Hasan Husen Assagaf

Posts Tagged ‘Pendidikan’

Mengenang Al-Maliki

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 14, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

download

 

MENGENANG jasa merupakan ibadah. Orang yang tak mengenangnya bukan dikatagorikan orang baik. Karena ia tidak bisa berbalas budi orang. Bagaikan kisah diputar ulang, 4 tahun yang lalu, tepatnya Jumat 15 Ramadhan 1425 H, Makkah dan dunia Islam menangis karena tersiar berita bahwa seorang ulama besar Sayyid Mohammad Al-Maliki, wafat.  Beliau meninggal di salah satu rumah sakit di Makkah, setelah beberapa jam berjuang melawan penyakit yang datang secara mendadak.

 

Jelasnya, jasa beliau yang besar terhadap Islam tidak bisa dilupakan. Tahun demi tahun berlalu, dan ingatan kita pasti menyertainya terutama di bulan yang penuh rahmah ini. Kita tidak bisa lupa kepada beliau. Ingatan kita kepada beliau sudah menjadi kebutuhan, ibarat kita butuh makan, butuh minum, butuh menghirup udara segar, butuh tidur, butuh istirahat, butuh senyum, butuh salam, butuh menyayangi dan disayangi.

 

Dr. Muhammad Al-Maliki dikenal sebagi guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat muslim menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama.

 

Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengan thariqahnya. Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar,  menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu.

 

Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya. Dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai sampai beliau rela mengenudurkan diri sebagai dosen di Universitas “Umul Qura’ “, Makkah dan di halaqah ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran, keikhlasan dan menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan bersealiran denganya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah.

 

Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Dr. Muhammad Al-Maliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.

 

Disamping tugas beliau sebagi da’i, pengajar, pembimbing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermangfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya telah beredar di seluruh dunia. Dan tidak sedikit dari kitab-kitab beliau yang beredar telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

 

Da’wah semacam inilah yang telah diwasiatkan Rasulallah saw, lima belas abad silam, yang datang sebagi rahmat dan membawa perdamaian bagi alam dan seluruh umat manusia. Rasulallah tidak mengajarkan kita berda’wah dengan kekerasan, paksaan dan berutal. Akan tetapi beliau mengajarkan umatnya berda’wah dengan hikmah dan mauidzah hasanah, dengan akhlak dan suluk yang ramah. Ini konci kesuksesan da’wah ulama semacam Dr. Muhammad Al-Maliki.

 

Selamat tinggal ayah yang berhati baik. Selamat tinggal sosok tubuh yang pernah menanamkan hikmah, ilmu, teladan di hati hati kami. Selamat tinggal pemimpin umat yang tak bisa kami lupakan dalam pendirian dan keikhlasannya. Selamat tinggal pahlawan yang jujur, ikhlas dalam amal dan perbuatanya. Kemulyaan kamu telah meliputimu semasa hidupmu dan di saat wafatmu. Kamu telah hidupi hari hari mu dengan mulia, dan sekarang kamu telah terima imbalannya disaat wafatmu pula dengan mulia.

 

Wallahu’alam

 

 

Iklan

Posted in Mengenang Al-Maliki | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 7 Comments »

Puasa di Kota Besar

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada September 4, 2008

Oleh: Hasan Husen Assagaf

 

TIDAK terasa waktu berjalan begitu cepat, kini telah memasuki lima puasa dalam hitungan hari, Insya Allah kita bisa hidupkan sisa hari hari puasa ini dengan amal keberkahan, kebajikan, dan kebaikan, begitu pula kita bisa ihyakan malam malam terkhair dari Ramadhan ini dengan nafahat, barakat, rauhan dan raihanah. Semoga Ramadhan tahun ini benar benar menjadi pelebur dosa kita. Amin.

 

Waktu dan saat yang tepat dan indah di bulan Ramadah khususnya bagi yang hidup di kota-kota besar, sangat sulit ditemukan dan susah dimangfaatkan, karena puasa di tempat tempat itu banyak beraneka ragam.

 

Ada seorang muslim puasa sebulan penuh, seolah olah laparnya membuat cinta kepada fakir miskin, dahaga dan hausnya bisa membakar dosa, dan bacaan al Qur’an nya bisa menuntunnya ke sorga. Disaat berbuka puasa dan air membasahi tenggorokannya, wajahnya cerah, sholat dan tarawihnya tidak pernah ketinggalan di masjid, penampilanya dalam ibadah sangat indah dan terpuji.

 

Celakanya, ini dilakukan hanya sebulan tok. Sedangkan sebelas bulan lainnya, dia kembali ke dunianya, lupa daratan dan lautan. Sholatnya ditinggalkan, al-Qur’an nya diselipkan di gerobok lemari dan dijadikan seperti benda pusaka yang tidak pernah dikebet atau dibaca, yang lebih parah lagi ma’siatnya dan kejahatanya kembali lagi dilakukan. Sedangkan Ramadhan adalah  pelebur dan pembakar maksiat dan dosa. Seharusnya sebabis maksiat dan dosa itu dibakar tidak bisa muncul lagi di bulan bulan setelah Ramadhan. Tapi sebaliknya begitu habis ramadhon habis pula tugas agamanya dan ia mulai kembali menghalalkan maksiatnya.  bahkan menjadi tambah sarat dan merajalela.

 

Ada lagi kalau kita naik bis kota, disamping udara yang tidak sehat, kita dapatkan pengamen sambil mementilkan gitarnya ia membawakan syair yang indah : “Kami disini tidak mau ngerampok, tapi kami minta tolong, lima ratus kan  tidak bikin miskin, sedekahlah kepada kami untuk berbuka puasa“. Padahal dia sendiri belum tentu berpuasa. Abis ngamen, kantong duit diputar se bis. Kalau kebetulan engga ada yang kasih, pengamen turun dari bis sambil ngegerutu “ Dasar pade pelit “ .

 

Ada yang lebih jahat dari itu, ibadah puasa dibikin kaya sandiwara. Dirumah saur bersama anak istri, diluar bibirnya basah, perutnya diisi. Pulang kerumah bibirnya dilap dengan tissu kering, pura pura letih dan lemes karena puasa. akhirnya ia berbuka puasa bersama. Ini namanya membohongi agama dan orang. Tapi Allah tidak bisa dibohongin. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

 

Sehabis buka, ada orang yang niatnya baik mau tarawih. Sehabis tarawih dia ngobrol dan kongko sama teman temannya dari barat ketimur, bawa cerita dari mulai urusan agama, makanan, mobil, sepeda motor, tektek bengek sampai ke politik SBY, Megawati, Gusdur bahkan sampe ke Bush.  Terakhir salah satu temannya bawa gafle, mereka main gafle sampai larut malam. Ia pulang ke rumah bersama sama rombongan yang membangungkan saur. Sayangkan, dihabiskan malam Ramadhon dan Lailaul Qadri yang penuh dengan rahmah, maghfirah dan pengampunan dengan bermain gafle.

 

Masih banyak lagi yang tidak bisa diceritakan tentang aneka ragam manusia yang berpuasa di kota kota besar. Maka saya mengajak terutama diri saya sendiri kemudian semua handai tolan agar bisa bisa menemukan dan memangfaatkan waktu waktu dan saat saat yang indah di bulan suci Ramadhan dengan amal baik seperti mengkhatamkan alQuran, shalat tashbih, berzakat dan bershodaqah kepada orang faqir dan miskin bagi orang yang mampu.

 

Cerita tantang zakat dan shadaqah di bulan suci, saya jadi teringat 3 tahun yang lalu dengan berita seorang dermawan besar Hb Ismet Alhabsyi membagikan zakat dan shadakah di rumahnya. Ribuan fakir miskin datang menyerbu rumah kediamannya. Karena terlalu banyak yang datang, akibatnya terjadi eksident yang tidak diinginkan. Mereka berdesakan, ratusan orang berebut ingin mendapatkan uang tunai 20.000 rupiah plus sebuah sarung sedekah dari dermawan terkenal itu. Akibatnya empat wanita meninggal dunia karena jatuh dan terinjak injak. Peristiwa yang sangat menyedihkan ini sebetulnya mereka berencana jika uang dan sarung dari hasil sedekah didapat, mereka bisa membeli sesuatu yang bisa menggembirakan keluarganya di hari raya, tapi Allah berkehendak lain, mereka tewas sebelum kehandak mereka terwujud.

 

Tragedy itu , terus terang melukiskan betapa besar kemiskinan yang melanda di negara kita terutama di kota-kota besar. Kejadian seperti itu sudah tidak asing bagi kita untuk didengar, bahka banyak yang lebih kejam dari itu sering kita dengar. Memang dalam kondisi miskin semua serba sulit dikendalikan, termasuk emosi. Karena lapar telah mengubah sifat sabar menjadi berangasan.

 

Orang kaya dan dermawan seperti Hb Ismet Alhabsyi tidak sedikit kita dapatkan, dan begitu pula fakir miskin yang membutuhkan satunan dari mereka tidak terhitung banyaknya. Yang sulit kita dapatkan adalah perantara (A’mil Zakah) yang berfungsi sebagai penyambung hubungan antara si kaya dan si miskin. Sehingga zakat dan shodakah mereka bisa terorganisir atau bisa disalurkan secara baik. Sayangnya, zakat mereka kebanyakanya tersalur ke kantong kantong si perantara (A’mil Zakah) atau mungkin sampai kepada mereka tapi setelah nilainya dikentit dan dicatut. Betitulah nasib fakir miskin di negara kita yang kebanyakanya hanya menerima sisa sisa uang zakat dan shadakah atau mungkin tidak menerima sama sekali.

 

Akhiron dan insya Allah bukan untuk yang terakhir, Islam mengutamakan dan mengajarkan kepada umatnya untuk berzakat, untuk menginfakan sebagian kecil dari harta yang dimiliki si kaya, Hal ini demi untuk mengajarkan kepada yang kaya agar jangan sekali kali merasa bangga tapi harus menengok kepada yang dibawah agar bisa mengimbangi jarak dengan yang di bawah. Begitu pula kepada yang di bawah jangan selalu mengandalkan kepada yang diatas, jangan tinggal diam tapi harus berusaha itulah satu2nya modal agar yang dibawah bisa berhasil. Sementara yang diatas tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan serakah. Itulah yang yang diajarkan agama agar kehidupan bersama antara si kaya dan si miskin bisa terjalin dengan baik sehingga jarak antara mereka tidak terpaut jauh

 

Wallahua’lam

Posted in Puasa di Kota Besar | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 1 Comment »