Hasan Husen Assagaf

Posts Tagged ‘Artikel’

♣ Benih (Nuthfah)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 6, 2014

BENIH (NUTFAH)

Oleh: Hasan Husen Assagaf

تخيروا لنطفكم فإن العرق دساس

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah (benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”, (HR Ibnu Majah).

Saya pernah membaca makalah Fahd Al-Ahmadi, penulis Saudi, yang dimuat di surat kabar “al-Riyadh”. Makalahnya cukup bagus dan menarik. Ia mengisahkan bahwa hampir semua bayi orang Kristen yang baru lahir selalu dibaptis atau dimandikan di gereja dengan air suci. Katanya, baru baru ini ada gereja Katolik membaptis anak yang baru lahir dengan air es. Maksudnya agar dijauhkan dari ganguan Syetan dan bisa mendatangkan Ruh Kudus. Kasihannya, begitu bayi yang masih merah itu dicelup di air es ia langsung sakitan dan lama kelamaan meninggal dunia. Sudah barang tentu, cuma bayi bayi yang sehat dan kuat yang bisa bertahan hidup.

Terlepas dari kepercayaan tadi, katanya, inti tujuannya adalah untuk memilih di kemudian hari keturunan yang kuat dan sehat. karena tidak ada yang bisa berlangsung hidup kecuali bagi yang kuat dan sehat. Perinsip semacam ini telah digarap dari zaman Firaun dan Yunani. Dan sampai saat ini, masih berlaku dan diyakini orang banyak bahwa kehidupan tidak dimiliki kecuali bagi yang kuat dan sehat.

Plato (347-427 SM) telah menulis dalam kitabnya “Jumhuriah” (Republic) bahwa memilih keturunan sangat penting dalam alam kehidupan di dunia, baik bagi tumbuh tumbuhan, binatang atau manusia. Pada pasal 459 ia menjelaskan bahwa suatu keharusan untuk memilih suami atau istri dari keturunan orang baik agar mendapatkan kelak keturunan yang baik pula.

Di Swedia telah berlaku hukum tidak tertulis melarang mengawini orang orang berfisik lemah atau tunanetra/cacat, walaupun mereka telah diasuh oleh pemerintah di panti asuhan akan tetapi dilarang untuk dikawini dan berketurunan. Tujuanya agar tidak didapatkan di kemuadian hari keturunan dan bangsa yang lemah dan berpenyakitan. Bahkan sampai-sampai mereka melarang mengawini orang orang yang berketurunan rendah atau bukan dari penduduk asli seperti Negro, Cocas dan orang orang Asia.

Lee Kwan Yew di Singapura telah mengeluarkan pelaturan bagi mahasiswa2 yang memiliki otak genius untuk tidak dikawini kecuali dengan mahasiswi2 yang memilili otak dan kecerdikan yang sama. Hal ini demi untuk mendapatkan kelak keturunan yang berlevel tinggi dalam kecerdikannya.

Begitupula di Venezuela, satu satunya negara yang mempunyai Departemen Kecerdikan. Departemen ini bertujuan untuk mengumpulkan mahasisa2 yang cerdik dan genius agar dikawini dengan mahasiwi2 yang selevel dengannya. Maksudnya untuk memperbanyak atau mengembangbiaknan keturunan cerdik dan genius di kemudian hari.

Menurut saya, hal ini memang kelihatanya agak aneh untuk diterapkan pada zaman sekarang yang serba komplek, karena setiap orang mempunyai hak untuk berketurunan, baik dia itu orang lemah, bodoh, tunanetra, hamba sahaya atau orang yang berketurunan rendah. Dari sejarah penghidupan manusia yang kita ketahui, semakin banyak ditemukan penemuan penemuan baru semakin banyak manusia melanggar peraturan yang telah ditepakan agama dan syariat seperti pembunuhan keturunan sebelum terjadi perkawinan, aborsi, pembantaian orang orang cacat dan penguburan bayi perempuan seperti terjadi di zaman Jahiliah.

Dulu sebelum datangnya Islam, telah menjadi adat orang orang Arab jahiliyah yang memiliki keturunan rendah atau hamba sahaya mempersilahkan istri istrinya untuk ditiduri/digauli oleh orang orang yang berjiwa pahlawan, pemberani atau Sheikh Kabilah (kepala suku). Tujuannya adalah”Istibdhaa“ ( استبضاع  ) atau agar bisa mendapatkan benih orang hebat dan keturunan orang besar. Setelah itu Islam mengharamkan dan melarang sistim dan adat buruk yang sudah menjadi kebiasan masyarakat Arab jahiliyah.

Kalau kita teliti, sesungguhnya kita ini dibentuk oleh Allah dalam cara yang sangat mengerikan dan menakjubkan. Ilmu pengetahunan genetika mengajarkan pada kita bahwa setelah ibu dan ayah kita bercampur maka terjadi peluang akan lahirnya seorang bayi yang dibentuk sebagian besar hasil dari 24 kromosom bapak dan 24 kremosom ibu. Ke 48 kromosom ini nengandung segala sesuatu yang menentukan bawaan sang bayi. Ini merupakan warisan dari bawaan ayah dan ibu. Begitu pula ayah dan ibu merupakan warisan dari bawaan kakek dan nenek dan seterusnya. Apakah itu perkiraan belaka? Tidak. Ini fakta ilmiah. Kalau anda ingin membaca lebih banyak mengenai hal ini, bacalah ”Anda dan Warisan Bawaan Kelahiran Anda” karangan Amram Sheienfeld.

Hal semacam ini telah diungkapkan oleh Rasulallah saw 14 abad yang lalu dalam hadistnya yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ الي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجل من بني فَزَارِةّ فَقَالَ وَلَدَتْ امْرَأَتِي غُلَامًا أَسْوَدَ وَهُوَ حِينَئِذٍ يُعَرِّضُ بِأَنْ يَنْفِيَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل أَلَكَ إِبِلٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ مَا أَلْوَانُهَا قَالَ حُمْرٌ قَالَ أَفِيهَا أَوْرَقُ قَالَ نَعَمْ فِيهَا لَوُرْقٌ قَالَ مِمَّ ذَاكَ تَرَى قَالَ مَا أَدْرِي لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ نَزَعَهَا عِرْقٌ قَالَ وَهَذَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ نَزَعَهُ عِرْقٌ وَلَمْ يُرَخِّصْ لَهُ فِي الِانْتِفَاءِ مِنْهُ – رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن الاربعة

Seorang dari Bani Fazarah datang kepada Nabi saw dan berkata : “Istriku telah melahirkan anak berkulit hitam” ia seakan-akan tidak mengakuinya.

Rasulullah Saw bersabda: “apakah engkau memiliki unta? “

Lelaki itu menjawab: “ya”

Rasulullah bertanya: ”apa warnanya?”

Lelaki itu menjawab: ”merah”,

Rasulullah bertanya lagi: ”apakah ada warna hitam pada unta itu?”

Lelaki itu menjawab: “sebenarnya kehitam-hitaman, entah dari mana datangnya warna hitam itu?”

Rasulullah saw bersabda: “mungkin karena faktor keturunan” (HR. Bukhari, Muslim dll dari Abu Hurairah ra)

Dari hadits di atas tergambar bahwa faktor keturunan mempengaruhi warna kulit seseorang, paras dan ciri-ciri fisik, hal ini tidak harus diwarisi dari orangtuanya saja tapi bisa juga dari nenek moyangnya, sifat fisik inilah yang disebut sifat keturunan.

Rumusan hadits di atas mengarahkan bahwa Islam sendiri menyukai, untuk keberlangsungan generasi mendatang, agar memilih pasangan dari keturunan yang baik, sehingga di dalam  pernikahan tersebut akan melahirkan keturunan yang baik pula

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فإنَّ الْعِرْقَ دَسَّاس – رواه ابن ماجه والديملي

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah(benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”. (HR. Ibn Majah).

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

Posted in Nuthfah (Benih) | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

♣ Silsilah 25 Nabi Dan Rasul

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 25, 2012

Silsilah 25 Nabi Dan Rasul

images

Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah serta menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi.

RASUL

Rasul adalah seorang laki laki merdeka yang menerima risalah atau wahyu dari Allah dan ia juga diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.  Jadi boleh dikatakan juga bahwa setiap rasul pasti nabi tapi tidak semua nabi itu adalah rasul.

يَـأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

Allah berfirman ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (al-Maidah: 67)

NABI

Nabi adalah seorang laki laki merdeka yang diturunkan kepadanya risalah atau wahyu dari Allah untuk diamalkan, namun tidak diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.

Kenabian lebih umum karena semua rasul adalah nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul. Jadi orang yang bukan nabi berarti bukan rasul, dengan kata lain, untuk bisa menjadi rasul dia harus menjadi nabi. Rasul diutus untuk membawa risalah kepada manusia, untuk membawa syariat Allah dan agama yang harus disampaikan lagi kepada manusia, sedangkan Nabi saw diutus dengan dakwah dan syariat namun tidak diperintahkan untuk menyampaikanya kepada manusia.

Kenabian adalah pemberian Allah semata. Tidak semua orang bisa menjadi nabi atau julukan nabi. Kenabian tidak bisa diraih dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Manusia tidak mungkin mendapatkan gelar nabi dengan usaha, karena ia bukan gelar yang mungkin diraih dengan jerih payah. Kenabian adalah derajat tinggi dan kedudukan mulia yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Orang yang dikehendaki sebagai nabi itu telah disiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk memikul kenabian tersebut. Tentu sebelum jadi nabi, Allah menjaganya dari perbuatan yang buruk dan melindunginya dari segala maksiat serta menganugerahkan kepadanya akhlak yang luhur.

Jelasnya, bahwa kenabian tidak diperoleh dengan usaha tertentu, namun kenabian itu anugrah dari Allah diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih dan tertentu. Kenabian bukan diberikan kepada orang yang mengharapkan dan memohon menjadi nabi.

Dan kita sebagai muslim, diwajibkan meyakini bahwa Allah mengutus para rasul untuk masing-masing umat yang menyeru mereka kepada tauhid. Beriman kepada seluruh rasul dan nabi adalah wajib dan merupakan rukun iman tanpa membedakan beriman kepada sebagian dan kufur kepada sebagian yang lain sebab hal tersebut sama dengan tidak beriman kepada semuanya. ”(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”,” (Al-Baqarah, 285).

JUMLAH PARA NABI DAN RASUL

Wajib bagi setiap muslim mengetahui bilangan para nabi dan rasul yang telah disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 dan wajib meyakininya secara keseluruhan bahwa Allah telah mengutus mereka sebagai nabi dan rasul yang dimulai dari nabi Adam as dan diakhiri oleh nabi Muhammad saw.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (al-Ghafir, 78).

Bilangan para rasul sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan bilangan para nabi mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur’an dengan perincian sebagai berikut: Adam, Idris, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dhul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ’Isa, Muhammad

Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah yang wajib ketahui. Dimulai dari Nabi Adam as sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad saw, nabi dan rasul Allah saw yang terakhir.

Penegasan bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir telah banyak ditegaskan Allah dalam al-Qur’an dan dan ditegaskan pula oleh Rasul-Nya di dalam al-hadits. Jadi kalau ada orang mengaku sebagai nabi setelah beliau, pasti dengan tegas umat Islam akan menolak keberadaanya dan tidak mempercayainya, karena Nabi Muhammad saw adalah akhir dan penutup para nabi. Keyakinan bahwa Rasulallah saw adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para sahabat beliau, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, pasti dengan tegas mereka menolaknya dan sekaligus menyatakan perang kepada mereka.

Wallahua’lam

NB/

Dalam silsilah setiap ada tanda warna hijau itu berarti nabi atau rasul.. Di sini ada penjelasan sedikit tantang Adnan dan Syits

sedikit saya jelaskan :

Adnan

Adnan adalah kakek kedua puluh dua dalam silsilah keturunan Nabi saw. Diriwayatkan bahwa jika beliau menyebutkan nasabnya dan sampai kepada Adnan, maka beliau berhenti dan bersabda, “Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta.” Lalu beliau tidak melanjutkannya.

Jadi Adnan mempunyai peranan penting dalam nasab terakhir Rasullah saw. Segolongan ulama memperbolehkan mengangkat nasab lagi dari Adnan ke atas, dengan berlandaskan kepada hadits yang memang mengisyaratkan hal itu. Menurut mereka, antara Adnan sampai Ibrahim as ada empat puluh keturunan, yang didasarkan kepada penelitian yang cukup mendetail. Makanya dalam nasab juga kita harus berhati hati, jangan asal ngambil saja..

Syits

Syits adalah Nabi bukan rasul. Al-Qur’an menyebut beberapa orang sebagai nabi. Nabi pertama adalah Adam. Nabi sekaligus rasul terakhir ialah Muhammad saw yang ditugaskan untuk menyampaikan. Selain ke-25 nabi sekaligus rasul, ada juga nabi lainnya seperti dalam kisah Khidir bersama Musa yang tertulis dalam Surah Al-Kahf, terdapat juga kisah Uzayr dan Syamuil. Ada juga nabi-nabi yang tertulis di Hadits dan Al-Qur’an, seperti Yusya’ bin Nun (yang mengikuti perjalanan nabi Musa waktu mencari nabi Khidir), Zulqarnain yang disebut dalam surat al-Kahf, Iys, dan juga nabi Syits. ..

riwayatnya bisa jadi panjang kalau di teruskan.. yang penting untuk merujuk tentang nasab nasab para nabi anda harus merujuk ke kitab kitab yang bisa diterima kebenaranya seperti Qashash Anbiya’ oleh ibnu Katsir .. Albidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, hadits hadits yang mutawatir yang bisa diterima keshahihanya.

Sangat dihargai sekali kunjungan dan perhatian anda… dan untuk membaca lebih luas lagi tentang sejarah para nabi dan rasul silahkan klik:

https://hasanalsaggaf.wordpress.com/2011/04/18/%E2%99%A3-ringkasan-sejarah-25-rasul/?preview=true&preview_id=1682&preview_nonce=a2c6140e81

Wallahu’alam
Hasan Husen Assagaf

silsilah21

Posted in Silsilah 25 Nabi dan Rasul | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 93 Comments »

♣ Baitul Maqdis Di Era Umar ra

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Januari 20, 2009

Baitul Maqdis

Baitul Maqdis

Dengan gigih khalifah Umar bin Khattab dan penngikutnya akhirnya bisa membebaskan kembali Baitul Maqdis dari cengraman musuh. Disaat memasukinya beliau berwasiat kepada pasukanya agar tidak menebang pohon, mengotori sungai, mencemari mata air, membunuh anak anak, wanita, orang tua, dan orang orang lemah. Selain itu beliau beliau berwasiat dengan tegas kepada pasukanya agar tidak menghacurkan gereja dan sinagog. Itulah pesan Umar ra kepada pasukannya saat saat memasuki Baitul Maqdis (Palestina).

Saat memasuki Baitul Maqdis, Sayyidina Umar ra dan pasukannya disambut hangat oleh penduduk setempat. Tua muda, besar kecil, laki perempuan di bawah pimpinan pendeta Nasrani semua keluar menyabut beliau. Keduanya kemudian berjalan keliling kota. Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana tentara islam menghormati dan menjaga rumah rumah ibadah yang ada di tempat itu. Tidak ada satupun gereja atau sinagog rusak atau dihancurkan. Semuanya terpelihara sesuai dengan wasiat sayyidina Umar ra.

Gereja Al-Qiyamah

Gereja Al-Qiyamah

Setibanya di gereja Al-Qiyamah tibalah waktu sholat. Lalu Sayyidina Umar berkata kepada pendeta “Maaf, saya ingin melaksakan sholat”. Sang pendeta terharu dan menjawab “Silahkan tuan shalat di tempat mana saja tuan inginkan. Kebetulan pada saat itu beliau berada di dalam gereja. Demi untuk menjaga kesalahfahaman di antara kaum muslimin, maka beliau meminta izin keluar dari gereja lalu sholat di dekat pintu masuk gereja. Hal ini beliau lakukan agar umat islam tidak menyalahgunakan gereja sebagai masjid.

Pada saat keberadaan sayyidina Umar ra di Baitul Maqdis, beliau tidak menyiakan waktunya. Beliau mencari tempat untuk mendirikan masjid yang tidak berjauhan dengan masjid Al-Aqsha’. Masjid itu diberi nama Al-Shakhrah dan memerintahkan umat islam untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid itu. Kamu Nasrani di Palestina pun diberikan perlindungan dan jaminan kebebasan beragama. Sayyidina Umar ra menyadari bahwa baitul Maqdis merupakan kota “tiga agama”.

Kisah diatas patut dijadikan renungan, bahwa Islam adalah agama penuh toleransi, agama teladan dan qudwah. Dan toleransi ini bisa diterapkan karena adanya keteladanan dari pemimpin yang bijak, terbuka dan rendah hati. Meskipun dalam posisi kuat dan menang tapi Sayyidina Umar ra dan tentaranya tidak bertindak berutal, melampaui batas, dan semena mena. Hal ini beliau lakukan sedemikian rupa agar tidak terjadi pertumpahan darah antara kaum muslimin dan penduduk setempat. contoh semacam inilah yang patut ditiru agar kita senantiasa bermuamalat baik, mendewasakan sikap dan suluk dengan penganut agama lain apalagi dengan sesame muslim, bukan menampilkan ego, merasa benar sendiri, gampang disundut dan cepat emosi.

Wallahualam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

Posted in Batitul Maqdis di era Umar ra | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 6 Comments »

♣ Kasak Kusuk Di Tahun Hijriah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Januari 1, 2009

images (1)

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Sampai saat wafat Rasullah saw belum ada penetapan kalender Islam yang dipakai sebagai patokan penanggalan. Pada waktu itu, catatan yang dipergunakan kaum muslim belum seragam. Ada yang memakai tahun gajah, peristiwa bersejarah, yaitu tahun penyerangan Abrahah terhadap kab’bah dan kebetulan pada saat itu bertepatan dengan tanggal kelahiran Rasullah saw. Ada pula yang mengunakan tahun diutusnya Rasulallah saw sebagai nabi, atau awal penerimaan wahyu. yang penting mereka belum mepunyai penanggalan yang tetap dan seragam. Pada zaman khalifah Abubakar ra sudah mulai para sahabat melontarkan gagasan tentang perlunya adanya penanggalan. tapi belum pula diterapkan.

 

Penetapan penanggalan yang dipakai oleh umat Islam dimulai pada zaman khalifah Umar ra. Menurut keterangannya, ide ini diterapkan setelah beliau menerima sepucuk surat dari Abu Musa al-asy’ari yang menjadi gubernur di Bashrah, isinya menyatakan ”Kami telah banyak menerima surat perintah dari anda tapi kami tidak tahu kapan kami harus lakukan. Ia bertanggal Sya’ban, namum kami tidah tahu Sya’ban yang mana yang dimaksudkan?”

 

Rupanya surat Abu Musa diterima oleh khalifah Umar ra sebagai saran halus tentang perlu ditetapkannya satu penanggalan (kalender) yang seragam yang dipergunakan sebagai tanggal bagi umat Islam.

 

Budaya penanggalan ini rupanya belum ada dalam Islam sedangkan penanggalan Masehi sudah diterapkan sebelum adanya Islam beberpa abad lalu.  Tapi Islam adalah agama yang menerima budaya dari luar semasih budaya itu baik dan tidak bertentangan dan keluar dari rel agama. contohnya; disaat Rasulallah saw berada di Madinah beliau melihat orang2 Yahudi berpuasa pada tanggal 10 muharam. Beliau bertanya kenapa mereka berpuasa. Lalu dijawab karena hari itu nabi Musa as diselamatkan dari serangan Firau. Rasulallah saw mejawab “kita lebih utama dari mereka atas nabi Musa”. Maka beliau menganjurkan umat Islam untuk berpuasa, dan dianjurkan pula berpuasa sebelumnya atau sesudahnya. Tujuanya untuk tidak bertasyabbuh (menyamakan) dengan Yahudi. Contoh lain, disaat Rasulallah saw mengirim surat kepada penguasa dunia, beliau disarankan untuk membumbuhi surat surat beliau dengan stempel, karena mereka tidak mau menerima surat surat kecuali ada stempelnya. Nabi pun menerima saran tersebut. Lalu beliau membuat stempel yang berupa cincin tetulis “Muhammad Rasulallah”.

 

Kemudian khalifah Umar ra mengelar musyawarah dengan semua sahabat Nabi saw untuk menetapkan apa yang sebaiknya dipergunakan dalam menentukan permulaan tahun Islam. Dalam pertemuan itu ada empat usul yang dikemukakan untuk menetapkan penanggalan Islam, yaitu :

 

1. Dihitung dari mulai kelahiran nabi Muhammad Saw

2. Dihitung dari mulai wafat Rasulullah saw

3. Dihitung dari hari Rasulullah saw menerima wahyu pertama di gua Hira

4. Dihitung mulai dari tanggal dan bulan Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah

Usul pertama, kedua dan ketiga ditolak dan usul yang terakhir merupakan usul yang diterima suara banyak. Usul ini diajukan oleh imam Ali bin Abi Thalib ra. Akhirnya, disepakatilah agar penanggalan Islam ditetapkan berdasarkan hijrah Rasulallah saw dari Mekah ke Medinah.

 

Ketika para sahabat sepakat menjadikan hijrah Nabi saw sebagai permulaan kalender Islam, timbul persoalan baru di kalangan mereka tentang permulaan bulan kalender itu. Ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awal (sebagai bulan hijrahnya Rasulullah saw ke Medinah). Namun ada pula yang mengusulkan bulan Muharram. Akhirnya khalifah Umar ra memutuskan awal bulan Muharam tahun 1 Islam/Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M. Dengan demikian, antara permulaan hijrah Nabi sa dan permulaan kalender Islam terdapat jarak sekitar 82 hari.

 

Jadi, peristiwa penetapan kalender Islam oleh khalifah Umar ra ini terjadi tahun ke 17 sesudah hijrah atau pada tahun ke-4 dari kekhalifahan beliau.

 

Dari latar belakang sejarah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Penetapan bulan Muharram oleh Umar bin khattab ra sebagai permulaan tahun hijriah tidak didasarkan atas peringatan peristiwa hijrah Nabi. Buktinya beliau tidak menetapkan bulan Rabiul Awwal (bulan hijrahnya Rasulallah saw ke Medinah) sebagai permulaan bulan pada kalender hijriah. Lebih jauh dari itu, beliau pun tidak pernah mengadakan peringatan tahun baru hijriah, baik tiap bulam Muharram maupun rabiul Awwal, selama kekhalifahannya.

2. Peringatan tahun baru hijriah pada bulan Muharram dengan alsanan memperingati hijrah nabi ke Madinah merupakan hal yang kurang pas, karena Rasulallah saw hijrah pada bulan Rabiul Awwal bukan bulan Muharram

3. menyelenggarakan berbagai bentuk acara dan upacara untuk menyambut tahun baru hijriah dengan begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru adalah hal yang tidak pernah disarankan agama.

 

Jadi yang pas menurut saya dalam memperingati tahun baru Hijriah, yaitu sesuai dengan apa yang dipesan kakek saya. Beliau pernah berpesan, jika tahun baru tiba, hendaknya kita banyak bermuhasabah, melakukan kontrol diri terhadap amal perbuatan yg kita lakukan selama setahun. Kalau dalam berdagang atau berniaga ada istilah namanya inventory atau tutup buku atau hitung-hitungan untung-ruginya dalam berdangang atau berniaga selama setahun. Begitu pula dalam amalam kita selama setahun ada istilah tutup buku atau hitung-hitungan selama setahun. Kalau untung patut kita syukuri, kalau rugi kita bertaubat dan berdoa semoga tahun yang datang akan lebih baik dari tahun lalu. Rasulallah SAW sendiri pernah menyatakan bahwa manusia terbagi atas tiga golongan:

 

= Golongan beruntung, yaitu jika hari ini lebih baik dari hari kemarin.

= Golongan merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin.

= Golongan celaka, jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

 

Wallahu’alam

Posted in Ya Karim, Sabda Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 1 Comment »

Ya Allah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 26, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kita sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Dan di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar. Itulah Lailatul Qadad

 

Lailatul Qadar adalah malam kebesaran Allah, malam keagungan Nya, malam pengampunan Nya, malam yang dimiliki Nya untuk memberi maaf dan dan kasih sayang kepada hamba Nya, para pembuat dosa.

 

Di langit ada kerajaan yang sangat besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusai di bumi. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi di malam-malam Lailatul Qadar. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan para pembuat dosa. Allah berfirman dalam hadist , ”Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayang Kami.”

 

YA ALLAH, kami datang mengemis dihadapan pintu Mu.

 

YA ALLAH, kami datang dengan deraian air mata, merenge dan memohon kasih sayang dan pengampunan Mu.

 

YA ALLAH, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan shiam dan qiyam nya, maka siapa lagi yang menyayangi kami yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.

 

YA ALLAH, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi kami yang berlepotan dengan dosa dan maksiat.

 

YA ALLAH, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

 

YA ALLAH, beruntunglah orang-orang yang berpuasa dengan sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam dengan sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi.

 

YA ALLAH,.. tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang orang kafir.

 

YA ALLAH,.. janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.

 

YA ALLAH,.. janganlah Engkau bebankan kepada kami baban yang berat sebagaiman Engkau bebankan kepada orang orang yang sebelum kami.

 

YA ALLAH,.. janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

 

YA ALLAH,.. ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

 

YA ALLAH, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya ALLAH, Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

YA ALLAH,.. jangalah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena susungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia.

 

YA ALLAH,.. kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi Rahmat Yang Paling Baik.

 

YA ALLAH,.. sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

YA ALLAH,.. terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

YA ALLAH,.. sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksaan neraka.

 

YA ALLAH,.. berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksaan neraka.

 

YA ALLAH,.. jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.

 

YA ALLAH,.. kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

 

YA ALLAH,.. anugrahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

 

YA ALLAH,.. kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.

 

YA ALLAH,.. sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

 

YA ALLAH,.. berilah kami apa yang telah Engkau jadikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

 

YA ALLAH,.. beri apunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab.

 

YA ALLAH,.. berikanlah rahmat kepada kami dari sisi Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.

 

YA ALLAH,.. jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat.

 

YA ALLAH, perkenankanlah doaku.

 

Selawat dan salam Mu atas junjungan Nabi Muhammad, keluarga-nya dan para sahabat-nya.

 

Amin.

 

Posted in Ya Allah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Lailatul Qadar

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 17, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

DIRIWATKAN bahwa Rasulallah sedang duduk i’tikaf (berdiam di masjid) semalam suntuk, di hari hari terakhir bulan Ramadan. Para sahabat tidak sedikit yang mengikuti apa yang di lakukan Nabi. Beliau berdiri salat mereka juga salat. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh sahabat Rasulallah saw yang memenuhi masjid. Menurut sebuah riwayat malam itu malam ke 27 Ramadhan.

 

Di saat Rasulallah saw dan para sahabat sujud, tiba tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan solatnya. Dia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shof. Tapi niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulallah dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusyuk tidak bergerak. Air hujan pun makin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulallah saw. Akan tetapi Rasulallah saw dan para sahabat tetap sujud.

 

Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. Seolah olah beliau sedang asyik masuk ke dalam suatu alam yang melupakan segala galanya. Beliau sedang masuk ke alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kepalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulallah saw mengangkat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun terhenti seketika.

 

Anas bin Malik, sahabat Rasulallah, bangun dari duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulallah. Tapi belau pun menghalanginya dan berkata “Jangan, biarlah kita sama sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering sendiri”. Anas pun duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama cerita Rasulallah mengapa beliau begitu lama bersujud.

 

Ketika Rasulallah bersujud, dan disaat hujan mulai turun, disaat itu pula malaikat dibawah pimpin Jibril as turun dalam keindahan dan bentuk aslinya. Mereka berbaris rapih dan suara gemuruh tasbih dan tahmid mereka bergema di langit dan di bumi dan alam semesta dipenuhi dengan cahaya ilahi. Inilah yang membuat Rasulallah saw terpaku menyaksikan keindahan dan cahaya yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh mata. Gema tasbih dan tahmid malaikat yang tak pernah didengar oleh telinga dan suasana yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.

 

Itulah Laillatul qadar. Tahukan kamu, apakah lailatul qadar? Lailatul qadar yang sesaat itu saja lebih baik ketimbang seribu bulan. Di malam itu, malaikat dan Jibril turun atas izin Tuhan. Mereka menebarkan kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, dan mengatur segala urusan. Mereka menyampaikan “salam” sampai terbit fajar ke seluruh semesta alam. (QS Al Qadar).

Sekarang kita sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Dan di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar. Itulah Lailatul Qadad

 

Lailatul Qadar adalah malam kebesaran Allah, malam keagungan Nya, malam pengampunan Nya, malam yang dimiliki Nya untuk memberi maaf dan dan kasih sayang kepada hamba Nya, para pembuat dosa.

 

Di langit ada kerajaan yang sangat besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusai di bumi. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi di malam-malam Lailatul Qadar. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan para pembuat dosa. Allah berfirman dalam hadist , ”Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayang Kami.”

 

YA ALLAH, kami datang mengemis dihadapan pintu Mu.

 

YA ALLAH, kami datang dengan deraian air mata, merenge dan memohon kasih sayang dan pengampunan Mu.

 

YA ALLAH, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan shiam dan qiyam nya, maka siapa lagi yang menyayangi kami yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya.

 

YA ALLAH, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi kami yang berlepotan dengan dosa dan maksiat.

 

YA ALLAH, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas.

 

YA ALLAH, beruntunglah orang-orang yang berpuasa dengan sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam dengan sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi.

 

YA ALLAH,.. tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang orang kafir.

 

YA ALLAH,.. janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.

 

YA ALLAH,.. janganlah Engkau bebankan kepada kami baban yang berat sebagaiman Engkau bebankan kepada orang orang yang sebelum kami.

 

YA ALLAH,.. janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

 

YA ALLAH,.. ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

 

YA ALLAH, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya ALLAH, Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

YA ALLAH,.. jangalah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena susungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia.

 

YA ALLAH,.. kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi Rahmat Yang Paling Baik.

 

YA ALLAH,.. sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

YA ALLAH,.. terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

YA ALLAH,.. sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksaan neraka.

 

YA ALLAH,.. berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksaan neraka.

 

YA ALLAH,.. jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.

 

YA ALLAH,.. kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

 

YA ALLAH,.. anugrahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

 

YA ALLAH,.. kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.

 

YA ALLAH,.. sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

 

YA ALLAH,.. berilah kami apa yang telah Engkau jadikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

 

YA ALLAH,.. beri apunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab.

 

YA ALLAH,.. berikanlah rahmat kepada kami dari sisi Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.

 

YA ALLAH,.. jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat.

 

YA ALLAH, perkenankanlah doaku.

 

Selawat dan salam Mu atas junjungan Nabi Muhammad, keluarga-nya dan para sahabat-nya.

 

Amin.

 

Wallau’alam

Posted in Lailatul Qadar | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 25 Comments »

Mengenang Al-Maliki

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

download

 

MENGENANG jasa merupakan ibadah. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Karena ia tidak bisa berbalas budi orang. Bagaikan kisah diputar ulang, 4 tahun yang lalu, tepatnya Jumat 15 Ramadhan 1425 H, Makkah dan dunia Islam menangis karena tersiar berita bahwa seorang ulama besar Sayyid Mohammad Al-Maliki, wafat.  Beliau meninggal di salah satu rumah sakit di Makkah, setelah beberapa jam berjuang melawan penyakit yang datang secara mendadak.

 

Jelasnya, jasa beliau yang besar terhadap Islam tidak bisa dilupakan. Tahun demi tahun berlalu, dan ingatan kita pasti menyertainya terutama di bulan yang penuh rahmah ini. Kita tidak bisa lupa kepada beliau. Ingatan kita kepada beliau sudah menjadi kebutuhan, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.

 

Dr. Muhammad Al-Maliki dikenal sebagi guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat muslim menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama.

 

Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengan thariqahnya. Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar,  menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu.

 

Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya. Dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai sampai beliau rela mengenudurkan diri sebagai dosen di Universitas “Umul Qura’ “, Makkah dan di halaqah ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran, keikhlasan dan menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan bersealiran denganya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah.

 

Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Dr. Muhammad Al-Maliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.

 

Disamping tugas beliau sebagi da’i, pengajar, pembimbing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermangfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya telah beredar di seluruh dunia. Dan tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

 

Da’wah semacam inilah yang telah diwasiatkan Rasulallah saw, lima belas abad silam, yang datang sebagi rahmat dan membawa perdamaian bagi alam dan seluruh umat manusia. Rasulallah tidak mengajarkan kita berda’wah dengan kekerasan, paksaan dan berutal. Akan tetapi beliau mengajarkan umatnya berda’wah dengan hikmah dan mauidzah hasanah, dengan akhlak dan suluk yang ramah. Ini konci kesuksesan da’wah ulama semacam Dr. Muhammad Al-Maliki.

 

Selamat tinggal ayah yang berhati baik. Selamat tinggal sosok tubuh yang pernah menanamkan hikmah, ilmu, teladan di hati hati kami. Selamat tinggal pemimpin umat yang tak bisa kami lupakan dalam pendirian dan keikhlasannya. Selamat tinggal pahlawan yang jujur, ikhlas dalam amal dan perbuatanya. Kemulyaan kamu telah meliputimu semasa hidupmu dan di saat wafatmu. Kamu telah hidupi hari hari mu dengan mulia, dan sekarang kamu telah terima imbalannya disaat wafatmu pula dengan mulia.

 

Wallahu’alam

 

 

Posted in Mengenang Al-Maliki | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 7 Comments »

Puasa di Kota Besar

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 4, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

TIDAK terasa waktu berjalan begitu cepat, kini telah memasuki lima puasa dalam hitungan hari, Insya Allah kita bisa hidupkan sisa hari hari puasa ini dengan amal keberkahan, kebajikan, dan kebaikan, begitu pula kita bisa ihyakan malam malam terkhair dari Ramadhan ini dengan nafahat, barakat, rauhan dan raihanah. Semoga Ramadhan tahun ini benar benar menjadi pelebur dosa kita. Amin.

 

Waktu dan saat yang tepat dan indah di bulan Ramadah khususnya bagi yang hidup di kota-kota besar, sangat sulit ditemukan dan susah dimangfaatkan, karena puasa di tempat tempat itu banyak beraneka ragam.

 

Ada seorang muslim puasa sebulan penuh, seolah olah laparnya membuat cinta kepada fakir miskin, dahaga dan hausnya bisa membakar dosa, dan bacaan al Qur’an nya bisa menuntunnya ke sorga. Disaat berbuka puasa dan air membasahi tenggorokannya, wajahnya cerah, sholat dan tarawihnya tidak pernah ketinggalan di masjid, penampilanya dalam ibadah sangat indah dan terpuji.

 

Celakanya, ini dilakukan hanya sebulan tok. Sedangkan sebelas bulan lainnya, dia kembali ke dunianya, lupa daratan dan lautan. Sholatnya ditinggalkan, al-Qur’an nya diselipkan di gerobok lemari dan dijadikan seperti benda pusaka yang tidak pernah dikebet atau dibaca, yang lebih parah lagi ma’siatnya dan kejahatanya kembali lagi dilakukan. Sedangkan Ramadhan adalah  pelebur dan pembakar maksiat dan dosa. Seharusnya sebabis maksiat dan dosa itu dibakar tidak bisa muncul lagi di bulan bulan setelah Ramadhan. Tapi sebaliknya begitu habis ramadhon habis pula tugas agamanya dan ia mulai kembali menghalalkan maksiatnya.  bahkan menjadi tambah sarat dan merajalela.

 

Ada lagi kalau kita naik bis kota, disamping udara yang tidak sehat, kita dapatkan pengamen sambil mementilkan gitarnya ia membawakan syair yang indah : “Kami disini tidak mau ngerampok, tapi kami minta tolong, lima ratus kan  tidak bikin miskin, sedekahlah kepada kami untuk berbuka puasa“. Padahal dia sendiri belum tentu berpuasa. Abis ngamen, kantong duit diputar se bis. Kalau kebetulan engga ada yang kasih, pengamen turun dari bis sambil ngegerutu “ Dasar pade pelit “ .

 

Ada yang lebih jahat dari itu, ibadah puasa dibikin kaya sandiwara. Dirumah saur bersama anak istri, diluar bibirnya basah, perutnya diisi. Pulang kerumah bibirnya dilap dengan tissu kering, pura pura letih dan lemes karena puasa. akhirnya ia berbuka puasa bersama. Ini namanya membohongi agama dan orang. Tapi Allah tidak bisa dibohongin. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

 

Sehabis buka, ada orang yang niatnya baik mau tarawih. Sehabis tarawih dia ngobrol dan kongko sama teman temannya dari barat ketimur, bawa cerita dari mulai urusan agama, makanan, mobil, sepeda motor, tektek bengek sampai ke politik SBY, Megawati, Gusdur bahkan sampe ke Bush.  Terakhir salah satu temannya bawa gafle, mereka main gafle sampai larut malam. Ia pulang ke rumah bersama sama rombongan yang membangungkan saur. Sayangkan, dihabiskan malam Ramadhon dan Lailaul Qadri yang penuh dengan rahmah, maghfirah dan pengampunan dengan bermain gafle.

 

Masih banyak lagi yang tidak bisa diceritakan tentang aneka ragam manusia yang berpuasa di kota kota besar. Maka saya mengajak terutama diri saya sendiri kemudian semua handai tolan agar bisa bisa menemukan dan memangfaatkan waktu waktu dan saat saat yang indah di bulan suci Ramadhan dengan amal baik seperti mengkhatamkan alQuran, shalat tashbih, berzakat dan bershodaqah kepada orang faqir dan miskin bagi orang yang mampu.

 

Cerita tantang zakat dan shadaqah di bulan suci, saya jadi teringat 3 tahun yang lalu dengan berita seorang dermawan besar Hb Ismet Alhabsyi membagikan zakat dan shadakah di rumahnya. Ribuan fakir miskin datang menyerbu rumah kediamannya. Karena terlalu banyak yang datang, akibatnya terjadi eksident yang tidak diinginkan. Mereka berdesakan, ratusan orang berebut ingin mendapatkan uang tunai 20.000 rupiah plus sebuah sarung sedekah dari dermawan terkenal itu. Akibatnya empat wanita meninggal dunia karena jatuh dan terinjak injak. Peristiwa yang sangat menyedihkan ini sebetulnya mereka berencana jika uang dan sarung dari hasil sedekah didapat, mereka bisa membeli sesuatu yang bisa menggembirakan keluarganya di hari raya, tapi Allah berkehendak lain, mereka tewas sebelum kehandak mereka terwujud.

 

Tragedy itu , terus terang melukiskan betapa besar kemiskinan yang melanda di negara kita terutama di kota-kota besar. Kejadian seperti itu sudah tidak asing bagi kita untuk didengar, bahka banyak yang lebih kejam dari itu sering kita dengar. Memang dalam kondisi miskin semua serba sulit dikendalikan, termasuk emosi. Karena lapar telah mengubah sifat sabar menjadi berangasan.

 

Orang kaya dan dermawan seperti Hb Ismet Alhabsyi tidak sedikit kita dapatkan, dan begitu pula fakir miskin yang membutuhkan satunan dari mereka tidak terhitung banyaknya. Yang sulit kita dapatkan adalah perantara (A’mil Zakah) yang berfungsi sebagai penyambung hubungan antara si kaya dan si miskin. Sehingga zakat dan shodakah mereka bisa terorganisir atau bisa disalurkan secara baik. Sayangnya, zakat mereka kebanyakanya tersalur ke kantong kantong si perantara (A’mil Zakah) atau mungkin sampai kepada mereka tapi setelah nilainya dikentit dan dicatut. Betitulah nasib fakir miskin di negara kita yang kebanyakanya hanya menerima sisa sisa uang zakat dan shadakah atau mungkin tidak menerima sama sekali.

 

Akhiron dan insya Allah bukan untuk yang terakhir, Islam mengutamakan dan mengajarkan kepada umatnya untuk berzakat, untuk menginfakan sebagian kecil dari harta yang dimiliki si kaya, Hal ini demi untuk mengajarkan kepada yang kaya agar jangan sekali kali merasa bangga tapi harus menengok kepada yang dibawah agar bisa mengimbangi jarak dengan yang di bawah. Begitu pula kepada yang di bawah jangan selalu mengandalkan kepada yang diatas, jangan tinggal diam tapi harus berusaha itulah satu2nya modal agar yang dibawah bisa berhasil. Sementara yang diatas tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan serakah. Itulah yang yang diajarkan agama agar kehidupan bersama antara si kaya dan si miskin bisa terjalin dengan baik sehingga jarak antara mereka tidak terpaut jauh

 

Wallahua’lam

Posted in Puasa di Kota Besar | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 1 Comment »

♣ Marhaban Ya Ramadhan

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 31, 2008

 Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

TIDAK terasa bulan yang penuh rahmat hadir lagi bersama-sama kita. Aneka ragam dalam menyambutnya. Semuanya bisa diterima dan dibenarkan, tapi yang paling pas dijadikan teladan dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhon adalah Rasulallah saw, para sahabatnya dan salafus sholih. Dalam menyabut bulan yang penuh pengampunan ini, Rasulallah saw suatu hari di akhir bulan Sya’ban bersabda:

 

“Wahai semua manusia, telah datang kepadamu bulan yang agug, penuh keberkahan, didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Diwajibkan padanya puasa dan dianjurkan untuk menghidupkan malam-malamya. Siapa yang mengerjakan satu kebaikan (sunah) pada bulan ini, seolah-olah ia mengerjakan satu kewajiban dibulan-bulan lain. Siapa yang mengerjakan ibadah wajib seakan-akan mengerjakan tujuh puluh kali kewajiban di bulan-bulan lain “ (Sahih Muslim dari Salman).

 

Terdengar lagi sambutan “Marhaban ya Ramadhan”. Dalam bahasa Arab, marhaban berasal dari kata rahb yang artinya luas,lebar dan lapang. Kaya ada tamu penting mau datang, tentu saja kita siapkan tempat yang luas, lebar, bagus dan lapang agar tamu itu betah dan senang tinggal di rumah kita, karena kita juga senang dengan kedatangannya. Itu artinya kita harus meluaskan hati dan melapangkan dada dalam menyambut bulan Ramadhan sehingga ibadah dan kegiatan Ramadhan yang kelihatannya berat bagi kita akan terasa enteng.

 

Coba bayangkan, mendekati bulan Ramadhan saja kita sudah diminta untuk menyabutnya dengan suka cita, dengan gembira dan semangat, karena ada sesuatu atau oleh-oleh yang diharapkan dari tamu yang datang itu. oleh-olehnya yaitu surga. Kalau menyambut bulan puasa dengan gembira merupakan satu tanda masuk surga, apalagi mengerjakan ibadah di bulan ini dengan baik.

 

Tapi tunggu dulu. Sebab banyak orang yang kalau sudah habis bulan ramadhan habis pula tugasnya dan habis semua ibadah dan kegiatan lainya yang telah dilakukan selama sebulan. Kalau ingin mengetahui ibadah dan amal kita makbul atau diterima Allah di bulan Ramadhan dan kita telah mendapatkan sertifikat masuk surga kita harus buktikan lebih dahulu keberhasilan dan kesuksesan ibadah tersebut dengan meningkatkan amal soleh di bulan bulan yang lain.

 

Mestinya, setelah lewat Ramadhan, kita tidak lagi melakukan ma’siat dan dosa-dosa, apalagi secara harfiah Ramadh artinya dalam bahasa Arab membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu diibaratkan kaya pohon singkong, maka kalau sudah dibakar, pohon singkong itu mati dan tidak mungkin bisa tumbuh lagi. Begitu pula ma’siat dan dosa-dosa di bulan Ramadhan dibakar hangus, seharusnya tidak boleh ma’siat dan dosa-dosa dilakukan lagi dibulan bulan yang lain. Nah, kalau ma’siat dan dosa-dosa itu masih juga dikerjakan dan diperbuat di bulan-bulan yang lain setelah Ramadhan berlalu, ini sama saja dengan pohon singkong bukan dibakar tapi ditebang. Pohon singkong kalo ditebang dia akan tumbuh lagi, bahkan bukan satu cabang yang tumbuh tapi bercabang cabang. Begitu kan?

 

Waktu puasa, kita diajarin jujur tidak boleh curang, sehingga kita tidak berani makan atau minum meskipun tidak ada orang yang lihat. Itu kita lakukan melulu untuk Allah dan karena Allah. Kita betul belul yakin Allah mengetahui perbuatan kita, makanya kita dalam puasa selalu mengawasi diri kita dan selalu bersifat jujur kepada Allah dan diri kita sendiri. Inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karna itu, setelah habis bulan puasa harus mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, dalam tindakan, dan kelakuan bahkan dalam mu’amalat sesama manusia pula harus jujur. Ini namanya hikmah yang bisa diambil dari puasa.

 

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi kita harus bisa pula mengambil hikmah dari lapar dan haus itu, yaitu kita harus memiliki jiwa solider kepada mereka yang menderita dan kesusahan dan harus mempunyai rasa iba kepada fakir miskin dan anak anak yatim. Yaitu dengan memberi sebagian kecil dari harta kita (zakat mal atau zakat fitr) kepada mereka. Dan rasa solider ini bukan hanya nongol di bulan puasa, tapi kita harus selalu menjadi manusia yang solider dan mencintai sesama muslim kapan waktu saja.

 

Yang lebih pening dari itu, Ramadhan merupakan waktu paling tepat untuk melatih diri atau merobah akhlak buruk (penyakit) yang sudah berkarat dan mendarah daging di diri kita. Merobah akhlak buruk susahnya bukan main, apalagi kalo akhlak jelek itu sudah mengakar dan sudah tidak terkontrol. Pada saat itu akhlak jelek itu bukan lagi merupakan cacat, tapi ini sungguh sungguh telah menjadi mala petaka dan mushibah.

 

Setiap orang pasti memiliki segudang akhlak jelek dari mulai maki-maki, bohong, certain orang, sombong, nipu, maling, apalagi koropsi yang sudah jadi budaya kita dll sampai ke usil, nyindir, mau tahu urusan orang, fudhul, suu’ dhon (buruk sangka), ghurur (berbangga diri), dll.

 

Di bulan suci ini merupakan kesempatan yang paling tepat dan bagus untuk merobah akhlak jelek itu. Dan Ramadhan merupakan sekolah atau privat les yang bisa membuat manusia secara berangsur angsur merobah watak dan akhlak jeleknya atau sekurang-kurangnya sadar dan eling akan akhlak buruknya.

 

Saya rasa masih banyak hikmah-hikmah puasa yang kita bisa dapatkan dan temukan dan yang sangat penitng adalah kita harus banyak belajar dari Ramadhan dan mengambil hikmahnya supaya bisa diterapkan di bulan bulan yang lain bukan hanya di bulan puasa tok.

 

 

Salam Ramadhan.

 

Wallahu’alam

Posted in Marhaban Ya Ramadhan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

♣ Amiin, sabda Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2008

 

 

Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwatkan bahwa Abi Hurairah ra berkata: Pernah Rasulallah saw naik ke mimbar dan berkata, “Amiin“ sebanyak tiga kali. Setelah khutbah seorang sahabat bertanya “Wahai Rasulallah, kenapa engkau berkata amin tiga kali di saat naik ke mimbar?” Rasulallah saw menjelaskan bahwa Jibril datang kepadanya dan berkata:
 
“Sungguh sial bagi siapa yang datang kepadanya bulan Ramadhan, tapi tidak
diampuni dosanya” Lalu beliau menjawab “AMIIN“
 
“Sungguh sial bagi siapa yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satu dari mereka semasa hidupnya tapi tidak berbuat baik kepada mereka” Lalu beliau menjawab lagi “AMIIN“
 
“Sungguh sial bagi siapa yang mendengar namamu disebut dihadapanya, tapi
tidak berselawat atasmu” Beliaupun menjawab lagi “AMIIN “
 
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tak lupa saya sekeluarga
mengucapkan:

 
”Selamat berpuasa semoga Allah mengampuni dosa dosa kita dan mengembalikan hari hariNya yang indah kepada

kita dan ummat Islam dengan keberkahan,

kebaikan dan kemenangan.”

Amiin
 
Mohon maaf jika terdapat kelepatan. 

 

Salam dari kota Nabi

Hasan Husen Assagaf

 

 

 

 

Posted in Amiin, sabda Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

Al-Qur’an dari Zaman ke Zaman

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 30, 2008

Mushaf Ustmani

Mushaf Ustmani

 

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al-Hijr: 9)

Diyakini oleh umat Islam bahwa penurunan Al-Qur’an terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah saw dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

 

Penulisan Al-Qur’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyaknya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.

 

Pada masa ketika Rasulallah saw masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Ka’ab. Sahabat yang lain juga secara diam diam menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana dll. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

 

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra, terjadi beberapa pertempuran diantaranya perang yang dikenal dengan nama perang Ridda yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang tidak terhitung. Umar bin Khattab ra pada saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Khalifah Abu Bakar ra untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat, penghapal Al-Qur’an. Lalu Abu Bakar ra memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk membuat lajnah pengumpulan Al-Qur’an yang mengorganisai pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar ra. Abu Bakar ra menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf pertama itu berpindah kepada Umar bin Khattab ra sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya diserahkan dan dipegang oleh anaknya Hafsah yang juga istri Nabi saw.

 

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, Islam semakin tersebar luas ke suluruh penjuru, dan terjadilah perbedaan dialek (lahjah) antara suku yang berasal dari daerah dan negara berbeda beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk membuat keseragaman dalam cara membaca Al-Qur’an (qira’at). Lalu ia mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar ra untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Ia memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurahman bin Al-Harists bin Hisyam. Ia memerintahkan agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika terjadi perbedaan antara dan Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al-Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka.

 

Maka terbentuklah sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah). Standar tersebut kemudian dikenal dengan istilah Mushaf Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan keluarnya penyamaan dengan standar yang dihasilkan, maka khalifah Ustman ra memerintahkan seluruh mushaf yang berbeda untuk dimusnahkan. Hal ini demi untuk mencegah perselisihan di antara umat islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah.

 

Dari keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman ra telah disepakati dan disetujui oleh para sahabat. Hal ini agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Al-Hijr 9

 

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

Foto Al-Qur’an dari zaman ke zaman:

 Ditulis tahun 448 H      

 Ditulis tahun 546 H

 Ditulis tahun 678   

 Ditulis tahun 953 H

 Ditulis tahun 842 H

  Ditulis tahun 952 H

 Ditulis tahun 960 H

 Ditulis tahun 985 H

 Ditulis tahun 1001 H 

 Ditulis tahun1034 H

 Ditulis tahun 1044 H

 

 Ditulis tahun 1066 H

 Ditulis tahun 1090 H  

 Ditulis tahun 1105 H 

 Ditulis tahun 1116 H

 Ditulis tahun 1119H 

 Ditulis tahun 1132H

 Ditulis tahun 1139 H 

 Ditulis tahun 1140H

 Ditulis tahun 1140 H 

 Ditulis tahun 1161 H

 Ditulis tahun 1170 H 

 Ditulis tahun 1172

 Ditulis tahun 1181 H

 Ditulis tahun 1206 H

 Ditulis tahun 1206 H 

 Ditulis tahun 1214 H

 Ditulis tahun 1215

 Ditulis tahun 1242 H 

 Ditulis tahun 1228H

 Ditulis tahun 1234 H 

 Ditulis tahun 1257 H 

 Ditulis tahun 1245 H

 Ditulis tahun 1251 H  

 Ditulis tahun 1254 H 

  Ditulis tahun 1258 H

 Ditulis tahun 1262 H

 Ditulis tahun 1263 H

 Ditulis tahun 1268 H  

 Ditulis tahun 1271 H 

  Ditulis tahun 1271 H

  Ditulis tahun 1273 H 

 Ditulis tahun 1276H 

  Ditulis tahun 1277 H

 Ditulis tahun 1222 H 

 Ditulis tahun 1278 H 

 

 Ditulis tahun 1286H 

 Ditulis tahun 1309H

 Ditulis tahun 1309H 

 Ditulis abad ke 8 H 

 Ditulis tahun 1294 H 

Posted in Al-Qur'an dari Zaman ke Zaman | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 16 Comments »

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1430/2009

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 17, 2008

jadwal_imsakiyah_ramadhan_1430_pakarfisika_jakarta

Posted in Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2008 | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Silaturahim ke Alam Barzakh

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 16, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan ruh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh.

 

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “ Al-Mu’minun 100

 

Karena ruh itu tetap hidup maka silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk orang yang masih hidup di dunia, tapi hubungan kita dengan mereka yang sudah pindah ke alam barzakh pula sangat diperlukan. Sekalipun berbedanya alam antara kita dengan mereka tapi semuanya bisa dijangkau dengan silaturahim.

 

Sebelum menjelang bulan Ramadan dan di Hari Raya. Komplek pemakaman ramai tidak sedikit dikunjungi orang orang yang ingin bersilaturahim dengan keluarganya yang sudah meninggal dunia. Ada yang berziarah ke makam orang tuanya. Ada yang berziarah ke makam sanak famili atau karabatnya, ada pula yang berziarah ke makam para sesepuh dan ulama. Hal ini demi untuk mendoakan mereka yang telah mendahului kita agar Allah memberikan kepada mereka rahmah dan maghfirah dan mengharamkan jasad-jasad mereka dari sentuhan api neraka.

 

Rasulallah, sebagimana diriwayatkan Abu Daud, pada awal sejarah Islam pernah melarang umat Islam untuk berziarah kubur. Beliau khawatir umat Islam mengkultuskan kuburan, berlaku syirik, atau bahkan menyembah kuburan. Tapi selelah keimanan umat Islam meningkat dan kuat. Maka Rasulallah saw tidak khawatir lagi. Rasulallah saw pun kemudian bersabda : “Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukanya. Sebab bisa mengingatkan kita kepada akhirat”.

 

Silaturahim kepada penghuni alam barzakh adalah perbuatan dan tradisi baik. Selain merupakan ibadah juga untuk mengenang jasa dan berbalas budi orang. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Jelasnya, silaturahim kepada mereka sudah menjadi tradisi yang mendarah-daging. Tahun demi tahun berjalan, dan ziarah demi ziarah pasti menyertainya. Dan andai kata kita lupa, atau lalai melakukannya, kita akan segera merasa, ada sesuatu yang ganjil atau kurang mantap dalam diri kita. Ziarah kubur sudah menjadi kebutuhan hidup kita, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.

 

Di samping itu, tradisi berziarah ini sangat baik dan terpuji demi mengingatkan kita semua, termasuk orang kaya, pamong praja, dan berpangkat, bahwa satu hari hidup kita pasti akan berakhir di pekuburan. Semua kemegahan hudup, rela tak rela, harus ditinggalkan dan kita harus terima babak baru perjalanan menghuni liang kubur yang luasnya sekitar 1 x 2 meter saja.

 

Telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulallah saw telah menganjurkan kita, disaat memasuki kompleks pemakaman, agar mengucapkan salam kepada ahlil kubur seperti memberi salam kepada orang hidup: “Salam sejahtera bagimu penghuni kubur dari kaum Muminin dan Muminat. Dan kami Insya Allah akan betemu dengan kalian. Kamu adalah orang orang yang mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Kami bermohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian”.  Ucapan salam biasanya diberikan kepada orang yang mendengar dan berakal. Jika tidak, maka ucapan ini tidak mempunyai fungsi atau seolah-olah bersalam kepada benda jamad yang tidak mendengar dan berakal.

 

Para salaf  soleh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana ahli kubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mayyit setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan.

 

Diriwatkan oleh Imam Bukhari Muslim, pernah Rasulallah saw menyuruh mengubur orang orang kafir yang meninggal dalam peperangan Bader di kuburan Qulaib. Kemudian beliau berdiri di muka kuburan dan memanggil nama nama mereka satu persatu : “Wahai Fulan bin Fulan!! .. Wahai Fulan bin Fulan!!.. Apakan kamu mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kamu? Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku”.  Umar bin Khattab ra yang berada disamping Nabi bertanya : “Ya Rasulallah sesungguhnya kamu telah berbicara dengan orang-orang yang sudah usang (mati)”. Rasulallah saw pun berkata, “Demi Yang telah mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya kamu tidak lebih mendengar dari mereka dengan apa yang aku katakan”.

 

Imam besar Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulallah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda,  “Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur. Mereka tidak diazab karna dosa-dosa mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karna dosa-dosa mereka yang kecil. Yang pertama diazab karna suka berbuat namimah (mengupat / ceritain orang) dan yang kedua diazab karna tidak beristinja’ (tidak cebok setelah hadats kecil)”.  Kemudian Rasulallah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan trb. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulallah saw itu. Beliau bersabda : “Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur trb semasih tangkai pohon itu basah, belum kering. Karna ia beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab”.

 

Sekarang, jika Allah memberi keringanan azab kepada ahli kubur karna istighfar sebatang pohon, istighfar seekor binatang, istighfar sebuah batu, pasir dan krikil atau benda-benda jamad lainnya yang tidak berakal. Apalagi istighfar kita sebagai manusia yang berakal dan beriman kepadaNya.

Wallahua’lam 

Posted in Silaturahim ke Alam Barzakh | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 15 Comments »

Kenapa dia Rela Bunuh Diri?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 28, 2008

 Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

SURAT KABAR al-Jazirah – Saudi Arabia , pernah memuat berita kejadian seorang pembantu rumah tangga melakukan bunuh diri di atas rumah bertingkat dua di Jeddah. Saat ditemukan, leher korban terjerat kain kerudung yang dililitkan pada sebatang kayu tangga. Kejadian misterius itu betul-betul sangat mengejutkan masyarakat setempat. Setelah diproses ternyata pembantu rumah tangga, yang sudah berkeluarga, tak ditemukan tanda-tanda bekas penganiayaan, sehingga dipastikan ia tewas akibat bunuh diri. Perbuatan nekat ini, diduga karena ia selalu mengirimkan gajinya kepada suaminya rutin setiap bulan untuk biaya kedua anaknya yang masih kecil. Akan tetapi digunakan sang suami untuk kawin lagi dan berpesta pora dengan istri muda. Frustasi ini yang membuat pembantu kehilangan akal dan iman, lalu nekat membunuh diri di tangga.

 

Kejadian kedua yang saya alami sendiri, terjadi dahulu di waktu musim haji. Rombongan jama’ah haji Indonesia, setelah melakukan tahallul pertama, berangkat ke Makkah untuk melakukan solat Idul Adha, toaf ifadhah dan berlebaran.  Setiba di Makkah, salah satu dari rombongan Jama’ah haji yang dipimpin Ustadh HAA, ada yang bunuh diri di kamar mandi dengan menggunakan sarung yang dijerat di lehernya. Kejadian itu cukup menghebohkan para jama’ah haji. Hasil pengusutan polisi menunjukkan, tak ditemukan alasan yang cukup sehingga Pak Haji harus membunuh diri di kamar mandi. Yang jeles pasti ada problem besar yang membuat Pak Haji kehilangan akal dan iman lalu nekat membunuh diri di kamar mandi.

 

Bunuh diri merupakan hal yang ganjil dan para pelakunya merupakan korban kekejahatan dirinya. Di Australia, telah didirikan lembaga aneh yang diberi nama Lembaga Penyelidik Bunuh Diri. Sesuai dengan namanya, lembaga ini bertugas untuk menyelidiki secara rinci sebab-sebab terjadi bunuh diri dan bangaimana pencegahannya. Yang lebih aneh, menurut hasil research, bahwa kebanyakan bunuh diri terjadi di musim panas. Ini tidak terjadi hanya di Australia, akan tetapi hampir di seluruh belahan dunia (www.theaustraliannews.com).

 

Sudah pasti hal ini sangat bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Bunuh diri tidak terjadi di musim panas atau di negara negara yang beriklim panas, akan tetapi mayoritasnya terjadi di negara negara barat yang bersuhu dingin sepanjang tahun. Contohnya negara Lithuania meraih juara pertama, diperkirakan 46 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Setelah itu Rusia meraih martabat yang kedua yang diperkirakan 42 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Dan ketiga dan seterusnya semuanya diraih oleh negara negara Eropa dan Amerika yang maju. Akan tetapi bunuh diri masih terdapat di negara negara tersebut disebabkan karna masalah yang sangat sepele.

 

Bunuh diri merupakan perbuatan yang terkutuk dan dibenci. Perbuatan ini dikatagorikan dosa besar (minal kabair), sebagaimana firman Allah didalam al-Quran yang berbunyi:  

 

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu“. An-Nisa,29.

 

Islam mengharamkan dan melarang perbuatan yang sifatnya menjerumuskan pelakunya kedalam kerusakan dan kebinasaan seperti perbuatan membunuh diri, sebagaimana firmanNya dalam surat al-Baqarah ayat 195,

 

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karna sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik“.

 

Akan tetapi berlainan dengan aksi bunuh diri yang dilakukan rakyat Palestina demi untuk membela kehormatan, negara dan agama mereka. Hingga saat ini masih terus dilacak dasar aksi serangan bunuh diri yang dilakukan para aktivis Islam militan di Palestina. Menurut pandangan ulama, serangan bunuh diri demi untuk mengakhiri kolonialisme adalah suatu hak yang terpuji dan pelakunya mendapat gelar syahid.

 

Di akhir tahuh 1995, Syeikh al-Azhar Prof Dr Mohammad Sayed Tantawi  menyebut pejuang Palestina yang menggelar bom bunuh diri sebagai syahid. Ketika ia dikritik banyak pihak, ia pun meralat pandanganya dan mengatakan, orang meledakan dirinya di pangkalan meliter Israel adalah syahid. Adapun orang yang meledakan dirinya di tengah sipil Israil bukanlah syahid. Ungkapan ini tetap dibantah para ulama, karena semua warga Israil bersenjata.

 

Adapun serangan bunuh diri pertama kali bagi warga muslim dalam sejarah modern ini dilakukan oleh seorang murid Jamaluddin al Afghani bulan maret tahun 1896, ketika dia melancarkan serangan bunuh diri terhadap Shah Iran Nazaruddin Shah. Aksi ini demi untuk membangkitkan pemerintah dan rakyat muslim untuk memerangi negara-negara kolonialisme demi kehormatan umat dalam upaya megusir penjajahan.

 

Nah! sekarang, apa yang membuat seseorang menyerahkan hidupnya untuk membunuh orang lain? Sepintas, hal semacam ini tidak mungkin terjadi atau tidak masuk akal. Akan tetapi, apa yang terjadi di Palestina bukan sesuatu yang baru, yang terjadi di sana sudah menjadi sesuatu yang biasa. Bahkan banyak di negeri itu orang yang rela mati demi orang lain, atau demi apa yang disebut sebagai  perjuangan mengusir penjajahan.

 

Mengapa mereka rela mati dengan cara seperti itu? Bukankah hidup itu sangat berharga? Menurut mereka, memang betul hidup itu sangat berharga, tetapi pada akhirnya semua orang bakal mati. Peristiwa kematian pasti akan menimpa setiap orang. Ada orang yang mati karena kecelakaan, ada yang mati di ujung pedang, ada yang mati di atas kasur dan ada lagi yang mati karena membela hak. Singkatnya, semua orang pasti mati “bermacam macam sebab kematian, tetapi hakekatnya manusia pasti harus mati”. (al-Hadits). Allah berfirma “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. An-Nisaa’,78.

 

Menurut Islam, kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan roh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. Oleh karena itu orang yang semasa hidupnya banyak menabur dan menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah pintu yang membawanya masuk kedalam kehidupan baru yang jauh lebih baik dan lebih indah dari kehidupan di dunia.

 

Itulah yang diyakini para pembom bunuh diri di negara Palestine. Mereka berkeyakinan bahwa setelah kematian yang mereka lakukan secara mestiri itu demi membela agama dan negara dalam upaya mengusir penjajahan, akan mengantarkan mereka ke taman surga Firdaus yang mengalir di bawahnya sungai sungai, sehingga kematian yang mereka lakukan akan tidak terasa atau tidak lebih dari sekedar bentokan atau pukulan. Menurut mereka kematian semacam ini adalah mistiri yang tidak mungkin dipahami oleh manusia secara rasional. Hanya iman yang kokoh, keikhlasan yang luas dan cinta kasih terhadap agama, sesama dan negara.

 

Itulah sebabnya, ketika dikabarkan bahwa pembom bunuh diri tewas saat menjalankan tugasnya, keluarga mereka akan mendapat pujian, penghargaan, bukan ucapan belasungkawa. Bahkan kematian mereka disambut dengan sorak gembira disertai dengan zaghrathah (jeritan suara perempuan Arap disaat pesta perkawinan) dan mereka dianggap sebagai pahlawan yang akan dikenang sepanjang masa.

 

Adapun aksi bunuh diri yang dilakukan terhadap rakyat sipil yang tak berdosa di Negara yang berdaulat seperti yang telah terjadi di Legian-Bali dan Hotel Marriot-Jakarta, tidak tergolong mati syahid. Karena tindakan menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran merupakan tindakan yang keji dan dikutuk oleh seluruh lapisan masyarakat dunia dan ulama.

 

Wallahua’lam,

 

 

Posted in Kenapa Ia Rela Bunuh Diri | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 12 Comments »

Silaturahim

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

download

Perlu diketahui, ada kesalahan yang sudah lumrah dan menjadi umum terhadap kata “silaturahim”. Selama ini yang biasa dipakai adalah kata “silaturahmi”, sebenarnya kata ini terdapat kesalahan. Seharusnya adalah “silaturahim”bukan silarahmi.

 

Dalam bahasa Arab rahim artinya lembut, kasih sayang , atau karabat. Secara jelas kata ini kita bisa lihat dalam ayat al Qur’an yang berbunyi :

 

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim “- an Nisa,1.

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – رواه البخاري ومسلم

Begitu pula kita bisa lihat dalam hadits Nabi yang diriwawatkan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasulallah bersabda “Siapa yang ingin senang, diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia bersilaturahim “ ( Bukhari Muslim ).

 

Ayat dan hadist tersebut diatas tidak hanya menerangkan asal kata silaturahim, tapi juga mengandung urusan besar dan perintah penting. Begitu peningnya perintah itu, sehingga silaturahim dijajarkan dengan perintah bertakwa kepada Allah dan menjadi syarat luasnya rezeki dan panjangnya umur. Bukankah dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa orang yang suka memutuskan silaturahim diancam dengan “bisa masuk neraka”?.

 

Silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk berhubungan dengan keluarga, famili dan handai tolan saja, tapi lancarnya jalan da’wah pula memerlukah silaturahim. Silaturahim adalah ruh bagi berkembangnya da’wah. Tampak silaturahim yang baik, geraknya da’wah bisa terhenti bahkan putus sama sekali. Jauhnya tempat tinggal, lamanya masa berpisah, merantau (seperti saya sekarang ini) dan sibuknya tugas pekerjaan adalah factor-fakor penyebab putusnya silaturahim yang berarti putusnya pula da’wah. Jadi dengan silaturahim yang baik, semua factor-faktor trb bisa diatasi.

 

Ada banyak cara menyabung silaturahim. Misalnya, kemajuan teknologi merupakan nikmat utama dari Allah yang patut kita disyukuri. Kalau dulu, untuk saling menyapa dan menanyakan kabar, dibutuhkan waktu yang lama yaitu dengan surat menyurat. Tapi kini hanya tinggal pencet, hanya dalam beberapa detik saja silaturahim bisa diwujudkan. Coba lihat misalnya WA, SMS, telepon, email, milis, blog dan media lainya adalah sarana mudah untuk silalturahim yang bisa menembus batas lintas negara sekalipun. Dengan teknologi yang serba canggih, Jauh tempat tinggal, lama berpisah, merantau dan sibuknya pekerjaan sudah tidak menjadi masalah.

 

Namun, bukan semua jalinan silaturahim hanya cukup dengan sarana kemajuan teknologi saja. Bertatap muka, pertemuan-pertemuan dan berjabatan tangan tetap menjadi hal yang sangat penting. Hal ini biasanya dilakukan pada waktu munasabat (occation) seperti perayaan, peringatan, hari hari raya, dan masih banyak lagi munasabat yang bisa membuat kita bertemu muka dan bertatap wajah.

 

Maka dari itu, majlis ta’lim, pengajian-pengajian rutin, dan pula, merurut saya, situs situs kita, yang kelihatanya kecil fungsinya, menjadi hal yang patut harus digalakan. Jangan sampai kesibukan, jabatan, kedudukan dan urusan duniawi lainya menyebabkan hal trb terbengkalai.

 

Jadi, agar hubungan kita tidak terputus koncinya adalah silaturahim apalagi di bulan Rajab dan menjelang datangnya Syaban dan Ramadhan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan anugrah Ilahi.

 

 “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan” (hadist Nabi).

Wallahua’lam    

Posted in Silaturahim | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 4 Comments »

Kenapa Nabi Berpoligami?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 7, 2008

Makam Khadijah Makkah

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Ada beberapa hal yang sangat perlu diketahui kenapa Nabi saw berpoligami?:

 

Pertama, mari kita lihat bagaimana cintanya Rasulallah saw kepada istrinya yang pertama Khadijah ra. Rasulallah saw sangat mencintai istrinya Khadijah. Kisah cinta beliau dengan Khadijah ra adalah kisah cinta paling setia sepanjang sejarah umat. Tidak bisa dibandingkan dengan kisah cinta Qais dan laila atau kisah cinta Romeo dan Juliet, karena kisah ini tidak hanya berakhir dengan perkawinan kemudian menghilang tanpa bekas, atau berakhir dengan berumah tangga kemudian melanglangbuana tanpa arah. Akan tetapi kisah cinta Rasulallah saw dengan siti Khadijah adalah kisah yang tidak putus dan tidak pernah putus walaupun salah satu dari insan itu sudah meninggal dunia. Maka kisah cinta beliau dan istrinya Khadijah adalah kisah cinta yang paling sejati, cinta yang paling suci, kisah cinta yang paling sejati, cinta yang luar biasa yang terus belanjut walaupun siti Khadijah telah pulang ke rahmatullah. 

 

Kisah cinta beliau dengan istrinya Khadijah pernah berkisah, yaitu setelah merebut kota kelahiranya, Makkah, beliau ditawarkan penduduk agar tinggal di rumah rumah mereka. Akan tetapi beliau menolak dan menyarankan para sahabat agar segera mendirikan kemah di muka kuburan istrinya, Khadijah ra. Beliau berseru: “Dirikanlah bagiku kemah di muka kuburan Khadijah”. Begitulah kecintaan Rasul saw terhadap istrinya, Khahdijah ra.

 

Di lain kisah, pernah setelah penaklukan kota Makkah, banyak suku Quraisy yang datang mengelilingi Rasulallah saw, mereka datang untuk meminta maaf kepadanya. Kaum Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan datang menghampirinnya. Tiba tiba saja beliau melihat seorang nenek yang sangat tua datang terbungkuk bungkuk ingin menemui beliau. Begitu melihat nenek tadi, beliau segera meninggalkan rombongan kaum Quraisy yang ada di sekelilingnya dan langsung berdiri menyambut kedatangannya. Beliau duduk di samping nenek tua tadi dan diajaknya berbicara dan bercerita. Kelihatanya begitu akrab Rasulallah saw dengannya. Tidak sedikit waktu yang diluangkan untuk berbincang bincang denganya.

 

Melihat kejadian itu A’isyah ra bertanya kepada beliau: “Siapa gerangan nenek tua tadi wahai Rasulallah?”. Beliaupun menjawab “Ia adalah sahabat akrab Khadijah”. A’isyah kembali berkata: Apa yang engkau bicarakan denganya wahai Rasulallah? Beliau menjawab “Kami membicarakan hari hari indah bersama Khadijah”. Ketika itu timbulah raca cemburu dalam diri A’isyah, lalu ia berkata “Apakah engkau masih mengingat ngingat orang tua yang sudah menjadi tanah itu. Sedangkan Allah telah menggatinya dengan yang lebih baik?”. Rasulallah marah besar dan nampak jelas kemarahannya dari raut muka beliau, lalu berkata “Demi Allah, Dia tidak pernah menggantinya dengan seorang perempuan yang lebih baik darinya”. Kemudian Rasulallah menyebut jasa jasa baik Khadijah terhadap beliau dan Agama Islam. A’isyah merasa bersalah, lalu dia berkata “Mintailah ampunan bagiku wahai Rasulallah”. Lalu beliau menjawab “Mintalah maaf kepada Khadijah, baru aku akan memintakan ampun bagimu”.(HR Bukhari).

 

Kita lihat lagi hadits dibawah yang menerangkan tentang keistimewaan Khadijah ra, dari Aisyah ra, ia menceritakan,

 

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ – قَالَتْ – فَغِرْتُ يَوْماً فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْراً مِنْهَا. قَالَ « مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ »

Nabi saw ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.”

Nabi saw lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR. Ahmad, 6:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih.)

Jelasnya, bahwa jasa Khadijah ra yang besar pada risalah nubuwwah dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati suaminya, Rasulallah saw, sehingga beliau selalu menyebut nyebut kebaikanya walupun ia telah wafat. Makanya tak heran jika Allah telah menyampaikan salam khususNya untuk Khadijah ra melalui perantaraan Jibril as kepada Rasulallah saw disertai kabar gembira “Aku telah sediakan baginya rumah di surga yang dibuat dari emas yang tiada kesusahan baginya atau kepayahaan”

 

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,

أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ

“Pada suatu ketika Jibril pernah datang kepada Rasulullah saw sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk, atau makanan atau minuman.’ ‘Apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.’” (HR. Bukhari Muslim)

Kedua, Rasulallah saw berumah tangga bersama istri Khadijah binti Khuilid ra berlangsung selama 28 tahun dan paut usia antara mereka sangat berjauhan. Khadijah pada waktu disunting Rasulallah saw usianya 40 tahun. Sedang Nabi saw seorang jejaka usia beliau pada waktu itu 25 tahun. Selama 28 tahun beliau berumah tangga, Khadijah ra tidak pernah dimadu. Baru kemudian setelah wafatnya Khadijah ra Rasulallah saw kawin lagi. Itu pun tidak dilakukan langsung setelah meninggalnya siti khadijah akan tetapi beliau kawin lagi dua tahun setelah wafatnya istri beliau. Rasulallah saw kawin lagi dengan Aisyah ra yang pada saat itu masih kanak kanak dan masih menunggu beberapa tahun lagi agar Aisyah ra memasuki usia dewasa.

 

Kalau memang betul Rasulallah saw itu senang kawin, sebagaimana dikatakan orang orang oriaentalis, kenapa tidak dilakukan langsung setelah Khadijah meninggal dunia dan kenapa beliau tidak kawin dengan wanita yang muda belia, tapi kenyataanya beliau kawin lagi dengan seorang anak kecil yang masih menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa digauli. Begitulah seterusnya yang dijalani Rasulallah saw sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Kalau kita telaah secara seksama sebab sebab perkawinan Rasulallah saw yang kedua, ketiga dan seterusnya hanya untuk penyelesaian problem sosial dan ini bisa dilihat dari hadist hadist nabi yang membicarakan perkawinan-perkawinan Rasulallah saw. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati atau korban perang, kecuali Aisyah ra. Maka singkatnya, kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwa sebenarnya tidak beralasan untuk mengatakan banyak beristri itu adalah perbuatan Rasulallah saw.

 

Jelasnya, hanya ada satu ayat yang menerangkan tetang poligami, yaitu surat an-Nisa ayat-3

 

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yatim, maka kawinlah wanita wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat . Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja”.

 

Kalau kita telaah dengan rinci ayat itu turun untuk melindungi hak terhadap yatim piatu dan janda korban perang. kemudian dikatakan lagi kita boleh kawin lagi asal saja bisa berlaku adil karena islam mengajarkan kita untuk berlaku adil, tapi kenyataanya berlaku adil sangat sulit, dan tidak mungkin bisa dilakukan. Lihat surat an-Nisa-129

 

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan kamu sekali kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung katung”.

 

Ketiga, Rasulallah melarang berbuat sewenang-wenang terhadap wanita, melarang pelecehan terhadap wanita dan melarang menyakiti hati wanita. Hal ini kita bisa lihat dari sikap Rasulallah yang sangat tegas dan bijaksana menolak Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra untuk kawin lagi semasih putri beliau, Fatimah ra, hidup.

 

Pernah Rasulallah saw marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah ra akan dimadu Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketika mendengar rencana itu, Rasulallah saw pun langsung masuk ke masjid dan naik ke atas mimbar, lalu berseru, “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi aku tidak akan mengizinkan. Sungguh aku tidak izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, dan aku persilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku, apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” Begitulah kurang lebih bunyi hadist Rasulallah saw.

 

Terakhir, saya hanya ingin bertanya: kalau Rasulallah melarang Ali bin Abi Thalib ra untuk memadu putri beliau, Fatimah ra. Maka saya rasa hampir setiap orangtua di muka bumi tidak akan rela jika putrinya dimadu. Karena, seperti dikatakan Rasulallah saw, perbuatan itu akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

 

Wallahu’alam

Kartu Keluarga Nabi

 

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 5- Kenapa Nabi Berpoligami? | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | 20 Comments »

Kartu Keluarga Nabi (K K Nabi)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 5, 2008

 

يا غاديا  نحو  الحبيب عساك تقر السـلام  إذا  وصلت  هناك

و عساك  تجري  ذكر  مثلي  عنده  فهو الشفاء  لدائنا  و لداك

و قل السلام عليك يا خير الورى من عاشق طول المدى يهواك

 

Wahai musafir sampaikanlah salamku kepadanya setibamu di Madinah
Mudah2an menyebutku di maqamnya karena beliau obat bagi kita semua
Katakanlah “Salam atasmu wahai sebaik baiknya manusia” dari perindu
setiap masa yang tak henti henti mencintainya

 

Telah diterbitkan booklet yang berjudul “Kartu Keluarga Nabi SAW” dan dilucurkan di situs ini. Booklet ini berisi ringkasan biografi Nabi, istri istri Nabi, putra putri Nabi, cucu cucu Nabi dan diilustrasi dengan peninggalan bersejarah Nabi yang insyallah bisa membawa mangfaat dan keberkahan bagi kita dan dapat pula menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencitai Nabi saw dan keluarganya. Amin

 

” إِنَّمََا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهَّرَكُمْ تَطْهِيْرًا ” صدق الله العظيم

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” Al-Ahzab 33

 

” قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا اْلمَوَدَّةَ فِي اْلقُرْبَى ” صدق الله العظيم

“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. As-Syuara’ 23

 

Penyusun

Hasan Husen Assagaf

 

 

    Isi booklet

Klik dibawah:

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

 

Posted in 03- Kartu Keluarga Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 18 Comments »

Peninggalan Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 4, 2008

Foto peninggalan Nabi terdapat dalam booklet “Kartu Keluarga Nabi”. Untuk membaca K K Nabi silahkan klik Kartu Keluarga Nabi SAW. Semoga bermangfaat.

Salam dari “Kado Dari Kota Nabi”.

Hasan Husen Assagaf

tempat lahir nabi   Jabal Nur dipuncaknya Gua Hira\'   gua hira 

gunung stour/nabi dan abu bakar bersembunyi   gua, nabi dan abu bakar bersembunyi    pemakaman al-mua\'la 

tapak kaki Rasul   stempel / cincin nabi   pedang dan busur panah nabi   pedang nabi  

 rambut nabi    erban-burdah-dan-tongkat-rasulallah-saw    mushaf ustmani

 rambut nabi makam nabi zaman dulu makam ibu nabi / aminah gubbah Nabi

mimbar nabi      Makam Nabi      Masjid Nabi  

Sandal Nabi    Mihrab Nabi    Makam Siti Khadijah   peta Makkah

 

Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 4- Peninggalan Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 19 Comments »

Putra Putri Nabi

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 2, 2008

 

Silahkan klik:

 

1- Zainab

2- Qasim

3- Ruqayyah

4- Ummu Kalsthum

5- Fatimah

6- Abdullah

7- Ibrahim

 

 Kartu Keluarga Nabi

Ringkasan Biografi Nabi

Istri Istri Nabi

Putra Putri Nabi

♣ Cucu Cucu Nabi

♣ Peninggalan Nabi

♣ Kenapa Nabi Berpoligami

Slide (pps) Biografi Nabi

Posted in 3- Putra Putri Nabi | Dengan kaitkata: , , , , , | 5 Comments »

Bulan Sabit Di Atas Ka’bah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 25, 2008

makkah di waktu malamOleh: Hasan Husen Assagaf (25 Juni 2003)

PERJALANAN dari Riyadh ke Makkah cukup memakan waktu dan tenaga, kurang lebih 1000 kilometer atau 10 jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Selama perjalanan saya dan keluarga beristirahat dua kali, pertama di wadi Hilban dan yang kedua ditengah-tengah antara kota Thaif dan Makkah yaitu (Qarnul Manazil) Sair Kabir, atau yang lebih tenar lagi disebut Miqot orang-orang yang ingin berbuat umrah atau haji dari Riyadh atau dari negara lainnya yang melewati tempat itu sesuai dengan hadist Nabi kita: “Tempat itu merupakan miqat bagi ahlinya dan bagi yang melewati tempat itu”

Selama perjalanan, tentu yang saya dapatkan hanyalah lembah-lembah, wadi-wadi, yang dikitari oleh gunung-gunung batu, pasir dan kerikil yang sangat silau dipandang mata. Dan yang lebih aneh dari itu, lalat, nyamuk dan semut sulit ditemukan, mungkin karena suhu negeri penuh batu itu  2° hingga 59°. Tapi, Masya Allah, justru memberi kemakmuran tiada tara kepada penduduk yang hidup di dalamnya.

pemandangan riyadh-makkah

Untuk kita yang belum pernah ke negeri ini, jangan sekali kali membayangkan, bahwa gunung gunung itu ditumbuhi pepohonan yang menyejukan mata. Tapi, semua yang bernama gunung di negri ini hanyalah gundukan batu yang menyilaukan mata apalagi kalau dilihat di siang bolong atau di terik matahari.

Dulu saya pernah dengar cerita dari ulama Makkah, ada sebuah gunung berapi yang boleh jadi bisa menumbuhkan rumput dan pepohonan. Gunung itu bernama gunung Al-Harrah Al-Syarqiyyah, letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah yang meletus pada tahun 654 H (1258 M) dan asapnya bisa terlihat sampai kota Makkah.

Sekarang semua yang bernama gunung adalah batu, melulu batu. Apalagi kalau kita lewati kota Thaif melalui jalan Al-Hada atau Sair Kabir, semuanya dikelilingi gunung-gunung batu yang menjulang tinggi. Di samping gunung-gunung batu, pula kita dapatkan angin sahara yang garing dan kering yang menampar muka seperti tamparan serikaan panas di musim kemarau dan tamparan salju di waktu musim dingin.

Tapi, Allah yang Maha Adil dan Bijaksana, justru di balik batu dan tanah yang gersang itu, telah mengeluarkan air yang berlimpah-limpah. Tidak sedikit kita dapatkan mata-mata air dan bir-bir (sumur-sumur) air yang memuncrat tak henti hentinya, seperti Bir Ali, pedasan yang letaknya tidak berjauhan dengan kota Madinah, bir Wadi Fatimah di Makkah, bir tepian lembah Alaqiq dan tentu yang paling top adalah bir Zam Zam di Makkah, yang memiliki kantung-kantung air yang berlimpah-limpah yang tidak akan pernah surut sampai hari kiamat.

Ini semua, kalau kita teliti dengan seksama, berkat doa nabi Ibrahaim, datok Rasulallah saw yang pernah berdiri di kaki gunung disaat akan meninggalkan anaknya Ismail dan istrinya Hajar di lembah yang tandus tidak berumput dan berpohon sambil berdoa:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan solat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur“ Ibrahim 37

mikat-qarnul-manazil-sair-kabir

Di miqat Sair Kabir, saya dan keluarga, berhenti beberapa saat untuk berihram. Waktu sudah mulai senja. Tak lama kemudian terdengar suara adhan Magrib dari menara Masjid Miqat. Disitu kami melalukan solat Maghrib dan Isya jam’a dan Qasr. Setelah itu kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan berangkat ke Makkah Al-Mukarramah yang jaraknya dari Sair Kabir kurang lebih 75 Km atau satu jam lamanya jika ditempuh dengan mobil. Tepatnya, adhan Isya kami sudah bisa melihat tanda-tanda memasuki kota Makkah yang diawali dengan pemandangan 9 menara Masjid teragung di dunia. Baru kali itulah kami merasai keindahan ruhaniah pada sebuah kota kelahiran Nabi saw. “Labaika Allahuma Labaik”. Dia yang telah berkehendak membawa kami ke kota suci yang penuh berkah, Makkah Al-Mukarramah.

Beberapa saat kemudian Masjid yang bermandikan cahaya lampu dan dihiasi dengan 9 menara terasa semakin dekat dari pandangan kami. Bulan sabit (permulaan bulan Jumadil Akhir) nampak jelas di atas masjid. Sambil berulang-ulang menyebut nama Allah “Labaika Allahuma Labaik”, kami tak lepas memandangnya yang membuat kami hanyut ke dalam lautan keindahan dan keberkahan.

Pintu gerbang utama masjid al-Haram yang lebih popular disebut Bab As-Salam, pintu utama yang selalu dilewati Rasulallah saw, tampak anggun dan indah. Pintu itu memiliki keistimewaan dan keutamaan dari pintu pintu yang lain. Pintu itu diberi tanda yang berbeda dari pintu-pintu yang lain. Dari situlah saya dan keluarga memasuki masjid Al-Haram untuk memulai ibadah thawaf.

Thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dimulai dari memberi salam kepada Hajar Aswad dan diakhiri dengan salam pula kepadanya. Untuk mencium batu hitam Hajar Aswad  yang terletak di salah satu pojok dinding Ka’bah, tidak semudah yang kita duga, apa lagi di bulan Haji dan di hari-hari terakhir bulan puasa. Karena ribuan jamaah berdesak-desak yang sama-sama ingin memangfaatkan waktu untuk menciumnya.

Adapun kubus hitam (Ka’bah) tersusun dari batu-batu hitam yang diambil dari bukit bukit di dekat Makkah kemudian dilekatkan dengan semen putih. Kalau kiswah (kelambu) Ka’bah tidak diangkat, batu itu hanya terlihat di lubang kecil sudut Yamani. Ka’bah yang membentuk bangunan segi empat ini, panjangnya sekitar 12 meter, lebarnya kurang lebih 10 meter dan tingginya 16 meter. Sedangkan Ka’bah yang kita lihat sekarang ini merupakan hasil renovasi Sultan Murad Al Utsmani pada tahun 1630. Sebelumnya terjadi pula pemugaran oleh Nabi Ibrahim 4000 tahun lalu, pula pernah dipugar oleh Abdullah bin Zubair ra.

Setelah Thawaf, kami solat dua raka’at di muka Maqam Ibrahim dan berdoa dengan penuh kekhusyuan di muka Multazam (pintu Ka’bah). Ditempat itulah semua Muslim nampak dengan khusyu’ bersyukur kepada Allah, memohon ampun kepada Nya, serta berdoa untuk segala bentuk kebaikan di hari hari mereka yang mendatang.

Lagi-lagi kebaikan yang muncul dalam hati ketika saya dan keluarga duduk bersila untuk memanjatkan doa dengan pandangan lurus ke arah Ka’bah. Sambil minum air Zam Zam yang berselerakan di mana-mana baik di dalam atau di luar Masjid, semua pikiran terkonsentrasi ke arah doa dan ibadah, lupa dengan hirup pikuk kota Jakarta.

Selesai thawaf, saya dan keluarga melaksanakan sa’i, yaitu berlari kecil dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Lokasi sa’i saat ini sudah berupa lorong yang panjangnya sekitar 375 meter. Sa’i dalam bahasa Arab artinya usaha atau jerih payah, dan yang dimaksud disini adalah usaha Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, untuk mencari air demi menyelamatkan anaknya Ismail yang baru saja lahir di pinggiran Ka’bah. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang yang bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti dilakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah. Kisah ini merupakan kudwah atau teladan bagi kita untuk melakukan apa yang telah dilakukan Siti Hajar sesuai dengan perintah Allah “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya“ – al-Bakarah, 158.

Sa\'i antara Shofa dan MarwaSelesai sa’i di bukit Marwah, kamii mengarah ke Ka’bah untuk berdoa tanda berakhirnya ibadah Umrah. Setelah itu kami bertahalul yaitu menggunting rambut atau mencukurnya. Maka selesailah ibadah Umrah, Ucapan syukur tak henti hentinya kami lakukan yang mana Allah telah berkehendak membawa saya dan keluarga ke kota yang penuh berkah, Makkah Al-Mukaramah.

Bersama-sama dengan lautan manusia kami keluar dari Masjid Agung itu seusai melakukan ibadah umrah dan tentulah pulang ke tempat pemondokan yang letaknya tidak berjauhan dari Haram atau sekitar empat kilometer dari Masjid. Selama tiga hari saya dan keluarga tinggal di kota Makkah, dua kali ibadah umrah saya lakukan dan berkali-kali thawaf dan i’tikaf di Masjid hingga larut malam yang membuat saya tenggelam kedalam lautan keindahan dan keberkahan kota Makkah. Alhamdulillah.

Pada malam terakhri sebelum pulang, saya dan keluarga sempat duduk i’tikaf berjam jam sambil mengarahkan pandangan kami ke arah Ka’bah dan setelah itu kami melakukan thawaf wada’ dan mengucapkan selamat tinggal kepada kota kelahiran Nabi yang tercinta. Disana saya sempat memandang Ka’bah berulang ulang kali. Masjid dan 9 menara berdiri tegak dihiasi dengan sinar lampu yang cemerlang. Sementara ribuan bintang berkedip-kedip bagaikan berlian dan nampak jelas bulan sabit di atas Ka’bah mulai membesar yang ikut serta membuat suasana menjadi indah.

Wallahu’alam
Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Bulan Sabit Di Atas Ka'bah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 40 Comments »

Tawasul

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 21, 2008

 

 

   pintu masuk masjid        

kamar nabi  

Tawasul 

Oleh: Hasan Husen Assagaf

SEBAGAI seorang muslim, saya terpanggil untuk mengantarkan janazah tetangga yang meninggal dunia. Setelah disolatkan di masjid Umu Ibrahim – Riyadh, janazah dikubur di pemakaman al- U’ud selepas solat Asar.

Di Riyadh kalau mengubur mayat ada sedikit berbeda dengan di negara kita. Bedanya, di sini tanahnya pera dan berpasir, jadi lobang yang digali tidak terlalu dalam, mungkin dalamnya kurang lebih satu setengah meter. Tapi walaupun cetek, mayat cepat kering dan tidak terhendus baunya. Saya rasa hanya dua minggu mayat bisa habis dimakan tanah. Ini mungkin karna pengaruh udara kering ditambah suhunya yang bisa mencapai antara 4°C di musim dingin dan 50°C di musim panas.

Berbeda dengan di negara kita, udaranya lembab dan tanahnya basah. Jadi lobang kuburan harus digali lebih dalam, karena mayat susah keringnya. Katanya setelah 40 hari mayat baru bisa kering dan habis dimakan tanah. Inilah akhir dari perjalanan anak cucu Adam as, dan kita pasti mau atau tidak mau akan melaluinya.

Para salaf sholeh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana mayat setelah dikubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam besar Bukhari bahwa mayat setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan. Di lain hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Utsman bin Affan ra bahwa Rasulallah saw setelah selesai mengubur mayat, beliau berdiri dan bersabda:

إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ : اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“Mintalah ampun bagi saudaramu ini, dan mintalah semoga diberikan ketetapan, karena ia sekarang akan ditanya”.

Dari hadist di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mayat itu hidup tidak mati. Hanya saja ia berpindah dari alam dunia ke alam yang baru dinamakan alam Barzakh. Di sana, ia hidup, ia ditanya, ia mendengar, ia melihat, ia membalas salam orang yang memberi salam kepadanya sama seperti orang hidup.

Kalau itu dilakukan untuk sesama manusia biasa, sekarang bagaimana halnya bagi manusia termulia di Dunia yang jutaan penziarah datang ke Madinah untuk memberi salam kepada beliau dan para sahabatnya.

Manusia termulia putra Abdullah dan Aminah bernama Muhammad saw itu benar-benar telah menjadi magnet bagi milyaran manusia. Kerna itu, Madinah tak pernah tidur menyambut para penziarah yang datang dari seluruh pelosok dunia hanya untuk memberi salam kepada baginda Nabi saw dan solat di masjidnya.

Tentu yang sudah pernah berziarah ke makam Rasulallah saw dan para sahabatnya tidak bisa membayangkan bagaimana menyimpan kenangan indah dari cahaya beliau dan pasti di luar dari kesadaran kita air mata mengucur keluar membasahi pipi kita. Kehebatan kota Madinah bukan saja karena kemegahan masjidnya akan tetapi juga karena bersemayam di dalamnya jasad beliau yang mulia. Di sanalah baru kita merasai keindahan ruhaniah kota Madinah yang membawa negeri itu, berkat Rasulallah saw, menjadi negeri yang penuh barokah.

Bagi yang pernah berziarah ke makam Rasulallah saw, pasti bisa melihat di muka tembok jendela rumah Rasullah saw (tempat dimana jasad beliau yang mulia disemayamkan), tertulis dua bait syair yg dibuat oleh seorang A’rabi (Arab Badui) sejak ratusan tahun yang lalu. Sampai sekarang tulisan itu masih bisa terbaca dan masih akan terus dibaca inysallah oleh umat Muhammad saw yang datang berziarah ke makamnya.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Hafidh al-Syeikh I’mad al-Din Ibnu Katsir dari al-U’tbi, ia berkata : Ketika aku sedang duduk di hadapan makam Rasullah saw, tiba tiba seorang A’rabi datang berziarah kepada beliau dan berkata : “Salam sejahtera atasmu wahai Rasulallah. Sesungguhnya aku mendengar Allah berberfirman  “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Al-Nisa’, 64.  “Wahai Rasulallah”, kata A’rabi dengan penuh kekhusyu’an, “aku datang kepadamu untuk memohonkan ampun bagiku dan memberikan kepadaku syafaatmu“. Kemudian A’rabi itu membaca dua bait syair:

ياخير من دفنت بالقاع أعظمه
فطاب من طيبهن القاع وا لأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه
فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Wahai jasad termulia di lahad kau bersemayam
Lahad dan tanah ber-semerbak dari semerbakmu
Ku korbankan diriku demi makam kau berdiam
Yang penuh kebijakan, keindahan dan kemurahanmu

Setelah membaca dua bait syair A’rabi itu keluar. Kemudian aku  (al-U’tbi) tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rasulallah saw. Beliau pun berkata kepadaku:  “Kejarlah A’rabi itu dan sampaikanlah kepadanya kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya “

Dr. Muhammad bin Alwi Al-Maliki  telah mengupas riwayat ini dalam kitabnya “Mafahim Yajibu An Tushahah“ bahwa banyak para masyayikh (ulama) meriwayatkan kisah ini, diantaranya:  Al-Imam al Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Abul Faraj bin Qudamah dalam kitabnya al Syarhul Kabir, Al Imam al Qurtubi (umdah atau pakar ilmu tafsir) dalam kitabnya tafsir Al Jami’,  dan masih banyak lagi para ulama besar dan pakar ilmu tafsir  yang meriwayatkan kisah ini.

Sekarang, apakah kisah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu dhaif jika dilihat dari sanadnya?…
Apakah yang diriwayatkan oleh para ulama besar itu merupakan suatu kekufuran atau kesesatan?…
Apakah yang dibawakan para ulama dan pakar ilmu tafsir itu mengajak kita kepada penyembahan berhala atau kuburan?…
Jika hal itu demikian menurut penapsiran ulama mereka, maka ulama mana lagi yang bisa dipercaya.

Wallahua’lam,

 

 

Posted in Tawasul | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 14 Comments »

Ka’bah

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 7, 2008

 Ka\'bah

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadat manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang di-berkahi” al- Imran, ayat 96.

 

Ka’bah adalah bangunan suci Muslimin yang terletak di kota Mekkah di dalam Masjidil Haram. ia merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah sholat bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.

 

Ka’bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter (Lihat foto berangka Ka’bah). Ka’bah disebut juga dengan nama Baitallah atau Baitul Atiq (rumah tua) yang dibangun dan dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah. Kalau kita membaca Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37 yang berbunyi:

 

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواالصَّلَاةَ  فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”,

 

kalau kita membaca ayat di atas, kita bisa mengetahui bawah Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim as menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka’bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim menginjakan kakinya di Makkah.

 

foto kabah dari dalam  kelambu kabah  

 

Pada masa Nabi saw berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat bajir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali Hajar Aswad namun berkat hikmah Rasulallah perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

 

banjir di kabah th 1941   banjir di kabah th 1941  Pada zaman Jahiliyyah sebelum diangkatnya Rasulallah saw menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, ka’bah penuh dikelilingi dengan patung patung yang merupakan Tuhan bangsa Arab padahal Nabi Ibrahim as yang merupakan nenek moyang bangsa Arab mengajarkan tidak boleh mempersekutukan Allah, tidak boleh menyembah Tuhan selain Allah yang Tunggal, tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan diperanakkan. Setelah pembebasan kota Makkah, Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah.

 

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah (lihat foto kunci ka’bah) dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah. 

 

konci kabah  Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as pondasi bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Rasulallah saw berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail (lihat foto) yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.

 

 

Pintu Kabah   pintu kabah  rukun yamani   batu fondasi masjid haram

 

Karena agama islam masih baru dan baru saja dikenal, maka Nabi saw mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim”. Jadi kalau begitu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah. Makanya dalam bertoaf kita diharuskan mengelilingi Ka’bah dan Hijir Ismail. Hijir Ismail adalah tempat dimana Nabi Ismail as lahir dan diletakan di pangkuan ibunya Hajar.

 

Ketika masa Abdurahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan Ka’bah dibuat sebagaimana perkataan Nabi saw atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan pelontar (Manjaniq) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Rasulallah saw pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim as. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.

 

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi saw. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan masalah khilafiyah oleh penguasa sesudah beliau dan bisa mengakibatkan bongkar pasang Ka’bah. Maka sampai sekarang ini bangunan Ka’bah tetap sesuai dengan renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang

 

Hajar Aswad

 

Hajar Aswad merupakan batu yang dalam agama Islam dipercaya berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim as. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semangkin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Ka’bah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi saw. Karena beliau selalu menciumnya setiap saat bertoaf. Dan sunah ini diikuti para sahabat beliau dan Muslimin.

 

  hajar aswad    images (5)Pada awal tahun gajah, Abrahan Alasyram penguasa Yaman yang berasal dari Habsyah atau Ethiopia, membangun gereja besar di Sana’a dan bertujuan untuk menghancurkan Ka’bah, memindahkan Hajar Asswad ke Sana’a agar mengikat bangsa Arab untuk melakukan Haji ke Sana’a. Abrahah kemudian mengeluarkan perintah ekspedisi penyerangan terhadap Mekkah, dipimpin olehnya dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Beberapa suku Arab menghadang pasukan Abrahah, tetapi pasukan gajah tidak dapat dikalahkan.

Begitu mereka berada di dekat Mekkah, Abrahah mengirim utusan yang mengatakan kepada penduduk kota Mekkah bahwa mereka tidak akan bertempur dengan mereka jika mereka tidak menghalangi penghancuran Ka’bah. Abdul Muthalib, kepala suku Quraisyi, mengatakan bahwa ia akan mempertahankan hak-hak miliknya, tetapi Allah akan mempertahankan rumah-Nya, Ka’bah, dan ia mundur ke luar kota dengan penduduk Mekkah lainnya. Hari berikutnya, ketika Abrahah bersiap untuk masuk ke dalam kota, terlihat burung-burung yang membawa batu-batu kecil dan melemparkannya ke pasukan Ethiopia; setiap orang yang terkena langsung terbunuh, mereka lari dengan panik dan Abrahah terbunuh dengan mengenaskan. Kejadian ini diabadikan Allah dalam surah Al-Fil

 

makam Ibrahim      makam ibrahim & hajar aswadMakam Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana banyak orang berpendapat. Makam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di saat beliau membangun Ka’bah bersama sama puteranya Nabi Ismail. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara, dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubbah kecil. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim yang panjangnya 27 cm, lebarnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.

 

Multazam

multazam

Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah berjarak kurang lebih 2 meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah atau dikabulkan. Maka disunahkan berdoa sambil menempelkan tangan, dada dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi saw yang diriwayatkan sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Terakhir, saya sangat berharap semoga artikel “Ka’bah” ini bisa membawa mangfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah.

Walallahua’lam , Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Ka'bah | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 27 Comments »

Aurat

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 1, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

AURAT adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dan haram melihatnya. Dalam hukum fiqih aurat laki laki antara pusar dan lutut, sedang aurat perempuan, karena sangat sensitive, seluruh tubuhnya kecuali muka dan tapak tangan. Menutup aurat adalah cabang dari iman. Yang tidak menutupnya berarti tidak ada iman, yang tidak punya iman berarti tidak punya malu. Jelasnya, malu termasuk cabang dari iman. Iman amat berkaitan dengan malu. “Bila malu hilang hilanglah iman, jika iman hilang malupun ikut terbang”. Itu yang kita dapatkan dari hadith Rasulallah saw.

 

Saat Nabi Adam as dan istrinya Hawa turun ke bumi, keduanya dalam kondisi tak sehelai benangpun di tubuh mereka. Menyadari hal itu Adam as dan Hawa segra mencari dedaunan dan kulit pohon untuk dijadikan pakaian yang menutupi aurat mereka. Padahal pada saat itu tidak ada seorang pun yang melihat, kecuali mereka berdua, suami istri. Tapi mereka berusaha menutupi aruat mereka masing masing karena rasa malu mereka yang sangat tinggi.

 

Ada cerita tentang Balqis, ratu negri Saba-Yaman ketika berkunjung ke istana nabi Sulaiman. Ia tercengang melihat kemewahan dan keindahan istana. Saking kagumnya Ratu Balqis menarik abayanya (rok panjangnya) karena ia mengira lantai istana digenangi air. Padahal itu semua karena kecanggihan istana Sulaiman as. Roknya sempat terangkat dan betisnya pun sempat terlihat. Walaupun kejadian itu hanya sekejap tapi cukup membuat ratu Balqis malu besar, mukanya merah padam dan segra menutup betisnya.

 

Diriwayatan pernah siti Aisyah ra bertanya kepada Rasulallah saw, “Wahai Rasulallah, betulkan nanti di hari kiamat para perempuan dikumpulkan bersama lelaki kesemuanya dalam keadaan tanpa busana?” Rasulallah pun menjawab, “Betul”. Mendengar yang demikian Aisyah ra menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Alangkah malunya, alangkah malunya, ya Rasulallah”

 

Namun beliau kemudian menjelaskan, “Wahai Aisyah, di akhirat nanti manusia sibuk dengan dirinya masing-masing sehingga tidak ada waktu dan kesempatan untuk memperhatikan aurat orang lain.”

 

Hadisth diatas dimuat sebagai gambaran seorang wanita yang kuat imannya dan memiliki rasa malu yang dalam.

 

Cerita tentang aurat tentu kita bertanya kenapa Rasulallah saw lahir dalam keadaan sudah berkhitan? Kalau kita sering membaca kitab maulid tentu kita akan mendapatkan jawabannya. Rasulallah lahir dalam keadaan berkhitan agar tidak ada yang melihat auratnya dari pandangan orang lain. Dan itu merupakan sebagian dari kemuliaan Allah yang diberikan kepada beliau. Jelasnya beliau terpelihara dan terjaga dari keburukan, kejelekan, dosa dan kemaksiatan.

 

Satu kali, ketika Rasulallah saw masih kecil ikut memperbaiki Ka’bah bersama sama orang Quraisy Makkah. Beliau pun ikut gotong royong membatu mengangkat sebuah batu yang cukup besar dan berat sehingga qamis beliau tersingkap. Tiba tiba batu itu jatuh dan mengenai kakinya sampai beliau pingsan. Dengan jatuhnya batu maka qamis beliau kembali menutup aurat beliau yang tersingkat.

 

Dulu derajat malu khususnya dikalangan wanita sangat tinggi. Sangat jarang kita dapatkan wanita keluar rumah. Kalau keluar, auratnya selalu ditutup rapat-rapat dan selalu disertai mahram untuk menjaganya. Orang tua atau suami sangat cemburu bila aurat anaknya atau istrinya dilihat orang lain.

 

Dulu orang selalu menjaga kadar iman dan menempatkan kaum wanita pada posisinya sesuai dengan syariat yang diajarkan agama. Makanya mereka selalu menjaga keturunan mereka dan memelihara auratnya serapi mungkin sejak kecil. Mereka berikan pakaian yang sesuai dengan standar syariat, tidak diobral semaunya, apalagi dipamerkan di halayak ramai. Karena aurat wanita secara otomatis berbeda dengan pria amat berharga dan sensitive bisa mengundang orang berbuat dosa.

 

Berbeda dengan zaman sekarang aurat, maksiat, kerusakan sudah menjadi lumrah dan sulit dibendung. Benar apa yang dikatakan Ahmad Syauqi, “kukuhnya satu bangsa terletak pada moralnya. Apabila moralnya rusak, maka bangsa tersebut ikut bejat”. Adapun salah satu penyebab kehancuran moral dan akhlak karena pengaruh pornografi. jadi sangat wajar sekali jika dilakukan pelarangan terhadap majalah-majalah di Indonesia yang masih menyajikan hal-hal yang berbau porno. Sekarang ini hal yang berbau porno bukan ada di majalah2 saja tapi sudah masuk ke alam teknologi yang canggih yang sudah dimiliki oleh setiap orang.. yaitu HP. 

 

Sudah barang tentu ada beberapa cara yang digunakan untuk menyelamatkan moral dan akhlak bangsa sesuai dengan yang dianjurkan Rasulallah saw. Pertama mereka yang mampu berda’wah dengan kekuatan. Yaitu orang yang bisa merubah dengan tangannya jika melihat kemungkaran dan kemaksiatan. Kedua mereka yang mampu berdakwah dengan lisannya. Sedang yang paling lemah ialah yang hanya mampu menjahui dan membenci di dalam hati tanpa berbuat apa-apa.

 

Memang ada hadits yang mengatakan “katakanlah yang hak (benar) walaupun yang benar itu pahit”. Hadist ini jelas menyuruh meluruskan, memperbaiki atau tegasnya merobah apa-apa yang dilihat salah, tapi bukan dengan kekerasan, bukan dengan emosi, bukan dengan caci maki. Hati seorang muslim itu bukan batu, ia tidak sekeras batu. Batu saja masih lunak jika terus menerus ditetesi air.

 

Jadi, cara menyampaikan yang haq (benar) pun harus bijaksana dan dengan menggunakan bahasa yang sopan, lembut dan menyentuh. Satu kali Khalifah Makmun putra Harun Al-Rasyid dikritik, dikecam dengan pedas dan disertai caci-maki oleh sekelompok orang. Beliau sangat marah dan menyuruh orang yang mengeritiknya membuka Al-Quran surat Thaha ayat 43-44, dimana Allah menyuruh kepada nabi Musa dan Harun as untuk mendatangi Firaun dan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut (qaulan layyinan). Makmun putra Harun Al-Rasyid menegaskan bahwa dirinya adalah seorang muslim masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Firaun yang musyrik, bahkan mengaku Tuhan.

 

Wallahualam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

Posted in Aurat | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 1 Comment »

Kado Dari Imam Ali

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Mei 30, 2008

download Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kalau bawa cerita Imam Ali bin Abi Thalib ra orang menyangka ana syi’i (syi’ah).. Ana bukan Syi’i.. Ana bukan Mu’tazilah.. Ana sunni.. Ana Syafi’i.. Ana Asy’ari.. Ana pencinta sahabat Nabi saw tanpa terkecuali.. termasuk imam Ali ra.

Mari kita buka lagi bingkisan kado yang datang dari sahabat dan misanan Nabi saw, Imam Ali bin Abi Thalib ra. Sebelum kita buka bingkisanya, saya teringat dengan sebuah hadist Rasulallah saw yang berbunyi:

 

من حديث أبي هريرة  من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة. ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة. ومن ستر مسلماً ستره الله في الدنيا والآخرة،  والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه

“Barangsiapa melepaskan seorang mu’min dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesulitan dari dirinya di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seorang mu’min yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

 

Sekarang kita buka bersama sama bingkisan kado Imam Ali bin Abi Thalib ra yang penuh dengan mutiara hikmah yang bisa dijadikan sebagai teladan bagi kehidupan kita sehari hari. Silahkan menyimak:

 

Di pagi yang cerah, seroang pengemis datang ke rumah Imam Ali bin Abi Thalib ra meminta makanan. Imam Ali menyuruh anaknya Hasan mengambil uang dari ibunya Fatimah satu dinar yang masih tersisa 6 dinar dari uangnya. Sayyidina Hasan masuk kedalam, kemudian ia keluar tanpa membawa apa apa. Ia menjelaskan bahwa ibunya akan digunakan uang tsb untuk membeli tepung gandum.

 

Dengan sedikit jengkel beliau  ia menyuruh lagi anaknya Hasan untuk mengambil uang satu dinar dari ibunya, Fatimah. Adapun kali ini Hasan keluar dengan membawa uang satu dinar. Imam Ali mengambil uang itu lalu diserahkan kepada pengemis tadi.

 

Belum sempat Imam Ali ra masuk ke dalam rumahnya, tiba tiba seseorang datang dengan menuntun seekor unta. Ia menawarkan beliau untanya seharga 140 dirham. Tanpa tawar menawar, Imam Ali ra setuju membelinya. Beliau menjajikannya akan membayar harga untanya di sore hari. Orang itu pun setuju. Lalu beliau mengikat unta tadi di depan rumahnya.

 

Di siang harinya ada seseorang melewati rumah beliau. ia melihat seekor unta diikat di depan rumah. Ia bertanya kepada beliau “Apakah unta ini mau dijual?”. Beliau menjawab “Ya, betul unta itu akan kujual dengan harga 200 dirham. Apakah kau berminat membelinya?”. Orang itu melihat lagi unta tersebut untuk kesekian kalinya. Akhirnya, Ia tertarik untuk membelinya dan membayar kontan harga unta sebesar 200 dirham kepada Imam Ali ra.

 

Di sore harinya orang yang menjual unta datang untuk menagih uang penjualanya. Imam Ali ra langsung memberikan kepadanya 140 dirham sesuai dengan perjanjian. Untung Imam Ali dari penjualan unta 60 dirham diberikan kepada istrinya, Fatimah ra. Dengan keheranan siti Fatimah menerima uang itu seraya berkata “Dari mana kau dapatkan uang sebanyak ini?”. Imam Ali pun tersenyum, lalu berkata “Ini adalah apa yang telah dijanjikan Allah melalui lisan nabi kita Muhammad saw: 

 

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa membawa amal baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat” Al an’am 160 

 

Kisah di atas patut dijadikan bahan renungan. Agar kita memiliki sikap hidup yang selalu memberi perhatian kepada yang miskin, yang lemah dan yang di bawah. Biarpun kita kaya dan memiliki harta berlimpah-limpah, semua itu tak berarti sedikit pun jika tidak memiliki sifat perhatian untuk mengangkat yang di bawah dan menolong yang miskin. Nah, kalau begitu, jadilah kita seseorang yang memiliki jiwa seperti Imam Ali ra dan seperti yang diajarkan Nabi agar tetap memiliki rasa kesederhanaan dan tidak menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin.

 

Alkisah, ada seorang kaya dari Bani Israil yang sedang duduk makan siang bersama-sama istrinya. Di atas meja tersedia segala macam hidangan diantaranya ada ayam panggang. Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu. Istrinya pun berkata kepada suaminya ”Pak! Ada pengemis di depan rumah, kasiahan pak. Apakah kita bersedekah kepadanya dengan sepotong ayam panggang? Sang suami tiba-tiba membentaknya “Jangan! usirlah pengemis itu dari depan rumah”.

 

Dunia pun berputar, hari berganti hari, bulan berubah menajdi tahun. Si kaya yang digenangi dengan segala macam kenikmatan berobah menjadi miskin. Istri kesayanganya ditalaknya. Setelah ditalak sang istri kawin lagi dengan seorang laki laki kaya. Kemudian terulang lagi peristiwa sang istri makan siang bersama-sama suaminya yang baru. Tentu di atas meja terhidang segala macam makanan, dan tidak ketinggalan pula terdapat seporsi ayam panggang.

 

Tiba tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu meminta makanan. Sang suami berkata kepada istrinya dengan penuh rahmah: “Ambilah sepiring nasi dan sepotong ayam panggang sebagai lauknya, berikanlah kepada pengemis itu”. Setelah nasi dan ayam panggang diberikan kepada si pengemis, sang istri pun menangis. Suaminya sangat heran dan bertanya: “kenapa dik kamu menangis? Apakah kamu marah karena aku memberi pengemis itu nasi dan ayam panggang?”. Istrinya menjawab: “tidak pak, tidak sama sekali,  akan tetapi aku menangis karena ada sesuatu yang sangat ganjil dan ajaib”. Sang suami jadi penasaran ingin tahu apa yang ganjil dan ajaib itu. Ia pun bertanya: “Bu, apa gerangan yang ganjil dan ajaib itu? ”. Istrinya menjawab: “Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah suamiku yang pertama”. Mendengar ulasan sang istri, sang suami segra berkata kepada istrinya “Apakan kamu tahu siapa aku sebenarnya? Sesungguhnya aku adalah pengemis pertama yang datang dulu ke rumahmu”.

 

Subhanallah, Itulah dunia. Kalau kita tidur, Allah tidak tidur. Kalau kita lupa Allah tidak akan lupa. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau kita sedang  berada di atas jangalah angkuh, bangga dan lupa kepada yang di bawah, sebaliknya kalau kita berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit itu ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintu gerbangya: 

 

“Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17Maka,

 

Cintailah yang di bumi agar Yang di langit mencitaimu.

 

Wallahua’lam, Hasan Husen Assagaf

 

 

Posted in Kado Dari Imam Ali | Dengan kaitkata: , , , , | 6 Comments »

Khusyu’

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Februari 18, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

SEORANG shufi ahli ibadah bernama Isham bin Yusuf dikenal khusyu’ dalam shalatnya. Tetapi, dia masih ragu dengan kekhusu’an ibadah yang telah dilakukannya. Ia selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih khusu’ ibadahnya, agar ia bisa memperbaiki supaya sholatnya lebih khusu’ lagi.

Suatu ketika, Isham pergi menghadiri majelis Hatim Al-Isham dan ia bertanya, “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan khusu’ dalam shalat?” Hatim menjawab, “Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu lahir dan batin” Isham bertanya lagi, “Bagaimana yang tuan maksud dengan wudhu lahir dan batin itu?”

“Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sedangkan wudhu batin membasuh anggota dengan tujuh perkara, yaitu dengan bertobat, menyesali dosa yang dilakukan, tidak tergoda oleh dunia, tidak mengharap pujian orang (riya’), meninggalkan sifat sombong dan berbangga diri, membuang sifat khianat dan menipu, serta menjauhkan diri dari sifat dengki..”

Selanjutnya Hatim berkata, “kemudian aku pergi ke masjid, aku fokuskan semua anggotaku kepada Allah dan menghadap ke kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula seolah-olah aku sedang berdiri di atas Shirathal Mustaqim dan aku menganggap shalatku kali ini adalah shalat yang terakhir, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan doa dalam shalat aku fahami maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhuk, aku ber-tasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. begitulah shalatku selama 30 tahun.”

Mendengar uraian Hatim, Isham pun menangis tersedu sedu karena ia merasa shalatnya belum sempurna.Sekarang ya ikhwani, apabila Isham bisa menangis hanya karena mengingat shalatnya yang belum khusyu’, apakah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Isam? Kita, boro-boro menangisi shalat yang belum khusyu’, meninggalkan shalat lima waktu saja mungkin merasa bukan suatu dosa besar.

Kakek saya Habib Zen Alaydrus pernah bercerita dimasa mudanya ia berjalan kaki dari Krukut ke Petamburan hanya sekedar mengikuti sholat subuh berjama’ah bersama-sama gurunya Habib Ustman bin Yahya. Saya bertanya, “Kenapa sholat begitu jauh beb sampai ke Petamburan, tidak di Krukut saja?” Ia menjawab, “Karena saya ingin mencari kekhusu’an shalat bersama guru saya.”

Itulah bedanya antara kita sebagai generasi muda dengan mereka yang sudah berlalu. Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba yang taat mendirikan shalat dan selalu khusu’ dalam shalatnya. Bukan sekadar ritual takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, sementara hati kita melanglangbuana entah ke mana.

Wallahu’alam

 

 

Posted in Khusyu' | Dengan kaitkata: , , | 2 Comments »