Hasan Husen Assagaf

Archive for the ‘Ya Karim’ Category

♣ Madinah Dalam Renungan..

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 8, 2015

Madinah Dalam Renungan…

4

Aku terpaku menyaksikan manusia datang ke Madinah dari seluruh penjuru berziarah kepada putra Abdullah dan Aminah bernama Muhammad saw.

Beliau benar-benar telah menjadi magnet bagi milyaran manusia. Kerna itu, Madinah tak pernah tidur menyambut para penziarah yang datang dari seluruh pelosok dunia hanya untuk memberi salam kepada baginda Nabi saw dan sholat di masjidnya.

Tentu yang sudah pernah berziarah ke makam Rasulallah saw dan para sahabatnya tidak bisa membayangkan bagaimana menyimpan kenangan indah dari cahaya beliau dan pasti di luar dari kesadaran kita air mata mengucur keluar membasahi pipi kita.

Kehebatan kota Madinah bukan saja karena kemegahan masjidnya akan tetapi juga karena bersemayam di dalamnya jasad beliau yang mulia. Di sanalah baru kita merasai keindahan ruhaniah kota Madinah yang membawa negeri itu, berkat Rasulallah saw, menjadi negeri yang penuh barakah.

Bagi yang pernah berziarah ke makam Rasulallah saw, pasti bisa melihat di muka tembok jendela makam beliau, tertulis dua bait syair yg dibuat oleh seorang A’rabi (Arab Badui) sejak ratusan tahun yang lalu.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Hafidh al-Syeikh I’mad al-Din Ibnu Katsir dari al-U’tbi, ia berkata: Ketika aku sedang duduk di hadapan makam Rasullah saw, tiba tiba seorang A’rabi datang berziarah kepada beliau dan berkata : “Salam sejahtera atasmu wahai Rasulallah. Sesungguhnya aku mendengar Allah berberfirman

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Al-Nisa’, 64.

“Wahai Rasulallah”, kata A’rabi dengan penuh kekhusyu’an, “aku datang kepadamu untuk memohonkan ampun bagiku dan memberikan kepadaku syafaatmu“. Kemudian A’rabi itu membaca dua bait syair:

ياخير من دفنت بالقاع أعظمه

فطاب من طيبهن القاع والأكم

نفسـي الفداء لقبـر أنت سـاكنه

فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Demikian seterusnya sampai bait yang terakhir dibacakan:

لــو كنت أبصرته حيــا لقلت له

لا تمشي إلا على خدي لك القدم

Artinya:

Wahai jasad termulia di lahad kau bersemayam

Lahad dan tanah ber-semerbak dari semerbakmu

Ku korbankan diriku demi makam kau berdiam

Yang penuh kebijakan, keindahan dan kemurahanmu

Seandainya aku melihatmu sewaktu hidupmu

Maka tak kan ku-biarkan kau berjalan kecuali diatas pipiku

Setelah membaca dua bait syair A’rabi itu keluar. Kemudian aku (al-U’tbi) tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rasulallah saw. Beliau pun berkata kepadaku: “Kejarlah A’rabi itu dan sampaikanlah kepadanya kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya “

Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki telah mengupas riwayat ini dalam kitabnya “Mafahim Yajibu An Tushahah“ bahwa banyak para masyayikh (ulama) meriwayatkan kisah ini, diantaranya: Al-Imam al Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Abul Faraj bin Qudamah dalam kitabnya al Syarhul Kabir, Al Imam al Qurtubi (pakar ilmu tafsir) dalam kitabnya tafsir Al Jami’, dan masih banyak lagi para ulama besar dan pakar ilmu tafsir yang meriwayatkan kisah ini.

Sekarang, apakah kisah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu dhaif jika dilihat dari sanadnya?…

Apakah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu merupakan suatu kekufuran atau kesesatan?…

Apakah yang dibawakan para ulama dan pakar ilmu tafsir itu mengajak kita kepada penyembahan berhala atau kuburan?…

Jika hal itu demikian menurut penapsiran ulama mereka, maka ulama mana lagi yang bisa dipercaya?

Salam Dari Kota Nabi, Hasan Husen Assagaf

 

Sekilas Tentang Madinah

Makam Nabi saw dan dua sahabatnya Abubakar dan Umar ra terdapat di dalam masjid. Makam itu dahulunya rumah Nabi saw dan Siti Aisyah ra. Ketika beliau meninggal, beliau dikuburkan di dalam kamarnya sendiri –kamar yang merupakan ‘tempat tinggal’ Nabi saw dengan istrinya Siti Aisyah. Meski telah menjadi kuburan, Siti Aisyah tetap tinggal di kamar tersebut. Kemudian, ketika Abu Bakar mendekati ajal, beliau minta izin kepada Siti Aisyah agar dapat dikuburkan di samping sahabat yang paling dicintainya dan Aisyah mengizinkannya. Seperti diketahui Abu Bakar adalah ayah Siti Aisyah. Jadi ia tidak keluar dan tetap tinggal di rumahnya.

Kemudian ketika Umar bin Khattab mendekati ajal, beliau juga minta izin Siti Aisyah untuk dikuburkan di samping kedua sahabatnya, padahal Siti Aisyah sudah berencana untuk dikuburkan di samping suami dan ayah yang sangat dicintainya itu. Tetapi karena rasa hormatnya kepada Umar bin Khattab  ra maka Siti Aisyah juga mengizinkannya. Setelah itu ia keluar dari rumahnya karena Umar bin Khattab bukan mahramnya.

Sekarang mari kita perhatikan posisi kuburan ketiga orang yang sangat dimuliakan oleh umat Islam. posisinya itu seperti posisi shalat antara imam dan ma’mum, artinya Abu Bakar ra posisi kuburanya di belakang kuburan Nabi saw, kemudian Umar bin Khattab posisi kuburanya  di belakang kuburan Abu Bakar.. luar biasa.. mereka saling menghormati sampai samai ke hal yang kecil yaitu penguburan.

Pada awalnya makam Nabi saw berlokasi di luar Masjid Nabawi, tetapi setelah adanya perluasan dan perbaikan masjid, maka makam Nabi saw dan kedua sahabat itu dimasukkan ke dalam masjid..

Tidak berjauhan dengan makam Nabi saw terdapat mimbar Nabi. Dalam hadist disebut

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ ) رواه البخاري ومسلم

“Antara rumahku (makam) dan mimbarku kebun dari kebun2 surga”(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra).

Siapa gerangan yang tidak tergiur untuk shalat di tempat tsb?

Di bekakang makam Nabi saw terdapat rumah siti Fatimah dan Sayyidina Ali ra.

Di dalam madjid Nabawi ada tempat-tempat bersejarah yang tidak begitu dikenal oleh masyarakat muslim seperti Mahbathul Wahyi (tempat turun wahyu), letaknya di muka makam Rasulallah saw, begitu pula Mihrab Rasul saw, Mihrab Utsman bin Affan, Mihrab Sultan Sulaiman al-Rumi, semuanya itu terletak di dalam Masjid Nabawi.

Ada lagi menara-menara yang sangat poluler dan dikenal penduduk kota Madinah yaitu menara Babussalam, menara Bab Utsman bin Affan dan menara Umar bin Khatthab.

Pemakaman Baqi’

2

Pemakaman Baqi’

pemakaman Baqi’ letaknya tidak berjauhan dengan Masjid Nabawi. Baqi’ merupakan pemakaman bersejarah bagi umat Islam. Pemakaman tsb terbuka untuk umum, tapi tempat yang mengarah ke kuburan Siti Fatimah dan karabat Nabi saw tertutup tidak diperbolehkan masuk untuk umum.

Pada tahun 1981 saya dan Almarhum Ustadz Abdurahman AlJufri (Pekojan-Jakarta) pernah memasuki makam Siti Fatimah dan karabat Nabi satu-persatu. Sekarang dilarang memasukinya. Jadi yang berziarah cukup berdiri dan melihat dari kejahuan untuk berdoa dan membacakan surat Fatihah bagi arwah mereka.

Pemakaman Baqi’ yang Rasulallah saw selalu menyebut Baqi’ al-Gharqad, terdapat kurang lebih 10 ribu kuburan sahabat, diantaranya:

Terdapat kuburan Umahatul Mu’minin (istri-istri Rasulallah saw), anak-anak dan ahli bait Rasulullah saw, Fatimah binti Rasulallah saw, Ruqayah binti Rasulallah saw, Ummu Kaltsum binti Rasulallah saw, Zainab binti Rasulallah saw, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Ali Zainal Abidin bin Husein, Muhammad al-Baqir, Ja’far As-Shodik, Ali al-U’raidhi yang baru saja dipindahkan ke Baqi’ setelah kuburan dan masjidnya digusur oleh pemerintah Saudi.. (kelihatanya mereka dari dulu kerjaanya tukang gusurin tempat tempat bersejarah).

Terdapat pula di Baqi’ kuburan Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), Sufyan bin al Harits, Aqil bin Abi Thalib, Abdulah bin Ja’far al-Thayyar dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebut satu persatu.

Begitu pula terdapat kuburan Sayyidina Utsman bin Affan ra yang terletak disebelah ujung pemakaman, kuburan Abi Said al-Khudhri, kuburan Sa’ad bin Mua’dh, Halimah As-Sa’diyah, dan kuburan syuhada’ al-harrah, pula terdapat kuburan Utsman bin Madh’un, Abdurahman bin A’uf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Masu’ud, Khunais bin Hudhafah, As’ad bin Zararah, Imam Malik.

Jabal Uhud

Jabal Uhud letaknya kurang lebih 15 kilomenter dari kota Madinah. Gunung yang dicintai Nabi saw ini, sesuai dengan hadithnya “Uhud gunung yang kita cintai dan mencintai kita“, nampak anggun dan megah. Hampir setiap muslim yang berziarah ke kota Madinah pasti berkunjung ke bukit Uhud mengenang peristiwa terbunuhnya Hamzah, paman Nabi dalam peperangan.

Nampak jelas dibawah kaki bukit Uhud kuburan Sayyidina Hamzah yang berdampingan dengan kuburan Abdullah bin Jahsy (puanakan Hamzah) dan Musha’b bin U’mair. Salawat dan salam serta doa dan fatihah tak lupa kita panjatkan untuk arwah syuhada’ Uhud.

Tempat2 Bersejarah

Di Madinah terdapat beberapa peninggalan sejarah Islam seperti masjid Quba’, masjid pertama yang dibangun Rasulallah, terletak di sebelah selatan kota Madinah berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Masjid Nabawai. di masjid Quba’ disunnahkan sholat dua raka’at mengambil barakahnya Nabi saw. Rasulallah selalu shalat sunah dua raka’at di masjid Quba’ jika tiba dari pepergian baik berkendaraan onta atau berjalan kaki “ – Muttafaqun alaih.

Di Madinah terdapat pula masjid Qiblatain (dua kiblat). Masjid ini dinamakan masjid Qiblatain (masjid Dua Kiblat), karena ketika Rasulallah mengimami shalat di masjid ini, tiba-tiba turun firman Allah yang memerintahkan Nabi mengubah kiblat ke Masjidil Haram di Makkah : “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan dimana saja kamu berada palingkanlah mukamu ke aranya.”- al-Bakarah,144. Suatu putaran sekitar 180 derajat semula kiblat kaum Muslim adalah Masjid al-Aqsa di Jerusalem, dan sejak Nabi menerima perintah Allah itu, kiblat muslimin berubah di Makkah hingga akhir zaman. Di sana disunahkan shalat sunnah dua raka’at mengambil barakah Nabi saw.

Masih banyak lagi masjid-masjid di Madinah yang merupakan sebagai peninggalan sejarah Islam yang patut diziarahi dan dihargai seperti Masjid al-Juma’t yang terletak di wadi Ranuna sebelah kiri dari Masjid al Quba’. Di Masjid ini Rasulallah dan sahabatnya pertama kali medirikan sholat Juma’at.

Begitu pula masjid al Ghumamah, masjid al-Fath, masjid Abubakar Siddik ra, masjid Fatimah al-Zahra’, masjid Umar bin Khathab, masjid Ali bin Abi Thalib, masjid Bilal, juga tedapat bekas peninggalan perang khandak (perang Parit), dimana kaum muslimin menggali parit yang membentengi kota Madinah, dan tidak sedikit peningalan sejarah Islam di Madinah yang tidak bisa disebut satu persatu.

Semoga Allah takdirkan kita bisa datang ke kota yang penuh dengan cahaya Nabi saw.

Salam Dari Kota Nabi, Hasan Husen Assagaf

 

 

Iklan

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Julaibib… Siapa Dia???

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 7, 2015

1Banyak orang baik bekerja dan berderma tanpa mengharap santunan dan pujian. Mereka lebih senang tidak dikenal dan disanjug. Walaupun mereka memiliki amalan yang agung.

Berbeda dengan masyarakat kini. Bekerja secara diam-diam dianggap tidak bernilai. Pamer merupakan sebuah harga. Penghormatan dari publik adalah kebanggaan. Pujian adalah harapan.

Julaibib..siapa dia gerangan? Dia adalah salah satu sahabat Nabi saw yang tidak dikenal di kalangan masyarakat. Tapi dicintai Alah dan RasulNya.

Ia lahir sendiri, hidup sendiri dan mati sendiri di medan perang melawan musuh bersama Rasulallah saw. Tidak ada satu pun dari sahabat yang mengenal siapa Julaibib? dan tidak ada mencari mayatnya kecuali Rasulallah saw.

Rasulallah saw mencari Julaibib diantara mayat mayat yang gugur dan menemukannya sudah tertutup pasir, lalu Rasulullah berkata: “Ini adalah Julaibib Sahabatku, yang sangat mulia dimata Allah dan Aku”

Beliau mengangkat mayat julaibib dengan kedua tangan beliau. Dan menyuruh sahabat menggali kubur sedang mayat ditangan Nabi saw sampai kuburan selesai digali. Kemudian beliau letakan mayat Julaibib kedalam kubur dengan kedua tanganya yang mulia.

Itulah salah satu sahabat yang terlupakan dan tidak terkenal tapi sangat mulia dimata Allah dan Rasulullah.

Hikmahnya, bahwa kedudukan, harta dan semua yang bersifat keduniaan tidak bisa menjadi jaminan bahwa kita akan menjadi orang yang disayangi oleh Allah dan Rasulullah saw.

Semua kita mempunyai bagian masing-masing disisi Allah. Yang menentukan kita dicintai Allah atau tidak bukanlah ukuran besar kecilnya amal kita. Allah tidak melihat siapa kita, tapi apa yang telah kita lakukan. Maka apa pun adanya jadilah yang terbaik.

Seandainya bentuk dan tubuh lebih penting dari ruh..maka tidak mungkin ruh pergi ke langit , sedangkan jasad terkubur dibawah tanah.

Berapa banyak orang terkenal dibumi namun dilangit ia tidak terkenal. Dan berapa banyak orang tidak terkenal di bumi namun terkenal dilangit.

Ukuran kemulian itu yang paling taqwa bukan yang paling kuat. “Sesungguhnya yang paling mulia diantaramu adalah yang paling bertaqwa” Al-Qur’an

Janganlah bersedih jika ia orang tidak tahu tentang betapa berharga dirimu. Berpalinglah pada penilaian Allah dan tinggalkanlah penilaian manusia. Hiduplah karena ketaqwaan karena itu lebih baik dan lebih kekal.

Salam dari Riyadh 7 September 2015 .. Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Sifat Keturunan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 1, 2015

download

Subahanallah, kalau kita teliti sesungguhnya kita ini dibentuk oleh Allah dalam cara yang sangat mengerikan dan menakjubkan. Ilmu pengetahunan genetika mengajarkan pada kita bahwa setelah ibu dan ayah kita bercampur maka terjadi peluang akan lahirnya seorang bayi yang dibentuk sebagian besar hasil dari 24 kromosom bapak dan 24 kremosom ibu. Ke 48 kromosom ini nengandung segala sesuatu yang menentukan bawaan sang bayi. Ini merupakan warisan dari bawaan ayah dan ibu. Begitu pula ayah dan ibu merupakan warisan dari bawaan kakek dan nenek dan seterusnya dan seterusnya.

Apakah itu omongan belaka? Tidak. Ini fakta ilmiah. Kalau anda ingin membaca lebih banyak mengenai hal ini, bacalah kitab ”Anda dan Warisan Bawaan Kelahiran Anda” karangan Amram Sheienfeld.

Sekarang bangaimana menurut Islam? Hal semacam ini telah diungkapkan oleh Rasulallah saw 14 abad yang lalu dalam hadistnya yang berbunyi:

عن  أبي هريرة قال جاء رجل من بني فزارة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال إن امرأتي ولدت غلاما أسود فقال النبي صلى الله عليه وسلم هل لك من إبل قال نعم قال فما ألوانها قال حمر قال هل فيها من أورق قال إن فيها لورقا قال فأنى أتاها ذلك قال عسى أن يكون نزعه عرق قال وهذا عسى أن يكون نزعه عرق : رواه مسلم 

Seorang dari Bani Fazarah datang kepada Nabi saw dan berkata : “Ya Rasullah, istriku telah melahirkan anak berkulit hitam”. (Ia seakan-akan tidak mengakuinya karena ia tidak berkulit hitam).

Rasulullah Saw bersabda: “apakah engkau memiliki unta? “

Lelaki itu menjawab: “ya”

Rasulullah bertanya: ”apa warnanya?”

Lelaki itu menjawab: ”merah”,

Rasulullah bertanya lagi: ”apakah ada warna hitam pada unta itu?”

Lelaki itu menjawab: “sebenarnya kehitam-hitaman, entah dari mana datangnya warna hitam itu?”

Rasulullah saw bersabda: “mungkin karena faktor keturunan” (HR. Bukhari, Muslim dll)

Dari hadits di atas tergambar bahwa faktor keturunan mempengaruhi warna kulit seseorang, paras dan ciri-ciri fisik, hal ini tidak harus diwarisi dari orangtuanya saja tapi bisa juga dari nenek moyangnya, sifat fisik inilah yang disebut sifat keturunan.

Rumusan hadits di atas mengarahkan bahwa Islam sendiri menyukai, untuk keberlangsungan generasi mendatang, agar memilih pasangan dari keturunan yang baik, sehingga di dalam pernikahan tersebut akan melahirkan keturunan yang baik pula

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فإن الْعِرْقَ دَسَّاس – رواه ابن ماجه

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah(benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”. (HR. Ibn Majah).

Dari keturunan yang baik akan keluar pohon dan buah yang baik.. simak berikutnya

Pohon Yang Baik

Kalau kita teliti, Rasulallah saw sendiri tidak memilih pasangan hidup putrinya Fatimah kecuali dengan orang yang dicintainya, yaitu Sayyidina Ali ra. Tidak sedikit dari orang-orang Quraisy pada waktu itu yang ingin menikahinya. Bahkan beritanya ia pernah dilamar oleh Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar ra, sahabat terdeket Rasulallah saw, namun lamaran mereka ditolak secara halus.

Dari pernikahan antara Sayyidina Ali dan siti Fatimah, berkembanglah keturunan Rasulallah saw yang tersebar di seluruh pelosok negeri, Pekembangan ini tidak bisa dibendung walaupun sepanjang sejarah kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mengalami penindasan luar biasa, tapi mereka tetap berkambang dan didapatkan di mana saja di seluruh dunia.

Ini kemungkinan karena do’a Rasulallah saw kepada siti Fatimah putri beliau dan sayyidina Ali ra di saat pernikahan mereka yang sangat sederhana. Doa Nabi saw adalah,”Semoga Allah memberkahi kalian berdua, memberkahi apa yang ada pada kalian berdua, membuat kalian berbahagia dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang banyak dan baik”.

Mereka adalah Ahlul-Bait. Dalam bahasa ahlu artinya ahli, penghuni, keluarga, famili atau penduduk. Sedang bait artinya rumah. Jadi ahlul bait adalah penghuni atau keluarga rumah. Dalam tradisi Islam ahlul bait artinya keluarga atau sanak famili Rasulallah saw yang memiliki tali kekeluargaan dengan beliau.

Banyak terjadi perbedaan penafsiran, ada yang menafsirkan ahlul bait itu adalah lima keluarga Nabi saw yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan beliau yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husen dan beliau sendiri. Ada lagi yang menafsirkan ahlul bait adalah keluarga Nabi saw dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya, hingga terkadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya. Mereka, Ahlul-Bait, adalah anggota keluarga Nabi saw yang dalam hadits disebutkan haram menerima zakat.

Mereka diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelangit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Allah. Sayangnya, banyak pula diantara mereka yang tidak bisa mempertahankan keteguhan akarnya sehingga banyak yang berobah menjadi pohon yang merana, tidak tegak, dan tidak menumbuhkan buah yang layak.

Riyadh 19 Ramadhan 1436 / 06 Juli 2015 Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Apa Dan Siapa Kita

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

images

Kota madinah pernah dihebohkan dengan seorang pemuda yang solih, baik dan penampilannya dalam agama sangat mena’jubkan. Berita ini tersebar sampai ke telinga Sayyidina Umar ra. Lalu beliau menghampiri masyarakat yang sedang asyik menceritakan kebaikan pemuda tadi, lalu berkata: ”Dari mana kalian tahu bahwa orang itu baik?”. Mereka menjelaskan bahwa setiap hari pemuda tsb selalu giat dalam urusan agama dan tampil di muka dalam merefleksikan segala yang berurusan dengan ibadah. Sayyidina Umar bertanya lagi: ”Lantas nafkahnya dari mana?”. Mereka menjawab: ”Ia hidup dari saudara lakinya yang bekerja di pasar”. Lalu Umar ra berkata: ”Ketahuilah bahwa saudara lakinya yang bekerja di pasar itu lebih baik dan afdhal darinya”

Kisahnya, waktu saya dalam perjalanan dari Jakarta ke Riyadh naik pesawat yang harus transit di Abu Dhabi satu jam menurunkan dan mengambil penumpang. Karena keberangkatan dari jakarta ditunda 1 jam saya menunggu di lobi ruang tunggu bandara Cengkareng. Di depan saya duduk seorang ibu sudah agak tua, wajahnya tampak tenang dan keibuan.

Kemudian saya menyapa: mau pergi kemana bu?

Ibu: ”Iya dik, hanya mau ke Abu Dhabi”.

Saya: ”Kalau boleh, mau nanya, ada keperluan apa ibu ke Abu dhabi?”

Ibu: ”Menengok anak saya yang nomor dua dik, istrinya melahirkan di sana terus saya dikasih ongkos untuk datang ke sana.”

Saya: ”Puteranya kerja dimana, bu?”

Ibu: ”Anak saya ini insinyur perminyakan, kerja di perusahaan minyak asing di Abu Dhabi.

Saya: ”Berapa anak ibu semuanya?”

Ibu: ”Anak saya ada 4 dik, 3 laki2, 1 perempuan. Yang di Abu Dhabi anak nomer 2. Yang nomer 3 juga laki2, dosen fakultas ekonomi UGM, sekarang lagi ambil program doktor di Amerika. Yang bungsu perempuan jadi dokter spesialis anak. Suaminya juga dokter, ahli bedah dan dosen di Universitas Airlangga Surabaya.

Saya: ”Kalau anak yang paling tua?”

Ibu: ” Oh..dia supir taxi, dik. subuh2 keluar cari nafkah sore pulang. Kasian dia cape sekali kerjanya.”

Saya tertegun sejenak lalu dengan hati-hati saya menanya: ”Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ibu ya. Kok tidak sarjana seperti adik-adiknya?”

Ibu itu menjawab dengan senyum: ”Sama sekali tidak, dik. Malahan kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia. Dari hasil taxinya, dia yang membiayai hidup kami setelah suami saya meninggal dan dia menyekolahkan semua adik-adiknya sampai selesai jadi sarjana”.

Saya merenung, ternyata yang penting bagi manusia bukan apa atau siapa kita, tetapi apa yang telah ia perbuat. Allah tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa amal-perbuatan kita.

Salam dari Riyadh 23/08/2015, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | 1 Comment »

♣ Renungan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

download Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu. Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaanya untuk ikut menguburkanmu. Barang-barangmu akan dikemas, begitu pula koncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermnfaat untukmu.

Ketahuilah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu. Ekonomi akan tetap berlangsung. Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu itu!

Kesedihan atasmu ada 3;

1- Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan… inna lillah wa inna ilaihi rajiun.

2- Kawan-kawanmu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!

3- Di rumahmu akan ada kesedihan yg mendalam! Keluargalamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun?? Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Ketahuilah “Kisahmu telah berakhir di tengah tengah manusia”. Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai adalah Akhirat!!

Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak. Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta. Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.

Pertanyaannya adalah:apa yang kamu siapkan untuk kuburmu dan Akhiratmu? Ini memerlukan renungan yg mendalam. Usahakan dengan sungguh sungguh melakukankan kewajiban kewajiban, hal-hal yg disunnahkan, sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam. Semoga saja engkau selamat.

Jika kau mengingatkan manusia dengan tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dalam timbangan kebaikanmu pada hari Kiamat.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ – الذاريات 55

“Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang orang mukmin.”

Sahabatku renungkan lalu amalkan.

Salam dari Riyadh HHS

Ditulis oleh: Syeikh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Cerdas Tangkas

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

imagesKalau bawa cerita Imam Ali bin Abi Thalib ra kadang kadang orang menysangka ana syi’i (syi’ah).. Ana bukan Syi’i.. Ana bukan Mu’tazilah.. Ana sunni.. Ana Syafi’i.. Ana Asy’ari.. Ana pencinta sahabat Nabi saw tanpa terkecuali.. termasuk imam Ali ra.

ceritanya begini:

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib ra diundang seorang Yahudi untuk mengahadiri acara jamuan di rumahnya.

Kepada Imam Ali, Yahudi itu menyuguhkan anggur. Imam memakannya. Lalu Yahudi itu memberi segelas khamr (arak) kepadanya. Beliau menolak seraya berkata: “Maaf, khamr diharamkan bagi kami kaum muslimin”.

Yahudi berkata: “Aneh sekali kalian ini, kalian menghalalkan anggur tapi mengharamkan khamr padahal khamr berasal dari anggur”.

Sayyidina Ali ra menjawab dengan senyum: “Apakah kamu memiliki istri..???”. Yahudi menjawab “Punya..!!” Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu punya anak perempuan.??”. Yahudi menjawab: “Punya..!!”. Lalu beliau berkata: “Datangkan mereka ke sini..!”

Yahudi itu pun memanggil istri dan putrinya. Imam Ali ra kemudian berkata: “Bukankah Allah menghalalkan kepadamu istrimu dan mengharamkan putrimu untukmu, Padahal putrimu berasal dari istrimu??”. Lalu, Yahudi berkata lantang. “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah..!!”.

Dari kisah di atas jelas sekali kita bisa mengambi suatu bukti bahwa Imam Ali ra memiliki gudang ilmu yang tidak dimiliki para sahabat lainya. “Aku kota ilmu dan Ali pintunya”.. Itulah sabda Rasulallah saw yang dicetuskan beliau kepada para sahabat. Beliau adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu setelah Khadijah ra. Pada waktu itu Ali ra masih berusia sekitar 10 tahun.

Setelah wahyu turun, Imam Ali ra banyak belajar langsung dari Rasulallah saw karena sebagai misanan dan sekali gus merangkat sebagai anak asuh, beliau selalu mendapat kesempatan dekat dengan Rasulallah saw. Hal ini berlanjut sampai belau menjadi menantunya.

Jadi banyak pelajaran pelajaran tertentu yang diajarkan Rasulallah saw kepada beliau yang tidak diajari kepada sahabat-sahabat yang lain.

Didikan langsung dari Rasulallah saw kepada imam Ali ra baik secara zhahir (syariah) atau secara bathin (tasawuf), banyak menggembleng beliau menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, tangkas dan bijak. Salah satunya kita bisa lihat dari kisah kisah di atas tadi.

kisah lain dari kecerdasan Imam Ali ra

Zaman Berbeda Orangnya Berbeda

Ada satu orang datang kepada Sayyidina Ali ra. Ia berkata: “Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan Umar keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

Sayyidina Ali ra menjawab sambil senyum: “Sebab, pada zaman Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Kesimpulannya, manusia pada hakekatnya sama. Semuanya dari Adam. Dan Adam dari tanah. Tapi setiap orang memiliki latar belakang yang berlainan. Makanya tidak selayaknya kita mengukur orang dengan baju kita sendiri, dan tidak ada yang berhak memaksanya untuk menjadi siapa pun yang ada dalam angannya.

Masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Jadi sangat tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang yang tidak sezaman dengannya. Apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh atau pemimpin yang berbeda zaman dengannya.

Maka pahamilah dalam-dalam pribadi kita dan jadilah diri kita sendiri. Sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti cara kita.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan sesuatu yang indah. “Pendapatku ini benar. Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

Wallahu’alam Riyadh 16/08/2015.. Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Kampung Pekojan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

 

Pekojan, terletak di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Yang merupakan salah satu tempat bersejarah di Jakarta. Daerah Pekojan pada era kolonial Belanda dikenal sebagai perkampungan Arab. Meskipun saat ini mayoritas penduduk yang tinggal di sana adalah etnis tionghoa.

Pemerintah kolonial Belanda pada abad ke-18 menetapkan wilayah Pekojan sebagai perkampungan Arab. Kala itu, para imigran yang datang dari Hadhramaut (Yaman) diwajibkan untuk tinggal di Pekojan terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka dapat pergi ke berbagai kota dan daerah.

Di Pekojan, Pemerintah Belanda menerapkan aturan passen stelsel dan wijken stelsel. Bukan saja menempatkan mereka dalam ghetto-ghetto (kampung khusus), tetapi juga mengharuskan mereka memiliki pas atau surat jalan bila akan bepergian keluar daerah. Sistem semacam ini diterapkan juga di kampung Ampel Surabaya dan kampung-kampung Arab lainnya di nusantara.

Kampung Pekojan merupakan cikal bakal dari sejumlah perkampungan Arab yang kemudian berkembang di Batavia. Dari tempat inilah mereka kemudian menyebar ke Krukut dan Sawah Besar, Jati Petamburan, Tanah Abang dan Kwitang, Jatinegara dan Cawang.

Jamiatul Khair

Di Pekojan, pada awal abad ke-20 (1901) berdiri organisasi pendidikan islam, Jamiatul Khair, yang dibentuk oleh dua bersaudara Shahab, yaitu Ali dan Idrus, disamping Muhammad Al Masyhur dan syaikh Basandid. Beberapa orang murid Jamiatul Khair yang kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan tanah air diantaranya adalah, KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam yang sekaligus mertua dari Bung Karno).

Jamiatul Khair banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah. Organisasi ini juga melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan tokoh-tokoh pergerakan dan surat kabar luar negeri. Dengan demikian kabar-kabar mengenai kekejaman penjajah Belanda di Indonesia dapat sampai ke dunia luar, antara lain karena melalui Jamiatul Khair. Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang berperan besar dalam penaklukan Aceh, dengan terang-terangan bahkan menuding Jamiatul Khair membahayakan pemerintah Belanda. Melalui siswa-siswanya, Jamiatul Khair ikut berkontribusi dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah serta melakukan syiar islam ke seluruh nusantara.

Bangunan bersejarah

Sebelum ditetapkan sebagai kampung arab, daerah Pekojan dahulu dihuni oleh muslim Koja (Muslim India). Sampai kini masih terdapat Gang Koja, yang telah berganti nama menjadi Jalan Pengukiran II. Di sini terdapat sebuah Masjid kuno Al Anshor yang dibangun pada 1648 oleh para muslim India. Tak jauh dari tempat ini, kira-kira satu kilometer perjalanan, terdapat Masjid Kampung Baru yang dibangun pada pertengahan abad ke-18.

Di Pekojan masih banyak terdapat bangunan-bangunan peninggalan tempo dulu. Misalnya Masjid Langgar Tinggi, yang dibangun pada abad ke-18. Masjid ini telah diperluas oleh Syaikh Said Naum, seorang Kapiten Arab. Ia memiliki beberapa kapal dagang dan tanah yang luas di Tanah Abang, yang sebagian telah diwakafkannya untuk tempat pemakaman.

Langgar Tinggi di Pekojan.

Di dekat Langgar Tinggi terdapat sebuah jembatan kecil yang dinamai Jembatan Kambing. Dinamakan demikian, karena sebelum dibawa untuk disembelih di pejagalan (sekarang bernama Jalan Pejagalan), kambing harus melewati jembatan yang melintasi Kali Angke ini terlebih dahulu. Para pedagang di sini telah berdagang secara turun-temurun selama hampir 200 tahun.

Terdapat juga Masjid An Nawier, yang merupakan tempat ibadah yang terbesar di Pekojan. Masjid ini pada tahun 1920 diperluas oleh Habib Abdullah bin Husein Alaydrus, seorang kaya raya yang namanya diabadikan menjadi Jalan Alaydrus, di sebelah kanan Jalan Gajahmada. Pendiri Masjid ini adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya.

Di dekat Masjid An Nawier, terdapat Az Zawiyah, sebuah bangunan untuk ibadah dan pendidikan islam yang didirikan oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, seorang ulama asal Hadhramaut. Beliau juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor.

Banyak tokoh-tokoh besar yang berasal dan memiliki kaitan sejarah dengan kampung Pekojan. Di antaranya adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya yang pernah menjabat sebagai mufti di Betawi. Juga Habib Ali bin Abdul Rahman Al Habsyi, pendiri majlis taklim Kwitang yang sempat belajar pada Habib Utsman di Pekojan. Ada juga seorang ulama besar asli kelahiran Pekojan yang merupakan guru dari syaikh Nawawi Al Bantani. Beliau adalah syaikh Junaid Al Batawi yang sampai akhir hayatnya menjadi guru dan imam di Masjidil Haram. Syaikh Junaid Al Batawi juga diakui sebagai Syaikhul Masyayikh (Mahaguru) dari ulama-ulama madzhab Syafi’i mancanegara pada abad ke-18. beliau pulalah yang pertama kali memperkenalkan nama Betawi di luar Indonesia.

Disarikan dari berbagai sumber.

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Kisah Tragedy Zakat

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

Kisah Tragedy Zakat

download (4)

Rasulallah saw bersabda: Setiap pagi hari turun dua malaikat kepada hamba2-Nya, kemudian salah satunya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).” Sedangkan yang satu lagi berdoa: “Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak ” (HR Bukhari Muslim)

Setiap tahun saya tidak bosan-bosan bawakan cerita di bawah ini sebagai ibrah (contoh).

Saya selalu teringat berapa tahun yang lalu dengan berita seorang dermawan besar Hb Ismet Alhabsyi membagikan zakat dan sedakah di rumahnya.

Ribuan fakir miskin datang menyerbu rumah kediamannya. Karena terlalu banyak yang datang, akibatnya terjadi eksident yang tidak diinginkan. Mereka berdesakan, ratusan orang berebut ingin mendapatkan uang tunai puluhan ribu rupiah plus sebuah sarung sedekah dari dermawan terkenal itu. Akibatnya empat wanita meninggal dunia karena jatuh dan terinjak-injak.

Peristiwa yang sangat menyedihkan ini sebetulnya mereka berencana jika uang dan sarung dari hasil sedekah didapatkan, mereka bisa membeli sesuatu yang bisa menggembirakan keluarganya di hari raya, tapi Allah berkehendak lain, mereka tewas sebelum kehandak mereka terwujud.

Tragedy itu, terus terang melukiskan betapa besar kemiskinan yang melanda di negara kita terutama di kota-kota besar. Kejadian seperti itu sudah tidak asing bagi kita untuk didengar, bahkan banyak yang lebih kejam dari itu sering kita dengar. Memang dalam kondisi miskin semua serba sulit dikendalikan, termasuk emosi. Karena lapar bisa mengubah sifat sabar menjadi berangsangan.

Makanya Sayyiduna Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Jika seandainya kemiskinan itu menjelma menjadi manusia, maka saya akan bunuh”

Orang kaya dan dermawan seperti Hb Ismet Alhabsyi tidak sedikit bilangannya, begitu pula fakir miskin yang membutuhkan satunan dari mereka tidak terhitung banyaknya. Yang sulit kita dapatkan adalah perantara atau yang disebut Amil Zakat yang berfungsi sebagai penyambung hubungan antara si kaya dan si miskin. Sehingga zakat dan sedakah mereka bisa terorganisir atau bisa disalurkan secara baik.

Amil zakat yaitu panitia zakat atau orang yang dipilih oleh imam untuk mengumpulkan dan membagikan zakat kepada golongan yang berhak menerimanya. Amil zakat harus memiliki syarat tertentu yaitu muslim, akil dan baligh, merdeka, adil (bijaksana), medengar, melihat, laki-laki dan mengerti tentang hukum agama. Pekerjaan ini merupakan amanah dan tugas baginya dan harus diberi imbalan yang sesuai dengan pekerjaaanya yaitu diberikan kepadanya zakat.

Sayangnya, zakat fakir miskin kebanyakanya tersalur ke kantong-kantong si perantara Amil zakah atau mungkin sampai kepada mereka tapi setelah nilainya dikentit dan dicatut. Sehingga, maaf, bulan puasa merupakan panen bagi Amil zakat.

Begitulah nasib fakir miskin di negara kita yang kebanyakanya hanya menerima sisa-sisa uang zakat dan sedakah atau mungkin tidak menerima sama sekali.

Kalau Sayyiduna Abu Bakar Shiddik ra memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, bagaimana dengan orang orang yang diberi amanah untuk membagikan zakat tapi enggan untuk menyampaikannya kepada yang berhak? Tentu ini lebih parah bukan?

Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).

Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak (menahan harta).

Riyadh 16 Ramadhan 1436 / 3 Juli 2015 Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Shalat Tarawih Kilat, Apa Hukumnya?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2015

Shalat Tarawih Kilat, Apa Hukumnya?

download (5)

Baru-baru ini tersebar di tengah-tangah masyarakat video tarawih kilat yang menimbulkan banyak komentar tentang shah dan tidaknya. Terawih ini dilakukan 20 rakaat selama 7menit. Bayangkan luar biasa. Sayangnya, hal semacam ini juga dimuculkan di Metro te-ve supaya rame.

Banyak yang memberi komentar bahwa shalat ini tidak shah. Ada lagi yang bilang shalat model begini tidak khusyuk, ada lagi yang bilang sholat ini tidak ada thuma’ninah. Lalu timbul pertanyaaan kok cepat sekali, apa yang dibaca, apakah imam sempat baca fatihan dan surat Al-Qur’an?

Sebenarnya tidak ada larangan dalam syari’at tentang shalat dari segi cepat dan tidaknya. Tetapi dalam ilmu fiqih ada yang disebut aturan dan anjuran dalam shalat, seperti khusyu’ dalam shalat, thuma’ninah dalam shalat, tidak terburu-buru dll. Karena dalam shalat berarti kita sedang berhadapan muka dengan Allah, kita sedang mengadakan hubungan dengan Allah, Semakin khusyu’ shalat kita semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah.

Coba kita simak hadits dari Abu Hurairah ra:

Rasulullah saw. pernah masuk masjid. Lalu ada seorang lelaki masuk dan melakukan shalat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat. Lelaki itu kembali shalat. Setelah shalatnya yang kedua ia mendatangi Nabi saw. dan memberi salam. Kemudian beliau bersabda lagi: Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat. Sehingga orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: Demi Dzat yang mengutus Kamu dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda: Bila kamu melakukan shalat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Al Qur’an yang mudah bagimu. Setelah itu ruku’ hingga kamu tenang dalam ruku’mu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga kamu tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga kamu tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh shalatmu (HR Bukhari Muslim). Lihat kitab Ad-Durusul Al-Fiqhiyah karya Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf, mengenal ajaran Fiqih lebih dekat. Buku ini telah diterjamahkan oleh Hasan Husen Assagaf, diberi judud “Fiqih Nabi”.

Jadi dalam shalat juga ada tata-cara dan adab, bukan asal shalat saja. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berbicara dengan Allah. Kalau berbicara dengan manusia saja kita harus ada aturan dan sopan apalagi dengan Allah Pencipta alam semesta.

Riyadh 14 Ramadhan 1436H / 31 Juli 2015 Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim | 1 Comment »

♣ Jadam

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2015

 

download (6)

Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau ia sedang berada di atas jangalah sombong, angkuh dan bangga, sebaliknya kalau ia berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungguhnya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintu gerbangnya: “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17

“Katakanlah: Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu” al-Quran

Pada suatu pagi, seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah datang ke tempat Habib Zen bin Abdullah Alaidrus – Kerukut. Raut mukanya ruwet, ga enak dilihat. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang memiliki segudang kesulitan dan tidak bahagia. Setelah cium tangan dan duduk sebentar, orang itu menceritakan semua masalahnya.

Habib zen, hanya mendengarkannya dengan seksama. Kemudian memberikan kepadanya sebuah amalam yang diambil dari alquran. Ia menyuruh orang itu membaca surat Alam Nasyrah.. dst .

Dengan bijak, habib zen menepuk-nepuk pundak si anak muda sambil berkata:

“Dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah seperti seiris jadam, tak lebih dan tak kurang. Jika jadam itu dimasukan kedalam segelas air maka rasa air itu akan pahit. Tapi kalo jadam itu dimasukan kedalam telaga maka jadam itu itu tidak mempunyai fungsi sama sekali. jadi, kepahitan yang kita rasakan, sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Semakin besar wadah yang kita miliki semakin kepahitan itu tidak dirasakan. Begitu pula kesulitan, kesusahan, kesedihan semua itu akan tergantung pada hati kita.”

“Jadi”, kata Habib Zen, “saat kamu merasakan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu dalam menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, tapi buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

“Maka”, kata habib zen “bacalah ayat ayat ini sambil kamu memegang dadamu:

الم نشرح لك صدرك .. ووضعنا عنك وزرك .. الذي انقض ظهر .. ورفعنا لك ذكرك .. فان مع العسر يسرا .. ان مع العسر يسرا .. فاذا فرغت فانصب .. والى ربك فارغب .. سورة الشرح 1-8

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Surat As-Syarh 1-8)

Riyadh 11 Ramadhan 1436H / 28 Juni 2015 Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Dahulukan Yang Wajib

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 3, 2015

images (3)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم : دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan di dalam memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan atas keluargamu lebih besar pahalanya yang engkau telah nafkahkan atas keluargamu.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa infak yang wajib lebih utama dari infak yang sunnah. Menafkahi istri dan anak adalah wajib sehingga pahalanya lebih besar. Kemudian berinfak kepada para kerabat yang membutuhkan, baru orang lain.

Yang sering terjadi sekarang ini justru banyak orang yang mendahulukan orang lain dalam berinfak dan melupakan hak-hak orang yang terdekatnya (istri, anak, kerabat). Padahal pahalanya lebih besar jika dia termasuk orang yang tidak mampu dan membutuhkan.

Bukan berinfak saja tapi semua perkerjaan ibadah yang harus didahulukan adalah yang wajib dahulu.. kalau sudah benar yang wajibnya baru masuk ke yang sunah.. jangan mendahulukan yang sunah baru yang wajib.. itu yang sunah.. apalagi kalau bukan yang wajib atau sunah.. Mari simak cerita dibawah ini:

Seorang guru memulai materi kuliah dengan menaruh toples diatas meja. Lalu guru itu mengisinya dg bola pingpong hingga gak muat lagi.

Guru bertanya: sudah penuh?

Dijawab oleh murid2: sudah penuh pak.

Lalu guru mengeluarkan kelereng dan dimasukkan ke dalam toples tadi. Kelereng mengisi sela2 bola hingga tidak muat lagi.

Guru bertanya lagi: sudah penuh?

Murid2 menjawab: sudah pak.

Lalu guru mengambil pasir dan dimasukkan ke dalam toples tadi. Pasir mengisi sela2 bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat toples sudah penuh dan tidak ada benda yang bisa dimasukkan lagi.

Tapi terakhir dosen itu menuangkan secangkir kopi. Air kopi masuk mengisi toples yg sdh penuh dengan bola, kelereng dan pasir itu.

Kemudian ia bertanya: Apakah pesan yang dapat diambil dari apa yang saya kerjakan ini?

Lantas ia menjelaskan. Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti toples ini. Tiap kita berbeda ukuran toplesnya. Bola pingpong adalah hal2 besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Allah, anak isteri, keluarga, makan minum, tempat tinggal dan kesehatan. Kelereng adalah hal2 yang penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar, dll. Pasir adalah yang lain2 dalam hidup kita, seperti olah raga, rekreasi, ngobrol, nonton tv, whatsaap, bb, model baju, model kendaraan dll.

Jika kita isi hidup kita lebih dahulu dengan pasir hingga penuh, maka bola & kelereng tdk bisa masuk. Berarti hidup kita hanya berisi hal2 kecil. Hidup kita habis dangan dengan yang kecil. Kewajiban terhadap Allah & keluarga terabaikan.

Jika kita isi dg mendahulukan bola, lalu kelereng dst seperti tadi, maka hidup kita berisi lengkap, mulai dr hal2 besar & penting hingga hal2 yg menjadi pelengkap.

Jadi, kita mesti mengelola hidup secara cerdas & bijak. Tahu menempatkan mana yg perioritas (wajib) & mana yg menjadi pelengkap (sunah). Jika tdk, hidup bukan saja tdk lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.

Sekarang saya mau tanya Al-Quran itu prioritas (wajib) atau pelengkap (sunah)? Jawab di hati masing2.. Kalo kitabullah saja hanya dijadikan pelengkap (sunah) bukan prioritas (wajib), maka wajar saja Allah tidak memprioritaskan kita untuk sukses dalam hidup.

Lalu sang guru bertanya: ada yang mau bertanya? Semua terdiam, karna sangat mengerti apa inti pesan dlm pelajaran tadi. Namun, tiba2 seseorang nyeletuk bertanya. Apa arti secangkir air kopi yg dituang tadi..? Sang guru mjemjawab sebagai penutup. Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, bisa disempurnakan dengan silaturrahim..

Salam dari riyadh HHS

Posted in Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Apa Itu Syafa’at?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2014

 

images (2)

Setelah semua mahkluk bernyawa di dunia mati dan hancur binasa, Allah menghidupkan mereka kembali. Maka dengan tiba-tiba mereka pun tegak bangun berdiri. Mereka melihat langit, didapati langit berjalan. Mereka melihat bumi, didapatinya telah bertukar wajah, tidak seperti bumi yang dahulu. Semua makhluk berhimpun, bercampur baur menjadi satu di satu kawasan yang disebut padang Mahsyar, luasnya tak terbatas, berjejal jejal, saling berdesakan, dibanjiri keringat, tanpa pakaian, tanpa busana yang menutupi badan. Dari dahsyatnya hari itu mereka berharap kepada Allah agar dimasukan saja ke neraka ketimbang menghadapinya.

Dalam masa bangkit itu, manusia dalam keadaan bermacam-macam rupa. Lantas mereka berkata:

”Aduh celakanya kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (dari kubur kami)? Lalu dikatakan kepada mereka: “Inilah dia yang telah dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pemurah dan benarlah berita yang disampaikan oleh Rasul-rasul!” (Yassin, Ayat: 52).

Di sana semua makhluk hidup nafsi nafsi. Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, lari dari ibu dan bapaknya, lari dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang bisa melupakan segala galanya. Pada hari itu tak ada yang bisa diharapkan di hadapan pengadilan Allah kecuali sekelumit harapan yang disebut “Syafaat Nabi saw”.

Syafa’at ini adalah do’a yang Rasulallah saw simpan untuk umatnya di hari kiamat nanti. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi umatku di akhirat nanti.”.

Maka sepatutnya kita sebagai umat Muhammad meyakini wujud syafa’at Nabi saw di hari kebangkitan, disaat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar dengan iman dan keyakinan yang kuat, mengetahui apa yang diimani, bukan hanya sekedar angan-angan dan kepercayaan.

Sekarang apa itu Syafa’at?

Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi saw baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Ibnul Atsir mengatakan, ”Yang dimaksud dengan Syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.”

Contohnya, manusia banyak berbuat dosa selama hidupnya di dunia. Di hari kiamat mereka tidak bisa terhidar dari hisab atau perhitungan yang harus dipertanggung jawabkan. Mereka berharap agar ada orang yang bisa menolongnya, tapi sia sia belaka. Karena hari itu adalah hari yang sangat dahsyat. Mereka akan menemui musibah dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihindarkan oleh seorang pun, hanya ada secerah harapan berupa syafa’at yaitu perantara atau penghubung yang bisa menyelesaikan hajatnya. Di sana mereka meminta pertolongan kepada Allah melalui syafa’at. Akhirnya, orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi agar bisa menghilangkan musibah dan kesulitan yang menimpah diri mereka saat itu.

Sekarang mari kita ikuti kisah syafa’at Nabi saw yang dikenal dengan Syafa’at al-‘Uzhma  dalam hadits yang cukup panjang. Kisah ini terjadi ketika semua makhluk  berkumpul di padang masyhar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik ra, sesungguhnya Rasulallah saw bersabda, bahwa pada hari kiamat Allah mengumpulkan seluruh makhluk di satu tempat yang luas. Manusia pada saat itu berada dalam kesusahan dan kesedihan. Mereka tidak kuasa menahan dan memikul beban pada saat itu.

Kemudian mereka mendatangi Nabi Adam as, lalu berkata, “Wahai Adam, berilah syafa’at untuk anak cucumu” Adam as berkata, ”Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Ibrahim as, sesungguhnya ia adalah kekasih Allah (Khalilullah)”. Kemudian mereka mendatangi Ibrahim as. Lalu ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Musa, sesungguhnya Allah telah berbicara langsung kepadanya (Kalimullah)”. Kemudian mereka mendatangi Musa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at pada kalian hari ini. Pergilah kalian kepada Isa, sesungguhnya ia adalah ruh Allah dan kalimat-Nya”. Kemudian mereka mendatangi Isa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Muhammad!”

kemudian mereka mendatangiku. Lalu aku berkata, ”Aku memberi syafaat untuk kalian pada hari ini”. kemudian aku pergi meminta izin kepada Allah. Setelah diizinkan aku berdiri dihadapan-Nya. Kemudian Allah memberi ilham padaku dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya yang belum pernah Allah beritahukan kepada seorang pun sebelumku. Kemudian aku tersungkur bersujud dihadapan-Nya.  Lalu Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku mengangkat kepalaku. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, Ummati, Ummati (umatku, umatku).”.  Maka Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebesar biji gabah atau gandum dari keimanan”.

Kemudian aku pergi dan aku lakukan apa yang diperintahkan, lalu aku kembali lagi kepada Allah dan memuji-Nya dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku seperti dikatakan semula. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, ummati ummati (ummatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku, ”Pergilah, dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebiji sawi dari keimanan”. Kemudian aku lakukan sebagaimana aku lakukan pertama.

Lalu aku kembali lagi kepada Allah dan aku lakukan sebagai mana yang telah aku lakukan semula. Kemudian dikatakan kepadaku ”Angkatlah kepalamu” sebagaimana dikatakan kepadaku pertama kali. Lalu aku katakan ”Ya Allah, ummati ummati (umatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku ”pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang dihatinya terdapat lebih kecil dari biji sawi dari keimanan”. Kemudian aku pergi dan melakukan apa yang diperintahkan.

Lalu aku kembali kepada Allah untuk yang keempat kalinya. Lalu aku memuji-Nya dengan berbagai pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku katakan ”Ya Allah, izinkanlah aku agar bisa mengeluarkan umatku dari neraka bagi yang telah mengucapkan La Ilaha Ilallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Kemudian Allah berfirman, ”Ya Muhammad, sesungguhnya hal itu bukan bagimu atau hal itu bukan atasmu. Akan tetapi demi Kemulian-Ku, Keluhuran-Ku, Kesombongan-Ku, dan Kebesaran-Ku, Aku pasti akan keluarkan umatmu dari neraka siapa yang telah mengucapkan “La Ilaha Illallah”.

Hikmah Dan Atsar

Dari hadits diatas kita bisa menarik beberapa kesimpulan dan hikmah penting diantaranya:

-Pertama tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at  kecuali dengan izin Allah. Contohnya makhluk yang paling mulia dan penutup para Nabi yaitu Rasulallah saw, disaat ingin memberi syafaat kepada umatnya yang sedang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Beliau tidak lepas dari sujudnya sampai dikatakan pada beliau, “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.

-Kedua betapa mulianya kedudukan Rasulallah saw di sisi Allah, sehingga tidak ada satu nabi pun yang mampu memberi syafa’at kepada manusia di padang Mahsyar kecuali Nabi saw. Itulah bukti nyata kecintaan Allah kepada Nabi saw, cinta yang tidak berkesudahan. Dari kecintaan-Nya kepada beliau, apa yang dipintanya dikabulkan.

-Ketiga, hadits di atas bisa pula dijadikan bukti nyata akan kecintaan sejati Nabi saw terhadap umatnya. Cinta sejati beliau terhadap umatnya dibawa sampai ke padang Mahsyar, ketika manusia dalam keadaan sangat gawat. Ketika manusia dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatannya, ketika para nabi menolak dimintai syafa’at (pertolongan) oleh umatnya. di saat itulah Rasulullah saw justru tidak meninggalkan ummatnya. Beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Allah berkata, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan tidak ada yang dikatakan Nabi saw kecuali, ”Ya Allah , umati, umati”.

-Keempat dan terakhir, Rasulallah saw adalah bukan milik orang Arab, bukan milik orang Saudi, bukan milik orang Riyadh, bukan milik orang Jeddah, bukan milik orang Makkah, bukan milik orang Madinah, bukan milik orang Kuwait, atau Qatar, bukan milik orang Mesir, bukan milik orang Hadramut, bukan milik para ulama atau orang-orang tertentu.. Rasullallah datang sebagai rahmat lill’alamin, rahmat bagi semua, rahmat bagi manusia, rahmat bagi hewan dan tumbuh2an, rahmat bagi langit dan bumi, rahmat bagi air, batu dan kerikil. Rahmat beliau tidak terputus hanya diwaktu hidupnya, tapi rahmat beliau dibawa sampai keakhirat, sampai hari kiamat.

Allah humma shalli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohabatihi wasallim tasliman katsirah ..

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Apa itu Shalawat?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Oktober 29, 2014

 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

images (1)

Saudaraku yang dicintai Allah! Setiap mukadimah khuthbah atau kitab pasti diawali dengan ucapan puji dan dan syukur kepada Allah, kemudian setelah itu ucapan shalawat dan salam kepada Rasulallah saw, keluaraga dan para sahabat beliau.

Sekarang timbul pertanyaan kenapa kita perlu mengucapkan shalawat kepada Nabi saw sedangkan beliau adalah orang termulia, tersuci, dan terpilih di muka bumi dan dijamain masuk surga? Tentu jawaban yang tepat karena shalawat merupakan ajuran yang dianjurkan Allah kepada hamba-Nya setelah Allah menganjurkan terlebih dahulu kepada diri-Nya sendiri dan para malaikat untuk berselawat kepada Nabi saw.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab, 56).

Kalau Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi saw, maka sudah selayaknya kita sebagai umatnya untuk bershalawat pula kepada beliau.

Sholat dalam bahasa artinya do’a. Jadi shalawat kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau berarti medoakan mereka agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan salam Nya kepada mereka yang tidak terputus putus. Bahkan bershalawat kepada Nabi saw dan keluarga beliau merupakan hal yang wajib dilakukukan dalam setiap sholat. Tidak sah sholat seseorang tanpa bershalawat kepada Nabi saw dan keluarganya.

Di lain fihak ada lagi yang mengatakan bahwa shalawat kepada Nabi saw berarti kita sedang menyambung hubungan atau ikatan cinta dengan beliau. Semakin banyak kita bershalawat kepada Nabi saw semakin kuat hubungan dan ikatan cinta kita kepada beliau, dan semakin banyak pula rahmat dan barokah dari Allah akan turun kepada kita. Maka dari itu kita diajurkan disaat bershalawat jangan hanya sekedar mengucapkan, tapi kita harus tanamkan di diri kita hubungan pendekatan kecintaan kita kepada Nabi saw agar berkat shalawat semua keinginan kita bisa dikabulkan.

Itu tadi berselawat, sekarang memuji Nabi saw bukanlah menganggap dia sebagai Tuhan.. Menyanjung Rasulullah saw adalah mengakui bahwa beliau saw sebagai manusia pilihan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) kecuali (sebagai) rahmat bagi alam semesta (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin).”

Itu firman Allah. Sumber ajaran memuji dan mencintai Nabi tak lain adalah Islam itu sendiri. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga tahap. Mencintai Nabi, keluarganya, dan membaca Al-Quran.”

Untuk mencintai kekasih saja kita harus menyanjungnya, apalagi beliau itu adalah kekasih Allah, Al-Quran mengajarkan dan menganjurkan kepada umat Islam, sebagaimana tertera dalam Kitabullah sebagaimana tertera di atas,

“Sungguh Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah atasnya dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormatnya salam.” (al-Ahzab, 56).

Shalawat, jika datangnya dari Allah kepada nabi-Nya, bermakna rahmat dan keridhaan. Jika dari para malaikat, berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya, bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan keridhaan Allah dikekalkan.

Dalam surah yang lain Allah memuji hamba-Nya yang satu ini dengan,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh engkau (hai Nabi) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi.” (al-Qalam,4)

Dalam Al-Qur’an Allah memanggil nama nama para nabi langsung dengan nama-nama mereka, tidak ada basa basi. seperti,

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,Al-Baqarah,35

قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ
Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (Hud,46)

وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,(As-shaffat, 104)

وَمَا تِلۡكَ بِيَمِيۡنِكَ يٰمُوۡسٰى

“Dan apakah yang ada di tangan kananmu, hai Musa?” (Toha,17)

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku (Al-‘Imran, 55)

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya (Maryam,7)

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.(Maryam, 12)

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,(shad, 26)

Tapi Allah tidak pernah memanggil nama Banginda Muhammad saw langsung dengan namanya “hai Muhammad”, tidak sama sekali, melainkan Dia memanggilnya dengan kata-kata yang hormat dan terpilih seperti, “hai Nabi ( يَا أَيُّهَا النَّبِيّ )” , “hai Rasul (يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ)”, “hai pria yang berselimut (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ )”, “hai Hai orang yang berselimut ( يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ) ” .

Di samping itu bukankah Baginda sendiri yang menganjurkan kita untuk menghaturkan sanjungan (madah) terhadap di dia? Seorang nabi yang telah digambarkan oleh Al-Quran sebagai “pencurah rahmat bagi seluruh alam semesta”. Seperti diharapka dia dalam banyak hadits agar kaumnya banyak menyebut namanya.

“Sebutlah selalu namaku, sungguh shalawatmu itu sampai kepadaku,” sabdanya. Bahkan dianjurkan agar umat Islam banyak-banyak menyebut namanya di malam Jum’at. Seperti dalam riwayat lain, sungguh menyebut nama Rasulallah saw akan dijawab (dengan pahala) berlipat-lipat…..subhanallah….

Begitu pula jika kita ingin mengadakan hubungan dengan Allah, harus dengan shalawat. Yang dimaksudkan disini bukan membaca shalawat kepada Allah tapi melakukan shalawat atau mendirikan shalat shalat yang diwajibkan dan yang disunahkan. Semakin banyak kita shalat, semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah dan semakin banyak rahmat dan berkat turun dari Allah. Sholat atau doa kita akan didengar. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berhadapan muka secara langsung dan berbicara dengan Allah.

Sudah barang tentu dalam mengucapkan shalawat kepada Nabi saw harus disertai pula dengan bershalawat kepada keluarga dan para sahabatnya. Yang dimaksud keluarganya adalah mereka yang mempunyai tali hubungan karabat dengan beliau. Dan sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi saw, beriman dengan ajaran yang dibawa Nabi saw dan wafat tetap dalam keadaan keimanan.

Sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang mencintai dan dicintai Nabi saw, orang orang mulia, patuh mengikuti jejak Nabi saw dan ta’at dengan segala perintahnya. Mereka tidak ma’shum. Mereka adalah manusia manusia yang tidak terlepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Namun mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta dan nyawa demi agama, taat beribadah kepada Allah dengan setulus hati. Bahkan diantara mereka ada yang dijamain masuk surga yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair bin ’Awwam, Thalhah, Abdurahman bin ’Auf, Saad bin Abi Waqqash, Abu ’Ubaidah bin Jarrah, dan Said bin Zed ra. Karena jasa jasa mereka yang begitu besar, Allah telah memberikan ridha-Nya kepada mereka dan menjanjikan balasan surga di akhirat.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (al-Taubah : 100).

 Kalau Allah telah memberi Ridho-Nya kepada para sahabat, maka sudah seharusnya kita sebagai muslim menghormati mereka dan mendoakan mereka, bukan menyalahkan mereka apalagi melaknat dan mengkafirkan mereka (al-’iyadhu billah).

Kisah Mi’raj Tentang Shalawat Atas Nabi

Diriwayatkan bahwa Rasulallah saw bersabda, “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’

Jibril berkata, “Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.”

Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi, “Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.”

Malaikat itupun berkata, “Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.”

Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, “Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.”

Rasulallah saw pun bertanya, “Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.”

Malaikat itupun menjawab, “Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’ “

Allahuma shalli a’la sayyidina Muhammadin wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | 1 Comment »

♣ Cintailah Yang Di Langit

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 16, 2014

images (1)
CINTAILAH YANG DI LANGIT
Oleh: Hasan Husen Assagaf
 
 
عَنْ أِبِي الدَّرْدَاء رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ‏ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ ‏كَانَ مِنْ دُعَاءِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ‏:‏ ‏” ‏اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يًبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اَللَّهُمَّ اجْعَل حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِي، وَأَهْلِي، وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِد‏ِ “‏‏. (رواه الترمذي وقال حديث حسن)‏
 
 
Diantara doa Nabi Daud as adalah: ”Ya Allah, anugrahkan kepadaku cinta-Mu, dan cinta orang orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang menyampaikan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah jadikanlah cinta-Mu melebihi dari kecintaanku kepada diriku, keluargaku, dan melebihi dari kecintaanku kepada air yang sejuk. (HR at-Tirmidzi, hadits hasan)
 
Saudaraku,
 
Jika Allah ingin membuat sebuah kata yang indah, maka kata yang paling tepat bagi-Nya adalah kata cinta. Cinta kepada Allah akan menimbulkan gairah kepada kita untuk melakukan pengabdian sepenuh hati, ikhlas tanpa pamrih. Jika mendapat kecintaan Allah, kita akan medapatkan semuanya. Tanpa kecintaan-Nya, kita akan kehilangan semuanya. Jika mendapatkan kecintaan Allah kita akan mendapatkan hikmah. Dan barang siapa yang diberi hikmah, ia telah diberi kebaikan yang banyak
 
7Jika ia diberi hikmah maka ia akan bahagia dengan sedikit harta. Jika tidak ada hikmah, ia akan sengsara dengan harta berlimpah. Jika ia diberi hikmah, musuh bisa menjadi teman. Sebaliknya jika tidak diberi hikmah, teman bisa menjadi musuh. Allah menganugrahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang ber-akal-lah yang dapat mengambil hikmah
 
Anugrah yang luar biasa besarnya jika mendapat hikmah. Hikmah adalah anugrah dari Allah sebagai hadiah atas keimanan dan istiqamahnya. Jika diberi hikmah maka ia akan ridho dengan pemberian-Nya. Jika diberi hikmah ia akan percaya terhadap dirinya sendiri. Jika diberi hikmah ia akan mendapatkan sakinah (ketentraman hati)
 
Dengan sakinah, Ashabul Kahfi bisa tidur nyenyak di dalam gua. Dengan sakinah, Nabi Ibrahim bisa selamat dari panasnya api, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Dengan sakinah, nabi Yunus bisa hidup tentram dalam perut ikan. Dengan sakinah, nabi Yakub bisa bertemu lagi dengan anaknya Yusuf. Dengan sakinah, Allah mengabulkan doanya Nabi Zakaria. Dengan sakinah, Rasulallah saw dan Sayyiduna Abubakar Shiddik ra selamat di dalam gua Tsaur dari kejaran kafir Quraisy.
 
Dengan sakinah mereka ridho dengan pemberian-Nya, baik atau buruk. Dengan sakinah mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Mereka tidak pernah mengeluh apa apa, tidak pernah menggerutu, selalu melihat hal hal yang baik adanya, dan selalu mengabaikan yang buruk.
 
Salah satu contoh dari sakinah (ketentraman hati), Allah telah memberi kepada nabi Ayyub ujian dan cobaan yang sangat berat, bukan kepada harta benda dan anaknya saja, akan tetapi ujian dan cobaan berat telah menimpah pula terhadap dirinya. Ia menderita penyakit kulit selama 18 tahun yang tidak bisa diobati oleh thabib. Ia bersabar dan menerima, kemudian memohon pertolongan kepada Allah, iapun berseru “Ya Rab.., sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Do’a dan seruan nabi Ayyub as didengar di atas langit dan segera dikabulkan-Nya.
 
Apakah pada saat itu Allah mendatangkan kepadanya spisialis kulit yang bisa mengobati penyakitnya? Tidak. Apakah Allah menurunkan dari langit malaikat yang bisa membantu mengobati penyakitnya? Tidak pula. Akan tetapi Allah meyembuhkan penyakit Ayyub dengan kekuasaan dan petunjuk-Nya, Dia menyembuhkannya dengan sebab yang sangat kecil sekali yaitu air. Pada saat itu Allah memerintahkannya agar menghantamkan kakinya ke bumi. Ayyub pun mentaati perintah-Nya.
 
Subhanallah, dengan kehendak-Nya  keluarlah air sejuk yang memuncrat dari bekas hantaman kakinya. Ayyub pun mandi dan minum dari air itu sehingga sembuhlah dia dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan thabib dan ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.
 
Itulah sakinah. Sakinah adalah menyukuri semua nikmat yang diberikan Allah. Sakinah adalah melihat kepada hal hal yang baik adanya, dan selalu mengabaikan yang buruk.
Sakinah adalah mengarahkan perhatian pada semua yang kita miliki. Dan yang kita miliki adalah kekayaan yang melebihi dari kisah kekayaan Karun. Apakah kita bersedia menjual sepasang mata kita kalau dihargai semilyar rupiah? Kita hargai berapa kaki dan tangan kita? Kita hargai berapa pendengaran dan penglihatan kita? Terus, berapa harga anak anak dan keluarga kita?
 
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
 
Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”  Ibrahim 34
 
Apakah kita mensyukuri kesemuanya itu? Kita jarang melihat pada apa yang kita miliki
Yang selalu kita ingat hanya apa yang tidak kita punyai. Kalau kita memiliki sakinah, kita akan mensyukurinya. Kalau kita memiliki sakinah, kita akan mensyukuri nikmat
Kalau kita mensyukuri nikmat berarti kita telah dianugrahi hikmah.
 
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” Lukman 12
 
Wallahu’alam 
 
NB/ teruskan artikel ini sebayak mungkin kepada yang anda kenal, siapa tahu Allah akan membukakan jalan yang baik bagi kita dibulan yang penuh dengan kebaikan. amin  

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Kekuatan Munajat

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 10, 2014

KEKUATAN MUNAJAT
Oleh: Hasan Husen Assagaf
 
4
Alhamdulillah puasa kita jalankan dengan baik. Dan sekarang sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka insyallah. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar.
 
Pada malam yang indah ini saya akan sampaikan dua hadist.
 
لما روي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : خَرَجَ نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي فَإِذَا هُوَ بِنَمْلَةٍ رَافِعَةٍ بَعْضَ قَوَائِمِهَا إِلَى السَّمَاءِ , فَقَالَ : ارْجِعُوا فَقَدِ اسْتُجِيبَ لَكُمْ مِنْ أَجْلِ شَأْنِ هَذِهِ النَّمْلَةِ. (الحاكم في المستدرك و قال هذا حديث صحيح الإسناد)
 
Salah seorang Nabi keluar mencari air (maksudnya: shalat istisqa’, meminta hujan kepada Allah), lalu ia melihat seekor semut dengan bersandar ke punggungnya dan mengangkat kedua kakinya ke langit. Kemudian Nabi itu berkata kepada kaumnya, “Kembalilah pulang, Allah telah menerima do’a kalian karena do’a seekor semut ini.” (HR al-Hakim dalam Mustadrak dengan isnad shahih, dari Abu Hurairah ra)
 
فَعَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)
 
Rasulallah saw bersabda: “Kalian tidaklah mendapat pertolongan dan rizki melainkan disebabkan oleh orang-orang lemah diantara kalian“ (HR: Bukhari, dari Mus’ab bin Sa’ad)
 
Al-kisah, bumi Basrah sudah lama tandus tidak turun hujan. Matahari sangat terik, angin padang pasir berhembus panas dan kering. Kemarau kali ini membuat penduduk gelisah. Air susah dicari, tanaman banyak yang mati, dan ternak mulai kelihatan kurus.
 
Penduduk tidak tinggal diam. Mereka bersepakat untuk medirikan sholat Istisqa’ (shalat minta hujan). Sholat itu dihadiri oleh para alim ulama dan tokoh masyarakat Basrah yang dipimpin oleh salah seorang ulama top di antara mereka.
 
Dengan kehadiran para alim ulama terkemuka, sholat Istisqa’ ini dianggap sesuatu yang istimewa. Mereka berfikir Allah pasti mengkabulkan permintaan mereka. Mereka yakin harapan mereka dikabulkan dan hujan akan segera turun.
 
Setelah selesai sholat istisqa’ dua rakaat dan khotbahnya , ternyata tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tidak ada mendung, tidak ada awan bahkan matahari semakin terik. Kemudian timbul pertanyaan mengapa hujan tidak turun? Sedangkan mereka sholat sama-sama para alim ulama Basrah.
 
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan sholat Istisqa’ yang kedua kalinya dengan harapan agar Allah mengabulkan do’a mereka. Selesai sholat yang kedua, keadaanya masih sama. Tidak ada tanda tanda turun hujan, tidak ada mendung dan tidak ada tanda-tanda do’a mereka dikabulkan. Langit masih tetap cerah dan matahari masih tetap terik. Para alim ulama dan masyarakat semakin bertanya tanya apa sebabnya tidak turun hujan?
 
Kemudian disusul dengan shalat istisqa’ yang ketiga. Harapan besar mereka agar Allah mengabulkan do’a mereka kali ini. Tapi, masih tetap tidak ada tanda tanda turun hujan, Matahari masih tetap terik, awan tetap cerah. Para ulama mulai gelisah. Timbul tanda tanya kenapa do’a mereka tidak dikabulkan? Akhirnya seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dengan tangan hampa.
 
Hanya satu orang sufi yang tidak pulang. Ia bernama Malik bin Dinar (*1). Ia duduk di lapangan, beberapa saat memudian pergi ke masjid yang tidak berjahuan dari lapangan. Ia duduk di masjid sampai larut malam. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang ke dalam masjid. Orang itu berkulit hitam, penampilannya sangat sederhana sekali, dan memakai sarung dan baju tidak terurus.
 
Malik mengamati gerak-geriknya dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan di larut malam seperti ini. Orang itu pergi ke tempat wudu lalu menuju ke mihrab. Ia kemudian mengerjakan sholat dua raka’at. Sholatnya pun tidak terlalu lama, surat yang dibaca tidak panjang, begitu pula kiam, ruku dan sujudnya sekedar tuma’ninah.
 
Selesai sholat, orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdo’a. Malik bin Dinar mendengar isi do’a yang ia sampaikan dengan nada yang tidak terlalu keras tapi bisa didengar orang. Ia berkata:
 
5Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu telah datang berkali-kali kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaan-Mu. Apakah rahmat dan belas kasihan-Mu terhadap mereka telah habis? Atau jika Kamu kabulkan harapan mereka akan mengurangi kekuasaan-Mu? Ya Allah, aku bersumpah demi nama-Mu dan kecintaan-Mu kepadaku turunkanlah hujan kepada kami dengan secepatnya
 
Setelah do’a dibaca oleh orang tersebut, angin dingin datang dengan sekerasnya, awanpun mendung, bumi mejadi gelap gulita dan suara halilintar terdengar dengan sekerasnya. Tidak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Dengan seketika bumi Bashrah menjadi basah.
 
Malik bin Dinar tercengang menyaksikan keadaan tsb. Ia menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya lalu menghampirinya dan berkata: “Wahai pemuda, kamu tidak malu kepada Allah dengan dengan isi do’a yang kamu bacakan tadi.”. Pemuda itu bertanya: “isi do’a yang mana yang kamu maksudkan?”. Malik bin Dinar berkata, “Do’a yang kamu baca bahwa yang mana Allah mencitaimu. Apakah kamu memang yakin bahwa Allah mencintaimu?” Lalu orang itu menjawab dengan singkat, “Karena Aku sangat mencintai Allah, maka aku yakin Allah akan mencitaiku. Bagaimana aku beribadah tanpa menanamkan rasa cintaku kepada-Nya? Maka sesuai dengan kadar cintaku kepada-Nya aku dapatkan cinta-Nya kepadaku”. Setelah itu, ia segera pergi. Malik bin Dinar mencoba menahannya. “Tunggu sebentar, aku ingin tahu siapa kamu itu sebenarnya? “Aku adalah seorang pembantu yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah majikanku” jawabnya.
 
Akhirnya Malik mengikutinya dari jauh. Pemuda itu memasuki rumah orang kaya di Basrah. Pagi harinya ia segera menuju rumahnya dan menanyakan jika orang kaya itu ingin menjual pembantunya. Orang kaya itu berkata, “Ambillah budak ini. Terserah berapa saja kamu ingin bayar harganya. Ia tidak berguna bagiku, karena malam ia habiskan waktunya untuk menangis dan siang untuk shalat dan puasa
 
6Kemudian Malik bin Dinar menuntun tangan pemuda tadi dan dibawa ke rumahnya. Di tengah jalan ia meminta untuk mampir ke masjid. Setibanya di masjid, ia berwudu dan terus mengerjakan sholat sunat dua rakaat. Malik bin Dinar mengamatinya, ia ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh pemuda itu. Selesai sholat, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa seperti yang dilakukannya malam itu. Tetapi kali ini dengan do’a yang berbeda:
 
Ya Allah, rahasia antara aku dan Engkau telah telah diketahui oleh semua makhluk. Bagaimana aku bisa hidup dengan tenang di dunia ini karena telah ada orang ketiga menjadi penghalang antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah demi kecintaan-Mu kepadaku, cabutlah nyawaku sekarang juga,”
 
Setelah diturunkan kedua tangannya pemuda itu sujud. Malik bin Dinar mendekatinya, menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi ia sujud agak lama dan tidak bangun-bangun. Malik menggerakkan badannya, tapi… ia sudah tidak bernyawa lagi. Subhanallah.
 
Itulah dunia. Makanya janganlah sekali-kali meremehkan seseorang, berperasangka baiklah kepada setiap manusia. Setiap manusia Allah berikan kelebihan yang berlainan. Janganlah memandang rendah kepada kepada yang lemah, kepada yang miskin, kepada yang bodoh, siapa tahu Allah mengangkat derajat mereka. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau ia sedang  berada di atas jangalah sombong, angkuh dan bangga, sebaliknya kalau ia berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintun gerbangya:  “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17
 
Katakanlah : Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas” Al-Imran, 26-27
——————–
 
(1)Malik bin Dinar seorang tabi’in yang hidup di zaman Hasan al Bashri, bahkan ia adalah salah seorang muridnya. Ia terhitung sebagai seorang Shufi, ilmuwan yang zuhud dan rendah hati. Dia adalah seorang yang suka merendah dan tidak mau makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri. Dan kerjanya adalah menulis mushaf  dengan upah. Ia juga ahli hadits yang diriwatkan dari tokoh-tokoh hadist di masa lampau seperti Anas bin Malik, Ibnu Sirin dll. Malik bin Dinar meninggal sekitar tahun 130 H yang bertepatan tahun 748 M. Dalam do’a nya yang populer Malik bin Dinar berkata : “Ya Allah, janganlah Kamu masukkan apapun ke dalam rumah Malik bin Dinar”.
 
Wallahu’alam/ Hasan Husen Assagaf
NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Shiam & Shaum

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 1, 2014

SHIAM DAN SHAUM

Oleh: Hasan Husen Assagaf

images

Mari kita lihat perbedaan kata antara shiyam (الصيام) dan shaum ( الصوم )

Ada empat kata shiyam (الصيام) dalam dalam surat Al-Baqarah. Dua kata terdapat dalam ayat 187, satu dalam ayat 196  dan satunuya lagi terdapat dalam ayat 183. Semua kata shiam disini bermakna perintah untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan puasa dari mulai fajar menyingsing sampai tenggelamnya matahari. Puasa ini lebih poluler lagi disebut puasa menahan perut dari lapar dan haus. Sorang muslim berpuasa dari terbit matahari sampai tenggelamnya niatnya hanya cukup untuk menjahui hal hal yang membatalkan puasa. Barang siapa berpegang teguh kepada yang telah ditetapkan syariat, maka puasanya shah dan tidak ada qadha atau kafarah baginya, dan tentu mereka akan memperoleh faidah dunia dan pahala akhirat. Akan tetapi puasa sejenis ini tidak akan mewujudkan faedah-faedah lain yang diharapkan. Inilah yang dinamakan shiam atau puasa syariat atau yang disebut puasa kebanyakan manusia.

Adapun kata shoum ( الصوم ) hanya satu kata terdapat dalam dalam surat Maryam, Allah berfirman di ayat 26:

فَكُلِي وَٱشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلبَشَرِ أَحَداً فَقُولِيۤ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيّاً

Artinya: ”Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (diam) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.

Kata shaum (الصوم) dalam ayat diatas artinya diam atau tidak berbicara. Itu yang dianjurkan Allah kepada siti Maryam, tetkala ia mengandung anak (Nabi Isa) tanpa bapak, lalu ia menjauhkan diri dari manusia. Ia disuruh makan dan minum tapi berpuasa, maksudnya berdiam atau berzikir.

Jadi yang dimaksud dengan kata shaum yaitu disamping perut berpuasa juga seluruh anggota tubuh yang lain ikut berpuasa. Seperti mata berpuasa, telinga berpuasa, mulut berpuasa, tangan dan kaki ikut pula berpuasa. Puasa jenis ini dinamakan juga dengan puasa untuk mensucikan akhlak dari berbagai hal yang diharamkan dan dari berbagai hal yang dibenci.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang tidak menjaga mulutnya di bulan Ramadhan dari dusta atau mengupat seseorang, atau menuduh sesorang atau menyakiti sesorang dengan lidahnya maka puasanya menjadi batal. Seseorang yang benar benar berpuasa dengan seluruh anggota tubuhnya akan memiliki doa yang mustajab ketika berbuka. Jika anggota tubuh sesorang berpuasa sebagaimana perutnya berpuasa, maka dia akan bisa mencapai derajat yang tinggi pada hari hari terakhir dari bulan Ramadhan.

Pernah satu kali Rasulallah saw mendengar seorang wanita tengah mencaci maki tetangganya sementara dia sedang dalam keadaan berpuasa. Maka Rasulallah saw pun menyuruh wanita itu berbuka.

Rasulallah saw berkata kepada wanitu itu: “Makanlah”.

Wanita itu menjawab: “saya sedang berpuasa”

Rasuallah saw berkata: “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sementara engkau mencaci maki tetanggamu. Sesungguhnya puasa bukanlah hanya dari makan dan minum”.

Ini perbedaan antara shiam dan shaum menurut Nabi saw. Wanita itu shiam tapi tidak shaum.

Ada lagi yang lebih tinggi dari jenis shaum, jenis ini merupakan jenis puasa yang amat sulit untuk diikuti yaitu puasa (shaum) hati. Ini biasanya dilakukan oleh orang orang shufi. Jenis ini disamping seseorang harus berpuasa perutnya, dan seluruh anggota tubuhnya, maka hatinya pun harus berpuasa.

Sekarang, bagaiman hati itu harus berpuasa? Hati berpuasa dari lintasan pikiran yang buruk dan dari sifat yang tercela, itu menurut Hb Abdullah Alhaddad dalam kitabnya yang populer Nashaih Diniyah. Maksud beliau meskipun pikiran buruk dan sifat jahat terdetik di dalam hati namun puasa (shaum) mencegahnya untuk tidak dilakukanya. Pikiran buruk itu seperti penyakit dengki, hasut, penyakit pelit dan kikir, penyakit buruk sangka, dan juga penyakit sombong.

Nah, kalau kita sudah bisa menyapai kepada kebersihan hati, dan tidak ada yang terdetik dihati kecuali Allah, tidak ada yang dicintai kecuali Allah, tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, berarti hatinya telah menjadi milik Allah. Maka Allah akan menerangi hatinya, menerangi jalannya, menerangi pikiranya sehingga ia akan sampai derajat shufi, mencapai derajat sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam kitab Nya,

رِجَالٌ لاَّ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ

“Laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah” an Nur 37

Wallahu’alam/ Hasan Husen Assagaf

NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Bacalah! (Iqra’)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 21, 2014

 

2Oleh: Hasan Husen Assagaf

Ada peristiwa besar dalam kehidupan Rasulallah saw yang patut direnungkan dan  dipikirkan kembali oleh kita sebagai pengikutnya. Yaitu peristiwa ketika beliau menyendiri di Gua Hira di Jabal Nur, jauh dari kesibukan kehidupan kota Mekkah.

Tiba-tiab sebuah suara terdengar: “ Iqra’ “ artinya bacalah.

Tubuh Rasulallah saw pun menggigil berkeringat.

Lalu beliau menjawab: “saya tidak bisa membaca”.

Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.

Mendengar perintah itu tubuh beliau makin menggigil.

Beliau menjawab lagi: “saya tidak bisa membaca”.

Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.

Seiring itu pula Rasulallah saw menjawab dengan ucapan yang sama:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan”

941277294_2481909890_m“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan” adalah wahyu pertama, surat al-Alaq, dari Allah turun kepada Rasulallah saw melalui perantara malaikat Jibril as di puncak jabal Nur, di gua Hira’-Makkah. Mulai saat itu beliau menerima wahyu dari Allah berturut turut 23 tahun hingga usia beliau 63 tahun. Wahyu itu lalu dikumpulkan oleh para shahabat sehingga menjadi sebuah Mushaf, dan dikenal sebagai al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan bagi manusia yang memiliki akal dan pikiran. Ini merupakan suatu amanat yang besar dari Allah agar manusia “membaca“.  Dahulu, amanat (akal dan fikiran) ini telah ditawarkan pada langit dan bumi, bulan, bintang dan matahari, gunung, lautan, api, batu, angin, tsunami dan semua benda jamad yang tidak berakal. Semua enggan untuk memikul amanat tersebut karena mereka khawatir akan menghianatinya. Maka dipikulah amanat itu oleh manusia.

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh“ al Ahzab, 73.

Masa lalu, saat pertama kali saya belajar al-Qur’an bermula di kampung, di Cianjur. Umur saya mungkin kurang lebih tujuh tahun. Saya dibawa ke seorang kiai yang mengajarkan kami membaca al-Qur’an. Saya masih ingat dan tidak bisa melupakan kiai itu. Ia orang tua soleh, ahli dalam bacaan kitab suci, mampu berdoa dan oleh orang kampung ditaruh di garis depan di bidang rohani. Sekarang kenangan ini menimbulkan apa yang barang kali patut disebut dalam bahasa Arab “ihsas muzdawij“ atau perasaan bercampur syukur dan sedih sekaligus pada saat yang sama.

Rasa syukur muncul karena sejak saat itu saya diajari adab sopan santun yang berurusan dengan al-Qur’an, bahwa buat sekadar menyentuh kitab suci saja, diri kita harus pula suci. “tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan “ al-Waqiah,79 . Maka sebelumnya saya pun berwudu’ dan untuk membacanya, mula mula saya membaca doa ta’awudh atau doa mohon perlindungan Allah supaya kita dijauhkan dari gangguan syetan yang jahat.

Adapun yang membuat saya merasa sedih karena kitab suci dihormati cuma dari segi rohaniah saja. Padahal kitab suci, yang dalam firman Allah disebut “ berisi petunjuk yang tak diragukan” bukan hanya untuk dijadikan benda pusaka akan tetapi kitab suci itu untuk dibaca, dipelajari, ditelaah makna-maknanya dan arti-artinya secara mendalam, kemudian diamalkan sebagai kitab yang di dalamnya tak diragukan, mengajak kita supaya bertakwa pada Allah.

Imam besar Ghazali dalam kitabnya Ihya menyebutkan bahwa membaca kitab suci dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus segala duka. Di dalam kitab suci, ada amalan-amalan gaib dan kekuatan wahyu yang mampu menghapus gumpalan gelap yang menutup hati. Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi terang.

Maka dengan membaca al-Qur’an dan menelaah makna-maknanya, seharusnya kita bisa membuat suatu yang bisa merobah diri kita dari alam kegelapan ke alam terang menderang, membawa kita ke alam yang lepas dari kejahilan yang selalu memojokan umat Islam sekarang ini  ke sudut yang gelap, ke sudut yang bisa membuat mereka dilecehkan dan dipecahbelahkan. Kitab suci harus disikapi seperti anjuran Amirul Mu’minin Umar bin Khattab ra, yang mana kita harus bisa sebesar mungkin mengambil manfaat duniawi dari al-Qur’an tadi, bukan hanya sebagai usaha masuk surga.

Jadi apa faedahnya membaca al-Quran sejak berabad-abad bila kita tetap dikalahkan, dilecehkan, dipojokan dan dipecahbelahkan. Memang ada yang salah pada diri-diri kita bahwa kita membaca kitab suci hanya untuk persiapan mati, bukan untuk persiapan hidup. Sedang sejarah Islam telah membuktikan bahwa, dengan al Qur’an, mereka bisa merobah dunia.

Wallahu’alam,

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Buta Huruf (Ummiy)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 24, 2014

download

Apa betul Nabi saw itu buta huruf (Ummiy)?

Sebelumnya saya akan bawakan ayat al-Qur’an yang berbunyi:

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Artinya : ”Dan kamu (wahai Muhammad) tidak pernah membaca sebelum Al-Qur’an sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), maka benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” – Al-Ankabut: 48

Kata  mukjizat berasal dari bahasa Arab a’jaza – yu’jizu yang artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu. kemudian diartikan sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang diberikan kepada seorang Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang tidak mampu ditantang atau dilawan oleh manusia biasa. Mukjizat merupakan khariqul’adat atau sesuatu yang melanggar kebiasaaan.

Jelasnya, mukjizat merupakan sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan dan tidak bisa diterima oleh akal manusia biasa hanya bisa dirasakan oleh keimanan. Berapa banyak mukjizat turun kepada para Nabi tapi tidak diimani oleh orang kafir. Mereka bukan tidak mempercayainya tapi karena sifat adat kejahiliyan, kesombongan dan kedengkian justru mereka menolaknya. Berapa banyak hal yang mereka tuntut supaya Nabi yang mereka tantang itu mampu menunjukkan kejadian-kejadian aneh diluar kebiasaan manusia, tapi setelah terbukti tetap mereka tolaknya.

Masing masing Nabi diberikan mukjizat yang berbeda-beda satu sama lain. Mukjizat ini hanya diberikan untuk menguatkan kenabiannya dan menunjukan bahwa agama yang dibawanya bukanlah bikinannya sendiri tetapi benar-benar dari Allah. Contohnya mukjizat nabi Musa as, tongkat yang diberikan kepadanya dapat menelan semua ular yang didatangkan tukang-tukang sihir dan dapat membelah laut. Dan mukjizat nabi Isa as dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya. Rasulallah saw berisra’ Mi’raj merupakan mukjizat. Rasulallah saw membelah bulan juga mukjizat, Rasullah saw berbicara dengan Allah secara langsung merupakan mukjizat. Al-Qur’an merupakan mukjizat. Dan masih banyak lagi mukjizat Nabi saw, salah satunya ialah bahwa beliau itu ummi (buta huruf), tidak bisa membaca dan menulis.

Beliau itu ummiy, tidak bisa membaca dan menulis, karena beliau tidak belajar kepada siapapun. Sejak kecil hati beliau telah dibedah oleh Jibril as atas perintah Allah dan dikeluarkan segumpal darah yang berisi was was syetan, lalu dicuci dan diisi dengan hikmah, makrifah dan ilmu yang tidak diberikan kepada siapapun. Setelah menjadi Nabi beliau diajarkan kepadanya oleh Allah melalui perantaraan Jibril. Makanya apa yang diucapkan beliau tidak menurut kemauan hawa nafsunya.

Yang menjadi perhatian kita bahwa Nabi itu ummiy tidak dapat membaca dan menulis, tapi kita harus berhati-hati buta huruf Nabi saw disini bukan berarti nabi itu bodoh atau jangan dikaitkan dengan kebodohan dan ketidakfahaman. Jangan sekali-kali berperasangka buruk karena yang mengajarkan Nabi saw bukan manusia tapi Allah.

Misalnya kalau kita datang kepada Albert Einstein, fisikawan terkenal di seluruh jagat yang menemukan teori relativitas dengan rumusnya yang paling terkenal adalah E=mc², kalau kita datang kepadanya dan sodorkan buku berbahasa Arab, ia pasti tidak faham karena ia buta huruf Arab. tapi kita harus berhati hati buta hurufnya Einstein dalam Bahasa Arab disini bukan berarti ia itu bodoh.

Jadi jika dikatakan buta huruf bagi Nabi saw bukan berarti beliau itu bodoh. Allah Maha Kuasa, dan Sangat Bijaksana, dia telah membuat Nabi buta huruf agar semua sumber yang datang dari beliau hanya berupa wahyu Allah. Semua tindak-tanduk Nabi saw adalah wahyu, perbuatanya wahyu, pembicaraannya bersumber dari wahyu, keputusannya adalah wahyu. Jika beliau bisa membaca dan menulis maka ia akan belajar semua kebudayan ummat yang sudah maju pada saat itu, beliau pasti belajar kebudayaan yunani, kebudayaan Mesir, kebudaan Persia, kebudian Greek, lalu datang wahyu dari Allah maka terjadi tumpang-tindih antara kebudayan yang pernah dibaca Nabi dengan dengan wahyu yang turun dari Allah.  Jika beliau berbicara tentang satu ayat maka orang kafir akan bertanya;  “apakah ini wahyu dari Allah atau dari Anda”.

Jadi suatu hikmat yang luar biasa Allah menjadi Nabi kita saw buta huruf, agar semua wahyu yang turun tidak bercampur-baur dengan kebudayan apapun, melulu wahyu dari Allah. Dan semua informasi dan fakta yang yang diucapkan Nabi saw hanya wahyu dari Allah Yang Maha Esa.

Jelasnya, buta huruf bagi Nabi saw merpakan kehormatan, sebaliknya bagi kita sebagai manusia biasa merupakan cela dan aib, karena wahyu tidak turun kepada kita, kalau kita tidak belajar membaca dan menulis kita akan bodoh, sebalikna jika kita mengatakan Nabi ini buta huruf tidak bisa baca dan nulis berarti suatu kehormatan dan keistimewaan, maksudnya membuat semua perbuatan, perkataan, ilmu, dan tidak-tanduk Nabi saw adalah wahyu dari Allah.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى

Allah berfirman, yang artinya:

“kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.” An-Najm 2-6

Al-Qur’an turun melalui Jibril as kepada Nabi saw bukan dengan tulisan (teks) tapi dengan lisan. Bahkan ayat pertama yang turun kepada beliau berbunyi “Iqra” (bacalah) bukan “Uktub” (Tulislah). Dari salah satu mukjizat Nabi saw adalah bahwa beliau itu buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis, karena beliau tidak belajar kepada siapapun, beliau diajarkan kepadanya oleh Allah melalui perantaraan Jibril. Makanya apa yang diucapkan beliau tidak menurut kemauan hawa nafsunya.

Adapun hikmah Nabi itu buta huruf itu telah dijelaskan oleh ayat diatas yaitu untuk menghilangkan tuduhan atau sangkaan orang-orang kafir terhadap Rasulullah saw bahwa Al-Qur’an diambil dari orang lain, atau dikutip dari kitab-kitab sebelumnya. Dengan demikina mereka tidak mendapatkan alasan sedikitpun untuk menyerang apa yang telah dibawa oleh Nabi didalam risalahnya maupun Al Qur’an yang telah diterimanya sebagai sebuah wahyu dari Allah selama diturunkannya secara berangsur-angsur hingga akhir hayat beliau.

Sekarang kenapa wahyu yang turun kepada beliau dari Allah baik melalui Jibril atau langsung bisa diterimanya? Karena ingatan dan hapalan Nabi saw super hebat, luar biasa tidak bisa disamakan dengan ingatan dan hapalan orang orang biasa. Maka semua wahyu yang dibacakan Jibril as yang turun dari Allah kepada beliau bisa langsung melekat di ingitan Nabi saw tidak bisa terlepas lagi.

Jelasnya, kalau ada orang mengatakan bahwa Nabi saw itu pintar menulis berarti dia bodoh tidak mengetahui sejarah Nabi saw atau berarti dia telah melecehkan Islam. Orang pintar pada masa Nabi saw bukan orang yang pandai menulis tapi yang hebat pada zaman itu adalah orang yang hapalanya kuat. Kalau begitu menulis bukalah budaya orang Arab. Orang Arab di masa itu merasa malu jika diketahui ia pandai menulis. Karena mereka mengandalkan diri mereka kepada hapalan. Orang yang pandai menulis berarti hapalannya tidak kuat. Makanya hadist-hadist Nabi saw yang diriwayatkan atau disampaikan dengan lisan memiliki kedudukan yang lebih kuat daripada riwayat yang disampaikan dengan tulisan

Tapi Islam adalah agama terbuka dan bisa menerima budaya yang datang dari luar semasih budaya dan cara mereka itu baik tidak keluar dari rel-rel syariat. Contohnya setalah wafatnya Nabi saw para sahabat mulai mengumpulkan Al-Qur’an dari penghapal-penghapal agar mukjizat Nabi itu tidak putus dan habis sepeninggalan mereka. Maka terbentuklah “lajnah” untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan ini tentu memerlukan waktu dan tenaga luar biasa. Setelah terkumpul mulailah mereka menulis demi untuk menjaga keselamatan Al-Qur’an dari tangan tangan kotor dan memeliharanya agar tetap bersih, murni dan terjaga.

Wallahu’alam //Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Bahasa Arab

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 7, 2014

Oleh: Hasan Husen Assagaf

1Penghuni surga yang pertama adalah nabi Adam as. Di dalam sebuah riwayat bahwa penduduk surga itu berbahasa Arab, maka bisa dikatakan jika bahasa nabi Adam as adalah bahasa Arab. Tetapi tidak ada riwayat secara pasti mengenai bahasa yang digunakan di syurga, apakah bahasa Arab atau bahasa lainnya

Bahasa Arab adalah bahasa yang cukup tua usianya dan tetap digunakan umat manusia sampai hari ini. Bangsa Arab yang pertama kali dikenal berasal dari Yaman, dari kabilah Jurhum yang mewariskan kabilah Al-Qahthan. Mereka berhijrah ke Jaziratul Arab, ke Makkah setelah diketemukan zamam oleh nabi Ismail dan ibunya Hajar as.

Nabi Ismail as bukan Arab tapi musta’rabah (artinya membias mejadi Arab). Karena kedatangan kabilah Jurhun yang hidup di Jaziratul Arab, maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah. Campur-baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismail tak bisa dielakan. Dari sana , terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari, bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Arab.

Bahasa Arab memiliki perbendaharaan yang sangat luas dan banyak. Bahkan para ahli bahasa Arab mengatakan bahwa bahasa Arab memiliki persamaan kata (sinonim) yang paling menakjubkan. Misalnya saja kalau kita buka kamus bahasa Arab yang top seperti kamus “Lisanul Arab”, kata Asad yang artinya singa, mempunyai sinonim yang banyak sekali lebih dari 50 kata semuanya artinya satu hewan Asad (singa). Diantaranya yang saya tahu adalah Laits, Ghadanfar, Dhargham, Qaswar, Haidar, Sari, Basil, Hamzah, Fadi, Usamah, Syibl, Abbas dan lain sebagainya. Hal semacam ini tidak pernah ada di dalam bahasa lain di dunia ini, hanya ada di dalam bahasa Arab, karena faktor usia bahasa Arab yang sangat tua, tetapi tetap masih digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari hingga hari ini

Itu keistimewaan bahasa Arab, lain dengan bahasa Inggris. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Inggris bertemu dengan kakeknya yang ketujuh, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa ngobrol walaupun mereka sama-sama orang Inggris. Kenapa? Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammarnya. Setelah ratusan tahun, bahasa itu mengalami perobahan total.

Berlainan dengan Bahasa bahasa Arab, dari zaman Rasulallah saw dan sebelumnya, tidak berobah. Kalau seumpamanya Rasulallah saw, orang Arab yang hidup di abad ke 7 bertemu dengan Hb Umar bin Hafidh cucunya yang ke-45, orang Arab yang hidup di abad 21 ini, mereka bisa ngobrol santai dengan menggunakan bahasa Arab.

Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung arti yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Cukup hanya terdiri dari dua atau tiga huruf dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain, subhanallah. Makanya bahasa Arab ini tidak bisa disingkat, dibolak-balik atau diacak-acak hurufnya. Karena bisa merobah makna dan arti. Kurang satu titik saja bisa merobah arti.. Luar biasa..

Terus, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang sempurna yang bisa menerjemahkan Al-Qur’an percis seperti bahasa Arab aslinya. Semua terjemahan akan bertele-tele dan panjang-lebar, kadang kadang sulit difahami ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh ringan, lafadz “kitab” dalam bahasa arab artinya buku, ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka lagi kamus kita dapatkan kata “kitab” artinya kitab, buku, surat, hukum, takdir, catatan amal perbuatan, Al-Qur’an, Injil, Taurat dan masih banyak lagi arti2 lainya yang sulit dibawakan disini.

Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Saya bukan membanggakan diri, ayah saya ahli sasta Arab, seorang syair yang cukup dikenal dikalangan Alawiyyin pada zamannya, tapi ia tidak bisa menerjemahkan sastanya kedalam bahasa Indoneisa. Bukan tidak mampu, tapi bendahara  bahasa Indonesia yang tidak mampu menerjemahkan syair2nya kedalam bahasa Indoneisa.

images (1)Lain dari itu, bahasa Arab memiliki keindahan saat dilantunkan dan didengar, tidak membosankan walaupun diulang berkali kali. Lihat saja surat Al-Fatihah, dibaca orang ribuan kali baik di dalam shalat atau di luar shalat, belum pernah ada orang yang merasa bosan atau terusik ketika dibacakan. Bahkan bacaan Al-Qur’an itu begitu sejuk di hati, indah dan menghanyutkan. Itu baru orang yang tidak paham bahasa Arab. Sedangkan orang yang mengerti bahasa Arab, pasti ketagihan kalau mendengarnya. Bahkan orang yg benar-benar paham bahasa Arab kita lihat bila sholat atau berdoa sampai menangis. Kita semua tahu kisah-kisah tentang Rasulullah saw dan sahabat sahabat beliau menangis saat membaca Al-Quran, bahkan kita tahu Sayyiduna Umar Ibn Khattab ra yang pribadinya keras sebelum masuk islam, hatinya luluh saat mendengar surat Toha dibacakan.

Tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa tetap terdengar indah ketika dibacakan, namun tetap mengandung arti yang kaya, kecuali bahasa Arab. Dengan alasan ini maka wajarlah bila Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa yang dipakai di dalam Al-Qur’an.

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ قُرْآناً عَرَبِيّاً لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada umulqura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya” – Asy-syura,7

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | 1 Comment »

♣ Wahyu Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Desember 9, 2013

Cara Nabi Menerima Wahyu  (Dikutip dari hadits Nabi)

Oleh: Hasan Husen Assagaf

112

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ (رواه التخاري)

Dari Aisyah Ummul Mukminin r.a. bahwa ia berkata, “Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. (HR. Bukhari).

 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها  أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رضى الله عنه سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْىُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَحْيَانًا يَأْتِينِى مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَىَّ فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِىَ الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِى فَأَعِى مَا يَقُولُ . قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْىُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا (رواه البخاري)

Dari Aisyah Ummul Mukminin ra bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulallah saw, “Ya Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada Anda?” Rasulullah menjawab, “kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, aku baru mengerti apa yang disampaikannya. Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki menyampaikan kepadaku dan aku mengerti apa yang disampaikannya,” Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Nabi ketika turunnya wahyu kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi berkeringat.” (HR Bukhari)

Dari hadist2 di atas bisa diambil kesimpulan ada tiga macam cara Rasulallah saw menerima wahyu dari Allah, yaitu pertama melalui mimpi, kedua melalui suara yang mirip dengan suara lonceng dan ketiga melalui Malaikat yang turun dalam bentuk aslinya atau menjelam menjadi seorang lelaki. Diantara tiga cara penurunan wahyu ini, yang paling berat bagi Rasulallah saw adalah wahyu yang turun melalui suara yang mirip dengan suara lonceng.

111Sekarang bagaimana caranya Rasulallah saw menerima wahyu Allah??  Tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikatnya. Pengetahun tentang cara penerimaan wahyu tersebut merupakan salah satu rahasia Allah. Hal ini tidak bisa diuraikan secara akal atau fikiran atau yang lebih tepat lagi dikatakan hal yang bersifat ghaib atau berada di luar jangkauan akal manusia. kemudian diartikan sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang diberikan kepada beliau, sebagai bukti kenabiannya yang tidak mampu ditantang atau dilawan oleh manusia biasa.

Berlainan dengan Malaikat, mereka menerima wahyu dari Allah tampak huruf dan tampak suara. Disini Allah telah menciptakan ilmu tersendiri yang diberikan kepada diri si penerima wahyu sehingga ia dapat memahami apa yang diwahyukan oleh Allah. Sebagaimana ucapan Allah tidak seperti ucapan makhluk, maka kemampuan mendengar yang diberikan Allah kepada seseorang yang akan menerima wahyu juga berbeda dan tidak sama dengan kemampuan mendengar makhluk lain pada umumnya.

Cara penerimaan wahyu yang menyerupai lonceng tersebut terasa paling berat bagi Rasulallah saw. Sebab dalam kondisi tersebut, Rasulallah saw telah memasuki alam Malaikat dan meninggalkan alam kemanusiaan. Di alam tersebut Rasulallah saw menerima wahyu sebagaiman para malaikat menerima.

Beturan suara yang dihasilkan dari lonceng menimbulkan suara dengung. Suara Itulah yang sangat berat bagi Rasulallah saw. Memahami perkataan dengan bunyi lonceng lebih sulit daripada memahami perkataan secara langsung. Sebagian ulama mengatakan bahwa berat atau sulitnya menerima wahyu bertujuan agar Nabi lebih konsentrasi untuk memasuki alam baru. Setelah bunyi itu berhenti baru Rasulullah saw  mengerti perkataan yang disampaikan Allah kepadanya. Subahanallah (Maha Suci Allah) yang telah memberikan kekuatan kepada Rasulallah saw menerima wahyu dengan cara ini.

Sedang wahyu yang turun dengan perantaraan Malaikah dapat diterima langsung oleh Rasulallah saw tanpa harus menuju alam Malaikat. Dalam hal ini baginya  tidak terlalu berat jika dibanding cara yang menyerupai suara lonceng. Penerimaan wahyu melalui Malaikat ada dua cara. Pertama Malaikat turun kepada Nabi saw dalam bentuk aslinya dan kedua turun menjelma sebagai seorang laki muda tampan.

Malaikat dalam Islam, merupakan makhluk mulia, halus dan mengagumkan yang diciptakan Allah dari cahaya dan terpelihara dari maksiat. Mereka bukan laki laki atau perempuan, tidak kawin, tidak berketurunan, tidak beribu dan berbapak, tidak tidur dan tidak makan dan minum. Mereka bisa berubah bentuk, sebagaimana terjadi pada malaikat Jibril as ketika menyampaikan wahyu kepada Rasulallah saw. Tidak jarang ia menampakkan dirinya dalam bentuk aslinya dan juga dalam bentuk seorang laki laki muda yang tampan. Begitu pula Malaikat telah menampakkan dirinya kepada siti Maryam dalam rupa laki-laki yang sempurna, sebagaimana Malaikat juga menampakkan dirinya sebagai tamu mulia kepada nabi Ibrahim as.

Para ulama menyatakan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa melihat malaikat dalam rupa aslinya, kecuali para nabi dan itu pun karena Allah menguatkan mereka. Allah berfirman dalam surat Al-An’am ayat 8 yang artinya: “Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu,”. Para ulama mentafsirkan jika Malaikat turun dalam bentuk aslinya kepada manusia maka semua akan mati karena mereka tidak akan sanggup melihat bentuk malaikat. Sudah diketahui bersama bagaimana beratnya keadaan Nabi saw tatkala beliau melihat rupa asli Jibril di dalam goa Hira’. Terkadang wahyu turun pada musim dingin yang sangat dingin. Karna berat beban wahyu Allah sehingga beliau mengucurkan keringat yang sangat banyak. (Lihat kitab Akidah Menurut Ajaran Nabi oleh Habib Abdurahman Assagaf yang disyarah oleh Hasan Husen Assagaf)

Allah memberi kekuatan dan kemampuan luar biasa kepada Rasulallah saw untuk menerima wahyu-Nya. Bahkan ketika menerima perintah sholat. Rasulallah saw menerimanya langsung dari Allah, tampak perantara Malaikat dan tidak ada satu pun malaikat yang mampu ikut menemani Rasulallah saw disaat bertemu dengan Allah. Semua diatas menunjukan betapa mulia dan kebesaran Junjungan Nabi kita Muhammad saw. Allahumma shali wasallim wa barik ‘alih wa ‘ala alih

wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Membelah Bulan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada November 11, 2013

bulan 1 Sekembalinya dari Thaif, Rasulalah saw dalam keadaan terluka dan terusir, datanglah Malaikat meminta izin kepada beliau untuk menghacurkan warga Mekkah yang keji.

Malaikat berkata:

لو شئْتَ لأطْبقْتُ عليهم الأخْشبَيْن ! يعني الجبلين

“Wahai Muhammad, seandainya kamu berkehendak agar aku hempaskan ke dua gunung batu keras ini kepada mereka (kafir Quraisy), maka akan kulakukan”

Ajakan Malaikat tidak diterima oleh Rasulallah karena beliau tidak berda’wah dengan kekerasan, paksaan dan berutal. Nabi saw pun berdoa:

اللهمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ لَعَلَّ اللهُ يُخْرِجُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله” ، وَقَدْ اِسْتَجَابَ اللهُ تَعَالَى دُعَاءَ نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم (السيرة النبوية – ابن هشام)

“Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena mereka tidak mengerti.. Aku berharap, Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka generasi (keturunan) yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”. Maka do’a Nabi saw dikabulkan Allah”

Sebelum Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, tokoh tokoh kafir Quraisy berkumpul seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan lain lainnya. Mereka berkumpul meminta kepada Nabi saw hal yang mustahil bisa terjadi menurut keyakinan mereka bisa melemahkan kedudukan beliau sebagai Nabi. Mereka meminta kepada Nabi saw untuk membelah bulan. Hal yang tidak masuk akal bukan? Mereka berkata, “Ya Muhammad, seandainya kamu benar benar seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua”. Rasulullah saw berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya.”.

Lalu Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah “Ya Allah belahlah bulan ini menjadi dua”. Rasulullah saw memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Subahanallah….. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah saw berkata, “Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu.” .

Demikian jarak belahan bulan itu cukup jauh sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Menurut sebagain riwayat bulan terbelah menjadi dua belahan, belahan pertama berada di jabal Abi Qubais *(1) dan sebelah lagi berjalan ke arah jabal Qua’iqu’an *(2). Kemudian kedua belan bulan itu kembali bersatu. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, “Ini sihir!” padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan mata telanjang..

Atas peristiwa ini Allah menurunkan ayat Al Qur’an:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ  وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ

”Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir.” (Al Qomar, 1-2)

*(1) Jabal Abi Qubais.

067

Setiap muslim yang datang ke Makkah untuk berhaji atau berumrah pasti mendengar nama Jabal Abi Qubais, tapi dimana tempatnya banyak yang tidak mengetahuinya. Jabal Abi Qubais berada disebelah timur Baitullah, Jika kita berdiri membelakangi Hajar Aswad, maka pandangan kita akan melurus ke sebuah istana megah (Istana Shafa) berdiri diatas sebuah bukit yang telah dipapas. Sebetulnya memotong sebuah pohon saja di Makkah tidak diperbolehkan, apalagi mempapas sebuah bukit bersejarah.  Bukit yang telah dipapas sedemikian rupa, itulah Jabal Abi Qubais yang mempunyai sejarah yang berkaiatan dengan sejarah Baitullah dan Kota Makkah.

Menurut Sayyid Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitabnya “Fi Rihab al-Baitil Haram”,  Jabal abi qubais adalah bukit yang letaknya sangat dekat dengan Masjidil Haram dan berhadapan dengan bukit Shofa. Ia merupakan gunung yang pertama kali diciptakan Allah dimuka bumi setelah penciptaan baitullah Ka’bah.

068

Jabal Abi Qubais atau yang lebih dikenal oleh orang Indoneisa dengan nama Jabal kubais, mempunyai ketinggian 420 meter. Dulu di atas puncak bukit tersebut ada sebuah masjid kecil yang dinamakan Masjid Bilal.  Bukit ini menurut ulama Makkah merupakah bukit mulia karena berdekatan dengan Ka’bah dan menghadap ke bukit Shofa. Ada riwayat yang menyatakan bahawa Jabal Abi Qubais adalah gunung / bukit pertama yang diciptakan Allah dimuka bumi kemudian terpencar darinya jabal jabal lainya.

Banyak peristiwa bersejarah berkait dengan Jabal Abi Qubais. Jabal Abi Qubais dikenal juga dengan nama Jabal al-Amin (bukit kepercayaan / bukit penyimpan amanah), kerena Allah telah mengamankan Hajar Aswad di bukit ini pada waktu datangnya air bah di zaman nabi Nuh as. Tatkala nabi Ibrahim as membangun Baitullah, Hajar Aswad dikeluarkan kembali dari Jabal Abi Qubais lalu dibawa oleh Jibril as dan serahkannya kepada nabi Ibrahim as untuk disimpan disudut Ka’bah.

Selain dari pada itu, diriwayatkan juga bahwa batu-batu yang digunakan untuk membangun Baitullah oleh nabi Ibrahim as diambil dari Jabal Abi Qubais dan Jabal al-Ka’bah. Setelah nabi Ibrahim ra selesai membangun Ka’bah, ia naik ke atas jabal Abi Qubais. Dari atas bukit ini ia berseru:

وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَميِقٍ

”Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (al-Hajj: 27)

Banyak juga riwayat yang menyatakan bahwa mukjizat Rasulallah saw membelah bulan terjadi di Jabal Abi Qubais seperti kisah diatas.

*(2) Jabal Qua’iqu’an

Ia dinamakan juga Qaiqu’an adalah bukit yang berada di sebelah selatan Masjidil Haram, terletak di daerah pintu menuju arah Syamiah dan berhadapan dengan bukit Marwah. Menurut Sayyid Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitabnya “Fi Rihab al-Baitil Haram”,  jabal ini memilki banyak nama diantaranya jabal al-’Abadi atau jabal Al-Sulaimaniyah atau jabal Al-Sudan atau jabal al-Hindi, dan ketinggiannya kurang lebih 410 m dari permukaan laut.

jabal Qaiqu’an merupakan jabal yang memilki nilai sejarah yang peting diataranya mukjizat Rasulallah saw disaat membelah bulan, satu belahan berada di atas Jabal Qubais, dan belahan kedua bergerak kearah Jabal Qaiqu’an.

Jabal ini merupakan jabal Akhsyabi atau bukit berbatu yang sangat keras setelah jabal Abi Qubais. Telah diriwatkan bahwa Jibril as pernah datang kepada Rasulllah saw lalu berkata ” Wahai Muhammad, seandainya kamu berkehendak agar aku hempaskan ke dua gunung batu keras ini kepada mereka (kafir Quraisy), maka akan kulakukan”. yang dimaksud dengan dua gunung batu keras disini adalah jabal Abi Qubais dan jabal Qaiqu’an.

Wallahua’lam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Profile Penyusun

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Januari 24, 2013

 

 hb umar dan hasan

Nama saya Hasan Husen Assagaf, pernah mondok di Gontor, alumnus King Abdul Aziz University (Jeddah). Saya tidak beken dan tidak mau jadi orang beken. yang penting bagi saya bukan apa atau siapa saya, karena Allah tidak akan menilai apa dan siapa saya tetapi apa amal-perbuatan saya.

Tentu sambil kuliah pada waktu itu saya tidak luput hadir dalam acara2 pengajian apa saja baik rutin atau tidak rutin kepada ulama2 Makkah dan Jeddah.. yang penting saya kenal siapa ulama yang saya hadiri,  diantaranya:

  • Habib Abdulkadir bin Ahmad Assagaf (ini sesepuh habaib pada zamannya)
  • Assayyid Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki (siapa yang tidak kenal dengan beliau. Seantero jagat dunia Islam pasti kenal siapa Sayyid Dr. Mohammad Al-Maliki)
  • Habib Attas Al-Habsyi (setiap habis sholat Jum’at selalu duduk di muka Ka’bah percis depan Multazam. Beliau Almarhum mustajab do’a. saya tidak lupa amalan yang diberikan dari Habib ini supaya saya dapat anak laki2 setelah hilang harapan saya dan saya dikaruniai 5 puteri. Beliau adalah Uwais Al-Qarani pada zamannya)
  • Habib Hasan Fad’ak (saya temui beliau sudah usia uzur, tapi masih sempat menemuinya di majlis beliau yang tempatnya agar berjauhan dari Haram)
  • Habib Ahmad Masyhur bin Taha Alhaddad (salah seorang ulama yang berjasa mengislamkan ratusan ribu penduduk di Afrika.. beliau telah mengislamkan lebih dari 300,000 orang selama berdakwah di bumi Afrika Timur.. Beliau asal Kenia, lalu menetap dan wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la)
  • Dan lain2nya yang saya tidak bisa sebut satu persatu. Makkah Madinah adalah tempat ilmu dan ibadah.

Pernah bekerja di perusahaan “Fitaihi Holding Group Company” (di Riyadh), Treasury Supervisor 1983 – 2017. Saya senang menulis, senang menukil, senang menyadur, kadang2 makalah saya muncul di beberapa media. Ini juga namanya da’wah.

Dawah dibagi dua, ada dengan cara lisan ada lagi dengan cara tulisan. Kedua duanya ini dilakukan oleh Nabi saw. Da’wah lisan ada dua, ada yang dinamakan “lisan maqal” (dengan berkata/berpidato) ada lagi yang dinamakan “lisan hal” yaitu berda’wah dengan budi pekerti, tindak tanduk, kelakuan dan perilaku. Ada lagi da’wah dengan cara tulisan. Nabi saw berdawah kepada para pembesar kafir dengan cara tulisan. Beliau menulis surat kepada mereka agar mememeluk agama islam. Itu banyak contohnya seperti tulisan yang ditulis Nabi saw kepada Kaisar Heraklius, kepada Kaisar Mukaukis, kepada Kasisar Persia di Iiran dan kepada raja Najasyi. Ini dilakukan Nabi saw dengan cara tulisan bukan dengan pidato atau ceramah.. dawah tulisan tidak bisa habis-habisnya, ada buktinya dan akan terus terbaca. Kita hanya bisa berbuat adapun semuanya akan kita saksikan nanti di akhirat mana yg lebih baik di sisiNya.

Jelasnya, saya telah meluncurkan beberapa website dan telah menerbitkan beberapa karya-karya dalam bentuk buku religius diantaranya:

Alhamdulillah telah terbit dua buku relegius lainya:

1- “Fiqih Nabi”, kitab ini saduran dari kitab:

اَلدُّرُوْسُ الْفِقْهِيَّةُ – اَلْحَلَقَةُ الرَّابِعَةُ

تأليف العلامة الحبيب عبدالرحمن بن سقاف السقاف

“Ad-Durusul Fiqhiyyah” Halaqah Keempat, kitab Fiqih beraliran Ahli Sunah Wal Jama’ah dan bermadzah Syafi’i, karya kakek saya: Al-‘Allamah Al-Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf Al-’Alawi Al-Husaini As-Syafi’i Al-Asy’ari (Qadhi pada zaman Habib Ali AlHabsyi Kwitang, Jakarta).

Web Fiqih Nabi: https://hasansaggaf.wordpress.com/

2- “Akidah Menurut Ajaran Nabi” (Cetakan Kedua), kitab ini merupakan syarah dari kitab:

دروس العقائد الدينية – الحلقة الرابعة

تأليف العلامة الحبيب عبدالرحمن بن سقاف السقاف

“Durus Al-Aqa’id Ad-Diniyyah”, kitab Akidah Asy’ariyah Maturidiyah beraliran Ahli Sunah Wal Jama’ah dan bermadzhab Syafi’i karya kakek saya: Al-Al-’allamah Al-Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf Al-’Alawi Al-Husaini As-Syafi’i Al-Asy’ari (Qadhi pada zaman Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Jakarta)

Web Akidah Menurut Ajaran Nabi: https://hasanassaggaf.wordpress.com/

Yang berminta bisa hubungi: Toko Buku Menara Kudus. Saran dan ide anda sangat dihargai, Wassalam.

Hubungi Kami:

“Toko Dubai”  Jl. Condet Raya No.4, Jakarta Timur, Indonesia, HP: 0062- 8161838287 atau 0062-85887673305

 

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Sekitar wafat Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada April 20, 2012

Dikutip oleh: Hasan Husen Assagaf

Ada satu hal yang perlu diketahui oleh Umat Muhammad saw. Yaitu di saat wafat Nabi saw bagaimana beliau dimandikan? Siapa yang yang memandikan jasad beliau yang mulia? Siapa yang menguburkan beliau? Siapa yang turun ke dalam liang kubur?

Yang memandikan jasad beliau adalah keluarga Nabi saw diantaranya Ali bin Abi Thalib ra, Abbas bin Abdul Muthalib paman Nabi saw, Fadel bin Abbas dan Qustam bin Abbas, Usama bin Zed, dan Syagran pembantu Nabi saw.

Abbas dan kedua Anaknya (Fadel dan Qustam) memegang dan membalik-balikan jasad Nabi saw saat dimandikan. Usama bin Zed dan Syagran menuangkan air ke jasad beliau. Ali bin Abi Thalib memandikan dengan tanganya di atas bajunya. Ia tidak berani sama sekali menyentuh tubuh Nabi saw yang mulia dengan tanganya, dan dia tidak berani melihat jasad beliau sebagimana pemandi mayat melihat jasad mayat.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: لَمَّا أَرَادُوا غَسْلَ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: وَاَللَّهِ مَا نَدْرِي  أَ نُجَرِّدُ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا, أَمْ لَا؟ فَلَمَّا اخْتَلَفُوا أَلْقَى اللَّهُ عَلَيْهِمُ النَّوْمَ حَتَّى مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ إِلَّا وَذَقْنُهُ فِي صَدْرِهِ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ مُكَلِّمٌ مِنْ نَاحِيَةِ الْبَيْتِ لَا يَدْرُونَ مَنْ هُوَ أَنِ اغْسِلُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ (رواه الشيخان)

Sesuai dengan hadits dari Aisyah ra, ia berkata: Ketika para sahabat ingin memandikan jenazah Rasulullah saw, mereka berbeda pendapat. Mereka berkata: “Kami tidak tahu apakah kami membuka pakaiannya sebagaiman kami membuka pakaian saudara2 kami yang meninggal?”. Ketika mereka sedang berselisih pendapat, Allah telah menidurkan mereka sampai sampai dagu mereka tertunduk ke dada. Kemudian berkata seseorang dari sebelah rumah dan mereka tidak mengetahui siapa dia, dia berkata: Mandikanlah Nabi dengan berpakaian. (HR Bukhari Muslim)

Di saat dimandikan, Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Alangkah sucinya kamu wahai Rasulallah saat hidupmu dan matimu”

Setelah dimandikan, beliau dikafankan dengan menggunakan tiga lapis kain Yamani berwarna putih tanpa gamis atau serban. Di tempat dimandikan Nabi saw, digali liang kubur oleh Abu Thalhah Al-Anshari, lalu dibuat liang lahad.  Kemudian para shahabat menyolatkan Nabi saw laki laki, wanita dan anak anak. Setelah disholatkan lalu dikubur pada malam Rabu.

Adapun yang turun kedalam liang kubur adalah Ali bin Abi thalib, Fadel dan Qustam kedua anak Abbas, dan Syagran pembantu Nabi saw. Disaat diturunkan jasad Nabi saw ke dalam kubur, Ausan bin Huli Al-Anshari berkata kepada Ali bin Abi Thalib ra, “Aku memohon kepada Allah agar aku mendapat kebagian dari kebaikan ini”, maksud beliau meminta izin kepada Ali bin abi thalib agar bisa turun ke dalam liang kubur. Ia diizinkan lalu turun bersama sama menguburkan Nabi saw.

Rasulallah saw wafat dalam usia 63 tahun, wafat tidak meninggalkan harta warisan kepada keluarganya bahkan tameng beliau masih digadai dengan satu sha’ gandum.

Allahuma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »

♣ Niat Baik

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 28, 2011

images

Seorang pria bangun pagi-pagi buta untuk sholat subuh di Masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid. Di tengah jalan menuju masjid, ia jatuh dan pakaiannya kotor. Ia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, ia berganti baju, berwudhu, dan lagi berjalan menuju masjid.

Dalam perjalanan kembali ke masjid, ia jatuh lagi di tempat yg sama. Ia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah. Di rumah, ia sekali lagi berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid. Di tengah jalan menuju masjid, ia bertemu seorang pria yang memegang lampu. Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab “Saya melihat anda jatuh dua kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda.”

Pria pertama mengucapkan terima kasih atas kebaikannya dan mereka berdua berjalan menuju masjid. Saat sampai di masjid, pria pertama mempersilahkan kepada pria yang membawa lampu agar masuk dan sholat subuh berjama’ah. Pria kedua menolak. Pria pertama mengajak lagi hingga berkali-kali dan lagi jawabannya sama.

Akhirnya, pria pertama bertanya, “Kenapa anda menolak untuk masuk dan sholat?”. Pria kedua menjawab “Aku adalah Setan”. Pria itu terkejut dengan jawaban pria kedua. Setan kemudian menjelaskan, “Saya melihat kamu berjalan ke masjid, dan sayalah yg membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa-dosamu. Kemudian saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal di rumah saja, kamu tetap memutuskan kembali masjid. Karena hal itu, Allah memaafkan dosa-dosa seluruh anggota keluargamu. Saya khawatir jika saya membuatmu jatuh untuk yang ketiga kalinya, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa-dosa seluruh penduduk desamu, jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dgnselamat.”

Cerita ringan tapi kita bisa mengambil hikmah jangan sekali kali kita melepaskan niat kita semasih niat itu kita pandang baik. karena kita tidak tahu ganjaran yang akan kita dapatkan dari Allah. Begitu pula jangan biarkan setan mendapatkan keuntungan dari setiap perbuatan buruk yang kita sudah niati untuk meninggalkanya, karena kita tahu berapa banyak dosa yang dibebani kepada kita.

Pointnya, bersabarlah dalam segala kesulitan yg kita temui dalam usaha kita untuk melaksanakan niat baik tersebut.

Pentingnya Sholat Subuh

Seperti yang diceriterakan di dalam Al Qur’an bahwa shubuh menjadi waktu peralihan sebagai penanda berakhirnya alam jahiliah menuju cahaya tauhid, dimana Kaum ‘Ad, Tsamud, & kaum durhaka lainnya dihancurkan pada waktu subuh.

Shalat Subuh merupakan sumber dari segala sumber cahaya di hari kiamat Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia akan dipadamkan…! Kecuali Cahaya Subuh Berjamaah yang diberikan kepada orang orang Mukmin.

Banyak sekali hadits yang mendorong untuk melaksanakan shalat Shubuh, dan menyanjung mereka yang menjaganya. Rasullullah bersabda: ” Dua rakaat fajar (shalat sunnah sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya”. (HR. Muslim).

Dan jika mereka mengetahui apa yang tersimpan di dalam shalat Shubuh maka mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak (HR. Bukhari)

Rasullullah bersabda: “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (subuh dan Isya’) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” (HR. Abu Dauwud, At-Tirmidzi).

Lalu bagi kaum Muslimin… Apa yg menghalani kita untuk salat subuh di masjid …?

Banyak sekali telah menjadi contoh nyata… Bahwa sholat Subuh Berjamaah di Masjid memberi keberkahan..

Mari Menggalakkan Sholat Subuh Berjamaah di Masjid.

Wallahua’lamو Hasan Husen Assagaf

Posted in Ya Karim | 8 Comments »

Peninggalan Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 22, 2005

Peninggalan Nabi

Vodpod videos no longer available.

more about “Peninggalan Nabi“, posted with vodpod

Posted in Sabda Nabi, Ya Karim | Leave a Comment »