Hasan Husen Assagaf

Posts Tagged ‘lingkungan’

♣ Benih (Nuthfah)

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juni 6, 2014

BENIH (NUTFAH)

Oleh: Hasan Husen Assagaf

تخيروا لنطفكم فإن العرق دساس

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah (benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”, (HR Ibnu Majah).

Saya pernah membaca makalah Fahd Al-Ahmadi, penulis Saudi, yang dimuat di surat kabar “al-Riyadh”. Makalahnya cukup bagus dan menarik. Ia mengisahkan bahwa hampir semua bayi orang Kristen yang baru lahir selalu dibaptis atau dimandikan di gereja dengan air suci. Katanya, baru baru ini ada gereja Katolik membaptis anak yang baru lahir dengan air es. Maksudnya agar dijauhkan dari ganguan Syetan dan bisa mendatangkan Ruh Kudus. Kasihannya, begitu bayi yang masih merah itu dicelup di air es ia langsung sakitan dan lama kelamaan meninggal dunia. Sudah barang tentu, cuma bayi bayi yang sehat dan kuat yang bisa bertahan hidup.

Terlepas dari kepercayaan tadi, katanya, inti tujuannya adalah untuk memilih di kemudian hari keturunan yang kuat dan sehat. karena tidak ada yang bisa berlangsung hidup kecuali bagi yang kuat dan sehat. Perinsip semacam ini telah digarap dari zaman Firaun dan Yunani. Dan sampai saat ini, masih berlaku dan diyakini orang banyak bahwa kehidupan tidak dimiliki kecuali bagi yang kuat dan sehat.

Plato (347-427 SM) telah menulis dalam kitabnya “Jumhuriah” (Republic) bahwa memilih keturunan sangat penting dalam alam kehidupan di dunia, baik bagi tumbuh tumbuhan, binatang atau manusia. Pada pasal 459 ia menjelaskan bahwa suatu keharusan untuk memilih suami atau istri dari keturunan orang baik agar mendapatkan kelak keturunan yang baik pula.

Di Swedia telah berlaku hukum tidak tertulis melarang mengawini orang orang berfisik lemah atau tunanetra/cacat, walaupun mereka telah diasuh oleh pemerintah di panti asuhan akan tetapi dilarang untuk dikawini dan berketurunan. Tujuanya agar tidak didapatkan di kemuadian hari keturunan dan bangsa yang lemah dan berpenyakitan. Bahkan sampai-sampai mereka melarang mengawini orang orang yang berketurunan rendah atau bukan dari penduduk asli seperti Negro, Cocas dan orang orang Asia.

Lee Kwan Yew di Singapura telah mengeluarkan pelaturan bagi mahasiswa2 yang memiliki otak genius untuk tidak dikawini kecuali dengan mahasiswi2 yang memilili otak dan kecerdikan yang sama. Hal ini demi untuk mendapatkan kelak keturunan yang berlevel tinggi dalam kecerdikannya.

Begitupula di Venezuela, satu satunya negara yang mempunyai Departemen Kecerdikan. Departemen ini bertujuan untuk mengumpulkan mahasisa2 yang cerdik dan genius agar dikawini dengan mahasiwi2 yang selevel dengannya. Maksudnya untuk memperbanyak atau mengembangbiaknan keturunan cerdik dan genius di kemudian hari.

Menurut saya, hal ini memang kelihatanya agak aneh untuk diterapkan pada zaman sekarang yang serba komplek, karena setiap orang mempunyai hak untuk berketurunan, baik dia itu orang lemah, bodoh, tunanetra, hamba sahaya atau orang yang berketurunan rendah. Dari sejarah penghidupan manusia yang kita ketahui, semakin banyak ditemukan penemuan penemuan baru semakin banyak manusia melanggar peraturan yang telah ditepakan agama dan syariat seperti pembunuhan keturunan sebelum terjadi perkawinan, aborsi, pembantaian orang orang cacat dan penguburan bayi perempuan seperti terjadi di zaman Jahiliah.

Dulu sebelum datangnya Islam, telah menjadi adat orang orang Arab jahiliyah yang memiliki keturunan rendah atau hamba sahaya mempersilahkan istri istrinya untuk ditiduri/digauli oleh orang orang yang berjiwa pahlawan, pemberani atau Sheikh Kabilah (kepala suku). Tujuannya adalah”Istibdhaa“ ( استبضاع  ) atau agar bisa mendapatkan benih orang hebat dan keturunan orang besar. Setelah itu Islam mengharamkan dan melarang sistim dan adat buruk yang sudah menjadi kebiasan masyarakat Arab jahiliyah.

Kalau kita teliti, sesungguhnya kita ini dibentuk oleh Allah dalam cara yang sangat mengerikan dan menakjubkan. Ilmu pengetahunan genetika mengajarkan pada kita bahwa setelah ibu dan ayah kita bercampur maka terjadi peluang akan lahirnya seorang bayi yang dibentuk sebagian besar hasil dari 24 kromosom bapak dan 24 kremosom ibu. Ke 48 kromosom ini nengandung segala sesuatu yang menentukan bawaan sang bayi. Ini merupakan warisan dari bawaan ayah dan ibu. Begitu pula ayah dan ibu merupakan warisan dari bawaan kakek dan nenek dan seterusnya. Apakah itu perkiraan belaka? Tidak. Ini fakta ilmiah. Kalau anda ingin membaca lebih banyak mengenai hal ini, bacalah ”Anda dan Warisan Bawaan Kelahiran Anda” karangan Amram Sheienfeld.

Hal semacam ini telah diungkapkan oleh Rasulallah saw 14 abad yang lalu dalam hadistnya yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ الي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجل من بني فَزَارِةّ فَقَالَ وَلَدَتْ امْرَأَتِي غُلَامًا أَسْوَدَ وَهُوَ حِينَئِذٍ يُعَرِّضُ بِأَنْ يَنْفِيَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَل أَلَكَ إِبِلٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ مَا أَلْوَانُهَا قَالَ حُمْرٌ قَالَ أَفِيهَا أَوْرَقُ قَالَ نَعَمْ فِيهَا لَوُرْقٌ قَالَ مِمَّ ذَاكَ تَرَى قَالَ مَا أَدْرِي لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ نَزَعَهَا عِرْقٌ قَالَ وَهَذَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ نَزَعَهُ عِرْقٌ وَلَمْ يُرَخِّصْ لَهُ فِي الِانْتِفَاءِ مِنْهُ – رواه البخاري ومسلم وأصحاب السنن الاربعة

Seorang dari Bani Fazarah datang kepada Nabi saw dan berkata : “Istriku telah melahirkan anak berkulit hitam” ia seakan-akan tidak mengakuinya.

Rasulullah Saw bersabda: “apakah engkau memiliki unta? “

Lelaki itu menjawab: “ya”

Rasulullah bertanya: ”apa warnanya?”

Lelaki itu menjawab: ”merah”,

Rasulullah bertanya lagi: ”apakah ada warna hitam pada unta itu?”

Lelaki itu menjawab: “sebenarnya kehitam-hitaman, entah dari mana datangnya warna hitam itu?”

Rasulullah saw bersabda: “mungkin karena faktor keturunan” (HR. Bukhari, Muslim dll dari Abu Hurairah ra)

Dari hadits di atas tergambar bahwa faktor keturunan mempengaruhi warna kulit seseorang, paras dan ciri-ciri fisik, hal ini tidak harus diwarisi dari orangtuanya saja tapi bisa juga dari nenek moyangnya, sifat fisik inilah yang disebut sifat keturunan.

Rumusan hadits di atas mengarahkan bahwa Islam sendiri menyukai, untuk keberlangsungan generasi mendatang, agar memilih pasangan dari keturunan yang baik, sehingga di dalam  pernikahan tersebut akan melahirkan keturunan yang baik pula

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فإنَّ الْعِرْقَ دَسَّاس – رواه ابن ماجه والديملي

“Pintar-pintarlah kamu memilih nuthfah(benih), sesungguhnya bawaan keturunan itu mewariskan kepada anak”. (HR. Ibn Majah).

Wallahu’alam, Hasan Husen Assagaf

 

 

 

Iklan

Posted in Nuthfah (Benih) | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1430/2009

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 17, 2008

jadwal_imsakiyah_ramadhan_1430_pakarfisika_jakarta

Posted in Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2008 | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

Silaturahim ke Alam Barzakh

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Agustus 16, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

Kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan ruh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh.

 

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka (ahli kubur) ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan “ Al-Mu’minun 100

 

Karena ruh itu tetap hidup maka silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk orang yang masih hidup di dunia, tapi hubungan kita dengan mereka yang sudah pindah ke alam barzakh pula sangat diperlukan. Sekalipun berbedanya alam antara kita dengan mereka tapi semuanya bisa dijangkau dengan silaturahim.

 

Sebelum menjelang bulan Ramadan dan di Hari Raya. Komplek pemakaman ramai tidak sedikit dikunjungi orang orang yang ingin bersilaturahim dengan keluarganya yang sudah meninggal dunia. Ada yang berziarah ke makam orang tuanya. Ada yang berziarah ke makam sanak famili atau karabatnya, ada pula yang berziarah ke makam para sesepuh dan ulama. Hal ini demi untuk mendoakan mereka yang telah mendahului kita agar Allah memberikan kepada mereka rahmah dan maghfirah dan mengharamkan jasad-jasad mereka dari sentuhan api neraka.

 

Rasulallah, sebagimana diriwayatkan Abu Daud, pada awal sejarah Islam pernah melarang umat Islam untuk berziarah kubur. Beliau khawatir umat Islam mengkultuskan kuburan, berlaku syirik, atau bahkan menyembah kuburan. Tapi selelah keimanan umat Islam meningkat dan kuat. Maka Rasulallah saw tidak khawatir lagi. Rasulallah saw pun kemudian bersabda : “Aku dulu melarang kamu berziarah kubur. Sekarang, aku anjurkan melakukanya. Sebab bisa mengingatkan kita kepada akhirat”.

 

Silaturahim kepada penghuni alam barzakh adalah perbuatan dan tradisi baik. Selain merupakan ibadah juga untuk mengenang jasa dan berbalas budi orang. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Jelasnya, silaturahim kepada mereka sudah menjadi tradisi yang mendarah-daging. Tahun demi tahun berjalan, dan ziarah demi ziarah pasti menyertainya. Dan andai kata kita lupa, atau lalai melakukannya, kita akan segera merasa, ada sesuatu yang ganjil atau kurang mantap dalam diri kita. Ziarah kubur sudah menjadi kebutuhan hidup kita, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.

 

Di samping itu, tradisi berziarah ini sangat baik dan terpuji demi mengingatkan kita semua, termasuk orang kaya, pamong praja, dan berpangkat, bahwa satu hari hidup kita pasti akan berakhir di pekuburan. Semua kemegahan hudup, rela tak rela, harus ditinggalkan dan kita harus terima babak baru perjalanan menghuni liang kubur yang luasnya sekitar 1 x 2 meter saja.

 

Telah ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulallah saw telah menganjurkan kita, disaat memasuki kompleks pemakaman, agar mengucapkan salam kepada ahlil kubur seperti memberi salam kepada orang hidup: “Salam sejahtera bagimu penghuni kubur dari kaum Muminin dan Muminat. Dan kami Insya Allah akan betemu dengan kalian. Kamu adalah orang orang yang mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Kami bermohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kalian”.  Ucapan salam biasanya diberikan kepada orang yang mendengar dan berakal. Jika tidak, maka ucapan ini tidak mempunyai fungsi atau seolah-olah bersalam kepada benda jamad yang tidak mendengar dan berakal.

 

Para salaf  soleh, mereka semua bersepakat dengan apa yang telah ditetapkan Rasulallah saw dan dijadikan sesuatu yang mutawatir (diterima kebenarannya) yang mana ahli kubur mengetahui orang yang menziarahinya dan mendapatkan ketenangan dengan kedatangannya. Sesuai dengan hadisth yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa mayyit setelah dikubur mendengar suara sandal orang yang mengatarkannya ke kuburan.

 

Diriwatkan oleh Imam Bukhari Muslim, pernah Rasulallah saw menyuruh mengubur orang orang kafir yang meninggal dalam peperangan Bader di kuburan Qulaib. Kemudian beliau berdiri di muka kuburan dan memanggil nama nama mereka satu persatu : “Wahai Fulan bin Fulan!! .. Wahai Fulan bin Fulan!!.. Apakan kamu mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kamu? Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku”.  Umar bin Khattab ra yang berada disamping Nabi bertanya : “Ya Rasulallah sesungguhnya kamu telah berbicara dengan orang-orang yang sudah usang (mati)”. Rasulallah saw pun berkata, “Demi Yang telah mengutus aku dengan kebenaran, sesungguhnya kamu tidak lebih mendengar dari mereka dengan apa yang aku katakan”.

 

Imam besar Muslim meriwayatkan bahwa Rasulallah dan sahabatnya pernah melewati salah satu kuburan Muslimin. Setelah memberi salam kepada ahli kubur, tiba-tiba Rasulallah berhenti di dua kuburan. Kemudian beliau berpaling kepada sahabatnya dan bersabda,  “Kalian tahu bahwa kedua penghuni kuburan ini sedang diazab di dalam kubur. Mereka tidak diazab karna dosa-dosa mereka yang besar. Akan tetapi mereka diazab karna dosa-dosa mereka yang kecil. Yang pertama diazab karna suka berbuat namimah (mengupat / ceritain orang) dan yang kedua diazab karna tidak beristinja’ (tidak cebok setelah hadats kecil)”.  Kemudian Rasulallah saw memetik dua tangkai pohon dan ditancapkanya di kedua kuburan trb. Sahabat bertanya apa maksud dari yang telah dilakukan Rasulallah saw itu. Beliau bersabda : “Allah memberi keringanan azab bagi kedua penghuni kubur trb semasih tangkai pohon itu basah, belum kering. Karna ia beristighfar untuk penghuni kubur yang sedang diazab”.

 

Sekarang, jika Allah memberi keringanan azab kepada ahli kubur karna istighfar sebatang pohon, istighfar seekor binatang, istighfar sebuah batu, pasir dan krikil atau benda-benda jamad lainnya yang tidak berakal. Apalagi istighfar kita sebagai manusia yang berakal dan beriman kepadaNya.

Wallahua’lam 

Posted in Silaturahim ke Alam Barzakh | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 15 Comments »

Kenapa dia Rela Bunuh Diri?

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 28, 2008

 Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

SURAT KABAR al-Jazirah – Saudi Arabia , pernah memuat berita kejadian seorang pembantu rumah tangga melakukan bunuh diri di atas rumah bertingkat dua di Jeddah. Saat ditemukan, leher korban terjerat kain kerudung yang dililitkan pada sebatang kayu tangga. Kejadian misterius itu betul-betul sangat mengejutkan masyarakat setempat. Setelah diproses ternyata pembantu rumah tangga, yang sudah berkeluarga, tak ditemukan tanda-tanda bekas penganiayaan, sehingga dipastikan ia tewas akibat bunuh diri. Perbuatan nekat ini, diduga karena ia selalu mengirimkan gajinya kepada suaminya rutin setiap bulan untuk biaya kedua anaknya yang masih kecil. Akan tetapi digunakan sang suami untuk kawin lagi dan berpesta pora dengan istri muda. Frustasi ini yang membuat pembantu kehilangan akal dan iman, lalu nekat membunuh diri di tangga.

 

Kejadian kedua yang saya alami sendiri, terjadi dahulu di waktu musim haji. Rombongan jama’ah haji Indonesia, setelah melakukan tahallul pertama, berangkat ke Makkah untuk melakukan solat Idul Adha, toaf ifadhah dan berlebaran.  Setiba di Makkah, salah satu dari rombongan Jama’ah haji yang dipimpin Ustadh HAA, ada yang bunuh diri di kamar mandi dengan menggunakan sarung yang dijerat di lehernya. Kejadian itu cukup menghebohkan para jama’ah haji. Hasil pengusutan polisi menunjukkan, tak ditemukan alasan yang cukup sehingga Pak Haji harus membunuh diri di kamar mandi. Yang jeles pasti ada problem besar yang membuat Pak Haji kehilangan akal dan iman lalu nekat membunuh diri di kamar mandi.

 

Bunuh diri merupakan hal yang ganjil dan para pelakunya merupakan korban kekejahatan dirinya. Di Australia, telah didirikan lembaga aneh yang diberi nama Lembaga Penyelidik Bunuh Diri. Sesuai dengan namanya, lembaga ini bertugas untuk menyelidiki secara rinci sebab-sebab terjadi bunuh diri dan bangaimana pencegahannya. Yang lebih aneh, menurut hasil research, bahwa kebanyakan bunuh diri terjadi di musim panas. Ini tidak terjadi hanya di Australia, akan tetapi hampir di seluruh belahan dunia (www.theaustraliannews.com).

 

Sudah pasti hal ini sangat bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Bunuh diri tidak terjadi di musim panas atau di negara negara yang beriklim panas, akan tetapi mayoritasnya terjadi di negara negara barat yang bersuhu dingin sepanjang tahun. Contohnya negara Lithuania meraih juara pertama, diperkirakan 46 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Setelah itu Rusia meraih martabat yang kedua yang diperkirakan 42 jiwa mati karna bunuh diri dari setiap 100.000 jiwa. Dan ketiga dan seterusnya semuanya diraih oleh negara negara Eropa dan Amerika yang maju. Akan tetapi bunuh diri masih terdapat di negara negara tersebut disebabkan karna masalah yang sangat sepele.

 

Bunuh diri merupakan perbuatan yang terkutuk dan dibenci. Perbuatan ini dikatagorikan dosa besar (minal kabair), sebagaimana firman Allah didalam al-Quran yang berbunyi:  

 

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu“. An-Nisa,29.

 

Islam mengharamkan dan melarang perbuatan yang sifatnya menjerumuskan pelakunya kedalam kerusakan dan kebinasaan seperti perbuatan membunuh diri, sebagaimana firmanNya dalam surat al-Baqarah ayat 195,

 

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karna sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik“.

 

Akan tetapi berlainan dengan aksi bunuh diri yang dilakukan rakyat Palestina demi untuk membela kehormatan, negara dan agama mereka. Hingga saat ini masih terus dilacak dasar aksi serangan bunuh diri yang dilakukan para aktivis Islam militan di Palestina. Menurut pandangan ulama, serangan bunuh diri demi untuk mengakhiri kolonialisme adalah suatu hak yang terpuji dan pelakunya mendapat gelar syahid.

 

Di akhir tahuh 1995, Syeikh al-Azhar Prof Dr Mohammad Sayed Tantawi  menyebut pejuang Palestina yang menggelar bom bunuh diri sebagai syahid. Ketika ia dikritik banyak pihak, ia pun meralat pandanganya dan mengatakan, orang meledakan dirinya di pangkalan meliter Israel adalah syahid. Adapun orang yang meledakan dirinya di tengah sipil Israil bukanlah syahid. Ungkapan ini tetap dibantah para ulama, karena semua warga Israil bersenjata.

 

Adapun serangan bunuh diri pertama kali bagi warga muslim dalam sejarah modern ini dilakukan oleh seorang murid Jamaluddin al Afghani bulan maret tahun 1896, ketika dia melancarkan serangan bunuh diri terhadap Shah Iran Nazaruddin Shah. Aksi ini demi untuk membangkitkan pemerintah dan rakyat muslim untuk memerangi negara-negara kolonialisme demi kehormatan umat dalam upaya megusir penjajahan.

 

Nah! sekarang, apa yang membuat seseorang menyerahkan hidupnya untuk membunuh orang lain? Sepintas, hal semacam ini tidak mungkin terjadi atau tidak masuk akal. Akan tetapi, apa yang terjadi di Palestina bukan sesuatu yang baru, yang terjadi di sana sudah menjadi sesuatu yang biasa. Bahkan banyak di negeri itu orang yang rela mati demi orang lain, atau demi apa yang disebut sebagai  perjuangan mengusir penjajahan.

 

Mengapa mereka rela mati dengan cara seperti itu? Bukankah hidup itu sangat berharga? Menurut mereka, memang betul hidup itu sangat berharga, tetapi pada akhirnya semua orang bakal mati. Peristiwa kematian pasti akan menimpa setiap orang. Ada orang yang mati karena kecelakaan, ada yang mati di ujung pedang, ada yang mati di atas kasur dan ada lagi yang mati karena membela hak. Singkatnya, semua orang pasti mati “bermacam macam sebab kematian, tetapi hakekatnya manusia pasti harus mati”. (al-Hadits). Allah berfirma “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. An-Nisaa’,78.

 

Menurut Islam, kematian itu bukanlah akhir dari perjalanana hidup seseorang. Setiap orang pasti akan mati dan jasadnya hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku hanya bagi jasad, benda dan meteri. Sedangkan roh bukanlah benda atau materi, maka ia tidak terkena hukum kehancuran. Maka dari itu jika sesorang mati, jasadnya ditinggalkan di pekuburan, tapi ruhnya berpindah dari alam dunia ke alam baru yang disebut alam barzakh. Oleh karena itu orang yang semasa hidupnya banyak menabur dan menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah pintu yang membawanya masuk kedalam kehidupan baru yang jauh lebih baik dan lebih indah dari kehidupan di dunia.

 

Itulah yang diyakini para pembom bunuh diri di negara Palestine. Mereka berkeyakinan bahwa setelah kematian yang mereka lakukan secara mestiri itu demi membela agama dan negara dalam upaya mengusir penjajahan, akan mengantarkan mereka ke taman surga Firdaus yang mengalir di bawahnya sungai sungai, sehingga kematian yang mereka lakukan akan tidak terasa atau tidak lebih dari sekedar bentokan atau pukulan. Menurut mereka kematian semacam ini adalah mistiri yang tidak mungkin dipahami oleh manusia secara rasional. Hanya iman yang kokoh, keikhlasan yang luas dan cinta kasih terhadap agama, sesama dan negara.

 

Itulah sebabnya, ketika dikabarkan bahwa pembom bunuh diri tewas saat menjalankan tugasnya, keluarga mereka akan mendapat pujian, penghargaan, bukan ucapan belasungkawa. Bahkan kematian mereka disambut dengan sorak gembira disertai dengan zaghrathah (jeritan suara perempuan Arap disaat pesta perkawinan) dan mereka dianggap sebagai pahlawan yang akan dikenang sepanjang masa.

 

Adapun aksi bunuh diri yang dilakukan terhadap rakyat sipil yang tak berdosa di Negara yang berdaulat seperti yang telah terjadi di Legian-Bali dan Hotel Marriot-Jakarta, tidak tergolong mati syahid. Karena tindakan menjadikan rakyat sipil sebagai sasaran merupakan tindakan yang keji dan dikutuk oleh seluruh lapisan masyarakat dunia dan ulama.

 

Wallahua’lam,

 

 

Posted in Kenapa Ia Rela Bunuh Diri | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 12 Comments »

Silaturahim

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada Juli 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

download

Perlu diketahui, ada kesalahan yang sudah lumrah dan menjadi umum terhadap kata “silaturahim”. Selama ini yang biasa dipakai adalah kata “silaturahmi”, sebenarnya kata ini terdapat kesalahan. Seharusnya adalah “silaturahim”bukan silarahmi.

 

Dalam bahasa Arab rahim artinya lembut, kasih sayang , atau karabat. Secara jelas kata ini kita bisa lihat dalam ayat al Qur’an yang berbunyi :

 

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim “- an Nisa,1.

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ – رواه البخاري ومسلم

Begitu pula kita bisa lihat dalam hadits Nabi yang diriwawatkan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasulallah bersabda “Siapa yang ingin senang, diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia bersilaturahim “ ( Bukhari Muslim ).

 

Ayat dan hadist tersebut diatas tidak hanya menerangkan asal kata silaturahim, tapi juga mengandung urusan besar dan perintah penting. Begitu peningnya perintah itu, sehingga silaturahim dijajarkan dengan perintah bertakwa kepada Allah dan menjadi syarat luasnya rezeki dan panjangnya umur. Bukankah dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwa orang yang suka memutuskan silaturahim diancam dengan “bisa masuk neraka”?.

 

Silaturahim bukan hanya dibutuhkan untuk berhubungan dengan keluarga, famili dan handai tolan saja, tapi lancarnya jalan da’wah pula memerlukah silaturahim. Silaturahim adalah ruh bagi berkembangnya da’wah. Tampak silaturahim yang baik, geraknya da’wah bisa terhenti bahkan putus sama sekali. Jauhnya tempat tinggal, lamanya masa berpisah, merantau (seperti saya sekarang ini) dan sibuknya tugas pekerjaan adalah factor-fakor penyebab putusnya silaturahim yang berarti putusnya pula da’wah. Jadi dengan silaturahim yang baik, semua factor-faktor trb bisa diatasi.

 

Ada banyak cara menyabung silaturahim. Misalnya, kemajuan teknologi merupakan nikmat utama dari Allah yang patut kita disyukuri. Kalau dulu, untuk saling menyapa dan menanyakan kabar, dibutuhkan waktu yang lama yaitu dengan surat menyurat. Tapi kini hanya tinggal pencet, hanya dalam beberapa detik saja silaturahim bisa diwujudkan. Coba lihat misalnya WA, SMS, telepon, email, milis, blog dan media lainya adalah sarana mudah untuk silalturahim yang bisa menembus batas lintas negara sekalipun. Dengan teknologi yang serba canggih, Jauh tempat tinggal, lama berpisah, merantau dan sibuknya pekerjaan sudah tidak menjadi masalah.

 

Namun, bukan semua jalinan silaturahim hanya cukup dengan sarana kemajuan teknologi saja. Bertatap muka, pertemuan-pertemuan dan berjabatan tangan tetap menjadi hal yang sangat penting. Hal ini biasanya dilakukan pada waktu munasabat (occation) seperti perayaan, peringatan, hari hari raya, dan masih banyak lagi munasabat yang bisa membuat kita bertemu muka dan bertatap wajah.

 

Maka dari itu, majlis ta’lim, pengajian-pengajian rutin, dan pula, merurut saya, situs situs kita, yang kelihatanya kecil fungsinya, menjadi hal yang patut harus digalakan. Jangan sampai kesibukan, jabatan, kedudukan dan urusan duniawi lainya menyebabkan hal trb terbengkalai.

 

Jadi, agar hubungan kita tidak terputus koncinya adalah silaturahim apalagi di bulan Rajab dan menjelang datangnya Syaban dan Ramadhan yang penuh dengan kebaikan, keberkahan dan anugrah Ilahi.

 

 “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan” (hadist Nabi).

Wallahua’lam    

Posted in Silaturahim | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 4 Comments »