Hasan Husen Assagaf

Dari Dhafar ke Hadramut

Posted by HASAN HUSEN ASSAGAF pada April 4, 2008

Nabi Hud as, dari Dhafar ke Hadramut

A’ad adalah nama suku bangsa Arab yang hidup di perkampungan Al-Ahqaf, terletak antara Hadramaut (Yaman) dan Dhafar (Umman). A’ad termasuk suku bangsa tertua sesudah kaum Nabi Nuh as yang terkenal dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh yang besar dan perkasa. Mereka dikurniai Allah tanah yang subur dengan sumber-sumber airnya yang mengalir dari segala penjuru. Penghidupan mereka dari bercocok tanam. Hidup mereka sangat makmur, sejahtera, dan bahagia “Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghofur”, sehingga mereka berkembang biak menjadi bangsa terbesar diantara bangsa bangsa yang hidup di sekitarnya.

Kaum Aad tidak mengenal Allah Yang Maha Kuasa sebagai Pencipta alam semesta. Mereka menyembah berhala berhala yang diberi nama Shamud dan Alhattar dan disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaan mereka dapat memberi kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah. Sebagai akibat dari kelakuan mereka timbul kemungkaran, kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di dalam masyarakat di mana yang kuat menindas yang lemah, yang besar memperkosa yang kecil dan yang berkuasa memeras yang di bawahnya.

Kemudian Allah mengutus kepada mereka Nabi Hud dari golongan mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan berpengaruh, terkenal sejak kecil dengan kelakuannya yang baik, budi pekerti yang luhur dan sangat bijaksana dalam pergaulan dan bermasyarakat.  Allah telah memberi tugas kepada Nabi Hud untuk membawa mereka ke jalan yang benar, beriman kepada Allah. Beliau hanya menjalankan perintah Allah dan memperingatkan mereka bahawa jika mereka tetap menutup telinga dan mata maka mereka akan ditimpa azab dan dibinasakan sebagaimana terjadinya atas kaum kaum sebelumnya seperti kaum Nuh yang mati binasa tenggelam dalam air bah.

Ajakan dan da’wah Nabi Hud as ditolaknya dengan berbagai alasan dan ejekan serta hinaan yang diterimanya dengan penuh kesabaran.  Setelah itu datanglah masa pembalasan dari Allah terhadap kaum Aad yang kafir dan membangkang. Allah telah turunkan siksaan dan azab dalam dua tahap.

Tahap pertama berupa kelaparan dan kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan karena mereka tidak lagi memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya. Dalam keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahawa kekeringan itu adalah suatu peringatan pertama dari Allah agar mereka sadar akan kesesatan dan kekafiran mereka dan kembali beriman kepada Allah dengan meninggalkan persembahan mereka yang batil kemudian bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Akan tetapi mereka tetap membangkang dan berpaling kepada ajaran dan da’wah nabi Hud as. Mereka bahkan pergi memohon kepada berhala-berhala mereka meminta perlindungan dari musibah yang mereka hadapi.

Kemudian turun siksaan dan azab yang kedua yang dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal. Mereka menyambutnya dengan gembira karena mereka sangka akan turun hujan lebat yang akan membasahi ladang ladang mereka dan menyirami kebun kebun mereka. Melihat sikap kaum Aad yang sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud: “Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yang telah ku janjikan” Dengan sekejap mata datanglah apa yang telah diramalkan Nabi Hud bahwa bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin taufan dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh dan halilintar. Bencana angin taufan itu berlangsung selama tujuh malam sehingga sempat menyampuh bersih kaum Aad yang congkak dan menghabiskan mereka dengan keadaan yang menyedihkan.

Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan Allah dari bencana yang menimpa kaumnya.Beliau meninggalkan perkampungan Dhafar (Umman) setelah cuaca kembali tenang menjuju ke Hadramut, di sana beliau tinggal  dan menghabiskan sisa hidupnya sampai beliau wafat dan dimakamkan. Makam beliau terletak di atas sebuah bukit di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun dan selalu dikunjungi para penziarah yang datang beramai-ramai dari seluruh penjuru negeri, terutama pada bulan Sya’ban.

Wallahu’alam// Hasan Husen Assagaf

Terlampir kisah ziarah kubra’ Nabi Hud as yang dipimpin oleh Hb Umar bin Hafidh di Hadramut

Ziarah Agung Nabi Hud a.s.

Nabi Hud a.s. adalah termasuk Rasul pertama kali yang telah Allah utus ke Bangsa Arab, yaitu kepada Kaum ‘Ad pada masa 2000 tahun sebelum Masehi. Kaum ‘Ad adalah kaum yang dianugerahi kekuatan yang berbeda dengan kaum-kaum selainnya. Bahkan lebih jauh dari pada itu, mereka adalah termasuk salah satu kaum yang mempunyai peradaban maju di bidang pertanian dan arsitektur, mereka membangun pemukiman dengan memahat bukit-bukit batu dan mendesainnya dengan arsitektur yang Indah. Mereka juga termasuk Ummat yang pertama kali menyembah Berhala setelah masa terjadinya Banjir Dahsyat pada masa Nabi Nuh a.s., akan tetapi kaum ini telah Allah ‘azab dengan mengirimkan Mendung dan angin yang menyiksa mereka selama 8 hari 7 malam, sehingga tak tersisa seorangpun dari Kaum ‘Ad melainkan sirnah. Hal ini dikarenakan pengingkaran dan pembangkangan mereka kepada ajakan Nabi Hud a.s. untuk meninggalkan penyembahan berhala-berhala yang telah dibuat oleh nenek moyang mereka.

Nabi Hud a.s. tinggal di sebuah Lembah antara Yaman dan Oman, beliau wafat dan dimakamkan di tempat tersebut, tepatnya adalah Syi’b Hud yaitu Lembah kecil yang dinisbatkan kepada beliau.

Perihal Ziarah Nabi Hud a.s. sebagaimana disebutkan Oleh Ibnu Hisyam bahwasannya Nabi Sulaiman a.s. bahkan Dzul Qarnain pernah menziarahi beliau. Bahkan di area pemakaman Nabi Hud a.s. terdapat sebuah papan informasi yang bertuliskan bahwa kegiatan Ziarah Nabi Hud a.s. telah ada sejak 4000 tahun silam, dan kegiatan Ziarah dilakukan sepanjang hari dalam satu tahun. Akan tetapi pada zaman dahulu puncak ziarah terjadi pada Musim Panen Kurma, di mana pada masa Jahiliyah ada sebuah pasar yang terkenal di Kompleks Pemakaman Nabi Hud a.s. tepatnya di Lembah Adam. Setiap musim panen kurma tiba mereka menuju pasar tersebut untuk berniaga sekaligus berziarah ke Nabi Hud a.s.

Ziarah Umum ini berlangsung setiap masa panen Kurma, hingga akhirnya pada abad ke 10 Hijriyah Syeikh Abu Bakar Bin Salim membuat tradisi baru Ziarah Agung pada bulan Sya’ban dan inilah yang berlangsung sampai sekarang.

Al-Hamdulillah pada hari Kamis 10 Sya’ban 1436 H/29 Mei 2015 saya dan ratusan Pelajar Indonesia yang belajar di Yaman mendapat kesempatan untuk berziarah ke Makam Nabi Hud a.s. yang jaraknya hanya 1,5 jam dari Kota Tarim dengan mengendarai Mobil Pribadi atau Sewaan.

Kami berangkat sekitar jam 4 pagi dari Kota Tarim, kemudian tepat pada jam 4.30 kami melaksanakan Sholat Shubuh berjama’ah di Kota ‘Inat. Selepas Sholat Shubuh kami lanjut berziarah ke Makam Syeikh Abu Bakar Bin Salim yang berada di area tersebut.

Kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju Lembah Hud. Sepanjang perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan Jalanan yang membelah Padang Pasir dengan Bukit-Bukit Batu berdiri teguh memandang kami sepanjang jalan. Tepat pada jam 6 pagi kami dan Rombongan tiba di Area Pemakaman Nabi Hud a.s., sembari menunggu kedatangan Rombongan Ziarah yang dipimpin oleh Habib Umar Bin Hafidz yang merupakan salah satu Cucu dan Penerus Syeikh Abu Bakar Bin Salim, kami sempatkan berkeliling sebentar di area makam sembari sarapan dengan sepotong roti dan segelas Juz Mangga.

Di kompleks Makam Nabi Hud a.s. terdapat pasar yang menyediakan makanan dan cindra mata Khas Hadramaut. Hal ini mengingatkan kami pada Kompleks Pemakaman Wali Songo yang ada di Pulau Jawa, hanya saja di sini tidak ditemukan seorang pengemispun begitu juga wanita. Bedahalnya dengan Kompleks Pemakaman & Tempat Ziarah Para Wali yang ada di Indonesia selalu dipenuhi oleh Pengemis dan sesak oleh Peziarah laki-laki dan wanita.

Sebelum sampai pada area makam Nabi Hud a.s. saya sempat berbincang dengan seorang warga Tarim yang turut hadir dalam acara Ziarah tersebut, yaitu Ahmad Al-Aydrus. Beliau menuturkan bahwasannya : “1/3 dari Peziarah pada umumnya adalah orang Indonesia, hanya saja karena ada evakuasi jadi pada kesempatan kali ini para Peziarah Indonesia yang mayoritasnya adalah pelajar tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Kemudian, uniknya Perumahan yang ada di Area Pemakaman Nabi Hu a.s. ini tidak berpenghuni melainkan menjelang Masa Ziarah Agung saja. Termasuk di sini tak ada seorang wanitapun yang akan engkau temui”, pungkas beliau.

Setelah sarapan pagi kami diarahkan oleh Pimpinan Ziarah dari Rombongan kami menuju Sungai Al-Hafif, sebuah sungai yang terletak di Lembah Hud. Di situ kami lihat banyak peziarah yang berenang, dari yang dewasa hingg anak-anak. Akan tetapi pada waktu kami hanya diperkenankan Wudhu’ saja karena waktu kedatangan Habib Umar Bin Hafidz sudah dekat.

Selepas berwudhu’ di Sungai Al-Hafif, kami menuju ke tempat Sholat yang letaknya pas berada di pinggir sungai tersebut untuk melaksanakan Sholat Dhuha. Tak lama berselang setelah melaksanakan Sholat Dhuha dan Dzikir yang ringan, tiba-tiba kami mendengar lantunan Qosidah dalam sebuah arak-arakan di bawah 3 bendera yang bertuliskan Kalimat Syahadat. Ternyata Kirab tersebut tersebut adalah Rombongan Habib Umar Bin Hafidz.

Ribuan orang terhanyut dalam rombongan tersebut. Ketika sampai di tempat Sholat, Habib Umar sholat sebentar kemudian memimpin pembacaan Yasin dan Tahlil yang tak jauh berbeda dengan kebiasaan Peziarah yang ada di Indonesia.

Setelah membaca Yasin, Tahlil dan Do’a, kini rombongan bergerak menuju Makam Nabi Hud a.s. yang hanya berjarak 300 m dari sungai. Selama dalam perjalanan, Rombongan mngumandangkan Kalimat Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil. Sebelum sampai ke Makam, Rombongan berhenti sejenak di depan sumur Taslumah yang tepat berada di tengah-tengah antara Sungai dan Makam. Dengan dipimpin Habib Umar, rombongan melantunkan Salam kepada Para Nabi dan Malaikat, kemudian dilanjutkan menapaki jalan dan lereng bukit tempat pemakaman Nabi Hud a.s.

Sesampainya di Makam Nabi Hud a.s., kembali dipimpin oleh Habib Umar, rombongan mengumandangkan Salam kepada Para Nabi dan Malaikat. Kemudian dilanjutkan pembacaan Yasin, Tahlil dan Do’a. Selepas itu dilaksanakan pula Pembacaan Maulid dan Qosidah yang berakhir sekitar jam 11.00 siang. Akan tetapi acara Ziarah masih terus berlanjut seiring silih berganti datangnya para Rombongan Peziarah dari dalam dan luar negri.

Oleh : Imam Abdullah El-Rashied
Ditulis di Tarim, Kamis 10 Sya’ban 1436 H/29 Mei 2015.

4 Tanggapan to “Dari Dhafar ke Hadramut”

  1. naser_algadrie said

    syukron atas infonya… lmyan buat tmbh ilmu….

  2. sulthani said

    Salam…bagus bgt artikelnya bib..bib ane izin share ya..untuk bagi bagi info..mkasi..jazakAllah khoir

  3. Aziz said

    ada persoalan…dikatakan bahawa kaum Aad ini tergolong dalam suku bangsa Arab…dan juga Nabi Hud a.s adalah dari kaum Aad…bukankah telah dikhabarkan bahawa satu-satunya Nabi dari bangsa Arab adalah junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w.? dan lain2nya dtg dari bangsa Yahudi (Bani Israil)..?

  4. Jengpring said

    Pengen ke hadramaut,ketemu para wali menginjak tanahnya,merasakan spiritualitas nya,kalau bisa mati di bumi para wali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: