.

Manusia yang paham hidup mengatakan bahwa yang paling lezat bagi orang yang sedang kehausan adalah air. Rasa air baginya lebih lezat dan nikmat dari pada rasa madu atau susu. Bahkan nilai air lebih mahal dari jutaan rupiah, emas dan perak bagi orang yang akan mati kehausan. Pada saat itu air merupakan surga.

Tetkala orang yang kehausan meminum air, ia merasakan tegukan yang masuk kedalam tenggorokanya telah membasahi semua urat-urat dan otot-otot tubuhnya. Setelah itu ia merasakan bahwa air telah membangkitan sel sel tubuhnya untuk bekerja kembali dengan semangat baru.

Jelasnya, kita tidak akan mendapatkan dalam kamus bagaimana rasanya air. Bohong, kalau ada orang mengatakan air itu tidak mempunyai rasa. Sesungguhnya air itu mempunya rasa ajaib. Air mempunyai rasa kehidupan setelah kematian. Air mempunya rasa kebangkitan setelah kehancuran. Bahkan Air mempunya rasa kesembuhan setelah kesakitan.  Maka tidak heran jika air merupakan dewa atau Tuhan yang disembah manusia dahulu kala.

Dalam al-Quran air banyak sekali disebut, lebih dari 50 ayat tercantum di dalamnya kata air. Ini menunjukan betapa besarnya kelebihan dan keistimewaan yang diberikan  Allah kepada makhluk yang bernama air. Dari salah satunya ialah: pertama-tama yang diciptakan sebelum alam semesta, langit, bumi, dan makhluk hidup, Allah terlebih dahulu meciptakan Arsy dan air. “Dia telah mencitakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah Arsy Nya di atas air” Al-Huud

Setelah diciptakan Adam dari tanah dan Hawa dari tulang rusuknya, Allah menciptakan anak cucunya dari setetes air yang terpancar keluar dari tulang sulbi yang jika ditimbang beratnya hanya beberapa gram. Didalam air itu terkandung jutaan mahluk hidup (sperma) yang jika seandainya semuanya, dengan seizin Allah menjadi manusia maka cukup dari setetes air itu bisa menjadi penduduk satu negara. Tapi dari kekusaaan Allah, yang jadi dari jutaan makhuk itu hanya satu yang paling unggul.

Maka dari itu, Allah tidak segan-segan menyuruh hambanya untuk memikirkan keunggulan dan keistimewaan yang diberikan kepada makhuk Nya yang bernama air. “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum”. Al-Waqiah 68

Zaman dulu, air merupakan sebagai sumber kehidupan yang sangat berharga dan mempunyai peran yang penting sekali. Di mana ada air disitu ada kehidupan. Tidak ada air berarti tidak ada kehidupan.  Orang-orang badwi suka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena mencari air. Tak heran, kadang kadang terjadi peperangan besar antara dua kabilah hanya karena air.

Menurut Fatul Bari (Bab: kitab Alanbiya’), bahwa Kabilah Jurhun yang hidup di Jaziraul Arab senang sekali berhijrah. Tapi setelah melihat ada tanda wujudnya air dikota Makkah, mereka segera membuat perkampungan dan mendirikan kemah-kemah di sekitar air. Tentu yang pertama kali menemukan air itu adalah  seorang wanita yang tak punya tempat bernaung, tak berdaya, namun penuh iman, ikhlas, dan ta’at, dangan harapan agar kelak menjadi symbol kepatuhan dimasa mendatang. Dialah siti Hajar yang melahirkan anaknya Ismail as dilembah yang tandus tak berair. Ia tinggalkan anaknya dan berusaha (sa’i) mencari air. Ternyata ia tidak memperoleh air. Air kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, keberkahan dan kesembuhan itu justru muncrat deras dari pasir gersang yang dikorek-korek tumit si bayi.

Subhanallah, dari pasir gersang itu keluarlah air. Mulai saat itu Makkah yang dulu merupakan kota tandus, gersang, tak ada pepohonan yang tumbuh, dan tak ada manusia yang hidup, berkat nabi Ismail as, datok nabi kita Muhammad saw, menjadi kota yang subur, makmur dan terlimpah didalamnya aneka ragam dari keberkahan Allah. Semua ini karena air Zamzam yang keluar deras dari kaki nabi Ismail. Maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah, kabilah Jurhum mulai berdatangan kesana untuk menetap dan mendudukinya. Campur baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismalil tak bisa dielakan. Dari sana, terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari, bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Itulah sebahagian dari keunggulan dan keistimewaan air yang diciptakan Allah.

Cerita tentang air yang menjadi sumber keberkahan dan kesembuhan, saya jadi teringat dengan air yang keluar menggerojok dari dalam tanah di lembah Fatimah atau yang lebih populer lagi disebut wadi Fatimah, yang letaknya tidak berjauhan dari kota Makkah. Nama wadi itu diambil, menurut kisahnya, dari nama Fatimah binti Rasulallah saw, yang katanya pernah singgah di wadi itu. Disana, ia sempat mandi dan berwudhu sewaktu ingin melakukan thowaf. Saya dan rombongan pernah mendatangi sumber mata air itu. Dan konon katanya memiliki rasa khas dan mempunyai kemampuan dapat menyembuhkna penyakti seperti ginjal, asma, gula dan rematik. Tempat ini sampai sekarang banyak diziarahi pengunjung terutama dari luar Saudi.

Pendek kata, kemampuan penyembuhan dari air, menurut pemikiran manusia biasa, sangat sulit untuk diterima kebenarannya semasih mereka belum meyakinkan kebenarnanya secara ilmiah bahwa air itu memang betul mengandung sifat penyembuhan. Tetapi kenapa sebahagian dari sumber mata air memang benar memiliki sifat yang aneh dan ajaib ini?

Sifat air yang aneh dan ajaib ini kita dapatkan dalam kisah nabiyallah Ayyub as. Allah telah memberi kepadanya ujian dan cobaan yang sangat berat, bukan kepada harta benda dan anaknya saja, akan tetapi ujian dan cobaan berat telah menimpah pula terhadap dirinya. Ia menderita penyakit kulit selama 18 tahun yang tidak bisa diobati oleh thabib. Ia bersabar dan bersabar, kemudian memohon pertolongan kepada Allah, iapun berseru “Ya Rab.., sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Al- Anbiyaa 83. Do’a dan seruan nabi Ayyub as terdengar di atas langit dan segera dikabulkan Nya.

Apakah pada saat itu Allah mendatangkan kepadanya spisialis kulit yang bisa mengobati penyakitnya? Tidak. Apakah Allah menurunkan dari langit malaikat yang bisa membantu mengobati penyakitnya? Tidak. Akan tetapi Allah meyembuhkan penyakit Ayyub dengan kekuasaan dan petunjuk Nya, Dia menyembuhkannya dengan sebab yang sangat kecil sekali yaitu AIR. Pada saat itu Allah memerintahkannya agar menghantamkan kakinya ke bumi. Ayyub pun mentaati perintah Nya.

Subhanallah, dengan kehendak Nya  keluarlah air sejuk yang memuncrat dari bekas hantaman kakinya. Ayyub pun mandi dan minum dari air itu sehingga sembuhlah dia dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan thabib dan ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Sesuai dengan firman Nya:

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

“ hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” Shaad 42

Tidak cukup Allah memberikan contoh dalam al Quran dengan kisah Ayyub yang disembuhkan karena air. Akan tetapi ada beberapa sumber mata air yang Allah telah berikan sebagai suatu keistimewaan kepada para nabi-nabi Nya yang tidak syak dan ragu lagi untuk diyakini dan dipercayai seperti terjadi pada nabi Musa as yang mana air merupakan suatu mu’jizat baginya yang diberikan kepada 12 suku dari bani Israil (Al-Ashbat) yang meminta air kepadanya karena kehausan. Allah wahyukan kepada Nabi Musa as “ Pukulah batu itu dengan tongkatmu lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air sungguh tiap tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing masing “ – bakarah 60

Air bukan saja dijadikan sebagai sumber penghidupan manusia di dunia, tapi air juga dijadikan sebagai pelengkap hiasan bagi surga Allah di akhirat. Sorga, yang tidak bisa dilihat oleh mata dan didengar oleh ditelinga atau terkhayal sekalipun oleh hati manusia, bukanlah sesuatu yang serba kebetulan atau sesuatu yang tidak disengaja, akan tetapi Allah menciptakan surga dilengkapi dengan segala macam kenikmatan dan keindahan. Adapun air dihadirkan di sorga sebagai pelengkap untuk menjadikan suasana surga lebih nikmat dan lebih indah lagi “Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang didalamnya ada sungai sungai dari air yang tiada berobah rasa dan baunya, sungai sungai dari air susu yang tiada berobah rasanya, sungai sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah buahan dan ampunan dari Tuhan mereka” Muhammad 15

Allah telah menciptakan di surga mata air yang keluar tak habis-habisnya bagi ahli surga tergantung dari derajat-derajat mereka. Diantara mata air yang diciptakan Nya ada dua mata air yang mempunyai keistimewaan dari yang lainya dan diberikan bagi ahli sorga yang mendapatkan keistimewaan pula. “Didalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir” – Al Rahman 50. Yaitu mata air yang bernama Salsabila yang dikhususkan untuk ahli sorga al Abrar, dan yang kedua bernama Tasnim diberikan kepada ahli sorga yang dekat hubungannya dengan Allah (al Muqarrabun) dan mempunyai derajat lebih tinggi dari ahli surga Al Abrar.

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 2 Comments »

♣ Mata

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 27, 2011

♣  MATA

Oleh: Hasan Husen Assagaf

1

Pagar rumah Habib Zen bin Abdullah Alaidrus di sebelah masjid Krukut-Jakarta, zaman dulu dikelilingi dengan tembok tinggi sehingga orang dari luar tidak bisa melihat kedalam. Di sebelah ujung pagar ada pintu kayu kecil cukup untuk ukuran dua orang bisa masuk. Pas masuk, kelihatan ada halaman di sebelah kanan yang ditanami pohon jambu, pepaya dan lainnya. Di sebelah kiri ada kamar mandi kecil untuk tamu, baru setelah itu beranda, ruang tamu dan majlis lebar yang mana Habib Zen gunakan untuk menerima tamu-tamunya. Orang orang zaman dulu kelihatanya hidupnya sangat mudah, gampang dan selalu happy.

Pernah salah satu dari tamu Habib Zen yang datang kerumahnya, menurut cerita yang saya dengar dari beliau, agak antik dan model pelotokan. Ia datang bertamu untuk ngobrol-ngobrol di waktu sore selepas asar. Sebelum magrib tamu itu permisi pulang dan diantar Habib kita sampai ke halaman depan. Di halaman rumah, matanya jelatatan kekiri kekanan, keatas kebawah dan terakhir pandanganya mentok ke pohon pepaya yang ditanam di pojok halaman rumah. Bibitinya dari cibinong, buahnya sarat luar biasa, besar besar bergelendotan di ujung batang pohon pepaya dan masih hijau hijau belum matang. Tamu itu berhenti sejenak memandang pohon pepaya itu dengan pandangan yang tajam dan ta’ajub, kemudian berlalu.

Percisnya dua hari setelah kejadian itu, pohon pepaya itu layu, daunya mulai menguning, dari selah buah pepaya keluar getah putih, dan terlihat tanda tanda yang mana pohon pepaya itu akan mati. Selepas seminggu, memang betul pohon pepaya itu mati total, buahnya berjatuhan, daunya mengering dan batangnya mengeropok. Habib Zen menjelaskan bahwa mata tamu yang datang seminggu yang lalu panas sehingga pohon pepaya itu mati kena matanya.

*****

Mata itu ada dua macam. Ada mata yang sifatnya sejuk, adem, dingin, dan tidak mempunyai reaksi apa apa jika memandang. Mata semacam ini memancarkan kebeningan, kesejukan dan keindahan hati. Orang yang hatinya baik, wajahnya akan jauh lebih bersih dan matanya akan nampak lebih jeli dan jernih. Tidak tersimpan didalamnya rasa dengki, hasut dan ingin menjatuhkan. Mata semacam ini bagaikan embun di pagi hari yang cerah, lalu terpancari sinar mata hari pagi, jernih , dan menyegarkan. Pancaran mata pun akan nampak dari setiap gerak gerik yang dilakukan.

Ada lagi mata yang sifatnya panas, tajam, dan menembus tujuan. Mata semacam ini memancarkan kekeruhan, keresahan dan keburukan hati yang tersimpan didalamnya rasa benci, hasut, licik, dengki, tidak puas, ingin menjatuhkan sesama dan tidak menginginkan kebahagiaan dan kesenangan orang lain.

Rasulallah saw telah mengajarkan kita jika melihat sesuatu yang menyenangkan atau mena’jubkan, hendaknya berkata “Bismillah Masya Allah La Quwwata Illah billah”, karena mata itu mempunyai HAK, sebagaimana sabda beliau dari Anas bin Malik

 عن أنس بن مالك أن رسول الله قال: “من رأى شيئاً فأعجبه فقال: ما شاء الله لا قوة إلا بالله: لم تصبه العين” . فهو ضعيف

“Barang siapa yang melihat sesuatu yang mena’jubkanya dan berkata Masya Allah La Quwwata Illa Billah maka tidak akan kena mata”. (Hadist dhaif bisa dimanfaatkan untuk fadhailul ‘amal)

وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kau tidak mengucapkan tetkala kamu memasuki kebunmu (Masya Allah La Quwwata Illaa Billah) sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. ” al Kahfi, 39

Bukankan Rasulallah saw pernah merangkul kedua cucunya yang sangat dicintai, Hasan dan Husen, sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah, meminta perlindungan dari Yang Maha Pelindung bagi kedua cucu beliau agar dihindari dari mata mata yang tajam dan jahat (kena mata), sesuai dengan haditsnya:

رواه البخاري وفي رواية عند الترمذي عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ : أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ وَيَقُولُ هَكَذَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يُعَوِّذُ إِسْحَقَ وَإِسْمَعِيلَ عَلَيْهِمْ السَّلام 

Rasulallah saw memohon perlindungan bagi Hasan dan Husen sebagaimana Ibrahim memohon perlindungan bagi Ismail dan Ishaq. Beliau berkata “Aku berlindung kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat Nya yang sempurna dari syaitan yang sesat, binatang berbisa yang menyengat, dan dari setiap mata yang jahat”.- Bukhari dari Ibu Abbas ra.

Jelasnya, dari hadits diatas kita bisa mengambil suatu difinisi bahwa ada penyakit yang dikenai diri seseorang disebabkan oleh karena pengaruh a’in (mata) yang jahat dan tajam,  yang tersimpan didalamnya rasa dengki, hasut, benci, ingin menjatuhkan, dan tidak menginginkan kebahagian orang lain.

Kadang kadang kita dapatkan lafadh lafadh atau ayat ayat al-Quran digantungkan di dinding rumah yang bersifat sebagai penawar atau penjaga dari mata-mata panas yang tidak menginginkan kebahagian atau keharmonisan rumah tangga orang, seperti ayat Kursi misalnya, surat al Falaq, surat an Nas, atau surat al Ikhlas dll yang banyak sekali kita dapatkan dalam kitab suci al Quran.

Ada lagi orang yang menggunakan pembacaan ayat ayat tertentu dalam kitab suci al-Quran sebagai penyembuhan dari suatu penyakit atau untuk penangkal dan menolak a’in (kena mata), ini dalam ilmu syariat disebut Ruqyah dan dalam agama diperbolehkan menggunakan ruqyah bila penggunaanya bersih dari hal hal yang bertentangan dengan syariat Allah, karena Rasulallah saw telah memberi keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati a’in atau yang disebut kena mata, kemasukan setan dan jin, binatang berbisa dan sebagainya.

Ada lagi yang dinamakan Tamimah yaitu sesuatu yang digantungkan di leher anak anak yang baru lahir untuk penangkal dan menolak penyakit a’in (kena mata). Jika yang dikalungkan itu dari ayat ayat al-Quran maka agama meberikan keringanan dalam hal ini.

Berapa banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter atau thabib kecuali dengan rumusan kitab suci dan hadits Nabi. Imam Ghozali dalam bukunya “Mukasyafatul Qulub” yang kalau diterjemahkan menjadi Mesteri Ketajaman Mata Hati, imam besar ini menyebutkan bahwa membaca kitab suci dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus dan menyembuhkan segala macam penyakit. Di dalam kitab suci, ada mantera-mantera gaib dan kekuatan sabda yang mampu menyembuhkan penyakit yang tidak mampu disembuhkan thabib. Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi bercahaya dan tubuh yang sakit menjadi a’fiyah.

Satu contoh yang ringan, pernah hal ini dilakukan oleh Abul Qasim Al Qusyairi di saat anaknya sakit keras yang tidak bisa disembuhkan oleh puluhan thabib. Lalu ia berziarah kemaqam Rasulallah saw dan duduk di Raudhotun Nabi (antara mimbar dan maqam Rasulallah saw). Di sana Abul Qasim berdoa dengan khusyunya. Kemudian ia tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Abul Qasim Rasulallah saw. Ia mengadukan halnya dan kesusahannya kepada beliau. Rasulallah saw berkata “Bacalah bagi anakmu enam ayat-ayat syifa (penyembuhan)”.

Abul Qasim Al Qusyairi terperanjat bangun dari tidurnya dan berlari tergopoh gopoh menuju kerumahnya dan dilakukan apa yang telah diwasitkan Nabi saw dalam mimpinya. Maka berkat ayat-ayat itu, Allah menyembuhkan anaknya dari penyakitnya..

Adapun enam ayat ayat itu adalah:

1 – Ayat 14 dari surat At Taubah

وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ

“dan menyembuhkan hati orang-orang yang beriman”

2 – Ayat 57 dari surat Yunus

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“dan menyembuhkan bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”

3 – Ayat 69 dari surat An Nahl

فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”

4 – Ayat 82 dari surat Al Isra’

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang orang yang beriman”

5 – Ayat 80 dari surat Al Syua’ra

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,

6 – Ayat 44 dari surat Fussilat

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

“Katakanlah: Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang beriman”

Agar jangan sampai kena mata, kita sebagi manusia yang diberi ni’mat dari Allah, jangan lupa harus bisa menjaga ni’mat itu, dan harus bisa mensyukurinya dengan baik agar ni’mat ni’mat itu ditambah dan tidak hilang atau dicabut. Imam kita Syafi’i berkata : “Jika anda dalam suatu keni’matan, maka jagalah. Sesungguhnya perbuatan ma’siat itu bisa menghilangkan ni’mat”.

Pernah Rasulallah saw berjalan dari rumahnya menuju ke masjid al Haram di waktu subuh. Selamanya beliau melewati pintu Assalam (Bab Assalam) jika ingin memasuki masjid alharam. Setibanya beliau di muka ka’bah, beliau melihat malaikat Jibril bergelendotan di pintu ka’bah (Multazam) sambil menangis dan merenge- renge. Tentu semua orang yang berada disekitarnya tidak ada yang bisa melihatnya kecuali Rasullalah saw. Beliau mendekati Jibril dan ingin tahu apa gerangan yang diminta dan direngei. Jibril, malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan Rasullah disaat turun wahyu. Jibril yang mempunyai maqam dan derajat yang tinggi luar biasa di sisi Allah, tapi masih merenge-renge, berdoa dan memohon kepada Allah.

Secara diam-diam Rasullallah saw mendekatinya dan ingin mendengar apa yang diminta Jibril as. Anda tahu apa kiranya yang diminta Jibril as, beliau berdoa : ” Ya Wajed, Ya Majid La Tuzil  A’nni  Ni’matan  Ana’mta Biha A’laiyya”. Artinya kurang lebih: “Ya Allah Yang Maha Berada dan Maha Luhur janganlah engkau cabut ni’mat yang Engkau telah berikan padaku”

Doa kecil dari Habib Zen tapi penuh dengan hikmah.

Wallahua’lam,

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Ringkasan Sejarah 25 Rasul

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada April 18, 2011

Ringkasan Sejarah 25 Nabi dan Rasul

 

imagesTerlampir dibawah ini ringkasan sejarah 25 Nabi dan Rasul, yang insyallah sedikitnya bisa memberi gambaran singkat tentang mereka:

Wajib bagi setiap muslim mengetahui bilangan para nabi dan rasul yang telah disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 dan wajib meyakininya secara keseluruhan bahwa Allah telah mengutus mereka sebagai nabi dan rasul yang dimulai dari nabi Adam as dan diakhiri oleh nabi Muhammad saw.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ – غافر ﴿٧٨

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” – al-Ghafir, 78.

Bilangan para rasul sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan bilangan para nabi mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur’an dengan perincian sebagai berikut: Adam, Idris, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dhul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ’Isa, Muhammad

Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah yang wajib ketahui. Dimulai dari Nabi Adam as sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad saw, nabi dan rasul Allah saw yang terakhir.

Penegasan bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir telah banyak ditegaskan Allah dalam al-Qur’an dan dan ditegaskan pula oleh Rasul-Nya di dalam al-hadits. Jadi kalau ada orang mengaku sebagai nabi setelah beliau, pasti dengan tegas umat Islam akan menolak keberadaanya dan tidak mempercayainya, karena Nabi Muhammad saw adalah akhir dan penutup para nabi. Keyakinan bahwa Rasulallah saw adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para sahabat beliau, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, pasti dengan tegas mereka menolaknya dan sekaligus menyatakan perang kepada mereka

Terlampir dibawah ini ringkasan sejarah 25 Nabi dan Rasul, yang insyallah sedikitnya bisa memberi gambaran singkat tentang mereka: untuk lebih jelas dan faham tentang sejarah 25 Nabi dan Rasul anda bisa lihat kitab-kitab sejarah mereka seperti kitab Qashash al-Anbiya’ oleh ibnu Katsir, tahqiq Dr. as-Sayyid al-Jumaili dan kitab Atlas al-Quran oleh Syauqi Abu Khalil. Semoga bisa menjadi rujukan yang bermanfaat dan kebenaranya tentu kita kembalikan kepada Allah.

 

1- Adam

Adam diperkirakan hidup selama 930 tahun setelah penciptaannya (sekitar 5872-4942 SM), sedangkan Hawa lahir ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Qur’an memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah: 30-38 dan Al-A’raaf:11-25.

Menurut ajaran Isalm, anak-anak Adam dan Hawa dilahirkan secara kembar, yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan. Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya.

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,4 meter). Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga yang berperadaban maju. Turun ke muka bumi bisa sebagai makhluk asing dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan cerdas, dari peradaban di bumi sampai kapanpun, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al Israa’ 70, yang berbunyi:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِى آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِّنَ ٱلطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً – الإسراء ﴿٧٠

“…dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” Al-Isra’ 17:70

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلإِنسَانَ فِيۤ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ – التين ﴿٤

Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Menurut riwayat di dalam Al-Qur’an, ketika Nabi Adam as baru selesai diciptakan oleh Allah, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran kemuliaan dan kecerdasannya itu, menjadikannya makhluk yang punya derajat amat tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari gambaran manusia purba menurut Charles Darwin, yang digambarkan berjalan dengan empat kaki dan menjadi makhluk purba berpakaian seadanya.

Menurut syariat Islam, Adam tidak diciptakan di bumi, tetapi diturunkan dimuka bumi sebagai manusia dan diangkat (ditunjuk) Allah sebagai khalifah (penerus) di muka bumi atau sebagai makhluk pengganti yang sebelumnya sudah ada makhluk lain. Maka dengan kata lain adalah Adam bukanlah makhluk berakal pertama yang memimpin di bumi. Diriwayatkan bahwa beliau mempunyai 40 anak. Nama Adam disebut dalam Al-Qur’an: 25 kali.

2- Idris

Idris hidup sekitar 4533-4188 SM. Nabi Idris adalah salah seorang rasul yang pertama kali diberikan tugas untuk menyampaikan risalah kepada kaumnya. Ia diberikan hak kenabian oleh Allah setelah Adam dan Syits.

Dikatakan bahwa Idris lahir dan tinggal di Babil, Irak, untuk berdakwah kepada kaumnya yang bernama Bani Qabil dan Memfis. Sedangkan beberapa kisah menyebutkan, Idris lahir di daerah Munaf, Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 2 kali dalam Al-Qur’an.

Idris adalah keturunan keenam dari Adam, silsilah lengkapnya adalah sebagai berikut, Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam. Menurut kitab tafsir, ia hidup 1.000 tahun setelah Adam wafat. Sedangkan dalam buku yang berjudul Qashash al-Anbiyya karya Ibnu Katsir dituliskan bahwa Idris hidup bersama Adam selama 308 tahun.

Nabi Idris dianugerahi kepandaian dalam berbagai ilmu dan kemahiran, serta kemampuan untuk menciptakan alat-alat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Dalam beberapa kisah dikatakan bahwa Idris sebagai nabi pertama yang mengenal tulisan, menguasai berbagai bahasa, ilmu perhitungan, ilmu alam, astronomi, dan lain sebagainya.

Menurut Ibnu Ishaq, Nabi Idris adalah orang yang pertama kali menulis dengan pena, menjahit baju dan memakainya, dan manusia yang mengerti masalah medis.

Dalam suatu kisah, terdapat suatu masa di mana kebanyakan manusia akan melupakan Allah sehingga Allah menghukum manusia dengan bentuk kemarau yang berkepanjangan. Nabi Idris pun turun tangan dan memohon kepada Allah untuk mengakhiri hukuman tersebut. Allah mengabulkan permohonan itu dan berakhirlah musim kemarau tersebut dengan ditandai turunnya hujan.

Nabi Idris diperkirakan bermukim di Mesir di mana ia berdakwah untuk menegakkan agama Allah, mengajarkan tauhid, dan beribadah menyembah Allah serta memberi beberapa pendoman hidup bagi pengikutnya supaya selamat dari siksa dunia dan akhirat.

Ia dinyatakan di dalam Al-Quran sebagai manusia pilihan Allah sehingga Dia mengangkatnya ke langit. Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa Nabi Idris wafat saat dia sedang berada di langit keempat ditemani oleh seorang malaikat.

3- Nuh

Nuh bin Lamik bin Mutuisyalkh dari keturunan Idris, lalu keturunan Nabi Syits bin Adam. Diperkirakan hidup pada tahun 3993-3043 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 3650 SM. Diperkirakan beliau tinggal di wilayah yang kini disebut sebagai Iraq. Para ahli sejarah banyak menyebutkan bahwa beliau wafat di Mekkah. Nama Nuh disebutkan sebanyak 43 kali dalam Al-Qu’ran.

Nabi Nuh as mendapat julukan ulul ’azmi karena kesabarannya yang tinggi. Nuh as adalah rasul pertama yang diutus Allah untuk meluruskan akidah dan akhlak umat yang telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar. Nabi Nuh as digelari sebagai ulul ’azmi karena kesabarannya dalam berdakwah dan mendapat hinaan dari kaumnya. Nabi Nuh tanpa menyerah terus menerus mendakwahi keluarga, kerabat dan masyarakat umum, untuk kembali ke jalan yang lurus. Usianya hampir 1000 tahun dan jumlah umat yang mengikutinya tidak lebih dari 200 orang. Bahkan istri dan anaknya yang bernama Kan’an tidak mempercayai ajaran yang dibawanya dan menjadi musuhnya. Atas kehendak Allah umat nabi Nuh as yang membangkang ditenggelamkan dengan tsunami yang dahsyat dan semuanya mati, kecuali nabi Nuh as dan pengikutnya yang beriman.

Menurut Islam, ia memiliki 4 anak laki-laki yaitu Kan’an, Sam, Ham, dan Yafets. Kejadian mencatat, pada zamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi, hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut. Setelah air bah reda,  keluarga Nuh kembali berkembang-biak di bumi.

Ia bersama keluarganya mendarat di sebuah kota di kaki Gunung Judi. Nuh kemudian mengunci Bahtera yang sampai sekarang para ahli masih aktif dalam mencari Bahtera tersebut, karena masih dipercaya bahwa benda itu masih berada di lereng-lereng pergunungan Judi-Ararat.

Nuh adalah rasul pertama yang diutus ke atas bumi ini, sedangkan Adam, Syits dan Idris termasuk golongan nabi saja. Dari Ibnu Katsir bahwa Nuh diutus untuk kaum Bani Rasib. Dia lahir 126 tahun sepeninggal Nabi Adam, Dia adalah utusan yang pertama yang diutus untuk umat manusia. Penduduk yang diserunya dikenal dengan Banu Rasib.

Ibnu Abbas menceritakan Bahwa nabi Nuh diutus pada kaumnya ketika berumur 480 tahun. Masa kenabiannya adalah 120 tahun dan berdakwah selama 5 abad. Dia mengarungi banjir ketika ia berumur 600 tahun, dan kemudian setelah banjir ia hidup selama 350 tahun.

4- Hud

Hud bin Abdullah bin Rabah bin Khulud dari keturunan Sam bin Nuh. Nabi Hud hidup sekitar tahun 2450-2320 SM. Beliau adalah seorang nabi yang diutus untuk Kaum ‘Ad yang tinggal di daerah al-Ahqaf, Rubu’ al-Khali- Hadramut Yaman. Nabi Hud dikenal dalam ajaran agama Islam, Yahudi dan Kristen. Namanya disebutkan sebanyak 7 kali dalam kitab Al-Qur’an. Umat Muslim percaya bahwa Nabi Hud hidup sekitar 150 tahun dan diutus menjadi rasul pada tahun 2400 SM. Diriwayatkan bahwa ia wafat di daerah Timur Hadhramaut, Yaman.

Nabi Hud merupakan keturunan dari suku ‘Aad, suku yang hidup di jazirah Arab, disuatu tempat yang bernama Al-Ahqaf yang terletak di utara Hadramaut antara Yaman dan Oman. Mereka adalah kaum penyembah berhala bernama Shamud, Shada, dan al-Haba. Mereka termasuk suku yang tertua sesudah kaum Nuh. Mereka dikaruniai oleh Allah tanah yang subur, dengan sumber-sumber air yang memudahkan mereka untuk bercocok tanam.

Kaum Hud, yaitu suku ‘Aad tidak mengenal Allah sebagai Tuhannya. Mereka membuat patung-patung dan itu yang disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaannya dapat memberi kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah.

Pembalasan Tuhan terhadap kaum ‘Aad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua tahap. Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang dan kebun mereka. Kekeringan itu adalah suatu permulaan siksaan dari Allah yang dijanjikan dan bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada mereka untuk sadar akan kesesatan dan kekafiran mereka dan kembali beriman kepada Allah. Pembalasan tahap kedua yang dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di atas mereka yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira, karena mengira bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang dan menyirami kebun mereka yang sedang mengalami kekeringan. Ternyata bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin topan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang mencemaskan yang telah merusakkan bangunan rumah dari dasarnya.

Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan Allah dari bencana yang menimpa kaumnya. Setelah keadaan cuaca kembali menjadi tenang dan tanah Al-Ahqaf sudah menjadi sunyi senyap dari kaum ‘Aad pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut, dimana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana. Hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah bukit, di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun selalu dikunjungi para peziarah yang datang dari sekitar daerah itu, terutama pada bulan Syaban.

5- Shalih

Shalih bin Abid dari keturunan Sam bin Nuh. Beliau adalah salah seorang nabi dan rasul yang diutus kepada Kaum Tsamud. Diperkirakan beliau hidup pada tahun 2150-2080 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 2100 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Kaum Tsamud yang tinggal di Al-Hijir- Oman. Beliau wafat di Jaziratul Arab. Kaum Tsamud mengingkari dawah Nabi Shalih dan membangkan. Lalu Allah berikan kepada belau mukjizat yaitu seekor unta betina yang dikeluarkan dari celah batu dengan izin Allah untuk menunjukkan kebesaranNya kepada kaum Tsamud. Malangnya kaum Tsamud masih mengingkari ajaran Shaleh, mereka membunuh unta betina tersebut. Akhirnya kaum Tsamud dibalas dengan azab yang amat dahsyat yaitu dengan satu tempikan dari Malaikat Jibril yang menyebabkan tubuh mereka hancur. Nama Nabi Shalih disebutkan sebanyak 9 kali di dalam Al-Quran.

Pengajaran yang menonjol yang dapat dipetik dari kisah Nabi Shalih ini ialah bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat yang negatif dapat membinasakan masyarakat itu seluruhnya.

Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur, bahkan tersapu bersih di atas bumi kerana dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa orang pembunuh unta Nabi Shalih. Disinilah letaknya hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf, nahi mungkar.

 6- Ibrahim

Nabi Ibrahim bin Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Beliau diperkirakan hidup tahun 1997-1822 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Beliau tinggal di Iraq. Beliau wafat di Al-Khalil, Hebron, Palestina. Nama beliau disebutkan sebanyak 69 kali dalam Al-Quran.

Azar memiliki tiga putra: Ibrahim, Haran, dan Nahor. Ibrahim dilahirkan di sebuah wilayah bernama Faddam Aram, yang terletak di kerajaan Babilonia. Ibnu Asakir meriwayatkan dalam kitab at-Tarikh dari Ishaq bin Basyar al-Kahiliy bahwasanya nabi Ibrahim dijuluki sebagai “Abu adh-Dhaifan.”, yaitu Ibrahim memiliki dua putra yang termasuk golongan nabi, yakni nabi Ismail dan nabi Ishaq, sementara nabi Ya’qub merupakan cucu Ibrahim. Haran juga memiliki seorang putra yang termasuk golongan nabi, yakni nabi Luth.

Adapun Sarah istri Ibrahim pernah hendak ditawan raja Mesir untuk dijadikan selir, Allah memberi perlindungan kepada Sarah sehingga raja Mesir tidak dapat menjadikan Sarah sebagai selir. Setelah menyadari bahwa Allah telah menghadirkan berbagai azab yang menimpa diri raja Mesir berkenaan dengan Sarah yang merupakan istri Ibrahim, ia mengembalikan Sarah kepada Ibrahim; kemudian raja Mesir menghadiahkan Hajar sebagai budak untuk Sarah sebagai penebusan dosa. Hajar adalah seorang permaisuri kerajaan Mesir.

Nabi Ibrahim adalah nabi yang mendapat gelar ulil ’azmi karena kesabarannya yang tinggi. Dari mulai bayi nabi Ibrahim sudah diasingkan ke dalam gua disebabkan karena perintah Raja Namrudz untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir. Setelah dewasa, ia harus berhadapan dengan raja dan masyarakat penyembah berhala termasuk kedua orang tuanya yang membuat berhala. Bahkan ia harus menerima siksaan yang pedih, yaitu dibakar hidup-hidup dan diusir dari kampung halamannya.

Sudah hampir seratus tahun usia dan pernikahannya dengan Sarah, ia belum dikaruniai anak hingga istrinya meminta ia menikahi seorang budak berkulit hitam bernama Hajar untuk dijadikan istri. Akhirnya Hajar dapat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim untuk melepas istri dan anaknya yang baru lahir dan sangat dicintainya itu ke tanah gersang di Makkah. Karena kesabaran dan kepatuhannya, perintah itu dilaksanakan. Namun, perintah lebih berat diterima Ibrahim, yaitu harus mengorbankan Ismail yang baru meningkat remaja. Hal ini pun beliau laksanakan, tapi Allah akhirnya menggantikannya dengan seekor domba. selain itu ujian nabi Ibrahim as yang lain adalah membangun Ka’bah, dan menghadapi Raja Namrudz yang zalim.

Sepulang dari Makkah itu, nabi Ibrahim as. menjalani hidup seperti sedia kala. Dengan rahmat Allah yang agung, tidak ada yang mustahil bagi Allah dan janji Allah yang ditunggu-tunggu. Sarah yang sudah berusia 99 tahun dan nabi Ibrahim 100 tahun, kemudian hamil dan melahirkan seorang bayi lelaki sempurna yang diberi nama Ishaq.

  1. Luth

Luth bin Haran dari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 1950-1870 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Kaum Luth yang tinggal di negeri Sadum (Sodom), Syam, Palestina. Beliau meninggal dunia di Desa Shafrah di Syam, Palestina. Luth menikah dengan seorang gadis yang bernama Ado, pendapat lain mengatakan ia bernama Walihah, beliau memiliki dua anak perempuan Raitsa dan Zaghrata. Nama beliau disebutkan sebanyak 27 kali dalam Al-Quran.

Nabi Luth adalah anak keponakan dari Nabi Ibrahim. Ayahnya yang bernama Haran bin Tareh adalah saudara kandung dari Ibrahim, ayahnya kembar dengan pamannya yang bernama Nahor. Silsilah lengkapnya adalah Luth bin Haran bin Azara bin Nahor bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

Nabi Luth beriman kepada saudara bapaknya (pamannya), yaitu Nabi Ibrahim, yang mendampinginya dalam semua perjalanan. Lalu Luth berpisah dengan Ibrahim. Luth pindah ke Yordania dan bermukim di sebuah tempat bernama Sadum (Sodom).

Masyarakat Sadum atau Sodom adalah masyarakat yang rendah moralnya dan rusak akhlaknya. Masyarakat Sadum tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Kemungkaran merajalela dalam pergaulan hidup mereka. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseksual atau liwath di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya. Kedua jenis kemungkaran ini begitu merajalela di dalam masyarakat sehingga hal tersebut merupakan suatu kebudayaan bagi kaum Sadum.

Nabi Luth berseru kepada mereka agar meninggalkan adat kebiasaan keji mereka yaitu melakukan perbuatan homoseksual dan lesbian. Luth menyatakan perbuatan itu bertentangan dengan fitrah dan hati nurani manusia serta menyalahi hikmah yang terkandung di dalam penciptaan manusia yang diciptakan menjadi dua jenis yaitu lelaki dan wanita. Kaum Luth merasa kesal mendengar dakwah dan nasihat-nasihat Nabi Luth yang tidak putus-putusnya itu dan minta agar ia menghentikan aksi dakwahnya atau menghadapi pengusiran dirinya dari Sadum bersama keluarga dan pengikutnya. Meskipun Nabi luth berulang kali menyeru dan memperingatkan, tetapi kaumnya tidak menghiraukan, bahkan mengejek dan menantangnya.

Akhirnya datanglah azab Allah. Negeri sadum beserta penduduknya dibinasakan oleh Allah. Nabi luth dan keluarga serta para pengikutnya mendapat perlindungan Allah, kecuali istrinya yang termasuk orang- orang yang durhaka dan dibinasakan.

8- Ismail

Nabi Ismail bin Ibrahim Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 1911-1774 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1850 SM. Beliau tinggal di Makkah dengan kabilah Amaliq dari Yaman. Secara tradisional ia dianggap sebagai bapak bangsa Arab, sedangkan menurut Sa’id bin Yahya al Umawiy dalam kitabnya al Maghazi menuliskan bahwa Ismail belajar bahasa Arab dari bangsa Arab yang singgah di Makkah dari Yaman. Maka bisa diambil kesimpulan bahwa Ismail bukanlah nenek moyang bangsa Arab.

Nabi Ismail adalah anak Nabi Ibrahim dan ibunya Hajar. Hajar adalah budak yang diberikan oleh Raja Mesir kepada Nabi Ibrahim. Dari semenjak kecil hingga dewasa Hajar dipelihara oleh Nabi Ibrahim sehingga diperistrikannya.

Sedangkan istri pertama yaitu Sarah dari semenjak muda belum bisa memberikan anak dan baru mendapatkan anak ketika usianya sudah lanjut, yang mana anak tersebut diberi nama Ishaq. Sebagaimana wanita lainnya, Sarah rupanya merasa cemburu kalau Hajar sudah mendapatkan anak terlebih dahulu dari pada dirinya.

Kemudian Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail yang masih bayi ke negri Mekkah yang pada waktu itu masih merupakan padang pasir kosong yang belum didiami oleh manusia. Lalu atas perintah Allah Nabi Ibrahim pun kembali ke negri Syam pada istri pertamanya yaitu Sarah.

Suatu ketika Hajar kehabisan air, beliau sangat kehausan sehingga air susunya pun kering. Dalam usahanya mencari air, Hajar berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang jaraknya cukup berjauhan. Dengan seizin Allah didekat Ismail yang sedang menangis itu, muncratlah mata air Zam Zam. Usaha Hajar mencari air kian kemari dari bukit Shafa ke bukit Marwah menjadi salah satu rukun Haji yang disebut Sha’i.

Suatu ketika Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya yaitu Ismail. Dan diceritakan kepada anaknya Ismail. Iapun menjawab:

قَالَ يٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيۤ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّابِرِينَ – الصافات ﴿١٠٢

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (ash-shaffat, 102).

Maka Nabi Ibrahim pun membaringkan Ismail ke tanah dengan maksud akan disembelihnya. Pada saat itulah Allah menggantikannya dengan seekor biri-biri yang besar. Dengan ketaatanya maka Ismail pun diangkat menjadi Rasul Allah.

Kemudian Ibrahim bersama anaknya Ismail mendirikan Ka’bah (Baitullah) yang menjadi kiblat bagi umat manusia sedunia dalam beribadah. Ismail dikaruniai 12 anak dan mereka menjadi pemimpin-pemimpin atas kaumnya yang dinamakan Arab Musta’ribah.

Nabi Ismail diutus ke negri Yaman dan Amaliq untuk menyeru manusia supaya bertaqwa kepada Allah. Dan menurut salah satu riwayat, Nabi Ismail wafat pada usia 137 tahun di Palestina dan sebagian riwayat lagi meriwayatkan bahwa Ismail wafat di Mekkah. Ia meninggalkan 12 anak. Nama beliau disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Quran

9- Ishaq

Ishaq Ibrahim Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Nama lengkapnya adalah  Ishaq bin Ibrahim bin Azar bin Nahur bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Syam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 1897-1717 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1800 SM. Ishaq adalah putra kedua Nabi Ibrahim setelah Ismail yang beribu Hajar dan merupakan orang tua dari Nabi Yaqub. Memiliki 2 anak.

Ishaq diutus untuk masyarakat Kana’an di wilayah Al-Khalil Palestina. Beliau meninggal di Al-Khalil Hebron Palestina. Kisah Nabi Ishaq sangat sedikit diceritakan dalam Al-Qur’an. Nabi Ishaq disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 15 kali. Sedangkan keutamaan Nabi Ishaq disebutkan 9 kali dan kenabian Ishaq 10 kali.

Sebelum kelahiran Ishaq, Sarah dan suaminya, Ibrahim mendapat kabar gembira dari Allah melalui malaikat Jibril. Dalam pesan itu malaikat Jibril menyampikan pesan bahwa Sarah akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ishaq yang kelak akan menjadi seorang nabi. Namun, Sarah tersenyum karena merasa heran dan aneh. Dia merasa aneh karena tidak mungkin dia dan suaminya dapat memberi keturunan jika usia mereka sudah cukup tua, yaitu Sarah berusia 90 tahun dan Nabi Ibrahim 100 tahun. akhirnya Ishaq pun akhirnya terlahir di kota Kana’an

Ishaq merupakan anak kedua dari Nabi Ibrahim dan Sarah setelah Ismail. Bersama Ismail, ia menjadi penerus ayahnya untuk berdakwah di jalan Allah. Ketika Ibrahim telah sangat tua, Ishaq belum juga menikah. Ibrahim tidak mengizinkan Ishaq menikah dengan wanita Kana’an karena masyarakatnya tidak mengenal Allah dan asing terhadap keluarganya. Karena itu, Ibrahim memerintah seorang pelayan untuk pergi ke Harran, Irak dan membawa seorang perempuan dari keluarganya. Perempuan yang dimaksud itu adalah Rifqah binti Batnail bin Nahur, saudara Ibrahim yang kemudian dinikahkan dengan Ishaq.

Setelah 10 tahun Ishaq menikah dengan Rifqah, lahirlah dua anak kembar. Anak pertama diberi nama Al-Aish dan anak kedua Yaqub yang lahir dengan memegang kaki saudaranya. Ishaq lebih menyayangi Al-Aish daripada Yaqub. Dari Ishaq-lah kemudian terlahir nabi-nabi Bani Israil. Menurut salah satu riwayat, Ishaq meninggal pada usia 180 tahun.

10.Ya’qub

Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1837-1690 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1750 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Syam. Beliau wafat di Alkhalil Hebron Palestina. Punya 12 anak.

Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq, dan ia memiliki saudara kembar bernama Aish. Ayahnya lebih menyayangi Aish karena ia lahir lebih dulu, sedang ibunya (Rifqah) lebih menyayangi Ya’qub karena ia lebih kecil. Ketika usianya sudah sangat lanjut, Nabi Ishaq tak dapat melihat lagi. Ia sering dilayani oleh Aish. Sedang Ya’qub sangat pendiam dan lebih senang berada di rumah mempelajari ilmu-ilmu agama.

Suatu hari, Ishaq menginginkan suatu makanan, ia meminta Aish untuk mengambilkannya. Namun atas suruhan ibunya, Ya’qublah yang lebih dulu mengambilkan makanan itu untuknya. Setelah Ya’qub melayaninya, Ishaq lalu mendoakannya, “Mudah-mudahan engkau menurunkan nabi-nabi dan raja-raja.”

Doa nabi adalah doa yang mustajab, dan memang kita ketahui dalam sejarah bahwa keturunan Ya’qub kelak akan melahirkan banyak para nabi dan raja. Aish yang mengetahui bahwa saudaranya telah mendapat doa yang baik dari ayahnya menjadi iri. Ia pun marah dan bahkan mengancam akan membunuh Ya’qub supaya keturunannya tidak ada yang menjadi nabi dan raja.

Mengetahui hal ini, Rifqah kemudian menyuruh Ya’qub agar mengungsi ke tempat pamannya, Laban bin Batwil, di kota Harran, Irak. Dalam perjalanan ke rumah pamannya, Ya’qub tidak berani berjalan di siang hari karena takut akan ditemukan dan disiksa oleh saudaranya. Ia hanya berani berjalan di malam hari, sedang bila tiba waktu siang ia beristirahat. Oleh sebab itulah ia juga dikenal dengan nama Israil, yang artinya berjalan di malam hari (asra’ yusri’ isra’ artinya berjalan malam). Kelak keturunannya pun dikenal dengan nama Bani Israil.

Laban memiliki dua orang puteri, yang pertama bernama Leah, dan yang kedua bernama Rahel, kedua duanya dinikahi Ya’qub yang pada saat itu hukum menikahi dua gadis sekandung diperbolehkan. Kepada masing-masing puterinya, Laban memberi seorang sahaya perempuan. Kepada Leah ia memberikan sahaya perempuan bernama Zulfa, dan kepada Rahel ia memberikan sahaya perempuan bernama Balhah. Leah dan Rahel kemudian memberikan sahaya mereka untuk diperistri pula oleh Ya’qub, sehingga istri Ya’qub menjadi 4 orang.

Dari keempat istrinya ini Ya’qub memperoleh 12 orang anak lelaki. Dari istrinya Leah, ia dikaruniai Ruben, Syam’un, Lewi, Yahuda, Yasakir, dan Zabulon. Dari istrinya Rahel, ia dikaruniai Yusuf dan Bunyamin. Dari istrinya Balhah, ia dikaruniai Daan dan Naftali. Dari istrinya Zulfa, ia dikarunian Jaad dan Asyir. Putra-putra Ya’qub inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya Bani Israil. Mereka dan keturunannya disebut Al-Asbath, yang berarti cucu-cucu.

Sibith dalam bangsa Yahudi adalah seperti suku dalam bangsa Arab, dan mereka yang berada dalam satu sibith berasal dari satu bapak. Masing-masing anak Ya’qub kemudian menjadi bapak bagi sibith Bani Israil. Maka seluruh Bani Israil berasal dari putra-putra Ya’qub yang berjumlah 12 orang. Dalam sibith-sibith ini kelak diturunkan para nabi, antara lain:

Dari Lewi keluar keturunan Nabi Musa, Harun, Ilyas, dan Ilyasa.

Dari Yahuda keluar keturunan Nabi Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, Isa.

Dari Bunyamin keluar keturunan Nabi Yunus.

Setelah lewat 20 tahun Ya’qub tinggal bersama pamannya, ia pun meminta izin untuk kembali kepada keluarganya di Kana’an. Saat ia hampir tiba di Kana’an, ia mengetahui bahwa Aish saudaranya telah menghadangnya dengan 400 orang, sehingga Ya’qub merasa takut dan mendoakannya serta menyiapkan hadiah besar bagi saudaranya itu yang dikirimkan melalui orang-orang utusannya. Lunaklah hati Aish mendapat hadiah pemberian saudaranya. Kemudian ia tinggalkan Kana’an bagi saudaranya lalu ia pergi ke Gunung Sa’ir. Sedangkan Ya’qub, ia pergi kepada ayahnya Ishaq dan tinggal bersamanya di kota Hebron yang dikenal dengan nama Al-Khalil. Dalam Al Qur’an, kisah Nabi Ya’qub secara tersendiri tidak ditemui, namun namanya disebut dalam kaitannya dengan nabi-nabi lain, diantaranya Nabi Ibrahim (kakeknya), dan Nabi Yusuf (putranya). Nama beliau disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 16 kali.

  1. Yusuf

Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim dari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 1745-1635 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1715 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan Heksos di Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali di dalam Al-Quran. Ia memiliki 2 anak laki dan 1 anak perempuan dan ia wafat di Nablus Palestina. Ibnu Katsir dalam kitabnya yang berjudul Qishashul Anbiya’ menuliskan bahwa Yusuf menikahi Ra’il binti Ra’ayil, janda dari Qithfir, kemudian lahirlah dua orang putra, yakni Afrayim dan Mansa.

Yusuf mempunyai 12 orang saudara lelaki dan mempunyai rupa yang tampan dan dimanja oleh bapaknya. Kasih sayang berlebihan yang diperolehnya dari Nabi Yaqub membuat iri dan dengki saudara-saudaranya. Mereka berencana untuk membunuhnya. Yahudza, anak lelaki keempat dari Ya’qub dan yang paling tampan dan bijaksana di antara mereka tidak setuju dengan rencana pembunuhan itu karena perlakuan tersebut adalah dilarang. Maka, mereka merencanakan untuk melemparkannya ke dalam sebuah sumur tua yang terletak di persimpangan jalan tempat kafilah-kafilah dagang dan para musafir beristirahat. Dengan itu, kemungkinan Yusuf akan diselamatkan dari sumur tersebut dan dibawa oleh siapa saja untuk dijadikan budak.

Al-Qur’an mengawali kisah Yusuf saat ia masih muda. Ia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud padanya (surat Yusuf,4). Yusuf di dalam Al-Qur’an dikatakan sebagai pria tertampan di dunia. Pernyataan ini digambarkan ketika Yusuf tumbuh remaja, istri tuannya yang bernama Zulaikha menggodanya karena tidak bisa menahan daya tarik ketampanannya dan setiap wanita yang melihatnya pasti terkesima, namun Yusuf menolaknya (surat Yusuf, 23). Sehingga ia mengancam Yusuf akan dipenjarakan, jika tidak mengikuti perintahnya. Namun, Yusuf tetap teguh dan ia akhirnya dipenjarakan. Yusuf dipenjarakan bersama dua orang tahanan.

Di dalam penjara, mereka mengetahui bahwa Yusuf memiliki kejujuran yang tinggi dan dapat menafsirkan mimpi (surat Yusuf, 36). Yusuf berhasil dalam menafsirkan mimpi 2 tahanan lainnya, mimpi mereka adalah bahwa salah satu dari mereka akan dihukum mati, dan yang lainnya akan dibebaskan dan kembali bekerja sebagai penuang air minum raja. Maka, Yusuf meminta pada temannya yang akan dibebaskan untuk mengemukakan masalahnya kepada raja. Namun, ketika dibebaskan, ia melupakan Yusuf, sehingga ia tetap dipenjara.

Beberapa tahun kemudian, raja bermimpi dan menanyakan apa artinya. Penuang minuman tersebut akhirnya ingat pada Yusuf, dan ia menanyakan Yusuf apa arti mimpi raja. Yusuf menafsirkan mimpi raja bahwa akan terjadi tujuh panen yang berlimpah, kemudian diikuti tujuh panen yang sedikit, dan kemudian ada tahun yang penuh dengan hujan. Raja yang mendengar tafsir Yusuf, akhirnya memanggilnya. Namun, sebelumnya Yusuf meminta kepada orang-orang yang menuduhnya ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Zulaikha akhirnya mengakui apa yang dilakukannya pada Yusuf. Yusuf akhirnya dibebaskan dan raja menghendaki ia bekerja untuknya. Yusuf akhirnya meminta agar ia ditugaskan untuk mengurus hasil bumi di negeri itu.

Pada tahun yang diramalkan paceklik, Yusuf bertemu kembali dengan saudara-saudaranya. Lalu Yusuf mengungkapkan jati dirinya pada mereka. Saudara-saudara Yusuf akhirnya meminta maaf atas tindakan mereka. Yusuf kemudian meminta mereka membawakan bajunya kepada ayahnya dan mengusapkan pada wajah ayahnya untuk memulihkan penglihatannya dan juga memerintahkan mereka untuk membawa orangtua dan keluarga mereka ke Mesir. Setelah tiba di Mesir, orang tua dan saudara-saudaranya bersujud untuk menghormatinya. Yusuf kemudian mengingatkan akan mimpinya pada masa muda yang ditafsirkan oleh ayahnya; sebelas planet, matahari, dan bulan bersujud padanya.

  1. Syu’aib

Syu’aib dari keturunan Madyan bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1600-1490 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1550 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada ahli Madyan dan Penduduk Aikah Madyan. Beliau wafat di Madyan. Nama beliau disebutkan sebanyak 11 kali di dalam Al-Quran.

Syu’aib adalah salah satu dari 4 nabi bangsa Arab. Tiga nabi lainnya adalah Hud, Shaleh, dan Muhammad. Ia seorang nabi yang dijuluki juru pidato karena kecakapan dan kefasihannya dalam berdakwah. Umat muslim meyakini bahwa Syu’aib ditetapkan oleh Allah untuk menjadi seorang nabi yang tinggal di timur Gunung Sinai kepada kaum Madyan dan Aykah. Yaitu kaum yang tinggal di pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai. Masyarakat tersebut disebut karena terkenal perbuatan buruknya yang tidak jujur dalam timbangan dan ukuran juga dikenal sebagai kaum kafir yang tidak mengenal Allah. Mereka menyembah berhala bernama al-Aykah, yaitu sebidang tanah gurun yang ditumbuhi pepohonan atau pepohonan yang lebat. Ketika berdakwah bagi kaum Madyan, Nabi Syu’aib menerima ejekan masyarakat yang tidak mau menerima ajarannya karena mereka enggan meninggalkan sesembahan yang diwariskan dari nenek moyang kepada mereka. Namun, Syu’aib tetap sabar dan lapang dada menerima cobaan tersebut.

Nabi Syu’aib mengerti bahwa kaumnya telah ditutup hatinya. Ia berdoa kepada Allah agar diturunkan azab pada kaum Madyan. Allah mengabulkan doa Syu’aib dan menimpakan azab melalui beberapa tahap. Kaum Madyan pada awalnya diberi siksa Allah melalui udara panas yang membakar kulit dan membuat dahaga. Saat itu, pohon dan bangunan tidak cukup untuk tempat berteduh mereka. Namun, Allah memberikan gumpalan awan gelap untuk kaum Madyan. Kaum Madyan pun menghampiri awan itu untuk berteduh sehingga mereka berdesak-desakan dibawah awan itu. Hingga semua penduduk terkumpul, Allah menurunkan petir dengan suaranya yang keras di atas mereka. Saat itu juga Allah menimpakan gempa bumi bagi mereka, menghancurkan kota dan kaum Madyan.

  1. Ayyub

Ayyub dari keturunan Ishaq bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1540-1420 SM. Dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1500 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Orang-orang Amoria di Huran, Syam, Palestina. Beliau wafat di Huran di Syam. Punya 26 anak. Disebutkan sebanyak 4 kali di dalam Al-Quran. Ayyub adalah putra dari Aish bin Ishaq bin Ibrahim. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Yaqub, Aish adalah saudara kembar Yaqub, jadi Ayyub masih keponakan Yaqub dan sepupu Yusuf. Sumber lain mengatakan bahwa silsilah Ayyub adalah sebagai berikut, Ayyub bin Amwas bin Zarih dari keturunan Ibrahim.

Ayyub dikisahkan sebagai seorang nabi yang paling sabar ketika mendapatkan cobaan dari Allah, bahkan bisa dikatakan bahwa kesabarannya berada di ambang puncak kesabaran. Sering orang mengagumi kesabaran kepada Ayub. Misalnya, dikatakan: seperti sabarnya Ayyub. Jadi, Ayyub menjadi simbol kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran pada setiap agama. Allah telah memujinya dalam kitab-Nya yang berbunyi:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِراً نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ – ص ﴿٤٤

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (ash-Shad: 44)

Allah telah mengujinya dengan anaknya, keluarganya dan hartanya, kemudian dengan tubuhnya. Allah telah mengujinya dengan ujian yang tidak pernah ditimpakan kepada siapa pun, tetapi ia tetap sabar dalam menunaikan perintah Allah dan terus-menerus bertaubat kepada-Nya.Setelah Nabi Ayub menderita penyakit kronis dalam jangka waktu yang cukup lama, di mana sahabat dan keluarganya telah melupakannya, maka ia menyeru Rabbnya,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّاحِمِينَ – الأنبياء ﴿٨٣

“(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya’: 83).

Dikatakan kepadanya,

ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ هَـٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ – ص ﴿٤٢

“Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (Shod: 42).

Nabi Ayyub as menghantamkan kakinya, maka memancarlah mata air yang dingin karena hantaman kakinya tersebut. Dikatakan kepadanya, “Minumlah darinya serta mandilah.” Nabi Ayyub AS melakukannya, maka Allah Ta’ala menghilangkan penyakit yang menimpa bathinnya dan lahirnya.

Kemudian Allah mengembalikan kepadanya; keluarganya, hartanya, sejumlah ni’mat serta kebaikan yang dikaruniakan kepadanya dalam jumlah yang banyak. Dengan kesabarannya itu maka ia merupakan suri teladan bagi orang-orang yang sabar, penghibur bagi orang-orang yang mendapat ujian atau ditimpa musibah serta pelajaran berharga bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

  1. Zulkifli

Zulkifli dari keturunan Ishaq bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1500-1425 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1460 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada orang-orang Amoria di Damaskus. Beliau wafat di Damaskus Syiria. Punya 2 anak. Kuburan Nabi Dzul Kifl di kota Kifl, Irak. Riwayat Zulkifli sedikit sekali disebutkan dalam Al-Qur’an. Ia adalah putra Nabi Ayub yang lolos dari reruntuhan rumah Nabi Ayub yang menewaskan semua anak Nabi Ayub. Zulkifli adalah orang yang taat beribadah. Ia melakukan sembahyang seratus kali dalam sehari.

Menurut riwayat Ibnu Jarir: ketika Al-Yasa (Nabi Ilyasa) meningkat tua, dan ingin ada yang menggantikannya kepada orang yang sesuai. Ia mengumumkan: Hanya orang yang berpuasa pada siang hari, mengingati Allah pada malam hari dan menahan diri daripada sifat marah. Salah seorang daripada mereka (Basyar) berdiri dan berkata: Aku akan patuh kepada syarat-syarat tersebut. Nabi Ilyasa mengulangi syarat-syarat itu semula sebanyak tiga kali dan lelaki yang sama berjanji dengan bersungguh-sungguh akan memenuhi syarat-syarat tersebut. Maka dia dilantik untuk membawa tugas tersebut. Dari kutipan riwayat di atas, Basyar pun dinobatkan menjadi raja. Pada masa pemimpinannya, ia berjanji kepada rakyatnya untuk menjadi hakim adil dalam menyelesaikan perkara. Karena keadilan dia, maka ia disebut sebagai Zulkifli pada masa itu.

Lalu Allah mengangkat Zulkifli  sebagai nabi dan rasul. Setelah beberapa lama menjadi raja, dia memenuhi segala janjinya, sehingga Allah memberinya ujian kepadanya dengan setan yang berkeinginan untuk menggoyahkan imannya. Setan menjelma sebagai musafir lelaki tua yang ingin membuatnya marah.  Keinginannya adalah membuat marah Zulkifli. Namun setan gagal menggodanya membuatnya marah. Lalu dia pun mengtahui bahwa musafir itu adalah setan yang mencoba membuatnya marah. Karena keberhasilan Zulkifli menahan amarah, maka oleh Allah ia diangkat sebagai seorang nabi.

Nabi Zulkifli diutus oleh Allah kepada kaum Rom agar selalu mengingat bahwa Tuhan itu satu, dan tidak menyembah berhala. Suatu ketika terjadi pemberontakan di negerinya oleh orang-orang yang durhaka kepada Allah. Zulkifli menyeru pada rakyatnya agar berperang, namun mereka semua takut mati sehingga tak seorang pun yang mau berperang. Mereka pun meminta Zulkifli untuk berdoa kepada Allah agar mereka semua tidak mati dan menang dalam perang. Zulkifli pun berdoa kepada Allah dan Allah pun mengabulkan doanya.

Zulkifli disebutkan dalam ayat Al-Qur’an dua kali yaitu dalam surat Al Anbiyaa’, 85-86 dan surat Shaad, 48.

Dari ayat di atas, sebagian muslim sependapat dengan pandangan Muhammad bin Jarir al-Tabari, mengangap Zulkifli adalah orang baik dan sabar yang selalu menolong kaumnya dan membela kebenaran, namun bukan seorang nabi. Dan sebagian lainnya percaya bahwa dia seorang nabi. Menurut tafsir Baidawi, Zulkifli seperti dengan nabi Yahudi bernama Yehezkiel yang dibawa ke Babilonia setelah kehancuran Yerusalem. Beliau dirantai dan dipenjarakan oleh Raja Nebukadnezar. Namun belaiu menghadapi segala kesusahan dengan sabar dan mencela perbuatan mungkar Bani Israil.

  1. Musa

Musa bin Imran dri keturunan Ya’qub bin Ishak. Diperkirakan hidup pada tahun 1527-1408 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1450 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Firaun Mesir dan Bani Israil di Mesir. Beliau wafat di Tanah Tih. Musa bin Imran bin Fahis bin ‘Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh. Kemudian Musa menikah dengan seorang gadis yang bernama Shafura (Shafrawa/Safora) dan memiliki keturunan berjumlah 5 orang, mereka adalah Alozar, Fakhkakh, Mitha, Yasin, Ilyas.

Nabi Musa as adalah nabi yang paling banyak namanya disebutkan dalam al-Qur’an yaitu sebanyak 136 kali. Beliau termasuk nabi yang mendapat gelar ulul ’azmi karena kesabarannya yang tinggi dalam menghadapi dan berda’wah kepada Firaun. Selain itu, dia juga nabi yang sabar dalam memimpin kaumnya yang selalu membangkang.

Dikatakan dalam kisah Rasulallah saw di perjalanannya menuju Sidrat al-Muntaha, ketika ia sampai di Langit Al-Khaliishah (Keenam), bahwa beliau melihat Musa memiliki badan yang tinggi dan kekar, berambut lebat, memiliki jenggot putih panjang menutupi dadanya, rambutnya hampir menutupi badannya dan memegang tongkat.

Pada masa kelahiran Musa, Firaun membuat peraturan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Tindakan itu diambil karena dia sudah terpengaruh oleh paranormal kerajaan yang menafsirkan mimpinya. Firaun bermimpi Mesir terbakar dan penduduknya mati, kecuali Bani Israel, sedangkan paranormalnya mengatakan kekuasaan Fir’aun akan jatuh ke tangan seorang laki-laki dari bangsa Israel. Karena cemas, dia memerintahkan setiap rumah digeledah dan jika menemukan bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh.

Ibu Musa melahirkan seorang bayi laki-laki (yaitu Musa), dan kelahiran itu dirahasiakan. Karena risau dengan keselamatan Musa, akhirnya Musa dihanyutkan ke Sungai Nil ketika berusia 3 bulan. Kemudian Musa ditemukan oleh Asiyah istri Firaun, kemudian membawanya ke istana. Melihat istrinya membawa seorang bayi laki-laki, Firaun ingin membunuh Musa. Istrinyapun melarangnya. Kemudian istri Firaun mencari pengasuh, tapi tidak seorang pun yang dapat menyusui Musa dengan baik, dia menangis dan tidak mau disusui. Selepas itu, ibunya sendiri mengajukan diri untuk mengasuh dan membesarkannya di istana Firaun.

Setelah dewasa Musa pergi dari Mesir, di mana pada suatu hari ketika Musa sedang melihat-lihat di sekitar kota Memphis, ia melihat dua laki-laki sedang berkelahi, masing-masing dari kalangan Bani Israel bernama Samiri dan bangsa Mesir bernama Fatun. Melihatkan keributan itu Musa berusaha mendamaikan mereka, tetapi dilawan oleh Fatun. Tanpa menunda Musa lalu memukul kepala Fatun, sehingga Fatun tersungkur dan tewas. Ketika laki-laki itu tewas karena tindakannya, kemudian Musa memohon ampunan kepada Allah

Lalu Musa pergi ke Madyan dan tinggal di rumah Syu’aib beberapa lama, sehingga ia menikah dengan anak gadisnya bernama Shafura. Selepas menjalani kehidupan suami istri di Madyan, Musa meminta izin Syu’aib untuk pulang ke Mesir. Dalam perjalanan, akhirnya Musa dan isterinya tiba di Bukit Sinai. Di sana beliau berbicara dengan Allah dan menerima mukjizat, yaitu tongkat menjadi ular dan tangan putih berseri-seri itu adalah dua mukjizat yang dikurniakan Allah kepada Musa. Semua keajaiban ahli sihir itu dihancurkan Musa menggunakan dua mukjizat. Hal ini menyebabkan sebagian dari kalangan pengikut Firaun, termasuk istrinya mengikuti ajaran yang dibawa Musa. Melihatkan ahli sihir dan sebagian pengikutnya beriman dengan ajaran Nabi Musa, Firaun marah, lalu menghukum golongan berkenaan. Manakala istrinya sendiri disiksa hingga meninggal dunia.

Kisah Firaun dan kekejamannya terhadap Bani Israil meninggalkan hikmah yang besar bagi umat Islam. Akibat kesombongan Firaun yang mengaku sebagai tuhan, dia pun dilaknat Allah. Ia tewas di Laut Merah bersama tentaranya saat mengejar Nabi Musa. Dan, jenazahnya kemudian diselamatkan oleh Allah SWT. Jasadnya diawetkan dan dapat ditemui hingga kini.

Dalam riwayat, ketika Firaun ditenggelamkan di Laut Merah dan akhirnya tewas, jasadnya diselamatkan oleh Allah. Menurut beberapa keterangan, setelah tenggelam, mayatnya terdampar di pantai dan ditemukan oleh orang-orang Mesir untuk diawetkan (dibalsem) hingga utuh seperti sekarang dan dapat dilihat di museum Mesir. Demikianlah kisah singkat Nabi Musa yang bisa mengalakan Firaun Dengan pertolongan Allah dan kesabarannya yang hebat tapi beliau pernah tidak bersabar ketika berguru kepada nabi Khidir.

  1. Harun

Harun bin Imran dari keturunan Ya’qub bin Ishak. Dia adalah kakak kandung dari Musa, maka silsilahnya adalah sama dengan silsilah Musa.  Diperkirakan hidup pada tahun 1531-1408 SM. Harun adalah salah seorang nabi yang telah diminta oleh Nabi Musa pada Allah dalam membantu memperkembangkan agama Allah. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1450 SM. Ia ditugaskan berdakwah kepada para Firaun Mesir dan Bani Israil di Sina, Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 19 kali di dalam Al-Quran dan wafat di Tanah Tih.

Harun dilahirkan tiga tahun sebelum Musa. Ia merupakan nabi yang diutus kepada Bani Israel ketika menggembara di Mesir, dengan menggantikan peran Musa untuk sementara ketika harus melarikan diri ke negeri Madyan. Ia yang fasih berbicara dan mempunyai pendirian tetap sering mengikuti Musa dalam menyampaikan dakwah kepada Firaun, Hamman dan Qarun. Nabi Musa sendiri mengakui saudaranya fasih berbicara dan berdebat, seperti diceritakan al-Quran. Selama ditinggal Nabi Musa untuk bersemedi di Thur Sina, Harun juga diberikan amanah untuk mengawasi dan memimpin penduduk Bani Israel dari perbuatan mungkar, dan juga menyekutukan Allah dengan benda lain

Selama kepergian Musa ke Thur Sina, berlaku ujian terhadap Bani Israel. Sebagian mereka menyekutukan Allah dengan menyembah anak lembu yang terbuat dari emas oleh Samiri. Mereka menyembah patung lembu itu setelah terpedaya dengan tipu muslihat Samiri yang menjadikannya bisa berbicara. Harun sudah mengingatkan mereka bahwa perbuatan itu adalah dosa besar, namun segala nasihat dan amaran berkaitan dengan itu tidak dipedulikan.

Selepas menyepi selama 40 hari untuk menerima panggilan Ilahi, Musa kembali kepada kaumnya dan sungguh terkejut dengan perbuatan menyembah patung sapi itu. Musa bukan saja marah kepada kaumnya, malah Harun sendiri turut ditarik kepala dan janggutnya.

Nabi Harun hidup selama 122 tahun. Dia wafat 11 bulan sebelum kematian Musa, di daerah al Tiih, yaitu sebelum Bani Israil memasuki Palestina. Mengenai Bani Israel, mereka memang keras kepala, banyak permasalahan dan sulit dipimpin, namun dengan kesabaran Musa dan Harun, mereka dapat dipimpin supaya mengikuti syariat Allah, seperti terkandung dalam Taurat ketika itu.

  1. Daud

Daud dari keturunan Yahudza bin Ya’qub. Daud adalah nabi dan rasul Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Ia diberi kitab Zabur dan merupakan Raja Israel. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ia orang yang dapat mengalahkan Jalut dan diberi mukjizat dapat melunakkan dan membengkokkan besi. Sedangkan Jalut atau disebut Goliat adalah seorang prajurit Filistin, terkenal karena pertempurannya dengan Daud. Nama Jalut atau Goliat disebut dalam kitab Perjanjian Lama dan Al-Qur’an.  Daud diangkat menjadi nabi pada tahun 1010 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina.

Diperkirakan Dawud hidup selama 70 hingga 106 tahun. Dawud di kebumikan di Baitul Maqdis, Palestina dan tahtanya di gantikan oleh putra tunggalnya yaitu Sulaiman. Namanya disebutkan sebanyak 16 kali di dalam Al-Quran.

Di antara para nabi Allah yang lain, ia menerima wahyu berupa Zabur. Ia selalu mengingat setiap bacaan kitab Zabur dan sangat fasih dengan suara yang merdu dalam membacanya, sehingga membuat pegunungan dan burung ikut bertasbih.

Daud juga disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai anak muda yang berhasil membunuh Jalut (Goliath), ketika Bani Israel sangat takut untuk berhadapan dengannya, padahal pasukan Daud sendiri sudah sangat kuat.

  1. Sulaiman

Sulaiman bin Daud dari keturunan Yahudza bin Ya’qub. Dia merupakan seorang raja Israel, dan anak raja Daud, diperkirakan hidup pada tahun 989-931SM. Sejak kecil ia telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 970 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Beliau wafat di Rahbaam Baitul Maqdis, Palestina. Namanya disebut sebanyak 27 kali di dalam Al-Quran.

Setelah Sulaiman as cukup umur dan ayahnya wafat, Sulaiman as diangkat menjadi raja di kerajaan Israil. Ia berkuasa tak hanya atas manusia, namun juga atas binatang dan makhluk halus seperti jin dan lain-lain. Beliau dapat memahami bahasa semua binatang. Sulaiman as dianugerahkan Allah kebijaksanaan sejak remaja. Ia juga memiliki berbagai keistimewaan, termasuk mampu berbicara dan memahami bahasa hewan sehingga semua makhluk itu mengikuti kehendaknya. Ia juga dapat menundukkan jin dan angin, sehingga dapat disuruh melakukan apa saja, termasuk mendapatkan tembaga cair yang selalu keluar dari perut bumi untuk dijadikan perkakasan, bangunan istana dan benteng.

Istana Nabi Sulaiman sangat indah. Dibangun dengan gotong royong manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam, tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi mutiara, dan sebagainya.

Kisah Sulaiman as harus dikaitkan dengan kisah ratu Balqis. Kisah Ratu Balqis dan Sulaiman as tertulis secara jelas dalam Al-Qur’an surat An-Naml, 20-44. Balqis adalah seorang ratu bijaksana, ketua negara dan pemerintahan dari Negara Saba’ (Yaman) di masa hidup Sulaiman as yang penduduknya mengingkari keesaan Allah yaitu menyembah matahari. Kisah ini berurai panjang yang tidak cukup diceritakan di dalam kitab ini. Yang penting kisah Balqis dan Sulaiman as merupakan sebahagian dari sejarah kehidupan manusia. Dari sejarah ini kita dapat banyak belajar tentang perilaku yang dikehendaki oleh Allah, apalagi sumber sejarahnya adalah Al-Qur’an yang tetap terjaga kemurnian isinya. Pemimpin yang bijaksana dan pandai tidak dapat diukur dari jenis kelaminnya, lelaki dan perempuan dapat menjadi pemimpin suatu negara atau institusi (kecuali dalam hal rumahtangga, terkait status suami-isteri ada hukum tersendiri), asal dia memenuhi syarat-syarat untuk menjadi seorang pemimpin.

Terakhir, kisah tentang kematian nabi Sulaiman yang sangat mena’jubkan. Ketika Sulaiman as sedang mengawasi jin-jin bekerja, malaikat maut mencabut nyawa Sulaiman as. Namun, jasadnya masih berdiri tegak memegang tongkatnya. Para jin terus bekerja. Mereka tidak menyadari bahwa Sulaiman as telah wafat.

Kemudian, Allah memerintahkan rayap untuk memakan tongkatnya. Sebagian dari tongkat Sulaiman as dimakan oleh rayap-rayap selama beberapa hari. kemudian tongkat itu pun menjadi rusak dan jatuh dari tangan Sulaiman as.

Jasad Sulaiman as tersungkur dan terhempas ke bumi. Melihat kejadian itu, para jin menghentikan kerjanya. Secepat mungkin mereka berlari. Mereka merasa tersiksa dan hina karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal-hal yang gaib.

  1. Ilyas

Ilyas bin Yasin bin Fanhas dari keturunan Harun bin Imran. Diperkirakan hidup pada tahun 910-850 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 870 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Orang-orang Phiniq di Ba’labak di Syam. Kota Baalbak diambil dari nama berhala yang mereka sembah Baal. Nama Ilyas as disebutkan sebanyak 2 kali di dalam Al-Quran. Kisahnya disebut dalam alqur’an dalam surat ash-Shaffat: 123-132.

Nabi Ilyas diutus untuk berdawah kepada kamunya. Mendengar ajakan dari Nabi Ilyas, kaum Bani Israil begitu marah. Bahkan kaum Bani Israil terang-terangan menghina dan mengejek Nabi Ilyas. Walaupun begitu, Nabi Ilyas tetap sabar dan berulang kali memperingatkan kaumnya, namun mereka tetap durhaka. Karena itulah Allah menurunkan musibah kekeringan selama bertahun-tahun, sehingga mereka baru tersadar bahwa seruan Nabi Ilyas itu benar. Setelah kaumnya tersadar, Ilyas as berdoa kepada Allah agar musibah kekeringan itu dihentikan. Namun setelah musibah itu berhenti, dan perekonomian mereka memulih, mereka kembali durhaka kepada Allah. Akhirnya kaum Nabi Ilyas kembali ditimpa musibah yang lebih berat daripada sebelumnya, yaitu gempa bumi yang dahsyat sehingga mereka mati bergelimpangan. Menurut kisah Islam ia tidak wafat tetapi diangkat ke sisi Allah

  1. Ilyasa’

Ilyasa’ (Al-Yasa) bin Akhtub dari keturunan Ya’qub. Menurut Ibnu Katsir, ia menuliskan silsilah Al-Yasa melalui ayahnya yang bernama Ukhtub, sampai kepada keturunan Harun. Diperkirakan hidup pada tahun 885-795 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 830 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan orang-orang Amoria di Panyas, Syam. Beliau wafat di Palestina. Disebutkan sebanyak 2 kali di dalam Al-Quran, yaitu pada surah al-An’am, 86 dan surah Shaad, 48.

Al-Yasa’ adalah nabi selanjutnya untuk bangsa Israel. Al-Yasa’ menunjukkan banyak mukjizat untuk menunjukkan kekuasaan Allah, tetapi mereka malah menyebutnya tukang sihir, sama seperti ketika mereka menyebut Nabi Ilyas sebelumnya. Mereka terus membangkang sepanjang hidup Al-Yasa’. Setelah beberapa lama, bangsa Israel ditaklukkan oleh Bangsa Assyria, kemudian bangsa ini menghancurkan Kuil Gunung dan menyebabkan kerusakan parah di Syam.

Nama Al-Yasa disebut dalam kisah Nabi Ilyas, saat rasul itu dikejar-kejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah Al-Yasa. Maka besar kemungkinan Al-Yasa juga tinggal di seputar lembah sungai Jordan.

Ketika Ilyas bersembunyi di rumahnya, Al-Yasa masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita sakit kemudian Ilyas membantu menyembuhkan penyakitnya. Setelah sembuh, Al-Yasa pun menjadi anak angkat Ilyas yang selalu mendampingi untuk menyeru ke jalan kebaikan. Al-Yasa melanjutkan tugas kenabian tersebut begitu Ilyas meninggal dunia. Al-Yasa melanjutkan misi ayah angkatnya, agar kaumnya kembali taat kepada ajaran Allah.

Al-Yasa’ kemudian mendapati bahwa manusia ternyata begitu mudah kembali ke jalan sesat. Itu terjadi tak lama setelah Ilyas wafat. Padahal masyarakat lembah sungai Yordania itu sempat mengikuti seruan Ilyas agar meninggalkan pemujaannya pada berhala. Pada kalangan itulah Ilyasa tak lelah menyeru ke jalan kebaikan. Dikisahkan bahwa mereka tetap tak mau mendengar seruan Al-Yasa’, dan mereka kembali menanggung bencana kekeringan yang luar biasa.

  1. Yunus

Yunus bin Matta dari keturunan Bunyamin bin Ya’qub. Diperkirakan hidup pada tahun 820-750 SM. Yunus adalah salah seorang nabi dalam agama Samawi yang disebutkan dalam Al-Qur’an dalam Surah Yunus dan dalam Alkitab dalam Kitab Yunus. Ia ditugaskan berdakwah kepada orang Assyiria di Ninawa-Iraq. Namanya disebutkan sebanyak 6 kali di dalam Al-Quran dan wafat di Ninawa-Iraq. Ibnu Sa’d mengatakan bahwa Yunus bin Matta dari keturunan Benyamin bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Yunus bin Mata diutus oleh Allah untuk menghadapi penduduk Ninawa, suatu kaum yang keras kepala, penyembah berhala, dan suka melakukan kejahatan. Secara berulang kali Yunus memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau berubah, apalagi karena Yunus bukan dari kaum mereka. Hanya ada 2 orang yang bersedia menjadi pengikutnya, yaitu Rubil dan Tanuh. Rubil adalah seorang yang alim bijaksana, sedang Tanuh adalah seorang yang tenang dan sederhana.

Nabi Yunus tidak tahan lagi dengan kaum Ninawa yang keras kepala. Ia pergi dengan marah dan jengkel sambil meminta Allah menghukum mereka. Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa gelisah, karena mendung gelap, binatang peliharaan mereka gelisah, wajah mereka pucat pasi, dan angin bertiup kencang yang membawa suara bergemuruh. Mereka takut ancaman Yunus benar-benar terjadi atas mereka. Akhirnya mereka sadar bahwa Yunus adalah orang yang benar. Mereka kemudian beriman dan menyesali perbuatan mereka terhadap Yunus. Mereka lari tunggang langgang dari kota mencari Yunus sambil berteriak meminta pengampunan Allah atas dosa mereka. Allah Yang Maha Pemaaf-pun mengampuni mereka, dan segera seluruh keadaan pulih seperti sedia kala. Penduduk Ninawa kemudian tetap berusaha mencari Yunus agar ia bisa mengajari agama dan menuntun mereka di jalan yang benar.

Keadaan Yunus setelah pergi dari Ninawa tidak menentu. Ia mengembara tanpa tujuan dengan putus asa dan merasa berdosa. Akhirnya ia tiba di sebuah pantai, dan melihat sebuah kapal yang akan menyeberangi laut. Ia menumpang kapal itu, dan ketika telah berlayar tiba-tiba terjadi badai yang hebat. Kapal bergoncang, dan para penumpang sepakat untuk mengurangi beban dengan membuang salah seorang di antara mereka ke laut. Undian pertama jatuh pada Yunus, namun undian diulang karena penumpang merasa Yunus tidak layak dibuang sedang ia orang yang mulia. Tapi pada pengulangan yang kedua, dan ketiga, tetap nama Yunus yang keluar. Yunus sadar itu adalah kehendak Allah, ia kemudian rela menjatuhkan diri ke laut. Allah kemudian mengirim ikan Nun (paus) untuk menelan Yunus.

Di dalam perut ikan Nun, Yunus bertobat meminta ampun dan pertolongan Allah, ia bertasbih selama 40 hari dengan berkata: “Laa ilaaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minadzh dzhalimiin” (Tiada tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang yang telah berbuat dhalim)” Allah mendengar doa Yunus, dan Memerintahkan ikan nun mendamparkan Yunus di sebuah pantai. Kemudian ia diperintahkan kembali ke Ninawa, dimana ia kemudian kaget melihat perubahan penduduk Ninawa yang telah beriman kepada Allah. Yunus kemudian mengajari mereka tauhid dan menyempurnakan iman mereka.

  1. Zakaria

Zakaria dari keturunan Sulaiman bin Daud. Zakaria bersaudara kandung dengan Imran, dan diperkirakan hidup pada tahun 91-31 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 2 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestin. Beliau wafat di Syam. Disebutkan sebanyak 8 kali di dalam Al-Quran. Ia memiliki satu orang anak dan wafat di Syam.

Nabi Zakariya adalah keturunan Nabi Sulaiman. Ia diutus pada kaum Bani Israil. Sudah sejak lama Nabi Zakariya menginginkan mendapat seorang anak. Suatu hari datanglah janda Imran menyerahkan bayi perempuannya (Maryam) pada Nabi Zakariya untuk diasuh dan dibesarkan sesuai dengan nazarnya. Maryam memiliki kelebihan yang luar biasa dari Allah, seperti Allah mendatangkan hidangan dari langit. Zakariya takjub dan tergetar. Ia ingin mendapat kemuliaan dari Allah, sebagaimana Maryam mendapatkannya.

Nabi Zakaria sadar banyak anggota keluarganya dari Bani Israil merupakan orang yang tidak beradab dan gemar bermaksiat karena kedangkalan iman mereka. Ia khawatir bila tiba ajal dan tidak mempunyai keturunan yang dapat memimpin kaumnya, sehingga mereka akan semakin merajalela dan sangat mungkin mengadakan perubahan-perubahan di dalam kitab suci Taurat dan menyalahgunakan hukum agama.

Kecemasan itu mengusik pikiran Zakaria, dan ia sedih karena belum juga mempunyai keturunan walau telah berusia 90 tahun. Ia agak terhibur ketika mengasuh Maryam yang dianggap sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi rasa sedihnya dan keinginanya untuk memperoleh keturunan timbul kembali ketika ia menyaksikan hidangan makanan di mihrab Maryam. Ia berfikir di dalam hatinya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Allah yang telah memberi rezeki kepada Maryam dalam keadaan seorang diri dan tidak berdaya. Allah pasti berkuasa memberinya keturunan bila dengan kehendak-Nya walaupun usianya sudah lanjut dan rambutnya sudah penuh uban.

Maka ia bermunajat kepada-Nya, memohon dikaruniai anak. Allah berfirman melalui malaikat Jibril bahwa Nabi Zakariya akan dikaruniai anak bernama Yahya, dengan tanda tak bisa bicara selama 3 hari 3 malam.Setelah itu istrinya mengandung dan melahirkan anak lelaki dan diberi nama Yahya. Seperti ayahnya, Yahya juga seorang nabi.

  1. Yahya

Yahya bin Zakaria dari keturunan Sulaiman bin Daud. Diperkirakan hidup pada tahun 1SM – 31M dan diangkat menjadi nabi pada tahun 28M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestin. Wafat di Damaskus Syiria.

Yahya adalah Nabi Islam yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Diyakini bahwa Yahya hidup selama 30 tahun. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 28 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 4 kali di dalam Al-Quran dan wafat di Damaskus Syiria.

Nabi Yahya tidak banyak diuraikan dalam Qur’an. Hanya dijelaskan ia dikaruniai hikmah dan ilmu semasa kanak-kanak. Ia hormat pada orang tuanya, dan tidak sombong ataupun durhaka. Ia pintar dan tajam pemikirannya. Ia beribadah siang malam sehingga tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat, dan matanya cekung.

Pada masa itu, Herodes seorang penguasa Palestina merencanakan akan menikah dengan kemenakannya sendiri yaitu Hirodia. Hirodia sendiri merasa senang jika diperistri oleh seorang raja. Yahya melarang pernikahan ini karena bertentangan dengan syariat kitab Taurat dan Zabur. Seluruh istana pun gempar, mereka setuju dengan pendapat Yahya. Sehingga membuat raja menjadi malu dan murka, kemudian ia dan Hirodia berusaha mencari jalan untuk membungkam mulut Yahya dengan cara apapun. Yahya as mati dibunuh di usia muda dan dianggap sebagai nabi yang telah mati syahid. Ia mati syahid karena telah dipenggal oleh sang raja atas keinginan keponakannya tersebut.

  1. Isa

Isa bin Maryam binti Imran dari keturunan Sulaiman bin Daud. Diperkirakan hidup pada tahun 1SM-32M dan diangkat menjadi nabi pada tahun 29M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestin. Beliau tidak wafat melainkan diangkat ke sisi Allah. Nabi Isa as disebut sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran.

beliau adalah nabi yang mendapat julukan ulul ’azmi karena banyak memiliki kesabaran dan keteguhan dalam menyampaikan ajaran Allah. Terutama, ketika nabi Isa as sabar menerima cobaan sebagai seorang yang miskin, pengkhianatan muridnya, menghadapi fitnah, hendak diusir dan dibunuh oleh kaum Bani Israil. Kehidupan nabi Isa as menggambarkan kezuhudan dan ketaatan dalam beribadah.

Isa as diyakini mendapatkan gelar dari Allah dengan sebutan Ruhullah dan Kalimatullah. Karena Isa dicipta dengan kalimat Allah “Kun fa yakun = Jadilah!”, maka terciptalah Isa, sedangkan gelar ruhullah artinya ruh dari Allah karena Isa langsung diciptakan Allah dengan meniupkan ruh kedalam rahim Maryam binti Imran, maka hamillah Isa as.

Menurut teks-teks Islam, Isa diutus kepada Bani Israil, untuk mengajarkan tentang ke-esaan Allah dan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Muslim percaya Isa as telah dinubuatkan dalam Taurat, membenarkan ajaran-ajaran nabi sebelumnya. Isa digambarkan juga dalam ajaran Islam, memiliki mukjizat sebagai bukti kenabiannya, seperti berbicara sewaktu masih bayi, memberikan nyawa pada burung yang terbuat dari tanah liat, menyembuhkan orang yang terkena lepra, menyembuhkan orang tuna netra, membangkitkan orang mati dan meminta makanan dari surga atas permintaan murid-muridnya. Al-Qur’an menerangkan dalam surat An Nisaa’:157 bahwa Isa tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah seperti Isa as. Muslim menyangkal adanya penyaliban dan kematian atas diri Isa as ditangan musuhnya. Al-Qur’an menerangkan Yahudi mencari dan membunuh Isa, tetapi mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibkannya. Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah yang tahu tentang hal ini. Al Qur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini.

Dari keterangan hadist Muhammad diceritakan bahwa menjelang hari kiamat Isa as akan diturunkan kembali oleh Allah dari langit ke bumi. Peristiwa itu tergambar dari hadist Nabi saw. Menurut Islam, hal pertama yang dilakukan Isa as setelah turun dari langit adalah menuaikan shalat. Isa akan menjadi makmum dalam shalat yang diimami oleh Imam Mahdi. Adapun lokasi turunnya Isa dijelaskan oleh Rasulallah saw dalam sebuah hadist berikut:

“Isa ibnu Maryam akan turun di ‘Menara Putih’ (Al Mannaratul Baidha’) di Timur Damsyik.” (HR.Thabrani dari Aus bin Aus).

Kedatangan Isa akan didahului oleh kondisi dunia yang dipenuhi kedzaliman, kesengsaraan dan peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia, setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan Dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi, setelah Dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Isa as akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal.Turunnya Isa ke bumi mempunyai misi menyelamatkan manusia dari fitnah masihid Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama, ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah. Dajjal pun mati dibunuh oleh Isa as. Setelah membunuh Dajjal, nabi Isa menyelamatkan ummat manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj.

Dikisahkan, fitnah dan kejahatan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) sangat besar dan menyeluruh, tiada seorang manusiapun yang dapat mengatasinya. Mereka telah keluar dari dinding tembaga yang mengurung mereka sejak zaman raja Zulkarnain sebagaimana di sebut dalam Al-Qur’an dalam surat al-Kahfi. Dahsyatnya fitnah Ya’juj dan Ma’juj digambarkan dalam sebuah hadist Rasulallah saw sebagai berikut: Dinding Ya’juj dan Majjuj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah:

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ – الأنبياء ﴿٩٦

”Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al Anbiyaa’, 96)

Setelah Isa as menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman, Allah akan mewafatkan dia. Hanya Allah saja yang tahu kapan dan dimana Isa as akan diwafatkan. Setelah wafatnya Isa Al-Masih kemudian dunia akan mengalami kiamat. Ajaran Islam menganggap Isa as hanya sebagai utusan Allah saja. Kepercayaan yang menganggap Isa sebagai Allah atau Anak Allah, menurut Islam adalah perbuatan syirik

25.Muhammad

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib dari keturunan Ismail bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 571M-632M dan diangkat menjadi nabi pada tahun 610M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada seluruh manusia dan alam semesta. Tinggal di Mekkah dan Madinah. Wafat di Madinah. Meninggalkan 7 orang anak. Rasulallah saw namanya disebutkan hanya 5 kali di dalam Al-Quran.

Beliau mendapat julukan ulul ’azmi karena sejak kecil sampai dewasa, Rasulallah saw selalu mengalami masa-masa sulit. Pada usia 6 tahun dia sudah menjadi yatim piatu. Setelah dewasa ia harus membantu meringankan beban paman yang merawatnya sejak kecil. Tantangan terberat yang dihadapi adalah setelah diangkatnya menjadi seorang rasul. Penentangan bukan saja dari orang lain, tetapi juga dari Abu Lahab, pamannya sendiri. Rasulallah saw juga harus ikut menderita tatkala Bani Hasyim diboikot (diasingkan) di sebuah lembah dikarenakan dakwahnya. Dan masih banyak lagi kesabaran dan masa masa sulit yang dihadapi beliau dari mulai lahir sampai beliau wafat. (Sejarah beliua akan dibahas lebih lanjut dalam kitab ini insya Allah).

Ulul ’Azmi

Dari 25 Rasul tersebut, terdapat 5 Rasul yang mempunyai sifat Ulil ’Azmi diantara mereka ialah Rasulallah saw, nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Isa as dan nabi Nuh as, seperti yang telah disebut diatas.

Mereka  yang memiliki sifat Ulil ’Azim adalah Rasul-Rasul yang mempunyai keteguhan hati yang sangat mengagumkan, tabah luar biasa, sabar dan kesabarannya tidak terbatas, meskipum mereka mendapatkan berbagai macam celaan, hinaan, tantangan yang menyakitkan namun mereka tetap teguh, sabar, dan senantiasa bertwakal dalam menyampaikan ajarannya kepada manusia.

http://hasanassaggaf.wordpress.com/2010/06/02/ringkasan-sejarah-25-rasul/

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | 19 Comments »

♣ Mata

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 12, 2010

MATA
Oleh: Hasan Husen Assagaf

Pagar rumah Habib Zen bin Abdullah Alaidrus di sebelah masjid
Krukut-Jakarta, zaman dulu dikelilingi dengan tembok tinggi sehingga orang
dari luar tidak bisa melihat kedalam. Di sebelah ujung pagar ada pintu kayu
kecil cukup untuk ukuran dua orang bisa masuk. Pas masuk, kelihatan ada
halaman di sebelah kanan yang ditanami pohon jambu, pepaya dan lainnya. Di
sebelah kiri ada kamar mandi kecil untuk tamu, baru setelah itu beranda,
ruang tamu dan majlis lebar yang mana Habib Zen gunakan untuk menerima
tamu-tamunya. Orang orang zaman dulu kelihatanya hidupnya
sangat mudah, gampang dan selalu happy.

Pernah salah satu dari tamu Habib Zen yang datang kerumahnya, menurut cerita
yang saya dengar dari beliau, agak antik dan model pelotokan. Ia datang
bertamu untuk ngobrol-ngobrol di waktu sore selepas asar. Sebelum magrib
tamu itu permisi pulang dan diantar Habib kita sampai ke halaman depan. Di
halaman rumah, matanya jelatatan kekiri kekanan, keatas kebawah dan terakhir
pandanganya mentok ke pohon pepaya yang ditanam di pojok halaman rumah.
Bibitinya dari cibinong, buahnya sarat luar biasa, besar besar bergelendotan
di ujung batang pohon pepaya dan masih hijau hijau belum matang. Tamu itu
berhenti sejenak memandang pohon pepaya itu dengan pandangan yang tajam dan
ta’ajub, kemudian berlalu.

Percisnya dua hari setelah kejadian itu, pohon pepaya itu layu, daunya
mulai menguning, dari selah buah pepaya keluar getah putih, dan terlihat
tanda tanda yang mana pohon pepaya itu akan mati. Selepas seminggu, memang
betul pohon pepaya itu mati total, buahnya berjatuhan, daunya mengering dan
batangnya mengeropok. Habib Zen menjelaskan bahwa mata tamu yang datang
seminggu yang lalu panas sehingga pohon pepaya itu mati kena matanya.

*****

Mata itu ada dua macam. Ada mata yang sifatnya sejuk, adem, dingin, dan tidak
mempunyai reaksi apa apa jika memandang. Mata semacam ini memancarkan
kebeningan, kesejukan dan keindahan hati. Orang yang hatinya baik, wajahnya
akan jauh lebih bersih dan matanya akan nampak lebih jeli dan jernih. Tidak
tersimpan didalamnya rasa dengki, hasut dan ingin menjatuhkan. Mata semacam
ini bagaikan embun di pagi hari yang cerah, lalu terpancari sinar mata hari
pagi, jernih , dan menyegarkan. Pancaran mata pun akan nampak dari setiap
gerak gerik yang dilakukan.

Ada lagi mata yang sifatnya panas, tajam, dan menembus tujuan. Mata semacam
ini memancarkan kekeruhan, keresahan dan keburukan hati yang tersimpan
didalamnya rasa benci, hasut, licik, dengki, tidak puas, ingin menjatuhkan
sesama dan tidak menginginkan kebahagiaan dan kesenangan orang lain.

Rasulallah saw telah mengajarkan kita jika melihat sesuatu yang menyenangkan
atau mena’jubkan, hendaknya berkata “Bismillah Masya Allah La Quwwata Illah
billah”, karena mata itu mempunyai HAK, sebagaimana sabda beliau dari Anas
bin Malik “Barang siapa yang melihat sesuatu yang mena’jubkanya dan berkata
Masya Allah La Quwwata Illa Billah maka tidak akan kena mata”.

“Dan mengapa kau tidak mengucapkan tetkala kamu memasuki kebunmu (Masya
Allah La Quwwata Illaa Billah) sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit
darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka mudah mudahan Tuhanku akan
memberikan kepadaku kebun yang lebih baik dari pada kebunmu, dan mudah
mudahnan Dia mengirimkan petir dari langit kepada kebunmu sehingga kebun itu
menjadi tanah yang licin” al Kahfi, 39-40

Bukankan Rasulallah pernah merangkul kedua cucunya yang sangat dicintai,
Hasan dan Husen, sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah,
meminta perlindungan dari Yang Maha Pelindung bagi kedua cucu beliau agar
dihindari dari mata-mata yang tajam dan jahat (kena mata), sesuai dengan
haditsnya:

رواه البخاري وفي رواية عند الترمذي عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ وَيَقُولُ هَكَذَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يُعَوِّذُ إِسْحَقَ وَإِسْمَعِيلَ عَلَيْهِمْ السَّلام .
Rasulallah saw memohon perlindungan bagi Hasan dan Husen sebagaimana Ibrahim
memohon perlindungan bagi Ismail dan Ishaq. Beliau berkata “Aku berlindung
kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat Nya yang sempurna dari syaitan
yang sesat, binatang berbisa yang menyengat, dan dari setiap mata yang
jahat”.- Bukhari dari Ibu Abbas ra.

Jelasnya, dari hadits diatas kita bisa mengambil suatu difinisi bahwa ada
penyakit yang dikenai diri seseorang disebabkan oleh karena pengaruh a’in
(mata) yang jahat, tajam, dan menembus tujuan, yang tersimpan didalamnya
rasa dengki, hasut, benci, ingin menjatuhkan, dan tidak menginginkan
kebahagian orang lain.

Kadang kadang kita dapatkan lafadh lafadh atau ayat ayat al-Quran
digantungkan di dinding rumah yang bersifat sebagai penawar atau penjaga
dari mata-mata panas yang tidak menginginkan kebahagian atau keharmonisan
rumah tangga orang, seperti ayat Kursi misalnya, surat al Falaq, surat an
Nas, atau surat al Ikhlas dll yang banyak sekali kita dapatkan dalam kitab
suci al Quran.

Ada lagi orang yang menggunakan pembacaan ayat ayat tertentu dalam kitab suci
al-Quran sebagai penyembuhan dari suatu penyakit atau untuk penangkal dan
menolak a’in (kena mata), ini dalam ilmu syariat disebut Ruqyah dan dalam
agama diperbolehkan menggunakan ruqyah bila penggunaanya bersih dari hal hal
yang bertentangan dengan syariat Allah, karena Rasulallah telah memberi
keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati a’in atau yang disebut kena
mata, kemasukan setan dan jin, binatang berbisa dan sebagainya.

Ada lagi yang dinamakan Tamimah yaitu sesuatu yang digantungkan di leher
anak anak yang baru lahir untuk penangkal dan menolak penyakit a’in (kena
mata). Jika yang dikalungkan itu dari ayat ayat al-Quran maka agama
meberikan keringanan dalam hal ini.

Berapa banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter atau thabib
kecuali dengan rumusan kitab suci dan hadits Nabi. Imam Ghozali dalam
bukunya ” Mukasyafatul Qulub ” yang kalau diterjemahkan menjadi Mesteri
Ketajaman Mata Hati, imam besar ini menyebutkan bahwa membaca kitab suci
dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus dan menyembuhkan segala
macam penyakit. Di dalam kitab suci, ada mantera-mantera gaib dan kekuatan
sabda yang mampu menyembuhkan penyakit yang tidak mampu disembuhkan thabib.
Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi bercahaya dan tubuh yang
sakit menjadi a’fiyah.

Satu contoh yang ringan, pernah hal ini dilakukan oleh Abul Qasim Al
Qusyairi di saat anaknya sakit keras yang tidak bisa disembuhkan oleh
puluhan thabib. Lalu ia berziarah kemaqam Rasulallah saw dan duduk di Raudhotun
Nabi (antara mimbar dan maqam Rasulallah saw). Di sana Abul Qasim berdoa dengan
khusyunya. Kemudian ia tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Abul Qasim
Rasulallah saw. Ia mengadukan halnya dan kesusahannya kepada beliau.
Rasulallah saw berkata “Bacalah bagi anakmu enam ayat-ayat syifa
(penyembuhan)”.

Abul Qasim Al Qusyairi terperanjat bangun dari tidurnya dan berlari tergopoh
gopoh menuju kerumahnya dan dilakukan apa yang telah diwasitkan Nabi saw
dalam mimpinya. Maka berkat ayat-ayat itu, Allah menyembuhkan anaknya dari
penyakitnya..

Adapun enam ayat ayat itu adalah:

1 – Ayat 14 dari surat At Taubah
“dan menyembuhkan hati orang-orang yang beriman”

2 – Ayat 57 dari surat Yunus
“dan menyembuhkan bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk
serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”

3 – Ayat 69 dari surat An Nahl
“di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia”

4 – Ayat 82 dari surat Al Isra’
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang orang yang beriman”

5 – Ayat 80 dari surat Al Syua’ra
” dan apa bila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku”

6 – Ayat 44 dari surat Fussilat
“Katakanlah: Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang
beriman”

Agar jangan sampai kena mata, kita sebagi manusia yang diberi ni’mat dari
Allah, jangan lupa harus bisa menjaga ni’mat itu, dan harus bisa
mensyukurinya dengan baik agar ni’mat ni’mat itu ditambah dan tidak hilang
atau dicabut. Imam kita Syafi’i berkata : “Jika anda dalam suatu keni’matan,
maka jagalah. Sesungguhnya perbuatan ma’siat itu bisa menghilangkan ni’mat”.

Pernah Rasulallah saw berjalan dari rumahnya menuju ke masjid al Haram di
waktu subuh. Selamanya beliau melewati pintu Assalam (Bab Assalam) jika
ingin memasuki masjid alharam. Setibanya beliau di muka ka’bah, beliau
melihat malaikat Jibril bergelendotan di pintu ka’bah (Multazam) sambil
menangis dan merenge- renge. Tentu semua orang yang berada disekitarnya
tidak ada yang bisa melihatnya kecuali Rasullalah saw. Beliau mendekati
Jibril dan ingin tahu apa gerangan yang diminta dan direngei. Jibril,
malaikat yang menjadi perantara antara Allah dan Rasullah disaat turun
wahyu. Jibril yang mempunyai maqam dan derajat yang tinggi luar biasa di
sisi Allah, tapi masih merenge-renge, berdoa dan memohon kepada Allah.

Secara diam-diam Rasullallah saw mendekatinya dan ingin mendengar apa yang
diminta Jibril as. Anda tahu apa kiranya yang diminta Jibril as, beliau
berdoa : ” Ya Wajed, Ya Majid La Tuzil A’nni Ni’matan Ana’mta Biha
A’laiyya”. Artinya kurang lebih: “Ya Allah Yang Maha Berada dan Maha Luhur
janganlah engkau cabut ni’mat yang Engkau telah berikan padaku”

Doa kecil dari Habib Zen tapi penuh dengan hikmah.

Wallahua’lam,
Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »

♣ Pohon Yahudi.. Al-Gharqad

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 18, 2009

Hadist Imam besar Muslim ra dari Abi Hurairah ra sesungguhnya Rasullah saw bersabda “Tidak akan bangkit hari Kiamat kecuali orang Islam memerangi Yahudi dan membunuh mereka sampai sampai mereka bersembunyi di belakang batu dan pohon. Kemudian batu dan pohon tadi berkata: Wahai muslim ini dibelakangku ada seorang Yahudi, bunuhlah dia kecuali pohon Al-gharqad sesungguhnya pohon itu adalah pohon orang yahudi .. baca artikel ini… https://hasanalsaggaf.wordpress.com/2009/01/08/yahudi/

pohon-gharqad

Pohon ini ditanam hampir disetiap rumah di Israil. Jelasnya, mereka atau Yahudi mempercayai betul hadith ini..

Hasan Husen Assagaf .

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Dengan kaitkata: , , , | 31 Comments »

♣ Kasak Kusuk Di Tahun Hijriah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Januari 1, 2009

KASAK KUSUK DI TAHUN HIJRIAH

images (1)

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Sampai saat wafat Rasullah saw belum ada penetapan kalender Islam yang dipakai sebagai patokan penanggalan. Pada waktu itu, catatan yang dipergunakan kaum muslim belum seragam. Ada yang memakai tahun gajah, peristiwa bersejarah, yaitu tahun penyerangan Abrahah terhadap kab’bah dan kebetulan pada saat itu bertepatan dengan tanggal kelahiran Rasullah saw. Ada pula yang mengunakan tahun diutusnya Rasulallah saw sebagai nabi, atau awal penerimaan wahyu. yang penting mereka belum mepunyai penanggalan yang tetap dan seragam. Pada zaman khalifah Abubakar ra sudah mulai para sahabat melontarkan gagasan tentang perlunya adanya penanggalan. tapi belum pula diterapkan.

 

Penetapan penanggalan yang dipakai oleh umat Islam dimulai pada zaman khalifah Umar ra. Menurut keterangannya, ide ini diterapkan setelah beliau menerima sepucuk surat dari Abu Musa al-asy’ari yang menjadi gubernur di Bashrah, isinya menyatakan ”Kami telah banyak menerima surat perintah dari anda tapi kami tidak tahu kapan kami harus lakukan. Ia bertanggal Sya’ban, namum kami tidah tahu Sya’ban yang mana yang dimaksudkan?”

 

Rupanya surat Abu Musa diterima oleh khalifah Umar ra sebagai saran halus tentang perlu ditetapkannya satu penanggalan (kalender) yang seragam yang dipergunakan sebagai tanggal bagi umat Islam.

 

Budaya penanggalan ini rupanya belum ada dalam Islam sedangkan penanggalan Masehi sudah diterapkan sebelum adanya Islam beberpa abad lalu.  Tapi Islam adalah agama yang menerima budaya dari luar semasih budaya itu baik dan tidak bertentangan dan keluar dari rel agama. contohnya; disaat Rasulallah saw berada di Madinah beliau melihat orang2 Yahudi berpuasa pada tanggal 10 muharam. Beliau bertanya kenapa mereka berpuasa.Lalu dijawab karena hari itu nabi Musa as diselamatkan dari serangan Firau. Rasulallah saw mejawab “kita lebih utama dari mereka atas nabi Musa”. Maka beliau menganjurkan umat Islam untuk berpuasa, dan dianjurkan pula berpuasa sebelumnya atau sesudahnya. Tujuanya untuk tidak bertasyabbuh (menyamakan) dengan Yahudi. Contoh lain, disaat Rasulallah saw mengirim surat kepada penguasa dunia, beliau disarankan untuk membumbuhi surat surat beliau dengan stempel, karena mereka tidak mau menerima surat surat kecuali ada stempelnya. Nabi pun menerima saran tersebut. Lalu beliau membuat stempel yang berupa cincin tetulis “Muhammad Rasulallah”.

 

Kemudian khalifah Umar ra mengelar musyawarah dengan semua sahabat Nabi saw untuk menetapkan apa yang sebaiknya dipergunakan dalam menentukan permulaan tahun Islam. Dalam pertemuan itu ada empat usul yang dikemukakan untuk menetapkan penanggalan Islam, yaitu :

 

1. Dihitung dari mulai kelahiran nabi Muhammad Saw

2. Dihitung dari mulai wafat Rasulullah saw

3. Dihitung dari hari Rasulullah saw menerima wahyu pertama di gua Hira

4. Dihitung mulai dari tanggal dan bulan Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah

Usul pertama, kedua dan ketiga ditolak dan usul yang terakhir merupakan usul yang diterima suara banyak. Usul ini diajukan oleh imam Ali bin Abi Thalib ra. Akhirnya, disepakatilah agar penanggalan Islam ditetapkan berdasarkan hijrah Rasulallah saw dari Mekah ke Medinah.

 

Ketika para sahabat sepakat menjadikan hijrah Nabi saw sebagai permulaan kalender Islam, timbul persoalan baru di kalangan mereka tentang permulaan bulan kalender itu. Ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awal (sebagai bulan hijrahnya Rasulullah saw ke Medinah). Namun ada pula yang mengusulkan bulan Muharram. Akhirnya khalifah Umar ra memutuskan awal bulan Muharam tahun 1 Islam/Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M. Dengan demikian, antara permulaan hijrah Nabi sa dan permulaan kalender Islam terdapat jarak sekitar 82 hari.

 

Jadi, peristiwa penetapan kalender Islam oleh khalifah Umar ra ini terjadi tahun ke 17 sesudah hijrah atau pada tahun ke-4 dari kekhalifahan beliau.

 

Dari latar belakang sejarah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Penetapan bulan Muharram oleh Umar bin khattab ra sebagai permulaan tahun hijriah tidak didasarkan atas peringatan peristiwa hijrah Nabi. Buktinya beliau tidak menetapkan bulan Rabiul Awwal (bulan hijrahnya Rasulallah saw ke Medinah) sebagai permulaan bulan pada kalender hijriah. Lebih jauh dari itu, beliau pun tidak pernah mengadakan peringatan tahun baru hijriah, baik tiap bulam Muharram maupun rabiul Awwal, selama kekhalifahannya.

2. Peringatan tahun baru hijriah pada bulan Muharram dengan alsanan memperingati hijrah nabi ke Madinah merupakan hal yang kurang pas, karena Rasulallah saw hijrah pada bulan Rabiul Awwal bukan bulan Muharram

3. menyelenggarakan berbagai bentuk acara dan upacara untuk menyambut tahun baru hijriah dengan begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru adalah hal yang tidak pernah disarankan agama.

 

Jadi yang pas menurut saya dalam memperingati tahun baru Hijriah, yaitu sesuai dengan apa yang dipesan kakek saya. Beliau pernah berpesan, jika tahun baru tiba, hendaknya kita banyak bermuhasabah, melakukan kontrol diri terhadap amal perbuatan yg kita lakukan selama setahun. Kalau dalam berdagang atau berniaga ada istilah namanya inventory atau tutup buku atau hitung-hitungan untung-ruginya dalam berdangang atau berniaga selama setahun. Begitu pula dalam amalam kita selama setahun ada istilah tutup buku atau hitung-hitungan selama setahun. Kalau untung patut kita syukuri, kalau rugi kita bertaubat dan berdoa semoga tahun yang datang akan lebih baik dari tahun lalu. Rasulallah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa manusia terbagi atas tiga golongan:

Golongan beruntung, yaitu jika hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Golongan merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin.

Golongan celaka, jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

 

Wallahu’alam

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 1 Comment »

Ya Karim Sabda Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Maret 20, 2008


Diriwayatkan ketika Rasulallah saw sedang bertowaf, beliau mendengar seorang A’rabi (Arab Badui dari gunung) berkata dengan suara keras “Ya Kariim”. Rasulallah saw pun mengikutinya dari belakang dan berkata “Ya Kariim”. Kemudian A’rabi itu berjalan menuju ke arah pancuran Kab’ah lalu berkata lagi dengan suara lebih keras “Ya Kariiim”. Rasulallah saw pun mengikutinya dari belakang, juga berkata “Ya Karim”.Berasa ada yang mengikutinya dari belakang, A’rabi tadi menengok ke arah suara, lalu berkata,

“Apa maksudmu mengikuti perkataanku?. Apakah kau sengaja mengejekku karena aku seorang A’rabi, Arab Badui dari gunung?. Demi Allah, kalau bukan karena wajahmu yang bersinar dan parasmu yang indah maka aku akan adukan hal ini kepada kekasihku Muhammad, Rasulallah saw.”

Rasulallah saw pun tersenyum lebar mendengar uraian A’rabi tadi, lalu berkata, “Wahai saudaraku, apakah kau pernah melihat Rasulallah?” A’rabi tadi berkata, “Aku belum pernah melihatnya sama sekali.”

Rasulallah saw lalu berkata lagi, “Apakah kamu beriman kepadanya?” “Demi Allah, aku beriman kepadanya walaupun aku belum pernah melihat wajahnya, dan percaya dengan risalahnya walaupun aku belum pernah bertemu muka dengannnya,”  tegasnya.

Lalu Rasulallah saw berkata, “Ketahuilah, wahai saudaraku, bahwa sesungguhnya aku adalah Nabimu di dunia dan pemberi syafa’at bagimu di Akhirat.”

Begitu A’rabi tadi mengetahui bahwa beliau adalah Rasulallah saw, dengan sepontan ia menarik tangan beliau lalu menciumya berkali kali. Walaupun Rasulallah saw berusaha menarik tangan beliau, tapi A’rabi tadi tetap memegangnya dengan keras dan menciumnya. Lalu dengan penuh tawadhu’ beliau menahan lagi tangannya sambil menariknya, seraya berkata,

“Perlahan-lahan wahai saudaraku, sesungguhnya aku diutus sebagai Nabi bukan sebagai raja, aku diutus sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, bukan perkasa dan penyombong”

Seketika itu juga malaikat Jibril as turun dari langit kepada Rasulallah saw lalu berkata, “Allah mengucapkan salam kepadamu, dan mengkhususkan tahiyyatNya atasmu. Dia berfirman, ‘Katakanlah kepada A’rabi janganlah merasa bangga dengan amal kebaikanya, sesungguhnya esok Kami akan menghisab amalnya yang kecil sebelum yang besar, bahkan sampai yang sekecil kecilnya tidak akan diluputkan.’ ”

Lalu Rasulallah saw menyampaikan pesan Allah kepada A’rabi tadi. A’rabi pun berkata, “Apakah Allah akan menghisabku kelak, ya Rasulallah?” Rasulallah saw berkata, “Iya betul, dengan kehendakNya, Allah akan menghisabmu kelak”

A’rabi tadi lalu berkata lagi, “Jika Allah akan menghisabku esok, maka akupun akan menghisabNya kelak”  Rasulallah saw merasa heran mendengar jawaban A’rabi tadi, lalu berkata “Wahai saudaraku, bagaimana caranya kamu akan menghisab Allah kelak?”

Dengan lantang dan penuh keyakinan A’rabi tadi berkata, “Jika Allah akan menghisabku atas dosa-dosa yang aku lakukan, maka aku akan menghisabNya atas ampunanNya yang maha luas. Jika Dia akan menghisabku dengan maksiat yang aku perbuat, maka aku akan menghisabNya atas maghfirahNya yang tidak terbatas. Jika Dia akan menghisabku atas kekikiranku maka aku akan menghisabNya atas kemurahanNya yang tanpa batas”.

Mendengar uraian A’rabi tadi, Rasulallah saw menangis tersedu-sedu sehingga jenggot beliau basah dengan airmata. Tangisan Rasulallah saw didengar oleh malaikat Jibril as yang membuatnya turun lagi dari langit, lalu berkata kepada beliau,

“Wahai Rasulallah, janganlah kamu menangis, sesungguhnya Arsy dan seisi-isinya bergetar mendengar tangisamu.Katakanlah kepada saudaramu A’rabi sesungguhnya Allah tidak akan menghisabnya dan ia tidak usah menghisabNya. Katakanlah bahwa ia akan menjadi temanmu nanti di surga”

Kisah di atas patut dijadikan bahan renungan. Agar kita memiliki sifat tawadhu’ dan sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang rendah dan yang di bawah. Biarpun kita memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat, semua itu tak berarti sedikit pun jika tak memiliki sifat perhatian kepada yang rendah dan yang di bawah. Nah, kalau begitu, jadilah kita seseorang yang memiliki jiwa seperti Rasulallah saw yang selalu tawadhu’, sederhana, dan menghormati semua kelompok manusia tidak perduli apapun kedudukanya. 

“Allahumma shalli a’la sayyidina Muhammad wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim”

Wallahu a’lam

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Dengan kaitkata: , , | 7 Comments »

♣ Atlas Al-Qur’an

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 25, 2006

ATLAS AL-QURAN

Hasan Husen Assagaf, 25 Agustus 2006

AL-OBAIKAN adalah nama toko buku terbesar di kota Riaydh yang memiliki kurang lebih 100 ribu jenis buku dari bermacam-macam bahasa, sudah pasti mayoritasnya berbahasa Arab. Kalau antum seorang yang hobi muthola’ah, masuk ke toko itu rasanya tidak mau keluar lagi, karena selain servicenya yang memuaskan, lokasinya yang bagus, ruanganya yang teratur, bersih, dan full AC juga dilengkapi dengan ruang baca yang cukup luas. Disini saya tidak bermaksud membanggakan atau mempropagandakan toko buku itu, tetapi yang penting disaat saya berada disana, sambil melihat buku-buku untuk anak-anak, pandangan saya mentok ke sebuah buku yang cukup menarik bagi saya berjudul “Atlas Al Quran ” dikarang oleh Syauqi Abu Khalil. Buku ini mengungkapkan dengan gamblang sejarah para Rasul dan menguraikan secara rinci tempat-tempat dimana mereka diutus, kota-kota dimana mereka dilahirkan dan kemana mereka berhijrah, pula dalam buku itu terdapat foto-foto peninggalan mereka, tulisan-tulisan dan peta-peta berwarna yang menggambarkan kejadian dan tempat dimana mereka diturunkan.

Sebagaimana telah disebut dalam sunah Nabi saw, bahwa bilangan para rasul yang diutus oleh Allah ada 24000 rasul, adapun yang disebut dalam al Quran hanya 25 sesuai dengan firman Allah “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” al-Ghafir, 78. Karena sedikitnya bilangan mereka yang diketahui dan banyak diantara kita yang tidak mengetahui tempat dimana mereka diutus, dilahirkan dan berhijrah, maka saya ringkaskan alakadarnya apa yang terdapat dalam buku tsb diatas. Semoga bermangfaat.

Nabi Adam:

Menurut riwayat, bahwa Adam diturunkan di India, sesuai dengan hadits Nabi saw dari Abi Hurairah “Sesungguhnya Adam diturunkan di negeri India”

Nabi Idris:

Lahir di Mesir, ada lagi yang meriwayatkan bahwa beliau lahir di Babil – Iraq, kemudian beliau berhijrah ke Mesir.

Nabi Nuh:

Ditutus di sebelah selatan Iraq, sekitar kota Kufah, sedangkan gunung Al Judi, tempat dimana perahu beliau terdampar setelah tofan terletak di perbatasan antara Syria dan Turkey.

Nabi Huud :

Diutus kepada kaum A’ad yang menduduki al Ahqof  terletak di sebelah utara Hadhramut.

Nabi Soleh :

Diutus kepada kaum Tsamuud “Ashaburras” di daerah sekitar  Madain Soleh , Al-u’la dan Taima di Saudi Arabia.

Nabi Ibrahim Al Khalil :

Bapak para nabi-nabi, lahir di kota Kutsi (sebelah selatan Iraq) dan dibesarkan di kota Ur al-Kaldaniah. Beliau berhijrah setelah dianiaya dan dibakar oleh kaumnya ke kota Harran, sebelah utara Jaziratul Arab, kemudian ke Palistina, Mesir dan Makkah (disana beliau tinggalkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail). Kemudian kembali ke Palestina dan wafat di kota al Khalil.

Nabi yusuf :

Dimasukkan kedalam sumur yang terletak di luar kota al Quds. Setelah ditemukan oleh kafilah beliau dibawa ke Mesir dan dijual di kota al Hiksus Afaris yang sekarang tempat itu dinamakan Shon al-Hajar dekat danau Al Manzalah.

Nabi Syuaib :

Diutus kepada kaum Madyan di sebelah barat Laut Merah. Peninggalan-peninggalan / rumah-rumah mereka terdapat diantara teluk al Aqobah sebelah utara Jordan dan kota Dhoba sebelah selatan Saudi.

Nabi Musa :

Lahir di ibu kota Firaun ” Thibah ” yang sekarang dinamakan kota al-Uqsur, kemudian beliau lari ke negeri Madyan dekat Jordan, disana beliau menikah dengan putri Nabi Syuaib. Setelah itu beliau kembali ke Mesir, kemudian keluar bersama-sama bani Israil ke Palestina dan wafat di kota Sina.

Ilyas dan Ilyasa :

Keduanya ditutus kepada Ashabul Qoryah yaitu di kota Antokia – Turkey

Nabi Daud dan Nabi Sulaiman :

Diutus di Palestina dan hidup di sana sebagai raja. Nabi Daud menguasai kota al Quds pada tahun 1000 sebelum Masehi

Nabi Ayyub :

Hidup dan dibesarkan di kota Adum sebelah selatan Laut Mati, sebagaian lagi meriwayatkan beliau hidup di kota al Butsainah dekat Damaskus

Nabi Yunus :

Diutus di Ninawa dekat kota Musil- Iraq, kemudian berusaha untuk hijrah ke Tunis melalui Yafadalam perjalanan beliau ditelan ikan.

Nabi Yahya :

anak Nabi Zakaria keduanya ditutus di Baitul Maqdis.  Nabi Yahya disembelih di Quds dan kepalanya dihadiahkan kepada seorang raja dari Bani Israil

Nabi Isa al Masih :

lahir di Betlahem, hidup dan dibesarkan di al Nasirah. Telah diriwayatkan bahwa keberangkatan beliau ke Mesir besama Yusuf al Najjar

Dan terakhir :

Lukman al Hakim

Beliau anak saudara perempan Nabi Ayyub, ada lagi yang meriwayatkan misanan Nabi Ayyub dari ibu. Beliau asalnya dari Nubah sebelah utara Sudan. Menurut Ibnu Abbas beliau bukan seorang Nabi atau raja. Akan tetapi beliau adalah seorang pengembala kambing yang dimerdekakan majikanya.

Kesimpulannya :

Dari hikmah Ilahiah, kalau kita perhatikan uraian diatas kita bisa mengambil dua kesimpulan.

Pertama, kebanyakan para nabi dan rasul diutus kepada Bani Israil.

Kedua, tidak ada rasul atau nabi yang diutus di Eropa atau Amerika, di Australia atau di Rusia akan tetapi hampir semua para rasul dan nabi diutus di negara-negara Arab, terutama di negara Palestina dan sekitarnya yang sekarang ini menjadi pusat  konflik yg tidak berkesudahan antara agama Yahudi, Nasrani dan Islam .

Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tiada berguna bagi mereka” al Qamar, 4-5

Wallahua’lam,

 

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Leave a Comment »