Hasan Husen Assagaf

♣ Petunjuk dan Foto Perjalanan Haji dan Umrah

الْحَجَّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ – رواه احمد ، الطبراني ، ابن خزيمة ، البيهقي
Dari Jabir nin Abdillah ra, Rasulallah saw bersabda: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim)

Selamat menunaikan ibadah Haji dan selamat Hari Raya Kurban, semoga Allah mengampuni dosa dosa kita. Amin.

https://hasanalsaggaf.files.wordpress.com/2008/08/att00136.gif

 

Petunjuk dan Foto Perjalanan Haji dan Umrah

Al-haj (Haji) dalam bahasa artinya menuju dan dalam ilmu fiqih adalah menuju ke Baitullah di Makkah untuk menunaikan manasik haji pada waktu tertentu yang telah dimaklumi yaitu bulan Dzul HijjahAllah berfirman:

وَللَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً – العمران

Artinya: “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah;” (Qs al-Imron ayat: 97)

Allah berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ – البقرة ١٩٧

Artinya: “haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi,” (Qs al-Baqarah ayat 97)

Al-umrah dalam bahasa artinya menuju ke tempat ramai dan dalam ilmu fiqih adalah menuju ke Baitullah di Makkah untuk melaksanakan manasik umrah kapan saja sepanjang tahun (tidak ada batas waktu tertentu)

Allah berfirman:

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للَّهِ – البقرة ١٩٦

Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (Qs al-Baqarah ayat: 196)

Kedudukan Haji dalam agama adalah sebagai salah satu rukun Islam. Haji diwajibkan kepada umat Muhammad saw pada tahun 9 Hijriah. Haji dan Umrah hukumnya wajib atau fardhu atas setiap muslim yang mampu sekali seumur hidup. Hal ini sesuai dengan ijma’ ulama yang diambil dari sabda-sabda Rasulallah saw

عَنْ أَبِي هرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ الْحَجَّ فَحُجُّوا فَقَالَ رَجُلٌ أَ كُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ (رواه مسلم

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw pernah berkhutbah kepada kami. Beliau bersabdanya:”Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kamu, oleh sebab itu kerjakanlah haji itu”. Seseorang lelaki bertanya: Adakah tiap tahun wahai Rasullullah?” Rasulullah saw diam tidak menjawab, sehingga ia mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Lalu Rasulullah saw menjawab: “Jika aku katakan: “Ya” maka akan menjadi kewajiban atas kamu (setiap tahun), sedang kamu tidak mampu melakukannya.” (HR Muslim)

عَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عُمْرَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِلأَبَدِ ؟ فَقَالَ: لا بَلْ لِلأَبَدِ ، دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِي الْحَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه الدارقطني بإسناد صحيح

Dari Suraqah bin Malik ra, ia bertanya: ”Wahai Rasulullah, apakah umrah kita ini untuk tahun ini saja atau untuk selama-lamanya?” Rasulullah menjawab: “Untuk selama-lamanya. Umrah telah masuk dalam (amalan-amalan) haji sehingga hari kiamat”. (HR ad-Daraqutni dengan sanad shahih)

Pelaksanaan Haji

Pelaksanaan haji dibagai tiga cara:

Haji Ifradh

Haji Tamattu’

Haji Qiran

1- Haji Ifrad

Haji ifrad adalah orang yang berniat saat ihram hanya untuk melakukan haji saja. Ia mengucapkan ”Labbaika hajjan” kemudian memasuki Mekah untuk thawaf qudum, lalu ia tunaikan manasik haji; wukuf di Arafah, mabit di Muzdallifah, melontar jumrah Aqabah, thawaf ifadhah, sa’i antara Shafa dan Marwa, bermalam di Mina untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyriq. Kemudian setelah selesai menunaikan seluruh manasik haji itu, ia lalu keluar dari Mekah memulai ihram yang kedua dengan niat umrah. Ia mengucapkan ”Labaika umratan”. Ini jika ia mau melaksanakan manasiknya, jika tidak maka umrahnya boleh dilakukan kapan saja. .

Haji ifrad adalah manasik paling afdhal menurut Syafi’i dan Maliki karena dengan manasik ini tidak membayar Hadyu (Dam). Dan kewajiban Dam adalah untuk menambal kekurangan yang ada. Sebagaimana haji Rasulullah saw, menurut mereka, adalah ifrad.

2- Tamattu’

Haji tamattu’ adalah haji dengan terlebih dahulu ihram untuk melaksanakan umrah dari miqat yang telah ditetapkan dengan mengucapkan ”Labbaika umratan”.  Kemudian memasuki kota Mekah, menyempurnakan manasik umrah yaitu  thawaf dan sa’i lalu memotong atau mencukur rambut, kemudian tahallul dari ihram. Halal baginya segala larangan ihram termasuk berhubungan suami istri. Ia dalam keadaan demikian (tidak ihram) sehingga datang tanggal 8 Dzulhijjah lalu ia berihram untuk haji dari Makkah dengan mengucapkan ”Labbaika hajjan”. Lalu melaksanakan manasiknya wukuf di Arafah, mabit di Muzdallifah, melontar jumrah Aqabah, thawaf ifadhah, sa’i antara Shafa dan Marwa, bermalam di Mina untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyriq. Ia melaksanakan seluruh  manasik haji dengan sempurna pula.

Firman Allah:

فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ – البقرة ﴿١٩٦

Artinya: “Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat.”(Qs al Baqarah ayat:196).

3- Qiran

Haji qiran adalah dengan berniat ketika ihram sekaligus melakukan haji dan umrah dengan mengucapkan: ”Labbaika hajjan wa umratan”. Kemudian memasuki Mekah, thawaf qudum, dan terus dalam keadaan ihram sehingga datang waktu melaksanakan manasik haji. Ia melaksanakan manasik itu dengan sempurna, wukuf di Arafah, mabit di Muzdallifah, melontar jumrah Aqabah, thawaf ifadhah, sa’i antara Shafa dan Marwa, bermalam di Mina untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyriq. Ia tidak berkewajiban thawaf dan sa’i lain untuk umrah, cukup dengan thawaf dan sa’i haji.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : طَوَافُك بِالْبَيْتِ وَسَعْيُك بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ يَكْفِيك لِحَجِّك وَعُمْرَتِك (رواه مسلم

Seperti yang pernah Rasulullah katakan kepada Aisyah ra ”thawaf-mu di Ka’bah dan sa’i-mu antara Shafa dan Marwa sudah cukup untuk haji dan umrahmu” (HR. Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ ، فَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ وَحَجَّةٍ ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ ، فَأَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ (رواه الشيخان

Dari Aisyah ra, ia berkata: ”Kami keluar bersama Rasulallah saw pada waktu haji wada’. Diantara kami ada yang ihram untuk umrah (tamattu’), ada pula yang ihram untuk haji (qiran) dan umrah dan ada yang ihram untuk haji saja (ifrad). Sedang Rasulallah saw ihram untuk haji saja” (HR Bukhari Muslim)

Bagi orang menunaikan haji tamattu’ dan qiran wajib menyembelih hewan hadyu (Dam), minimal seekor kambing, dan jika tidak mampu bisa diganti dengan puasa sepuluh hari: tiga hari di antaranya dilakukan pada waktu haji, dan tujuh hari lainnya ketika sudah kembali ke tanah air, Dan tujuh hari berikutnya tidak wajib berturut-turut.

Ringkasan Pelaksanaan Haji

Berikut ini saya sajikan pula ringkasan bagaimana cara melakukan amalan haji yang dikutip dari kitab Fiqhu Sunnah juz ke 1 karya As-Sayyid Sabiq dan kitab Ad-durusul Fiqhiyyah juz ke 4 karya Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf

* Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), sebelum melakukan ihram disunahkan memotong rambut, kumis dan kuku, lalu mandi, berwudu’ dan memakai wangi-wangian, kemudian mempersiapkan diri untuk berihram sebagaimana lazimnya ketika berihram harus dari miqat. Disunahkan di miqat melakukan shalat sunnah 2 rakaat, kemudian berniat untuk haji (haji ifradh, haji tamattu’ atau haji qiran) dengan mengucapkan: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ  lalu dilanjutkan dengan memperbanyak membaca talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Bacaan talbiyah ini terus diucapkan dan tidak dihentikan kecuali jika akan melempar Jumratul Aqabah di Mina pada pagi hari tanggal 10 Dzul Hijjah setelah selesai wukuf di Arafah.

* Bagi yang berihram harus menjauhkan perbuatan yang kira2nya bisa membatalkan hajinya seperti melakukan jima’ dengan istri, bertengkar, bertikai atau berdebat dengan sesama rekan, jangan sekali kali sampai melakukan sesuatu yang buruk baik dalam perkataan atau perbuatan atau melakukan perbuatan yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan kesucian ibadah haji, tidak dibolehkan kawin atau mengawini seseorang,  dilarang menggunakan pakaian atau sepatu yang dijahit, dilarang menutup kepala dengan kopiah, dilarang memakai wangi wangian, memotong kuku atau rambut, dilarang memburu binatang, atau memotong pepohonan.

* Berangkat menuju Mina dan menginap disana pada malam tarwiyah (8 Dzul Hijjah) serta melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh dengan mengqashar shalat-shalat yang empat rakaat tanpa dijamak.

* Pagi harinya (9 Dzul Hijjah) bertolak dari Mina ke Arafah, hal ini dilakukan setelah matahari terbit.

* Setelah tiba di Arafah turun di Namirah disisi pandang Arafah (sekarang telah dibangun masjid besar) di kemah kemah yg telah disediakan dan melaksanakan shalat Zhuhur dan ‘Ashar dijamak taqdim dan diqashar dua raka’at dua raka’at dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah.

* Melaksanakan wuquf diatas padang Arafah dalam kondisi tidak berpuasa.

Saat wukuf di Arafat adalah saat saat ijabah, saat saat manusia dianjurkan untuk memperbanyak doa dengan mengangkat tangan, memohon ampun dan bertaubat, dan jangan sekali kali sampai melakukan sesuatu yang buruk baik dalam perkataan atau perbuatan atau melakukan perbuatan yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan kesucian ibadah saat berdiam diri di Arafat. Hal ini dilakukan hingga matahari terbenam.

* Setelah matahari terbenam bertolak meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah sambil memperbanyak membaca talbiyah dan berjalan dengan penuh ketenangan.

* Setelah tiba di Muzdalifah dianjurkan untuk shalat Maghrib dan Isya’ dengan dijamak, shalat ini dilakukan dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah. Di Muzdalifah dianjurkan menginap tanpa menghidupkan malam itu dengan shalat, baca al-Qur-an atau ibadah lainnya karena hal tersebut tidak dilakukan oleh Rasulullah saw. Di Muzdalifah dianjurkan memungut batu kerikil jumlahnya 70 batu krikil yang digunakan untuk menyambit  jumratul Aqabah tanggal 10 dan ketiga jumrah (Shughra, Wustha  dan Kubra) di hari-hari 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah, masing masing jumrah 7 kali pelemparan batu. menginap di Muzdalifah dilakukan sampai masuknya waktu sholat Shubuh (10 dzul Hijjah) dan dianjurkan sholat Shubuh sebelum bertolak ke Mina.

* Kemudian melakukan wuquf di Masy’aril Haram (Muzdalifah) dengan menghadap ke arah kiblat sambil berdo’a, memohon segala kebaikan dan mengagungkan serta mentauhidkan Allah hingga bumi mulai telah terang.

* Lalu bertolak dari dari Muzdalifah sebelum matahari terbit menuju Mina dan setibanya di satu tempat yang bernama wadi Muhassir dianjurkan mempercepat langkah atau jalan. Disunahkan untuk mempercepat jalan di wadi itu dan bertahlil sesuai dengan perbuatan Rasulallah saw karena wadi ini merupakan wadi perkampungan syaitan

* Setibanya di Mina pada pagi hari 10 Dzul Hijjah, di waktu Dhuha dianjurkan melempar Jumratul Aqabah dengan menggunakan 7 batu krikil kecil. Lemparan ini boleh juga dilakukan setelah tergelincirnya matahari, dan setiap lemparan membaca takbir ” اَللَّهُ أَكْبَرُ ” . Pada saat melempar Jumratul Aqabah dianjurkan menghentikan bacaan talbiyah. Dengan melempar jumrah ini, berarti telah bertahallul awal (tahallul pertama/ tahallul kecil) yaitu diperbolehkan memotong rambut atau mencukur bersih (adapun bagi wanita cukup dengan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari), memakai wangi-wangian, dan membuka pakaian ihram dan menggantinya dengan pakaian biasa, semuanya boleh dilakukan hanya berjima’ dengan istri yang dilarang kecuali setelah bertahallaul tsani (tahallul kedua) yaitu setelah melakukan thawaf ifadhah dan sa’i.

* Bagi yang melaksanakan haji Tamattu’ harus melaksanakan sa’i antara Shafa dan Marwah setelah thawaf ifadhah. Adapun bagi haji Qiran yang sudah melaksanakan sa’i ketika pertama kali tiba, maka mereka tidak sa’i lagi sesudah thawaf ifadhah.

* Setelah thawaf ifadhah dianjurkan meminum air zam-zam, lalu mencium Hajar Aswad (bila dalam keadaan sesak dan berdesakan lebih baik mengurungkan niat untuk menciumnya, cukup dengan memberi salam dari kejauhan).

* Setelah thawaf ifadhah dan sa’i kembali lagi ke Mina dan melakukan mabit (menginap) selama hari hari tasyriq yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah sambil melakukan pelemparan ke tiga jumrah (sughra, wustha dan kubra), masing masing jumrah 7 kali pelemparan, dan disunnahkan melempar setelah tergelincirnya matahari.

* Bagi yang melakukan haji Tamattu’ dan haji Qiran, harus menyembelih binatang hadyu berupa seekor kambing bagi setiap orang atau tujuh orang jama’ah haji bergabung untuk membeli seekor unta atau seekor sapi. Dan tempat penyembelihannya boleh di Mina dan boleh pula di Makkah. Bagi yang tidak mampu menyembelih binatang hadyu, mereka diwajibkan berpuasa selama 3 hari pada masa haji dan 7 hari setelah tiba di kampung halamannya. Dan disunnahkan memakan sebagian dari daging sembelihan hadyunya.

* Maka selesailah pelaksanaan ibadah haji dan sebelum meninggalkan kota kelahiran Nabi saw, Makkah, disunnahkan melaksanakan thawaf wada’, artinya mengucapkan selamat tinggal kepada kota kecintaan Nabi saw dengan harapan bisa kembali lagi ditahun tahun berikutnya kecuali bagi wanita yang sedang haidh atau nifas, maka tidak wajib bagi mereka untuk melaksanakan thawaf wada’.

Wallahu’alam

Hasan Husen Assagaf

132456711downloadimages (1)images (2)images (3)images (4)images (5)images (6)images (7)images (8)images (9)images (10)images (11)images (12)images (13)images (14)images (15)images (16)images

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: