Hasan Husen Assagaf

♣ Al-Qur’an dari Zaman ke Zaman

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Mushaf Ustmani

Mushaf Ustmani

Diyakini oleh umat Islam bahwa penurunan Al-Qur’an terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

 

Penulisan Al-Qu’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyaknya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.

 

Pada masa ketika Rasulallah saw masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Ka’ab. Sahabat yang lain juga secara diam diam menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

 

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra, terjadi beberapa pertempuran diantaranya perang yang dikenal dengan nama perang Ridda yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang tidak terhitung. Umar bin Khattab ra pada saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Khalifah Abu Bakar ra untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat, penghapal Al-Qur’an. Lalu Abu Bakar ra memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk membuat lajnah pengumpulan Al-Qur’an yang mengorganisai pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar ra. Abu Bakar ra menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf pertama itu berpindah kepada Umar bin Khattab ra sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya diserahkan dan dipegang oleh anaknya Hafsah yang juga istri Nabi saw.

 

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, Islam semakin tersebar luas ke suluruh penjuru, dan terjadilah perbedaan dialek (lahjah) antara suku yang berasal dari daerah dan negara berbeda beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk membuat keseragaman dalam cara membaca Al-Qur’an (qira’at). Lalu ia mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar ra untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Ia memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurahman bin Al-Harists bin Hisyam. Ia memerintahkan agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika terjadi perbedaan antara dan Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al-Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka.

 

Maka terbentuklah sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah). Standar tersebut kemudian dikenal dengan istilah Mushaf Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Besamaan dengan keluarnya penyamaan dengan standar yang dihasilkan, maka khalifah Ustman ra memerintahkan seluruh mushaf yang berbeda untuk dimusnahkan. Hal ini demi untuk mencegah perselisihan di antara umat islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah.

 

Dari keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati dan disetujui oleh para sahabat. Hal ini agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Al-Hijr 9

(Artikel di atas telah dimuat di koran Republika dan republika online silahkan klik :

Republika.co.id

Foto Al-Qur’an dari zaman ke zaman:

 Ditulis tahun 448 H      

 Ditulis tahun 546 H

 

 Ditulis tahun 678   

 Ditulis tahun 953 H

 Ditulis tahun 842 H

  Ditulis tahun 952 H

 Ditulis tahun 960 H

 Ditulis tahun 985 H

 Ditulis tahun 1001 H 

 Ditulis tahun1034 H

 Ditulis tahun 1044 H

 

 Ditulis tahun 1066 H

 Ditulis tahun 1090 H  

 Ditulis tahun 1105 H 

 Ditulis tahun 1116 H

 Ditulis tahun 1119H 

 Ditulis tahun 1132H

 Ditulis tahun 1139 H 

 Ditulis tahun 1140H

 

 Ditulis tahun 1140 H 

 Ditulis tahun 1161 H

 Ditulis tahun 1170 H 

 Ditulis tahun 1172

 Ditulis tahun 1181 H

 Ditulis tahun 1206 H

 Ditulis tahun 1206 H 

 Ditulis tahun 1214 H

 Ditulis tahun 1215

 Ditulis tahun 1242 H 

 Ditulis tahun 1228H

 Ditulis tahun 1234 H 

 Ditulis tahun 1257 H 

 Ditulis tahun 1245 H

 Ditulis tahun 1251 H  

 Ditulis tahun 1254 H 

  Ditulis tahun 1258 H

 Ditulis tahun 1262 H

 Ditulis tahun 1263 H

 Ditulis tahun 1268 H  

 Ditulis tahun 1271 H 

  Ditulis tahun 1271 H

  Ditulis tahun 1273 H 

 Ditulis tahun 1276H 

  Ditulis tahun 1277 H

 Ditulis tahun 1322 H 

 Ditulis tahun 1278 H 

 

 Ditulis tahun 1278H 

 Ditulis tahun 1309H

 Ditulis tahun 1309H 

 Ditulis abad ke 8 H 

 Ditulis tahun 1294 H 

24 Tanggapan to “♣ Al-Qur’an dari Zaman ke Zaman”

  1. ridho said

    nice article….

  2. Subhanalloh, salah satu bukti bahwa Al Quran tetap dijaga oleh Alloh Swt sampai akhir zaman. Pd foto yang ditulis pada tahun 952 H di atas, kenapa ya koq ada bintang david (lambang Yahudi)?

  3. Hanifah Arfan said

    Subhanallah indahnya tulisan ayat ayat al-qur’an tsb

  4. ada beberapa gambarnya yg tdk bs d perbesar ya?

  5. MUIZZA NADIA said

    wah sangat sangat bagus , saya sangat menyukai foto2nya saya bandingkan dengan makah sekarang th 2008 haji, wah luar biasa perubahanya makasih semoga jadi amal ibadah anda, thx

  6. ismail said

    foto2 saya copy ya…
    ma’kasih

  7. Hadi said

    Beberapa mushaf lawas ini, kalau kita perhatikan ada ketentuan dasar dalam penulisannya, yakni al-fathehah 1-7 ditulis di halaman 2 dalam 6 baris. Demikian halaman 3 ditulis awal al-baqoroh ayat 1-4. Hal ini dapat digunakan (sebelum membaca Al-Qur’an) kita diberi informasi bahwa kitab ini jumlah ayat seluruh al-quran adalah 6236 ayat (6-baris, hal-2, hal-3, 6-baris). Dan al-quran diturunkan melalui jibril kepada Muhammad ditandai dengan 4(ayat al-baqoroh), 7 (ayat Al-fathehah), dimana surat ke-47 adalah surat al-qitaal atau yang lebih dikenal dengan surat Muhammad. Subhanallah.

  8. assalamu’alaikum”
    saya penggemar kaligrafi dan juga suka menulis bahkan sudah punya sertifikat of merit dari suatu lembaga kaligrafi………….. saya berharap mushaf2 yang baru desain nya dan juga ornamentasinya………..
    dan bagaimana …… jika saya menawarkan suatu jasa penulisan di web ini?
    syukron katsiron…………

  9. jirdi said

    kapan ya mushaf itu bisa masuk ke kepala (jadi hafidz).

  10. setiyabudi said

    subhanalloh walhamdulillah walailahailallohuallohuakbar, lahaula walaquwata ila bilahil’aliyil’adhim

  11. Jamil said

    ALLAHUAKBAR.,

  12. iyun said

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

  13. salimrambe said

    semoga ALLAH meridoi kita

  14. Imanah Sarim said

    Subhanallah, smoga kita sll dalam bimbingan Allah Swt.

  15. agunk said

    hemmm bagus

  16. […] ♣ Foto Mushaf dari Zaman ke Zaman […]

  17. […] ♣ Foto Mushaf dari Zaman ke Zaman […]

  18. […] https://hasanalsaggaf.wordpress.com/foto-foto-bersejarah-2/%E2%99%A3-foto-mushaf-dari-zaman-ke-zaman/ […]

  19. firaman ALLOH, “innaa nahnu nazzalnadzdzikro wa inna lahafidun”
    dan tidak akan terbantahkan ila yaumil akhir. abadin abadan

  20. Easter debi said

    Keren banget yah islam sayang sekali aku bukan agamanya

  21. Hidrochin Sabarudin said

    Begitu Indahnya Islam QT yaaachhh…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: